Masuk
UKMPPD · Indonesia

Soal UKMPPD penyakit infeksi tropis

50 soal orisinal bergaya UKMPPD tentang penyakit infeksi tropis. Setiap soal dilengkapi jawaban benar, pembahasan, alasan pilihan lain salah, dan poin penting. Kerjakan di kuis atau baca di bawah, dikelompokkan per bagian.

Soal50 dengan jawaban
Bagian21
Pilihan per soal5
Waktu≈ 75 menit
UKMPPD Penyakit infeksi tropis: kuis latihanPilih jawaban untuk langsung melihat jawaban benar dan pembahasannya. Skor terbaik Anda tersimpan di browser ini.

Demam Tifoid

5 soal
1

Seorang perempuan berusia 22 tahun datang ke puskesmas dengan demam sejak 6 hari yang lalu. Demam dirasakan semakin tinggi setiap harinya, terutama pada sore dan malam hari, disertai nyeri kepala, nyeri perut, dan penurunan nafsu makan. Pasien juga mengeluh sulit buang air besar sejak 3 hari. Pemeriksaan fisik: kesadaran kompos mentis, suhu 38,9°C, frekuensi nadi 76 kali/menit, frekuensi napas 20 kali/menit. Lidah tampak kotor dengan bagian tengah berselaput putih dan tepi hiperemis. Abdomen teraba lemas dengan nyeri tekan epigastrium ringan. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?

  1. ALeptospirosis
  2. BMalaria falciparum
  3. CHepatitis A akut
  4. DDemam tifoid
  5. EDemam dengue
Lihat jawaban
Jawaban: D. Demam tifoid

Pola demam naik bertahap (step ladder) yang memburuk pada sore-malam hari, disertai lidah tifoid (kotor di tengah, hiperemis di tepi), bradikardi relatif (nadi tidak sesuai kenaikan suhu), serta gangguan gastrointestinal seperti konstipasi atau diare merupakan gambaran klasik demam tifoid minggu pertama. Bradikardi relatif terjadi karena efek endotoksin Salmonella typhi terhadap sistem saraf otonom jantung. Diagnosis pada tahap ini bersifat klinis karena pemeriksaan penunjang seperti kultur darah atau Widal belum optimal pada hari-hari awal.

  • A. Leptospirosis khas dengan nyeri betis hebat, injeksi konjungtiva, dan riwayat kontak air banjir atau tikus.
  • B. Malaria falciparum menimbulkan demam intermiten dengan menggigil dan berkeringat, biasanya ada riwayat bepergian ke daerah endemis.
  • C. Hepatitis A akut ditandai ikterus dan urin gelap yang belum tampak pada kasus ini.
  • E. Demam dengue biasanya bersifat tinggi mendadak (demam pelana) dengan nyeri retroorbital dan trombositopenia, tanpa lidah tifoid.
Poin penting: Demam tifoid minggu pertama ditandai demam naik bertahap, lidah tifoid, dan bradikardi relatif akibat efek endotoksin terhadap sistem otonom jantung.
2

Seorang laki-laki berusia 30 tahun datang ke puskesmas dengan demam sejak 5 hari, disertai nyeri kepala dan mual. Dokter puskesmas melakukan uji Widal dan didapatkan titer aglutinin O 1/320 dan titer aglutinin H 1/160. Pasien tinggal di daerah endemis tifoid dan tidak memiliki data titer Widal sebelumnya untuk perbandingan. Apakah keterbatasan utama uji Widal pada kasus ini yang perlu dipertimbangkan sebelum menegakkan diagnosis?

  1. AHasil dapat positif akibat reaksi silang dan infeksi berulang di daerah endemis sehingga sensitivitas dan spesifisitasnya rendah
  2. BUji Widal hanya dapat mendeteksi Salmonella typhi serotipe tertentu yang jarang beredar di Indonesia
  3. CTiter aglutinin pada uji Widal selalu menurun drastis setelah pemberian antipiretik
  4. DUji Widal hanya dapat dilakukan pada sampel darah vena sentral sehingga sulit dikerjakan di puskesmas
  5. EUji Widal memerlukan inkubasi selama 14 hari sebelum hasil dapat dibaca
Lihat jawaban
Jawaban: A. Hasil dapat positif akibat reaksi silang dan infeksi berulang di daerah endemis sehingga sensitivitas dan spesifisitasnya rendah

Uji Widal mendeteksi antibodi aglutinin terhadap antigen O dan H Salmonella typhi, namun pada populasi di daerah endemis seperti Indonesia, titer dasar (baseline) masyarakat sering sudah tinggi akibat infeksi berulang atau vaksinasi sebelumnya, sehingga terjadi reaksi silang dengan Salmonella lain dan menurunkan nilai diagnostiknya. Tanpa titer pembanding dari populasi setempat atau kenaikan titer serial (empat kali lipat), hasil tunggal yang tinggi tidak dapat dipastikan menandakan infeksi aktif. Oleh karena itu Widal sebaiknya hanya digunakan sebagai penunjang dan bukan sebagai konfirmasi diagnostik tunggal.

  • B. Uji Widal mendeteksi antigen O dan H Salmonella typhi yang umum beredar, bukan serotipe langka.
  • C. Pemberian antipiretik tidak memengaruhi titer aglutinin secara langsung.
  • D. Uji Widal dapat dikerjakan dari sampel darah vena perifer biasa, bukan hanya darah sentral.
  • E. Uji Widal berbasis aglutinasi serum dan dapat dibaca dalam hitungan jam, tidak memerlukan inkubasi 14 hari.
Poin penting: Uji Widal memiliki sensitivitas dan spesifisitas rendah di daerah endemis karena reaksi silang dan titer dasar populasi yang tinggi, sehingga tidak dapat berdiri sendiri untuk diagnosis demam tifoid.
3

Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun dibawa ke IGD rumah sakit dengan demam sejak 4 hari yang semakin tinggi, disertai nyeri perut dan nafsu makan menurun. Dokter mencurigai demam tifoid dan berencana melakukan pemeriksaan kultur darah untuk konfirmasi diagnosis. Kapankah waktu pengambilan sampel kultur darah yang memberikan hasil paling sensitif pada pasien ini?

  1. APada minggu pertama saat demam masih tinggi, sebelum pemberian antibiotik
  2. BSegera setelah suhu tubuh pasien turun menjadi normal
  3. CPada minggu ketiga saat terjadi komplikasi perforasi usus
  4. DMinimal 7 hari setelah pasien mendapat terapi antibiotik empiris
  5. EPada minggu kedua setelah muncul ruam rose spot di abdomen
Lihat jawaban
Jawaban: A. Pada minggu pertama saat demam masih tinggi, sebelum pemberian antibiotik

Kultur darah merupakan baku emas (gold standard) diagnosis demam tifoid karena dapat mengisolasi langsung Salmonella typhi. Sensitivitas tertinggi kultur darah terjadi pada minggu pertama sakit saat bakteremia primer masih berlangsung dan sebelum pasien menerima antibiotik, karena pemberian antibiotik akan menurunkan jumlah bakteri dalam darah dan mengurangi hasil positif. Pada minggu kedua dan seterusnya, bakteri lebih banyak terdapat di jaringan limfoid usus (plak Peyer) dibanding dalam darah sehingga sensitivitas kultur darah menurun, dan pemeriksaan kultur feses atau sumsum tulang menjadi lebih relevan.

  • B. Suhu tubuh yang sudah normal tidak menjamin bakteremia, dan penundaan ini menurunkan akurasi diagnosis awal.
  • C. Minggu ketiga adalah fase komplikasi, bakteremia dalam darah sudah jauh berkurang.
  • D. Pemberian antibiotik sebelumnya justru menurunkan sensitivitas kultur karena menekan pertumbuhan bakteri.
  • E. Pada minggu kedua, bakteremia mulai menurun sehingga sensitivitas kultur darah lebih rendah dibanding minggu pertama.
Poin penting: Kultur darah adalah gold standard diagnosis demam tifoid dengan sensitivitas tertinggi pada minggu pertama sakit sebelum pemberian antibiotik.
4

Seorang laki-laki berusia 24 tahun dirawat di bangsal dengan demam tifoid sejak 16 hari yang lalu. Pasien mengaku sempat berobat namun tidak menuntaskan pengobatan. Pada hari ke-16 sakit, pasien mengeluh nyeri perut hebat yang muncul mendadak dan menyebar ke seluruh lapang abdomen, disertai perut yang semakin kembung. Pemeriksaan fisik: tampak sakit berat, tekanan darah 90/60 mmHg, nadi 118 kali/menit, suhu 38,2°C. Abdomen tampak distensi, nyeri tekan seluruh lapang abdomen dengan defans muskular, bising usus tidak terdengar. Apakah komplikasi yang paling mungkin terjadi pada pasien ini?

  1. AKolesistitis akut
  2. BPerforasi usus
  3. CIleus obstruktif akibat massa tumor
  4. DGastritis erosif akut
  5. EPankreatitis akut
Lihat jawaban
Jawaban: B. Perforasi usus

Perforasi usus merupakan komplikasi berat demam tifoid yang paling sering terjadi pada minggu ketiga sakit, akibat nekrosis plak Peyer di ileum terminal yang menembus dinding usus. Gejalanya berupa nyeri perut hebat mendadak, distensi abdomen, defans muskular, dan tanda peritonitis generalisata disertai tanda syok seperti hipotensi dan takikardia. Bising usus yang menghilang menandakan ileus paralitik akibat peritonitis. Kondisi ini merupakan kedaruratan bedah yang memerlukan laparotomi segera selain resusitasi cairan dan antibiotik.

  • A. Kolesistitis akut memberikan nyeri terlokalisasi di kuadran kanan atas dengan tanda Murphy positif.
  • C. Ileus obstruktif akibat tumor tidak sesuai dengan perjalanan akut demam tifoid pada pasien usia muda ini.
  • D. Gastritis erosif akut biasanya menimbulkan nyeri epigastrium dan hematemesis, bukan peritonitis generalisata.
  • E. Pankreatitis akut biasanya menimbulkan nyeri epigastrium menjalar ke punggung, bukan nyeri seluruh abdomen dengan defans generalisata.
Poin penting: Perforasi usus adalah komplikasi berat demam tifoid yang khas terjadi pada minggu ketiga akibat nekrosis plak Peyer dan bermanifestasi sebagai peritonitis akut.
5

Seorang perempuan berusia 35 tahun bekerja sebagai penjamah makanan di sebuah katering. Tiga bulan yang lalu ia pernah dirawat dengan demam tifoid dan telah menyelesaikan pengobatan antibiotik sesuai anjuran dengan perbaikan klinis. Saat ini ia datang kontrol tanpa keluhan demam maupun gangguan pencernaan. Dokter ingin memastikan pasien tidak menjadi sumber penularan bagi orang lain di lingkungan kerjanya. Apakah pemeriksaan yang paling tepat dilakukan untuk menyingkirkan status karier tifoid kronik pada pasien ini?

  1. APemeriksaan titer Widal serial setiap bulan selama satu tahun
  2. BPemeriksaan feses rutin untuk telur cacing dan parasit usus
  3. CPemeriksaan darah tepi lengkap dan hitung jenis leukosit
  4. DPemeriksaan serologi IgM dan IgG Salmonella typhi
  5. EKultur feses atau kultur cairan duodenum/empedu untuk Salmonella typhi
Lihat jawaban
Jawaban: E. Kultur feses atau kultur cairan duodenum/empedu untuk Salmonella typhi

Karier tifoid kronik didefinisikan sebagai ekskresi Salmonella typhi dalam feses atau urin yang menetap lebih dari satu tahun setelah infeksi akut, dan bakteri biasanya bersarang di kandung empedu. Kultur feses atau kultur cairan duodenum/empedu merupakan pemeriksaan baku untuk mendeteksi keberadaan bakteri yang masih bertahan pasca pengobatan, terutama penting pada individu dengan pekerjaan berisiko tinggi menularkan penyakit seperti penjamah makanan. Jika kultur positif, diperlukan terapi eradikasi karier dengan antibiotik yang dapat menembus kandung empedu, seperti siprofloksasin jangka panjang.

  • A. Titer Widal tidak dapat membedakan infeksi lampau dengan status karier aktif dan tidak akurat untuk tujuan ini.
  • B. Pemeriksaan parasit usus tidak relevan untuk mendeteksi karier Salmonella typhi.
  • C. Darah tepi lengkap tidak dapat mendeteksi keberadaan bakteri Salmonella typhi dalam tubuh.
  • D. Serologi IgM dan IgG hanya menunjukkan riwayat pajanan, bukan status ekskresi bakteri aktif.
Poin penting: Status karier tifoid kronik ditegakkan melalui kultur feses atau cairan empedu yang positif Salmonella typhi menetap lebih dari satu tahun pasca infeksi akut.

Demam Berdarah Dengue

6 soal
6

Seorang laki-laki berusia 19 tahun datang ke puskesmas dengan demam sejak 4 hari yang lalu. Hari ini demam dirasakan mulai turun, namun pasien justru mengeluh nyeri perut hebat di ulu hati disertai muntah berulang sebanyak 5 kali dalam 6 jam terakhir dan tampak lemas. Pemeriksaan fisik: kesadaran kompos mentis, tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 92 kali/menit, akral hangat, tidak ada perdarahan aktif. Hasil rapid test NS1 dengue positif. Apakah tindakan yang paling tepat dilakukan dokter puskesmas terhadap pasien ini?

  1. AMelakukan rehidrasi oral di puskesmas lalu memulangkan pasien jika keluhan berkurang
  2. BMemberikan terapi rawat jalan dengan parasetamol dan anjuran minum banyak
  3. CMerujuk pasien untuk rawat inap karena terdapat tanda bahaya dengue
  4. DMenjadwalkan kontrol ulang keesokan hari tanpa pemeriksaan laboratorium lanjutan
  5. EMemberikan antiemetik injeksi tunggal dan observasi selama 2 jam sebelum dipulangkan
Lihat jawaban
Jawaban: C. Merujuk pasien untuk rawat inap karena terdapat tanda bahaya dengue

Nyeri perut hebat dan muntah berulang (lebih dari 3 kali dalam 24 jam) merupakan tanda bahaya (warning signs) infeksi dengue menurut kriteria WHO, terutama bila muncul saat fase penurunan demam yang merupakan periode kritis kebocoran plasma. Tanda bahaya lain meliputi perdarahan mukosa, letargi atau gelisah, pembesaran hati, serta peningkatan hematokrit mendadak bersamaan penurunan trombosit cepat. Pasien dengan tanda bahaya memerlukan rujukan ke fasilitas yang mampu melakukan pemantauan ketat dan rawat inap untuk observasi tanda syok dini serta terapi cairan intravena.

  • A. Rehidrasi oral saja di puskesmas tidak adekuat untuk memantau fase kritis yang berisiko kebocoran plasma mendadak.
  • B. Rawat jalan tidak tepat karena pasien sudah menunjukkan tanda bahaya yang berisiko progresif menjadi syok dengue.
  • D. Menunda pemeriksaan dan rujukan berisiko keterlambatan penanganan jika pasien jatuh ke syok dengue.
  • E. Antiemetik tunggal dengan observasi singkat tidak cukup karena fase kritis dengue dapat berlangsung 24-48 jam.
Poin penting: Nyeri perut hebat dan muntah persisten merupakan tanda bahaya dengue yang mengharuskan rujukan untuk rawat inap guna pemantauan fase kritis.
7

Seorang perempuan berusia 19 tahun dirawat dengan diagnosis demam berdarah dengue hari sakit ke-5. Suhu tubuh sudah turun menjadi 36,8°C sejak 12 jam lalu, namun pasien tampak lebih lemas, akral dingin, dan tekanan darah 100/85 mmHg. Pemeriksaan hematokrit menunjukkan kenaikan dari 38% menjadi 46% dibandingkan hari sebelumnya, disertai efusi pleura minimal pada foto toraks. Dokter menjelaskan kepada keluarga bahwa fase ini merupakan fase paling berbahaya karena terjadi perembesan cairan dari pembuluh darah ke jaringan sekitar.

  1. AKoagulasi intravaskular diseminata primer menjadi penyebab utama perpindahan cairan ke ruang ekstravaskular pada fase ini
  2. BInfeksi virus dengue memicu pelepasan mediator inflamasi yang meningkatkan permeabilitas kapiler tanpa kerusakan struktural endotel yang nyata
  3. CTrombositopenia berat menyebabkan perdarahan masif ke jaringan interstisial yang dipersepsikan sebagai kebocoran plasma
  4. DVirus dengue menginduksi vasokonstriksi sistemik yang menurunkan tekanan hidrostatik kapiler sehingga cairan berpindah ke intravaskular
  5. EReplikasi virus dengue secara langsung merusak endotel pembuluh darah sehingga sel endotel mengalami nekrosis dan ruptur
Lihat jawaban
Jawaban: B. Infeksi virus dengue memicu pelepasan mediator inflamasi yang meningkatkan permeabilitas kapiler tanpa kerusakan struktural endotel yang nyata

Pada fase kritis DBD, infeksi virus dengue memicu respons imun dengan pelepasan sitokin dan mediator inflamasi (seperti TNF-alfa, IL-6, dan NS1 virus) yang menyebabkan disfungsi glikokaliks endotel dan peningkatan permeabilitas kapiler secara sementara dan reversibel. Peningkatan permeabilitas ini menyebabkan kebocoran plasma ke ruang ekstravaskular tanpa disertai kerusakan struktural endotel yang permanen, sehingga ditandai dengan peningkatan hematokrit, efusi pleura, dan asites. Fase ini berlangsung 24-48 jam dan merupakan periode paling kritis karena risiko syok hipovolemik. Pemahaman mekanisme ini mendasari pentingnya pemantauan hematokrit dan tanda vital secara ketat pada fase ini.

