Diabetes Melitus - Diagnosis & Klasifikasi
5 soalSeorang perempuan berusia 48 tahun datang ke puskesmas untuk kontrol kesehatan rutin. Ia tidak memiliki keluhan poliuria, polidipsia, maupun penurunan berat badan. Pemeriksaan fisik dalam batas normal, IMT 27 kg/m². Hasil laboratorium menunjukkan glukosa darah puasa 130 mg/dL pada pemeriksaan pertama. Seminggu kemudian dilakukan pemeriksaan ulang dan didapatkan glukosa darah puasa 136 mg/dL. Apakah interpretasi yang paling tepat untuk pasien ini?
- APrediabetes dengan glukosa darah puasa terganggu
- BPrediabetes dengan toleransi glukosa terganggu
- CNormal, karena tidak ada gejala klasik DM
- DPerlu pemeriksaan TTGO untuk menegakkan diagnosis
- EDiabetes melitus tipe 2
Lihat jawaban
Menurut PNPK Kemenkes, diagnosis DM dapat ditegakkan pada pasien asimtomatik apabila ditemukan dua hasil pemeriksaan glukosa darah abnormal pada waktu yang berbeda (hari yang berbeda), misalnya GDP ≥126 mg/dL diperiksa dua kali. Pada pasien ini, dua kali pemeriksaan GDP menunjukkan nilai ≥126 mg/dL sehingga kriteria diagnosis DM tipe 2 terpenuhi tanpa perlu gejala klasik. TTGO tidak diperlukan lagi karena kriteria diagnosis sudah terpenuhi dari dua kali GDP abnormal.
- A. GDP pasien ≥126 mg/dL pada dua kali pemeriksaan sehingga sudah memenuhi kriteria DM, bukan prediabetes
- B. Nilai GDP pasien jauh di atas ambang GDPT (100-125 mg/dL) sehingga bukan prediabetes
- C. Gejala klasik tidak wajib ada untuk diagnosis DM bila kriteria laboratorium terpenuhi dua kali
- D. Diagnosis DM sudah dapat ditegakkan dari dua kali GDP abnormal sehingga TTGO tidak diperlukan
Seorang anak laki-laki berusia 9 tahun dibawa ke IGD dengan keluhan lemas, mual, dan napas cepat sejak 1 hari. Tiga minggu sebelumnya ibu pasien mengaku anaknya sering minum dan buang air kecil dalam jumlah banyak, serta berat badan turun 4 kg dalam 1 bulan terakhir. Pasien tampak kurus, IMT 15 kg/m². Pemeriksaan tanda vital: frekuensi nadi 118x/menit, frekuensi napas 32x/menit cepat dan dalam, suhu 36,8°C. Glukosa darah sewaktu 420 mg/dL, keton urin +3. Pemeriksaan C-peptide puasa menunjukkan hasil sangat rendah. Apakah klasifikasi diabetes yang paling mungkin pada pasien ini?
- ADiabetes melitus tipe 1
- BDiabetes melitus gestasional
- CMaturity onset diabetes of the young (MODY)
- DDiabetes melitus tipe lain akibat penyakit eksokrin pankreas
- EDiabetes melitus tipe 2
Lihat jawaban
Diabetes melitus tipe 1 khas terjadi pada anak atau dewasa muda dengan IMT rendah, onset gejala akut dalam beberapa minggu, dan sering datang dengan ketoasidosis diabetik akibat defisiensi insulin absolut. C-peptide yang sangat rendah mengonfirmasi kegagalan sekresi insulin endogen akibat destruksi sel beta pankreas yang dimediasi autoimun. Berbeda dengan DM tipe 2 yang umumnya terjadi pada anak dengan obesitas dan C-peptide normal atau meningkat akibat resistensi insulin.
- B. Diabetes gestasional hanya terjadi pada perempuan hamil, tidak sesuai dengan kasus anak laki-laki ini
- C. MODY diturunkan secara autosomal dominan dan C-peptide biasanya masih terdeteksi normal, berbeda dari kasus ini
- D. Tidak ada riwayat kelainan pankreas eksokrin seperti fibrosis kistik atau pankreatitis kronik pada pasien ini
- E. DM tipe 2 pada anak biasanya disertai obesitas dan C-peptide normal atau tinggi, bukan rendah
Seorang laki-laki berusia 52 tahun datang untuk pemeriksaan kesehatan berkala tanpa keluhan. Riwayat keluarga ayah menderita DM tipe 2. Pemeriksaan fisik: IMT 24 kg/m², tekanan darah 128/82 mmHg. Hasil laboratorium glukosa darah puasa 108 mg/dL. Dokter kemudian melakukan tes toleransi glukosa oral 75 gram dan didapatkan glukosa darah 2 jam post pembebanan sebesar 155 mg/dL. Apakah interpretasi kondisi pasien ini yang paling tepat?
- ANormal, tidak memenuhi kriteria prediabetes
- BGDPT dan TGT bersamaan
- CGlukosa darah puasa terganggu (GDPT) saja
- DDiabetes melitus tipe 2
- EToleransi glukosa terganggu (TGT) saja
Lihat jawaban
GDPT didefinisikan sebagai GDP 100-125 mg/dL, sedangkan TGT didefinisikan sebagai glukosa darah 2 jam setelah TTGO 75 gram sebesar 140-199 mg/dL. Pasien ini memiliki GDP 108 mg/dL yang termasuk rentang GDPT, dan GD2PP 155 mg/dL yang termasuk rentang TGT, sehingga keduanya terjadi bersamaan. Kombinasi GDPT dan TGT menunjukkan risiko progresi menjadi DM tipe 2 yang lebih tinggi dibanding salah satu kelainan saja, sehingga perlu edukasi gaya hidup dan pemantauan berkala.
- A. GDP 108 mg/dL dan GD2PP 155 mg/dL sudah melebihi ambang normal sehingga tidak dapat dikatakan normal
- C. Pasien juga memenuhi kriteria TGT dari hasil TTGO sehingga tidak hanya GDPT saja
- D. Nilai GDP dan GD2PP pasien masih di bawah ambang diagnosis DM (GDP ≥126 mg/dL atau GD2PP ≥200 mg/dL)
- E. Pasien juga memenuhi kriteria GDPT dari nilai GDP sehingga tidak hanya TGT saja
Seorang perempuan berusia 29 tahun, G2P1A0, hamil 26 minggu, datang ke puskesmas untuk kontrol antenatal rutin. Tidak ada riwayat DM sebelumnya dan pemeriksaan glukosa darah puasa pada trimester pertama normal. Dokter merencanakan pemeriksaan untuk skrining diabetes gestasional. Apakah pemeriksaan penunjang yang paling tepat dilakukan pada pasien ini?
- ATes toleransi glukosa oral 75 gram dengan pengukuran puasa, 1 jam, dan 2 jam
- BGlukosa darah puasa tunggal
- CHbA1c
- DGlukosa darah sewaktu kapiler
- ETes toleransi glukosa oral 100 gram dua tahap
Lihat jawaban
Skrining diabetes melitus gestasional direkomendasikan dilakukan pada usia kehamilan 24-28 minggu menggunakan TTGO 75 gram satu langkah, dengan pengukuran glukosa darah puasa, 1 jam, dan 2 jam setelah pembebanan glukosa. Diagnosis DMG ditegakkan apabila salah satu nilai berikut terpenuhi, GDP ≥92 mg/dL, 1 jam ≥180 mg/dL, atau 2 jam ≥153 mg/dL. Pendekatan ini sesuai rekomendasi IADPSG yang diadopsi dalam pedoman nasional karena lebih sensitif mendeteksi risiko komplikasi kehamilan dibanding pemeriksaan glukosa darah sewaktu atau puasa tunggal.
- B. GDP tunggal tidak dapat mendeteksi gangguan toleransi glukosa pasca pembebanan yang sering terjadi pada DMG
- C. HbA1c kurang sensitif untuk mendeteksi DMG karena perubahan metabolisme glukosa pada kehamilan bersifat akut
- D. Glukosa darah sewaktu kapiler tidak cukup akurat dan tidak direkomendasikan sebagai alat skrining DMG
- E. Metode dua tahap dengan 100 gram adalah pendekatan alternatif ACOG, bukan metode standar yang direkomendasikan dalam pedoman nasional
Seorang laki-laki berusia 45 tahun dengan riwayat anemia hemolitik kronik akibat defisiensi G6PD datang untuk evaluasi DM. Pemeriksaan glukosa darah puasa menunjukkan 145 mg/dL pada dua kali pemeriksaan di hari berbeda, namun hasil HbA1c hanya 5,8%. Dokter mencurigai hasil HbA1c tidak menggambarkan kondisi glikemik pasien yang sebenarnya. Apakah mekanisme yang paling tepat menjelaskan ketidaksesuaian hasil tersebut?
- APeningkatan kadar glukosa plasma mempercepat pemecahan ikatan glikasi pada hemoglobin yang sudah terbentuk
- BPemendekan usia eritrosit akibat hemolisis sehingga waktu pajanan hemoglobin terhadap glukosa berkurang
- CPeningkatan kadar bilirubin indirek yang mengganggu reaksi kimia pengukuran HbA1c
- DDefisiensi G6PD secara langsung menghambat enzim yang mengkatalisis glikasi hemoglobin
- EPeningkatan eritropoiesis menyebabkan peningkatan sintesis hemoglobin fetal yang tidak terglikasi
Lihat jawaban
HbA1c mencerminkan rata-rata kadar glukosa darah selama masa hidup eritrosit, yang normalnya sekitar 120 hari. Pada anemia hemolitik, usia eritrosit menjadi lebih pendek sehingga waktu pajanan hemoglobin terhadap glukosa plasma berkurang, menyebabkan nilai HbA1c menjadi lebih rendah daripada kadar glikemik yang sebenarnya. Pada kondisi ini, pemeriksaan glukosa darah puasa atau glukosa darah sewaktu lebih diandalkan untuk menilai status glikemik dibanding HbA1c. Keadaan lain yang juga membuat HbA1c tidak valid antara lain hemoglobinopati tertentu, transfusi darah baru, gagal ginjal kronik, dan kehamilan.
- A. Glikasi hemoglobin merupakan proses ireversibel sehingga tidak dipengaruhi oleh kecepatan pemecahan ikatan
- C. Bilirubin tidak memengaruhi metode pengukuran HbA1c standar (HPLC atau imunoassay)
- D. Defisiensi G6PD tidak memengaruhi enzim glikasi hemoglobin secara langsung
- E. Peningkatan hemoglobin fetal bukan mekanisme utama pada anemia hemolitik akibat defisiensi G6PD
Diabetes Melitus - Terapi & Komplikasi Akut
6 soalSeorang perempuan berusia 58 tahun dengan DM tipe 2 terkontrol dengan metformin 500 mg dua kali sehari datang ke puskesmas dengan keluhan mual dan lemas sejak 3 hari. Pasien memiliki riwayat penyakit ginjal kronik. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan ureum 98 mg/dL, kreatinin serum 3,2 mg/dL, dengan estimasi laju filtrasi glomerulus (eGFR) 22 mL/menit/1,73m². Apakah tindakan yang paling tepat terkait terapi metformin pada pasien ini? Catatan: nilai eGFR dihitung menggunakan rumus CKD-EPI.
- AMelanjutkan metformin dengan dosis yang sama
- BMenghentikan metformin karena risiko asidosis laktat
- CMenambahkan metformin dosis rendah bersama insulin basal
- DMenurunkan dosis metformin menjadi setengah dosis awal
- EMengganti metformin dengan kombinasi metformin dan sulfonilurea
Lihat jawaban
Metformin dikontraindikasikan pada eGFR di bawah 30 mL/menit/1,73m² karena risiko akumulasi obat yang dapat memicu asidosis laktat, suatu komplikasi serius akibat gangguan ekskresi ginjal terhadap metformin dan metabolitnya. Pada pasien dengan eGFR 22 mL/menit/1,73m², metformin harus dihentikan dan diganti dengan terapi lain yang lebih aman pada gangguan ginjal berat, seperti insulin. Pemantauan fungsi ginjal secara berkala penting pada pasien DM tipe 2 yang menggunakan metformin jangka panjang untuk mencegah komplikasi ini.
- A. Melanjutkan dosis penuh pada eGFR di bawah 30 mL/menit/1,73m² meningkatkan risiko asidosis laktat yang fatal
- C. Metformin tetap dikontraindikasikan pada eGFR ini meskipun dosis diturunkan dan dikombinasikan dengan insulin
- D. Penurunan dosis tidak cukup aman karena eGFR pasien sudah di bawah ambang kontraindikasi absolut
- E. Menambahkan sulfonilurea tidak mengatasi masalah utama yaitu kontraindikasi metformin pada gangguan ginjal berat
Seorang laki-laki berusia 64 tahun dengan DM tipe 2 yang rutin mengonsumsi glibenklamid dibawa ke IGD karena penurunan kesadaran mendadak. Keluarga mengatakan pasien makan lebih sedikit dari biasanya hari ini namun tetap minum obat seperti biasa. Pemeriksaan tanda vital: tekanan darah 110/70 mmHg, frekuensi nadi 102x/menit, suhu 36,2°C, tampak berkeringat dingin. Glukosa darah sewaktu 38 mg/dL. Apakah mekanisme yang paling tepat menjelaskan kondisi pasien ini?
