Masuk
UKMPPD · Indonesia

Soal UKMPPD obstetri & ginekologi

45 soal orisinal bergaya UKMPPD tentang obstetri & ginekologi. Setiap soal dilengkapi jawaban benar, pembahasan, alasan pilihan lain salah, dan poin penting. Kerjakan di kuis atau baca di bawah, dikelompokkan per bagian.

Soal45 dengan jawaban
Bagian11
Pilihan per soal5
Waktu≈ 68 menit
UKMPPD Obstetri & ginekologi: kuis latihanPilih jawaban untuk langsung melihat jawaban benar dan pembahasannya. Skor terbaik Anda tersimpan di browser ini.

Kehamilan Normal & Antenatal Care

6 soal
1

Seorang perempuan berusia 24 tahun G1P0A0 usia gestasi 12 minggu datang ke puskesmas untuk kunjungan antenatal pertama. Dokter telah melakukan penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, pengukuran tekanan darah, pengukuran tinggi fundus uteri, serta penentuan status gizi dengan LiLA. Pasien juga telah diberikan tablet besi-folat. Dokter kemudian hendak melengkapi komponen standar pelayanan antenatal sesuai pedoman Kementerian Kesehatan.

  1. APemeriksaan kadar gula darah sewaktu
  2. BPemeriksaan fungsi ginjal
  3. CPemeriksaan rontgen toraks
  4. DPemeriksaan golongan darah dan kadar hemoglobin
  5. EPemeriksaan EKG
Lihat jawaban
Jawaban: D. Pemeriksaan golongan darah dan kadar hemoglobin

Pelayanan antenatal standar 10T menurut Kemenkes meliputi timbang berat badan, ukur tinggi badan, ukur tekanan darah, ukur tinggi fundus uteri, tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin, skrining status imunisasi TT, pemberian tablet besi-folat, tes laboratorium (golongan darah, hemoglobin, protein urine, gula darah, HIV, sifilis), tata laksana kasus, serta temu wicara atau konseling. Pemeriksaan golongan darah dan kadar hemoglobin termasuk dalam komponen tes laboratorium dasar yang wajib dilakukan untuk mendeteksi anemia dan mempersiapkan kemungkinan transfusi darah saat persalinan. Komponen lain seperti EKG atau fungsi ginjal bukan bagian dari standar 10T kecuali ada indikasi khusus.

  • A. Gula darah sewaktu bukan komponen wajib standar 10T, pemeriksaan gula darah dilakukan sesuai indikasi faktor risiko.
  • B. Pemeriksaan fungsi ginjal tidak termasuk dalam komponen standar 10T kecuali ada indikasi klinis seperti hipertensi berat.
  • C. Rontgen toraks tidak termasuk komponen standar 10T dan merupakan kontraindikasi relatif pada kehamilan tanpa indikasi kuat.
  • E. EKG bukan bagian dari pelayanan antenatal standar kecuali terdapat indikasi kardiovaskular tertentu.
Poin penting: Pelayanan antenatal standar 10T mencakup pemeriksaan laboratorium dasar meliputi golongan darah dan kadar hemoglobin untuk mendeteksi anemia dan mempersiapkan persalinan.
2

Seorang perempuan berusia 27 tahun G1P0A0 usia gestasi 20 minggu datang ke puskesmas untuk kontrol antenatal rutin. Pasien mengeluh mudah lelah sejak 2 minggu terakhir. Pemeriksaan fisik dalam batas normal, konjungtiva sedikit pucat. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar hemoglobin 9,8 g/dL, MCV 72 fL, dan MCHC rendah.

  1. AAnemia defisiensi folat, berikan suplementasi asam folat dosis tinggi
  2. BThalassemia minor, berikan transfusi darah rutin
  3. CAnemia hemolitik, rujuk untuk transfusi tukar
  4. DAnemia defisiensi besi, berikan suplementasi besi oral
  5. EAnemia aplastik, rujuk ke hematologi untuk biopsi sumsum tulang
Lihat jawaban
Jawaban: D. Anemia defisiensi besi, berikan suplementasi besi oral

Kadar hemoglobin di bawah 11 g/dL pada kehamilan disertai gambaran mikrositik hipokrom (MCV rendah, MCHC rendah) merupakan ciri khas anemia defisiensi besi, yang paling sering ditemukan pada ibu hamil akibat peningkatan kebutuhan besi untuk eritropoiesis janin dan ibu. Tata laksana lini pertama berupa suplementasi besi oral dosis terapi, selain tetap melanjutkan suplementasi besi-folat rutin antenatal. Evaluasi lebih lanjut seperti kadar feritin dapat dilakukan bila respons terapi tidak adekuat. Deteksi dan terapi dini penting untuk mencegah komplikasi seperti berat lahir rendah dan perdarahan postpartum.

  • A. Anemia defisiensi folat umumnya menunjukkan gambaran makrositik dengan MCV tinggi, bukan mikrositik seperti pada kasus ini.
  • B. Thalassemia minor memerlukan konfirmasi elektroforesis hemoglobin dan tidak langsung ditata laksana dengan transfusi rutin pada kasus ringan.
  • C. Anemia hemolitik ditandai dengan tanda hemolisis seperti ikterus dan peningkatan bilirubin indirek yang tidak disebutkan pada kasus ini.
  • E. Anemia aplastik ditandai dengan pansitopenia, bukan hanya anemia mikrositik terisolasi seperti pada kasus ini.
Poin penting: Anemia pada kehamilan dengan gambaran mikrositik hipokrom paling sering disebabkan defisiensi besi dan diterapi dengan suplementasi besi oral.
3

Seorang perempuan berusia 23 tahun G1P0A0 usia gestasi 14 minggu datang ke puskesmas untuk kunjungan antenatal pertama. Pasien belum pernah mendapat imunisasi tetanus sebelumnya, baik saat sekolah dasar maupun sebelum kehamilan ini. Status gizi dan tanda vital dalam batas normal. Dokter merencanakan pemberian imunisasi tetanus toksoid sesuai status TT pasien.