  • A. DIC dapat terjadi sebagai komplikasi lanjut pada DBD berat, namun bukan mekanisme primer kebocoran plasma pada fase kritis.
  • C. Kebocoran plasma pada DBD bukan disebabkan oleh perdarahan masif, melainkan oleh perpindahan cairan plasma akibat peningkatan permeabilitas kapiler.
  • D. Mekanisme kebocoran plasma pada DBD bukan melalui vasokonstriksi, melainkan peningkatan permeabilitas kapiler yang menyebabkan cairan keluar dari intravaskular.
  • E. Kerusakan endotel pada DBD bersifat fungsional akibat mediator inflamasi, bukan nekrosis struktural langsung oleh virus.
Poin penting: Kebocoran plasma pada fase kritis DBD terjadi akibat peningkatan permeabilitas kapiler yang diinduksi mediator inflamasi, bersifat reversibel tanpa kerusakan struktural endotel permanen.
8

Seorang laki-laki berusia 24 tahun dirawat dengan demam berdarah dengue hari sakit ke-4. Nilai hematokrit saat masuk rumah sakit adalah 40%. Setelah mendapat terapi cairan kristaloid rumatan, pada pemeriksaan ulang 6 jam kemudian hematokrit meningkat menjadi 49%, trombosit turun dari 85.000/µL menjadi 62.000/µL, tekanan darah 110/80 mmHg, frekuensi nadi 102 kali/menit, akral hangat, dan produksi urin masih baik. Pasien tampak gelisah namun tidak tampak tanda syok.

  1. AHematokrit yang meningkat disertai trombositopenia tanpa tanda syok menandakan pasien sudah memasuki fase konvalesens
  2. BPenurunan trombosit merupakan indikator utama untuk menentukan kebutuhan transfusi trombosit segera pada pasien ini
  3. CKombinasi hematokrit tinggi dan trombosit rendah tanpa gangguan hemodinamik menunjukkan perlunya transfusi plasma segar beku
  4. DKenaikan hematokrit lebih dari 20% dari nilai dasar menunjukkan kebocoran plasma bermakna dan memerlukan peningkatan jumlah cairan resusitasi
  5. ENilai hematokrit tidak relevan untuk pemantauan karena trombositopenia sudah cukup menentukan derajat keparahan DBD
Lihat jawaban
Jawaban: D. Kenaikan hematokrit lebih dari 20% dari nilai dasar menunjukkan kebocoran plasma bermakna dan memerlukan peningkatan jumlah cairan resusitasi

Peningkatan hematokrit lebih dari 20% dari nilai dasar (baseline) merupakan indikator objektif kebocoran plasma yang bermakna pada DBD dan menjadi dasar utama untuk menyesuaikan kecepatan atau volume cairan resusitasi, sesuai pedoman tata laksana DBD Kemenkes. Pada kasus ini, kenaikan dari 40% menjadi 49% (22,5%) disertai takikardia relatif dan gelisah menunjukkan kebocoran plasma yang signifikan meski tekanan darah masih normal (fase kompensasi). Trombositopenia sendiri bukan indikasi untuk menambah volume cairan, melainkan hematokrit dan parameter hemodinamik yang menjadi acuan. Pemantauan hematokrit serial setiap 4-6 jam pada fase kritis sangat penting untuk mendeteksi kebocoran plasma dini sebelum terjadi syok dekompensasi.

  • A. Kombinasi hematokrit naik dan trombosit turun pada fase ini justru menandakan fase kritis yang sedang berlangsung, bukan fase konvalesens.
  • B. Transfusi trombosit tidak diindikasikan hanya berdasarkan angka trombosit tanpa perdarahan aktif atau trombositopenia sangat berat disertai manifestasi klinis.
  • C. Plasma segar beku diberikan pada kondisi koagulopati dengan perdarahan aktif, bukan berdasarkan kombinasi hematokrit dan trombosit saja.
  • E. Hematokrit justru merupakan parameter utama yang mencerminkan derajat kebocoran plasma dan sangat relevan untuk pemantauan terapi cairan.
Poin penting: Peningkatan hematokrit lebih dari 20% dari nilai dasar menjadi indikator utama kebocoran plasma bermakna yang memerlukan penyesuaian volume cairan resusitasi pada DBD.
9

Seorang anak perempuan berusia 8 tahun dibawa ke IGD dengan riwayat demam 5 hari yang mendadak turun. Pada pemeriksaan didapatkan kesadaran somnolen, tekanan darah 80/70 mmHg, frekuensi nadi 140 kali/menit teraba lemah, akral dingin dan lembap, capillary refill time lebih dari 3 detik, serta hematokrit 52%. Berat badan anak 24 kg. Dokter mendiagnosis dengue shock syndrome dan segera memasang dua jalur intravena.

  1. AMemberikan cairan rumatan kristaloid dengan kecepatan 5 mL/kgBB/jam tanpa bolus awal
  2. BMemberikan cairan koloid hiperonkotik sebagai cairan lini pertama sebanyak 20 mL/kgBB dalam 1 jam
  3. CMemberikan dekstrosa 5% dalam air secara bolus cepat 20 mL/kgBB dalam 10 menit
  4. DMemberikan transfusi whole blood segera sebanyak 10 mL/kgBB tanpa pemeriksaan golongan darah
  5. EMemberikan kristaloid isotonik (ringer laktat) secara bolus cepat 10-20 mL/kgBB dalam 10-15 menit
Lihat jawaban
Jawaban: E. Memberikan kristaloid isotonik (ringer laktat) secara bolus cepat 10-20 mL/kgBB dalam 10-15 menit

Pada dengue shock syndrome (DSS), tata laksana awal sesuai pedoman Kemenkes dan WHO adalah resusitasi cepat dengan kristaloid isotonik seperti ringer laktat atau ringer asetat sebanyak 10-20 mL/kgBB diberikan secara bolus dalam 10-15 menit, kemudian dievaluasi respons hemodinamik. Pasien ini menunjukkan tanda syok dekompensasi (tekanan nadi menyempit, akral dingin, CRT memanjang, takikardia) yang memerlukan resusitasi cairan agresif dan segera. Dekstrosa tidak digunakan sebagai cairan resusitasi karena cepat berdifusi ke intraseluler dan tidak efektif mengisi volume intravaskular. Koloid dicadangkan untuk syok refrakter setelah pemberian kristaloid awal gagal memperbaiki hemodinamik.

  • A. Kecepatan cairan rumatan tanpa bolus tidak adekuat untuk mengatasi syok dekompensasi yang memerlukan resusitasi cepat segera.
  • B. Koloid bukan cairan lini pertama pada DSS; kristaloid isotonik tetap menjadi pilihan awal sebelum beralih ke koloid jika syok refrakter.
  • C. Dekstrosa 5% bukan cairan resusitasi yang tepat karena tidak efektif mengisi volume intravaskular dan berisiko menyebabkan hiponatremia serta hiperglikemia.
  • D. Transfusi whole blood tanpa indikasi perdarahan aktif atau hematokrit turun mendadak tidak sesuai, dan pemeriksaan golongan darah tetap diperlukan sebelum transfusi.
Poin penting: Resusitasi awal pada dengue shock syndrome menggunakan kristaloid isotonik bolus cepat 10-20 mL/kgBB dalam 10-15 menit dengan evaluasi respons hemodinamik berkala.
10

Seorang laki-laki berusia 30 tahun datang ke puskesmas dengan demam tinggi mendadak sejak 2 hari yang lalu disertai nyeri kepala, nyeri retroorbital, dan mialgia. Tidak terdapat perdarahan maupun tanda bahaya lain. Dokter ingin melakukan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis infeksi dengue pada fase demam awal ini.

  1. APemeriksaan PCR RNA dengue hanya dapat dilakukan setelah hari kelima demam
  2. BPemeriksaan IgG anti-dengue karena lebih sensitif dibandingkan NS1 pada fase demam akut
  3. CPemeriksaan antigen NS1 karena dapat terdeteksi sejak hari pertama hingga hari kelima demam
  4. DPemeriksaan kombinasi IgM dan IgG dengue tanpa NS1 sudah cukup akurat pada fase demam awal
  5. EPemeriksaan IgM anti-dengue karena sudah dapat terdeteksi sejak hari pertama demam
Lihat jawaban
Jawaban: C. Pemeriksaan antigen NS1 karena dapat terdeteksi sejak hari pertama hingga hari kelima demam

Antigen NS1 (nonstructural protein 1) virus dengue dapat terdeteksi dalam darah sejak hari pertama demam hingga sekitar hari kelima, menjadikannya pemeriksaan pilihan pada fase demam akut awal sebelum antibodi terbentuk. IgM anti-dengue umumnya baru terdeteksi mulai hari ke-4 hingga ke-5 setelah onset demam, sehingga kurang sensitif bila diperiksa terlalu awal. IgG anti-dengue lebih bermakna untuk mendeteksi infeksi sekunder atau infeksi lampau, bukan untuk diagnosis fase akut dini. Pemilihan jenis pemeriksaan serologi yang tepat sesuai fase sakit sangat penting untuk menghindari hasil negatif palsu.

  • A. PCR RNA dengue justru paling sensitif pada fase viremia awal (hari 1-5 demam), bukan setelah hari kelima.
  • B. IgG anti-dengue mencerminkan infeksi lampau atau sekunder dan tidak lebih sensitif dibanding NS1 pada fase demam akut dini.
  • D. Kombinasi IgM dan IgG tanpa NS1 kurang sensitif pada fase demam awal karena antibodi belum terbentuk optimal pada hari kedua.
  • E. IgM anti-dengue baru terdeteksi mulai hari ke-4 hingga ke-5 demam, sehingga kurang sensitif bila diperiksa pada hari kedua demam.
Poin penting: Antigen NS1 dengue merupakan pemeriksaan penunjang pilihan pada fase demam akut awal (hari 1-5) karena dapat terdeteksi sebelum antibodi IgM terbentuk.
11

Seorang perempuan berusia 22 tahun dirawat dengan demam berdarah dengue. Pada hari sakit ke-7, pasien sudah tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik, nafsu makan membaik, tidak ada distres napas maupun nyeri perut, tekanan darah 115/75 mmHg stabil, frekuensi nadi 80 kali/menit, hematokrit 36% (stabil dibandingkan nilai dasar), dan hasil laboratorium terakhir menunjukkan trombosit 58.000/µL dengan tren meningkat dari hari sebelumnya 45.000/µL.

  1. APasien dapat dipulangkan karena memenuhi kriteria klinis dan hematokrit stabil meskipun trombosit belum normal
  2. BPasien harus tetap dirawat sampai hitung trombosit mencapai nilai normal di atas 150.000/µL
  3. CPasien perlu transfusi trombosit terlebih dahulu sebelum dapat dipulangkan dengan aman
  4. DPasien harus dirawat hingga hari sakit ke-10 tanpa memandang kondisi klinis saat ini
  5. EPasien harus tetap dirawat sampai hematokrit turun di bawah 30% untuk memastikan tidak ada kebocoran plasma
Lihat jawaban
Jawaban: A. Pasien dapat dipulangkan karena memenuhi kriteria klinis dan hematokrit stabil meskipun trombosit belum normal

Kriteria pemulangan pasien DBD menurut pedoman Kemenkes tidak mensyaratkan trombosit kembali normal, melainkan mencakup bebas demam minimal 24 jam tanpa antipiretik, perbaikan keadaan klinis (nafsu makan baik, tidak ada distres napas), hemodinamik stabil, hematokrit stabil, serta trombosit dengan tren meningkat (umumnya di atas 50.000/µL sudah dapat dipertimbangkan pulang bila kriteria lain terpenuhi). Pasien ini sudah memenuhi seluruh kriteria tersebut: afebris lebih dari 24 jam, hemodinamik stabil, hematokrit stabil, dan trombosit menunjukkan tren naik. Menunggu trombosit normal sepenuhnya akan memperpanjang rawat inap secara tidak perlu karena trombositopenia dapat menetap beberapa hari setelah fase kritis terlewati.

  • B. Trombosit tidak harus normal sepenuhnya untuk pemulangan; yang penting adalah tren peningkatan disertai kriteria klinis lain terpenuhi.
  • C. Transfusi trombosit tidak diindikasikan tanpa perdarahan aktif, dan trombositopenia ringan dengan tren naik bukan kontraindikasi pemulangan.
  • D. Lama rawat ditentukan oleh kriteria klinis dan laboratorium, bukan oleh hari sakit tertentu secara kaku.
  • E. Hematokrit yang diminta adalah stabil, bukan harus turun ke angka tertentu; hematokrit 36% yang stabil sudah memenuhi kriteria.
Poin penting: Kriteria pemulangan DBD meliputi bebas demam 24 jam, hemodinamik dan hematokrit stabil, serta trombosit dengan tren meningkat, tanpa harus menunggu nilai trombosit normal sepenuhnya.
Kesulitan di satu topik?Minta asisten WhiteCoat Pro menjelaskannya, mengubah catatan Anda menjadi flashcard, atau menyusun rencana belajar untuk UKMPPD.
Buka asisten

Malaria

6 soal
12

Seorang laki-laki berusia 35 tahun, pekerja tambang, datang ke puskesmas di daerah endemis malaria di Papua dengan keluhan demam yang muncul secara berkala sejak 5 hari lalu. Pasien menggambarkan pola khas berupa periode menggigil hebat selama kurang lebih 30 menit, diikuti demam tinggi hingga 39,5°C selama beberapa jam, kemudian berkeringat banyak dan suhu kembali normal. Di antara episode tersebut pasien merasa baik. Pemeriksaan fisik menunjukkan splenomegali teraba 2 cm di bawah arkus kosta dan konjungtiva anemis.

  1. ADemam tifoid, ditegakkan berdasarkan pola demam intermiten dan splenomegali pada daerah endemis
  2. BAbses hati amuba, ditegakkan berdasarkan demam berkala dan nyeri perut kanan atas
  3. CDemam dengue, ditegakkan berdasarkan demam tinggi mendadak disertai splenomegali
  4. DMalaria, ditegakkan berdasarkan trias malaria (periode dingin, panas, berkeringat) disertai splenomegali pada daerah endemis
  5. ELeptospirosis, ditegakkan berdasarkan riwayat pekerjaan dan splenomegali disertai anemia
Lihat jawaban
Jawaban: D. Malaria, ditegakkan berdasarkan trias malaria (periode dingin, panas, berkeringat) disertai splenomegali pada daerah endemis

Diagnosis malaria secara klinis ditegakkan berdasarkan trias malaria klasik yaitu stadium dingin (cold stage) dengan menggigil, stadium panas (hot stage) dengan demam tinggi, dan stadium berkeringat (sweating stage), yang berkaitan dengan siklus skizogoni eritrositer parasit Plasmodium. Faktor epidemiologi seperti tinggal atau bekerja di daerah endemis malaria (Papua termasuk daerah endemis tinggi di Indonesia) sangat mendukung diagnosis. Splenomegali dan anemia merupakan temuan khas akibat hemolisis eritrosit terinfeksi dan hiperaktivitas sistem retikuloendotelial limpa. Meskipun diagnosis klinis dapat dicurigai dari trias ini, konfirmasi laboratorium dengan hapusan darah tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis dan menentukan spesies Plasmodium.

  • A. Demam tifoid khasnya bersifat step ladder/kontinu, bukan berkala dengan trias dingin-panas-berkeringat yang khas malaria.
  • B. Abses hati amuba ditandai nyeri perut kanan atas yang menonjol, bukan pola trias demam berkala seperti pada malaria.
  • C. Dengue memiliki demam bifasik dengan trombositopenia dan tidak memiliki pola trias dingin-panas-berkeringat yang khas.
  • E. Leptospirosis tidak memiliki pola demam berkala khas trias malaria dan biasanya disertai ikterus serta nyeri otot betis.
Poin penting: Diagnosis klinis malaria ditegakkan berdasarkan trias malaria (stadium dingin, panas, berkeringat) disertai splenomegali pada pasien dengan riwayat tinggal atau bekerja di daerah endemis.
13

Seorang perempuan berusia 28 tahun dengan riwayat perjalanan ke Nusa Tenggara Timur 2 minggu lalu datang dengan demam berkala disertai menggigil. Dokter puskesmas mencurigai malaria dan ingin melakukan pemeriksaan mikroskopik darah. Petugas laboratorium membuat dua jenis preparat dari sampel darah kapiler pasien untuk pemeriksaan di bawah mikroskop.

  1. AHapusan darah tebal memerlukan fiksasi dengan metanol sebelum pewarnaan Giemsa, sedangkan hapusan darah tipis tidak memerlukan fiksasi
  2. BHapusan darah tebal digunakan untuk mendeteksi keberadaan parasit karena volume darah yang diperiksa lebih banyak, sedangkan hapusan darah tipis digunakan untuk identifikasi spesies berdasarkan morfologi
  3. CHapusan darah tebal digunakan untuk identifikasi spesies berdasarkan morfologi, sedangkan hapusan darah tipis digunakan untuk mendeteksi keberadaan parasit
  4. DKedua jenis hapusan darah memiliki fungsi yang identik dan dapat digunakan saling menggantikan tanpa perbedaan sensitivitas
  5. EHapusan darah tipis memiliki sensitivitas lebih tinggi untuk mendeteksi parasitemia rendah dibandingkan hapusan darah tebal
Lihat jawaban
Jawaban: B. Hapusan darah tebal digunakan untuk mendeteksi keberadaan parasit karena volume darah yang diperiksa lebih banyak, sedangkan hapusan darah tipis digunakan untuk identifikasi spesies berdasarkan morfologi

Hapusan darah tebal (thick smear) mengandung volume darah lebih banyak per lapang pandang sehingga lebih sensitif untuk mendeteksi keberadaan parasit, terutama pada parasitemia rendah, dan digunakan sebagai pemeriksaan skrining awal. Hapusan darah tipis (thin smear) memiliki sel darah merah yang tersusun dalam satu lapisan sehingga morfologi parasit dan eritrosit terjaga baik, memungkinkan identifikasi spesies Plasmodium secara akurat berdasarkan ciri morfologi khas. Kedua jenis preparat ini saling melengkapi dan merupakan baku emas (gold standard) diagnosis malaria menurut pedoman Kemenkes. Pewarnaan menggunakan Giemsa, dengan hapusan tipis difiksasi metanol sebelum pewarnaan sedangkan hapusan tebal tidak difiksasi agar eritrosit dapat lisis dan memudahkan deteksi parasit.

