Stroke dan Penyakit Serebrovaskular
7 soalSeorang laki-laki berusia 58 tahun dibawa ke IGD puskesmas karena lemah separuh tubuh kanan yang dialami mendadak saat sedang menonton televisi, 2 jam sebelum masuk rumah sakit. Pasien masih dapat berbicara meski agak pelo, tidak ada keluhan sakit kepala maupun muntah. Riwayat hipertensi tidak terkontrol dan merokok sejak muda. Pemeriksaan tanda vital: tekanan darah 150/90 mmHg, frekuensi nadi 84 kali/menit, frekuensi napas 18 kali/menit, suhu 36,7°C, kesadaran compos mentis (GCS E4M6V5). Pemeriksaan neurologis menunjukkan hemiparesis dekstra dengan kekuatan motorik 2/5 dan parese nervus VII kanan tipe sentral.
- AStroke hemoragik intraserebral
- BPerdarahan subarakhnoid
- CTransient ischemic attack
- DStroke iskemik
- EHematoma subdural akut
Lihat jawaban
Onset mendadak tanpa nyeri kepala hebat, tanpa muntah, dan kesadaran yang tetap baik (compos mentis) lebih mengarah pada stroke iskemik dibandingkan stroke hemoragik, yang biasanya disertai penurunan kesadaran, nyeri kepala berat, dan muntah akibat peningkatan tekanan intrakranial mendadak. Defisit motorik fokal yang menetap lebih dari beberapa jam menyingkirkan TIA. Kombinasi usia, faktor risiko hipertensi dan merokok, serta gambaran klinis defisit fokal tanpa tanda peningkatan tekanan intrakranial mendukung diagnosis iskemik. Diagnosis pasti tetap memerlukan konfirmasi CT scan kepala, namun secara klinis awal gambaran ini khas untuk stroke iskemik.
- A. Stroke hemoragik biasanya disertai nyeri kepala hebat, muntah, dan penurunan kesadaran akibat efek massa dan peningkatan tekanan intrakranial, yang tidak ditemukan pada pasien ini.
- B. Perdarahan subarakhnoid khas dengan nyeri kepala sangat hebat mendadak (thunderclap headache) dan kaku kuduk, bukan hemiparesis murni tanpa nyeri kepala.
- C. Defisit motorik pada pasien ini menetap lebih dari 24 jam secara definisi klinis TIA harus pulih sempurna dalam 24 jam, dan gejala tidak membaik saat diperiksa.
- E. Hematoma subdural akut umumnya terkait riwayat trauma kepala yang tidak ada pada kasus ini.
Seorang perempuan berusia 62 tahun dibawa ke IGD rumah sakit karena mendadak tidak dapat menggerakkan lengan dan tungkai kiri sejak 1,5 jam sebelum masuk rumah sakit, disertai bicara pelo. Tidak ada riwayat trauma. Tekanan darah 170/100 mmHg, frekuensi nadi 92 kali/menit, saturasi oksigen 98%. Kesadaran compos mentis, kekuatan motorik ekstremitas kiri 1/5, terdapat parese nervus VII kiri tipe sentral. Dokter IGD ingin segera menentukan tatalaksana definitif dan memastikan jenis stroke sebelum pemberian terapi lebih lanjut.
- AUSG Doppler karotis
- BMRI kepala dengan sekuens diffusion weighted imaging
- CAngiografi serebral digital substraction
- DElektroensefalografi
- ECT scan kepala tanpa kontras
Lihat jawaban
CT scan kepala tanpa kontras merupakan pemeriksaan penunjang lini pertama pada stroke akut karena cepat, tersedia luas, dan sangat akurat dalam menyingkirkan perdarahan intrakranial yang menjadi kontraindikasi utama pemberian trombolitik. Pada stroke iskemik hiperakut, CT scan tanpa kontras sering masih tampak normal, namun tujuan utamanya adalah menyingkirkan hemoragik, bukan mengonfirmasi infark. Keputusan pemberian rtPA harus didasarkan pada hasil CT scan ini dalam rentang waktu yang cepat. MRI lebih sensitif untuk infark dini tetapi membutuhkan waktu lebih lama dan tidak praktis untuk keputusan cepat di IGD.
- A. USG Doppler karotis berguna untuk evaluasi stenosis karotis pada pencegahan sekunder, bukan untuk menentukan jenis stroke akut.
- B. MRI dengan DWI lebih sensitif mendeteksi infark dini namun memerlukan waktu pemeriksaan lebih lama sehingga tidak ideal sebagai pencitraan awal yang harus cepat.
- C. Angiografi serebral bersifat invasif dan biasanya digunakan untuk evaluasi lanjutan atau tindakan trombektomi, bukan pencitraan awal.
- D. EEG digunakan untuk evaluasi aktivitas elektrik otak seperti pada kejang, tidak berperan dalam diagnosis awal stroke.
Seorang laki-laki berusia 55 tahun dibawa ke IGD rumah sakit dengan kelemahan separuh tubuh kiri mendadak yang pertama kali disadari keluarga 2,5 jam sebelum tiba di rumah sakit. CT scan kepala tanpa kontras tidak menunjukkan tanda perdarahan maupun infark luas. Tekanan darah 160/95 mmHg, gula darah sewaktu 110 mg/dL, tidak ada riwayat perdarahan aktif, operasi besar, atau trauma kepala dalam 3 bulan terakhir. Skor NIHSS 14. Dokter mempertimbangkan pemberian terapi trombolitik intravena.
- APasien tidak memenuhi window time karena onset sudah lebih dari 2 jam
- BPemberian rtPA hanya boleh dalam 1 jam pertama onset
- CPasien masih memenuhi window time pemberian rtPA karena onset kurang dari 4,5 jam
- DWindow time rtPA pada kasus ini adalah 6 jam sejak onset
- ETrombolitik tidak dapat diberikan karena onset sudah di luar 3 jam
Lihat jawaban
Pemberian rtPA (alteplase) intravena pada stroke iskemik akut direkomendasikan dalam rentang waktu 4,5 jam sejak onset gejala, berdasarkan bukti dari studi ECASS III dan diadopsi dalam pedoman nasional tatalaksana stroke di Indonesia. Pasien pada kasus ini datang dengan onset 2,5 jam, sehingga masih berada dalam window time tersebut dan dapat dipertimbangkan untuk trombolitik bila tidak ada kontraindikasi lain. Keputusan akhir tetap harus mempertimbangkan hasil CT scan, kadar gula darah, tekanan darah, dan skrining kontraindikasi lainnya.
- A. Window time rtPA bukan 2 jam melainkan 4,5 jam, sehingga pasien dengan onset 2,5 jam masih memenuhi syarat.
- B. Batasan 1 jam tidak sesuai dengan pedoman manapun; rtPA dapat diberikan hingga 4,5 jam pada kasus yang memenuhi kriteria.
- D. Window time standar rtPA adalah 4,5 jam, bukan 6 jam, kecuali pada kondisi tertentu dengan pencitraan lanjutan yang tidak berlaku di sini.
- E. Onset 2,5 jam masih berada dalam window time 4,5 jam sehingga trombolitik intravena masih dapat dipertimbangkan.
Seorang perempuan berusia 60 tahun dibawa ke IGD dengan kelemahan separuh tubuh kanan mendadak sejak 2 jam sebelum masuk rumah sakit. CT scan kepala tanpa kontras tidak menunjukkan perdarahan. Skor NIHSS 12. Tekanan darah 150/90 mmHg. Pada anamnesis lebih lanjut diketahui pasien menjalani operasi pengangkatan batu ginjal 2 minggu yang lalu dan saat ini masih dalam masa pemulihan luka operasi. Tidak ada riwayat perdarahan intrakranial sebelumnya maupun penggunaan antikoagulan.
- AUsia pasien di atas 55 tahun
- BJenis kelamin perempuan
- CTekanan darah sistolik 150 mmHg
- DSkor NIHSS 12
- ERiwayat operasi besar dalam 14 hari terakhir
Lihat jawaban
Riwayat operasi mayor dalam 14 hari terakhir merupakan kontraindikasi relatif pemberian trombolitik intravena karena meningkatkan risiko perdarahan pada lokasi operasi maupun perdarahan sistemik lain akibat efek fibrinolitik rtPA. Pedoman nasional dan internasional mencantumkan operasi besar baru-baru ini sebagai salah satu kriteria eksklusi yang harus digali melalui anamnesis sebelum pemberian trombolitik. Faktor usia, jenis kelamin, dan skor NIHSS yang tinggi bukan merupakan kontraindikasi absolut maupun relatif untuk trombolitik. Tekanan darah sistolik 150 mmHg juga masih dalam batas aman untuk pemberian rtPA (ambang kontraindikasi umumnya di atas 185/110 mmHg).
- A. Usia lanjut bukan kontraindikasi trombolitik; rtPA tetap dapat diberikan pada pasien lanjut usia yang memenuhi kriteria lain.
- B. Jenis kelamin tidak memengaruhi keputusan pemberian trombolitik.
- C. Tekanan darah sistolik 150 mmHg masih di bawah ambang kontraindikasi (umumnya >185 mmHg sistolik), sehingga bukan penghalang pemberian rtPA.
- D. Skor NIHSS yang tinggi menunjukkan defisit berat namun bukan kontraindikasi trombolitik, bahkan menjadi salah satu indikasi terapi.
Seorang laki-laki berusia 65 tahun dibawa ke IGD rumah sakit dengan penurunan kesadaran mendadak disertai muntah dan nyeri kepala hebat sejak 1 jam sebelum masuk rumah sakit. Kesadaran somnolen (GCS E3M5V3), tekanan darah 210/120 mmHg, frekuensi nadi 88 kali/menit. CT scan kepala tanpa kontras menunjukkan lesi hiperdens di region basal ganglia kiri berukuran 3 cm disertai edema perifokal, tanpa pergeseran garis tengah bermakna. Dokter akan memulai tatalaksana tekanan darah sesuai pedoman.
- AMenurunkan tekanan darah sistolik secara bertahap menjadi sekitar 140 mmHg dalam 1 jam pertama
- BMenunda tatalaksana tekanan darah hingga hasil angiografi serebral tersedia
- CMenurunkan tekanan darah hanya dengan diuretik osmotik tanpa antihipertensi intravena
- DMempertahankan tekanan darah sistolik di atas 200 mmHg untuk menjaga perfusi otak
- EMenurunkan tekanan darah sistolik secara agresif menjadi di bawah 100 mmHg dalam 15 menit
Lihat jawaban
Pada stroke hemoragik akut dengan tekanan darah sistolik di atas 180-220 mmHg, pedoman merekomendasikan penurunan tekanan darah secara terkendali menggunakan antihipertensi intravena (seperti nikardipin) menuju target sistolik sekitar 140 mmHg yang dicapai secara bertahap, bukan drastis, untuk mengurangi risiko perluasan hematoma tanpa menyebabkan hipoperfusi serebral. Penurunan yang terlalu agresif dan cepat (dalam hitungan menit menuju tekanan sangat rendah) dapat memperburuk perfusi otak dan menimbulkan iskemia sekunder. Target ini didasarkan pada bukti studi INTERACT2 yang menunjukkan manfaat kontrol tekanan darah terkendali pada stroke hemoragik akut.
- B. Tatalaksana tekanan darah harus segera dimulai tanpa menunggu angiografi karena kondisi ini bersifat gawat darurat.
- C. Diuretik osmotik digunakan untuk mengatasi edema serebri dan peningkatan tekanan intrakranial, bukan sebagai terapi utama penurun tekanan darah sistemik.
- D. Membiarkan tekanan darah tetap sangat tinggi meningkatkan risiko perluasan hematoma dan perburukan neurologis.
- E. Penurunan tekanan darah yang terlalu agresif dan cepat berisiko menyebabkan hipoperfusi serebral dan memperburuk iskemia.
Seorang perempuan berusia 64 tahun dibawa ke IGD dengan kelemahan mendadak pada lengan dan wajah kanan yang lebih berat dibandingkan tungkai kanan, sejak 4 jam sebelum masuk rumah sakit. Pasien juga tidak dapat berbicara lancar namun masih mengerti perintah sederhana (afasia motorik). Pemeriksaan lapang pandang tidak menunjukkan kelainan. Kekuatan motorik lengan kanan 2/5, wajah kanan parese sentral, tungkai kanan 4/5.
- AArteri serebelaris posterior inferior
- BArteri serebri anterior kiri
- CArteri basilaris
- DArteri serebri media kiri
- EArteri serebri posterior kiri
Lihat jawaban
Oklusi arteri serebri media menyebabkan hemiparesis kontralateral yang lebih berat pada wajah dan lengan dibandingkan tungkai, karena area motorik untuk wajah dan lengan pada homunculus kortikal terletak di konveksitas lateral yang diperdarahi arteri ini, sementara tungkai relatif lebih diperdarahi arteri serebri anterior. Keterlibatan hemisfer kiri pada pasien tidak kidal umumnya disertai afasia karena area bahasa (Broca dan Wernicke) terletak di hemisfer dominan kiri pada mayoritas populasi. Kombinasi hemiparesis faciobrakial kanan dan afasia motorik ini sangat khas untuk lesi arteri serebri media kiri.
- A. Oklusi arteri serebelaris posterior inferior menimbulkan sindrom Wallenberg dengan vertigo, ataksia, dan gangguan sensorik bersilangan, tidak sesuai gambaran klinis pasien.
- B. Oklusi arteri serebri anterior lebih khas menimbulkan kelemahan tungkai yang lebih berat dibanding wajah dan lengan, berbeda dari pola pada pasien ini.
- C. Oklusi arteri basilaris biasanya menimbulkan gejala batang otak seperti gangguan kesadaran, diplopia, atau quadriparesis, bukan hemiparesis faciobrakial unilateral dengan afasia.
- E. Oklusi arteri serebri posterior khas menimbulkan gangguan lapang pandang (hemianopia homonim) dan bukan hemiparesis faciobrakial dominan seperti pada kasus ini.
Seorang laki-laki berusia 62 tahun datang kontrol ke poliklinik 3 minggu setelah dirawat karena stroke iskemik akut di wilayah arteri serebri media kanan. Saat ini keluhan kelemahan tangan kiri sudah membaik dengan terapi rehabilitasi. Pasien memiliki riwayat hipertensi dan dislipidemia. Pemeriksaan neurologis saat ini: kekuatan motorik ekstremitas kiri 4/5, tidak ada gangguan kesadaran. Tekanan darah 138/85 mmHg, profil lipid: kolesterol LDL 145 mg/dL. Dokter akan memulai terapi pencegahan sekunder jangka panjang. Apakah kombinasi terapi yang paling tepat diberikan untuk mencegah stroke berulang pada pasien ini?