- AStimulasi sekresi insulin dari sel beta pankreas secara independen terhadap kadar glukosa darah
- BPenghambatan absorpsi karbohidrat di usus yang menyebabkan hipoglikemia pasca makan
- CPeningkatan ekskresi glukosa melalui urin yang tidak sesuai dengan asupan kalori
- DPenghambatan glukoneogenesis hepatik secara berlebihan tanpa bergantung asupan makanan
- EPeningkatan sensitivitas reseptor insulin perifer sehingga ambilan glukosa berlebihan
Lihat jawaban
Sulfonilurea seperti glibenklamid bekerja dengan menutup kanal KATP pada sel beta pankreas, menyebabkan depolarisasi membran dan pelepasan insulin yang tidak bergantung pada kadar glukosa darah saat itu. Karena sekresi insulin ini tidak proporsional terhadap asupan glukosa, risiko hipoglikemia meningkat terutama bila asupan makan berkurang sementara dosis obat tetap sama. Golongan sulfonilurea, terutama generasi lama seperti glibenklamid, memiliki risiko hipoglikemia yang lebih tinggi dibanding golongan antidiabetes oral lain sehingga perlu edukasi kepatuhan jadwal makan.
- B. Penghambatan absorpsi karbohidrat usus adalah mekanisme kerja acarbose, bukan sulfonilurea
- C. Peningkatan ekskresi glukosa urin adalah mekanisme kerja golongan SGLT2 inhibitor, bukan sulfonilurea
- D. Penghambatan glukoneogenesis hepatik adalah mekanisme utama metformin, bukan sulfonilurea
- E. Sulfonilurea tidak bekerja melalui peningkatan sensitivitas reseptor insulin perifer
Seorang perempuan berusia 55 tahun dengan DM tipe 2 mendapat terapi tambahan dapagliflozin oleh dokter spesialis penyakit dalam karena kontrol gula darah belum optimal dengan metformin. Dua minggu kemudian pasien datang kembali dengan keluhan gatal dan keputihan di area genital. Selain itu dokter juga menjelaskan kepada pasien mengenai kemungkinan terjadinya ketoasidosis diabetik meskipun kadar glukosa darah tidak terlalu tinggi. Apakah mekanisme kerja obat yang paling tepat menjelaskan kedua risiko tersebut?
- AMenstimulasi sekresi insulin dari sel beta pankreas secara glukosa-dependen
- BMenghambat reabsorpsi glukosa di tubulus proksimal ginjal sehingga terjadi glukosuria
- CMenghambat enzim dipeptidil peptidase-4 sehingga kadar inkretin endogen meningkat
- DMenghambat enzim alfa-glukosidase di usus sehingga absorpsi karbohidrat menurun
- EMeningkatkan sensitivitas jaringan perifer terhadap insulin sehingga glukosa masuk sel berlebihan
Lihat jawaban
Dapagliflozin merupakan golongan SGLT2 inhibitor yang bekerja menghambat reabsorpsi glukosa di tubulus proksimal ginjal, menyebabkan glukosuria sebagai mekanisme penurunan glukosa darah. Lingkungan genital yang kaya glukosa akibat glukosuria ini meningkatkan risiko infeksi jamur dan bakteri pada area genital. Selain itu, peningkatan ekskresi glukosa ginjal dapat memicu peningkatan lipolisis dan produksi keton meskipun kadar glukosa darah normal atau hanya sedikit meningkat, suatu kondisi yang disebut ketoasidosis diabetik euglikemik.
- A. Stimulasi sekresi insulin glukosa-dependen adalah mekanisme kerja agonis reseptor GLP-1, bukan SGLT2 inhibitor
- C. Penghambatan DPP-4 adalah mekanisme kerja golongan gliptin, bukan SGLT2 inhibitor
- D. Penghambatan alfa-glukosidase usus adalah mekanisme kerja acarbose, bukan SGLT2 inhibitor
- E. Peningkatan sensitivitas insulin perifer adalah mekanisme kerja tiazolidinedion, bukan SGLT2 inhibitor
Seorang perempuan berusia 34 tahun, G1P0A0 hamil 28 minggu, datang ke puskesmas untuk kontrol antenatal. Pasien memiliki riwayat DM tipe 2 sejak 3 tahun lalu dan selama ini rutin menggunakan metformin 2x850 mg. Pemeriksaan gula darah puasa 162 mg/dL dan gula darah 2 jam post prandial 245 mg/dL. Tanda vital dalam batas normal, tidak ada tanda preeklamsia. Dokter puskesmas merencanakan perubahan regimen terapi untuk mengontrol gula darah pasien selama kehamilan.
- AMenambahkan acarbose sebelum makan
- BMengganti terapi dengan insulin
- CMenambahkan sulfonilurea golongan glibenklamid
- DMelanjutkan metformin dengan penyesuaian dosis maksimal
- EMengganti terapi dengan golongan SGLT2 inhibitor
Lihat jawaban
Insulin merupakan terapi farmakologis utama dan paling aman untuk mengontrol glukosa darah pada diabetes melitus dalam kehamilan karena tidak melewati plasenta dalam jumlah signifikan dan memiliki profil keamanan yang telah terbukti bagi janin. Obat antidiabetik oral seperti sulfonilurea dan SGLT2 inhibitor tidak direkomendasikan karena risiko efek teratogenik atau data keamanan yang belum memadai pada kehamilan. Metformin dapat dipertimbangkan pada beberapa kondisi namun bila kontrol glukosa belum tercapai, insulin menjadi pilihan utama. Target glukosa darah pada kehamilan lebih ketat dibandingkan DM tipe 2 pada umumnya untuk mencegah makrosomia dan komplikasi perinatal.
- A. Acarbose tidak memiliki data keamanan yang cukup pada kehamilan dan bukan terapi lini utama.
- C. Sulfonilurea dapat melewati plasenta dan berisiko menyebabkan hipoglikemia neonatal berat.
- D. Metformin tunggal belum mencapai target gula darah yang ketat pada kehamilan dan bukan pilihan utama bila kontrol belum optimal.
- E. SGLT2 inhibitor kontraindikasi pada kehamilan karena data keamanan pada janin belum memadai.
Seorang perempuan berusia 68 tahun dibawa ke IGD dengan penurunan kesadaran sejak 1 hari yang lalu, didahului lemas dan sering mengantuk selama 1 minggu. Pasien memiliki riwayat DM tipe 2 sejak 10 tahun dan jarang kontrol. Pemeriksaan fisik: kesadaran stupor, tekanan darah 100/70 mmHg, frekuensi nadi 110x/menit, frekuensi napas 20x/menit, suhu 37,8°C, turgor kulit menurun, tidak ditemukan napas berbau aseton. Pemeriksaan laboratorium: glukosa darah sewaktu 780 mg/dL, pH darah arteri 7,33, HCO3 20 mEq/L, keton urin negatif, osmolalitas serum terhitung 340 mOsm/kg.
- AHipoglikemia dengan efek Somogyi
- BAsidosis laktat akibat metformin
- CStatus hiperglikemik hiperosmolar
- DKetoasidosis diabetikum ringan
- EKrisis adrenal pada pasien diabetes
Lihat jawaban
Status hiperglikemik hiperosmolar (SHH) ditandai dengan glukosa darah sangat tinggi, biasanya di atas 600 mg/dL, osmolalitas serum lebih dari 320 mOsm/kg, pH darah mendekati normal atau sedikit menurun, dan keton urin negatif atau minimal, berbeda dari KAD yang menunjukkan asidosis metabolik berat dengan ketonemia bermakna. SHH umumnya terjadi pada pasien DM tipe 2 usia lanjut dengan onset gradual berupa dehidrasi berat dan penurunan kesadaran progresif selama beberapa hari. Pada kasus ini, pH 7,33 dan keton negatif menyingkirkan KAD meskipun glukosa sangat tinggi. Penatalaksanaan SHH menekankan rehidrasi cairan yang lebih agresif karena defisit cairan biasanya lebih besar dibandingkan KAD.
- A. Tidak ada riwayat maupun data klinis yang mendukung episode hipoglikemia sebelumnya pada kasus ini.
- B. Asidosis laktat ditandai gap anion tinggi dengan laktat serum meningkat, bukan dengan hiperglikemia ekstrem dan osmolalitas tinggi seperti kasus ini.
- D. KAD menunjukkan asidosis metabolik bermakna dan ketonemia positif, sedangkan pada pasien ini pH mendekati normal dan keton negatif.
- E. Krisis adrenal biasanya disertai hipotensi berat, hiponatremia, dan hiperkalemia, bukan hiperglikemia ekstrem dengan osmolalitas tinggi.
Seorang laki-laki berusia 58 tahun dengan riwayat DM tipe 2 yang menggunakan glibenklamid dibawa ke puskesmas oleh keluarga karena tidak sadarkan diri sejak 15 menit yang lalu setelah tidak makan siang. Pemeriksaan fisik: kesadaran tidak dapat dibangunkan dengan rangsang verbal, tekanan darah 110/70 mmHg, frekuensi nadi 100x/menit, akral dingin dan berkeringat. Pemeriksaan gula darah kapiler menunjukkan 38 mg/dL. Pasien belum terpasang jalur intravena.
- AMemberikan glukagon melalui suntikan intramuskular
- BMemberikan larutan gula per oral melalui sendok secara perlahan
- CMemasang jalur intravena dan memberikan dekstrosa 40% bolus
- DMenunggu observasi 30 menit sebelum intervensi lanjut
- EMemberikan teh manis hangat melalui selang nasogastrik
Lihat jawaban
Pada pasien hipoglikemia dengan penurunan kesadaran, tatalaksana awal yang tepat adalah pemberian dekstrosa intravena, biasanya dekstrosa 40% sebanyak 25 gram (50 mL) bolus, karena jalur oral tidak aman akibat risiko aspirasi pada pasien yang tidak sadar. Pemberian cairan atau larutan gula per oral hanya diindikasikan pada pasien hipoglikemia yang masih sadar dan dapat menelan dengan aman. Glukagon intramuskular merupakan alternatif bila akses intravena tidak dapat diperoleh, namun pemasangan jalur intravena untuk dekstrosa tetap menjadi pilihan utama di fasilitas kesehatan yang memiliki akses tersebut. Setelah kesadaran membaik, perlu dilakukan pemantauan gula darah berulang karena glibenklamid memiliki durasi kerja panjang dan berisiko hipoglikemia berulang.
- A. Glukagon intramuskular adalah alternatif bila akses intravena tidak tersedia, bukan pilihan utama bila jalur IV dapat dipasang.
- B. Pemberian oral berisiko aspirasi karena pasien tidak sadar dan tidak dapat menelan dengan aman.
- D. Menunda intervensi pada hipoglikemia berat dengan penurunan kesadaran berisiko kerusakan neurologis permanen.
- E. Pemberian melalui selang nasogastrik tidak praktis dan bukan tatalaksana lini pertama pada kegawatdaruratan hipoglikemia berat.
Diabetes Melitus - Komplikasi Kronik
3 soalSeorang perempuan berusia 45 tahun baru terdiagnosis DM tipe 2 sejak 2 minggu yang lalu saat pemeriksaan kesehatan rutin. Pasien tidak memiliki keluhan penglihatan, tidak ada riwayat hipertensi, dan gula darah puasa saat ini 145 mg/dL. Pasien bertanya kepada dokter apakah ia perlu memeriksakan matanya meskipun belum ada gangguan penglihatan.
- APemeriksaan funduskopi hanya dilakukan bila HbA1c di atas 9%
- BPemeriksaan funduskopi dilakukan segera saat diagnosis DM tipe 2 ditegakkan
- CPemeriksaan funduskopi ditunda hingga 5 tahun setelah diagnosis DM tipe 2
- DPemeriksaan funduskopi dilakukan hanya bila terjadi komplikasi nefropati terlebih dahulu
- EPemeriksaan funduskopi tidak diperlukan karena tidak ada keluhan visual
Lihat jawaban
Pada DM tipe 2, skrining retinopati diabetik melalui pemeriksaan funduskopi atau funduskopi dengan dilatasi pupil harus dilakukan segera saat diagnosis ditegakkan karena onset DM tipe 2 sering tidak diketahui pasti sehingga kerusakan mikrovaskular retina mungkin sudah terjadi sebelum diagnosis klinis. Hal ini berbeda dengan DM tipe 1 yang skrining awal dapat ditunda sampai 5 tahun setelah diagnosis karena onset penyakit lebih jelas. Bila pemeriksaan awal normal, skrining ulang dilakukan setiap 1-2 tahun, namun bila ditemukan kelainan retinopati, pasien dirujuk ke dokter spesialis mata untuk evaluasi dan penatalaksanaan lebih lanjut. Deteksi dini retinopati penting karena kerusakan pada stadium awal sering asimptomatik namun dapat dicegah progresivitasnya dengan kontrol glikemik yang baik.
- A. Skrining retinopati tidak bergantung pada nilai HbA1c tertentu dan harus dilakukan pada semua pasien DM tipe 2 baru.
- C. Penundaan 5 tahun hanya berlaku untuk DM tipe 1, bukan DM tipe 2 yang onsetnya sering tidak diketahui pasti.
- D. Retinopati dan nefropati merupakan komplikasi mikrovaskular yang independen dan tidak harus terjadi berurutan.