  • A. Fiksasi metanol justru dilakukan pada hapusan tipis, sedangkan hapusan tebal tidak difiksasi agar eritrosit dapat lisis.
  • C. Fungsi kedua jenis hapusan tertukar; hapusan tebal untuk deteksi parasit, hapusan tipis untuk identifikasi spesies.
  • D. Kedua jenis hapusan memiliki fungsi dan sensitivitas yang berbeda, tidak dapat saling menggantikan secara penuh.
  • E. Hapusan darah tebal, bukan hapusan tipis, yang memiliki sensitivitas lebih tinggi untuk mendeteksi parasitemia rendah.
Poin penting: Hapusan darah tebal digunakan untuk deteksi keberadaan parasit malaria karena lebih sensitif, sedangkan hapusan darah tipis digunakan untuk identifikasi spesies Plasmodium berdasarkan morfologi.
14

Seorang petugas laboratorium puskesmas memeriksa hapusan darah tipis dari dua pasien demam berkala yang berbeda. Pada preparat pasien pertama ditemukan eritrosit yang terinfeksi tidak membesar, dengan bentuk parasit menyerupai cincin halus (ring form) yang kadang ditemukan lebih dari satu per eritrosit, serta ditemukan gambaran banana-shaped gametosit. Pada preparat pasien kedua ditemukan eritrosit yang membesar dan pucat dengan titik-titik halus (Schüffner's dots), serta tampak bentuk trofozoit ameboid dan skizon berisi 12-24 merozoit.

  1. APasien pertama terinfeksi Plasmodium malariae, pasien kedua terinfeksi Plasmodium ovale
  2. BPasien pertama terinfeksi Plasmodium falciparum, pasien kedua terinfeksi Plasmodium vivax
  3. CPasien pertama terinfeksi Plasmodium vivax, pasien kedua terinfeksi Plasmodium falciparum
  4. DKedua pasien terinfeksi Plasmodium falciparum dengan derajat parasitemia yang berbeda
  5. EKedua pasien terinfeksi Plasmodium vivax pada stadium siklus eritrositer yang berbeda
Lihat jawaban
Jawaban: B. Pasien pertama terinfeksi Plasmodium falciparum, pasien kedua terinfeksi Plasmodium vivax

Plasmodium falciparum memiliki ciri khas eritrosit terinfeksi yang tidak membesar, bentuk ring form yang halus dan sering multipel dalam satu eritrosit (infeksi multipel), serta gametosit berbentuk khas seperti bulan sabit atau pisang (banana-shaped), yang sesuai dengan temuan pasien pertama. Plasmodium vivax ditandai dengan eritrosit yang membesar dan pucat akibat invasi parasit, disertai titik-titik Schüffner (Schüffner's dots) yang merupakan granula sitoplasma eritrosit terinfeksi, serta trofozoit berbentuk ameboid dan skizon matang berisi 12-24 merozoit, sesuai temuan pasien kedua. Identifikasi morfologi ini penting karena menentukan pilihan terapi, terutama kebutuhan primakuin untuk eradikasi hipnozoit pada infeksi P. vivax. Perbedaan morfologi ini menjadi dasar utama diagnosis spesies pada pemeriksaan mikroskopik hapusan darah tipis.

  • A. P. malariae memiliki skizon band form khas dan P. ovale memiliki eritrosit oval berumbai, tidak sesuai gambaran pada kedua pasien.
  • C. Ciri morfologi pada soal tertukar; pasien pertama sesuai gambaran falciparum, pasien kedua sesuai gambaran vivax.
  • D. Gambaran pasien kedua (eritrosit membesar, Schüffner's dots, skizon 12-24 merozoit) tidak sesuai dengan falciparum.
  • E. Gambaran pasien pertama (ring form halus multipel, gametosit banana-shaped) tidak sesuai dengan vivax.
Poin penting: Plasmodium falciparum ditandai ring form halus multipel dan gametosit banana-shaped, sedangkan Plasmodium vivax ditandai eritrosit membesar dengan Schüffner's dots dan skizon berisi 12-24 merozoit.
15

Seorang laki-laki berusia 28 tahun, berat badan 60 kg, datang ke puskesmas dengan demam naik turun sejak 4 hari, disertai menggigil dan berkeringat banyak. Pasien baru pulang dari Papua 2 minggu lalu. Pemeriksaan fisik: kesadaran kompos mentis, tekanan darah 110/70 mmHg, frekuensi nadi 92 kali/menit, frekuensi napas 20 kali/menit, suhu 38,9°C. Tidak ditemukan tanda bahaya. Hasil pemeriksaan mikroskopis hapusan darah tepi menunjukkan trofozoit bentuk cincin dan gametosit berbentuk pisang. Dokter memutuskan memberikan terapi lini pertama sesuai program nasional. Apakah regimen obat yang paling tepat diberikan?

  1. ADihydroartemisinin-piperakuin dosis tunggal tanpa primakuin
  2. BArtesunat intravena selama 3 hari dilanjutkan dihydroartemisinin-piperakuin
  3. CKina sulfat selama 7 hari ditambah doksisiklin selama 7 hari
  4. DDihydroartemisinin-piperakuin selama 3 hari ditambah primakuin dosis tunggal
  5. EKlorokuin selama 3 hari ditambah primakuin selama 14 hari
Lihat jawaban
Jawaban: D. Dihydroartemisinin-piperakuin selama 3 hari ditambah primakuin dosis tunggal

Hapusan darah tepi menunjukkan gametosit berbentuk pisang khas Plasmodium falciparum. Sesuai Pedoman Nasional Pengendalian Malaria Kemenkes RI, terapi lini pertama malaria falciparum tanpa komplikasi adalah ACT berupa dihydroartemisinin-piperakuin (DHP) selama 3 hari, ditambah primakuin dosis tunggal 0,25 mg/kgBB pada hari pertama untuk membunuh gametosit dan memutus penularan. Artesunin bekerja cepat menurunkan parasitemia sedangkan piperakuin bekerja lebih lama sebagai partner obat untuk mencegah resistensi. Pasien tanpa tanda bahaya tidak memerlukan terapi parenteral.

  • A. Falciparum tetap memerlukan primakuin dosis tunggal untuk membunuh gametosit meski tidak perlu eradikasi hipnozoit.
  • B. Artesunat IV diindikasikan hanya pada malaria berat, bukan pada kasus tanpa komplikasi seperti pasien ini.
  • C. Kina-doksisiklin merupakan regimen alternatif/lini kedua, bukan lini pertama pada kasus tanpa komplikasi.
  • E. Klorokuin sudah tidak digunakan untuk falciparum karena resistensi luas di Indonesia, dan primakuin 14 hari hanya untuk eradikasi hipnozoit pada vivax/ovale.
Poin penting: Terapi lini pertama malaria falciparum tanpa komplikasi di Indonesia adalah dihydroartemisinin-piperakuin 3 hari ditambah primakuin dosis tunggal untuk membunuh gametosit.
16

Seorang laki-laki berusia 34 tahun datang ke puskesmas dengan demam berulang setiap 2 hari sejak 5 hari yang lalu. Pasien tinggal di daerah endemis malaria di Nusa Tenggara Timur. Hapusan darah tepi menunjukkan skizon berbentuk pita dengan titik Schüffner pada eritrosit yang membesar, sesuai dengan Plasmodium vivax. Pasien telah mendapat dihydroartemisinin-piperakuin selama 3 hari dan akan dilanjutkan primakuin selama 14 hari untuk mencegah relaps. Sebelum pemberian primakuin, dokter meminta pemeriksaan kadar enzim tertentu pada eritrosit. Apakah tujuan pemeriksaan tersebut?

  1. AMendeteksi defisiensi piruvat kinase yang berisiko anemia hemolitik kronik
  2. BMenilai kadar methemoglobin reduktase untuk risiko methemoglobinemia
  3. CMendeteksi defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase yang berisiko hemolisis akut
  4. DMendeteksi defisiensi enzim glukosa-6-fosfatase pada penyakit simpanan glikogen
  5. EMenilai aktivitas laktat dehidrogenase sebagai indikator hemolisis intravaskular
Lihat jawaban
Jawaban: C. Mendeteksi defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase yang berisiko hemolisis akut

Primakuin bersifat oksidatif dan pada individu dengan defisiensi G6PD dapat menyebabkan hemolisis akut berat karena eritrosit kehilangan kemampuan menetralisir stres oksidatif melalui jalur pentosa fosfat. Sebelum pemberian primakuin dosis eradikasi hipnozoit (14 hari) pada malaria vivax/ovale, idealnya dilakukan skrining kadar G6PD terutama di fasilitas yang memiliki kapasitas pemeriksaan tersebut. Pada defisiensi G6PD berat, primakuin diganti dengan regimen dosis mingguan yang diawasi atau dihindari. Pemeriksaan ini penting karena prevalensi defisiensi G6PD cukup tinggi di beberapa wilayah endemis malaria di Indonesia.

  • A. Defisiensi piruvat kinase menyebabkan anemia hemolitik kongenital tetapi tidak berkaitan dengan toksisitas primakuin.
  • B. Methemoglobin reduktase berkaitan dengan metabolisme hemoglobin teroksidasi, bukan mekanisme utama toksisitas primakuin pada G6PD.
  • D. Defisiensi glukosa-6-fosfatase berkaitan dengan penyakit simpanan glikogen tipe I, tidak relevan dengan primakuin.
  • E. LDH adalah petanda hemolisis yang sudah terjadi, bukan pemeriksaan skrining risiko sebelum pemberian obat.
Poin penting: Sebelum pemberian primakuin dosis eradikasi hipnozoit, perlu dipertimbangkan status G6PD karena risiko hemolisis akut pada individu defisien.
17

Seorang perempuan berusia 26 tahun dibawa ke IGD rumah sakit dengan penurunan kesadaran sejak 6 jam yang lalu. Tiga hari sebelumnya pasien mengalami demam tinggi setelah pulang dari Kalimantan. Pemeriksaan fisik: GCS E2V2M4, tekanan darah 90/60 mmHg, frekuensi nadi 118 kali/menit, frekuensi napas 28 kali/menit, suhu 39,8°C, akral dingin. Pemeriksaan laboratorium: kadar glukosa darah sewaktu 48 mg/dL, hemoglobin 8,2 g/dL, trombosit 42.000/µL, kreatinin serum 2,8 mg/dL. Hapusan darah tepi menunjukkan parasitemia Plasmodium falciparum 8%. Apakah terapi awal yang paling tepat diberikan pada pasien ini?

  1. AKina dihidroklorida intramuskular
  2. BDihydroartemisinin-piperakuin per oral
  3. CArtesunat intravena
  4. DPrimakuin dosis tunggal per oral
  5. EKlorokuin intravena
Lihat jawaban
Jawaban: C. Artesunat intravena

Pasien memenuhi kriteria malaria berat menurut WHO/Kemenkes berupa penurunan kesadaran, syok, hipoglikemia, anemia berat, trombositopenia berat, gangguan ginjal akut, dan parasitemia tinggi (lebih dari 5%). Tatalaksana lini pertama malaria berat adalah artesunat intravena dengan dosis 2,4 mg/kgBB pada jam 0, 12, dan 24, kemudian setiap 24 jam hingga pasien dapat minum obat oral. Artesunat IV terbukti menurunkan mortalitas dibanding kina parenteral pada studi multisenter besar (SEAQUAMAT dan AQUAMAT). Setelah kondisi klinis membaik, terapi dilanjutkan dengan ACT oral lengkap.

  • A. Kina parenteral merupakan alternatif bila artesunat tidak tersedia, bukan pilihan utama pada fasilitas yang memiliki artesunat IV.
  • B. Terapi oral tidak tepat pada pasien dengan penurunan kesadaran dan tidak dapat menelan obat dengan aman.
  • D. Primakuin tidak memiliki efek skizontosidal darah yang cepat dan tidak diberikan pada kondisi akut malaria berat.
  • E. Klorokuin tidak diberikan secara intravena dan sudah resisten pada falciparum di Indonesia.
Poin penting: Malaria berat dengan tanda bahaya seperti penurunan kesadaran, syok, atau parasitemia tinggi memerlukan artesunat intravena sebagai terapi lini pertama.

Leptospirosis

4 soal
18

Seorang laki-laki berusia 40 tahun datang ke puskesmas dengan demam tinggi mendadak sejak 3 hari, disertai nyeri kepala berat dan nyeri hebat pada kedua betis yang membuatnya sulit berjalan. Riwayat 5 hari sebelumnya pasien membersihkan rumah yang terendam banjir selama 2 hari tanpa menggunakan sepatu boot. Pemeriksaan fisik: tekanan darah 100/70 mmHg, frekuensi nadi 104 kali/menit, suhu 39,2°C, sklera ikterik, injeksi konjungtiva bilateral tanpa sekret, dan nyeri tekan pada otot gastrocnemius bilateral. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?

  1. ADemam tifoid
  2. BDemam dengue
  3. CLeptospirosis
  4. DMalaria falciparum
  5. EHepatitis A akut
Lihat jawaban
Jawaban: C. Leptospirosis

Kombinasi riwayat kontak dengan air banjir, demam mendadak, nyeri otot betis (myalgia gastrocnemius) yang khas, injeksi konjungtiva tanpa sekret, dan ikterik sangat mengarah pada leptospirosis. Leptospira masuk melalui kulit yang luka atau mukosa saat kontak dengan air atau tanah yang terkontaminasi urin hewan terinfeksi, terutama tikus. Fase awal (leptospiremia) ditandai gejala mirip influenza dengan nyeri betis khas, sedangkan ikterik menandakan kemungkinan progresi ke fase imun atau sindrom Weil. Diagnosis klinis ini perlu dikonfirmasi dengan pemeriksaan serologis atau kultur sesuai fasilitas yang tersedia.

  • A. Demam tifoid memberikan gambaran demam step ladder dengan gejala gastrointestinal, bukan myalgia betis dan injeksi konjungtiva.
  • B. Demam dengue biasanya disertai trombositopenia dan manifestasi perdarahan, bukan nyeri betis hebat dan ikterik dini seperti ini.
  • D. Malaria biasanya memberikan demam periodik dengan menggigil dan berkeringat, tanpa nyeri betis khas atau riwayat kontak air banjir.
  • E. Hepatitis A tidak disertai nyeri otot betis yang berat dan injeksi konjungtiva, serta tidak berkaitan langsung dengan kontak air banjir.
Poin penting: Leptospirosis harus dicurigai pada pasien dengan riwayat kontak air banjir disertai demam, nyeri betis hebat, injeksi konjungtiva, dan ikterik.
19

Seorang petugas kesehatan di puskesmas merujuk pasien dengan kecurigaan klinis leptospirosis ke laboratorium rujukan untuk konfirmasi diagnosis. Dokter ingin melakukan pemeriksaan yang dapat mengidentifikasi serogrup Leptospira penyebab infeksi dengan akurasi tertinggi, meskipun memerlukan pemeliharaan biakan hidup berbagai serovar dan hasil baru tersedia setelah beberapa hari. Apakah pemeriksaan yang dimaksud?

  1. APolymerase chain reaction (PCR) darah
  2. BEnzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) IgM
  3. CKultur urin pada media Fletcher
  4. DRapid diagnostic test berbasis IgM lateral flow
  5. EMicroscopic agglutination test (MAT)
Lihat jawaban
Jawaban: E. Microscopic agglutination test (MAT)

Microscopic agglutination test (MAT) merupakan baku emas (gold standard) diagnosis leptospirosis karena mampu mendeteksi antibodi spesifik serogrup dengan mereaksikan serum pasien terhadap panel antigen Leptospira hidup dari berbagai serovar. Pemeriksaan ini memerlukan laboratorium rujukan khusus karena harus memelihara biakan serovar hidup, dan hasil memerlukan pengambilan sampel serum berpasangan (akut dan konvalesen) sehingga hasil definitif baru didapat setelah beberapa hari hingga minggu. MAT memberikan informasi serogrup penyebab yang penting untuk kepentingan epidemiologi, meskipun untuk diagnosis cepat di lapangan sering digunakan rapid test atau ELISA IgM.

  • A. PCR darah dapat mendeteksi DNA Leptospira pada fase awal penyakit namun bukan metode baku emas untuk konfirmasi serologis.
  • B. ELISA IgM berguna untuk skrining cepat tetapi bukan baku emas karena tidak mengidentifikasi serogrup secara spesifik.
  • C. Kultur media Fletcher dapat mengisolasi organisme namun sensitivitasnya rendah dan prosesnya memerlukan waktu sangat lama, bukan baku emas diagnosis.
  • D. Rapid test IgM memberikan hasil cepat untuk skrining namun sensitivitas dan spesifisitasnya lebih rendah dibanding MAT dan tidak menentukan serogrup.
Poin penting: Microscopic agglutination test (MAT) adalah baku emas diagnosis leptospirosis karena dapat mengidentifikasi serogrup penyebab infeksi secara spesifik.
20

Dua pasien datang dengan kecurigaan klinis leptospirosis. Pasien pertama, laki-laki 30 tahun, demam ringan dan nyeri betis tanpa ikterik atau gangguan hemodinamik, dapat berobat jalan di puskesmas. Pasien kedua, laki-laki 45 tahun, datang dengan ikterik berat, oliguria, dan tekanan darah 88/56 mmHg sehingga dirujuk ke rumah sakit untuk rawat inap. Apakah pilihan antibiotik yang paling tepat untuk masing-masing pasien secara berurutan?