  1. AHanya diberikan TT1 karena kehamilan pertama tidak memerlukan TT2
  2. BImunisasi TT ditunda sampai trimester ketiga
  3. CTT1 diberikan saat kontak pertama, TT2 diberikan 4 minggu setelah TT1
  4. DTT1 dan TT2 diberikan bersamaan pada kunjungan pertama
  5. ETT2 diberikan langsung tanpa TT1 karena usia gestasi sudah di atas trimester pertama
Lihat jawaban
Jawaban: C. TT1 diberikan saat kontak pertama, TT2 diberikan 4 minggu setelah TT1

Pada ibu hamil yang belum pernah mendapat imunisasi tetanus atau status TT tidak diketahui, jadwal pemberian dimulai dengan TT1 pada kontak antenatal pertama, kemudian TT2 diberikan minimal 4 minggu setelah TT1 untuk memberikan perlindungan terhadap tetanus neonatorum. Interval minimal 4 minggu diperlukan agar respons imun terhadap dosis kedua optimal. Jadwal lengkap status T5 memerlukan total lima dosis yang diberikan pada interval tertentu untuk memberikan perlindungan jangka panjang. Imunisasi TT aman diberikan selama kehamilan dan merupakan bagian dari komponen 10T pelayanan antenatal.

  • A. TT2 tetap diperlukan pada kehamilan pertama untuk ibu yang belum pernah diimunisasi sebelumnya guna mencapai perlindungan optimal.
  • B. Imunisasi TT dapat dan sebaiknya dimulai sejak kontak antenatal pertama, tidak perlu ditunda hingga trimester ketiga.
  • D. Pemberian TT1 dan TT2 bersamaan tidak sesuai jadwal karena interval minimal 4 minggu diperlukan untuk respons imun yang adekuat.
  • E. TT1 tetap harus diberikan terlebih dahulu sebagai dosis primer sebelum TT2, tidak dapat langsung memberikan TT2.
Poin penting: Pada ibu hamil yang belum pernah diimunisasi tetanus, TT1 diberikan pada kontak pertama dan TT2 diberikan minimal 4 minggu setelahnya.
4

Seorang perempuan berusia 30 tahun G2P1A0 usia gestasi 36 minggu datang untuk kontrol antenatal. Pada pemeriksaan palpasi abdomen, bagian fundus teraba bulat, keras, dan melenting, sedangkan pada bagian bawah rahim teraba bagian yang lebih lunak, besar, dan tidak melenting. Punggung janin teraba di sisi kiri abdomen ibu.

  1. APresentasi bahu dengan punggung janin di sisi kanan
  2. BPresentasi majemuk yang tidak dapat ditentukan
  3. CPresentasi bokong dengan punggung janin di sisi kiri
  4. DPresentasi kepala dengan punggung janin di sisi kanan
  5. EPresentasi kepala dengan punggung janin di sisi kiri
Lihat jawaban
Jawaban: C. Presentasi bokong dengan punggung janin di sisi kiri

Pada pemeriksaan Leopold I, bagian yang teraba di fundus menggambarkan bagian janin yang berada di atas, sedangkan Leopold III menggambarkan bagian terbawah janin. Kepala janin memiliki ciri khas bulat, keras, dan melenting (ballottement positif), sedangkan bokong teraba lebih lunak, besar, dan tidak melenting. Pada kasus ini, bagian bulat keras melenting berada di fundus (berarti kepala di fundus) dan bagian lunak besar berada di bawah (bokong di bawah), sehingga ini merupakan presentasi bokong. Leopold II menentukan posisi punggung janin, yang pada kasus ini teraba di sisi kiri abdomen ibu.

  • A. Tidak ada temuan yang mengarah pada presentasi bahu, dan punggung janin teraba di sisi kiri, bukan kanan.
  • B. Presentasi dapat ditentukan dengan jelas dari temuan pemeriksaan Leopold I dan III pada kasus ini, bukan presentasi majemuk.
  • D. Bagian terbawah yang lunak dan besar menandakan bokong bukan kepala, dan punggung janin teraba di sisi kiri bukan kanan.
  • E. Bagian terbawah yang teraba lunak dan besar menandakan bokong, bukan kepala, sehingga presentasi bukan presentasi kepala.
Poin penting: Bagian bulat, keras, dan melenting pada pemeriksaan Leopold menandakan kepala janin, sedangkan bagian lunak dan besar tanpa ballottement menandakan bokong.
5

Seorang perempuan berusia 28 tahun dengan siklus haid tidak teratur datang ke puskesmas karena terlambat haid 6 minggu dan ingin memastikan kehamilannya serta menentukan usia gestasi yang akurat. Tes kehamilan urin menunjukkan hasil positif. Dokter merencanakan pemeriksaan USG untuk konfirmasi dan penentuan usia gestasi.

  1. AUSG trimester pertama untuk pengukuran crown-rump length
  2. BUSG trimester ketiga untuk penilaian indeks cairan amnion
  3. CUSG trimester pertama untuk pengukuran biparietal diameter
  4. DUSG Doppler untuk penilaian aliran darah arteri umbilikalis
  5. EUSG trimester ketiga untuk pengukuran lingkar abdomen
Lihat jawaban
Jawaban: A. USG trimester pertama untuk pengukuran crown-rump length

Pada trimester pertama, pengukuran crown-rump length (CRL) merupakan metode paling akurat untuk menentukan usia gestasi, dengan margin kesalahan hanya sekitar 5-7 hari, karena variabilitas biologis pertumbuhan janin masih minimal pada tahap ini. Pengukuran biparietal diameter lebih relevan digunakan pada trimester kedua. Pada kasus dengan siklus haid tidak teratur sehingga HPHT tidak dapat diandalkan, USG trimester pertama dengan CRL menjadi metode terpilih untuk penentuan usia gestasi yang akurat. Penentuan usia gestasi yang tepat sejak awal penting untuk perencanaan ANC, skrining aneuploidi, dan penentuan taksiran persalinan.

  • B. Indeks cairan amnion pada trimester ketiga menilai volume cairan ketuban, bukan untuk konfirmasi usia gestasi awal.
  • C. Biparietal diameter lebih akurat digunakan untuk estimasi usia gestasi pada trimester kedua, bukan trimester pertama.
  • D. USG Doppler arteri umbilikalis digunakan untuk menilai kesejahteraan janin pada kecurigaan insufisiensi plasenta, bukan untuk konfirmasi usia gestasi.
  • E. Lingkar abdomen pada trimester ketiga digunakan untuk estimasi berat janin, bukan penentuan usia gestasi awal yang akurat.
Poin penting: Penentuan usia gestasi paling akurat pada trimester pertama dilakukan dengan pengukuran crown-rump length melalui USG.
6

Seorang perempuan berusia 38 tahun G5P4A0 usia gestasi 10 minggu datang ke puskesmas untuk kunjungan antenatal pertama. Riwayat obstetri menunjukkan tiga kali persalinan pervaginam normal dan satu kali riwayat seksio sesarea atas indikasi plasenta previa pada kehamilan sebelumnya. Bidan di puskesmas melakukan skrining faktor risiko menggunakan Kartu Skor Poedji Rochjati untuk menentukan kelompok risiko dan tempat rujukan persalinan.