- E. Retinopati diabetik sering asimptomatik pada stadium awal sehingga tidak adanya keluhan tidak menyingkirkan kemungkinan kelainan retina.
Seorang laki-laki berusia 55 tahun dengan riwayat DM tipe 2 sejak 8 tahun datang untuk kontrol rutin. Pasien tidak memiliki keluhan bengkak maupun gangguan berkemih. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan rasio albumin-kreatinin urin (ACR) 180 mg/g pada dua kali pemeriksaan terpisah dengan jarak 3 bulan, dan laju filtrasi glomerulus terhitung (eGFR) 68 mL/menit/1,73 m². Tidak ditemukan tanda infeksi saluran kemih maupun hematuria.
- AFungsi ginjal normal tanpa nefropati diabetik
- BNefropati diabetik stadium albuminuria meningkat sedang (mikroalbuminuria)
- CGlomerulonefritis akut yang menyertai diabetes melitus
- DNefropati diabetik stadium albuminuria sangat meningkat (makroalbuminuria)
- EPenyakit ginjal kronik stadium 4 akibat diabetes
Lihat jawaban
Nefropati diabetik diklasifikasikan berdasarkan kategori albuminuria, yaitu A1 (ACR kurang dari 30 mg/g, normal), A2 (ACR 30-300 mg/g, albuminuria meningkat sedang atau dahulu disebut mikroalbuminuria), dan A3 (ACR lebih dari 300 mg/g, albuminuria sangat meningkat atau makroalbuminuria), serta kategori eGFR menurut KDIGO. Pada pasien ini, ACR 180 mg/g yang konsisten pada dua kali pemeriksaan termasuk kategori A2, dan eGFR 68 mL/menit/1,73 m² termasuk kategori G2 (penurunan ringan). Diagnosis albuminuria memerlukan konfirmasi minimal dua dari tiga pemeriksaan dalam periode 3-6 bulan untuk menyingkirkan penyebab sementara seperti infeksi atau olahraga berat. Kombinasi diabetes lama dengan albuminuria persisten tanpa penyebab lain menegakkan diagnosis nefropati diabetik stadium awal.
- A. Albuminuria persisten pada dua kali pemeriksaan terpisah pada pasien diabetes lama sudah menunjukkan adanya nefropati diabetik.
- C. Tidak ada gambaran klinis mendukung glomerulonefritis akut seperti hematuria, edema mendadak, atau penurunan fungsi ginjal cepat.
- D. Makroalbuminuria memerlukan ACR lebih dari 300 mg/g, sedangkan pada pasien ini ACR 180 mg/g termasuk kategori albuminuria sedang.
- E. Penyakit ginjal kronik stadium 4 memerlukan eGFR 15-29 mL/menit/1,73 m², jauh lebih rendah dibandingkan eGFR pasien ini.
Seorang perempuan berusia 60 tahun dengan riwayat DM tipe 2 sejak 12 tahun mengeluhkan rasa terbakar dan seperti ditusuk-tusuk pada kedua telapak kaki yang memberat pada malam hari sejak 4 bulan terakhir, mengganggu tidur. Pemeriksaan fisik menunjukkan penurunan sensasi monofilamen dan vibrasi pada kedua kaki, pulsasi arteri dorsalis pedis teraba baik, tidak ditemukan ulkus maupun deformitas. HbA1c terakhir 8,2%.
- AIbuprofen oral
- BPregabalin oral
- CVitamin B12 injeksi tunggal
- DFisioterapi tanpa farmakoterapi
- EParasetamol oral
Lihat jawaban
Pregabalin merupakan salah satu obat lini pertama untuk nyeri neuropatik pada neuropati diabetik perifer karena bekerja pada kanal kalsium di sistem saraf pusat untuk mengurangi pelepasan neurotransmiter eksitatorik yang berperan dalam sensitisasi nyeri neuropatik. Obat analgesik konvensional seperti parasetamol atau NSAID seperti ibuprofen tidak efektif untuk nyeri neuropatik karena mekanisme nyeri berbeda dari nyeri nosiseptif. Diagnosis neuropati diabetik perifer pada kasus ini ditegakkan berdasarkan gejala khas nyeri terbakar simetris pada kaki yang memberat malam hari disertai penurunan sensasi monofilamen dan vibrasi, dengan pulsasi arteri yang masih baik menyingkirkan penyakit arteri perifer sebagai penyebab. Selain farmakoterapi nyeri, optimalisasi kontrol glikemik tetap menjadi dasar pencegahan progresivitas neuropati.
- A. Ibuprofen sebagai NSAID tidak efektif untuk nyeri neuropatik karena mekanisme nyerinya berbeda dari nyeri inflamasi atau nosiseptif.
- C. Defisiensi vitamin B12 bukan penyebab utama pada kasus ini dan suplementasi tunggal tidak mengatasi nyeri neuropatik diabetik secara langsung.
- D. Fisioterapi dapat menjadi terapi tambahan namun tidak adekuat sebagai tatalaksana tunggal pada nyeri neuropatik yang mengganggu tidur.
- E. Parasetamol tidak memiliki efek signifikan pada nyeri neuropatik karena bukan mekanisme kerja yang menyasar jalur neuropatik.
Tiroid
2 soalSeorang perempuan berusia 34 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan mudah lelah, tidak tahan dingin, dan penambahan berat badan sejak 6 bulan terakhir. Pemeriksaan fisik menunjukkan leher membesar difus, konsistensi kenyal, tidak nyeri tekan, tanpa nodul. Tekanan darah 110/70 mmHg, frekuensi nadi 58 kali/menit. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan TSH 12 mIU/L (naik) dan free T4 0,6 ng/dL (turun). Apakah pemeriksaan penunjang yang paling tepat untuk memastikan etiologi autoimun pada pasien ini?
- AKadar tiroglobulin serum
- BUSG tiroid dengan Doppler
- CKadar TSH receptor antibody (TRAb)
- DKadar antibodi anti-TPO (anti-tiroid peroksidase) serum
- ESidik tiroid dengan iodin radioaktif
Lihat jawaban
Tiroiditis Hashimoto adalah penyebab tersering hipotiroidisme primer yang didasari proses autoimun, ditandai dengan infiltrasi limfosit pada kelenjar tiroid. Antibodi anti-TPO positif ditemukan pada lebih dari 90% pasien dan merupakan pemeriksaan standar untuk memastikan etiologi autoimun pada pasien dengan klinis dan hasil tiroid sugestif hipotiroidisme. Gambaran klinis berupa goiter difus kenyal tanpa nyeri bersama TSH naik dan fT4 turun sangat khas untuk kondisi ini. TRAb lebih relevan untuk diagnosis penyakit Graves, bukan Hashimoto.
- A. Tiroglobulin menggambarkan massa jaringan tiroid dan dipakai untuk pemantauan kanker tiroid, bukan untuk konfirmasi etiologi autoimun.
- B. USG dapat menilai struktur tiroid tetapi tidak dapat memastikan proses autoimun sebagai penyebab.
- C. TRAb adalah antibodi yang khas untuk penyakit Graves (hipertiroidisme autoimun), bukan untuk Hashimoto.
- E. Sidik tiroid digunakan untuk evaluasi nodul fungsional, tidak diperlukan pada hipotiroidisme difus yang dicurigai autoimun.
Seorang bayi perempuan lahir cukup bulan dengan berat lahir 3200 gram, tampak normal saat lahir tanpa kelainan yang jelas. Pada usia 48 jam dilakukan pengambilan sampel darah tumit untuk program skrining bayi baru lahir dan didapatkan kadar TSH tinggi. Orang tua bertanya mengapa pemeriksaan ini penting dilakukan sejak dini meskipun bayi tampak sehat. Apakah alasan utama pentingnya deteksi dan terapi dini pada kondisi ini?
- AMencegah terjadinya struma besar yang mengganggu jalan napas bayi
- BMencegah terjadinya pubertas prekoks pada masa remaja
- CMencegah terjadinya osteoporosis dini pada masa kanak-kanak
- DMencegah terjadinya krisis tiroid yang mengancam nyawa pada masa neonatus
- EMencegah terjadinya retardasi mental ireversibel akibat kekurangan hormon tiroid pada masa tumbuh kembang otak
Lihat jawaban
Hipotiroidisme kongenital sering tidak menimbulkan gejala jelas saat lahir karena transfer hormon tiroid dari ibu melalui plasenta masih mencukupi sementara. Hormon tiroid sangat esensial untuk perkembangan dan maturasi otak terutama pada 2-3 tahun pertama kehidupan. Jika terapi levotiroksin tidak dimulai segera (idealnya dalam 2 minggu pertama setelah lahir), dapat terjadi retardasi mental ireversibel. Oleh karena itu skrining neonatal TSH menjadi program nasional untuk deteksi dini sebelum gejala klinis muncul.
- A. Struma yang mengancam jalan napas bukan komplikasi utama yang mendasari pentingnya skrining dini pada kondisi ini.
- B. Pubertas prekoks bukan merupakan komplikasi utama hipotiroidisme kongenital yang tidak diterapi.
- C. Osteoporosis bukan komplikasi utama dan bukan alasan utama skrining dini pada neonatus.
- D. Krisis tiroid (storm) adalah komplikasi hipertiroidisme berat, bukan risiko utama pada hipotiroidisme kongenital.
Kelenjar Adrenal
5 soalSeorang perempuan berusia 29 tahun datang ke IGD dengan keluhan lemas progresif, mual, dan penurunan berat badan sejak 3 bulan. Pasien juga mengeluh pusing saat berdiri. Pemeriksaan fisik menunjukkan tekanan darah 90/60 mmHg, frekuensi nadi 102 kali/menit, dan hiperpigmentasi pada lipatan kulit tangan serta mukosa bukal. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan natrium 128 mmol/L, kalium 5,8 mmol/L, dan glukosa darah sewaktu 68 mg/dL. Kadar kortisol pagi (jam 08.00) adalah 2,1 µg/dL. Apakah pemeriksaan lanjutan yang paling tepat untuk memastikan diagnosis insufisiensi adrenal primer pada pasien ini?
- ATes supresi deksametason dosis rendah
- BKadar ACTH plasma dan tes stimulasi ACTH (cosyntropin)
- CKadar aldosteron dan renin plasma
- DKadar kortisol urin 24 jam
- EUSG abdomen untuk menilai ukuran kelenjar adrenal
Lihat jawaban
Hiperpigmentasi kulit dan mukosa bersama hipotensi, hiponatremia, dan hiperkalemia sangat sugestif insufisiensi adrenal primer (penyakit Addison) akibat kegagalan produksi kortisol dan aldosteron dari korteks adrenal. Kadar kortisol pagi yang sangat rendah (<3 µg/dL) mendukung diagnosis, namun konfirmasi memerlukan kadar ACTH plasma yang meningkat (karena hilangnya feedback negatif) disertai tes stimulasi ACTH yang menunjukkan kortisol tidak meningkat adekuat. Hal ini membedakan insufisiensi adrenal primer (ACTH tinggi) dari sekunder (ACTH rendah/normal).
- A. Tes ini digunakan untuk mendiagnosis sindrom Cushing, bukan insufisiensi adrenal.
- C. Pemeriksaan ini digunakan untuk evaluasi hiperaldosteronisme primer, bukan untuk konfirmasi insufisiensi adrenal.
- D. Kortisol urin 24 jam digunakan untuk skrining sindrom Cushing, bukan insufisiensi adrenal.
- E. USG abdomen tidak dapat mengevaluasi fungsi hormonal dan bukan pemeriksaan konfirmasi utama.
Seorang laki-laki berusia 45 tahun dengan riwayat penyakit Addison yang rutin mengonsumsi hidrokortison dibawa ke IGD dalam keadaan tidak sadar setelah mengalami diare dan demam tinggi selama 2 hari di rumah. Pemeriksaan menunjukkan tekanan darah 70/40 mmHg, frekuensi nadi 128 kali/menit, suhu 38,9°C, dan glukosa darah sewaktu 52 mg/dL. Apakah tatalaksana awal yang paling tepat dilakukan segera pada pasien ini? Catatan: fokus pada langkah farmakologis utama.
- APemberian insulin intravena untuk mengoreksi hiperglikemia terlebih dahulu
- BInjeksi hidrokortison intravena dosis tinggi segera bersama resusitasi cairan kristaloid
- CPemberian deksametason intramuskular dosis rendah dan observasi
- DInfus dopamin untuk mengatasi syok sebelum pemberian steroid
- EPemberian fludrokortison oral segera setelah pasien sadar
Lihat jawaban
Krisis adrenal adalah kondisi gawat darurat endokrin yang mengancam nyawa akibat defisiensi kortisol akut, sering dipicu oleh infeksi atau stres fisiologis lain pada pasien dengan insufisiensi adrenal. Tatalaksana utama adalah pemberian hidrokortison intravena dosis tinggi (misalnya 100 mg bolus dilanjutkan infus atau dosis terbagi) segera tanpa menunggu hasil laboratorium, disertai resusitasi cairan kristaloid (NaCl 0,9%) untuk mengatasi hipovolemia dan hipotensi. Koreksi hipoglikemia dengan dekstrosa juga diberikan bersamaan bila diperlukan. Penundaan pemberian steroid dapat berakibat fatal.