- AWarfarin dengan target INR 2-3 dan simvastatin dosis rendah
- BAspirin dan fenofibrat
- CHeparin subkutan dosis profilaksis dan gemfibrozil
- DAspirin dosis rendah dan atorvastatin dosis tinggi
- EClopidogrel dan niasin
Lihat jawaban
Pada stroke iskemik non-kardioembolik, pencegahan sekunder standar adalah antiplatelet (aspirin atau clopidogrel) dikombinasikan dengan statin intensitas tinggi untuk menurunkan LDL secara agresif, target LDL <70 mg/dL atau penurunan >50% dari baseline. Statin bekerja menghambat HMG-CoA reduktase sehingga menurunkan produksi kolesterol hati dan menstabilkan plak aterosklerosis. Antikoagulan seperti warfarin hanya diindikasikan pada stroke kardioembolik misalnya akibat fibrilasi atrium, bukan pada kasus ini. Pemilihan statin dosis tinggi (atorvastatin 40-80 mg) didukung oleh bukti penurunan risiko stroke berulang pada studi SPARCL.
- A. Warfarin tidak diindikasikan karena tidak ada sumber kardioembolik yang disebutkan, dan dosis statin rendah tidak optimal untuk pencegahan sekunder.
- B. Fenofibrat bukan pilihan lini pertama untuk penurunan LDL pada pencegahan sekunder stroke, statin lebih disarankan.
- C. Heparin profilaksis untuk DVT bukan untuk pencegahan sekunder stroke iskemik, dan gemfibrozil bukan pilihan utama penurun lipid pada stroke.
- E. Niasin tidak direkomendasikan sebagai terapi lipid utama pada pencegahan sekunder stroke karena bukti manfaat lemah.
Nyeri Kepala
5 soalSeorang perempuan berusia 29 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan nyeri kepala berulang sejak 1 tahun terakhir, terjadi sekitar 3-4 kali per bulan. Nyeri dirasakan berdenyut, terutama di sisi kiri kepala, dengan intensitas sedang hingga berat yang mengganggu aktivitas sehari-hari sehingga pasien harus berhenti bekerja dan beristirahat di ruangan gelap. Setiap episode berlangsung 8-24 jam. Pasien juga mengeluh mual dan merasa sangat terganggu oleh cahaya terang selama serangan. Tidak ada gangguan penglihatan atau sensorik sebelum nyeri muncul. Pemeriksaan neurologis dalam batas normal. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?
- ATension type headache episodik
- BCluster headache
- CMigrain tanpa aura
- DNyeri kepala akibat peningkatan tekanan intrakranial
- ENeuralgia trigeminal
Lihat jawaban
Diagnosis migrain tanpa aura menurut kriteria ICHD-3 memerlukan minimal 5 episode nyeri kepala berlangsung 4-72 jam, dengan minimal 2 dari karakteristik: unilateral, berdenyut, intensitas sedang-berat, bertambah berat dengan aktivitas fisik, disertai minimal 1 dari mual/muntah atau fotofobia dan fonofobia. Pasien ini memenuhi seluruh kriteria tersebut dengan nyeri unilateral berdenyut, durasi dalam rentang, disertai mual dan fotofobia tanpa gejala aura sensorik atau visual sebelumnya. Tidak adanya aura membedakannya dari migrain dengan aura, dan karakteristik berdenyut unilateral yang mengganggu aktivitas membedakannya dari tension type headache yang biasanya bilateral dan tidak memberat dengan aktivitas.
- A. Tension type headache biasanya bersifat bilateral, menekan seperti diikat, intensitas ringan-sedang, dan tidak memberat dengan aktivitas fisik.
- B. Cluster headache khas unilateral periorbital dengan durasi serangan lebih singkat (15-180 menit) dan disertai gejala otonom seperti lakrimasi atau hidung tersumbat.
- D. Nyeri kepala akibat peningkatan tekanan intrakranial biasanya progresif, memberat pada pagi hari, dan disertai muntah projektil serta papiledema.
- E. Neuralgia trigeminal berupa nyeri tajam seperti tersetrum pada distribusi saraf trigeminal, berlangsung sangat singkat dalam hitungan detik.
Seorang laki-laki berusia 35 tahun dengan riwayat migrain tanpa aura sejak 5 tahun yang lalu datang ke poliklinik saraf. Pasien mengalami serangan migrain sebanyak 6 kali dalam sebulan terakhir, masing-masing berlangsung lebih dari 12 jam dan sangat mengganggu pekerjaannya sebagai akuntan. Pasien sudah mengonsumsi paracetamol saat serangan namun respons tidak adekuat. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit jantung koroner atau hipertensi tidak terkontrol. Dokter memutuskan untuk memulai terapi profilaksis mengingat frekuensi serangan yang tinggi. Apakah obat yang paling tepat digunakan sebagai terapi profilaksis migrain pada pasien ini?
- APropranolol
- BSumatriptan
- CParasetamol dosis tinggi
- DErgotamin
- EAsam mefenamat
Lihat jawaban
Propranolol merupakan salah satu obat profilaksis migrain lini pertama yang direkomendasikan pada pasien dengan frekuensi serangan tinggi (≥4 kali per bulan) atau serangan yang sangat mengganggu aktivitas meskipun sudah mendapat terapi abortif. Mekanisme kerja propranolol sebagai beta blocker diduga melalui stabilisasi tonus vaskular serebral dan modulasi sistem serotonergik. Obat ini diberikan setiap hari secara kontinu, berbeda dengan terapi abortif yang hanya digunakan saat serangan akut. Indikasi profilaksis migrain meliputi frekuensi serangan tinggi, serangan yang tidak responsif terhadap abortif, atau migrain yang sangat mengganggu kualitas hidup pasien.
- B. Sumatriptan merupakan terapi abortif untuk serangan akut migrain, bukan untuk terapi profilaksis harian.
- C. Parasetamol dosis tinggi adalah terapi abortif simtomatik dan tidak memiliki peran sebagai profilaksis migrain.
- D. Ergotamin juga merupakan terapi abortif akut dan berisiko ergotism bila digunakan berlebihan, bukan untuk profilaksis.
- E. Asam mefenamat merupakan NSAID untuk terapi abortif serangan akut, bukan untuk pencegahan jangka panjang.
Seorang perempuan berusia 40 tahun, pekerja kantoran, datang ke puskesmas dengan keluhan nyeri kepala yang sering dirasakan sejak 6 bulan terakhir, terutama pada sore hari setelah bekerja di depan komputer. Nyeri dirasakan di kedua sisi kepala seperti diikat kencang, intensitas ringan hingga sedang, tidak bertambah berat dengan aktivitas fisik rutin seperti naik tangga. Tidak ada mual, muntah, fotofobia, maupun fonofobia. Pemeriksaan neurologis dan tanda vital dalam batas normal, namun ditemukan nyeri tekan pada otot perikranial di daerah leher dan bahu. Apakah tatalaksana awal yang paling tepat diberikan pada pasien ini?
- AErgotamin oral
- BKortikosteroid dosis tinggi
- COksigen murni 100% melalui masker non-rebreathing
- DParasetamol atau NSAID disertai edukasi manajemen stres
- ESumatriptan injeksi subkutan
Lihat jawaban
Tension type headache episodik ditandai dengan nyeri bilateral, menekan seperti diikat, intensitas ringan-sedang, tidak memberat dengan aktivitas fisik, dan tanpa gejala otonom seperti mual atau fotofobia berat. Tatalaksana lini pertama berupa analgesik sederhana seperti parasetamol atau NSAID untuk serangan akut, dikombinasikan dengan edukasi mengenai faktor pencetus seperti stres, posisi duduk yang salah, dan kelelahan otot perikranial. Pendekatan non-farmakologis seperti relaksasi otot, terapi fisik, dan perbaikan ergonomi kerja juga penting untuk mengurangi frekuensi serangan. Obat golongan triptan atau ergotamin tidak diindikasikan karena obat tersebut spesifik untuk migrain yang melibatkan mekanisme vaskular dan serotonergik berbeda.
- A. Ergotamin bekerja sebagai vasokonstriktor untuk migrain, tidak memiliki peran pada tension type headache.
- B. Kortikosteroid dosis tinggi digunakan pada kondisi inflamasi berat seperti arteritis temporal, bukan untuk tension type headache.
- C. Oksigen murni adalah terapi abortif khas untuk cluster headache, bukan untuk tension type headache.
- E. Sumatriptan adalah terapi spesifik migrain yang bekerja pada reseptor serotonin vaskular, tidak diindikasikan untuk tension type headache.
Seorang laki-laki berusia 33 tahun datang ke IGD dengan nyeri kepala hebat yang dirasakan di sekitar mata kanan sejak 30 menit yang lalu. Pasien mengatakan ini merupakan episode ketiga dalam minggu ini, biasanya terjadi pada malam hari dan berlangsung sekitar 45-60 menit lalu menghilang spontan. Saat serangan, mata kanan pasien terlihat merah dan berair, serta hidung kanan tersumbat. Pasien terlihat sangat gelisah dan terus bergerak mondar-mandir karena nyerinya. Pemeriksaan tanda vital dalam batas normal, pupil isokor, tidak ada defisit neurologis fokal. Apakah terapi yang paling tepat diberikan untuk mengatasi serangan akut pada pasien ini?
- ATopiramat oral
- BParasetamol oral 1000 mg
- CPropranolol oral
- DOksigen 100% melalui masker non-rebreathing dengan aliran tinggi
- EAmitriptilin oral
Lihat jawaban
Cluster headache ditandai dengan nyeri unilateral periorbital atau temporal berat, berlangsung singkat (15-180 menit), disertai gejala otonom ipsilateral seperti lakrimasi, kongesti nasal, atau ptosis, serta rasa gelisah yang khas membuat pasien tidak bisa diam. Terapi abortif lini pertama untuk serangan akut cluster headache adalah inhalasi oksigen 100% dengan aliran tinggi (7-12 liter/menit) melalui masker non-rebreathing selama 15-20 menit, yang bekerja melalui efek vasokonstriksi serebral dan modulasi jalur trigeminal-otonom. Triptan injeksi subkutan juga merupakan pilihan abortif efektif namun oksigen lebih sering tersedia dan merupakan pilihan awal yang aman. Analgesik oral biasa tidak efektif karena onset kerja terlalu lambat dibanding durasi serangan yang singkat.
- A. Topiramat merupakan obat profilaksis cluster headache atau migrain, bukan terapi abortif untuk serangan akut.
- B. Parasetamol oral memiliki onset kerja terlalu lambat untuk mengatasi serangan cluster headache yang berlangsung singkat dan sangat berat.
- C. Propranolol adalah obat profilaksis migrain, bukan terapi abortif cluster headache.
- E. Amitriptilin digunakan sebagai profilaksis tension type headache kronis atau migrain, bukan untuk serangan akut cluster headache.
Seorang perempuan berusia 55 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan nyeri kepala yang semakin memberat sejak 3 minggu terakhir. Nyeri dirasakan terus-menerus, lebih berat pada pagi hari saat bangun tidur, dan membaik sedikit setelah beberapa jam beraktivitas. Pasien juga mengeluh mual dan satu kali muntah tanpa didahului rasa mual yang signifikan. Tidak ada riwayat nyeri kepala serupa sebelumnya. Pemeriksaan tanda vital dalam batas normal. Pemeriksaan neurologis ditemukan papiledema bilateral pada funduskopi. Apakah tindakan yang paling tepat dilakukan selanjutnya pada pasien ini?
- ABerikan amitriptilin sebagai profilaksis dan kontrol 1 bulan
- BAnjurkan kompres hangat dan istirahat di ruangan gelap
- CRujuk untuk CT scan kepala segera
- DBerikan sumatriptan dan observasi di puskesmas
- EBerikan parasetamol dan edukasi rawat jalan
Lihat jawaban
Nyeri kepala pada pasien ini memiliki beberapa red flags yang memerlukan evaluasi pencitraan segera, yaitu onset baru pada usia di atas 50 tahun, pola progresif memberat, nyeri lebih berat pada pagi hari, muntah tanpa mual signifikan yang mengarah pada muntah projektil, serta temuan papiledema pada pemeriksaan funduskopi yang mengindikasikan peningkatan tekanan intrakranial. Kombinasi tanda-tanda tersebut sangat mencurigakan adanya lesi massa intrakranial seperti tumor otak, sehingga CT scan kepala atau MRI harus segera dilakukan untuk evaluasi lebih lanjut. Menunda pencitraan dan memberikan terapi simtomatik saja berisiko menunda diagnosis kondisi yang mengancam jiwa.
- A. Memulai profilaksis tanpa evaluasi pencitraan terlebih dahulu berisiko fatal bila penyebabnya adalah lesi massa intrakranial.
- B. Tatalaksana non-farmakologis sederhana tidak sesuai karena abai terhadap tanda bahaya papiledema dan pola nyeri progresif.
- D. Sumatriptan adalah terapi migrain dan tidak sesuai dengan gambaran klinis red flag yang mengarah ke peningkatan tekanan intrakranial.
- E. Memberikan terapi simtomatik tanpa pencitraan berisiko menunda diagnosis lesi massa intrakranial yang serius.
Infeksi Sistem Saraf Pusat
6 soalLaki-laki, 28 tahun, dibawa ke IGD dengan demam tinggi, nyeri kepala berat, dan muntah sejak 1 hari. Pasien tampak mengantuk namun masih dapat dibangunkan. Suhu 39,2°C, tekanan darah 110/70 mmHg, frekuensi nadi 108 kali/menit. Pada pemeriksaan, saat leher pasien difleksikan secara pasif, timbul fleksi involunter pada kedua lutut dan pinggul. Tidak ada riwayat trauma kepala maupun kejang. Apakah tatalaksana antibiotik empiris awal yang paling tepat sebelum hasil kultur cairan serebrospinal tersedia?