  1. AKehamilan risiko tinggi dengan rujukan terencana ke fasilitas dengan kemampuan seksio sesarea
  2. BKehamilan risiko tinggi namun hanya memerlukan observasi ketat tanpa rujukan
  3. CKehamilan risiko rendah yang dapat ditangani sepenuhnya oleh bidan di puskesmas
  4. DKehamilan tanpa faktor risiko karena riwayat persalinan sebelumnya mayoritas normal
  5. EKehamilan risiko rendah karena usia ibu belum termasuk kategori risiko
Lihat jawaban
Jawaban: A. Kehamilan risiko tinggi dengan rujukan terencana ke fasilitas dengan kemampuan seksio sesarea

Kartu Skor Poedji Rochjati menilai faktor risiko kehamilan berdasarkan usia ibu, paritas, riwayat obstetri, dan kondisi kehamilan saat ini, dengan skor awal 2 untuk setiap ibu hamil ditambah skor tambahan untuk setiap faktor risiko yang ditemukan. Pada kasus ini, usia ibu 38 tahun (skor tambahan untuk usia di atas 35 tahun), paritas lebih dari 4 (grande multipara), dan riwayat seksio sesarea sebelumnya merupakan faktor risiko yang menambah skor total menjadi kategori risiko tinggi (skor di atas 10). Ibu hamil dengan skor risiko tinggi memerlukan rujukan terencana ke fasilitas kesehatan dengan kemampuan penanganan kegawatdaruratan obstetri termasuk seksio sesarea, mengingat riwayat skar uterus meningkatkan risiko ruptur uteri dan plasenta previa berulang.

  • B. Kehamilan risiko tinggi memerlukan rujukan terencana, bukan hanya observasi ketat tanpa rencana rujukan ke fasilitas yang memadai.
  • C. Kombinasi usia di atas 35 tahun, grande multipara, dan riwayat seksio sesarea menempatkan pasien pada kategori risiko tinggi, bukan risiko rendah.
  • D. Riwayat seksio sesarea dan usia ibu di atas 35 tahun tetap menjadi faktor risiko meskipun riwayat persalinan lain berjalan normal.
  • E. Usia ibu 38 tahun termasuk dalam kategori faktor risiko usia tua pada skor Poedji Rochjati.
Poin penting: Kartu Skor Poedji Rochjati mengidentifikasi kehamilan risiko tinggi berdasarkan akumulasi faktor seperti usia, paritas, dan riwayat obstetri, yang menentukan perlunya rujukan terencana ke fasilitas yang memadai.

Hipertensi dalam Kehamilan

6 soal
7

Seorang perempuan G2P1A0 usia 29 tahun, hamil 33 minggu, datang untuk kontrol antenatal rutin ke puskesmas. Tekanan darah 148/96 mmHg (dua kali pengukuran berjarak 4 jam), tidak ada riwayat hipertensi sebelumnya. Pasien tidak mengeluh nyeri kepala, pandangan kabur, atau nyeri ulu hati. Pemeriksaan urin dengan dipstick menunjukkan proteinuria negatif. Pemeriksaan darah lengkap, fungsi hati, dan fungsi ginjal dalam batas normal. Apakah diagnosis yang paling tepat?

  1. AHipertensi kronik
  2. BHipertensi gestasional
  3. CSuperimposed preeklampsia
  4. DPreeklampsia tanpa gejala berat
  5. EHipertensi transien
Lihat jawaban
Jawaban: B. Hipertensi gestasional

Hipertensi gestasional didefinisikan sebagai tekanan darah ≥140/90 mmHg yang baru muncul setelah usia kehamilan 20 minggu tanpa proteinuria dan tanpa disfungsi organ target lainnya. Pada kasus ini tekanan darah meningkat pada usia kehamilan 33 minggu, proteinuria negatif, dan tidak ada tanda disfungsi organ (fungsi hati, ginjal, trombosit normal), sehingga diagnosis preeklampsia dapat disingkirkan. Pasien ini memerlukan pemantauan ketat karena sebagian kasus hipertensi gestasional dapat berkembang menjadi preeklampsia. Diagnosis ini berbeda dari hipertensi kronik yang sudah ada sebelum kehamilan atau terdiagnosis sebelum usia kehamilan 20 minggu.

  • A. Hipertensi kronik ditegakkan bila hipertensi sudah ada sebelum hamil atau terdeteksi sebelum usia kehamilan 20 minggu, bukan pada kasus ini yang baru muncul di trimester ketiga.
  • C. Superimposed preeklampsia terjadi pada pasien dengan hipertensi kronik yang sudah ada sebelum hamil, sedangkan pasien ini tidak memiliki riwayat hipertensi sebelumnya.
  • D. Preeklampsia memerlukan adanya proteinuria signifikan atau tanda disfungsi organ lain selain hipertensi, yang tidak ditemukan pada pasien ini.
  • E. Istilah hipertensi transien tidak digunakan sebagai terminologi diagnosis baku dalam klasifikasi hipertensi dalam kehamilan menurut pedoman nasional.
Poin penting: Hipertensi gestasional adalah hipertensi onset baru setelah 20 minggu kehamilan tanpa proteinuria atau disfungsi organ target, dan harus dibedakan dari preeklampsia serta hipertensi kronik.
8

Seorang perempuan G3P2A0 usia 34 tahun, hamil 31 minggu, dibawa ke IGD rumah sakit dengan keluhan nyeri kepala hebat dan nyeri pada epigastrium sejak 6 jam yang lalu. Tekanan darah 170/110 mmHg, frekuensi napas 20x/menit. Pada pemeriksaan fisik didapatkan refleks patela meningkat dan edema pada wajah serta tungkai. Pemeriksaan laboratorium: trombosit 90.000/µL, SGOT 110 U/L, SGPT 98 U/L, kreatinin serum 1,3 mg/dL. Urinalisis menunjukkan proteinuria +3. Apakah diagnosis yang paling tepat pada pasien ini?