  1. APenisilin G intravena untuk pasien pertama; doksisiklin oral untuk pasien kedua
  2. BCiprofloxacin oral untuk pasien pertama; ceftriaxone intravena untuk pasien kedua
  3. CDoksisiklin oral untuk pasien pertama; penisilin G intravena untuk pasien kedua
  4. DAzitromisin oral untuk kedua pasien tanpa perbedaan regimen
  5. EDoksisiklin intravena untuk kedua pasien dengan dosis yang sama
Lihat jawaban
Jawaban: C. Doksisiklin oral untuk pasien pertama; penisilin G intravena untuk pasien kedua

Pada leptospirosis ringan tanpa tanda bahaya yang dapat ditatalaksana rawat jalan, antibiotik pilihan adalah doksisiklin oral 2 kali 100 mg selama 7 hari. Pada leptospirosis berat dengan tanda sindrom Weil seperti ikterik berat, gangguan ginjal, dan gangguan hemodinamik, pasien harus dirawat inap dan diberikan antibiotik parenteral berupa penisilin G intravena karena absorpsi oral tidak dapat diandalkan pada kondisi berat dan diperlukan kadar obat yang cepat tercapai. Ceftriaxone intravena dapat menjadi alternatif penisilin G pada kasus berat, namun penisilin G tetap menjadi regimen standar menurut pedoman nasional.

  • A. Urutan ini tertukar; penisilin G intravena diperlukan untuk kasus berat, bukan kasus ringan yang dapat ditangani dengan antibiotik oral.
  • B. Ciprofloxacin bukan pilihan standar untuk leptospirosis ringan menurut pedoman nasional, meskipun ceftriaxone dapat dipakai sebagai alternatif pada kasus berat.
  • D. Azitromisin bukan regimen standar lini pertama leptospirosis pada pedoman nasional dan tidak membedakan derajat keparahan penyakit.
  • E. Doksisiklin intravena tidak digunakan sebagai regimen standar untuk leptospirosis berat; penisilin G intravena adalah pilihan utama pada kondisi tersebut.
Poin penting: Leptospirosis ringan ditangani dengan doksisiklin oral, sedangkan leptospirosis berat memerlukan penisilin G intravena di fasilitas rawat inap.
21

Seorang laki-laki berusia 48 tahun dirawat di rumah sakit dengan diagnosis leptospirosis berat. Pada hari perawatan ke-5, pasien mengalami perburukan berupa ikterik yang semakin pekat, urine berwarna gelap dengan volume menurun menjadi 250 mL dalam 24 jam, serta perdarahan gusi ringan. Pemeriksaan laboratorium: bilirubin total 12,8 mg/dL, kreatinin serum 4,6 mg/dL, kalium serum 6,2 mmol/L, dan trombosit 38.000/µL. Apakah kondisi yang paling tepat menggambarkan perburukan klinis pasien ini?

  1. AKoagulasi intravaskular diseminata akibat sepsis gram negatif
  2. BSindrom Weil dengan gagal ginjal akut dan gangguan koagulasi
  3. CSindrom hepatorenal akibat sirosis hati dekompensata
  4. DSindrom hemolitik uremik akibat infeksi Escherichia coli enterohemoragik
  5. ENekrosis tubular akut akibat rhabdomiolisis berat
Lihat jawaban
Jawaban: B. Sindrom Weil dengan gagal ginjal akut dan gangguan koagulasi

Sindrom Weil adalah bentuk leptospirosis berat yang ditandai trias klasik ikterik berat, gagal ginjal akut, dan diatesis hemoragik, sebagaimana ditemukan pada pasien ini berupa bilirubin sangat tinggi, kreatinin meningkat dengan oliguria, hiperkalemia, serta trombositopenia dengan perdarahan gusi. Gagal ginjal pada sindrom Weil terjadi akibat nefritis interstisial dan nekrosis tubular yang disebabkan efek toksin langsung Leptospira serta deposisi kompleks imun. Hiperkalemia pada pasien ini merupakan komplikasi serius gagal ginjal akut yang memerlukan tatalaksana segera termasuk pertimbangan terapi pengganti ginjal. Pengenalan dini sindrom Weil penting karena angka mortalitasnya dapat mencapai lebih dari 10% bila tidak ditangani adekuat.

  • A. DIC dapat terjadi sebagai komplikasi sepsis berat namun gambaran klinis pasien ini lebih sesuai dengan trias klasik sindrom Weil pada konteks leptospirosis.
  • C. Sindrom hepatorenal terjadi pada pasien sirosis hati dekompensata dengan asites, tidak sesuai konteks infeksi leptospirosis akut ini.
  • D. Sindrom hemolitik uremik berkaitan dengan infeksi E. coli penghasil toksin Shiga dan gejala diare berdarah, tidak sesuai dengan presentasi klinis ini.
  • E. Rhabdomiolisis dapat menyebabkan gagal ginjal akut namun tidak menjelaskan ikterik berat dan koagulopati yang ditemukan pada pasien ini.
Poin penting: Sindrom Weil merupakan bentuk leptospirosis berat dengan trias ikterik berat, gagal ginjal akut, dan diatesis hemoragik yang berisiko mortalitas tinggi.

Filariasis

3 soal
22

Seorang laki-laki berusia 45 tahun, petani di daerah endemis Papua, datang ke puskesmas dengan pembengkakan tungkai kanan yang progresif sejak 2 tahun terakhir. Kulit tungkai menebal, berlipat-lipat, dan mengeras seperti kulit kayu. Pasien juga mengeluhkan pembesaran kantong buah zakar kanan sejak 1 tahun lalu, tidak nyeri, dan bertambah besar perlahan. Riwayat demam berulang dengan nyeri di lipat paha disertai garis kemerahan menjalar ke bawah pernah dialami beberapa kali dalam 5 tahun terakhir. Pemeriksaan fisik: tungkai kanan edema non-pitting dengan kulit tebal berlipat, skrotum kanan membesar ukuran 15x12 cm, transiluminasi positif.

  1. AFilariasis limfatik kronik
  2. BSelulitis kronik tungkai
  3. CLimfoma dengan obstruksi limfatik
  4. DTromboflebitis vena dalam kronik
  5. EElefantiasis nostras verrucosa
Lihat jawaban
Jawaban: A. Filariasis limfatik kronik

Diagnosis filariasis limfatik kronik ditegakkan berdasarkan trias klasik: limfedema kronik progresif (elefantiasis), hidrokel, dan riwayat episode akut berulang berupa limfangitis/adenolimfangitis (demam, nyeri inguinal, garis kemerahan menjalar) di daerah endemis. Obstruksi kronik pembuluh limfe oleh cacing dewasa Wuchereria bancrofti atau Brugia menyebabkan limfedema ireversibel dan akumulasi cairan di tunika vaginalis testis. Riwayat tinggal di area endemis dan pola gejala episodik sebelum limfedema permanen sangat mendukung etiologi filarial dibanding penyebab limfedema lain. Diagnosis klinis seperti ini merupakan kompetensi dokter umum (SKDI) untuk mengenali dan merujuk penanganan lanjutan.

  • B. Selulitis kronik biasanya disertai tanda infeksi akut (eritema, nyeri tekan, demam tinggi) tanpa riwayat episode limfangitis berulang dan hidrokel.
  • C. Limfoma jarang menyebabkan hidrokel dan biasanya disertai limfadenopati generalisata serta gejala sistemik B (demam, penurunan berat badan, berkeringat malam).
  • D. Trombosis vena dalam kronik menimbulkan edema pitting dengan riwayat nyeri akut tungkai, bukan elefantiasis dan hidrokel.
  • E. Elefantiasis nostras verrucosa disebabkan oleh limfedema non-filarial kronik akibat infeksi bakteri berulang, biasanya tanpa riwayat tinggal di daerah endemis filaria dan tanpa hidrokel khas.
Poin penting: Filariasis limfatik kronik ditegakkan secara klinis dari trias limfedema progresif, hidrokel, dan riwayat episode limfangitis berulang di daerah endemis.
23

Seorang laki-laki berusia 30 tahun di daerah endemis filariasis Nias mengalami demam berulang dan nyeri pada lipat paha kanan sejak 3 hari lalu. Dokter puskesmas mencurigai filariasis limfatik dan ingin melakukan pemeriksaan sediaan darah untuk mencari mikrofilaria. Mikrofilaria Wuchereria bancrofti dan Brugia malayi di Indonesia memiliki periodisitas nokturna, yaitu jumlah mikrofilaria dalam darah tepi meningkat pada malam hari akibat sinkronisasi dengan aktivitas vektor nyamuk yang menggigit pada malam hari.

  1. APengambilan darah tepi dilakukan pukul 22.00–02.00
  2. BPengambilan darah vena sewaktu tanpa memandang waktu
  3. CPengambilan darah kapiler pukul 12.00–14.00
  4. DPengambilan darah tepi dilakukan pukul 06.00–09.00
  5. EPengambilan darah tepi dilakukan segera saat pasien demam tinggi
Lihat jawaban
Jawaban: A. Pengambilan darah tepi dilakukan pukul 22.00–02.00

Mikrofilaria W. bancrofti dan B. malayi menunjukkan periodisitas nokturna, sehingga kepadatannya dalam darah tepi tertinggi antara pukul 22.00 hingga 02.00 dini hari, bertepatan dengan waktu aktif menggigit nyamuk vektor (Culex, Anopheles, Mansonia). Pengambilan sampel pada rentang waktu ini meningkatkan sensitivitas deteksi mikrofilaria dengan sediaan darah tebal yang diwarnai Giemsa. Pemeriksaan di luar waktu tersebut dapat memberikan hasil negatif palsu meskipun pasien benar-benar terinfeksi. Prinsip ini penting diketahui karena menentukan ketepatan waktu pengambilan sampel untuk diagnosis parasitologis filariasis.

  • B. Pengambilan tanpa memperhatikan waktu mengabaikan periodisitas nokturna sehingga menurunkan sensitivitas pemeriksaan secara signifikan.
  • C. Siang hari merupakan waktu dengan kepadatan mikrofilaria paling rendah dalam darah tepi akibat sifat periodisitas nokturna.
  • D. Pagi hari bukan waktu puncak periodisitas nokturna mikrofilaria sehingga sensitivitas deteksi rendah.
  • E. Suhu tubuh tinggi saat demam tidak berkorelasi dengan periodisitas mikrofilaria yang bergantung pada ritme sirkadian, bukan gejala klinis akut.
Poin penting: Pengambilan sediaan darah tepi untuk deteksi mikrofilaria filaria harus dilakukan pada malam hari (sekitar pukul 22.00–02.00) karena periodisitas nokturna parasit.
24

Puskesmas di kabupaten endemis filariasis dengan angka mikrofilaria rate di atas 1% merencanakan kegiatan pemberian obat pencegahan massal (POMP) filariasis kepada seluruh penduduk sasaran selama 5 tahun berturut-turut sesuai program eliminasi filariasis Kementerian Kesehatan RI. Kombinasi obat yang diberikan secara oral setahun sekali kepada seluruh penduduk sasaran usia 2 tahun ke atas, kecuali ibu hamil dan anak di bawah 2 tahun, adalah dietilkarbamazin sitrat (DEC) bersama albendazol dosis tunggal.

  1. ADEC 6 mg/kgBB setiap bulan selama 12 bulan
  2. BPirantel pamoat 10 mg/kgBB dosis tunggal per tahun
  3. CDEC 6 mg/kgBB dan albendazol 400 mg dosis tunggal per tahun
  4. DAlbendazol 400 mg tiap 6 bulan tanpa DEC
  5. EIvermektin 200 mcg/kgBB dosis tunggal per tahun
Lihat jawaban
Jawaban: C. DEC 6 mg/kgBB dan albendazol 400 mg dosis tunggal per tahun

Program POMP filariasis nasional Kemenkes RI menggunakan kombinasi DEC 6 mg/kgBB dan albendazol 400 mg dosis tunggal yang diberikan sekali setahun selama minimal 5 tahun berturut-turut di daerah endemis dengan angka mikrofilaria lebih dari 1%. DEC bekerja membunuh mikrofilaria dan sebagian cacing dewasa, sedangkan albendazol bersifat makrofilarisida dan juga efektif terhadap infeksi cacing usus yang menyertai sehingga meningkatkan efikasi program. Target cakupan minimal 65% penduduk sasaran diperlukan untuk memutus rantai penularan filariasis di masyarakat. Ibu hamil, anak di bawah 2 tahun, dan penderita sakit berat dikecualikan dari program ini karena pertimbangan keamanan.

  • A. Pemberian DEC bulanan bukan protokol POMP nasional; regimen program adalah dosis tunggal tahunan selama 5 tahun berturut-turut.
  • B. Pirantel pamoat bukan obat program filariasis, melainkan digunakan untuk terapi kecacingan usus seperti askariasis dan ankilostomiasis.
  • D. Albendazol tunggal tanpa DEC tidak memberikan efek mikrofilarisida optimal sehingga tidak sesuai pedoman program eliminasi filariasis nasional.
  • E. Ivermektin digunakan pada program eliminasi filariasis di beberapa negara Afrika yang juga endemis onkoserkiasis, bukan regimen standar POMP Indonesia.
Poin penting: Program pemberian obat pencegahan massal filariasis nasional menggunakan DEC 6 mg/kgBB dan albendazol 400 mg dosis tunggal setahun sekali selama minimal 5 tahun di daerah endemis.

Kecacingan (Soil-Transmitted Helminth)

4 soal
25

Seorang anak laki-laki berusia 6 tahun dibawa ke IGD RSUD dengan keluhan muntah berulang, perut kembung, dan tidak bisa buang air besar maupun flatus sejak 2 hari. Anak tinggal di lingkungan dengan sanitasi buruk dan sering bermain tanpa alas kaki. Pemeriksaan fisik: tampak sakit berat, perut distensi, bising usus meningkat metalik, teraba massa memanjang seperti unting-unting di regio periumbilikal. Pemeriksaan feses sebelumnya (2 minggu lalu) menunjukkan telur berbentuk oval dengan dinding tebal bergerigi (mamillated) berisi larva. Foto polos abdomen menunjukkan dilatasi usus halus dengan gambaran air-fluid level.

  1. AInvaginasi akibat polip usus
  2. BIleus paralitik akibat peritonitis tuberkulosis
  3. CIntususepsi ileosekal idiopatik
  4. DObstruksi usus akibat bolus Ascaris lumbricoides
  5. EVolvulus sigmoid
Lihat jawaban
Jawaban: D. Obstruksi usus akibat bolus Ascaris lumbricoides

Obstruksi usus akibat bolus Ascaris lumbricoides terjadi pada infeksi berat dengan jumlah cacing dewasa yang banyak sehingga membentuk gumpalan (bolus) yang menyumbat lumen usus, umumnya di ileum terminal. Diagnosis didukung oleh riwayat telur Ascaris berdinding tebal bergerigi pada pemeriksaan feses sebelumnya, teraba massa memanjang khas seperti gumpalan cacing, serta gejala obstruksi usus mekanik berupa distensi, muntah, dan tidak flatus. Kondisi ini merupakan komplikasi askariasis berat yang sering dijumpai pada anak di daerah dengan sanitasi buruk dan prevalensi STH tinggi. Penanganan awal meliputi dekompresi nasogastrik dan rehidrasi, dengan tindakan bedah bila terjadi tanda strangulasi atau perforasi.

  • A. Invaginasi akibat polip usus jarang pada usia ini dan tidak dikaitkan dengan temuan telur cacing berdinding tebal bergerigi.
  • B. Peritonitis tuberkulosis memberikan gejala kronik progresif dengan asites dan tanda sistemik TB, bukan obstruksi akut dengan massa unting-unting khas cacing.
  • C. Intususepsi ideopatik khas pada bayi dengan gejala nyeri kolik episodik dan feses seperti jeli kismis (red currant jelly), bukan massa unting-unting dengan riwayat telur Ascaris.
  • E. Volvulus sigmoid lebih sering pada usia lanjut dengan riwayat konstipasi kronik, bukan anak dengan riwayat infeksi cacing.
Poin penting: Obstruksi usus pada anak dengan riwayat infeksi Ascaris lumbricoides berat ditandai oleh massa seperti unting-unting cacing dan riwayat telur berdinding tebal bergerigi pada feses.
26

Seorang perempuan berusia 35 tahun, petani yang sering bekerja di sawah tanpa alas kaki, datang dengan keluhan lemas, pucat, dan sesak saat beraktivitas sejak 3 bulan. Pemeriksaan fisik: konjungtiva anemis, tidak ada ikterus. Laboratorium: hemoglobin 7,2 g/dL, MCV 68 fL, MCHC 24 g/dL, feritin serum 8 ng/mL (rendah). Pemeriksaan feses ditemukan telur berbentuk oval, dinding tipis transparan, berisi segmen sel (blastomer) 4–8 sel. Dokter menyimpulkan anemia pasien disebabkan oleh infeksi cacing tambang kronik.