- ASiprofloksasin intravena
- BAzitromisin oral
- CAmoksisilin oral dosis tinggi
- DSeftriakson intravena dosis tinggi
- EMetronidazol intravena
Lihat jawaban
Pasien menunjukkan tanda Brudzinski I positif (fleksi leher memicu fleksi tungkai) yang merupakan tanda rangsang meningeal, mendukung diagnosis meningitis bakterialis akut. Guideline PNPK merekomendasikan pemberian antibiotik empiris sesegera mungkin tanpa menunggu hasil kultur untuk menurunkan mortalitas dan morbiditas neurologis. Sefalosporin generasi ketiga seperti seftriakson dipilih karena penetrasi sawar darah otak yang baik dan spektrum luas mencakup patogen tersering (Streptococcus pneumoniae, Neisseria meningitidis, Haemophilus influenzae). Pemberian harus dilakukan segera, idealnya dalam 1 jam setelah kecurigaan klinis ditegakkan.
- A. Siprofloksasin bukan lini pertama empiris untuk meningitis bakterialis komunitas pada dewasa imunokompeten.
- B. Azitromisin oral tidak memiliki penetrasi sawar darah otak yang cukup dan bukan terapi standar meningitis bakterialis.
- C. Amoksisilin oral tidak memberikan kadar terapeutik yang adekuat di cairan serebrospinal dan tidak sesuai untuk kondisi akut berat ini.
- E. Metronidazol ditujukan untuk kuman anaerob, bukan patogen utama penyebab meningitis bakterialis.
Perempuan, 34 tahun, datang ke IGD dengan demam, nyeri kepala hebat, dan penurunan kesadaran sejak 6 jam. Pada pemeriksaan GCS E2V3M4, pupil anisokor dengan diameter 5 mm/3 mm, dan terdapat hemiparesis kanan. Tanda kaku kuduk positif. Dokter IGD berencana melakukan pungsi lumbal untuk mendukung diagnosis meningitis. Apakah alasan paling tepat untuk menunda tindakan tersebut pada pasien ini?
- APasien dalam keadaan demam tinggi akut
- BTerdapat kaku kuduk yang jelas
- CPasien mengalami nyeri kepala hebat
- DUsia pasien tergolong dewasa muda
- ETerdapat tanda peningkatan tekanan intrakranial dengan kemungkinan lesi fokal
Lihat jawaban
Anisokoria, defisit neurologis fokal (hemiparesis), dan penurunan kesadaran berat merupakan tanda peningkatan tekanan intrakranial yang mengarah pada kemungkinan lesi massa intrakranial atau herniasi. Pada kondisi ini, pungsi lumbal berisiko menyebabkan herniasi serebral akibat perubahan gradien tekanan antara kompartemen supratentorial dan spinal. Guideline merekomendasikan pencitraan (CT scan kepala) terlebih dahulu sebelum pungsi lumbal pada pasien dengan tanda fokal, penurunan kesadaran berat, atau papiledema. Pemberian antibiotik empiris tidak boleh ditunda hanya karena menunggu pencitraan atau pungsi lumbal.
- A. Demam tinggi akut bukan kontraindikasi pungsi lumbal, bahkan merupakan salah satu indikasi evaluasi.
- B. Kaku kuduk adalah indikasi, bukan kontraindikasi pungsi lumbal.
- C. Nyeri kepala hebat saja tanpa tanda fokal atau penurunan kesadaran berat bukan kontraindikasi pungsi lumbal.
- D. Usia dewasa muda tidak memengaruhi keputusan keamanan pungsi lumbal.
Seorang anak laki-laki, 6 tahun, dibawa dengan demam tinggi dan kejang. Dilakukan pungsi lumbal dengan hasil analisis cairan serebrospinal: warna keruh, jumlah sel 2200/mm³ (dominan neutrofil 90%), protein 220 mg/dL, dan glukosa cairan serebrospinal 25 mg/dL dengan glukosa darah sewaktu 110 mg/dL. Apakah interpretasi yang paling tepat terhadap hasil tersebut?
- AMendukung diagnosis meningitis viral
- BMendukung diagnosis meningitis jamur kriptokokus
- CMendukung diagnosis meningitis tuberkulosis
- DMerupakan hasil cairan serebrospinal normal
- EMendukung diagnosis meningitis bakterialis
Lihat jawaban
Gambaran cairan serebrospinal keruh dengan pleositosis neutrofilik dominan (>80% neutrofil), protein yang sangat meningkat, dan rasio glukosa cairan serebrospinal terhadap glukosa darah yang rendah (25/110 = 0,22, di bawah 0,4) merupakan ciri khas meningitis bakterialis akut. Pada meningitis viral biasanya ditemukan pleositosis limfositik dengan glukosa normal. Pada meningitis TB, pleositosis cenderung limfositik dengan onset subakut dan protein sangat tinggi namun jumlah sel biasanya lebih rendah dibanding bakterialis akut. Interpretasi ini penting untuk menentukan kecepatan dan jenis terapi empiris yang diberikan.
- A. Meningitis viral biasanya menunjukkan pleositosis limfositik dengan glukosa cairan serebrospinal normal, tidak sesuai hasil ini.
- B. Meningitis kriptokokus biasanya menunjukkan pleositosis limfositik ringan dan sering pada pasien imunokompromais, tidak sesuai profil ini.
- C. Meningitis TB umumnya menunjukkan pleositosis limfositik dengan onset klinis subakut, berbeda dari dominasi neutrofil akut ini.
- D. Hasil ini jelas abnormal dengan peningkatan sel, protein tinggi, dan glukosa rendah, bukan cairan serebrospinal normal.
Laki-laki, 40 tahun, dibawa keluarga karena demam dan perubahan perilaku sejak 3 hari, disertai kejang fokal pada wajah kiri. Pemeriksaan menunjukkan disorientasi, afasia ringan, dan suhu 38,8°C. Tidak ditemukan kaku kuduk. Pemeriksaan pencitraan otak menunjukkan lesi hipodens dengan edema pada lobus temporal kiri. Apakah terapi farmakologis yang paling tepat diberikan segera pada pasien ini?
- AAmfoterisin B intravena
- BRifampisin oral
- CDeksametason intravena tunggal
- DSeftriakson intravena
- EAsiklovir intravena
Lihat jawaban
Gambaran klinis berupa demam, perubahan perilaku akut, kejang fokal, dan afasia disertai lesi pada lobus temporal pada pencitraan sangat khas untuk ensefalitis herpes simpleks, yang memiliki predileksi pada lobus temporal dan frontal inferior. Terapi definitif harus diberikan secepatnya tanpa menunggu konfirmasi PCR HSV di cairan serebrospinal karena keterlambatan terapi meningkatkan mortalitas dan sekuele neurologis berat. Asiklovir bekerja menghambat DNA polimerase virus herpes setelah difosforilasi oleh timidin kinase virus. Terapi empiris diberikan secara intravena selama 14-21 hari pada dosis yang disesuaikan dengan fungsi ginjal.
- A. Amfoterisin B digunakan untuk infeksi jamur, bukan untuk ensefalitis herpes simpleks.
- B. Rifampisin merupakan obat antituberkulosis dan tidak relevan untuk etiologi virus.
- C. Deksametason tunggal tanpa antivirus tidak mengatasi penyebab utama dan tidak direkomendasikan sebagai terapi utama ensefalitis HSV.
- D. Seftriakson ditujukan untuk infeksi bakteri dan tidak memiliki aktivitas terhadap virus herpes simpleks.
Laki-laki, 32 tahun, dengan riwayat otitis media kronis yang tidak diobati selama 2 tahun, datang dengan nyeri kepala progresif, demam ringan, dan kelemahan lengan kiri sejak 1 minggu. Pemeriksaan neurologis menunjukkan hemiparesis kiri derajat ringan. Pencitraan otak menunjukkan lesi bulat dengan cincin penyangat kontras (ring enhancement) disertai edema perilesi pada lobus temporal kanan. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?
- ATumor otak primer
- BAbses otak
- CHematoma subdural kronik
- DInfark serebri
- EMeningioma
Lihat jawaban
Riwayat otitis media kronis merupakan faktor risiko penting untuk abses otak melalui penyebaran infeksi secara langsung (per kontinuitatum) ke lobus temporal atau serebelum. Gambaran pencitraan klasik berupa lesi bulat dengan cincin penyangat kontras tipis dan reguler disertai edema perilesi yang luas sangat khas untuk abses otak pada fase kapsulasi. Gejala klinis berupa nyeri kepala, demam, dan defisit neurologis fokal timbul akibat efek massa dan inflamasi lokal. Diagnosis memerlukan konfirmasi pencitraan lanjutan dan aspirasi untuk kultur guna menentukan terapi antibiotik definitif.
- A. Tumor otak primer biasanya tidak didahului faktor risiko infeksi telinga dan gambaran cincin biasanya lebih ireguler dengan dinding tebal.
- C. Hematoma subdural kronik memiliki gambaran bulan sabit (crescent-shaped) mengikuti permukaan otak, bukan lesi bulat dengan cincin kontras.
- D. Infark serebri tidak menunjukkan gambaran cincin penyangat kontras khas dan biasanya berhubungan dengan faktor risiko vaskular, bukan infeksi telinga.
- E. Meningioma umumnya berasal dari meninges dengan gambaran penyangat kontras homogen dan tidak berhubungan dengan riwayat otitis media kronis.
Laki-laki, 45 tahun, petani, datang ke IGD dengan kesulitan membuka mulut dan kekakuan leher sejak 2 hari setelah mengalami luka tusuk paku di kaki 10 hari sebelumnya. Luka tidak dirawat dan tidak pernah mendapat imunisasi tetanus. Pada pemeriksaan ditemukan trismus, risus sardonikus, dan opistotonus ringan yang dipicu oleh rangsang suara. Kesadaran compos mentis, tidak ada gangguan napas saat ini. Apakah tatalaksana awal yang paling tepat diberikan selain perawatan luka dan diazepam untuk mengontrol spasme?
- AKortikosteroid dosis tinggi intravena
- BVaksin tetanus toksoid saja tanpa imunoglobulin
- CAntibiotik metronidazol tanpa imunoglobulin
- DBaclofen oral dosis tinggi
- EHuman tetanus immunoglobulin intramuskular
Lihat jawaban
Pada tetanus generalisata, pemberian human tetanus immunoglobulin (HTIG) secara intramuskular penting untuk menetralisasi toksin tetanospasmin yang belum terikat pada jaringan saraf, sehingga mencegah perburukan gejala lebih lanjut. HTIG diberikan sedini mungkin bersamaan dengan perawatan luka, kontrol spasme menggunakan benzodiazepin, serta antibiotik metronidazol untuk eradikasi Clostridium tetani. Vaksinasi tetanus toksoid tetap diberikan untuk imunisasi aktif namun tidak menggantikan fungsi netralisasi toksin oleh imunoglobulin. Prinsip tatalaksana tetanus mencakup eliminasi sumber toksin, netralisasi toksin bebas, kontrol spasme, dan dukungan jalan napas serta hemodinamik.
- A. Kortikosteroid dosis tinggi bukan bagian dari tatalaksana standar tetanus dan tidak menetralisasi toksin.
- B. Vaksin toksoid saja tanpa imunoglobulin tidak menetralisasi toksin yang sudah bersirkulasi dan tidak memberikan perlindungan segera.
- C. Metronidazol penting untuk eradikasi kuman namun tidak menetralisasi toksin yang sudah dilepaskan, sehingga imunoglobulin tetap diperlukan.
- D. Baclofen oral tidak digunakan sebagai terapi standar lini pertama kontrol spasme pada tetanus akut berat.
Epilepsi dan Kejang
5 soalSeorang perempuan berusia 24 tahun dibawa ke puskesmas setelah mengalami episode aneh di tempat kerja. Rekan kerjanya menceritakan pasien tiba-tiba terdiam, tatapan kosong selama sekitar 1 menit, lalu tampak mengecap-ngecapkan bibir dan meraba-raba baju berulang kali tanpa tujuan. Setelah episode selesai, pasien tampak bingung selama beberapa menit dan tidak dapat mengingat kejadian tersebut. Tidak ada riwayat jatuh atau gerakan kaku-kelojotan seluruh tubuh. Pemeriksaan neurologis setelah pulih kesadaran dalam batas normal.
- ABangkitan fokal dengan gangguan kesadaran disertai automatisme
- BBangkitan umum tonik-klonik
- CBangkitan umum mioklonik
- DBangkitan fokal menjadi bangkitan umum tonik-klonik
- EBangkitan umum absans
Lihat jawaban
Gambaran khas berupa onset fokal (dapat berasal dari lobus temporal), gangguan kesadaran parsial, dan automatisme seperti mengecap atau meraba-raba tanpa tujuan merupakan ciri bangkitan fokal dengan gangguan kesadaran (dahulu disebut kompleks parsial). Periode kebingungan pasca-iktal (postictal confusion) juga mendukung asal fokal, berbeda dengan absans yang pulih seketika tanpa kebingungan. Klasifikasi ILAE membagi bangkitan berdasarkan lokasi onset (fokal vs umum) dan status kesadaran selama bangkitan.
- B. Tidak ada gerakan kaku diikuti kelojotan seluruh tubuh yang menjadi ciri tonik-klonik.
- C. Tidak ada gambaran gerakan mioklonik berupa sentakan singkat.
- D. Tidak dijumpai perkembangan menjadi kejang tonik-klonik seluruh tubuh pada episode ini.
- E. Absans berlangsung singkat (<10-30 detik) dan pulih seketika tanpa kebingungan pasca-iktal.
Seorang laki-laki berusia 35 tahun dibawa ke IGD RSUD dalam keadaan kejang tonik-klonik yang sudah berlangsung sejak 20 menit sebelum tiba. Di IGD, jalan napas sudah dibebaskan, oksigen diberikan, dan akses intravena terpasang. Diazepam intravena 10 mg telah diberikan 5 menit lalu namun kejang masih berlangsung terus-menerus tanpa periode sadar di antaranya. Tanda vital: tekanan darah 140/90 mmHg, frekuensi nadi 118 kali/menit, saturasi oksigen 94% dengan oksigen nasal, gula darah sewaktu 110 mg/dL.
- AMelakukan intubasi dan anestesi umum segera
- BMengulang diazepam intravena dosis kedua
- CMemberikan asam valproat oral melalui NGT
- DMemberikan fenitoin intravena loading dose
- EMemberikan midazolam intramuskular
Lihat jawaban
Pada status epileptikus yang menetap setelah pemberian benzodiazepin lini pertama adekuat (termasuk bila sudah diulang sesuai protokol), tatalaksana lini kedua adalah pemberian obat antiepilepsi kerja panjang seperti fenitoin intravena loading dose 15-20 mg/kgBB dengan pemantauan EKG dan tekanan darah karena risiko aritmia dan hipotensi. Pemberian fenitoin bertujuan mengontrol bangkitan secara definitif setelah benzodiazepin gagal menghentikan kejang. Jalur ini sesuai algoritme PERDOSSI untuk status epileptikus refrakter terhadap lini pertama.