  1. ASindrom nefrotik pada kehamilan
  2. BPreeklampsia tanpa gejala berat
  3. CHipertensi gestasional berat
  4. DPreeklampsia dengan gejala berat
  5. EHipertensi kronik dengan proteinuria
Lihat jawaban
Jawaban: D. Preeklampsia dengan gejala berat

Preeklampsia dengan gejala berat ditegakkan bila terdapat tekanan darah ≥160/110 mmHg disertai satu atau lebih kriteria berat, seperti nyeri kepala persisten, nyeri epigastrium/kuadran kanan atas, trombositopenia kurang dari 100.000/µL, peningkatan enzim transaminase dua kali lipat nilai normal, atau gangguan fungsi ginjal. Pasien ini memenuhi tekanan darah berat, gejala serebral dan gastrointestinal, trombositopenia, peningkatan enzim hati, serta peningkatan kreatinin, sehingga memenuhi kriteria impending eklampsia. Kondisi ini memerlukan rawat inap segera, pemberian MgSO4 untuk pencegahan kejang, dan pertimbangan terminasi kehamilan sesuai usia gestasi dan kondisi klinis.

  • A. Sindrom nefrotik tidak menjelaskan kombinasi hipertensi berat, gejala serebral, trombositopenia, dan peningkatan enzim hati yang khas preeklampsia.
  • B. Preeklampsia tanpa gejala berat tidak memenuhi karena pasien memiliki tekanan darah ≥160/110 mmHg serta gejala dan kelainan laboratorium berat.
  • C. Hipertensi gestasional berat bukan terminologi baku karena adanya proteinuria dan disfungsi organ mengarahkan pada preeklampsia, bukan sekadar hipertensi gestasional.
  • E. Tidak ada riwayat hipertensi sebelum hamil atau sebelum usia kehamilan 20 minggu pada kasus ini untuk mendukung diagnosis hipertensi kronik.
Poin penting: Preeklampsia dengan gejala berat ditandai oleh tekanan darah ≥160/110 mmHg disertai gejala serebral, gastrointestinal, trombositopenia, disfungsi hati, atau gangguan ginjal, dan merupakan indikasi rawat inap serta pencegahan kejang segera.
9

Seorang perempuan G1P0A0 usia 22 tahun, hamil 36 minggu, dibawa ke IGD rumah sakit setelah mengalami kejang tonik-klonik selama kurang lebih 2 menit di rumah, disertai penurunan kesadaran singkat. Setelah kejang, pasien sadar kembali. Tekanan darah 180/120 mmHg, frekuensi nadi 100x/menit. Urinalisis menunjukkan proteinuria +2. Dokter mendiagnosis eklampsia dan akan memberikan magnesium sulfat. Bagaimanakah regimen dosis awal (loading dose) magnesium sulfat yang tepat sesuai pedoman nasional?

  1. AMgSO4 2 gram IV bolus cepat dalam 2 menit, tanpa dosis rumatan
  2. BMgSO4 4 gram IV bolus pelan dalam 15-20 menit ditambah 10 gram IM (5 gram tiap bokong), dilanjutkan rumatan 6 gram IM tiap 6 jam
  3. CMgSO4 4 gram IV bolus pelan dalam 15-20 menit, dilanjutkan rumatan 1 gram/jam IV
  4. DMgSO4 10 gram IM dosis tunggal, dilanjutkan rumatan 1 gram/jam IV
  5. EMgSO4 6 gram IV bolus cepat dalam 5 menit, dilanjutkan rumatan 2 gram/jam IV
Lihat jawaban
Jawaban: B. MgSO4 4 gram IV bolus pelan dalam 15-20 menit ditambah 10 gram IM (5 gram tiap bokong), dilanjutkan rumatan 6 gram IM tiap 6 jam

Regimen Pritchard yang direkomendasikan dalam pedoman nasional Indonesia untuk eklampsia adalah dosis awal MgSO4 4 gram IV (larutan 40% diencerkan) diberikan secara perlahan dalam 15-20 menit, segera dilanjutkan dengan 10 gram IM yang dibagi masing-masing 5 gram pada bokong kanan dan kiri, kemudian dosis rumatan 6 gram IM tiap 6 jam. Magnesium sulfat bekerja menstabilkan membran neuron dan menghambat pelepasan asetilkolin di neuromuscular junction untuk mencegah kejang berulang. Pemberian bolus cepat tanpa pengenceran dapat menyebabkan henti jantung akibat kadar magnesium yang melonjak tiba-tiba. Pemantauan refleks patela, frekuensi napas, dan produksi urin harus dilakukan selama terapi untuk mendeteksi toksisitas.

  • A. Dosis ini terlalu rendah dan pemberian bolus cepat berbahaya, serta tanpa rumatan tidak mencegah kejang berulang.
  • C. Regimen ini menyerupai protokol intravena kontinu yang bukan regimen baku nasional Indonesia dan dosis rumatannya tidak lengkap sesuai Pritchard.
  • D. Dosis loading IM saja tanpa komponen IV awal tidak sesuai regimen Pritchard yang dianjurkan.
  • E. Dosis dan cara pemberian ini tidak sesuai pedoman; bolus cepat 6 gram berisiko toksisitas akut dan rumatan intravena 2 gram/jam bukan bagian dari regimen IM standar.
Poin penting: Tata laksana kejang eklampsia menggunakan regimen Pritchard: MgSO4 4 gram IV bolus pelan diikuti 10 gram IM, dengan dosis rumatan 6 gram IM tiap 6 jam.
10

Seorang perempuan usia 27 tahun, G2P1A0, hamil 34 minggu dengan preeklampsia berat, sedang mendapat terapi rumatan magnesium sulfat intramuskular. Dua jam setelah dosis rumatan terakhir, perawat melaporkan pasien mengalami kelemahan otot pernapasan dengan frekuensi napas 10x/menit dan saturasi oksigen 90%. Pada pemeriksaan didapatkan refleks patela negatif pada kedua tungkai. Produksi urin dalam 4 jam terakhir 150 mL. Apakah tindakan yang paling tepat dilakukan segera?