- A. Hipoglikemia pada krisis adrenal dikoreksi dengan dekstrosa, bukan insulin yang justru akan memperburuk hipoglikemia.
- C. Dosis rendah tidak adekuat untuk mengatasi krisis adrenal dan observasi semata akan menunda terapi yang mengancam nyawa.
- D. Vasopressor seperti dopamin tidak efektif mengatasi syok pada krisis adrenal tanpa penggantian kortisol terlebih dahulu.
- E. Fludrokortison oral tidak diperlukan pada fase akut karena hidrokortison dosis tinggi sudah memiliki efek mineralokortikoid yang cukup, dan rute oral tidak sesuai kondisi gawat darurat.
Seorang perempuan berusia 42 tahun dengan gambaran klinis khas hiperkortisolisme terkonfirmasi melalui tes supresi deksametason dosis rendah. Pemeriksaan lanjutan menunjukkan kadar ACTH plasma sangat rendah (tidak terdeteksi) dan kadar kortisol tidak tertekan pada tes supresi deksametason dosis tinggi. CT scan abdomen menunjukkan massa pada kelenjar adrenal kanan berukuran 3,5 cm. Apakah mekanisme yang paling mendasari kondisi hiperkortisolisme pada pasien ini? Catatan: bandingkan dengan Cushing disease dan Cushing eksogen.
- AProduksi kortisol otonom dari tumor adrenal yang menekan sekresi ACTH hipofisis melalui feedback negatif
- BSupresi aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal akibat penggunaan kortikosteroid eksogen jangka panjang
- CProduksi ACTH ektopik dari tumor di luar hipofisis yang merangsang hiperplasia adrenal
- DProduksi ACTH berlebihan dari adenoma hipofisis yang merangsang hiperplasia adrenal bilateral
- EMutasi reseptor ACTH yang menyebabkan hipersensitivitas adrenal terhadap ACTH normal
Lihat jawaban
ACTH plasma yang sangat rendah atau tidak terdeteksi bersama adanya massa adrenal unilateral menunjukkan sindrom Cushing ACTH-independent, yaitu tumor adrenal (adenoma atau karsinoma) yang memproduksi kortisol secara otonom tanpa stimulasi ACTH. Kortisol yang tinggi ini justru menekan sekresi ACTH hipofisis melalui feedback negatif normal, sehingga ACTH menjadi sangat rendah. Hal ini berbeda dengan Cushing disease (adenoma hipofisis penghasil ACTH, ACTH tinggi, adrenal hiperplasia bilateral) dan Cushing ektopik (tumor non-hipofisis penghasil ACTH, misalnya karsinoma paru sel kecil).
- B. Mekanisme ini menjelaskan Cushing eksogen akibat konsumsi steroid, namun pasien ini memiliki massa adrenal yang menunjukkan sumber endogen.
- C. Mekanisme ini menjelaskan Cushing ektopik, yang seharusnya menunjukkan ACTH tinggi, bukan rendah seperti pada pasien ini.
- D. Mekanisme ini menjelaskan Cushing disease, yang seharusnya menunjukkan ACTH tinggi dan hiperplasia adrenal bilateral, bukan massa unilateral dengan ACTH rendah.
- E. Mutasi reseptor ACTH bukan mekanisme utama yang menjelaskan temuan ACTH rendah dengan massa adrenal unilateral pada kasus ini.
Seorang laki-laki berusia 40 tahun dengan riwayat hipertensi yang sulit terkontrol meskipun mengonsumsi tiga jenis obat antihipertensi datang kontrol ke poliklinik. Pasien juga mengeluh kram otot dan kelemahan otot yang hilang timbul. Tekanan darah 168/102 mmHg. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kalium 2,9 mmol/L (berulang pada pemeriksaan sebelumnya tanpa penggunaan diuretik), dan natrium 144 mmol/L. Apakah pemeriksaan skrining awal yang paling tepat untuk kecurigaan diagnosis pada pasien ini?
- AKadar kortisol pagi dan tes supresi deksametason
- BKadar ACTH plasma basal
- CKadar metanefrin dan katekolamin urin 24 jam
- DRasio aldosteron-renin plasma (aldosterone-renin ratio)
- EKadar renin plasma saja tanpa aldosteron
Lihat jawaban
Hipertensi resisten yang disertai hipokalemia spontan tanpa penyebab lain (bukan akibat diuretik) sangat sugestif hiperaldosteronisme primer (sindrom Conn), akibat produksi aldosteron berlebihan secara otonom dari adenoma atau hiperplasia adrenal. Aldosteron yang tinggi menyebabkan retensi natrium dan ekskresi kalium berlebihan di tubulus ginjal, sekaligus menekan sekresi renin melalui feedback negatif. Rasio aldosteron-renin plasma (ARR) adalah tes skrining awal yang direkomendasikan karena rasio meningkat secara khas pada kondisi ini (aldosteron tinggi, renin rendah).
- A. Pemeriksaan ini ditujukan untuk kecurigaan sindrom Cushing, bukan hiperaldosteronisme primer.
- B. ACTH basal tidak relevan untuk evaluasi aksis renin-angiotensin-aldosteron.
- C. Pemeriksaan ini ditujukan untuk kecurigaan feokromositoma, bukan hiperaldosteronisme primer.
- E. Renin saja tanpa aldosteron tidak cukup; rasio keduanya diperlukan karena nilai absolut dapat bervariasi dan tidak spesifik.
Seorang perempuan berusia 36 tahun datang dengan keluhan episode berulang berupa jantung berdebar, sakit kepala berat, dan berkeringat banyak yang muncul mendadak selama beberapa menit hingga 1 jam, terjadi beberapa kali dalam sebulan terakhir. Di antara episode, pasien merasa baik-baik saja. Saat episode terjadi di poliklinik, tekanan darah terukur 210/120 mmHg dan frekuensi nadi 118 kali/menit, kemudian kembali ke 128/82 mmHg setelah episode berakhir. Apakah pemeriksaan penunjang yang paling tepat untuk konfirmasi diagnosis pada pasien ini?
- AKadar asam vanilmandelat (VMA) urin sewaktu
- BKadar metanefrin dan normetanefrin plasma atau urin 24 jam
- CKadar katekolamin plasma sewaktu saat tidak ada gejala
- DCT scan abdomen tanpa pemeriksaan biokimia terlebih dahulu
- EKadar kortisol plasma dan tes supresi deksametason
Lihat jawaban
Trias klasik sakit kepala episodik, palpitasi, dan diaforesis disertai hipertensi paroksismal sangat sugestif feokromositoma, tumor sel kromafin medula adrenal yang menyekresi katekolamin berlebihan secara episodik. Pemeriksaan metanefrin dan normetanefrin (metabolit katekolamin) dalam plasma bebas atau urin 24 jam merupakan tes biokimia dengan sensitivitas tertinggi karena metanefrin disekresi secara kontinu oleh tumor, berbeda dengan katekolamin yang pelepasannya episodik sehingga mudah memberikan hasil negatif palsu jika diperiksa di luar episode. Pencitraan (CT/MRI abdomen) dilakukan setelah konfirmasi biokimia untuk menentukan lokasi tumor.
- A. VMA urin memiliki sensitivitas dan spesifisitas lebih rendah dibandingkan metanefrin sehingga bukan pilihan tes terbaik saat ini.
- C. Katekolamin plasma disekresi secara episodik sehingga pengukuran saat tidak ada gejala berisiko memberikan hasil negatif palsu.
- D. Pencitraan sebaiknya dilakukan setelah konfirmasi biokimia untuk menghindari insidentaloma yang tidak fungsional.
- E. Pemeriksaan ini digunakan untuk evaluasi sindrom Cushing, tidak relevan untuk kecurigaan feokromositoma.
Metabolisme Kalsium & Tulang
6 soalPerempuan usia 58 tahun dibawa ke IGD RS karena penurunan kesadaran sejak 1 hari yang lalu. Keluarga mengatakan pasien sebelumnya mengeluh mual, muntah, dan sering buang air kecil dalam 2 minggu terakhir. Pasien memiliki riwayat kanker payudara dengan metastasis tulang. Pemeriksaan fisik: kesadaran somnolen, tekanan darah 90/60 mmHg, frekuensi nadi 118 kali/menit, frekuensi napas 20 kali/menit, suhu 36,8°C, turgor kulit menurun. Hasil laboratorium menunjukkan kalsium total serum 15,2 mg/dL (nilai normal 8,5-10,5 mg/dL), ureum dan kreatinin meningkat. Apakah tatalaksana awal yang paling tepat diberikan pada pasien ini?
- AKalsitonin subkutan
- BAsam zoledronat intravena
- CFurosemid intravena
- DInfus cairan NaCl 0,9% secara agresif
- EPrednison oral dosis tinggi
Lihat jawaban
Pasien mengalami krisis hiperkalsemia (kalsium total >14 mg/dL) dengan gejala dehidrasi berat akibat poliuria dan muntah. Langkah pertama dan terpenting adalah rehidrasi agresif dengan NaCl 0,9% untuk memperbaiki volume intravaskular dan meningkatkan ekskresi kalsium melalui ginjal, sebelum terapi spesifik lain diberikan. Setelah rehidrasi adekuat, bifosfonat intravena (misalnya asam zoledronat) atau kalsitonin dapat ditambahkan untuk menurunkan kalsium lebih lanjut. Diuretik loop seperti furosemid tidak lagi direkomendasikan sebagai terapi awal karena dapat memperburuk deplesi volume jika diberikan sebelum rehidrasi tercapai.
- A. Kalsitonin memberikan efek cepat namun bersifat sementara dan bukan langkah awal sebelum rehidrasi.
- B. Bifosfonat bekerja lebih lambat (24-72 jam) dan diberikan setelah rehidrasi awal tercapai.
- C. Furosemid tidak boleh diberikan sebelum rehidrasi karena memperberat deplesi volume intravaskular.
- E. Kortikosteroid hanya bermanfaat pada hiperkalsemia akibat keganasan hematologi atau intoksikasi vitamin D, bukan sebagai terapi awal universal.
Perempuan usia 34 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan kesemutan di sekitar mulut dan ujung-ujung jari tangan sejak 3 hari yang lalu, disertai kram otot tangan yang hilang timbul. Pasien memiliki riwayat operasi tiroidektomi total 2 minggu yang lalu karena struma multinodosa. Pemeriksaan fisik: tekanan darah 120/80 mmHg, frekuensi nadi 88 kali/menit. Saat dilakukan pengetukan pada area depan telinga di sisi wajah, didapatkan kontraksi otot-otot wajah. Saat dilakukan pemasangan manset tensimeter dan dipompa di atas tekanan sistolik selama 3 menit, terjadi fleksi pergelangan tangan serta jari-jari mengumpul ke tengah. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?
- AHipoparatiroidisme
- BHipertiroidisme
- CHiperventilasi psikogenik
- DDefisiensi magnesium kronik
- ESindrom Guillain-Barre
Lihat jawaban
Pasien mengalami gejala tetani (kesemutan perioral dan akral, kram otot) dengan tanda Chvostek (kontraksi otot wajah saat area nervus fasialis diketuk) dan tanda Trousseau (spasme karpal setelah oklusi arteri brakialis) positif, yang merupakan tanda klasik hipokalsemia. Riwayat tiroidektomi total merupakan faktor risiko utama hipoparatiroidisme pasca bedah akibat kerusakan atau pengangkatan tidak sengaja kelenjar paratiroid. Diagnosis dikonfirmasi dengan kadar kalsium serum rendah disertai kadar PTH yang rendah atau tidak terukur. Tatalaksana awal berupa kalsium intravena pada kasus simtomatik berat, dilanjutkan kalsium oral dan vitamin D aktif jangka panjang.
- B. Hipertiroidisme menimbulkan gejala hipermetabolik seperti tremor dan takikardia, bukan tanda Chvostek/Trousseau.
- C. Hiperventilasi psikogenik dapat menimbulkan parestesia dan spasme karpal akibat alkalosis respiratorik, namun riwayat tiroidektomi lebih mengarahkan ke sebab organik hipoparatiroidisme.
- D. Defisiensi magnesium kronik dapat menyebabkan hipokalsemia sekunder, namun konteks klinis pasca tiroidektomi lebih mengarah langsung pada kerusakan kelenjar paratiroid.
- E. Sindrom Guillain-Barre menimbulkan kelemahan motorik asendens, tidak berkaitan dengan tanda Chvostek/Trousseau.
Anak laki-laki usia 2 tahun dibawa ke puskesmas oleh ibunya karena kedua kaki tampak bengkok sejak mulai belajar berjalan. Anak mendapat ASI eksklusif hingga usia 6 bulan tanpa suplementasi vitamin D, dan jarang terpapar sinar matahari karena selalu diasuh di dalam rumah. Pemeriksaan fisik: berat badan 10 kg, tampak pembesaran pergelangan tangan bilateral, kaki bentuk genu varum, serta penonjolan pada sambungan kosta-kondral yang teraba seperti untaian manik-manik. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kalsium serum 8,0 mg/dL, fosfat serum rendah, dan alkali fosfatase meningkat tajam. Foto rontgen pergelangan tangan menunjukkan pelebaran lempeng epifisis dengan gambaran cupping dan fraying pada metafisis. Apakah tatalaksana yang paling tepat untuk kondisi anak ini?