- A. Anestesi umum diindikasikan pada status epileptikus refrakter setelah obat lini kedua juga gagal, bukan langsung setelah lini pertama.
- B. Mengulang diazepam tanpa beralih ke obat lini kedua meningkatkan risiko depresi napas tanpa menambah efektivitas kontrol kejang.
- C. Asam valproat oral tidak tepat pada kondisi akut dengan kejang yang masih aktif dan risiko aspirasi.
- E. Midazolam intramuskular bukan pilihan standar lini kedua pada fasilitas dengan akses intravena yang sudah terpasang.
Seorang perempuan berusia 19 tahun datang ke poli saraf dengan keluhan sering melamun sejak 6 bulan terakhir. Menurut ibunya, pasien tiba-tiba terhenti aktivitasnya, tatapan kosong selama 5-10 detik, kadang berkedip cepat, lalu langsung melanjutkan aktivitas seperti semula tanpa kebingungan. Episode terjadi hingga 10 kali sehari. Pemeriksaan EEG menunjukkan gelombang paku-ombak 3 Hz generalisata yang muncul bilateral simetris.
- AEtosuksimid
- BGabapentin
- CKarbamazepin
- DAsam valproat
- EFenitoin
Lihat jawaban
Gambaran klinis episode singkat tanpa aura, tanpa kebingungan pasca-iktal, disertai gelombang paku-ombak 3 Hz generalisata pada EEG merupakan ciri khas bangkitan absans tipikal. Etosuksimid merupakan obat lini pertama untuk bangkitan absans murni tanpa riwayat bangkitan tonik-klonik, karena bekerja menghambat kanal kalsium tipe-T pada talamus yang berperan dalam generasi ritme talamokortikal absans. Asam valproat menjadi pilihan jika terdapat kombinasi dengan jenis bangkitan umum lain.
- B. Gabapentin tidak efektif untuk bangkitan absans dan dapat memperburuknya.
- C. Karbamazepin dapat memperburuk bangkitan absans dan mioklonik sehingga dikontraindikasikan.
- D. Asam valproat efektif namun bukan lini pertama bila bangkitan absans murni tanpa tipe bangkitan umum lain.
- E. Fenitoin juga dapat memperburuk bangkitan absans dan tidak efektif untuk tipe ini.
Seorang anak laki-laki berusia 2 tahun dibawa ke puskesmas karena kejang di rumah. Ibunya menceritakan anak demam sejak pagi dengan suhu 39,2°C, kemudian kejang seluruh tubuh berupa kaku diikuti kelojotan selama sekitar 3 menit, lalu berhenti sendiri. Dalam 24 jam yang sama, anak mengalami kejang serupa satu kali lagi. Di antara dua episode, anak tampak sadar dan bermain seperti biasa. Tidak ada riwayat trauma kepala, tidak ada kaku kuduk, dan tidak ada defisit neurologis fokal.
- AKejang demam sederhana karena berlangsung kurang dari 15 menit
- BKejang demam kompleks karena berulang dalam 24 jam
- CEpilepsi yang dipicu oleh demam
- DKejang demam kompleks karena disertai demam tinggi di atas 39°C
- EKejang demam sederhana karena anak sadar penuh di antara episode
Lihat jawaban
Kejang demam kompleks didefinisikan sebagai kejang demam yang memenuhi salah satu kriteria: berlangsung lebih dari 15 menit, bersifat fokal, atau berulang lebih dari satu kali dalam 24 jam. Pada kasus ini, meskipun durasi tiap episode singkat dan bersifat umum, terjadinya dua episode dalam 24 jam yang sama menjadikannya kejang demam kompleks menurut kriteria PPK IDAI. Anak dengan kejang demam kompleks memerlukan evaluasi lebih cermat dan pertimbangan pemeriksaan lanjutan dibandingkan kejang demam sederhana.
- A. Durasi singkat memang kriteria sederhana, namun keberulangan dalam 24 jam sudah memenuhi kriteria kompleks sehingga klasifikasi akhir adalah kompleks.
- C. Diagnosis epilepsi memerlukan bangkitan tanpa provokasi demam yang berulang, bukan kejang yang selalu dipicu demam.
- D. Suhu tinggi bukan kriteria pembeda sederhana-kompleks; yang membedakan adalah durasi, fokalitas, dan keberulangan.
- E. Kesadaran baik di antara episode tidak mengubah klasifikasi karena kriteria kompleks sudah terpenuhi oleh keberulangan dalam 24 jam.
Seorang laki-laki berusia 42 tahun dengan epilepsi pasca-trauma kepala telah mengonsumsi fenitoin 300 mg per hari selama 3 bulan. Pasien datang kontrol dengan keluhan gusi membesar dan mudah berdarah saat menyikat gigi sejak 2 bulan terakhir, serta tumbuh rambut halus berlebih di wajah. Pemeriksaan intraoral menunjukkan hiperplasia gingiva yang menutupi sebagian mahkota gigi. Tidak ada keluhan pusing berputar, diplopia, atau gangguan koordinasi.
- ASupresi sumsum tulang dan agranulositosis
- BHiponatremia dan sindrom Stevens-Johnson
- CHiperplasia gingiva dan hirsutisme
- DHepatotoksisitas dan pankreatitis
- ENistagmus dan ataksia
Lihat jawaban
Fenitoin dikenal menyebabkan efek samping khas berupa hiperplasia gingiva akibat proliferasi fibroblas gingiva dan hirsutisme akibat efek androgenik ringan, keduanya bersifat kronik dan berkaitan dengan durasi serta dosis terapi. Efek samping ini penting dipantau secara klinis melalui pemeriksaan rongga mulut rutin dan edukasi higiene oral yang baik. Pemantauan kadar fenitoin serum juga dianjurkan karena farmakokinetiknya non-linear sehingga rentan intoksikasi pada dosis sedikit lebih tinggi.
- A. Supresi sumsum tulang dan agranulositosis lebih khas pada karbamazepin, bukan temuan utama fenitoin kronik seperti pada kasus ini.
- B. Hiponatremia lebih sering terkait karbamazepin, sedangkan sindrom Stevens-Johnson dapat terjadi pada fenitoin namun bukan gambaran pada kasus ini.
- D. Hepatotoksisitas dan pankreatitis lebih khas untuk asam valproat, bukan fenitoin.
- E. Nistagmus dan ataksia merupakan tanda intoksikasi fenitoin akut akibat kadar serum berlebih, bukan gambaran pada kasus ini yang tanpa gejala neurologis tersebut.
Gangguan Gerak
5 soalSeorang laki-laki berusia 68 tahun datang ke poli saraf dengan keluhan tangan kanan gemetar saat istirahat sejak 1 tahun terakhir, memberat secara perlahan. Keluarga juga menyadari gerakan pasien melambat dan langkah kaki menjadi kecil-kecil (shuffling). Pemeriksaan menunjukkan tremor resting 4-5 Hz pada tangan kanan yang berkurang saat tangan digerakkan, rigiditas cogwheel pada pergelangan tangan kanan, serta bradikinesia saat uji ketukan jari berulang. Tidak ada riwayat penggunaan obat antipsikotik. Pemeriksaan funduskopi dan refleks patologis normal.
- AParkinsonisme akibat obat
- BPenyakit Parkinson idiopatik
- CTremor esensial
- DMultiple system atrophy
- EProgressive supranuclear palsy
Lihat jawaban
Diagnosis penyakit Parkinson idiopatik ditegakkan berdasarkan trias klinis klasik berupa tremor resting, rigiditas, dan bradikinesia yang bersifat asimetris pada onset, sesuai kriteria UK Brain Bank/MDS. Tidak adanya riwayat pajanan obat antipsikotik menyingkirkan parkinsonisme akibat obat, sementara tidak adanya gejala atipikal seperti disautonomia berat atau gangguan pergerakan mata vertikal menyingkirkan sindrom parkinsonisme atipikal. Respons klinis yang baik terhadap levodopa pada follow-up lebih lanjut akan mengonfirmasi diagnosis ini.
- A. Tidak ada riwayat penggunaan obat antipsikotik atau obat pencetus parkinsonisme sekunder lainnya.
- C. Tremor esensial bersifat tremor postural/kinetik yang memburuk saat gerakan, bukan tremor resting yang berkurang dengan gerakan seperti pada kasus ini.
- D. MSA biasanya disertai disautonomia berat (hipotensi ortostatik, disfungsi kandung kemih) yang tidak dijumpai pada kasus ini.
- E. PSP khas disertai gangguan gerakan mata vertikal dan jatuh berulang di awal penyakit yang tidak dijumpai pada kasus ini.
Seorang perempuan berusia 70 tahun dengan penyakit Parkinson telah mengonsumsi levodopa-karbidopa selama 6 tahun dengan dosis yang terus ditingkatkan karena gejala makin berat. Dalam 6 bulan terakhir, pasien mengeluhkan munculnya gerakan involunter menari-nari pada wajah dan lengan yang timbul sekitar 1 jam setelah minum obat, kemudian menghilang sendiri setelah beberapa waktu. Di luar periode tersebut, gerakan pasien kembali kaku dan lambat seperti biasa.
- ABradikinesia akibat underdosis levodopa
- BDiskinesia peak-dose akibat levodopa
- CEfek samping ekstrapiramidal akibat antagonis dopamin
- DSindrom neuroleptik maligna akibat levodopa
- EDistonia on akibat defisiensi dopamin
Lihat jawaban
Gerakan involunter koreiform yang timbul pada saat konsentrasi plasma levodopa mencapai puncak (sekitar 1 jam setelah dosis oral) merupakan gambaran diskinesia peak-dose, komplikasi motorik jangka panjang terapi levodopa akibat stimulasi reseptor dopamin secara pulsatil pada pasien dengan terapi lama. Mekanismenya terkait sensitisasi reseptor dopamin pasca-sinaptik akibat degenerasi neuron dopaminergik presinaptik yang progresif. Tatalaksana dapat meliputi penyesuaian dosis levodopa, penambahan agonis dopamin, atau amantadin untuk mengurangi diskinesia.
- A. Bradikinesia justru menggambarkan kekurangan efek dopaminergik, bukan gerakan involunter berlebih yang dijumpai pada kasus ini.
- C. Efek ekstrapiramidal akibat antagonis dopamin tidak relevan karena pasien menggunakan levodopa, bukan antipsikotik.
- D. Sindrom neuroleptik maligna terkait penghentian abrupt levodopa atau antagonis dopamin, bukan gambaran gerakan involunter saat kadar obat puncak seperti kasus ini.
- E. Distonia on terjadi pada saat kadar obat rendah (wearing-off) dengan gambaran postur abnormal yang menetap, bukan gerakan koreiform saat kadar obat puncak.
Seorang perempuan berusia 58 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan tangan bergetar sejak 2 tahun terakhir, memberat saat menulis atau memegang cangkir, dan membaik setelah minum segelas kecil anggur pada acara keluarga. Tidak ada keluhan kaku pada sendi maupun kesulitan memulai gerakan. Pemeriksaan neurologis menunjukkan getaran pada kedua tangan yang muncul saat lengan direntangkan ke depan, frekuensi tinggi, tidak ditemukan rigiditas maupun bradikinesia. Riwayat keluarga menunjukkan ayah pasien memiliki keluhan serupa. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?
- APenyakit Parkinson
- BTremor fisiologis
- CTremor serebelar
- DTremor esensial
- EParkinsonisme sekunder akibat obat
Lihat jawaban
Tremor esensial khas berupa tremor postural/kinetik (muncul saat mempertahankan posisi atau beraktivitas seperti menulis dan memegang gelas), bersifat bilateral dan simetris, membaik dengan alkohol, serta sering memiliki riwayat keluarga karena pola pewarisan autosomal dominan. Tidak dijumpai rigiditas, bradikinesia, atau tremor saat istirahat yang menjadi ciri khas Parkinson. Diagnosis ditegakkan secara klinis tanpa memerlukan pencitraan pada kasus tipikal. Terapi lini pertama bila mengganggu aktivitas adalah propranolol atau primidon.
- A. Tremor Parkinson bersifat tremor istirahat (resting tremor) dengan frekuensi rendah, disertai rigiditas dan bradikinesia yang tidak ditemukan pada pasien ini.
- B. Tremor fisiologis biasanya ringan, tidak progresif, dan tidak membaik dengan alkohol maupun diturunkan dalam keluarga.
- C. Tremor serebelar bersifat intensional, memberat saat mendekati target gerakan, dan disertai ataksia atau dismetria.
- E. Parkinsonisme sekunder akibat obat biasanya muncul setelah pajanan obat antipsikotik atau antiemetik dan disertai gejala ekstrapiramidal lain.
Seorang laki-laki berusia 30 tahun dengan skizofrenia dibawa ke IGD RS oleh keluarga karena leher terus menoleh ke satu sisi dan sulit digerakkan sejak 2 jam yang lalu, muncul mendadak setelah pasien mendapat injeksi haloperidol 5 mg di puskesmas untuk mengatasi agitasi. Pasien tampak kesakitan dan ketakutan. Pemeriksaan tanda vital dalam batas normal. Pemeriksaan neurologis menunjukkan kontraksi otot leher yang kuat dan bertahan (sustained), tanpa penurunan kesadaran. Apakah tatalaksana awal yang paling tepat diberikan pada pasien ini?
- AInjeksi haloperidol dosis tambahan
- BTablet triheksifenidil oral
- CInfus natrium klorida 0,9% dan observasi
- DInjeksi diazepam intravena
- EInjeksi difenhidramin intramuskular
Lihat jawaban
Keluhan berupa kontraksi otot yang mendadak, kuat, dan menetap setelah pemberian antipsikotik tipikal dosis tinggi merupakan gambaran khas distonia akut, salah satu bentuk sindrom ekstrapiramidal akibat blokade reseptor dopamin D2. Tatalaksana pilihan adalah antikolinergik kerja cepat seperti difenhidramin atau antikolinergik lain (misalnya sulfas atropin/triheksifenidil) secara injeksi untuk mengembalikan keseimbangan dopamin-asetilkolin di ganglia basalis, dengan respons yang biasanya cepat dalam beberapa menit. Rute injeksi dipilih karena onset kerja yang lebih cepat dibandingkan rute oral pada kondisi akut.