  1. AMelanjutkan MgSO4 dengan pemantauan refleks patela setiap 30 menit
  2. BMenurunkan dosis rumatan MgSO4 menjadi separuh dan observasi ketat
  3. CMenghentikan MgSO4 dan memberikan kalsium glukonat 10% 10 mL IV pelan
  4. DMemberikan furosemid IV untuk meningkatkan ekskresi magnesium
  5. EMemberikan natrium bikarbonat IV untuk mengatasi asidosis akibat magnesium
Lihat jawaban
Jawaban: C. Menghentikan MgSO4 dan memberikan kalsium glukonat 10% 10 mL IV pelan

Tanda toksisitas magnesium sulfat meliputi hilangnya refleks patela, depresi napas (frekuensi napas kurang dari 16x/menit), dan oliguria (produksi urin kurang dari 30 mL/jam atau 100 mL/4 jam), yang pada pasien ini seluruhnya terpenuhi. Tindakan yang harus segera dilakukan adalah menghentikan pemberian MgSO4 dan memberikan antidotumnya, yaitu kalsium glukonat 10% sebanyak 10 mL (1 gram) secara intravena perlahan selama kurang lebih 10 menit, untuk mengantagonis efek magnesium pada neuromuscular junction. Pemantauan ketat terhadap refleks, frekuensi napas, dan saturasi oksigen harus dilanjutkan, dengan dukungan ventilasi bila diperlukan.

  • A. Melanjutkan MgSO4 pada pasien dengan tanda toksisitas berat sangat berbahaya dan dapat menyebabkan henti napas atau henti jantung.
  • B. Menurunkan dosis tanpa menghentikan terapi tidak adekuat pada kondisi toksisitas berat dengan depresi napas dan hilangnya refleks patela yang mengancam jiwa.
  • D. Furosemid tidak merupakan antidotum magnesium dan tidak mengatasi kegawatan depresi napas secara langsung.
  • E. Natrium bikarbonat tidak memiliki peran dalam mengatasi toksisitas magnesium sulfat.
Poin penting: Tanda toksisitas MgSO4 meliputi hilangnya refleks patela, depresi napas, dan oliguria; penanganannya adalah menghentikan MgSO4 dan memberikan kalsium glukonat 10% IV sebagai antidotum.
11

Seorang perempuan G1P0A0 usia 25 tahun, hamil 35 minggu, datang ke IGD rumah sakit dengan tekanan darah 172/118 mmHg pada dua kali pengukuran berjarak 15 menit. Pasien mengeluh nyeri kepala namun tidak ada kejang. Denyut jantung janin 145x/menit. Dokter akan memberikan terapi antihipertensi untuk menurunkan tekanan darah secara akut guna mencegah komplikasi serebrovaskular. Apakah obat yang paling tepat diberikan sebagai lini pertama pada kondisi ini?

  1. AMetildopa 500 mg per oral
  2. BCaptopril 25 mg per oral
  3. CAmlodipin 10 mg per oral dosis tunggal
  4. DFurosemid 40 mg intravena
  5. ENifedipin 10 mg per oral, dapat diulang setelah 30 menit bila target belum tercapai
Lihat jawaban
Jawaban: E. Nifedipin 10 mg per oral, dapat diulang setelah 30 menit bila target belum tercapai

Pada krisis hipertensi dalam kehamilan (tekanan darah sistolik ≥160 mmHg atau diastolik ≥110 mmHg), obat lini pertama yang direkomendasikan pedoman nasional adalah nifedipin oral kerja cepat (bukan sublingual) dengan dosis awal 10 mg, yang dapat diulang setiap 30 menit bila target tekanan darah belum tercapai, hingga dosis maksimal harian. Nifedipin bekerja sebagai penghambat kanal kalsium yang menyebabkan vasodilatasi arteriol sehingga menurunkan tekanan darah dengan cepat namun terkendali. Metildopa merupakan pilihan untuk kontrol hipertensi kronik jangka panjang, bukan untuk krisis akut, karena onset kerjanya lambat. Labetalol injeksi menjadi alternatif bila nifedipin tidak tersedia atau tidak efektif, sedangkan ACE inhibitor dikontraindikasikan pada kehamilan karena bersifat teratogenik dan nefrotoksik pada janin.

  • A. Metildopa memiliki onset kerja lambat dan digunakan untuk kontrol jangka panjang, bukan untuk menurunkan tekanan darah secara akut pada krisis hipertensi.
  • B. Captopril merupakan golongan ACE inhibitor yang dikontraindikasikan pada kehamilan karena risiko teratogenik dan gangguan ginjal janin.
  • C. Amlodipin bukan pilihan standar untuk krisis hipertensi akut karena onset kerjanya lebih lambat dibanding nifedipin kerja cepat.
  • D. Furosemid tidak diindikasikan untuk krisis hipertensi pada preeklampsia karena pasien umumnya mengalami penurunan volume intravaskular, bukan kelebihan cairan.
Poin penting: Nifedipin oral kerja cepat merupakan terapi lini pertama untuk krisis hipertensi akut dalam kehamilan, dengan labetalol sebagai alternatif intravena.
12

Seorang perempuan G3P2A0 usia 33 tahun, hamil 30 minggu dengan riwayat preeklampsia, datang dengan nyeri pada kuadran kanan atas abdomen dan mual sejak 1 hari. Tekanan darah 160/105 mmHg. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan hemoglobin 9,8 g/dL dengan gambaran sel darah merah fragmentosit pada hapusan darah tepi, LDH 850 U/L, SGOT 180 U/L, SGPT 165 U/L, dan trombosit 78.000/µL. Apakah diagnosis yang paling tepat pada pasien ini?

  1. APerlemakan hati akut pada kehamilan
  2. BKoagulasi intravaskular diseminata primer
  3. CPurpura trombotik trombositopenik
  4. DSindrom HELLP
  5. EHepatitis akut pada kehamilan
Lihat jawaban
Jawaban: D. Sindrom HELLP

Sindrom HELLP ditegakkan berdasarkan trias hemolisis (ditandai fragmentosit pada hapusan darah tepi dan peningkatan LDH), elevasi enzim hati (SGOT/SGPT meningkat), dan trombositopenia (trombosit kurang dari 100.000/µL), yang semuanya terpenuhi pada pasien ini dengan latar belakang preeklampsia. Patofisiologinya melibatkan kerusakan endotel pembuluh darah mikro yang menyebabkan hemolisis mikroangiopatik, aktivasi sistem koagulasi, dan disfungsi hepatosit. Sindrom HELLP merupakan komplikasi berat preeklampsia yang dapat berkembang menjadi ruptur hepar, koagulopati, dan gagal ginjal akut, sehingga memerlukan terminasi kehamilan segera setelah stabilisasi ibu.