- AVitamin D3 dosis stoss oral diikuti suplementasi kalsium
- BHormon paratiroid rekombinan subkutan
- CSuplementasi kalsium oral tunggal tanpa vitamin D
- DBifosfonat oral jangka panjang
- EKalsitriol dosis tinggi tanpa suplementasi kalsium
Lihat jawaban
Anak ini menunjukkan gambaran klinis dan radiologis klasik rakitis akibat defisiensi vitamin D, yaitu genu varum, rachitic rosary, pelebaran pergelangan tangan, serta gambaran cupping dan fraying metafisis pada rontgen, disertai hipokalsemia, hipofosfatemia, dan peningkatan alkali fosfatase. Tatalaksana standar menurut rekomendasi IDAI adalah pemberian vitamin D3 dosis tinggi (dosis stoss atau dosis harian tinggi selama beberapa minggu) untuk mengatasi defisiensi, disertai suplementasi kalsium guna mencegah hungry bone syndrome dan mendukung mineralisasi tulang. Setelah fase terapi awal, dilanjutkan dengan dosis pemeliharaan vitamin D harian sesuai usia. Edukasi mengenai paparan sinar matahari dan asupan vitamin D juga penting untuk mencegah kekambuhan.
- B. Hormon paratiroid rekombinan tidak digunakan pada rakitis nutrisional dan merupakan terapi untuk hipoparatiroidisme.
- C. Kalsium tunggal tanpa vitamin D tidak mengatasi penyebab dasar defisiensi vitamin D yang menghambat absorpsi kalsium di usus.
- D. Bifosfonat menghambat resorpsi tulang dan tidak sesuai untuk rakitis akibat defisiensi vitamin D yang justru memerlukan perbaikan mineralisasi.
- E. Kalsitriol dosis tinggi bukan terapi lini pertama pada rakitis nutrisional biasa dan berisiko hiperkalsemia bila diberikan tanpa indikasi gangguan ginjal atau resistensi vitamin D.
Perempuan usia 45 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan nyeri tulang difus terutama di pinggul dan punggung bawah sejak 6 bulan terakhir, disertai kelemahan otot proksimal sehingga sulit bangkit dari posisi duduk dan menaiki tangga. Pasien memakai hijab menutup seluruh tubuh dan jarang keluar rumah, serta memiliki riwayat gastrektomi parsial 3 tahun yang lalu. Pemeriksaan fisik: cara berjalan goyah (waddling gait), nyeri tekan pada tulang iga dan panggul. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kalsium serum 7,8 mg/dL, fosfat serum 2,0 mg/dL, alkali fosfatase meningkat, dan kadar 25-hidroksivitamin D rendah. Foto rontgen pelvis menunjukkan garis radiolusen tipis melintang pada tulang panggul dan korteks femur yang disebut pseudofraktur Looser. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?
- AMieloma multipel
- BOsteoporosis primer
- COsteitis fibrosa cystica
- DOsteomalasia
- EPenyakit Paget tulang
Lihat jawaban
Osteomalasia adalah gangguan mineralisasi matriks tulang pada dewasa akibat defisiensi vitamin D kronik, ditandai nyeri tulang difus, kelemahan otot proksimal dengan waddling gait, serta hipokalsemia, hipofosfatemia, dan alkali fosfatase tinggi. Faktor risiko pada pasien ini meliputi paparan sinar matahari minimal akibat pakaian tertutup dan malabsorpsi pasca gastrektomi. Gambaran radiologis khas berupa pseudofraktur Looser (zona Looser), yaitu garis radiolusen pada daerah tulang yang mengalami stres mekanik akibat mineralisasi tidak adekuat. Berbeda dengan osteoporosis, densitas tulang pada osteomalasia menurun akibat gangguan mineralisasi bukan penurunan massa tulang, sehingga kadar kalsium dan fosfat serum biasanya abnormal.
- A. Mieloma multipel menimbulkan lesi litik punch-out dan hiperkalsemia, berbeda dengan profil hipokalsemia pada kasus ini.
- B. Osteoporosis primer menunjukkan densitas tulang rendah tanpa gangguan mineralisasi, sehingga kalsium, fosfat, dan alkali fosfatase serum biasanya normal.
- C. Osteitis fibrosa cystica terjadi pada hiperparatiroidisme dengan gambaran resorpsi subperiosteal dan kista tulang (brown tumor), bukan pseudofraktur Looser.
- E. Penyakit Paget menunjukkan peningkatan alkali fosfatase namun kalsium dan fosfat serum biasanya normal, dengan gambaran radiologis penebalan korteks dan deformitas tulang, bukan pseudofraktur Looser.
Perempuan usia 62 tahun, pascamenopause sejak usia 50 tahun, datang ke poliklinik untuk pemeriksaan kesehatan rutin. Pasien tidak memiliki riwayat patah tulang sebelumnya, tidak merokok, dan tidak mengonsumsi kortikosteroid jangka panjang. Indeks massa tubuh 21 kg/m². Dilakukan pemeriksaan densitas mineral tulang menggunakan dual-energy X-ray absorptiometry (DXA) pada vertebra lumbal dan collum femur, didapatkan T-score -2,8 pada vertebra lumbal dan -2,6 pada collum femur. Apakah interpretasi yang paling tepat terhadap hasil pemeriksaan tersebut?
- AOsteoporosis berat (established osteoporosis)
- BOsteopenia
- COsteoporosis
- DOsteomalasia
- EDensitas tulang normal untuk usia
Lihat jawaban
Menurut kriteria WHO yang digunakan dalam interpretasi DXA, osteoporosis ditegakkan bila T-score ≤ -2,5 pada vertebra lumbal atau collum femur pada perempuan pascamenopause. Pasien ini memiliki T-score -2,8 dan -2,6 yang keduanya berada pada rentang osteoporosis. Osteopenia ditetapkan pada rentang T-score antara -1,0 hingga -2,5, sedangkan T-score di atas -1,0 dianggap normal. Osteoporosis berat (established osteoporosis) baru ditegakkan bila T-score ≤ -2,5 disertai riwayat fraktur osteoporotik, yang tidak dimiliki pasien ini.
- A. Osteoporosis berat memerlukan T-score ≤ -2,5 disertai riwayat fraktur osteoporotik yang tidak ditemukan pada pasien ini.
- B. Osteopenia ditetapkan pada T-score antara -1,0 hingga -2,5, sedangkan nilai pasien lebih rendah dari -2,5.
- D. Osteomalasia merupakan gangguan mineralisasi tulang yang ditegakkan berdasarkan kelainan biokimia (hipokalsemia, hipofosfatemia) dan gambaran radiologis khas, bukan dari nilai T-score semata.
- E. T-score pasien jauh di bawah -1,0 sehingga tidak dapat dikategorikan normal.
Perempuan usia 68 tahun dengan osteoporosis telah mendapat terapi alendronat oral 70 mg sekali seminggu selama 4 tahun. Pasien kini direncanakan menjalani pencabutan gigi geraham bawah oleh dokter gigi karena infeksi periapikal. Dokter gigi berkonsultasi mengenai risiko komplikasi terkait terapi osteoporosis yang sedang dijalani pasien. Apakah efek samping yang paling perlu diwaspadai terkait tindakan pencabutan gigi pada pasien yang mendapat terapi obat golongan ini?
- ANekrosis tubular akut ginjal
- BFraktur atipikal femur
- CEsofagitis erosif
- DHipokalsemia berat
- EOsteonekrosis rahang
Lihat jawaban
Bifosfonat seperti alendronat bekerja menghambat aktivitas osteoklas sehingga menekan resorpsi tulang, namun penggunaan jangka panjang dikaitkan dengan risiko osteonekrosis rahang (osteonecrosis of the jaw), terutama setelah tindakan invasif gigi seperti pencabutan. Mekanisme diduga berkaitan dengan penekanan remodeling tulang rahang yang mengganggu penyembuhan setelah trauma atau infeksi lokal, diperberat oleh suplai darah rahang yang relatif terbatas. Sebelum tindakan invasif gigi elektif, idealnya terapi bifosfonat dipertimbangkan untuk ditunda sementara bila risiko osteonekrosis dinilai tinggi, serta diberikan profilaksis antibiotik dan evaluasi kondisi gigi yang menyeluruh. Fraktur atipikal femur juga merupakan efek samping bifosfonat jangka panjang namun tidak berkaitan dengan tindakan gigi.
- A. Nekrosis tubular akut bukan efek samping khas bifosfonat oral dosis standar untuk osteoporosis.
- B. Fraktur atipikal femur merupakan efek samping bifosfonat jangka panjang namun tidak berhubungan dengan tindakan pencabutan gigi.
- C. Esofagitis erosif merupakan efek samping bifosfonat oral terkait cara minum obat, bukan komplikasi tindakan gigi.
- D. Hipokalsemia bukan efek samping utama bifosfonat oral dan tidak berkaitan dengan prosedur gigi.
Metabolisme Lipid & Obesitas
1 soalSeorang laki-laki berusia 34 tahun datang ke poliklinik untuk pemeriksaan rutin. Ia tidak memiliki keluhan, namun ayahnya meninggal karena infark miokard pada usia 42 tahun. Pada pemeriksaan fisik ditemukan penebalan tendon Achilles bilateral dan benjolan kekuningan di sekitar kedua mata. Tekanan darah 124/78 mmHg, indeks massa tubuh 23 kg/m². Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kolesterol total 365 mg/dL, kolesterol LDL 290 mg/dL, HDL 42 mg/dL, trigliserida 140 mg/dL, gula darah puasa 88 mg/dL, dan fungsi tiroid normal. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?
- ASindrom metabolik
- BDislipidemia sekunder akibat hipotiroidisme
- CHipertrigliseridemia familial
- DHiperkolesterolemia familial
- EDisbetalipoproteinemia familial
Lihat jawaban
Kombinasi kolesterol LDL sangat tinggi (>190 mg/dL pada dewasa), riwayat keluarga penyakit jantung koroner prematur, serta tanda klinis khas seperti xanthoma tendon Achilles dan xanthelasma sangat mengarah pada hiperkolesterolemia familial, suatu kelainan genetik autosomal dominan pada reseptor LDL. Diagnosis klinis dapat ditegakkan menggunakan kriteria Dutch Lipid Clinic Network yang menilai riwayat keluarga, temuan klinis, dan kadar LDL. Fungsi tiroid normal menyingkirkan penyebab sekunder. Kondisi ini meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dini bila tidak ditangani.
- A. Sindrom metabolik memerlukan kriteria obesitas sentral, hipertensi, atau gangguan gula darah yang tidak ditemukan pada pasien ini.
- B. Fungsi tiroid pasien normal sehingga menyingkirkan hipotiroidisme sebagai penyebab dislipidemia.
- C. Hipertrigliseridemia familial ditandai peningkatan trigliserida dominan, bukan LDL yang sangat tinggi seperti pada kasus ini.
- E. Disbetalipoproteinemia familial biasanya menunjukkan peningkatan kolesterol dan trigliserida yang seimbang dengan xanthoma palmar, bukan LDL yang sangat dominan.
Gangguan Metabolik Lain
4 soalSeorang laki-laki berusia 52 tahun datang ke IGD puskesmas dengan nyeri hebat dan bengkak pada sendi metatarsophalangeal I kaki kanan sejak 12 jam yang lalu. Nyeri muncul tiba-tiba saat malam hari setelah pasien menghadiri acara makan daging kambing. Pada pemeriksaan ditemukan sendi tampak merah, bengkak, hangat, dan sangat nyeri saat disentuh maupun digerakkan. Suhu tubuh 37,8°C. Kadar asam urat serum 9,2 mg/dL. Tidak terdapat riwayat trauma. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?
- AArtritis reumatoid
- BArtritis gout akut
- CPseudogout (artritis pirofosfat)
- DSelulitis pedis
- EArtritis septik
Lihat jawaban
Gambaran klasik gout akut adalah monoartritis akut yang timbul mendadak, sering pada malam hari, mengenai sendi metatarsophalangeal I (podagra), disertai nyeri hebat, eritema, dan bengkak, biasanya dipicu oleh konsumsi makanan tinggi purin seperti jeroan atau daging kambing. Kadar asam urat serum yang tinggi mendukung diagnosis, meskipun diagnosis pasti memerlukan analisis cairan sendi yang menunjukkan kristal monosodium urat berbentuk jarum dengan birefringence negatif. Pada level puskesmas, diagnosis klinis gout akut dapat ditegakkan berdasarkan pola klasik serangan, lokasi sendi, dan kadar asam urat tanpa harus menunggu hasil analisis cairan sendi jika fasilitas tidak tersedia.
- A. Artritis reumatoid bersifat poliartritis simetris kronis, tidak sesuai dengan monoartritis akut pada kasus ini.
- C. Pseudogout lebih sering mengenai sendi lutut dan terkait kristal pirofosfat, bukan kadar asam urat tinggi.
- D. Selulitis pedis tidak menimbulkan nyeri sendi internal yang hebat dan tidak berkaitan dengan peningkatan asam urat.
- E. Artritis septik biasanya disertai demam tinggi dan gejala sistemik berat, serta tidak khas dipicu oleh makanan tinggi purin.