  1. ACacing menghambat absorpsi vitamin B12 di ileum terminal
  2. BLarva cacing menghancurkan eritrosit dalam sirkulasi secara langsung
  3. CToksin cacing menyebabkan hemolisis eritrosit intravaskular
  4. DCacing menginvasi sumsum tulang sehingga menekan eritropoiesis
  5. ECacing dewasa melekat pada mukosa usus dan menghisap darah inang secara terus-menerus
Lihat jawaban
Jawaban: E. Cacing dewasa melekat pada mukosa usus dan menghisap darah inang secara terus-menerus

Cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus) dewasa melekat pada mukosa usus halus menggunakan buccal capsule bergigi atau lempeng pemotong, lalu menghisap darah inang secara kronik sekaligus mengeluarkan antikoagulan yang memperpanjang perdarahan pada lokasi gigitan. Kehilangan darah kronik ini menyebabkan anemia defisiensi besi mikrositik hipokrom, ditandai MCV dan MCHC rendah serta feritin serum yang turun akibat cadangan besi yang terkikis. Semakin banyak jumlah cacing dan semakin lama infeksi berlangsung, semakin berat derajat anemia yang terjadi. Diagnosis definitif ditegakkan dengan menemukan telur cacing tambang berdinding tipis berisi blastomer pada pemeriksaan feses.

  • A. Defisiensi vitamin B12 menyebabkan anemia megaloblastik dengan MCV tinggi, bukan gambaran mikrositik hipokrom seperti pada kasus ini.
  • B. Larva cacing tambang bermigrasi melalui kulit dan paru menuju usus, tetapi tidak menghancurkan eritrosit dalam sirkulasi secara langsung.
  • C. Tidak terdapat toksin hemolitik spesifik dari cacing tambang yang menyebabkan hemolisis intravaskular; anemia terjadi akibat kehilangan darah kronik, bukan hemolisis.
  • D. Cacing tambang tidak menginvasi sumsum tulang; mekanisme anemia murni akibat kehilangan darah kronik dari saluran cerna.
Poin penting: Anemia defisiensi besi pada infeksi cacing tambang kronik terjadi akibat kehilangan darah terus-menerus dari lokasi perlekatan cacing dewasa di mukosa usus halus.
27

Seorang anak perempuan berusia 8 tahun dibawa ibunya ke puskesmas untuk program pemberian obat cacing massal tahunan di sekolah dasar sesuai kebijakan Kementerian Kesehatan RI untuk daerah dengan prevalensi kecacingan tinggi. Anak tidak memiliki keluhan khusus, tidak demam, berat badan 24 kg, dan tidak memiliki riwayat alergi obat. Program ini bertujuan menurunkan prevalensi infeksi soil-transmitted helminth (Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, cacing tambang) pada anak usia sekolah tanpa perlu pemeriksaan feses terlebih dahulu.

  1. AAlbendazol 400 mg per oral dosis tunggal
  2. BPirvinium pamoat 5 mg/kgBB dosis tunggal
  3. CIvermektin 150 mcg/kgBB dosis tunggal
  4. DMetronidazol 500 mg per oral 3 kali sehari selama 7 hari
  5. EPrazikuantel 40 mg/kgBB dosis tunggal
Lihat jawaban
Jawaban: A. Albendazol 400 mg per oral dosis tunggal

Program nasional pemberian obat cacing massal (POPM kecacingan) di Indonesia menggunakan albendazol 400 mg per oral dosis tunggal yang diberikan kepada seluruh anak usia sekolah tanpa memerlukan pemeriksaan feses terlebih dahulu, dilakukan dua kali setahun di daerah prevalensi tinggi. Albendazol bekerja menghambat polimerisasi mikrotubulus cacing sehingga mengganggu penyerapan glukosa dan menyebabkan kematian parasit, efektif terhadap Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, dan cacing tambang secara luas spektrum. Dosis tunggal dipilih karena kepraktisan, efektivitas tinggi, dan profil keamanan yang baik untuk program skala massal. Program ini merupakan strategi preventive chemotherapy sesuai rekomendasi WHO dan PNPK Kemenkes RI untuk menurunkan beban kecacingan pada anak usia sekolah.

  • B. Pirvinium pamoat digunakan khusus untuk terapi enterobiasis, bukan obat program cacingan massal nasional untuk STH secara umum.
  • C. Ivermektin digunakan terutama untuk strongiloidiasis dan filariasis pada beberapa program, bukan obat standar POPM kecacingan STH di Indonesia.
  • D. Metronidazol digunakan untuk infeksi protozoa seperti amebiasis dan giardiasis, bukan untuk STH dan bukan regimen program cacingan nasional.
  • E. Prazikuantel digunakan untuk terapi skistosomiasis dan infeksi cestoda, bukan obat pilihan program STH nasional.
Poin penting: Program pemberian obat cacing massal nasional untuk STH menggunakan albendazol 400 mg dosis tunggal yang diberikan tanpa pemeriksaan feses pendahuluan pada anak usia sekolah di daerah prevalensi tinggi.
28

Seorang anak laki-laki berusia 5 tahun dibawa ibunya ke puskesmas karena sering menggaruk area sekitar anus terutama pada malam hari sejak 3 minggu terakhir, menyebabkan anak sulit tidur dan rewel. Tidak ada demam atau gangguan pencernaan. Pemeriksaan fisik: tampak bekas garukan di sekitar anus, tidak ada tanda infeksi sekunder. Ibu menyebutkan anak tinggal bersama tiga saudara lain dalam satu kamar. Dokter ingin menegakkan diagnosis pasti infeksi cacing kremi (Enterobius vermicularis).

  1. ASwab perianal dengan selofan (scotch tape) pagi hari sebelum mandi atau defekasi
  2. BPemeriksaan darah lengkap untuk melihat eosinofilia
  3. CPemeriksaan feses rutin dengan metode konsentrasi
  4. DPemeriksaan serologi IgG anti-Enterobius
  5. EKultur feses pada media selektif
Lihat jawaban
Jawaban: A. Swab perianal dengan selofan (scotch tape) pagi hari sebelum mandi atau defekasi

Baku emas diagnosis enterobiasis adalah swab perianal menggunakan selofan transparan (scotch tape/anal swab) yang ditempelkan pada kulit perianal segera setelah bangun pagi, sebelum mandi atau defekasi, karena cacing betina Enterobius vermicularis bermigrasi ke area perianal pada malam hari untuk bertelur. Selofan yang telah ditempelkan kemudian diperiksa di bawah mikroskop untuk mencari telur berbentuk asimetris pipih sebelah (D-shaped). Pemeriksaan feses rutin kurang sensitif karena telur jarang ditemukan dalam feses akibat lokasi bertelur di luar lumen usus. Edukasi kebersihan tangan dan terapi serentak seluruh anggota keluarga penting karena tingginya risiko penularan melalui kontak langsung atau fomites dalam satu rumah.

  • B. Eosinofilia dapat menyertai berbagai infeksi parasit namun tidak spesifik dan tidak dapat memastikan diagnosis enterobiasis.
  • C. Pemeriksaan feses rutin memiliki sensitivitas rendah untuk enterobiasis karena telur cacing kremi jarang dikeluarkan bersama feses.
  • D. Pemeriksaan serologi tidak digunakan secara rutin untuk diagnosis enterobiasis karena ketersediaan terbatas dan bukan metode baku emas.
  • E. Enterobius vermicularis tidak dapat dibiakkan dengan kultur feses konvensional karena bukan merupakan mikroorganisme yang tumbuh pada media kultur.
Poin penting: Diagnosis pasti enterobiasis ditegakkan dengan swab perianal selofan (scotch tape) yang dilakukan pagi hari sebelum mandi atau defekasi untuk menemukan telur cacing kremi.

Skistosomiasis

1 soal
29

Seorang peneliti kesehatan masyarakat melakukan survei di Dataran Tinggi Lindu, Sulawesi Tengah, salah satu daerah endemis skistosomiasis satu-satunya di Indonesia yang disebabkan oleh Schistosoma japonicum varian lokal. Penduduk setempat yang bekerja di sawah dan sering kontak dengan air danau memiliki risiko tinggi terinfeksi. Siklus hidup parasit ini melibatkan keong air tawar genus Oncomelania hupensis lindoensis sebagai hospes perantara wajib sebelum parasit dapat menginfeksi manusia.

  1. ANyamuk vektor menularkan mikrofilaria Schistosoma saat menggigit manusia
  2. BLarva filariform menembus kulit kaki manusia dari tanah yang lembab
  3. CManusia terinfeksi melalui konsumsi ikan mentah yang mengandung metaserkaria
  4. DSerkaria yang dilepaskan keong Oncomelania menembus kulit manusia saat kontak dengan air yang terkontaminasi
  5. ETelur cacing tertelan langsung oleh manusia melalui air minum yang terkontaminasi
Lihat jawaban
Jawaban: D. Serkaria yang dilepaskan keong Oncomelania menembus kulit manusia saat kontak dengan air yang terkontaminasi

Siklus hidup Schistosoma japonicum memerlukan keong air tawar genus Oncomelania sebagai hospes perantara wajib; di dalam tubuh keong, mirasidium berkembang menjadi serkaria yang kemudian dilepaskan ke air dan menembus kulit manusia secara aktif saat kontak dengan air yang terkontaminasi, misalnya saat bekerja di sawah atau danau. Setelah menembus kulit, serkaria bermigrasi melalui pembuluh darah menuju sistem porta dan berkembang menjadi cacing dewasa yang bertelur di pembuluh vena mesenterika, menyebabkan reaksi granulomatosa dan fibrosis hati. Dataran Tinggi Lindu di Sulawesi Tengah merupakan satu-satunya fokus endemis skistosomiasis di Indonesia dengan keong Oncomelania hupensis lindoensis sebagai hospes perantara spesifik lokal. Pemahaman siklus hidup ini penting untuk strategi pengendalian berupa pemutusan kontak manusia dengan air yang mengandung keong terinfeksi serta program pengobatan massal prazikuantel.

  • A. Skistosomiasis tidak ditularkan melalui vektor nyamuk; penularan terjadi lewat penembusan kulit oleh serkaria dari air yang terkontaminasi.
  • B. Mekanisme larva filariform menembus kulit merupakan ciri infeksi cacing tambang (Ancylostoma/Necator), bukan skistosomiasis.
  • C. Konsumsi ikan mentah mengandung metaserkaria merupakan mekanisme penularan trematoda hati seperti Clonorchis, bukan Schistosoma.
  • E. Infeksi Schistosoma tidak terjadi melalui tertelannya telur cacing, melainkan melalui penembusan kulit oleh serkaria.
Poin penting: Skistosomiasis di Dataran Tinggi Lindu, Sulawesi Tengah, ditularkan melalui serkaria dari keong air Oncomelania yang menembus kulit manusia saat kontak dengan air terkontaminasi.

Toksoplasmosis

1 soal
30

Dua pasien berikut didiagnosis toksoplasmosis. Pasien pertama adalah perempuan usia 26 tahun, hamil 14 minggu, dengan hasil IgM dan IgG anti-Toxoplasma positif tanpa gejala neurologis. Pasien kedua adalah laki-laki usia 34 tahun dengan infeksi HIV, CD4 48 sel/µL, mengalami nyeri kepala progresif, kejang fokal, dan pada CT scan kepala ditemukan lesi cincin multipel dengan edema perifokal di kedua hemisfer otak. Apakah regimen terapi yang paling tepat untuk kedua pasien tersebut secara berurutan?

  1. ASpiramisin untuk kedua pasien karena lebih aman pada semua kondisi
  2. BPirimetamin-sulfadiazin untuk kedua pasien dengan dosis yang sama
  3. CMetronidazol untuk pasien pertama dan albendazol untuk pasien kedua
  4. DSpiramisin untuk pasien pertama dan pirimetamin-sulfadiazin-asam folinat untuk pasien kedua
  5. EPirimetamin-sulfadiazin untuk pasien pertama dan spiramisin untuk pasien kedua
Lihat jawaban
Jawaban: D. Spiramisin untuk pasien pertama dan pirimetamin-sulfadiazin-asam folinat untuk pasien kedua

Spiramisin dipilih untuk ibu hamil dengan toksoplasmosis akut karena obat ini terkonsentrasi di plasenta, mengurangi risiko transmisi ke janin, dan tidak teratogenik, meskipun tidak efektif mengobati infeksi yang sudah terjadi pada janin. Pada toksoplasmosis serebral dengan imunosupresi berat seperti HIV dengan CD4 rendah, terapi pilihan adalah kombinasi pirimetamin, sulfadiazin, dan asam folinat (leucovorin) untuk mengurangi toksisitas hematologis pirimetamin. Regimen ini bekerja sinergis menghambat sintesis folat parasit melalui penghambatan dihidrofolat reduktase dan dihidropteroat sintetase. Pemilihan terapi berbeda ini didasarkan pada perbedaan tujuan, yaitu mencegah transmisi transplasenta pada ibu hamil versus mengeradikasi infeksi aktif di jaringan otak pada pasien imunokompromais.

  • A. Spiramisin tidak adekuat untuk toksoplasmosis serebral yang mengancam jiwa pada pasien imunokompromais.
  • B. Dosis dan regimen yang sama tidak tepat karena kondisi klinis dan tujuan terapi kedua pasien berbeda.
  • C. Metronidazol dan albendazol bukan terapi lini pertama untuk toksoplasmosis pada kedua kondisi ini.
  • E. Pirimetamin-sulfadiazin berpotensi teratogenik sehingga dihindari pada trimester pertama, dan spiramisin saja tidak adekuat untuk toksoplasmosis serebral berat.
Poin penting: Spiramisin digunakan untuk toksoplasmosis akut pada ibu hamil guna mencegah transmisi ke janin, sedangkan kombinasi pirimetamin-sulfadiazin-asam folinat digunakan untuk toksoplasmosis serebral pada pasien imunokompromais.

Amebiasis dan Diare Infeksi Tropis

5 soal
31

Seorang laki-laki usia 30 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan diare berlendir dan berdarah sejak 5 hari yang lalu, disertai nyeri perut kram dan tenesmus. Frekuensi diare sekitar 8-10 kali per hari dengan volume sedikit setiap kali. Suhu tubuh 37,8°C, tekanan darah 110/70 mmHg, frekuensi nadi 92 kali/menit. Pemeriksaan abdomen didapatkan nyeri tekan ringan di regio hipogastrium tanpa tanda peritonitis. Pemeriksaan mikroskopis tinja segar menunjukkan bentuk trofozoit berinti satu dengan eritrosit di dalam sitoplasmanya. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?

  1. AAmebiasis intestinal akibat Entamoeba histolytica
  2. BInfeksi Balantidium coli
  3. CGiardiasis akibat Giardia lamblia
  4. DDisentri basiler akibat Shigella
  5. EKolitis ulseratif idiopatik
Lihat jawaban
Jawaban: A. Amebiasis intestinal akibat Entamoeba histolytica

Diagnosis amebiasis intestinal ditegakkan berdasarkan gambaran klinis disentri (tinja berlendir dan berdarah, tenesmus) disertai temuan trofozoit Entamoeba histolytica yang mengandung eritrosit terfagositosis di dalam sitoplasmanya pada pemeriksaan mikroskopis tinja segar. Temuan eritrosit intrasitoplasma ini merupakan ciri khas yang membedakan E. histolytica patogenik dari amuba komensal lain seperti Entamoeba dispar yang morfologinya identik tetapi tidak menimbulkan invasi jaringan. Pemeriksaan tinja harus dilakukan segera setelah pengambilan sampel karena trofozoit cepat mengalami lisis pada suhu ruang. Demam pada amebiasis intestinal umumnya ringan dibanding disentri basiler yang biasanya disertai demam tinggi dan gejala sistemik lebih berat.

  • B. Balantidium coli jarang menyebabkan disentri pada manusia dan memiliki morfologi bersilia yang berbeda dari trofozoit amuba.
  • C. Giardiasis menyebabkan diare berlemak kronik tanpa darah, dan pada pemeriksaan tinja ditemukan trofozoit berflagel atau kista berinti empat, bukan trofozoit dengan eritrosit.
  • D. Disentri basiler biasanya menunjukkan leukosit polimorfonuklear dominan pada tinja, bukan trofozoit dengan eritrosit intrasitoplasma.
  • E. Kolitis ulseratif tidak menunjukkan trofozoit pada tinja dan merupakan diagnosis eksklusi setelah menyingkirkan penyebab infeksi.
Poin penting: Temuan trofozoit Entamoeba histolytica yang mengandung eritrosit terfagositosis pada tinja segar pasien disentri menegakkan diagnosis amebiasis intestinal invasif.
32

Seorang laki-laki usia 42 tahun datang ke IGD rumah sakit dengan keluhan demam tinggi disertai nyeri perut kanan atas yang menjalar ke bahu kanan sejak 1 minggu. Pasien memiliki riwayat diare berdarah 2 bulan sebelumnya yang tidak diobati tuntas. Suhu tubuh 39,2°C, tekanan darah 120/80 mmHg, frekuensi nadi 108 kali/menit. Pemeriksaan fisik menunjukkan hepatomegali dengan nyeri tekan di regio hipokondrium kanan dan nyeri ketok pada sela iga kanan bawah. Pemeriksaan ultrasonografi abdomen menunjukkan massa kistik hipoekoik tunggal berdinding tidak rata berukuran 8 cm di lobus kanan hati tanpa septa internal yang jelas. Apakah komplikasi yang paling mungkin terjadi pada pasien ini?