  • A. Perlemakan hati akut pada kehamilan biasanya disertai hipoglikemia dan koagulopati berat tanpa hemolisis mikroangiopatik yang menonjol seperti pada kasus ini.
  • B. Diagnosis ini tidak menjelaskan kombinasi hemolisis dan elevasi enzim hati yang spesifik terkait preeklampsia pada pasien ini.
  • C. Purpura trombotik trombositopenik memiliki gambaran mirip namun biasanya disertai gejala neurologis dan demam, serta tidak terkait langsung dengan preeklampsia.
  • E. Hepatitis akut tidak menjelaskan adanya hemolisis dengan fragmentosit dan trombositopenia yang khas pada sindrom ini, serta biasanya tidak disertai hipertensi.
Poin penting: Sindrom HELLP didiagnosis berdasarkan trias hemolisis, elevasi enzim hati, dan trombositopenia pada pasien preeklampsia, dan merupakan indikasi terminasi kehamilan segera.
Kesulitan di satu topik?Minta asisten WhiteCoat Pro menjelaskannya, mengubah catatan Anda menjadi flashcard, atau menyusun rencana belajar untuk UKMPPD.
Buka asisten

Persalinan Normal & Distosia

4 soal
13

Seorang perempuan G2P1A0 usia 29 tahun bersalin di puskesmas PONED. Kepala bayi telah lahir namun bahu anterior tertahan di belakang simfisis pubis setelah dilakukan traksi aksial normal. Tidak ada penurunan kepala lebih lanjut meskipun ibu dipimpin mengejan. Bidan telah meminta ibu berhenti mengejan dan memanggil bantuan. Apakah tindakan awal yang paling tepat dilakukan selanjutnya?

  1. AMelakukan traksi curam ke bawah pada kepala bayi dengan tenaga lebih besar
  2. BSegera melakukan seksio sesarea darurat
  3. CMelakukan episiotomi luas segera tanpa manuver lain
  4. DMelakukan dorongan suprapubik ke arah fundus uteri
  5. EMemposisikan ibu hiperfleksi lutut ke dada (manuver McRoberts)
Lihat jawaban
Jawaban: E. Memposisikan ibu hiperfleksi lutut ke dada (manuver McRoberts)

Distosia bahu adalah kedaruratan obstetri yang memerlukan tata laksana bertahap dan sistematis. Langkah awal setelah memanggil bantuan adalah manuver McRoberts, yaitu hiperfleksi dan abduksi paha ibu ke arah dada, yang meningkatkan diameter anteroposterior pintu bawah panggul dan merotasi simfisis pubis sehingga bahu anterior dapat terlepas dari sangkutannya. Manuver ini berhasil pada sebagian besar kasus dan merupakan langkah pertama sesuai algoritma HELPERR/ALARM. Traksi berlebihan pada kepala harus dihindari karena berisiko menyebabkan cedera pleksus brakialis.

  • A. Traksi berlebihan meningkatkan risiko cedera pleksus brakialis dan fraktur klavikula.
  • B. Seksio sesarea tidak dapat dilakukan karena kepala bayi sudah lahir.
  • C. Episiotomi tidak mengatasi penyebab tulang pada distosia bahu dan bukan langkah pertama.
  • D. Dorongan suprapubik dilakukan setelah McRoberts gagal, bukan sebagai langkah awal.
Poin penting: Manuver McRoberts merupakan langkah tata laksana awal distosia bahu karena meningkatkan diameter panggul tanpa risiko traksi berlebihan.
14

Seorang perempuan G1P0A0 usia 24 tahun hamil 39 minggu dalam persalinan kala I fase aktif. Setelah dipantau menggunakan partograf selama 4 jam, grafik pembukaan serviks melewati garis waspada namun belum mencapai garis tindakan. His dinilai 2 kali dalam 10 menit, durasi 20 detik, teraba lemah. Pemeriksaan dalam: pembukaan 6 cm, kepala di Hodge III, ketuban sudah pecah, denyut jantung janin 140 kali/menit reguler. Tidak ditemukan tanda disproporsi kepala-panggul. Apakah tata laksana yang paling tepat?

  1. AEkstraksi vakum untuk mempercepat kala II
  2. BObservasi tanpa intervensi hingga pembukaan lengkap
  3. CPemberian misoprostol per vaginam untuk memperkuat his
  4. DSeksio sesarea segera karena partus macet
  5. EAugmentasi persalinan dengan infus oksitosin intravena
Lihat jawaban
Jawaban: E. Augmentasi persalinan dengan infus oksitosin intravena

Pasien ini mengalami inersia uteri hipotonik (his tidak adekuat) tanpa bukti disproporsi kepala panggul atau obstruksi, sehingga augmentasi oksitosin intravena merupakan tata laksana yang tepat untuk memperbaiki kualitas kontraksi. Augmentasi oksitosin diindikasikan ketika kemajuan persalinan melambat akibat his yang tidak adekuat, dengan syarat tidak ada kontraindikasi seperti CPD, malpresentasi, gawat janin, atau riwayat seksio sesarea klasik. Pemberian dilakukan secara titrasi bertahap dengan pemantauan ketat his dan denyut jantung janin untuk menghindari hiperstimulasi.

  • A. Ekstraksi vakum hanya dilakukan pada kala II dengan syarat pembukaan lengkap.
  • B. Observasi tanpa intervensi berisiko memperpanjang persalinan dan meningkatkan risiko partus macet.
  • C. Misoprostol digunakan untuk induksi pada serviks belum matang, bukan augmentasi kala I fase aktif dengan risiko hiperstimulasi tinggi.
  • D. Belum ada indikasi seksio sesarea karena belum melewati garis tindakan dan tidak ada tanda obstruksi.
Poin penting: Augmentasi oksitosin diindikasikan pada his yang tidak adekuat tanpa disproporsi kepala panggul atau kontraindikasi lain.
15

Seorang perempuan G3P2A0 usia 33 tahun hamil 38 minggu datang ke IGD rumah sakit dengan keluhan keluar darah segar dari jalan lahir tanpa rasa nyeri sejak 2 jam yang lalu. Tanda vital stabil. Pemeriksaan USG transabdominal yang dilakukan 1 minggu sebelumnya menunjukkan plasenta menutupi seluruh ostium uteri internum. Denyut jantung janin 145 kali/menit reguler, tidak ada his. Apakah tata laksana persalinan yang paling tepat untuk pasien ini?

  1. APersalinan pervaginam dengan amniotomi dini
  2. BEkstraksi vakum saat pembukaan lengkap
  3. CAugmentasi persalinan setelah observasi 6 jam
  4. DInduksi persalinan dengan oksitosin drip
  5. ESeksio sesarea elektif
Lihat jawaban
Jawaban: E. Seksio sesarea elektif

Plasenta previa totalis (plasenta menutupi seluruh ostium uteri internum) merupakan indikasi absolut seksio sesarea menurut PNPK karena persalinan pervaginam dapat menyebabkan perdarahan masif yang mengancam jiwa ibu dan janin. Pada kasus ini tidak terdapat his dan perdarahan bersifat tanpa nyeri, sesuai dengan gambaran klasik plasenta previa. Seksio sesarea elektif direncanakan pada usia gestasi matur untuk mencegah perdarahan antepartum berulang dan komplikasi saat inpartu.