- A. Menambah dosis haloperidol akan memperberat blokade dopaminergik dan memperburuk gejala ekstrapiramidal.
- B. Triheksifenidil oral memiliki onset kerja lebih lambat dan kurang sesuai untuk kondisi akut yang membutuhkan respons cepat.
- C. Observasi saja tanpa terapi antikolinergik akan memperpanjang penderitaan pasien karena distonia tidak membaik spontan dengan cepat.
- D. Diazepam intravena dapat membantu relaksasi otot namun bukan terapi definitif untuk distonia akut akibat antipsikotik.
Seorang laki-laki berusia 42 tahun dibawa keluarga ke poliklinik saraf karena gerakan tubuh yang tidak terkendali sejak 1 tahun terakhir, berupa gerakan menyentak-nyentak pada wajah, lengan, dan tungkai yang tidak berirama dan tampak seperti menari. Keluarga juga melaporkan perubahan perilaku berupa mudah marah dan penurunan daya ingat progresif. Ayah pasien meninggal dengan gejala serupa pada usia 50 tahun. Pemeriksaan neurologis menunjukkan gerakan koreiform involunter pada keempat ekstremitas dan wajah, disertai gangguan kognitif ringan. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?
- ASindrom Tourette
- BAtaksia Friedreich
- CPenyakit Parkinson stadium lanjut
- DKorea Huntington
- EPenyakit Wilson
Lihat jawaban
Korea Huntington adalah penyakit neurodegeneratif akibat mutasi ekspansi trinukleotida CAG pada gen HTT, diturunkan secara autosomal dominan dengan penetrasi tinggi, sehingga sering tampak pada beberapa generasi dalam satu keluarga. Trias klasik berupa gerakan koreiform progresif, gangguan kognitif (demensia subkortikal), dan gangguan perilaku/psikiatri biasanya muncul pada usia dewasa pertengahan (30-50 tahun). Riwayat keluarga dengan gejala serupa pada orang tua mendukung pola pewarisan autosomal dominan. Diagnosis definitif ditegakkan dengan pemeriksaan genetik yang menunjukkan ekspansi CAG repeat.
- A. Sindrom Tourette ditandai tik motorik dan vokal berulang sejak usia anak, bukan gerakan koreiform progresif pada dewasa.
- B. Ataksia Friedreich diturunkan autosomal resesif dengan gejala utama ataksia dan disertai kardiomiopati, bukan korea.
- C. Parkinson stadium lanjut menimbulkan bradikinesia dan rigiditas, bukan gerakan koreiform, serta tidak memiliki pola pewarisan autosomal dominan yang jelas.
- E. Penyakit Wilson diturunkan autosomal resesif, biasanya muncul pada usia lebih muda disertai gangguan hepar dan cincin Kayser-Fleischer.
Neuropati Perifer dan Gangguan Neuromuskular
4 soalSeorang laki-laki berusia 28 tahun datang ke IGD puskesmas dengan keluhan kelemahan kedua tungkai sejak 3 hari yang lalu, yang kini meluas ke kedua lengan. Dua minggu sebelumnya pasien mengalami diare cair selama 4 hari yang sembuh sendiri. Pemeriksaan tanda vital: tekanan darah 110/70 mmHg, frekuensi nadi 88 kali/menit, frekuensi napas 20 kali/menit. Pemeriksaan neurologis menunjukkan kekuatan motorik ekstremitas bawah 2/5 dan ekstremitas atas 3/5, refleks fisiologis menurun pada keempat ekstremitas, serta tidak ditemukan gangguan sensorik yang jelas. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?
- AMielitis transversa
- BPeriodic paralysis hipokalemik
- CMiastenia gravis
- DSindrom Guillain-Barré
- EPoliomielitis
Lihat jawaban
Sindrom Guillain-Barré adalah poliradikuloneuropati inflamasi akut yang sering dipicu infeksi saluran cerna (terutama Campylobacter jejuni) 1-3 minggu sebelumnya, ditandai kelemahan motorik asendens yang dimulai dari tungkai lalu naik ke lengan, disertai arefleksia atau hiporefleksia. Gangguan sensorik umumnya ringan atau tidak menonjol dibandingkan kelemahan motorik. Pola kelemahan simetris dan progresif yang asendens ini sangat khas dan membedakannya dari penyebab kelemahan akut lain. Diagnosis didukung pemeriksaan cairan serebrospinal yang menunjukkan disosiasi sitoalbumin (protein meningkat, sel normal) serta tatalaksana utama berupa imunoglobulin intravena atau plasmaferesis.
- A. Mielitis transversa menimbulkan kelemahan dengan level sensorik yang jelas dan sering disertai gangguan buli-buli, berbeda dari pola pasien ini.
- B. Periodic paralysis hipokalemik berkaitan dengan kadar kalium serum rendah dan biasanya berulang, tanpa riwayat infeksi mendahului.
- C. Miastenia gravis menimbulkan kelemahan yang fluktuatif dan fatigability, bukan kelemahan asendens progresif, serta refleks fisiologis biasanya normal.
- E. Poliomielitis menyebabkan kelemahan motorik asimetris akibat infeksi virus polio, kini sangat jarang karena program imunisasi.
Seorang perempuan berusia 26 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan kelopak mata kanan turun dan pandangan ganda yang memberat pada sore hari setelah beraktivitas, namun membaik setelah beristirahat semalam. Keluhan dirasakan sejak 2 bulan terakhir dan semakin sering. Pemeriksaan neurologis pada pagi hari menunjukkan ptosis minimal pada mata kanan yang bertambah berat setelah pasien diminta menatap ke atas selama 1 menit. Kekuatan motorik ekstremitas dalam batas normal, tidak ditemukan gangguan sensorik. Apakah pemeriksaan penunjang yang paling tepat untuk mengonfirmasi diagnosis pada pasien ini?
- APungsi lumbal untuk analisis cairan serebrospinal
- BUji prostigmin (neostigmin)
- CPemeriksaan kadar kreatin kinase serum
- DPencitraan MRI otak dengan kontras
- EElektromiografi serat tunggal tanpa stimulasi repetitif
Lihat jawaban
Gambaran klinis berupa ptosis dan diplopia yang memberat dengan aktivitas (fatigability) dan membaik dengan istirahat sangat khas untuk miastenia gravis, suatu penyakit autoimun akibat antibodi terhadap reseptor asetilkolin di celah neuromuskular. Uji prostigmin (neostigmin) atau uji tensilon (edrofonium) bersifat menghambat kerja enzim asetilkolinesterase sehingga meningkatkan ketersediaan asetilkolin di sinaps, yang pada pasien miastenia akan memperbaiki ptosis dan kelemahan otot secara cepat dan nyata dalam beberapa menit, mengonfirmasi diagnosis secara klinis di lapangan. Pemeriksaan ini praktis dilakukan di fasilitas kesehatan tanpa memerlukan alat canggih.
- A. Analisis cairan serebrospinal digunakan untuk kecurigaan Guillain-Barré atau infeksi sistem saraf pusat, bukan miastenia gravis.
- C. Kreatin kinase serum meningkat pada miopati inflamasi atau distrofi otot, bukan pada gangguan transmisi neuromuskular seperti miastenia.
- D. MRI otak digunakan untuk menyingkirkan lesi struktural intrakranial, bukan untuk konfirmasi gangguan transmisi neuromuskular.
- E. Elektromiografi serat tunggal justru memerlukan stimulasi repetitif untuk menunjukkan decremental response yang khas pada miastenia.
Seorang laki-laki berusia 45 tahun dengan riwayat miastenia gravis yang rutin mengonsumsi piridostigmin dibawa ke IGD karena sesak napas berat dan kelemahan seluruh tubuh yang memberat sejak 6 jam yang lalu. Keluarga mengatakan pasien baru-baru ini menggandakan dosis piridostigmin sendiri karena merasa gejalanya memburuk. Pemeriksaan tanda vital: tekanan darah 100/60 mmHg, frekuensi nadi 52 kali/menit, frekuensi napas 28 kali/menit. Pemeriksaan fisik menunjukkan pupil miosis, hipersalivasi, keringat berlebihan, dan fasikulasi otot pada keempat ekstremitas. Apakah tatalaksana awal yang paling tepat pada pasien ini?
- ATingkatkan dosis piridostigmin dan observasi ketat
- BBerikan injeksi neostigmin tambahan secara intravena
- CBerikan kortikosteroid dosis tinggi intravena sebagai terapi utama
- DHentikan piridostigmin dan berikan injeksi sulfas atropin
- ELakukan plasmaferesis segera tanpa menghentikan piridostigmin
Lihat jawaban
Kombinasi bradikardia, hipotensi, miosis, hipersalivasi, diaforesis, dan fasikulasi otot setelah peningkatan dosis obat antikolinesterase sangat khas untuk krisis kolinergik, akibat kelebihan asetilkolin pada reseptor muskarinik dan nikotinik. Tatalaksana utama adalah menghentikan sementara obat antikolinesterase (piridostigmin) dan memberikan sulfas atropin sebagai antagonis muskarinik untuk mengatasi gejala kolinergik, disertai dukungan ventilasi bila terjadi gagal napas. Membedakan krisis ini dari krisis miastenia penting karena terapi yang berlawanan; pada krisis miastenia justru dibutuhkan peningkatan antikolinesterase atau imunoterapi.
- A. Meningkatkan dosis piridostigmin akan memperparah kelebihan asetilkolin dan memperburuk krisis kolinergik.
- B. Pemberian neostigmin tambahan akan memperberat gejala kolinergik yang sudah berlebihan.
- C. Kortikosteroid bukan tatalaksana kedaruratan untuk krisis kolinergik dan tidak mengatasi kelebihan asetilkolin secara cepat.
- E. Plasmaferesis adalah terapi untuk krisis miastenia, bukan untuk mengatasi kelebihan antikolinesterase pada krisis kolinergik.
Seorang perempuan berusia 45 tahun, bekerja sebagai penjahit, datang ke puskesmas dengan keluhan kesemutan dan nyeri pada jari 1, 2, dan 3 tangan kanan yang memberat pada malam hari sejak 3 bulan terakhir. Keluhan membaik jika tangan dikibas-kibaskan. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda vital dalam batas normal. Saat dilakukan fleksi pergelangan tangan secara maksimal selama 60 detik, keluhan kesemutan pasien bertambah hebat pada ketiga jari tersebut. Tidak didapatkan atrofi otot thenar. Apakah nama pemeriksaan provokasi yang dilakukan pada pasien tersebut?
- ATes Spurling
- BTes Lasegue
- CTes Tinel
- DTes Finkelstein
- ETes Phalen
Lihat jawaban
Gejala klinis berupa parestesia pada distribusi nervus medianus (jari 1-3 dan sebagian jari 4) yang memberat malam hari dan membaik dengan mengibaskan tangan sangat khas untuk carpal tunnel syndrome akibat kompresi nervus medianus di terowongan karpal. Tes Phalen dilakukan dengan memfleksikan pergelangan tangan secara maksimal selama 60 detik, yang akan meningkatkan tekanan dalam terowongan karpal sehingga memperberat gejala parestesia jika positif untuk carpal tunnel syndrome. Tes ini memiliki sensitivitas yang cukup baik meskipun tidak sepenuhnya spesifik. Tatalaksana konservatif awal meliputi splinting pergelangan tangan posisi netral pada malam hari dan modifikasi aktivitas.
- A. Tes Spurling digunakan untuk mendeteksi radikulopati servikal, bukan kompresi nervus medianus di pergelangan tangan.
- B. Tes Lasegue digunakan untuk mendeteksi iritasi radiks saraf lumbosakral pada nyeri punggung bawah.
- C. Tes Tinel dilakukan dengan mengetuk area terowongan karpal, bukan dengan fleksi pergelangan tangan.
- D. Tes Finkelstein digunakan untuk diagnosis De Quervain tenosynovitis, bukan carpal tunnel syndrome.
Trauma dan Kedaruratan Neurologis
5 soalSeorang laki-laki berusia 35 tahun dibawa ke IGD setelah terjatuh dari motor dan kepala membentur aspal 1 jam yang lalu. Pasien sempat pingsan sekitar 5 menit, kemudian sadar kembali namun mengeluh sakit kepala dan muntah 2 kali. Saat diperiksa, pasien dapat membuka mata spontan, berbicara namun tampak bingung (disorientasi), dan dapat menuruti perintah dengan baik. Tidak ditemukan defisit neurologis fokal maupun jejas pada kepala. Tanda vital dalam batas normal. Apakah tindakan yang paling tepat dilakukan selanjutnya?
- AMelakukan rontgen polos kepala untuk menilai fraktur
- BMelakukan CT scan kepala tanpa kontras segera
- CMelakukan pungsi lumbal untuk menilai tekanan intrakranial
- DMemberikan analgetik dan memperbolehkan pasien pulang
- EObservasi rawat jalan dengan edukasi tanda bahaya
Lihat jawaban
Berdasarkan GCS, pasien ini memiliki GCS 14 (E4V4M6) yang termasuk kategori trauma kapitis ringan (GCS 13-15), namun disertai faktor risiko berupa riwayat kehilangan kesadaran (loss of consciousness) dan muntah lebih dari satu kali, yang merupakan indikasi untuk dilakukan CT scan kepala tanpa kontras segera sesuai kriteria klinis standar. CT scan kepala merupakan modalitas pencitraan pilihan untuk mendeteksi perdarahan intrakranial, kontusio, atau fraktur tulang kepala pada trauma kapitis karena cepat, sensitif terhadap darah akut, dan tersedia di fasilitas kegawatdaruratan. Observasi rawat jalan tanpa pencitraan tidak tepat karena adanya faktor risiko tersebut meningkatkan kemungkinan lesi intrakranial yang memerlukan deteksi dini. Rontgen polos kepala tidak dapat menilai jaringan otak maupun perdarahan intrakranial secara adekuat.
- A. Rontgen polos kepala tidak dapat mendeteksi perdarahan intrakranial atau kontusio otak, sehingga tidak sesuai untuk evaluasi trauma kapitis ini.
- C. Pungsi lumbal dikontraindikasikan pada kecurigaan peningkatan tekanan intrakranial atau lesi massa karena berisiko herniasi otak.
- D. Memberikan analgetik dan memulangkan pasien berisiko tinggi karena dapat menunda deteksi perdarahan intrakranial yang mengancam jiwa.