  1. AAbses hati piogenik akibat infeksi bakteri asenden dari saluran bilier
  2. BKista hidatid hati akibat infeksi Echinococcus granulosus
  3. CAbses hati tuberkulosis akibat penyebaran hematogen Mycobacterium tuberculosis
  4. DHepatoma dengan degenerasi kistik sekunder
  5. EAbses hati amebik akibat migrasi trofozoit Entamoeba histolytica melalui vena porta
Lihat jawaban
Jawaban: E. Abses hati amebik akibat migrasi trofozoit Entamoeba histolytica melalui vena porta

Abses hati amebik merupakan komplikasi ekstraintestinal amebiasis yang terjadi ketika trofozoit Entamoeba histolytica menginvasi mukosa kolon lalu bermigrasi melalui aliran vena porta menuju hati, paling sering mengenai lobus kanan karena aliran darah porta yang dominan ke lobus tersebut. Gambaran klinis klasik berupa demam, nyeri perut kanan atas yang dapat menjalar ke bahu, dan riwayat disentri amebik sebelumnya sangat mendukung diagnosis ini. Pada ultrasonografi, abses amebik tipikal tampak sebagai lesi kistik hipoekoik tunggal, bulat hingga oval, dengan tepi tidak rata, dan biasanya tanpa septa internal yang prominen, berbeda dengan abses piogenik yang sering multipel dengan debris internal lebih heterogen. Diagnosis dapat dikonfirmasi dengan serologi antibodi anti-amuba yang hampir selalu positif pada abses hati amebik.

  • A. Abses piogenik lebih sering multipel dengan gambaran USG heterogen dan biasanya disertai riwayat kolangitis atau kolelitiasis, bukan riwayat disentri amebik.
  • B. Kista hidatid memiliki gambaran USG khas berupa kista dengan dinding tebal bergerigi atau kista anak (daughter cyst) dan tidak berkaitan dengan riwayat disentri.
  • C. Abses tuberkulosis hati sangat jarang dan biasanya disertai gejala sistemik tuberkulosis seperti penurunan berat badan kronik, bukan riwayat disentri akut.
  • D. Hepatoma dengan degenerasi kistik biasanya terjadi pada pasien dengan sirosis hati dan tidak memberikan gambaran klinis akut seperti pada kasus ini.
Poin penting: Abses hati amebik timbul akibat migrasi trofozoit Entamoeba histolytica melalui vena porta ke lobus kanan hati, ditandai demam, nyeri perut kanan atas, riwayat disentri, dan lesi kistik tunggal pada USG.
33

Seorang perempuan usia 35 tahun didiagnosis amebiasis intestinal invasif berdasarkan gejala disentri dan temuan trofozoit Entamoeba histolytica pada tinja. Setelah mendapat terapi yang sesuai dan gejala klinis membaik, pemeriksaan tinja ulang 2 minggu kemudian masih menunjukkan kista Entamoeba histolytica tanpa gejala klinis apapun. Dokter merencanakan pemberian obat tambahan untuk mengeliminasi kista dari lumen usus guna mencegah penularan lebih lanjut. Apakah pasangan obat yang paling tepat digunakan secara berurutan pada fase invasif dan fase eliminasi kista tersebut?

  1. AMetronidazol untuk fase invasif dan diyodohidroksikuin untuk eliminasi kista
  2. BMetronidazol untuk kedua fase dengan dosis yang sama
  3. CDiyodohidroksikuin untuk fase invasif dan metronidazol untuk eliminasi kista
  4. DTetrasiklin untuk fase invasif dan albendazol untuk eliminasi kista
  5. EAlbendazol untuk fase invasif dan metronidazol untuk eliminasi kista
Lihat jawaban
Jawaban: A. Metronidazol untuk fase invasif dan diyodohidroksikuin untuk eliminasi kista

Metronidazol merupakan obat amebisid jaringan (tissue amebicide) yang efektif membunuh trofozoit invasif di dinding usus dan jaringan ekstraintestinal seperti hati, sehingga menjadi terapi utama pada amebiasis intestinal invasif maupun abses hati amebik. Namun metronidazol memiliki penetrasi lumen usus yang rendah sehingga tidak efektif mengeliminasi kista yang bertahan di lumen kolon pada fase karier asimtomatik. Diyodohidroksikuin (iodoquinol) merupakan amebisid luminal yang bekerja efektif mengeradikasi kista di lumen usus pada pasien yang sudah sembuh secara klinis namun masih mengeluarkan kista, sehingga mencegah penularan ke orang lain melalui rute fekal-oral. Kombinasi sekuensial amebisid jaringan diikuti amebisid luminal ini sesuai dengan pedoman tatalaksana amebiasis untuk eradikasi tuntas parasit.

  • B. Metronidazol saja tidak efektif mengeliminasi kista pada fase karier karena penetrasi lumennya rendah.
  • C. Diyodohidroksikuin sebagai amebisid luminal tidak efektif untuk fase invasif yang membutuhkan amebisid jaringan seperti metronidazol.
  • D. Tetrasiklin bukan terapi lini pertama amebiasis invasif dan albendazol tidak efektif untuk eradikasi kista Entamoeba histolytica.
  • E. Albendazol bukan obat lini pertama untuk amebiasis invasif karena target utamanya adalah nematoda dan cestoda, bukan Entamoeba histolytica.
Poin penting: Metronidazol digunakan sebagai amebisid jaringan untuk amebiasis invasif, sedangkan diyodohidroksikuin digunakan sebagai amebisid luminal untuk mengeliminasi kista pada karier asimtomatik.
34

Seorang anak laki-laki usia 6 tahun dibawa ke puskesmas oleh ibunya karena diare berulang sejak 3 minggu terakhir. Diare berupa tinja lembek berwarna pucat, berbau busuk, dan tampak berminyak, tanpa darah maupun lendir, disertai kembung dan penurunan berat badan 1,5 kg dalam sebulan terakhir. Tidak ada demam. Pemeriksaan fisik menunjukkan anak tampak kurus dengan distensi abdomen ringan tanpa nyeri tekan. Pemeriksaan mikroskopis tinja menunjukkan organisme berbentuk seperti layang-layang (pear-shaped) dengan dua inti dan flagela yang bergerak aktif. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?

  1. AAmebiasis intestinal kronik
  2. BGiardiasis akibat Giardia lamblia
  3. CKriptosporidiosis
  4. DStrongiloidiasis intestinal
  5. ESkistosomiasis intestinal
Lihat jawaban
Jawaban: B. Giardiasis akibat Giardia lamblia

Giardiasis disebabkan oleh protozoa flagelata Giardia lamblia (Giardia duodenalis) yang menginfeksi duodenum dan jejunum proksimal, menyebabkan malabsorpsi lemak sehingga tinja menjadi berlemak, pucat, berbau busuk, dan mengambang, tanpa disertai darah atau lendir karena tidak terjadi invasi mukosa seperti pada amebiasis. Pemeriksaan tinja segar pada fase akut dapat menunjukkan trofozoit berbentuk seperti layang-layang dengan dua inti dan empat pasang flagela yang bergerak aktif, sedangkan pada fase kronik lebih sering ditemukan kista berinti empat. Malabsorpsi kronik akibat giardiasis dapat menyebabkan penurunan berat badan dan gangguan tumbuh kembang pada anak jika tidak diobati. Diagnosis definitif ditegakkan melalui identifikasi trofozoit atau kista pada pemeriksaan tinja, dan bila hasil negatif namun kecurigaan klinis tinggi, pemeriksaan aspirat duodenum atau antigen tinja dapat dilakukan.

  • A. Amebiasis intestinal kronik umumnya masih menunjukkan episode disentri berdarah, berbeda dengan tinja berlemak tanpa darah pada kasus ini.
  • C. Kriptosporidiosis sering menyebabkan diare cair pada pasien imunokompromais dan ditemukan ookista pada pewarnaan tahan asam, bukan trofozoit berflagela.
  • D. Strongiloidiasis intestinal biasanya menunjukkan larva pada tinja dan sering disertai gejala kulit atau pulmonal, bukan steatorea kronik.
  • E. Skistosomiasis intestinal ditandai telur cacing pada tinja dan sering disertai hepatosplenomegali, bukan gambaran trofozoit berflagela.
Poin penting: Giardiasis ditandai diare kronik berlemak tanpa darah akibat malabsorpsi duodenum, dengan temuan trofozoit berbentuk layang-layang berinti dua pada pemeriksaan tinja.
35

Seorang perempuan usia 38 tahun dibawa ke puskesmas karena diare cair mendadak sejak 6 jam yang lalu, sudah lebih dari 15 kali, berwarna putih keruh menyerupai air cucian beras, tanpa nyeri perut maupun demam. Pasien tampak sangat lemas dengan mata cekung, turgor kulit kembali sangat lambat, dan tidak dapat minum sendiri. Tekanan darah 80/50 mmHg, frekuensi nadi 128 kali/menit teraba lemah, frekuensi napas 28 kali/menit, akral teraba dingin. Apakah tatalaksana awal yang paling tepat dilakukan pada pasien ini?

  1. APemberian antidiare loperamid untuk mengurangi frekuensi defekasi
  2. BPemberian antibiotik doksisiklin dosis tunggal sebelum rehidrasi
  3. CPemberian cairan ringer laktat intravena secara cepat sesuai derajat dehidrasi berat
  4. DPemberian oralit sebanyak mungkin per oral secara bertahap
  5. EObservasi ketat tanpa cairan tambahan karena diare akan membaik spontan
Lihat jawaban
Jawaban: C. Pemberian cairan ringer laktat intravena secara cepat sesuai derajat dehidrasi berat

Pasien ini menunjukkan tanda dehidrasi berat akibat kolera, yaitu diare cair masif seperti air cucian beras, hipotensi, takikardia, akral dingin, mata cekung, dan turgor kulit yang sangat lambat kembali, sehingga rehidrasi intravena cepat menjadi tatalaksana awal yang paling mendesak sesuai pedoman tatalaksana diare dehidrasi berat. Cairan ringer laktat diberikan secara cepat pada fase awal, misalnya 30 mL/kgBB dalam 30 menit pertama pada dewasa, kemudian dilanjutkan sesuai respons klinis untuk mengoreksi syok hipovolemik akibat kehilangan cairan masif. Pemberian oralit per oral tidak adekuat pada kondisi syok karena pasien tidak dapat mengompensasi kehilangan cairan secepat kebutuhan melalui jalur oral saja. Antibiotik seperti doksisiklin dapat diberikan sebagai terapi tambahan untuk mempersingkat durasi diare dan ekskresi vibrio, namun bukan prioritas awal sebelum stabilisasi hemodinamik.

  • A. Loperamid dikontraindikasikan pada diare infeksi karena dapat memperlambat eliminasi patogen dan memperberat kondisi.
  • B. Antibiotik bukan prioritas tatalaksana awal dan tidak boleh mendahului rehidrasi pada pasien dengan tanda syok.
  • D. Oralit per oral tidak adekuat untuk mengoreksi dehidrasi berat dengan tanda syok seperti pada pasien ini.
  • E. Observasi tanpa cairan tambahan berisiko fatal karena pasien mengalami syok hipovolemik yang mengancam jiwa.
Poin penting: Dehidrasi berat akibat kolera dengan tanda syok harus ditangani segera dengan rehidrasi cairan kristaloid intravena cepat sebelum intervensi lain.

Rabies

1 soal
36

Seorang anak laki-laki usia 9 tahun dibawa ke puskesmas oleh orang tuanya karena digigit anjing liar di tungkai bawah kanan 1 jam yang lalu. Anjing tersebut tidak dikenal dan langsung menghilang setelah menggigit sehingga tidak dapat diobservasi. Pada pemeriksaan ditemukan dua luka tusuk kecil di betis kanan dengan kedalaman mencapai lapisan subkutan, perdarahan minimal, tanpa tanda infeksi lokal. Anak belum pernah mendapat vaksinasi rabies sebelumnya. Apakah tatalaksana awal yang paling tepat dilakukan segera pada pasien ini?

  1. APemberian antibiotik profilaksis oral tanpa vaksinasi karena anjing tidak menunjukkan gejala rabies
  2. BPenjahitan primer luka segera diikuti pemberian vaksin anti rabies saja tanpa serum
  3. CMencuci luka dengan air mengalir dan sabun selama 15 menit, kemudian pemberian vaksin anti rabies dan serum anti rabies
  4. DObservasi luka selama 14 hari tanpa tindakan lain karena gigitan masih dangkal
  5. EVaksin anti rabies diberikan hanya jika anak menunjukkan gejala neurologis di kemudian hari
Lihat jawaban
Jawaban: C. Mencuci luka dengan air mengalir dan sabun selama 15 menit, kemudian pemberian vaksin anti rabies dan serum anti rabies

Tatalaksana awal gigitan hewan tersangka rabies yang paling penting dan harus segera dilakukan adalah pencucian luka dengan air mengalir dan sabun atau deterjen selama 10-15 menit untuk menginaktivasi virus rabies secara mekanis dan kimiawi di tempat masuk. Pada kasus ini, gigitan berasal dari anjing liar yang tidak dapat diobservasi sehingga digolongkan risiko tinggi (luka risiko tinggi kategori III karena gigitan di daerah kaya inervasi dan hewan tidak dapat dipantau), sehingga diperlukan pemberian vaksin anti rabies (VAR) dan serum anti rabies (SAR) secara bersamaan sesuai pedoman penanggulangan rabies Kementerian Kesehatan. Luka gigitan rabies sebaiknya tidak dijahit segera kecuali untuk alasan kosmetik vital, dan jika terpaksa dijahit maka SAR harus diinfiltrasikan di sekitar luka terlebih dahulu. Observasi hewan selama 14 hari hanya berlaku jika hewan dapat ditangkap dan diamati, sedangkan pada kasus ini hewan menghilang sehingga pendekatan profilaksis pascapajanan penuh harus segera dimulai.

  • A. Antibiotik saja tidak mencegah rabies karena rabies disebabkan oleh virus, bukan bakteri, sehingga tidak dapat menggantikan vaksinasi.
  • B. Penjahitan primer segera tanpa pencucian luka dan tanpa SAR dapat meningkatkan risiko penyebaran virus rabies ke jaringan lebih dalam.
  • D. Observasi tanpa tindakan tidak tepat karena hewan tidak dapat diobservasi dan luka tergolong risiko tinggi yang memerlukan profilaksis segera.
  • E. Menunggu gejala neurologis muncul sangat berisiko karena rabies yang sudah simtomatik bersifat fatal hampir 100 persen tanpa terapi kuratif.
Poin penting: Luka gigitan hewan tersangka rabies berisiko tinggi harus segera dicuci dengan air dan sabun lalu diberikan vaksin anti rabies bersama serum anti rabies tanpa menunggu gejala muncul.

Infeksi Tropis Lain (Chikungunya, Zika, Antraks)

2 soal
37

Seorang laki-laki berusia 27 tahun, petani, dibawa ke IGD puskesmas 1 jam setelah digigit ular di kaki kanan saat bekerja di sawah. Pasien mengeluhkan bengkak progresif pada tungkai bawah kanan serta gusi berdarah sejak 30 menit lalu. Tanda vital: tekanan darah 100/70 mmHg, frekuensi nadi 110 kali/menit, frekuensi napas 22 kali/menit, suhu 36,8°C. Pada luka gigitan tampak dua bekas taring dengan edema progresif hingga sepertiga proksimal tungkai, disertai bula hemoragik. Pemeriksaan 20-minute whole blood clotting test (20WBCT) menunjukkan darah tidak membeku setelah 20 menit. Apakah tatalaksana awal yang paling tepat dilakukan segera pada pasien ini?

  1. APemberian serum anti bisa ular (SABU) polivalen intravena
  2. BInsisi pada bekas gigitan untuk mengeluarkan bisa
  3. CPemasangan torniket ketat di atas luka gigitan
  4. DObservasi tanpa terapi spesifik menunggu hasil laboratorium lengkap
  5. EPemberian antibiotik spektrum luas intravena segera
Lihat jawaban
Jawaban: A. Pemberian serum anti bisa ular (SABU) polivalen intravena

Pasien menunjukkan tanda envenomasi sistemik berupa koagulopati (20WBCT positif, gusi berdarah) dan edema progresif lokal yang merupakan indikasi mutlak pemberian serum anti bisa ular (SABU) polivalen secepatnya, karena merupakan satu-satunya terapi yang dapat menetralisir bisa ular secara spesifik dan mencegah perburukan koagulopati serta komplikasi perdarahan sistemik. SABU diberikan secara intravena setelah dilakukan skin test atau pengamatan reaksi alergi sesuai protokol, dengan kesiapan mengatasi reaksi anafilaksis. Tindakan suportif seperti antibiotik atau perawatan luka diberikan setelah stabilisasi dengan SABU, bukan sebagai terapi utama awal.

  • B. Insisi pada luka gigitan tidak direkomendasikan karena meningkatkan risiko infeksi dan perdarahan tanpa mengurangi jumlah bisa yang sudah terabsorpsi.
  • C. Torniket ketat dapat menyebabkan iskemia jaringan dan justru memperberat nekrosis lokal, serta tidak direkomendasikan pada gigitan ular.
  • D. Menunda terapi spesifik berisiko tinggi menyebabkan perburukan koagulopati dan perdarahan yang mengancam jiwa.
  • E. Antibiotik tidak mengatasi koagulopati akibat bisa ular dan bukan prioritas tatalaksana awal pada kondisi ini.
Poin penting: Tanda envenomasi sistemik seperti koagulopati pada gigitan ular berbisa merupakan indikasi pemberian serum anti bisa ular (SABU) polivalen secepatnya sebagai tatalaksana definitif awal.
38

Seorang perempuan berusia 35 tahun digigit ular kobra di tangan kiri 45 menit sebelum tiba di IGD rumah sakit. Pasien mengeluhkan kelopak mata sulit dibuka dan mulai sulit menelan sejak 10 menit terakhir. Pemeriksaan fisik: tekanan darah 110/70 mmHg, frekuensi nadi 100 kali/menit, frekuensi napas 24 kali/menit, saturasi oksigen 97%, ditemukan ptosis bilateral dan edema minimal pada tangan kiri. Dokter memutuskan memberikan serum anti bisa ular (SABU) polivalen. Apakah cara pemberian SABU polivalen yang paling tepat pada pasien ini?