  • A. Amniotomi pada plasenta previa dapat merobek pembuluh darah plasenta dan menyebabkan perdarahan hebat.
  • B. Ekstraksi vakum mensyaratkan persalinan pervaginam yang kontraindikasi pada plasenta previa totalis.
  • C. Observasi untuk augmentasi tidak sesuai karena risiko perdarahan meningkat seiring kemajuan persalinan.
  • D. Induksi oksitosin merangsang his yang dapat memicu perdarahan masif pada plasenta previa totalis.
Poin penting: Plasenta previa totalis merupakan indikasi absolut seksio sesarea karena risiko perdarahan masif bila dibiarkan persalinan pervaginam.
16

Seorang perempuan G2P1A0 usia 27 tahun hamil 38 minggu datang untuk kontrol antenatal. Pemeriksaan Leopold menunjukkan bagian terbawah janin lunak dan tidak bulat, dengan kepala teraba di fundus. USG mengonfirmasi presentasi bokong murni (frank breech), taksiran berat janin 2900 gram, tidak ada hiperekstensi kepala, pelvimetri klinis dalam batas normal, dan riwayat persalinan pervaginam sebelumnya tanpa komplikasi. Pasien menolak dilakukan versi luar dan menginginkan persalinan pervaginam. Apakah syarat tambahan yang paling penting untuk memastikan keamanan persalinan pervaginam pada kasus ini?

  1. APemberian tokolitik untuk memperlambat kemajuan persalinan
  2. BInduksi persalinan dengan oksitosin untuk mempercepat kala I
  3. CTersedianya fasilitas dan tim yang mampu melakukan seksio sesarea segera bila diperlukan
  4. DPemasangan kateter vena sentral sejak awal kala I
  5. EPemberian antibiotik profilaksis sebelum persalinan dimulai
Lihat jawaban
Jawaban: C. Tersedianya fasilitas dan tim yang mampu melakukan seksio sesarea segera bila diperlukan

Persalinan pervaginam pada presentasi bokong dapat dipertimbangkan bila memenuhi kriteria seperti presentasi bokong murni atau sempurna, tidak ada hiperekstensi kepala, taksiran berat janin sesuai, panggul adekuat, dan tidak ada riwayat seksio sesarea sebelumnya yang merugikan. Namun karena risiko komplikasi seperti prolaps tali pusat, distosia kepala, atau perlukaan pleksus brakialis lebih tinggi, persalinan harus dilakukan di fasilitas dengan kemampuan melakukan seksio sesarea segera (emergency caesarean section) sewaktu-waktu. Tanpa kesiapan ini, risiko morbiditas dan mortalitas perinatal meningkat signifikan.

  • A. Tokolitik tidak diperlukan selama persalinan berjalan normal tanpa indikasi gawat janin.
  • B. Induksi tidak dianjurkan secara rutin pada presentasi bokong karena meningkatkan risiko komplikasi.
  • D. Kateter vena sentral bukan bagian dari persyaratan standar persalinan sungsang.
  • E. Antibiotik profilaksis tidak menjadi syarat khusus untuk persalinan pervaginam presentasi bokong.
Poin penting: Persalinan pervaginam pada presentasi bokong hanya aman dilakukan di fasilitas dengan kesiapan seksio sesarea segera karena risiko komplikasi yang lebih tinggi.

Komplikasi Persalinan & Kegawatdaruratan Obstetri

4 soal
17

Seorang perempuan G4P3A0 usia 35 tahun dengan riwayat seksio sesarea klasik 3 tahun lalu, sedang dalam proses trial of labor after cesarean di rumah sakit. Tiba-tiba pasien mengeluh nyeri perut hebat dan menetap yang berbeda dari his sebelumnya, diikuti penghentian kontraksi uterus. Tekanan darah 85/55 mmHg, nadi 124 kali/menit, teraba bagian janin lebih jelas di bawah dinding abdomen, dan denyut jantung janin tiba-tiba turun menjadi 70 kali/menit. Apakah diagnosis dan tata laksana awal yang paling tepat?

  1. AAtonia uteri; pemberian uterotonika dan masase fundus
  2. BDistosia bahu; manuver McRoberts dan Rubin
  3. CInversio uteri; reposisi manual segera
  4. DSolusio plasenta; pemberian tokolitik dan observasi ketat
  5. ERuptur uteri; resusitasi cairan dan laparotomi segera
Lihat jawaban
Jawaban: E. Ruptur uteri; resusitasi cairan dan laparotomi segera

Nyeri perut hebat yang menetap disertai hilangnya kontraksi uterus, hipotensi, takikardia, bagian janin yang mudah teraba di bawah dinding abdomen, dan bradikardia janin berat merupakan gambaran klasik ruptur uteri, terutama pada pasien dengan riwayat seksio sesarea klasik yang menjalani trial of labor. Ruptur uteri adalah kedaruratan obstetri yang mengancam jiwa ibu dan janin sehingga memerlukan resusitasi cairan segera dan laparotomi emergensi untuk perbaikan atau histerektomi. Riwayat seksio sesarea klasik merupakan kontraindikasi trial of labor karena risiko ruptur yang tinggi pada insisi korporal.

  • A. Atonia uteri terjadi pasca persalinan dengan uterus lembek, bukan pada kala I dengan nyeri hebat mendadak.
  • B. Distosia bahu terjadi setelah kepala lahir, tidak sesuai dengan kondisi pasien yang masih dalam kala I.
  • C. Inversio uteri terjadi pasca persalinan dengan fundus uteri terbalik ke dalam vagina, tidak sesuai gambaran klinis ini.
  • D. Solusio plasenta biasanya disertai uterus tegang (hipertonik) terus-menerus, bukan hilangnya kontraksi.
Poin penting: Nyeri perut hebat mendadak disertai hilangnya his dan bradikardia janin berat pada pasien dengan riwayat seksio sesarea klasik mengarah pada ruptur uteri yang memerlukan laparotomi emergensi.
18

Seorang perempuan G2P1A0 usia 30 tahun hamil 40 minggu datang ke puskesmas PONED dengan ketuban pecah spontan 15 menit yang lalu. Pemeriksaan dalam oleh bidan menemukan bagian yang berpulsasi di depan bagian terbawah janin di dalam vagina. Denyut jantung janin sebelumnya 140 kali/menit, saat ini terdengar bervariasi turun hingga 90 kali/menit. Pembukaan serviks 4 cm, kepala janin masih tinggi (Hodge I). Apakah tindakan awal yang paling tepat dilakukan sebelum rujukan?