- E. Observasi rawat jalan tidak tepat karena pasien memiliki faktor risiko (LOC dan muntah berulang) yang mengindikasikan perlunya pencitraan segera.
Seorang laki-laki berusia 22 tahun dibawa ke IGD setelah mengalami kecelakaan lalu lintas 3 jam yang lalu. Menurut saksi, pasien sempat pingsan sesaat setelah kejadian, kemudian sadar kembali dan dapat berbicara normal serta berjalan sendiri ke tempat aman. Sekitar 2 jam kemudian, pasien tiba-tiba mengalami penurunan kesadaran progresif disertai sakit kepala hebat dan muntah. Saat diperiksa di IGD, GCS pasien E2V2M4, pupil kanan anisokor dengan diameter 6 mm dan refleks cahaya negatif, pupil kiri 3 mm dengan refleks cahaya positif. Tekanan darah 160/95 mmHg, nadi 54 kali/menit, frekuensi napas 14 kali/menit ireguler. Apakah gambaran pencitraan CT scan kepala yang paling mungkin ditemukan pada pasien ini?
- ALesi hiperdens bulan sabit (crescent) yang dapat melewati batas sutura
- BLesi hiperdens bikonveks (lentikular) yang tidak melewati batas sutura
- CLesi hipodens berbatas tegas pada area vaskularisasi arteri serebri media
- DLesi hiperdens di ruang subarachnoid mengikuti sulkus dan fisura
- ELesi hipodens difus pada substansia alba kedua hemisfer
Lihat jawaban
Gambaran klinis klasik berupa lucid interval, yaitu periode sadar sementara setelah trauma kepala sebelum terjadi penurunan kesadaran progresif, disertai tanda herniasi unkal (anisokor, bradikardia, hipertensi, pola napas ireguler yang merupakan trias Cushing) sangat khas untuk epidural hematoma akibat robekan arteri meningea media. Pada CT scan kepala tanpa kontras, epidural hematoma tampak sebagai lesi hiperdens berbentuk bikonveks atau lentikular karena darah terkumpul di antara tabula interna tulang tengkorak dan duramater yang melekat kuat pada sutura, sehingga hematoma tidak dapat melewati batas sutura. Kondisi ini merupakan kedaruratan bedah yang memerlukan evakuasi segera untuk mencegah herniasi otak dan kematian.
- A. Gambaran bulan sabit yang dapat melewati sutura merupakan karakteristik subdural hematoma, bukan epidural hematoma.
- C. Lesi hipodens pada area vaskularisasi arteri serebri media menggambarkan infark iskemik, bukan epidural hematoma.
- D. Lesi hiperdens mengikuti sulkus dan fisura merupakan gambaran perdarahan subarachnoid, bukan epidural hematoma.
- E. Lesi hipodens difus pada substansia alba lebih menggambarkan diffuse axonal injury, bukan epidural hematoma.
Seorang laki-laki berusia 74 tahun dengan riwayat konsumsi warfarin rutin karena fibrilasi atrium dibawa keluarganya ke IGD karena mengalami penurunan kesadaran bertahap dan perubahan perilaku sejak 1 minggu terakhir. Keluarga menyebutkan bahwa pasien pernah terjatuh di kamar mandi sekitar 3 minggu yang lalu dengan trauma kepala ringan, namun saat itu tidak dibawa ke rumah sakit karena tidak ada luka terbuka. Pada pemeriksaan GCS E3V4M5, tidak ditemukan defisit motorik fokal yang jelas. Tekanan darah 150/85 mmHg, nadi 88 kali/menit ireguler. Apakah faktor risiko utama pada pasien ini yang berkaitan dengan patofisiologi diagnosis yang paling mungkin?
- AHipertensi kronik menyebabkan rupture mikroaneurisma Charcot-Bouchard
- BAterosklerosis menyebabkan oklusi pembuluh darah serebral
- CInfeksi kronik menyebabkan pembentukan abses otak
- DUsia lanjut dan penggunaan antikoagulan menyebabkan robekan bridging vein
- EFraktur tulang tengkorak menyebabkan robekan arteri meningea media
Lihat jawaban
Pasien usia lanjut dengan riwayat trauma kepala ringan beberapa minggu sebelumnya, disertai penggunaan antikoagulan (warfarin), dan gejala klinis progresif lambat berupa penurunan kesadaran bertahap serta perubahan perilaku sangat mengarah pada subdural hematoma kronik. Patofisiologi subdural hematoma terjadi akibat robeknya bridging vein (vena penghubung antara korteks serebri dan sinus dura), yang pada usia lanjut lebih rentan robek karena atrofi otak menyebabkan ruang subdural lebih lebar dan vena lebih teregang. Penggunaan antikoagulan seperti warfarin memperberat perdarahan dan memperlambat proses hemostasis, sehingga hematoma dapat terus membesar secara perlahan dan baru menimbulkan gejala klinis signifikan setelah beberapa minggu. Pada CT scan kepala, subdural hematoma kronik tampak sebagai lesi hipodens atau isodens berbentuk bulan sabit (crescent) yang dapat melewati batas sutura.
- A. Ruptur mikroaneurisma Charcot-Bouchard akibat hipertensi kronik merupakan patofisiologi perdarahan intraserebral hipertensif, bukan subdural hematoma.
- B. Oklusi pembuluh darah akibat aterosklerosis menyebabkan infark iskemik, bukan perdarahan subdural.
- C. Abses otak akibat infeksi kronik memberikan gambaran klinis dan pencitraan yang berbeda, tidak sesuai dengan skenario trauma dan progresivitas gejala pasien ini.
- E. Robekan arteri meningea media akibat fraktur tulang tengkorak merupakan patofisiologi epidural hematoma, bukan subdural hematoma.
Seorang laki-laki berusia 30 tahun dibawa ke IGD setelah kecelakaan lalu lintas dengan trauma kapitis berat. Pada pemeriksaan awal GCS E1V1M3, pupil kanan anisokor 7 mm dengan refleks cahaya negatif, pupil kiri 3 mm dengan refleks cahaya positif. Tekanan darah 165/95 mmHg, nadi 58 kali/menit, frekuensi napas 10 kali/menit ireguler, saturasi oksigen 92% dengan udara ruangan. Pasien telah diintubasi dan diventilasi mekanik. Apakah tatalaksana farmakologis segera yang paling tepat untuk mengatasi kondisi peningkatan tekanan intrakranial pada pasien ini sambil menunggu tindakan definitif?
- ANifedipine sublingual 10 mg
- BDexamethasone intravena bolus 10 mg
- CPhenytoin intravena loading dose 15 mg/kgBB
- DManitol intravena bolus 0,5-1 g/kgBB
- EFurosemide intravena bolus 40 mg
Lihat jawaban
Pasien menunjukkan tanda klinis herniasi otak akibat peningkatan tekanan intrakranial berat, yaitu GCS sangat rendah, anisokor dengan refleks cahaya negatif pada pupil yang melebar (tanda herniasi unkal), serta trias Cushing (hipertensi, bradikardia, pola napas ireguler). Tatalaksana farmakologis segera yang direkomendasikan adalah pemberian manitol intravena bolus dengan dosis 0,5-1 g/kgBB, yang bekerja sebagai agen osmotik untuk menarik cairan dari jaringan otak ke intravaskular sehingga menurunkan edema serebri dan tekanan intrakranial secara cepat. Manitol merupakan terapi hiperosmolar lini pertama pada kegawatan peningkatan tekanan intrakranial akibat trauma kapitis sambil menunggu tindakan definitif seperti kraniotomi dekompresi. Pemberian harus disertai pemantauan status volume dan fungsi ginjal karena efek diuresis osmotik yang kuat.
- A. Nifedipine sublingual dapat menurunkan tekanan darah secara drastis dan berisiko menurunkan tekanan perfusi serebral, memperburuk iskemia otak.
- B. Dexamethasone tidak terbukti efektif untuk edema serebri akibat trauma kapitis (sitotoksik), berbeda dengan edema vasogenik akibat tumor otak.
- C. Phenytoin merupakan antikonvulsan profilaksis pasca trauma kapitis, tidak menurunkan tekanan intrakranial secara langsung.
- E. Furosemide tidak memiliki efek osmotik langsung terhadap jaringan otak dan bukan terapi lini pertama untuk tekanan intrakranial akut pada trauma kapitis.
Seorang laki-laki berusia 26 tahun dibawa ke IGD setelah terjatuh dari pohon kelapa setinggi 5 meter 1 jam yang lalu. Pasien mengeluh tidak dapat menggerakkan kedua tungkai dan mengalami kesemutan di bawah level umbilikus. Pada pemeriksaan didapatkan kekuatan motorik ekstremitas atas 5/5, ekstremitas bawah 0/5 pada kedua sisi. Sensasi raba dan nyeri tidak dirasakan mulai setinggi umbilikus ke bawah (sesuai dermatom T10). Tidak ditemukan kontraksi sfingter ani volunter maupun sensasi perianal. Refleks bulbokavernosus negatif. Tanda vital tekanan darah 90/60 mmHg, nadi 58 kali/menit, akral hangat. Apakah tatalaksana awal yang paling tepat untuk mengatasi kondisi hemodinamik pasien ini?
- ATransfusi packed red cells segera tanpa pemeriksaan golongan darah
- BPemberian atropine sulfat intravena bolus tanpa cairan
- CPemberian metilprednisolon dosis tinggi intravena segera
- DPemberian cairan kristaloid intravena dan vasopressor bila diperlukan
- EPemasangan traksi servikal segera sebelum stabilisasi hemodinamik
Lihat jawaban
Pasien mengalami trauma medula spinalis komplit setinggi T10 dengan tanda klasik syok neurogenik, yaitu hipotensi disertai bradikardia relatif dan akral hangat (berbeda dengan syok hipovolemik yang biasanya disertai takikardia dan akral dingin), akibat hilangnya tonus simpatis di bawah level lesi medula spinalis. Tatalaksana awal syok neurogenik adalah resusitasi cairan kristaloid intravena untuk mengoptimalkan volume intravaskular, dan apabila hipotensi tidak teratasi dengan cairan, dapat ditambahkan vasopressor untuk mempertahankan tekanan perfusi medula spinalis yang adekuat sehingga mencegah perburukan iskemia sekunder pada jaringan saraf yang masih viable. Pendekatan ini sesuai prinsip resusitasi ABCDE pada trauma dengan mempertahankan tekanan darah sistolik target yang adekuat.
- A. Transfusi darah tanpa indikasi kehilangan darah aktif dan tanpa pemeriksaan golongan darah tidak tepat serta berisiko komplikasi transfusi.
- B. Atropine dapat dipertimbangkan untuk bradikardia simptomatik berat, namun bukan tatalaksana awal utama tanpa resusitasi cairan terlebih dahulu pada syok neurogenik.
- C. Metilprednisolon dosis tinggi tidak lagi direkomendasikan secara rutin pada trauma medula spinalis akut karena bukti manfaat yang lemah dan risiko efek samping signifikan.
- E. Stabilisasi hemodinamik (ABC) harus menjadi prioritas sebelum tindakan traksi atau manipulasi yang dapat memperberat instabilitas, bukan sebaliknya.
Nyeri Punggung dan Kelainan Medula Spinalis
3 soalSeorang perempuan berusia 45 tahun dibawa ke IGD dengan nyeri punggung bawah hebat sejak 2 hari yang memberat. Sejak pagi ini pasien mengeluh tidak bisa menahan buang air kecil dan terasa kebas di area kemaluan serta sekitar anus. Pemeriksaan tanda vital dalam batas normal. Pemeriksaan neurologis menunjukkan kekuatan motorik tungkai bawah 4/5 bilateral, hipoestesi pada area perineum dan saddle area, serta refleks bulbokavernosus menurun. Bladder teraba penuh pada palpasi suprapubik. Apakah tindakan awal yang paling tepat?
- ARujuk untuk fisioterapi dan traksi lumbal elektif
- BPemberian kortikosteroid oral dosis rendah selama 1 minggu
- CObservasi rawat jalan dengan kontrol ulang 1 minggu kemudian
- DPemberian analgetik oral dan edukasi bed rest di rumah
- EPemeriksaan MRI lumbosakral segera dan konsul bedah saraf untuk dekompresi emergensi
Lihat jawaban
Kombinasi gejala saddle anesthesia, retensio urin, dan kelemahan motorik bilateral merupakan red flags klasik cauda equina syndrome yang merupakan kedaruratan bedah saraf. Diagnosis harus segera ditegakkan dengan MRI lumbosakral sebagai modalitas pilihan untuk menilai kompresi radiks pada level cauda equina. Keterlambatan dekompresi bedah (ideal dalam 24-48 jam onset defisit) berisiko menyebabkan kerusakan neurologis permanen termasuk inkontinensia dan disfungsi seksual. Oleh karena itu pasien dengan red flags ini wajib dirujuk segera, tidak boleh ditatalaksana sebagai nyeri punggung mekanik biasa.
- A. Fisioterapi dan traksi elektif tidak sesuai karena kondisi ini adalah kedaruratan, bukan nyeri punggung kronik biasa.
- B. Kortikosteroid oral dosis rendah tidak mengatasi kompresi mekanik akut pada cauda equina.
- C. Observasi rawat jalan berisiko tinggi menyebabkan kerusakan neurologis permanen akibat keterlambatan dekompresi.
- D. Analgetik dan bed rest di rumah mengabaikan kegawatan neurologis yang membutuhkan dekompresi segera.
Seorang perempuan berusia 28 tahun datang ke rumah sakit dengan kelemahan kedua tungkai yang progresif sejak 3 hari, disertai kesemutan dan rasa tebal mulai dari umbilikus ke bawah. Pasien juga mengalami retensio urin sejak kemarin. Riwayat demam dan batuk pilek 2 minggu sebelumnya. Pemeriksaan tanda vital: suhu 37,0°C, tekanan darah 120/80 mmHg. Status neurologis: kekuatan motorik tungkai 2/5 bilateral, hipoestesi setinggi dermatom T10 ke bawah, refleks fisiologis tungkai meningkat, refleks Babinski positif bilateral. Pemeriksaan MRI spinal menunjukkan lesi hiperintens pada T2 di medula spinalis setinggi T8-T10 dengan enhancement pasca kontras. Apakah tatalaksana awal yang paling tepat?