  1. ADiencerkan dalam cairan kristaloid dan diberikan secara infus intravena perlahan dengan observasi reaksi alergi
  2. BDiberikan per oral setelah dicampur dengan air minum
  3. CDiberikan secara intravena bolus cepat tanpa pengenceran untuk efek maksimal segera
  4. DDiberikan secara intramuskular pada otot gluteus dengan dosis tunggal
  5. EDisuntikkan langsung di sekitar luka gigitan secara subkutan
Lihat jawaban
Jawaban: A. Diencerkan dalam cairan kristaloid dan diberikan secara infus intravena perlahan dengan observasi reaksi alergi

SABU polivalen diberikan secara intravena dengan cara diencerkan dalam cairan kristaloid (misalnya NaCl 0,9% atau dekstrosa 5%) dan diinfuskan perlahan selama kurang lebih 30-60 menit sambil memantau tanda-tanda reaksi hipersensitivitas seperti urtikaria, bronkospasme, atau syok anafilaksis. Pasien ini menunjukkan tanda neurotoksik (ptosis, kesulitan menelan) yang mengindikasikan envenomasi sistemik sehingga SABU harus segera diberikan. Pemberian secara lokal di sekitar luka tidak efektif dan tidak dianjurkan, sedangkan pemberian bolus cepat tanpa pengenceran meningkatkan risiko reaksi anafilaksis berat.

  • B. SABU adalah preparat protein yang akan dicerna dan tidak efektif bila diberikan per oral.
  • C. Pemberian bolus cepat tanpa pengenceran meningkatkan risiko reaksi anafilaksis berat dan tidak dianjurkan.
  • D. SABU tidak diberikan secara intramuskular karena absorpsinya tidak dapat diandalkan dan efektivitasnya menjadi tidak optimal.
  • E. Penyuntikan lokal di sekitar luka tidak efektif menetralisir bisa yang sudah menyebar sistemik dan berisiko meningkatkan kerusakan jaringan lokal.
Poin penting: Serum anti bisa ular polivalen diberikan secara intravena dengan pengenceran dalam cairan kristaloid secara perlahan disertai pemantauan ketat terhadap reaksi hipersensitivitas.

HIV/AIDS dan Infeksi Oportunistik

2 soal
39

Seorang perempuan berusia 29 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan nyeri menelan dan rasa tidak nyaman di mulut sejak 2 minggu. Pasien memiliki riwayat berganti-ganti pasangan seksual tanpa kondom. Berat badan turun 8 kg dalam 3 bulan terakhir. Pada pemeriksaan intraoral ditemukan plak putih kekuningan yang dapat diangkat dengan spatula lidah, meninggalkan permukaan mukosa yang eritematosa di bawahnya pada lidah dan palatum. Tidak ditemukan pembesaran kelenjar getah bening leher. Apakah tatalaksana awal yang paling tepat untuk kondisi oral pasien ini sambil menunggu hasil pemeriksaan HIV?

  1. ANistatin suspensi oral
  2. BAmoksisilin oral
  3. CDeksametason topikal oral
  4. DMetronidazol oral
  5. EAsiklovir oral
Lihat jawaban
Jawaban: A. Nistatin suspensi oral

Plak putih yang dapat diangkat dengan meninggalkan dasar eritematosa pada mukosa mulut merupakan gambaran klasik kandidiasis orofaring (oral thrush), yang pada orang dewasa muda dengan faktor risiko perilaku seksual berisiko merupakan tanda infeksi oportunistik yang mengarah pada kecurigaan HIV. Tatalaksana lini pertama kandidiasis orofaring ringan-sedang adalah antifungal topikal berupa nistatin suspensi oral 4-6 kali sehari selama 7-14 hari. Temuan ini pada pasien dengan faktor risiko HIV wajib ditindaklanjuti dengan konseling dan tes HIV (KTS/PITC). Diagnosis banding lain seperti leukoplakia tidak dapat diangkat dengan spatula.

  • B. Amoksisilin adalah antibiotik untuk infeksi bakteri dan tidak efektif terhadap jamur Candida.
  • C. Kortikosteroid topikal justru dapat memperburuk infeksi jamur dengan menekan respons imun lokal.
  • D. Metronidazol digunakan untuk infeksi anaerob atau parasit seperti giardiasis, tidak untuk kandidiasis.
  • E. Asiklovir digunakan untuk infeksi herpes simpleks oral yang memberikan gambaran ulkus/vesikel, bukan plak putih yang dapat diangkat.
Poin penting: Plak putih oral yang dapat diangkat dengan dasar eritematosa pada pasien dengan faktor risiko merupakan tanda kandidiasis orofaring yang mengarahkan kecurigaan infeksi HIV dan diterapi lini pertama dengan nistatin topikal.
40

Seorang laki-laki berusia 34 tahun dengan HIV telah mendapat terapi antiretroviral kombinasi tenofovir, lamivudin, dan efavirenz sejak 10 hari yang lalu. Pasien mengeluhkan mimpi buruk hampir setiap malam, pusing berputar, dan sulit berkonsentrasi di tempat kerja sejak memulai obat. Tanda vital dalam batas normal. Pemeriksaan neurologis tidak ditemukan kelainan. Pasien khawatir dan bertanya apakah harus menghentikan obatnya. Efek samping yang dialami pasien ini paling mungkin disebabkan oleh komponen obat mana?

  1. AZidovudin
  2. BLamivudin
  3. CNevirapin
  4. DEfavirenz
  5. ETenofovir
Lihat jawaban
Jawaban: D. Efavirenz

Efavirenz dikenal luas menyebabkan efek samping neuropsikiatri seperti mimpi buruk, vertigo, insomnia, kesulitan konsentrasi, dan gangguan mood terutama pada 2-4 minggu pertama terapi. Efek ini umumnya bersifat sementara dan membaik dalam beberapa minggu, sehingga pasien perlu diedukasi untuk tidak menghentikan ART secara sepihak. Pemberian pada malam hari sebelum tidur dapat membantu mengurangi dampak gejala terhadap aktivitas harian. Jika gejala berat dan menetap, dapat dipertimbangkan substitusi ke nevirapin atau golongan lain sesuai pedoman nasional.

  • A. Zidovudin dikaitkan dengan anemia dan supresi sumsum tulang, bukan gangguan tidur atau konsentrasi.
  • B. Lamivudin umumnya ditoleransi baik dengan efek samping minimal.
  • C. Nevirapin lebih dikaitkan dengan ruam kulit dan hepatotoksisitas, bukan gejala neuropsikiatri seperti pada efavirenz.
  • E. Tenofovir dikaitkan dengan nefrotoksisitas dan penurunan densitas tulang, bukan gangguan neuropsikiatri.
Poin penting: Efavirenz merupakan komponen ART lini pertama yang paling sering menyebabkan efek samping neuropsikiatri seperti mimpi buruk dan gangguan konsentrasi, terutama pada awal terapi.

Tuberkulosis sebagai Infeksi Tropis

2 soal
41

Seorang laki-laki berusia 45 tahun datang ke puskesmas dengan batuk berdahak sejak 4 minggu, disertai demam subfebris sore hari, berkeringat malam, dan penurunan berat badan 5 kg dalam 2 bulan. Pasien belum pernah mendapat pengobatan TB sebelumnya. Pemeriksaan fisik: frekuensi napas 20 kali/menit, suhu 37,6°C, ditemukan ronki basah di apex paru kanan. Puskesmas tersebut memiliki fasilitas Tes Cepat Molekuler (TCM). Apakah pemeriksaan penunjang awal yang paling tepat dilakukan untuk menegakkan diagnosis sesuai program nasional penanggulangan TB?

  1. ATes Mantoux (tuberkulin)
  2. BTes Cepat Molekuler (TCM) dari sputum
  3. CBronkoskopi dengan biopsi
  4. DKultur sputum pada media Lowenstein-Jensen
  5. EFoto toraks PA
Lihat jawaban
Jawaban: B. Tes Cepat Molekuler (TCM) dari sputum

Sesuai pedoman nasional penanggulangan TB Kemenkes RI, pada fasilitas kesehatan yang memiliki alat TCM, pemeriksaan penunjang awal untuk terduga TB paru dewasa adalah TCM dari sampel sputum, karena dapat mendeteksi Mycobacterium tuberculosis sekaligus resistensi rifampisin dalam waktu kurang dari 2 jam. TCM memiliki sensitivitas dan spesifisitas lebih tinggi dibanding mikroskopis BTA konvensional. Jika TCM tidak tersedia, pemeriksaan mikroskopis BTA dari dua contoh dahak (sewaktu dan pagi) menjadi alternatif. Foto toraks bersifat penunjang tambahan, bukan alat diagnostik utama program TB nasional.

  • A. Tes Mantoux menunjukkan riwayat infeksi TB (laten atau aktif) namun tidak dapat memastikan TB aktif.
  • C. Bronkoskopi bersifat invasif dan hanya dilakukan bila pemeriksaan sputum tidak dapat memberikan diagnosis.
  • D. Kultur memberikan hasil definitif namun membutuhkan waktu 4-8 minggu sehingga tidak dipakai sebagai pemeriksaan awal.
  • E. Foto toraks dapat mendukung tetapi tidak spesifik dan bukan alat diagnostik utama program nasional TB.
Poin penting: Pada fasilitas dengan alat TCM, pemeriksaan penunjang awal lini pertama untuk terduga TB paru adalah Tes Cepat Molekuler dari sputum sesuai program nasional penanggulangan TB.
42

Seorang laki-laki berusia 50 tahun dalam pengobatan OAT kategori 1 minggu ke-3 fase intensif datang ke puskesmas dengan keluhan penglihatan kabur dan sulit membedakan warna hijau dari merah sejak 4 hari. Pasien tidak mengeluhkan mual, ikterik, atau nyeri perut. Tanda vital dalam batas normal. Pemeriksaan visus menunjukkan penurunan tajam penglihatan pada kedua mata. Efek samping ini paling mungkin disebabkan oleh obat antituberkulosis manakah?

  1. AIsoniazid
  2. BRifampisin
  3. CPirazinamid
  4. DStreptomisin
  5. EEtambutol
Lihat jawaban
Jawaban: E. Etambutol

Etambutol dapat menyebabkan neuritis optik retrobulbar yang bermanifestasi sebagai penurunan tajam penglihatan dan gangguan persepsi warna, terutama buta warna merah-hijau. Efek ini bersifat dosis-dependen dan biasanya reversibel bila obat segera dihentikan, namun dapat menjadi permanen bila terlambat dikenali. Pasien yang mendapat etambutol perlu dipantau tajam penglihatan dan persepsi warna secara berkala, serta diedukasi untuk segera melapor bila muncul gangguan visual. Bila terjadi neuritis optik, etambutol harus dihentikan dan diganti dengan OAT lain sesuai pedoman.

  • A. Isoniazid lebih dikaitkan dengan hepatotoksisitas dan neuropati perifer akibat defisiensi piridoksin, bukan gangguan penglihatan warna.
  • B. Rifampisin dikaitkan dengan hepatotoksisitas, urine berwarna merah oranye, dan sindrom flu-like, bukan neuritis optik.
  • C. Pirazinamid dikaitkan dengan hepatotoksisitas dan hiperurisemia, bukan gangguan penglihatan.
  • D. Streptomisin dikaitkan dengan ototoksisitas dan nefrotoksisitas, bukan gangguan penglihatan warna.
Poin penting: Etambutol dapat menyebabkan neuritis optik dengan gangguan tajam penglihatan dan buta warna merah-hijau, sehingga memerlukan pemantauan visus berkala selama terapi.

[Rabies] Indikasi pemberian serum anti rabies berdasarkan derajat luka WHO — ang

1 soal
43

Seorang laki-laki usia 34 tahun digigit anjing liar pada betis kanan 2 jam yang lalu. Anjing tersebut langsung lari dan tidak dapat diobservasi. Pada pemeriksaan ditemukan dua luka robek dengan perdarahan aktif di betis kanan, diameter masing-masing sekitar 1,5 cm, kedalaman mencapai lapisan otot. Pasien belum pernah mendapat vaksinasi rabies sebelumnya. Tanda vital dalam batas normal. Apakah tatalaksana yang paling tepat untuk pasien ini selain cuci luka dengan sabun dan air mengalir?

  1. APemberian serum anti rabies (SAR) dan vaksin anti rabies (VAR)
  2. BPemberian vaksin anti rabies (VAR) saja tanpa serum anti rabies (SAR)
  3. CObservasi luka selama 14 hari tanpa pemberian vaksin maupun serum
  4. DPemberian antibiotik profilaksis saja tanpa vaksin maupun serum
  5. EPemberian toksoid tetanus saja tanpa vaksin maupun serum anti rabies
Lihat jawaban
Jawaban: A. Pemberian serum anti rabies (SAR) dan vaksin anti rabies (VAR)

Berdasarkan kriteria WHO, luka pada pasien ini tergolong luka risiko tinggi (luka gigitan multipel, dalam, mengenai lapisan di bawah dermis, disebabkan hewan yang tidak dapat diobservasi) sehingga termasuk kategori III. Pada kategori III, tatalaksana yang tepat adalah pencucian luka segera, pemberian vaksin anti rabies (VAR), dan serum anti rabies (SAR) yang disuntikkan di sekitar luka untuk memberikan proteksi pasif segera sebelum respons imun aktif dari vaksin terbentuk. SAR mengandung antibodi spesifik terhadap virus rabies yang menetralisir virus di tempat masuk sebelum mencapai sistem saraf. Keterlambatan pemberian SAR dapat menurunkan efektivitasnya karena virus rabies cepat menyebar melalui saraf perifer.

  • B. VAR saja tidak cukup untuk luka kategori III karena dibutuhkan proteksi pasif segera dari SAR.
  • C. Observasi tanpa tatalaksana tidak sesuai karena anjing tidak dapat dipantau dan luka berisiko tinggi.
  • D. Antibiotik profilaksis tidak mencegah infeksi virus rabies yang bersifat fatal.
  • E. Toksoid tetanus penting namun tidak menggantikan kebutuhan SAR dan VAR untuk pencegahan rabies.
Poin penting: Luka gigitan kategori III menurut WHO (luka dalam atau multipel oleh hewan tersangka rabies yang tidak dapat diobservasi) memerlukan pemberian serum anti rabies (SAR) bersama vaksin anti rabies (VAR).

[Rabies] Manifestasi klinis rabies stadium prodromal hingga paralitik dan sifat

1 soal
44

Seorang laki-laki usia 27 tahun dibawa ke IGD dengan keluhan gelisah dan sulit menelan air sejak 1 hari yang lalu. Tiga bulan sebelumnya pasien digigit kucing liar di kaki namun tidak mencari pertolongan medis. Pada pemeriksaan didapatkan pasien tampak sangat cemas, berteriak ketakutan saat ditawari minum, serta terdapat hipersalivasi dan spasme otot faring saat mencoba menelan. Suhu tubuh 38,5°C, frekuensi nadi 112 kali/menit. Tidak ditemukan kelemahan motorik maupun gangguan kesadaran. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?

  1. ATetanus generalisata
  2. BEnsefalitis herpes simpleks
  3. CReaksi konversi psikogenik
  4. DRabies stadium eksitasi
  5. EMeningitis bakterialis
Lihat jawaban
Jawaban: D. Rabies stadium eksitasi

Gambaran klasik rabies stadium eksitasi (furious rabies) berupa hidrofobia (ketakutan luar biasa terhadap air karena spasme faring yang nyeri saat menelan), aerofobia, hipersalivasi, dan agitasi yang sangat khas, didahului riwayat gigitan hewan penular rabies beberapa minggu hingga bulan sebelumnya (periode inkubasi bervariasi). Rabies bersifat fatal hampir 100% setelah gejala klinis muncul karena virus telah mencapai sistem saraf pusat dan tidak ada terapi kuratif yang efektif pada stadium ini. Setelah stadium eksitasi, penyakit akan berlanjut ke stadium paralitik dan berakhir dengan kematian akibat gagal napas atau henti jantung. Diagnosis ditegakkan terutama berdasarkan anamnesis riwayat kontak hewan dan gambaran klinis khas karena pemeriksaan konfirmasi sering tidak tersedia di layanan primer.

  • A. Tetanus menimbulkan trismus dan spasme otot namun tidak disertai hidrofobia khas dan tidak didahului gigitan hewan.
  • B. Ensefalitis herpes simpleks biasanya disertai kejang dan penurunan kesadaran tanpa hidrofobia spesifik.
  • C. Reaksi konversi psikogenik tidak menjelaskan riwayat gigitan hewan dan demam yang objektif.
  • E. Meningitis bakterialis menunjukkan kaku kuduk dan tanda rangsang meningeal, bukan hidrofobia.
Poin penting: Rabies stadium eksitasi ditandai hidrofobia dan aerofobia akibat spasme otot faring, serta bersifat fatal hampir 100% begitu gejala klinis muncul.

[Tetanus] Diagnosis tetanus generalisata berdasarkan trismus, opistotonus, riway

1 soal
45

Seorang petani laki-laki usia 45 tahun dibawa ke puskesmas dengan keluhan kaku rahang dan sulit membuka mulut sejak 2 hari yang lalu, disertai kaku pada leher dan punggung sehingga tubuhnya melengkung ke belakang saat kejang. Lima hari sebelumnya kaki kanan pasien tertusuk paku berkarat saat bekerja di sawah dan tidak dibersihkan dengan baik. Pasien sadar penuh dan tidak demam tinggi. Pada pemeriksaan ditemukan trismus dengan jarak interinsisivus 1,5 cm, risus sardonicus, serta opistotonus saat dirangsang suara. Tidak ditemukan riwayat imunisasi tetanus dalam 10 tahun terakhir. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?