Seorang laki-laki berusia 58 tahun datang ke puskesmas dengan nyeri hebat pada sendi pergelangan kaki kiri sejak 1 hari yang lalu. Pasien memiliki riwayat penyakit ginjal kronik dengan laju filtrasi glomerulus 28 mL/menit/1,73m². Pemeriksaan fisik menunjukkan sendi bengkak, merah, dan nyeri tekan hebat. Kadar asam urat serum 9,8 mg/dL. Dokter mendiagnosis artritis gout akut. Apakah terapi lini pertama yang paling tepat untuk mengatasi serangan akut pada pasien ini? Catatan: fungsi ginjal pasien menurun sehingga NSAID dan kolkisin dosis tinggi berisiko toksik.
- AAllopurinol dosis inisiasi tinggi
- BIbuprofen dosis tinggi
- CKortikosteroid oral dosis rendah
- DAspirin dosis rendah
- EKolkisin dosis tinggi
Lihat jawaban
Pada pasien gout akut dengan gangguan ginjal kronik, NSAID dan kolkisin dosis tinggi harus dihindari karena berisiko memperberat kerusakan ginjal dan toksisitas sistemik akibat akumulasi metabolit. Kortikosteroid oral dosis rendah, seperti prednison, menjadi pilihan lini pertama yang aman pada kondisi ini karena bekerja melalui efek antiinflamasi tanpa dieliminasi secara signifikan oleh ginjal pada dosis terapeutik. Pemberian kortikosteroid short-course efektif mengurangi nyeri dan inflamasi sendi dalam serangan akut. Allopurinol tidak digunakan saat serangan akut karena dapat memperberat atau memperpanjang episode akut akibat fluktuasi kadar asam urat.
- A. Allopurinol tidak diberikan saat serangan akut karena dapat memperpanjang atau memperburuk inflamasi sendi.
- B. Ibuprofen dosis tinggi berisiko nefrotoksik dan memperburuk fungsi ginjal pasien yang sudah menurun.
- D. Aspirin dosis rendah dapat menghambat ekskresi asam urat dan memperburuk hiperurisemia, serta kurang efektif sebagai antiinflamasi pada gout akut.
- E. Kolkisin dosis tinggi berisiko toksisitas sistemik serius pada pasien dengan penurunan fungsi ginjal.
Seorang perempuan berusia 29 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan berkeringat dingin, jantung berdebar, dan tangan gemetar yang muncul sekitar 3 jam setelah makan, terutama bila makan makanan tinggi karbohidrat sederhana. Gejala membaik segera setelah makan camilan. Pasien tidak memiliki riwayat diabetes melitus dan tidak mengonsumsi obat apa pun. Pemeriksaan fisik dalam batas normal. Pada saat gejala muncul, kadar gula darah kapiler terukur 48 mg/dL, dan gejala menghilang setelah pemberian glukosa oral. Apakah langkah evaluasi awal yang paling tepat untuk menegakkan diagnosis pada pasien ini?
- AMelakukan tes toleransi glukosa oral 75 gram segera tanpa dokumentasi gejala
- BMelakukan pemeriksaan trias Whipple dengan dokumentasi gula darah rendah, gejala hipoglikemia, dan perbaikan setelah pemberian glukosa
- CMelakukan USG abdomen untuk mencari tumor pankreas secara langsung
- DMemberikan terapi empiris dengan diazoksid tanpa evaluasi lebih lanjut
- EMelakukan pemeriksaan kadar HbA1c untuk menyingkirkan diabetes melitus
Lihat jawaban
Evaluasi hipoglikemia non-diabetik, termasuk hipoglikemia reaktif pascamakan, harus dimulai dengan dokumentasi trias Whipple, yaitu adanya gejala khas hipoglikemia, kadar gula darah rendah yang terukur bersamaan dengan gejala, dan perbaikan gejala setelah pemberian glukosa. Pada kasus ini, ketiga komponen trias Whipple telah terpenuhi, yang mengonfirmasi bahwa gejala pasien memang disebabkan oleh hipoglikemia sejati, bukan gejala autonomik lain yang menyerupai hipoglikemia. Setelah trias ini terkonfirmasi, evaluasi lanjutan seperti pemeriksaan insulin, C-peptide, atau pencitraan dapat dilakukan untuk mencari etiologi spesifik bila diperlukan.
- A. Tes toleransi glukosa oral tanpa dokumentasi gejala tidak spesifik dan dapat menghasilkan hasil positif palsu pada orang sehat.
- C. Pencitraan langsung tanpa konfirmasi diagnosis dan evaluasi hormonal awal bukan langkah yang tepat dan tidak efisien.
- D. Terapi empiris tanpa evaluasi dan konfirmasi diagnosis tidak sesuai prinsip tatalaksana berbasis bukti.
- E. HbA1c menilai kontrol gula darah jangka panjang dan tidak relevan untuk mengonfirmasi episode hipoglikemia akut.
Seorang bayi baru lahir cukup bulan, usia 2 jam, lahir dari ibu dengan diabetes melitus gestasional tidak terkontrol, dirawat di ruang bayi. Berat lahir 4200 gram. Bayi tampak lemas, tremor, dan enggan menyusu. Frekuensi napas 56 kali/menit, denyut jantung 150 kali/menit, suhu aksila 36,7°C. Kadar gula darah kapiler bayi terukur 28 mg/dL. Apakah tatalaksana awal yang paling tepat untuk kondisi ini? Nilai ambang batas gula darah neonatus yang dianggap hipoglikemia pada kasus ini adalah <45 mg/dL dengan gejala klinis.
- APemberian injeksi glukagon intramuskular sebagai terapi lini pertama
- BPemberian ASI eksklusif saja tanpa intervensi intravena
- CObservasi ketat tanpa pemberian glukosa karena bayi tampak stabil
- DPemberian larutan dekstrosa 40% oral langsung
- EPemberian bolus intravena dekstrosa 10% sebanyak 2 mL/kgBB diikuti infus rumatan glukosa
Lihat jawaban
Bayi dari ibu dengan diabetes gestasional berisiko tinggi mengalami hipoglikemia neonatal akibat hiperinsulinemia janin yang menetap setelah lahir. Pada hipoglikemia neonatus simtomatik dengan gula darah di bawah ambang batas, tatalaksana awal yang tepat adalah bolus intravena dekstrosa 10% sebanyak 2 mL/kgBB secara perlahan, dilanjutkan dengan infus rumatan glukosa untuk mempertahankan kadar gula darah stabil, sesuai pedoman neonatologi nasional. Pemberian dekstrosa pekat secara oral atau bolus cepat berisiko menyebabkan hiperglikemia rebound dan gangguan osmotik. Pemantauan gula darah berkala diperlukan untuk memastikan kadar tetap dalam target setelah intervensi awal.
- A. Glukagon intramuskular bukan terapi lini pertama pada neonatus dan tidak efektif pada kondisi hiperinsulinemia dengan cadangan glikogen terbatas.
- B. Pemberian ASI saja tidak cukup untuk mengatasi hipoglikemia simtomatik yang memerlukan koreksi cepat melalui jalur intravena.
- C. Observasi tanpa intervensi tidak tepat karena bayi menunjukkan gejala klinis hipoglikemia yang jelas dan memerlukan koreksi segera.
- D. Dekstrosa 40% oral terlalu pekat dan berisiko menyebabkan iritasi mukosa serta lonjakan osmotik yang berbahaya pada neonatus.
Gangguan Pertumbuhan & Pubertas
2 soalSeorang anak perempuan usia 7 tahun dibawa ibunya ke poliklinik karena payudara membesar dan sudah mengalami menstruasi sejak 2 bulan lalu. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pertumbuhan payudara Tanner stadium III dan rambut pubis stadium II. Tinggi badan anak berada di atas persentil untuk usianya dan tumbuh lebih cepat dari teman sebayanya. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar LH basal meningkat dan pada tes stimulasi GnRH terjadi peningkatan LH yang bermakna. USG pelvis menunjukkan uterus dan ovarium yang membesar sesuai pubertas. Apakah pemeriksaan penunjang lanjutan yang paling tepat untuk mencari etiologi pada kasus ini?
- AUSG abdomen untuk menilai kelenjar adrenal
- BAnalisis kromosom untuk menilai sindrom genetik
- CMRI kepala dengan kontras untuk menilai hipotalamus-hipofisis
- DKadar 17-hidroksiprogesteron untuk menilai hiperplasia adrenal kongenital
- EKadar beta-hCG untuk menyingkirkan tumor sel germinal ovarium
Lihat jawaban
Respons LH yang meningkat pada tes stimulasi GnRH menunjukkan pubertas prekoks sentral (GnRH-dependent), yaitu aktivasi dini aksis hipotalamus-hipofisis-gonad. Etiologi tersering pada anak perempuan adalah idiopatik, namun harus disingkirkan lesi organik seperti hamartoma hipotalamus, tumor, atau kelainan struktural lain sehingga MRI kepala dengan kontras menjadi pemeriksaan lanjutan yang paling tepat. Pada pubertas prekoks perifer (GnRH-independent), respons LH terhadap stimulasi GnRH akan tetap rendah karena sumber hormon seks berasal dari luar aksis hipotalamus-hipofisis. Pemeriksaan pencitraan otak penting untuk menentukan tindak lanjut terapi, termasuk kebutuhan analog GnRH.
- A. USG adrenal lebih relevan untuk pubertas prekoks perifer akibat tumor adrenal, bukan sentral.
- B. Analisis kromosom lebih relevan bila dicurigai sindrom seperti McCune-Albright, bukan langkah awal pada pubertas prekoks sentral.
- D. 17-OHP digunakan untuk hiperplasia adrenal kongenital yang merupakan penyebab pubertas prekoks perifer.
- E. Beta-hCG dicurigai pada tumor sel germinal yang menyebabkan pubertas prekoks perifer, bukan sentral dengan respons LH meningkat.
Seorang anak perempuan usia 10 tahun dibawa ke poliklinik karena perawakan pendek yang tidak sesuai usianya, dengan tinggi badan 118 cm (jauh di bawah persentil ke-3). Pada pemeriksaan fisik ditemukan leher tampak pendek dengan lipatan kulit berlebih di bagian lateral leher (webbed neck), dada berbentuk perisai (shield chest) dengan jarak antar puting yang lebar, serta edema pada punggung kedua tangan dan kaki sejak lahir. Belum ada tanda pubertas. Tekanan darah 128/84 mmHg pada ekstremitas atas. Apakah pemeriksaan penunjang yang paling tepat untuk menegakkan diagnosis pada kasus ini?
- AKadar estradiol dan FSH serum
- BKariotipe perifer
- CMRI kepala untuk menilai kelenjar hipofisis
- DUSG pelvis untuk menilai ukuran ovarium
- EEkokardiografi untuk menilai koarktasio aorta
Lihat jawaban
Kombinasi perawakan pendek, webbed neck, shield chest dengan jarak puting lebar, dan riwayat edema perifer saat lahir (limfedema kongenital) sangat khas untuk sindrom Turner. Diagnosis definitif ditegakkan dengan analisis kariotipe yang menunjukkan monosomi X (45,X) atau mosaikisme terkait kromosom X. Pemeriksaan lain seperti ekokardiografi dan USG pelvis penting dilakukan setelah diagnosis ditegakkan untuk skrining komplikasi terkait, namun bukan pemeriksaan yang menegakkan diagnosis itu sendiri.
- A. Estradiol rendah dan FSH tinggi mendukung hipogonadisme hipergonadotropik namun tidak spesifik menegakkan diagnosis sindrom Turner.
- C. MRI kepala tidak relevan karena kelainan pada sindrom Turner bersifat kromosomal, bukan pada hipofisis.
- D. USG pelvis menilai ovarium streak sebagai komplikasi, namun bukan pemeriksaan diagnostik utama sindrom Turner.
- E. Ekokardiografi penting untuk skrining koarktasio aorta sebagai komplikasi, dilakukan setelah diagnosis ditegakkan.
Gangguan Endokrin pada Kehamilan
3 soalSeorang perempuan usia 29 tahun, G2P1A0, hamil 26 minggu, didiagnosis diabetes melitus gestasional setelah tes toleransi glukosa oral 75 gram menunjukkan hasil gula darah puasa 98 mg/dL dan 2 jam post-prandial 172 mg/dL. Pasien telah menjalani modifikasi diet dan olahraga selama 2 minggu, namun pemantauan gula darah mandiri di rumah masih menunjukkan gula darah puasa rata-rata 108 mg/dL dan gula darah 2 jam setelah makan rata-rata 168 mg/dL. Berat badan janin sesuai usia kehamilan pada USG. Apakah tatalaksana selanjutnya yang paling tepat pada pasien ini?
- AMerujuk untuk induksi persalinan segera
- BMenambahkan glibenklamid oral
- CMenambahkan metformin oral
- DMemulai terapi insulin
- EMelanjutkan modifikasi diet dan olahraga dengan evaluasi 2 minggu lagi
Lihat jawaban
Target gula darah pada DM gestasional menurut panduan nasional adalah gula darah puasa kurang dari 95 mg/dL dan 2 jam post-prandial kurang dari 120 mg/dL. Pasien ini masih belum mencapai target setelah terapi nutrisi medis dan aktivitas fisik adekuat selama 2 minggu, sehingga terapi farmakologis diperlukan. Insulin merupakan terapi lini pertama pada DM gestasional yang tidak terkontrol dengan modifikasi gaya hidup karena tidak melewati plasenta dan memiliki profil keamanan yang paling baik bagi janin. Obat antidiabetes oral tidak menjadi pilihan utama pada DM gestasional di Indonesia karena data keamanan jangka panjang bagi janin masih terbatas.