- AMetilprednisolon dosis tinggi intravena
- BImunoglobulin intravena dosis tinggi sebagai lini pertama
- CPlasmaferesis sebagai lini pertama tanpa kortikosteroid
- DAnalgetik opioid dan fisioterapi intensif
- EAntibiotik spektrum luas intravena
Lihat jawaban
Gambaran klinis berupa defisit motorik dan sensorik setinggi dermatom tertentu (level sensorik jelas), disfungsi otonom (retensio urin), serta tanda upper motor neuron (hiperrefleksia, Babinski positif) yang didahului infeksi, dengan lesi medula spinalis pada MRI, sangat sesuai dengan myelitis transversa. Tatalaksana lini pertama adalah kortikosteroid dosis tinggi, yaitu metilprednisolon intravena 1 gram per hari selama 3-5 hari, untuk menekan proses inflamasi autoimun pada medula spinalis. Plasmaferesis atau imunoglobulin intravena dicadangkan untuk kasus yang tidak respons terhadap kortikosteroid.
- B. Imunoglobulin intravena bukan terapi lini pertama pada myelitis transversa, kortikosteroid tetap menjadi pilihan awal.
- C. Plasmaferesis bukan lini pertama dan biasanya diberikan setelah kegagalan respons terhadap kortikosteroid dosis tinggi.
- D. Analgetik dan fisioterapi tidak mengatasi proses inflamasi akut yang mendasari kerusakan medula spinalis.
- E. Tidak ada bukti infeksi bakterial aktif pada medula spinalis (mielitis infeksius langsung) yang memerlukan antibiotik empiris sebagai terapi utama.
Seorang laki-laki berusia 35 tahun datang dengan keluhan sering tidak sadar mengalami luka bakar ringan pada tangan kanan saat memasak selama beberapa bulan terakhir karena tidak merasakan panas. Pasien juga mengeluh kelemahan ringan pada kedua tangan yang semakin memburuk. Pemeriksaan neurologis menunjukkan atrofi otot-otot intrinsik tangan bilateral, hilangnya sensasi nyeri dan suhu pada lengan dan sebagian dada atas bilateral, namun sensasi raba halus dan propriosepsi pada area yang sama masih normal. Refleks tendon pada kedua lengan menurun. Apakah mekanisme yang paling mendasari gambaran klinis tersebut?
- ADemielinisasi traktus kortikospinalis pada medula spinalis servikal
- BNeuropati perifer simetris akibat defisiensi vitamin B12
- CLesi kavitas sentral medula spinalis yang mengganggu traktus spinotalamikus yang menyilang setinggi lesi
- DLesi pada kolumna posterior medula spinalis yang mengganggu propriosepsi
- EKompresi radiks saraf servikal unilateral akibat hernia diskus
Lihat jawaban
Gambaran klinis berupa hilangnya sensasi nyeri dan suhu dengan sensasi raba halus serta propriosepsi yang masih baik (disosiasi sensorik) disertai kelemahan dan atrofi otot tangan merupakan tanda klasik siringomielia. Kavitas sentral (syrinx) pada medula spinalis, biasanya di area servikal, merusak serabut traktus spinotalamikus yang menyilang di komisura anterior pada level tersebut sebelum naik ke sisi kontralateral, sementara kolumna posterior yang membawa raba halus dan propriosepsi tetap intak karena terletak lebih perifer. Perluasan kavitas ke kornu anterior menyebabkan kelemahan dan atrofi otot akibat kerusakan motor neuron bawah.
- A. Demielinisasi traktus kortikospinalis menyebabkan kelemahan tipe upper motor neuron, bukan disosiasi sensorik nyeri-suhu versus raba halus.
- B. Neuropati perifer akibat defisiensi B12 biasanya mengganggu propriosepsi dan sensasi distal secara simetris tanpa disosiasi sensorik segmental seperti ini.
- D. Lesi kolumna posterior akan mengganggu propriosepsi dan raba halus, bukan nyeri-suhu, sehingga tidak sesuai dengan disosiasi sensorik pada kasus ini.
- E. Kompresi radiks unilateral tidak menjelaskan disosiasi sensorik bilateral dan suspended sensory level yang khas siringomielia.
Gangguan Kognitif dan Degeneratif
4 soalSeorang perempuan berusia 72 tahun dibawa keluarga ke poliklinik karena sering lupa meletakkan barang dan mengulang pertanyaan yang sama sejak 2 tahun terakhir, dengan perburukan bertahap. Pasien juga mulai kesulitan mengenali jalan pulang dan sulit menemukan kata saat berbicara. Tidak ada riwayat stroke, trauma kepala, atau gangguan gerak. Pemeriksaan tanda vital dalam batas normal, pemeriksaan neurologis tidak ditemukan defisit fokal. Skor Mini-Mental State Examination 18/30. Pemeriksaan laboratorium darah lengkap, fungsi tiroid, dan vitamin B12 dalam batas normal. Pemeriksaan CT scan kepala menunjukkan atrofi kortikal difus terutama di lobus temporal medial tanpa lesi fokal. Apakah diagnosis yang paling mungkin?
- AGangguan kognitif ringan akibat depresi
- BDemensia Alzheimer
- CDemensia vaskular
- DDemensia dengan badan Lewy
- EDemensia frontotemporal
Lihat jawaban
Demensia Alzheimer khas ditandai penurunan kognitif progresif bertahap dengan gangguan memori episodik sebagai gejala awal yang dominan (lupa, mengulang pertanyaan), diikuti gangguan bahasa, visuospasial (disorientasi jalan), tanpa riwayat kejadian vaskular atau defisit fokal mendadak. Atrofi kortikal difus terutama di lobus temporal medial (termasuk hipokampus) pada pencitraan mendukung diagnosis ini setelah menyingkirkan penyebab reversibel seperti hipotiroid dan defisiensi B12. Kriteria diagnosis klinis memerlukan gangguan pada minimal dua domain kognitif yang mengganggu fungsi sehari-hari dengan onset bertahap dan progresif tanpa penyebab lain yang dapat diidentifikasi.
- A. Depresi pada lanjut usia dapat menyerupai demensia namun biasanya onset lebih cepat, disertai gejala mood, dan tidak menunjukkan atrofi struktural khas pada pencitraan.
- C. Demensia vaskular biasanya memiliki onset mendadak atau stepwise terkait kejadian vaskular dan ditemukan lesi iskemik pada pencitraan, bukan atrofi difus tanpa lesi fokal.
- D. Demensia dengan badan Lewy ditandai fluktuasi kognisi, halusinasi visual, dan parkinsonisme yang tidak dijumpai pada kasus ini.
- E. Demensia frontotemporal didominasi perubahan perilaku dan kepribadian atau gangguan bahasa progresif sejak awal dengan atrofi predominan frontotemporal, bukan gangguan memori sebagai gejala awal.
Seorang laki-laki berusia 68 tahun dibawa ke poliklinik oleh anaknya karena penurunan daya ingat yang terjadi secara mendadak setelah pasien dirawat karena stroke 6 bulan yang lalu, kemudian relatif stabil, lalu memburuk tiba-tiba lagi 1 bulan terakhir. Pasien memiliki riwayat hipertensi tidak terkontrol dan diabetes melitus tipe 2 selama 15 tahun. Pemeriksaan neurologis menunjukkan kelemahan ringan wajah sisi kiri dan refleks patologis positif pada sisi kiri. Skor MMSE 20/30. Pemeriksaan CT scan kepala menunjukkan multipel lesi hipodens kecil pada substansia alba periventrikular dan ganglia basalis bilateral. Apakah diagnosis yang paling mungkin?
- ADemensia frontotemporal
- BDemensia akibat hipotiroidisme
- CDemensia dengan badan Lewy
- DDemensia Alzheimer
- EDemensia vaskular
Lihat jawaban
Pola penurunan kognitif yang bersifat stepwise (mendadak memburuk lalu stabil, kemudian memburuk lagi) terkait kejadian vaskular, disertai faktor risiko kardiovaskular (hipertensi, diabetes tidak terkontrol) dan defisit neurologis fokal (kelemahan wajah, refleks patologis) sangat mengarah pada demensia vaskular. Pencitraan menunjukkan multipel infark lakunar pada substansia alba dan ganglia basalis yang konsisten dengan penyakit vaskular serebral kronik tipe small vessel disease. Berbeda dengan Alzheimer yang progresif bertahap tanpa defisit fokal, demensia vaskular memiliki perjalanan yang lebih fluktuatif dan terkait temporal dengan kejadian iskemik.
- A. Demensia frontotemporal menunjukkan perubahan perilaku dominan dengan atrofi frontotemporal, tidak sesuai dengan pola stepwise dan lesi vaskular multipel ini.
- B. Hipotiroidisme sebagai penyebab reversibel tidak sesuai dengan riwayat stroke dan lesi vaskular multipel pada pencitraan.
- C. Demensia dengan badan Lewy ditandai fluktuasi kognisi dengan halusinasi dan parkinsonisme, bukan pola stepwise terkait kejadian vaskular dengan defisit fokal.
- D. Demensia Alzheimer memiliki onset bertahap progresif tanpa kaitan temporal dengan kejadian vaskular dan tanpa defisit neurologis fokal seperti pada kasus ini.
Seorang laki-laki berusia 75 tahun dirawat di bangsal karena infeksi saluran kemih. Pada hari ketiga perawatan, perawat melaporkan pasien tiba-tiba menjadi bingung, tidak mengenali tempat ia berada, dan berbicara meracau, dengan kondisi yang berfluktuasi antara tenang dan sangat gelisah dalam hitungan jam. Keluarga menyatakan sebelum masuk rumah sakit pasien masih mandiri dan tidak memiliki riwayat gangguan daya ingat. Pemeriksaan tanda vital: suhu 38,5°C, frekuensi nadi 110 kali/menit, tekanan darah 100/70 mmHg. Pasien tampak sulit mempertahankan perhatian saat diajak bicara dan sering kehilangan arah pembicaraan. Apakah diagnosis yang paling mungkin mendasari kondisi pasien ini?
- ADelirium akibat infeksi sistemik
- BDemensia Alzheimer onset akut
- CDemensia frontotemporal fase lanjut
- DDemensia vaskular eksaserbasi akut
- EDepresi dengan gejala pseudodemensia
Lihat jawaban
Onset akut dalam hitungan hari, fluktuasi kesadaran dan atensi dalam hitungan jam, serta adanya faktor pencetus akut berupa infeksi sistemik dengan demam dan takikardia sangat khas untuk delirium. Gangguan atensi yang menonjol (sulit mempertahankan perhatian) merupakan ciri inti delirium yang membedakannya dari demensia, di mana pada demensia gangguan memori mendahului gangguan atensi dan perjalanannya kronik progresif, bukan akut fluktuatif. Tidak adanya riwayat gangguan kognitif sebelumnya pada pasien ini juga mendukung bahwa perubahan status mental bersifat akut sekunder terhadap kondisi medis, bukan demensia primer.
- B. Alzheimer bersifat kronik progresif bertahap selama bulan hingga tahun, tidak muncul mendadak dalam hitungan hari seperti pada kasus ini.
- C. Demensia frontotemporal berkembang bertahap dengan perubahan perilaku kronik, tidak sesuai dengan onset akut terkait infeksi pada kasus ini.
- D. Tidak ada riwayat demensia vaskular sebelumnya pada pasien, dan pola onset akut dengan fluktuasi jam lebih sesuai delirium daripada eksaserbasi demensia vaskular.
- E. Pseudodemensia pada depresi biasanya berkembang lebih bertahap dengan gejala mood yang menonjol, bukan onset akut dengan fluktuasi kesadaran terkait infeksi.
Seorang perempuan berusia 26 tahun datang dengan keluhan penglihatan kabur pada mata kiri disertai nyeri saat menggerakkan bola mata sejak 5 hari, yang membaik dalam 2 minggu tanpa terapi. Sekitar 8 bulan sebelumnya, pasien pernah mengalami kesemutan dan rasa tebal pada tungkai kanan yang juga membaik spontan setelah beberapa minggu dan tidak diperiksakan. Pemeriksaan oftalmologi saat ini menunjukkan penurunan visus mata kiri dengan defek lapang pandang sentral dan papil edema ringan. Pemeriksaan neurologis lain dalam batas normal. Apakah pemeriksaan penunjang yang paling tepat untuk mengonfirmasi diagnosis yang dicurigai?
- AMRI otak dan medula spinalis dengan kontras
- BCT scan kepala tanpa kontras
- CElektromiografi dan kecepatan hantar saraf
- DElektroensefalografi
- EPungsi lumbal untuk kultur cairan serebrospinal
Lihat jawaban
Episode neuritis optika disertai riwayat defisit neurologis sebelumnya pada lokasi berbeda (parestesia tungkai) yang masing-masing membaik spontan menggambarkan pola disseminated in space and time yang khas sklerosis multipel. MRI otak dan medula spinalis dengan kontras adalah modalitas pilihan untuk mendeteksi lesi demielinisasi multipel berupa plak hiperintens pada T2/FLAIR di substansia alba periventrikular, korpus kalosum, batang otak, atau medula spinalis, yang mendukung kriteria diagnosis McDonald. Kontras gadolinium membantu membedakan lesi aktif (enhancing) dari lesi lama (non-enhancing) untuk menunjukkan disseminated in time.
- B. CT scan kepala memiliki resolusi rendah untuk mendeteksi lesi demielinisasi substansia alba sehingga tidak sesuai untuk kecurigaan sklerosis multipel.
- C. Elektromiografi dan kecepatan hantar saraf menilai kelainan saraf perifer dan otot, tidak menggambarkan lesi demielinisasi sentral pada sklerosis multipel.
- D. Elektroensefalografi digunakan untuk evaluasi aktivitas elektrik otak pada kecurigaan epilepsi, tidak relevan untuk mendeteksi lesi demielinisasi.
- E. Pungsi lumbal untuk kultur dilakukan pada kecurigaan infeksi sistem saraf pusat, bukan modalitas utama untuk diagnosis sklerosis multipel meski analisis oligoklonal band dapat mendukung.
Neurologi Anak dan Kongenital
3 soalSeorang anak laki-laki usia 2 tahun dibawa ke puskesmas karena belum bisa berjalan. Riwayat lahir prematur usia gestasi 30 minggu dengan berat lahir 1300 gram, sempat dirawat di NICU karena asfiksia. Pada pemeriksaan didapatkan kedua tungkai kaku dengan pola gunting (scissoring) saat digantung vertikal, refleks fisiologis meningkat, klonus positif pada kedua pergelangan kaki, sedangkan kedua lengan relatif tidak terganggu. Tidak ditemukan gangguan gerak involunter maupun ataksia. Apakah klasifikasi topografi yang paling sesuai untuk kondisi anak ini?