  1. ARabies stadium paralitik
  2. BTetanus generalisata
  3. CDistonia akibat obat
  4. DKeracunan striknin
  5. EMeningitis bakterialis
Lihat jawaban
Jawaban: B. Tetanus generalisata

Diagnosis tetanus generalisata ditegakkan secara klinis berdasarkan trias trismus, risus sardonicus, dan spasme otot generalisata hingga opistotonus, disertai riwayat luka kotor yang berpotensi terkontaminasi spora Clostridium tetani seperti luka tusuk oleh benda berkarat, tanpa riwayat imunisasi tetanus yang adekuat. Kesadaran pasien tetap sadar penuh karena toksin tetanospasmin tidak menyebabkan gangguan kesadaran, berbeda dengan infeksi sistem saraf pusat lainnya. Spasme dapat dipicu oleh rangsang minimal seperti suara, cahaya, atau sentuhan akibat hiperiritabilitas neuron motorik. Tidak diperlukan pemeriksaan laboratorium khusus untuk konfirmasi karena diagnosis murni klinis.

  • A. Rabies stadium paralitik menunjukkan kelemahan otot progresif dan riwayat gigitan hewan, bukan luka tusuk.
  • C. Distonia akibat obat terkait riwayat konsumsi antipsikotik atau antiemetik, tidak sesuai dengan kasus ini.
  • D. Keracunan striknin dapat menyerupai tetanus namun tidak memiliki riwayat luka kotor sebagai faktor pencetus.
  • E. Meningitis bakterialis disertai penurunan kesadaran dan kaku kuduk, bukan trismus dengan kesadaran baik.
Poin penting: Tetanus generalisata didiagnosis secara klinis dari trismus, risus sardonicus, dan spasme generalisata pada pasien dengan kesadaran baik dan riwayat luka kotor tanpa imunisasi adekuat.

[Tetanus] Tatalaksana tetanus meliputi debridement, metronidazol, ATS/TIG, dan d

1 soal
46

Seorang laki-laki usia 38 tahun datang ke IGD rumah sakit dengan trismus, risus sardonicus, dan spasme otot punggung yang timbul sejak 1 hari yang lalu. Riwayat luka tusuk pada telapak kaki oleh kayu kotor 6 hari sebelumnya. Pasien sadar penuh, tekanan darah 128/82 mmHg, frekuensi nadi 102 kali/menit, frekuensi napas 22 kali/menit, suhu 37,8°C. Ditemukan luka pada telapak kaki kanan dengan jaringan nekrotik dan sedikit pus. Apakah tatalaksana awal yang paling tepat diberikan pada pasien ini selain perawatan di ruangan tenang dan minim rangsang?

  1. AAmputasi kaki kanan, gentamisin intravena, dan antikonvulsan fenitoin
  2. BDebridement luka, ampisilin intravena, vaksin tetanus toksoid saja, dan parasetamol
  3. CObservasi luka tanpa debridement, metronidazol oral, dan diazepam intramuskular
  4. DDebridement luka, kloramfenikol intravena, dan tetanus toksoid tanpa imunoglobulin
  5. EDebridement luka, metronidazol intravena, human tetanus immunoglobulin (HTIG), dan diazepam
Lihat jawaban
Jawaban: E. Debridement luka, metronidazol intravena, human tetanus immunoglobulin (HTIG), dan diazepam

Tatalaksana tetanus generalisata meliputi debridement luka untuk menghilangkan jaringan nekrotik dan spora yang menjadi sumber toksin, antibiotik metronidazol intravena sebagai pilihan utama karena efektif terhadap Clostridium tetani dan tidak memiliki efek antagonis GABA seperti penisilin, pemberian human tetanus immunoglobulin (HTIG) atau ATS untuk menetralisir toksin yang belum terikat ke jaringan saraf, serta diazepam untuk mengontrol spasme otot dan kejang melalui efek GABAergik. Kombinasi ini merupakan pendekatan standar sesuai pedoman nasional untuk mengatasi sumber infeksi, menetralisir toksin, dan mengendalikan manifestasi neuromuskular. Vaksin tetanus toksoid tetap diberikan untuk imunisasi aktif karena infeksi tetanus tidak memberikan imunitas alami yang adekuat.

  • A. Amputasi tidak diperlukan pada luka ini dan fenitoin bukan pilihan utama untuk spasme tetanus.
  • B. Ampisilin dapat menjadi antagonis GABA yang memperberat spasme, dan vaksin toksoid saja tidak menggantikan imunoglobulin untuk netralisasi toksin akut.
  • C. Tanpa debridement, sumber toksin pada luka nekrotik tidak dihilangkan sehingga produksi toksin berlanjut.
  • D. Tanpa HTIG atau ATS, toksin yang masih bebas dalam sirkulasi tidak dapat dinetralisir sehingga perjalanan penyakit dapat memburuk.
Poin penting: Tatalaksana awal tetanus generalisata meliputi debridement luka, metronidazol intravena, imunoglobulin/antitoksin tetanus, dan diazepam untuk kontrol spasme.

[Tetanus] Mekanisme toksin tetanospasmin menghambat pelepasan neurotransmitter i

1 soal
47

Seorang laki-laki usia 50 tahun mengalami kejang tonik generalisata dan trismus setelah luka tusuk pada kaki 1 minggu sebelumnya. Dokter menjelaskan bahwa toksin yang dihasilkan oleh bakteri penyebab penyakit ini bekerja dengan menjalar secara retrograde melalui akson saraf motorik menuju medula spinalis dan batang otak. Apakah mekanisme kerja toksin yang paling tepat menjelaskan terjadinya spasme otot generalisata pada pasien ini? Catatan: toksin bekerja pada tingkat sinaps interneuron di medula spinalis.

  1. AToksin meningkatkan pelepasan asetilkolin berlebihan pada neuromuscular junction sehingga otot berkontraksi terus-menerus
  2. BToksin merusak selubung myelin saraf motorik perifer sehingga konduksi saraf melambat
  3. CToksin menyekat reseptor nikotinik pada neuromuscular junction sehingga transmisi impuls motorik terputus
  4. DToksin menghambat pelepasan neurotransmitter inhibitorik GABA dan glisin dari interneuron sehingga terjadi disinhibisi neuron motorik
  5. EToksin menyebabkan demielinisasi saraf kranial sehingga timbul kelumpuhan otot wajah
Lihat jawaban
Jawaban: D. Toksin menghambat pelepasan neurotransmitter inhibitorik GABA dan glisin dari interneuron sehingga terjadi disinhibisi neuron motorik

Tetanospasmin yang diproduksi oleh Clostridium tetani berjalan secara retrograde melalui akson saraf motorik menuju medula spinalis dan batang otak, kemudian menghambat pelepasan neurotransmitter inhibitorik GABA dan glisin dari interneuron pada sinaps. Hilangnya inhibisi ini menyebabkan neuron motorik menjadi hiperaktif tanpa kontrol, sehingga terjadi kontraksi otot yang tidak terkoordinasi dan spasme generalisata seperti trismus, risus sardonicus, dan opistotonus. Mekanisme ini serupa dengan toksin botulinum dalam struktur namun berbeda lokasi kerja, karena toksin botulinum bekerja perifer pada neuromuscular junction sedangkan tetanospasmin bekerja sentral pada interneuron inhibitorik. Pemahaman mekanisme ini mendasari penggunaan diazepam yang bekerja sebagai agonis GABA untuk mengatasi spasme.

  • A. Tetanospasmin tidak meningkatkan pelepasan asetilkolin, justru menghambat neurotransmitter inhibitorik secara sentral.
  • B. Tetanospasmin tidak merusak myelin, melainkan bekerja pada tingkat sinaps interneuron inhibitorik.
  • C. Penyekatan reseptor nikotinik pada neuromuscular junction merupakan mekanisme toksin botulinum, bukan tetanospasmin.
  • E. Tetanospasmin tidak menyebabkan demielinisasi, melainkan menghambat pelepasan GABA dan glisin pada interneuron.
Poin penting: Tetanospasmin bekerja secara sentral dengan menghambat pelepasan neurotransmitter inhibitorik GABA dan glisin dari interneuron medula spinalis, menyebabkan disinhibisi neuron motorik dan spasme generalisata.

[Tetanus] Profilaksis tetanus pada luka berdasarkan status imunisasi dan jenis l

1 soal
48

Seorang laki-laki usia 29 tahun datang ke puskesmas dengan luka robek pada lengan akibat terjatuh dari sepeda motor dan terseret di aspal 2 jam yang lalu. Luka tampak kotor, bercampur tanah, dengan jaringan yang mengalami devitalisasi. Pasien mengaku tidak pernah mendapat imunisasi tetanus sejak kecil dan tidak ingat riwayat vaksinasi lengkap. Tanda vital dalam batas normal. Setelah dilakukan perawatan luka, apakah profilaksis tetanus yang paling tepat diberikan pada pasien ini?

  1. AAntibiotik metronidazol saja tanpa TT maupun HTIG
  2. BTidak perlu profilaksis karena luka masih baru (kurang dari 6 jam)
  3. CTetanus toksoid (TT) saja tanpa human tetanus immunoglobulin (HTIG)
  4. DTetanus toksoid (TT) dan human tetanus immunoglobulin (HTIG)
  5. EHuman tetanus immunoglobulin (HTIG) saja tanpa tetanus toksoid (TT)
Lihat jawaban
Jawaban: D. Tetanus toksoid (TT) dan human tetanus immunoglobulin (HTIG)

Pada luka kotor atau luka risiko tinggi (luka tusuk dalam, terkontaminasi tanah, luka dengan jaringan devitalisasi, luka tembak, atau luka bakar derajat berat) dengan status imunisasi tetanus yang tidak diketahui atau belum lengkap, diperlukan pemberian tetanus toksoid (TT) untuk imunisasi aktif sekaligus human tetanus immunoglobulin (HTIG) untuk proteksi pasif segera. HTIG diberikan karena pembentukan antibodi dari vaksin TT memerlukan waktu sekitar 7-10 hari sehingga tidak cukup cepat melindungi dari infeksi akut, sedangkan HTIG memberikan antibodi siap pakai yang menetralisir toksin yang mungkin sudah terbentuk. Keputusan profilaksis didasarkan pada kombinasi status imunisasi dan derajat kontaminasi luka, bukan hanya pada lama waktu sejak trauma terjadi.

  • A. Antibiotik tidak menggantikan kebutuhan imunisasi aktif maupun pasif terhadap toksin tetanus.
  • B. Lama waktu sejak trauma bukan penentu utama, melainkan derajat kontaminasi luka dan status imunisasi pasien.
  • C. TT saja tidak memberikan proteksi segera karena pembentukan antibodi aktif memerlukan waktu beberapa hari.
  • E. HTIG saja tidak memberikan imunitas jangka panjang sehingga tetap diperlukan TT untuk imunisasi aktif.
Poin penting: Luka kotor dengan status imunisasi tetanus tidak lengkap atau tidak diketahui memerlukan pemberian tetanus toksoid bersama human tetanus immunoglobulin untuk proteksi aktif dan pasif.

[Difteri] Diagnosis difteri berdasarkan pseudomembran faring dan bull neck — ang

1 soal
49

Seorang anak laki-laki usia 7 tahun dibawa ke puskesmas dengan keluhan demam dan nyeri menelan sejak 4 hari yang lalu, serta pembengkakan leher yang semakin membesar. Riwayat imunisasi dasar tidak lengkap. Pada pemeriksaan ditemukan suhu 38,2°C, frekuensi nadi 110 kali/menit, pembesaran kelenjar getah bening leher bilateral dengan edema jaringan lunak leher yang membuat leher tampak membengkak seperti leher banteng. Pada pemeriksaan tenggorok ditemukan selaput putih keabu-abuan yang melekat erat pada tonsil dan faring, berdarah saat diangkat dengan spatula. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?

  1. AMononukleosis infeksiosa
  2. BAngina Ludwig
  3. CAbses peritonsilar
  4. DTonsilitis streptokokus akut
  5. EDifteri faring
Lihat jawaban
Jawaban: E. Difteri faring

Diagnosis difteri faring ditegakkan berdasarkan gambaran klinis khas berupa pseudomembran berwarna putih keabu-abuan yang melekat erat pada tonsil dan faring serta berdarah saat diangkat, disertai pembengkakan kelenjar getah bening leher dan edema jaringan lunak yang menimbulkan gambaran bull neck pada kasus berat. Riwayat imunisasi dasar yang tidak lengkap meningkatkan risiko infeksi oleh Corynebacterium diphtheriae. Bull neck menandakan keterlibatan toksin yang luas dan merupakan tanda prognosis buruk yang memerlukan penanganan segera. Diagnosis klinis ini harus segera ditindaklanjuti dengan pemberian antitoksin tanpa menunggu konfirmasi kultur karena perjalanan penyakit dapat memburuk cepat akibat komplikasi obstruksi jalan napas dan miokarditis toksik.

  • A. Mononukleosis infeksiosa disertai splenomegali dan limfadenopati generalisata tanpa pseudomembran yang berdarah.
  • B. Angina Ludwig merupakan selulitis dasar mulut tanpa pseudomembran faring yang khas.
  • C. Abses peritonsilar menunjukkan pembengkakan unilateral dengan deviasi uvula, bukan pseudomembran difus.
  • D. Tonsilitis streptokokus menunjukkan eksudat tonsil yang mudah diangkat tanpa perdarahan dan tidak disertai bull neck.
Poin penting: Difteri faring didiagnosis dari pseudomembran keabu-abuan yang melekat erat dan berdarah saat diangkat, disertai limfadenopati leher hingga gambaran bull neck pada kasus berat.

[Difteri] Tatalaksana difteri dengan antitoksin difteri (ADS) dan antibiotik eri

1 soal
50

Seorang anak perempuan usia 9 tahun didiagnosis difteri faring dengan pseudomembran pada tonsil dan faring serta pembesaran kelenjar getah bening leher. Pasien belum pernah mendapat imunisasi difteri. Tanda vital stabil, tidak ditemukan tanda obstruksi jalan napas. Setelah pasien diisolasi, apakah tatalaksana awal yang paling tepat diberikan selanjutnya?

  1. AVaksin DPT booster dan observasi tanpa terapi lain
  2. BAntitoksin difteri (ADS) dan eritromisin
  3. CAntitoksin difteri (ADS) saja tanpa antibiotik
  4. DEritromisin saja tanpa antitoksin difteri
  5. EKortikosteroid dosis tinggi dan parasetamol tanpa antitoksin
Lihat jawaban
Jawaban: B. Antitoksin difteri (ADS) dan eritromisin

Tatalaksana difteri memerlukan pemberian antitoksin difteri (ADS) secepatnya setelah diagnosis klinis ditegakkan untuk menetralisir toksin yang belum terikat pada jaringan, karena antitoksin tidak dapat membalikkan kerusakan jaringan yang sudah terjadi akibat toksin yang telah terikat. Antibiotik seperti eritromisin atau penisilin prokain diberikan bersamaan untuk eradikasi Corynebacterium diphtheriae, menghentikan produksi toksin lebih lanjut, dan mencegah penularan ke orang lain. Pemberian ADS tidak boleh ditunda untuk menunggu hasil kultur karena keterlambatan terapi meningkatkan risiko komplikasi berat seperti miokarditis dan neuropati toksik. Vaksinasi DPT diberikan setelah fase akut sebagai imunisasi aktif karena infeksi alami tidak selalu memberikan imunitas yang adekuat.

  • A. Vaksin DPT merupakan imunisasi aktif yang tidak memberikan proteksi segera terhadap toksin yang sudah ada.
  • C. Tanpa antibiotik, bakteri penghasil toksin tidak dieradikasi sehingga produksi toksin dapat berlanjut.
  • D. Antibiotik saja tidak menetralisir toksin yang sudah diproduksi dan dapat beredar dalam sirkulasi.
  • E. Kortikosteroid dapat menjadi terapi tambahan pada kasus tertentu namun tidak menggantikan kebutuhan antitoksin untuk menetralisir toksin.
Poin penting: Tatalaksana awal difteri memerlukan pemberian antitoksin difteri (ADS) segera bersama antibiotik eritromisin atau penisilin untuk menetralisir toksin dan eradikasi bakteri.

Pertanyaan umum

Apakah ini soal asli UKMPPD?

Bukan. Ini soal latihan orisinal yang ditulis bergaya UKMPPD sesuai blueprint ujian. Setiap soal dikerjakan ulang oleh model kedua yang independen tanpa melihat kunci, dan soal dengan kunci yang diperdebatkan dihapus.

Bagaimana cara memakai soal penyakit infeksi tropis ini?

Kerjakan kuis dulu tanpa melihat jawaban, lalu baca pembahasan setiap soal yang salah atau ditebak. Poin penting di bawah setiap jawaban adalah hal yang perlu diingat.

Apakah soalnya gratis?

Ya. Semua soal, jawaban, dan pembahasan di halaman ini gratis tanpa perlu mendaftar.

Topik UKMPPD lainnya

UKMPPD diselenggarakan oleh Panitia Nasional UKMPPD. WhiteCoat Pro tidak berafiliasi dengan maupun didukung oleh lembaga tersebut. Semua soal adalah soal latihan orisinal: ditulis oleh tim editorial WhiteCoat Pro dengan bantuan AI dan diperiksa oleh model AI kedua yang independen, yang mengerjakan setiap soal tanpa melihat kunci; soal dengan kunci yang diperdebatkan dihapus. Ini bukan soal ujian asli. Untuk belajar, bukan saran medis.