- A. Induksi persalinan segera tidak diindikasikan hanya berdasarkan kontrol glukosa yang belum optimal tanpa indikasi obstetri lain.
- B. Glibenklamid dapat melewati plasenta dan berisiko menyebabkan hipoglikemia neonatal, bukan pilihan lini pertama.
- C. Metformin dapat melewati plasenta dan bukan terapi lini pertama pada DM gestasional menurut panduan nasional, meskipun digunakan di beberapa pedoman internasional sebagai alternatif.
- E. Target glukosa belum tercapai setelah 2 minggu modifikasi gaya hidup sehingga diperlukan eskalasi terapi, bukan observasi lebih lanjut.
Seorang perempuan usia 27 tahun, G1P0A0, hamil 8 minggu, datang dengan keluhan jantung berdebar, tangan tremor, dan penurunan berat badan 3 kg dalam 1 bulan meskipun nafsu makan meningkat. Pemeriksaan fisik menunjukkan frekuensi nadi 118 kali/menit, struma difus, dan tremor halus pada kedua tangan. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan TSH kurang dari 0,01 mIU/L dan FT4 meningkat. Pasien didiagnosis Graves disease dan memerlukan terapi antitiroid. Apakah pilihan obat antitiroid yang paling tepat pada kondisi pasien saat ini?
- AKalium iodida dosis tinggi
- BPropiltiourasil
- CMetimazol
- DPropranolol sebagai terapi tunggal
- ELevotiroksin dosis rendah
Lihat jawaban
Pada trimester pertama kehamilan, propiltiourasil (PTU) merupakan obat antitiroid pilihan karena risiko teratogenik metimazol lebih tinggi, termasuk aplasia kutis dan embriopati metimazol seperti atresia esofagus dan dismorfisme wajah. Setelah trimester pertama (mulai trimester kedua), terapi biasanya dialihkan ke metimazol karena risiko hepatotoksisitas berat PTU yang lebih sering terjadi pada penggunaan jangka panjang. Levotiroksin tidak diberikan karena pasien mengalami hipertiroidisme, bukan hipotiroidisme. Propranolol dapat digunakan sebagai terapi tambahan untuk mengontrol gejala adrenergik, namun bukan terapi definitif tunggal untuk hipertiroidisme.
- A. Kalium iodida dosis tinggi bukan terapi lini pertama dan dapat menyebabkan hipotiroidisme janin bila digunakan jangka panjang.
- C. Metimazol dihindari pada trimester pertama karena risiko teratogenik seperti aplasia kutis dan embriopati metimazol.
- D. Propranolol hanya mengontrol gejala adrenergik dan tidak menekan produksi hormon tiroid sehingga tidak dapat menjadi terapi tunggal.
- E. Levotiroksin diberikan pada hipotiroidisme, sedangkan pasien mengalami hipertiroidisme.
Seorang perempuan usia 30 tahun datang ke puskesmas 3 bulan setelah melahirkan dengan keluhan jantung berdebar, mudah berkeringat, dan sulit tidur sejak 2 minggu terakhir. Tidak ada riwayat gangguan tiroid sebelumnya dan pasien tidak sedang menyusui secara eksklusif. Pemeriksaan fisik menunjukkan frekuensi nadi 102 kali/menit, tidak ditemukan struma maupun nyeri tekan pada leher, dan tidak ada eksoftalmus. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan TSH 0,05 mIU/L dan FT4 meningkat ringan. Pemeriksaan ambilan iodium radioaktif menunjukkan ambilan yang rendah. Apakah tatalaksana yang paling tepat pada fase ini?
- AMetimazol dosis rendah selama 3 bulan
- BTerapi iodium radioaktif
- CObservasi dengan pemantauan fungsi tiroid berkala tanpa terapi antitiroid
- DLevotiroksin dosis rendah segera
- EPropiltiourasil dosis rendah selama 3 bulan
Lihat jawaban
Gambaran klinis dan laboratorium pasien ini sesuai dengan fase tirotoksik tiroiditis postpartum, yaitu kondisi disfungsi tiroid autoimun yang muncul dalam 12 bulan setelah persalinan tanpa struma nyeri dan dengan ambilan iodium radioaktif yang rendah, berbeda dari Graves disease yang menunjukkan ambilan meningkat. Fase tirotoksik pada tiroiditis postpartum bersifat self-limiting akibat pelepasan hormon dari kerusakan folikel tiroid, bukan akibat peningkatan sintesis hormon, sehingga obat antitiroid tidak bermanfaat dan tatalaksana utama adalah observasi dengan pemantauan fungsi tiroid berkala. Pasien berisiko memasuki fase hipotiroid dalam beberapa bulan berikutnya yang mungkin memerlukan levotiroksin sementara.
- A. Obat antitiroid seperti metimazol tidak efektif karena tirotoksikosis disebabkan pelepasan hormon dari kerusakan folikel, bukan peningkatan sintesis hormon.
- B. Terapi iodium radioaktif tidak diindikasikan pada tiroiditis postpartum dan dikontraindikasikan bila pasien menyusui.
- D. Levotiroksin diberikan pada fase hipotiroid yang biasanya muncul setelah fase tirotoksik, bukan pada fase tirotoksik saat ini.
- E. Propiltiourasil juga tidak bermanfaat pada fase tirotoksik tiroiditis postpartum karena mekanisme bukan peningkatan sintesis hormon.
Neoplasia Endokrin & Multipel
1 soalSeorang laki-laki usia 38 tahun datang dengan keluhan nyeri perut berulang dan BAB berdarah hitam dalam 2 bulan terakhir. Pemeriksaan endoskopi menunjukkan ulkus multipel di duodenum dan gastrin serum meningkat sangat tinggi, sesuai dengan gastrinoma. Dari anamnesis lebih lanjut, pasien juga memiliki riwayat batu ginjal berulang sejak usia 30 tahun dan pemeriksaan laboratorium menunjukkan kalsium serum meningkat dengan kadar hormon paratiroid (PTH) yang juga meningkat. Saudara kandung pasien memiliki riwayat tumor pada kelenjar pituitari. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?
- ASindrom Zollinger-Ellison sporadik
- BMultiple Endocrine Neoplasia tipe 1
- CMultiple Endocrine Neoplasia tipe 2A
- DMultiple Endocrine Neoplasia tipe 2B
- EVon Hippel-Lindau syndrome
Lihat jawaban
Kombinasi tumor sel pulau pankreas (gastrinoma) yang menyebabkan sindrom Zollinger-Ellison, hiperparatiroidisme primer akibat tumor paratiroid, dan riwayat keluarga dengan tumor pituitari sangat khas untuk Multiple Endocrine Neoplasia tipe 1 (MEN1), yang melibatkan triad klasik paratiroid, pankreas, dan pituitari (3P). MEN1 diturunkan secara autosomal dominan akibat mutasi gen MEN1 yang mengkode protein menin, sebuah tumor suppressor. Hiperparatiroidisme primer merupakan manifestasi tersering dan paling awal pada MEN1, umumnya muncul sebelum usia 30 tahun seperti pada kasus ini. MEN tipe 2 tidak melibatkan tumor pankreas atau pituitari, melainkan karsinoma tiroid meduler dan feokromositoma.
- A. Riwayat keluarga dengan tumor pituitari dan hiperparatiroidisme menunjukkan kelainan herediter, bukan sindrom Zollinger-Ellison yang sporadik.
- C. MEN2A terdiri dari karsinoma tiroid meduler, feokromositoma, dan hiperparatiroidisme, tanpa tumor pankreas atau pituitari.
- D. MEN2B terdiri dari karsinoma tiroid meduler, feokromositoma, dan neuroma mukosa dengan habitus marfanoid, tanpa tumor pankreas atau pituitari.
- E. Von Hippel-Lindau syndrome melibatkan hemangioblastoma, karsinoma sel renal, dan feokromositoma, bukan gastrinoma atau tumor pituitari.
[Tiroid] Diagnosis hipertiroidisme (Graves) berdasarkan klinis dan profil TSH/FT
1 soalSeorang perempuan berusia 28 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan berat badan turun 6 kg dalam 2 bulan meskipun nafsu makan meningkat, berdebar-debar, dan tangan sering gemetar. Pasien juga mengeluh mata terasa menonjol dan sering berair. Pemeriksaan fisik: frekuensi nadi 118 kali/menit, tekanan darah 140/70 mmHg, tremor halus pada kedua tangan, eksoftalmus bilateral, dan pembesaran kelenjar tiroid difus disertai bruit pada auskultasi. Hasil laboratorium: TSH 0,01 mIU/L (N: 0,4-4,0), FT4 4,2 ng/dL (N: 0,8-1,8). Apakah diagnosis yang paling mungkin?
- APenyakit Graves
- BStruma multinodular toksik
- CTiroiditis subakut De Quervain
- DTiroiditis Hashimoto
- EAdenoma toksik tiroid
Lihat jawaban
Kombinasi hipertiroidisme klinis (penurunan berat badan, takikardia, tremor), eksoftalmus, goiter difus dengan bruit, serta TSH yang tertekan dan FT4 yang meningkat sangat khas untuk penyakit Graves. Mekanisme dasarnya adalah autoantibodi TSH-receptor antibody (TRAb) yang menstimulasi reseptor TSH pada sel folikel tiroid secara terus-menerus. Eksoftalmus terjadi akibat infiltrasi limfosit dan glikosaminoglikan pada jaringan retro-orbita (oftalmopati Graves) yang merupakan manifestasi ekstratiroid khas penyakit ini. Diagnosis klinis dapat ditegakkan tanpa pemeriksaan TRAb bila gambaran klasik seperti ini dijumpai.
- B. Struma multinodular toksik menunjukkan kelenjar berbenjol-benjol, bukan pembesaran difus dengan bruit.
- C. Tiroiditis subakut De Quervain disertai nyeri leher hebat dan demam, bukan eksoftalmus.
- D. Tiroiditis Hashimoto biasanya menyebabkan hipotiroidisme, bukan hipertiroidisme dengan eksoftalmus.
- E. Adenoma toksik memberikan nodul tiroid tunggal tanpa oftalmopati dan tanpa bruit difus.
[Tiroid] Mekanisme kerja dan efek samping obat antitiroid (PTU vs metimazol), te
1 soalSeorang perempuan berusia 34 tahun dengan riwayat penyakit Graves telah mengonsumsi metimazol 20 mg/hari selama 6 minggu. Ia datang ke IGD dengan demam tinggi 39,2°C dan nyeri tenggorokan hebat sejak 2 hari. Pemeriksaan fisik menunjukkan faring hiperemis dengan eksudat, tanpa pembesaran kelenjar getah bening signifikan. Hasil darah lengkap: leukosit 900/µL dengan neutrofil absolut 150/µL, hemoglobin dan trombosit dalam batas normal. Apakah mekanisme yang paling mendasari kondisi ini?
- AInfiltrasi sumsum tulang oleh sel tiroid autoimun
- BDefisiensi vitamin B12 akibat gangguan absorpsi tiroid
- CSupresi sumsum tulang idiosinkratik oleh metimazol
- DReaksi hipersensitivitas tipe I terhadap metimazol
- EHemolisis autoimun akibat metimazol
Lihat jawaban
Agranulositosis adalah efek samping serius obat antitiroid golongan tionamid (metimazol dan propiltiourasil/PTU) yang terjadi melalui mekanisme idiosinkratik, diduga akibat efek toksik langsung atau reaksi imun terhadap granulosit dan prekursornya di sumsum tulang, bukan reaksi alergi klasik. Kondisi ini biasanya muncul dalam 3 bulan pertama terapi dan ditandai demam serta faringitis/tonsilitis akibat neutropenia berat (neutrofil absolut kurang dari 500/µL). Obat antitiroid harus segera dihentikan permanen dan pasien dirujuk untuk terapi definitif lain seperti iodin radioaktif atau tiroidektomi. Pemantauan darah lengkap rutin tidak terbukti efektif mencegah agranulositosis sehingga edukasi pasien untuk segera melapor bila demam atau nyeri tenggorokan jauh lebih penting.
- A. Sel tiroid autoimun tidak menginfiltrasi sumsum tulang pada penyakit Graves.
- B. Defisiensi B12 menyebabkan anemia megaloblastik, bukan agranulositosis akut.
- D. Reaksi tipe I biasanya bermanifestasi urtikaria atau anafilaksis, bukan neutropenia berat.
- E. Tidak ada bukti hemolisis pada kasus ini karena hemoglobin normal.
[Tiroid] Diagnosis dan tatalaksana awal krisis tiroid (thyroid storm) — angle: t
1 soalSeorang perempuan berusia 40 tahun dengan riwayat hipertiroidisme yang tidak terkontrol dibawa ke IGD dengan penurunan kesadaran sejak 3 jam. Keluarga mengatakan pasien demam tinggi dan gelisah sejak kemarin. Pemeriksaan fisik: suhu 39,8°C, frekuensi nadi 160 kali/menit ireguler, tekanan darah 90/60 mmHg, frekuensi napas 28 kali/menit, GCS E3M5V3, tremor, dan struma difus teraba. Elektrokardiografi menunjukkan fibrilasi atrium rapid. Apakah tatalaksana awal yang paling tepat diberikan segera setelah stabilisasi jalan napas dan sirkulasi?