- ADiplegia spastik
- BCerebral palsy diskinetik
- CCerebral palsy ataksik
- DHemiplegia spastik
- EQuadriplegia spastik
Lihat jawaban
Diplegia spastik adalah bentuk cerebral palsy tersering pada bayi prematur dengan riwayat leukomalasia periventrikular, ditandai spastisitas predominan pada kedua tungkai dengan keterlibatan lengan yang minimal atau ringan. Pola gunting (scissoring) saat digantung vertikal akibat spastisitas aduktor paha merupakan tanda klasik diplegia spastik. Fungsi kognitif pada diplegia spastik umumnya lebih baik dibanding tipe quadriplegia. Klasifikasi topografi cerebral palsy penting untuk menentukan prognosis fungsional dan rencana rehabilitasi.
- B. Tipe diskinetik ditandai gerakan involunter seperti distonia atau koreoatetosis, tidak ditemukan pada kasus ini.
- C. Tipe ataksik ditandai gangguan koordinasi dan keseimbangan, bukan spastisitas tungkai seperti pada kasus ini.
- D. Hemiplegia spastik mengenai satu sisi tubuh (lengan dan tungkai sesisi), bukan kedua tungkai simetris.
- E. Quadriplegia spastik melibatkan keempat ekstremitas secara berat termasuk lengan, sedangkan pada kasus ini lengan relatif normal.
Seorang perempuan usia 26 tahun datang ke puskesmas untuk konsultasi prakonsepsi karena berencana hamil dalam 2 bulan mendatang. Ia tidak memiliki riwayat penyakit kronis maupun riwayat anak dengan kelainan kongenital sebelumnya. Dokter ingin memberikan edukasi mengenai pencegahan defek tabung saraf seperti meningomielokel pada janin. Apakah anjuran suplementasi yang paling tepat diberikan kepada pasien ini?
- AZat besi 60 mg per hari dimulai sejak awal kehamilan
- BKalsium 1000 mg per hari dimulai sejak trimester pertama kehamilan
- CAsam folat 0,4 mg per hari dimulai minimal 1 bulan sebelum konsepsi hingga trimester pertama
- DVitamin B12 1000 mcg per hari dimulai sejak trimester kedua kehamilan
- EAsam folat 5 mg per hari dimulai setelah dipastikan hamil pada trimester pertama
Lihat jawaban
Suplementasi asam folat dosis 0,4 mg (400 mcg) per hari dianjurkan pada seluruh wanita usia reproduktif yang merencanakan kehamilan, dimulai minimal 1 bulan sebelum konsepsi dan dilanjutkan hingga akhir trimester pertama untuk menurunkan risiko defek tabung saraf seperti meningomielokel dan anensefali. Penutupan tabung saraf terjadi pada minggu ke-3 hingga ke-4 kehamilan, sehingga suplementasi harus dimulai sebelum wanita menyadari dirinya hamil. Dosis lebih tinggi (4-5 mg per hari) hanya diindikasikan pada wanita dengan riwayat anak sebelumnya dengan defek tabung saraf atau faktor risiko tinggi lain. Pasien pada kasus ini tidak memiliki riwayat risiko tinggi sehingga dosis standar sudah memadai.
- A. Zat besi berguna mencegah anemia defisiensi besi pada kehamilan, tidak berperan dalam pencegahan defek tabung saraf.
- B. Kalsium berperan dalam mineralisasi tulang janin, tidak terkait pencegahan defek tabung saraf.
- D. Vitamin B12 bukan agen utama pencegahan defek tabung saraf dan tidak menggantikan peran asam folat.
- E. Dosis 5 mg hanya untuk kelompok risiko tinggi (riwayat anak dengan NTD sebelumnya), dan suplementasi harus dimulai sebelum konsepsi bukan setelah hamil karena penutupan tabung saraf terjadi sangat awal.
Seorang bayi laki-laki usia 3 bulan dibawa ke IGD rumah sakit karena kepala tampak membesar sejak usia 1 bulan dan semakin cepat membesar. Pasien juga sering muntah dan tampak rewel. Pada pemeriksaan didapatkan lingkar kepala 46 cm (di atas persentil 97 untuk usia), ubun-ubun besar melebar dan tegang, vena-vena kulit kepala menonjol, serta mata tampak mengarah ke bawah dengan sklera terlihat di atas iris (sunset sign). Pemeriksaan USG kepala menunjukkan dilatasi ventrikel lateral dan ventrikel tiga yang simetris disertai penyempitan akuaduktus Sylvii. Apakah tatalaksana definitif yang paling tepat untuk kondisi pasien ini?
- APungsi lumbal berulang untuk drainase cairan serebrospinal
- BPemberian manitol intravena dosis tinggi
- CObservasi ketat dengan pemantauan lingkar kepala berkala
- DPemasangan ventriculoperitoneal shunt
- EPemberian asetazolamid oral jangka panjang
Lihat jawaban
Hidrosefalus kongenital akibat stenosis akuaduktus Sylvii dengan tanda klinis progresif (pembesaran lingkar kepala cepat, ubun-ubun tegang, sunset sign) memerlukan tatalaksana definitif berupa diversi cairan serebrospinal melalui pemasangan ventriculoperitoneal (VP) shunt. VP shunt mengalirkan cairan serebrospinal berlebih dari ventrikel lateral ke kavum peritoneum untuk menurunkan tekanan intrakranial secara permanen. Tatalaksana medikamentosa seperti asetazolamid hanya bersifat sementara dan tidak mengatasi penyebab obstruksi. Keterlambatan tatalaksana dapat menyebabkan kerusakan otak permanen akibat tekanan intrakranial yang terus meningkat.
- A. Pungsi lumbal berulang tidak efektif dan berisiko pada hidrosefalus obstruktif akibat stenosis akuaduktus karena tidak mengatasi sumbatan di tingkat ventrikel.
- B. Manitol intravena digunakan untuk menurunkan tekanan intrakranial akut sementara, bukan tatalaksana definitif hidrosefalus kongenital.
- C. Observasi tidak sesuai karena pasien sudah menunjukkan tanda peningkatan tekanan intrakranial yang progresif dan memerlukan intervensi segera.
- E. Asetazolamid hanya mengurangi produksi cairan serebrospinal sementara dan bukan terapi definitif pada hidrosefalus obstruktif kongenital.
Nervus Kranialis dan Vertigo
3 soalSeorang laki-laki usia 48 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan pusing berputar berulang sejak 3 hari yang muncul setiap kali ia menoleh ke kanan saat berbaring atau bangun dari tidur. Setiap episode berlangsung kurang dari 1 menit kemudian mereda spontan. Tidak ada gangguan pendengaran maupun tinitus. Pada pemeriksaan manuver provokatif dengan memiringkan kepala pasien 45 derajat ke kanan lalu membaringkannya cepat dengan kepala menggantung, muncul nistagmus rotatorik dengan latensi beberapa detik yang menghilang dalam waktu kurang dari 1 menit. Apakah tatalaksana yang paling tepat untuk mengatasi keluhan pasien ini?
- ALatihan vestibular Brandt-Daroff sebagai lini pertama
- BBetahistin oral
- CManuver Epley
- DManuver Valsalva
- EKortikosteroid oral dosis tinggi
Lihat jawaban
Hasil tes Dix-Hallpike positif dengan nistagmus rotatorik bersifat laten dan letih (fatigable) yang muncul pada posisi kepala tertentu merupakan diagnostik untuk benign paroxysmal positional vertigo (BPPV) kanal posterior. Manuver Epley (canalith repositioning procedure) merupakan terapi definitif lini pertama BPPV karena bekerja mengembalikan debris otokonia dari kanalis semisirkularis posterior ke utrikulus sehingga menghentikan rangsangan abnormal pada reseptor vestibular. Manuver ini terbukti memberikan resolusi gejala yang cepat dan efektif dibanding terapi medikamentosa. Betahistin dapat diberikan sebagai terapi simptomatik tambahan namun bukan tatalaksana definitif BPPV.
- A. Latihan Brandt-Daroff dapat digunakan namun bukan lini pertama, biasanya sebagai alternatif bila manuver reposisi kanalit tidak berhasil atau tidak dapat dilakukan.
- B. Betahistin hanya bersifat simptomatik untuk mengurangi rasa pusing, tidak mengatasi penyebab mekanis berupa debris otokonia pada BPPV.
- D. Manuver Valsalva digunakan untuk tatalaksana aritmia supraventrikular, tidak relevan dengan BPPV.
- E. Kortikosteroid digunakan pada neuritis vestibularis akibat inflamasi nervus vestibularis, tidak diindikasikan pada BPPV yang bersifat mekanis.
Seorang perempuan usia 34 tahun datang ke IGD dengan keluhan pusing berputar hebat yang muncul mendadak sejak 1 hari lalu dan berlangsung terus-menerus, disertai mual dan muntah berulang. Pasien mengaku 1 minggu sebelumnya mengalami demam dan batuk pilek yang sudah membaik. Pada pemeriksaan didapatkan nistagmus horizontal unidireksional ke satu sisi yang teredam dengan fiksasi visual, tes Romberg jatuh ke arah fase lambat nistagmus, serta tes dalam ruangan (head impulse test) abnormal pada sisi yang terganggu. Tidak ditemukan gangguan pendengaran, tinitus, maupun rasa penuh di telinga. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?
- AStroke batang otak
- BSchwannoma vestibularis
- CPenyakit Meniere
- DNeuritis vestibularis
- ELabirinitis supuratif
Lihat jawaban
Neuritis vestibularis ditandai vertigo berat mendadak yang berlangsung kontinu selama beberapa hari hingga minggu, sering didahului infeksi virus saluran pernapasan atas, tanpa disertai gangguan pendengaran karena hanya nervus vestibularis yang terkena. Head impulse test abnormal pada sisi lesi serta nistagmus horizontal unidireksional yang teredam fiksasi visual mengonfirmasi lokasi lesi perifer pada nervus vestibularis. Penyakit Meniere berbeda karena khas trias vertigo episodik, tinitus, dan gangguan pendengaran fluktuatif akibat hidrops endolimfe. Diagnosis neuritis vestibularis penting ditegakkan untuk membedakannya dari stroke serebelum yang memerlukan tatalaksana segera berbeda.
- A. Stroke batang otak biasanya disertai HINTS yang mengarah sentral (head impulse normal, nistagmus berubah arah, atau skew deviation), berbeda dengan temuan perifer pada kasus ini.
- B. Schwannoma vestibularis berkembang perlahan dengan gangguan pendengaran unilateral progresif, bukan onset mendadak seperti kasus ini.
- C. Penyakit Meniere memiliki trias vertigo episodik berulang disertai tinitus dan gangguan pendengaran fluktuatif, tidak sesuai dengan kasus ini yang tanpa gangguan pendengaran.
- E. Labirinitis supuratif biasanya disertai gangguan pendengaran berat dan tanda infeksi telinga tengah seperti otore, tidak sesuai dengan kasus ini.
Seorang perempuan usia 62 tahun datang ke poli saraf dengan keluhan nyeri wajah sebelah kanan yang muncul tiba-tiba seperti tersengat listrik sejak 2 minggu, berlangsung beberapa detik hingga 2 menit, dan berulang puluhan kali sehari. Nyeri dirasakan di area pipi dan rahang bawah kanan, dipicu saat menggosok gigi, mengunyah, atau terkena angin pada wajah. Di antara episode nyeri, pasien tidak merasakan nyeri sama sekali. Pada pemeriksaan neurologis tidak ditemukan defisit sensorik maupun motorik wajah. Apakah terapi farmakologis lini pertama yang paling tepat untuk kondisi pasien ini?
- AAmitriptilin
- BKarbamazepin
- CPrednison
- DGabapentin
- EParasetamol
Lihat jawaban
Karbamazepin merupakan terapi farmakologis lini pertama untuk neuralgia trigeminal klasik, bekerja dengan menstabilkan membran neuron melalui blokade kanal natrium sehingga mengurangi hantaran impuls nyeri paroksismal pada nervus trigeminus. Gambaran klinis nyeri wajah unilateral seperti tersengat listrik, singkat, berulang, dan dipicu stimulus ringan (allodynia) seperti menggosok gigi atau terkena angin merupakan karakteristik khas neuralgia trigeminal. Pemeriksaan neurologis normal di antara episode mendukung diagnosis neuralgia trigeminal klasik tanpa penyebab sekunder. Respons dramatis terhadap karbamazepin bahkan dapat digunakan sebagai konfirmasi diagnostik.
- A. Amitriptilin lebih sering digunakan untuk nyeri neuropatik kontinu seperti neuropati diabetik, bukan lini pertama neuralgia trigeminal paroksismal.
- C. Prednison tidak memiliki peran utama dalam tatalaksana neuralgia trigeminal klasik yang bukan disebabkan proses inflamasi akut.
- D. Gabapentin dapat digunakan sebagai terapi lini kedua atau tambahan bila karbamazepin tidak efektif atau tidak dapat ditoleransi, bukan lini pertama.
- E. Parasetamol tidak efektif untuk nyeri neuropatik paroksismal seperti pada neuralgia trigeminal.
Pertanyaan umum
Apakah ini soal asli UKMPPD?
Bukan. Ini soal latihan orisinal yang ditulis bergaya UKMPPD sesuai blueprint ujian. Setiap soal dikerjakan ulang oleh model kedua yang independen tanpa melihat kunci, dan soal dengan kunci yang diperdebatkan dihapus.
Bagaimana cara memakai soal saraf ini?
Kerjakan kuis dulu tanpa melihat jawaban, lalu baca pembahasan setiap soal yang salah atau ditebak. Poin penting di bawah setiap jawaban adalah hal yang perlu diingat.
Apakah soalnya gratis?
Ya. Semua soal, jawaban, dan pembahasan di halaman ini gratis tanpa perlu mendaftar.
Topik UKMPPD lainnya
UKMPPD diselenggarakan oleh Panitia Nasional UKMPPD. WhiteCoat Pro tidak berafiliasi dengan maupun didukung oleh lembaga tersebut. Semua soal adalah soal latihan orisinal: ditulis oleh tim editorial WhiteCoat Pro dengan bantuan AI dan diperiksa oleh model AI kedua yang independen, yang mengerjakan setiap soal tanpa melihat kunci; soal dengan kunci yang diperdebatkan dihapus. Ini bukan soal ujian asli. Untuk belajar, bukan saran medis.