- ALevotiroksin dosis rendah untuk menstabilkan kadar hormon
- BPropiltiourasil dosis tinggi, propranolol, hidrokortison, dan pendinginan aktif
- CIodin radioaktif dosis tinggi segera
- DMetimazol dosis tunggal rendah dan observasi rawat jalan
- ETiroidektomi emergensi dalam 24 jam
Lihat jawaban
Krisis tiroid adalah kedaruratan endokrin yang didiagnosis secara klinis (kriteria Burch-Wartofsky) berdasarkan hipertiroidisme berat dengan disfungsi termoregulasi, kardiovaskular, gastrointestinal, dan sistem saraf pusat. Tatalaksana awal meliputi obat antitiroid dosis tinggi (PTU lebih disukai karena juga menghambat konversi T4 ke T3 perifer), beta-blocker seperti propranolol untuk mengontrol gejala adrenergik dan takiaritmia, kortikosteroid seperti hidrokortison untuk mengatasi relatif insufisiensi adrenal dan menghambat konversi T4-T3, serta pendinginan aktif untuk hipertermia. Iodine (misalnya larutan Lugol) baru diberikan satu jam setelah obat antitiroid untuk menghambat pelepasan hormon tiroid yang sudah terbentuk.
- A. Levotiroksin akan memperburuk kondisi karena pasien sudah mengalami kelebihan hormon tiroid.
- C. Iodin radioaktif adalah terapi definitif jangka panjang, bukan tatalaksana kedaruratan akut.
- D. Dosis rendah dan rawat jalan tidak adekuat untuk kondisi yang mengancam jiwa ini.
- E. Tiroidektomi emergensi berisiko tinggi pada pasien tidak stabil dan bukan pilihan awal.
[Tiroid] Tatalaksana hipotiroidisme dengan levotiroksin dan pemantauan dosis — a
1 soalSeorang perempuan berusia 50 tahun dengan hipotiroidisme primer akibat tiroiditis Hashimoto telah mendapat levotiroksin 100 mcg/hari selama 8 minggu. Pasien mengaku rutin minum obat setiap pagi sebelum sarapan. Saat ini tidak ada keluhan berdebar atau tremor. Hasil laboratorium terbaru: TSH 12 mIU/L (N: 0,4-4,0), FT4 0,9 ng/dL (N: 0,8-1,8). Apakah tindak lanjut yang paling tepat?
- APertahankan dosis karena FT4 sudah dalam batas normal
- BHentikan levotiroksin dan ganti dengan liotironin
- CNaikkan dosis levotiroksin dan ulang TSH dalam 6-8 minggu
- DRujuk untuk tiroidektomi total
- ETurunkan dosis levotiroksin karena risiko hipertiroidisme iatrogenik
Lihat jawaban
Target terapi levotiroksin pada hipotiroidisme primer adalah normalisasi kadar TSH, bukan hanya FT4, karena TSH adalah indikator paling sensitif terhadap status tiroid pada aksis hipotalamus-hipofisis-tiroid yang masih intak. TSH yang masih tinggi (12 mIU/L) menunjukkan dosis levotiroksin belum adekuat meskipun FT4 sudah mendekati normal, sehingga dosis perlu dinaikkan. Setelah penyesuaian dosis, kadar TSH perlu diperiksa ulang setelah 6-8 minggu karena itulah waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kondisi steady state akibat waktu paruh levotiroksin yang panjang (sekitar 7 hari). Evaluasi terlalu cepat akan memberikan hasil yang belum representatif terhadap dosis baru.
- A. TSH yang masih tinggi menunjukkan dosis belum adekuat meskipun FT4 mendekati normal.
- B. Liotironin tidak direkomendasikan sebagai terapi rutin karena waktu paruh pendek dan risiko fluktuasi kadar.
- D. Tiroidektomi tidak diindikasikan pada hipotiroidisme yang responsif terhadap terapi hormon pengganti.
- E. Tidak ada tanda hipertiroidisme sehingga menurunkan dosis tidak tepat dan akan memperburuk kontrol.
[Tiroid] Diagnosis dan tatalaksana awal koma miksedema — angle: tatalaksana awal
1 soalSeorang perempuan berusia 68 tahun dengan riwayat hipotiroidisme yang putus obat sejak 6 bulan dibawa ke IGD dalam kondisi tidak responsif setelah ditemukan tergeletak di rumah pada cuaca dingin. Pemeriksaan fisik: suhu 32,5°C, frekuensi nadi 48 kali/menit, tekanan darah 80/50 mmHg, frekuensi napas 10 kali/menit dangkal, GCS E1M4V2, kulit kering dan edema periorbital, refleks fisiologis menurun. Gula darah sewaktu 65 mg/dL. Setelah jalan napas diamankan, apakah tatalaksana farmakologis awal yang paling tepat?
- AMetimazol oral dosis tinggi
- BLevotiroksin intravena dosis loading dan hidrokortison intravena
- CInsulin intravena untuk mengatasi hipoglikemia
- DPropranolol intravena untuk mengontrol bradikardia
- ELevotiroksin oral dosis rendah dan observasi tanpa steroid
Lihat jawaban
Koma miksedema adalah kedaruratan endokrin dengan mortalitas tinggi yang ditandai hipotermia, bradikardia, hipotensi, penurunan kesadaran, dan riwayat hipotiroidisme yang tidak terkontrol, sering dipicu oleh faktor pencetus seperti paparan dingin atau infeksi. Tatalaksana awal memerlukan levotiroksin intravena dosis loading untuk segera mengoreksi defisiensi hormon tiroid secara sistemik, serta hidrokortison intravena yang diberikan bersamaan karena kemungkinan insufisiensi adrenal relatif yang menyertai dan untuk mencegah krisis adrenal akibat pemberian hormon tiroid tanpa cadangan kortisol adekuat. Levotiroksin oral tidak dipilih karena absorpsi gastrointestinal tidak dapat diandalkan pada pasien dengan penurunan kesadaran dan kemungkinan ileus.
- A. Metimazol digunakan pada hipertiroidisme, bukan pada koma miksedema yang merupakan hipotiroidisme berat.
- C. Hipoglikemia pada kasus ini ringan dan bukan masalah utama; insulin berisiko memperburuk kondisi.
- D. Bradikardia pada koma miksedema disebabkan hipotiroidisme itu sendiri, bukan indikasi beta-blocker yang justru berbahaya.
- E. Rute oral tidak diandalkan pada pasien tidak sadar dan steroid tetap harus diberikan untuk mencegah krisis adrenal.
[Tiroid] Pendekatan nodul tiroid: indikasi FNAB dan USG tiroid — angle: best tes
1 soalSeorang perempuan berusia 38 tahun datang ke poliklinik karena menyadari ada benjolan di leher sejak 3 bulan tanpa nyeri. Tidak ada keluhan berdebar, penurunan berat badan, atau suara serak. Tidak ada riwayat radiasi leher maupun keluarga dengan kanker tiroid. Pemeriksaan fisik: nodul tiroid tunggal diameter 1,8 cm, konsistensi kenyal, mobile, tanpa pembesaran kelenjar getah bening leher. Hasil TSH 1,2 mIU/L (N: 0,4-4,0). Ultrasonografi tiroid menunjukkan nodul hipoekoik dengan batas tidak tegas, mikrokalsifikasi, dan vaskularisasi internal meningkat. Apakah pemeriksaan lanjutan yang paling tepat?
- ABiopsi aspirasi jarum halus (FNAB) tiroid
- BObservasi dengan USG ulang setelah 2 tahun
- CPemeriksaan kadar kalsitonin serum rutin
- DTiroidektomi total langsung tanpa biopsi
- EPemeriksaan sidik tiroid (thyroid scan) dengan iodin radioaktif
Lihat jawaban
Nodul tiroid dengan TSH normal dan gambaran ultrasonografi berisiko tinggi untuk malignansi, yaitu hipoekoik, batas tidak tegas, mikrokalsifikasi, dan vaskularisasi internal meningkat, merupakan indikasi kuat untuk dilakukan biopsi aspirasi jarum halus (FNAB) guna menentukan sifat sitologi nodul tersebut. FNAB merupakan pemeriksaan baku untuk mengevaluasi nodul tiroid yang dicurigai ganas karena akurat, minimal invasif, dan dapat mengarahkan tatalaksana selanjutnya berdasarkan sistem klasifikasi sitologi seperti Bethesda. Sidik tiroid hanya diindikasikan bila TSH rendah untuk membedakan nodul fungsional (hot) dari nonfungsional (cold), yang tidak relevan pada kasus ini karena TSH normal.
- B. Observasi tanpa biopsi tidak tepat karena gambaran USG menunjukkan ciri kecurigaan tinggi malignansi.
- C. Kalsitonin rutin tidak direkomendasikan pada semua nodul tiroid kecuali ada kecurigaan karsinoma tiroid meduler atau riwayat keluarga MEN2.
- D. Tiroidektomi tanpa konfirmasi sitologi terlebih dahulu tidak sesuai alur diagnostik standar nodul tiroid.
- E. Sidik tiroid hanya bermanfaat bila TSH rendah untuk menilai nodul fungsional, tidak relevan pada kasus dengan TSH normal.
[Tiroid] Diagnosis struma endemik dan peran defisiensi iodium — angle: mekanisme
1 soalSeorang perempuan berusia 30 tahun yang tinggal di daerah pegunungan terpencil datang dengan benjolan di leher yang membesar perlahan sejak 2 tahun tanpa nyeri. Ia mengaku banyak tetangga di desanya juga memiliki benjolan serupa di leher. Pasien tidak mengeluh berdebar, tremor, atau penurunan berat badan. Pemeriksaan fisik: pembesaran tiroid difus derajat II, konsistensi kenyal, tanpa nodul teraba, nadi 80 kali/menit. Hasil laboratorium: TSH 5,8 mIU/L (N: 0,4-4,0), FT4 0,9 ng/dL (N: 0,8-1,8). Apakah mekanisme utama yang mendasari kondisi ini?
- APeningkatan sekresi TSH kompensatorik akibat sintesis hormon tiroid yang terganggu karena kekurangan iodium
- BMutasi somatik pada gen reseptor TSH yang menyebabkan aktivasi konstitutif
- CInfiltrasi limfositik kronik yang merusak jaringan tiroid
- DProduksi hormon tiroid ektopik oleh jaringan tiroid heterotopik
- EAutoantibodi terhadap reseptor TSH yang merangsang kelenjar tiroid
Lihat jawaban
Struma endemik terjadi pada populasi yang tinggal di daerah dengan tanah rendah iodium sehingga asupan iodium dari makanan tidak mencukupi kebutuhan sintesis hormon tiroid. Kekurangan iodium menyebabkan produksi T4 dan T3 menurun, yang kemudian memicu peningkatan sekresi TSH oleh hipofisis melalui mekanisme feedback negatif untuk mempertahankan kadar hormon tiroid. TSH yang meningkat kronik merangsang hipertrofi dan hiperplasia sel folikel tiroid sehingga terjadi pembesaran kelenjar tiroid (goiter) difus, sering tanpa disertai disfungsi tiroid yang berat karena adanya kompensasi. Pencegahan dilakukan melalui program fortifikasi garam beriodium sesuai program nasional penanggulangan gangguan akibat kekurangan iodium (GAKI).
- B. Mutasi somatik reseptor TSH mendasari adenoma toksik, bukan goiter difus endemik.
- C. Infiltrasi limfositik kronik khas untuk tiroiditis Hashimoto, bukan struma endemik.
- D. Jaringan tiroid heterotopik tidak relevan dengan pola epidemiologi dan presentasi kasus ini.
- E. Mekanisme ini khas untuk penyakit Graves, bukan struma endemik akibat defisiensi iodium.
Pertanyaan umum
Apakah ini soal asli UKMPPD?
Bukan. Ini soal latihan orisinal yang ditulis bergaya UKMPPD sesuai blueprint ujian. Setiap soal dikerjakan ulang oleh model kedua yang independen tanpa melihat kunci, dan soal dengan kunci yang diperdebatkan dihapus.
Bagaimana cara memakai soal endokrin & metabolik ini?
Kerjakan kuis dulu tanpa melihat jawaban, lalu baca pembahasan setiap soal yang salah atau ditebak. Poin penting di bawah setiap jawaban adalah hal yang perlu diingat.
Apakah soalnya gratis?
Ya. Semua soal, jawaban, dan pembahasan di halaman ini gratis tanpa perlu mendaftar.
Topik UKMPPD lainnya
UKMPPD diselenggarakan oleh Panitia Nasional UKMPPD. WhiteCoat Pro tidak berafiliasi dengan maupun didukung oleh lembaga tersebut. Semua soal adalah soal latihan orisinal: ditulis oleh tim editorial WhiteCoat Pro dengan bantuan AI dan diperiksa oleh model AI kedua yang independen, yang mengerjakan setiap soal tanpa melihat kunci; soal dengan kunci yang diperdebatkan dihapus. Ini bukan soal ujian asli. Untuk belajar, bukan saran medis.