  1. AMemberikan oksitosin drip untuk mempercepat pembukaan
  2. BMelakukan amniotomi lengkap untuk mempercepat kemajuan persalinan
  3. CObservasi denyut jantung janin selama 30 menit sebelum mengambil tindakan
  4. DMendorong bagian terbawah janin ke atas dengan tangan pemeriksa tetap di vagina serta memposisikan ibu knee-chest atau Trendelenburg
  5. EMelakukan reposisi tali pusat ke dalam kavum uteri dengan tangan
Lihat jawaban
Jawaban: D. Mendorong bagian terbawah janin ke atas dengan tangan pemeriksa tetap di vagina serta memposisikan ibu knee-chest atau Trendelenburg

Prolaps tali pusat adalah kedaruratan obstetri karena kompresi tali pusat oleh bagian terbawah janin dapat menyebabkan asfiksia janin berat dalam waktu singkat, seperti terlihat pada penurunan denyut jantung janin pasien ini. Tata laksana awal adalah mengurangi tekanan pada tali pusat dengan mendorong bagian terbawah janin ke atas menggunakan tangan pemeriksa yang tetap berada di vagina, serta memposisikan ibu dalam posisi knee-chest atau Trendelenburg sambil segera merujuk untuk seksio sesarea emergensi. Tindakan ini mempertahankan oksigenasi janin sampai persalinan definitif dapat dilakukan.

  • A. Oksitosin akan memperkuat his dan memperburuk kompresi tali pusat.
  • B. Amniotomi tidak relevan karena ketuban sudah pecah dan tindakan ini tidak mengatasi kompresi tali pusat.
  • C. Observasi tanpa tindakan akan memperpanjang asfiksia janin yang mengancam jiwa.
  • E. Reposisi tali pusat ke dalam kavum uteri bukan tindakan standar dan sulit dipertahankan serta berisiko memperburuk prolaps.
Poin penting: Pada prolaps tali pusat, tindakan awal adalah mengurangi kompresi tali pusat dengan mendorong bagian terbawah janin ke atas dan posisi knee-chest sambil segera merujuk untuk seksio sesarea emergensi.
19

Seorang perempuan G1P0A0 usia 31 tahun sedang dalam kala II persalinan di rumah sakit. Segera setelah ketuban pecah dan his yang sangat kuat, pasien tiba-tiba mengalami sesak napas berat, sianosis, dan kemudian kejang diikuti penurunan kesadaran. Tekanan darah turun menjadi 70/40 mmHg, saturasi oksigen 78%, dan tampak perdarahan merembes dari vagina yang tidak membeku. Tidak ditemukan riwayat alergi atau penyakit jantung sebelumnya. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?

  1. AEmboli air ketuban
  2. BEklamsia
  3. CSyok anafilaktik
  4. DEdema paru akut kardiogenik
  5. EEmboli paru akibat trombosis vena dalam
Lihat jawaban
Jawaban: A. Emboli air ketuban

Emboli air ketuban (amniotic fluid embolism) khas terjadi secara tiba-tiba selama atau segera setelah persalinan, ditandai dengan trias klasik hipoksia akut, hipotensi atau syok kardiovaskular, dan koagulopati (ditunjukkan oleh perdarahan yang tidak membeku akibat DIC). Mekanismenya diduga melibatkan masuknya cairan ketuban dan debris janin ke sirkulasi maternal yang memicu respons inflamasi sistemik mirip anafilaksis, bukan reaksi alergi klasik. Diagnosis bersifat klinis karena tidak ada pemeriksaan konfirmatif yang cepat, dan tata laksana bersifat suportif berupa resusitasi ABC, koreksi koagulopati, dan persalinan segera jika janin belum lahir.

  • B. Eklamsia ditandai hipertensi dan proteinuria sebelumnya serta tidak menjelaskan koagulopati dan hipoksia akut mendadak ini.
  • C. Syok anafilaktik biasanya didahului pajanan alergen yang jelas dan tidak khas disertai koagulopati seperti pada kasus ini.
  • D. Edema paru kardiogenik tidak menjelaskan koagulopati dan biasanya didahului riwayat penyakit jantung.
  • E. Emboli paru akibat trombosis vena dalam biasanya tidak disertai koagulopati akut dan kejang, serta onsetnya tidak selalu terkait langsung dengan pecahnya ketuban saat persalinan aktif.
Poin penting: Emboli air ketuban ditandai trias hipoksia akut, syok kardiovaskular, dan koagulopati yang muncul tiba-tiba selama atau segera setelah persalinan.
20

Seorang perempuan G1P0A0 usia 26 tahun hamil 40 minggu dalam kala I fase aktif dipantau dengan kardiotokografi kontinu. Hasil rekaman menunjukkan denyut jantung janin baseline 150 kali/menit, variabilitas moderat (6-20 kali/menit), terdapat akselerasi sesuai gerakan janin, dan tidak ditemukan deselerasi. His 3 kali dalam 10 menit, durasi 40 detik. Apakah interpretasi dan tindak lanjut yang paling tepat untuk hasil ini?

  1. AKategori II; lakukan pengambilan sampel darah kulit kepala janin
  2. BKategori III (abnormal); persiapkan seksio sesarea emergensi
  3. CKategori II (intermediate); lakukan resusitasi intrauterin dan evaluasi ulang
  4. DKategori III; berikan tokolitik dan oksigenasi ibu
  5. EKategori I (normal); lanjutkan observasi persalinan secara rutin
Lihat jawaban
Jawaban: E. Kategori I (normal); lanjutkan observasi persalinan secara rutin

Kardiotokografi kategori I (normal) ditandai dengan baseline denyut jantung janin 110-160 kali/menit, variabilitas moderat, tidak ada deselerasi lambat atau variabel, dan dapat disertai akselerasi, sebagaimana ditemukan pada pasien ini. Pola ini menunjukkan status oksigenasi janin yang baik sehingga tidak diperlukan intervensi khusus selain observasi rutin sesuai standar pemantauan persalinan. Interpretasi kategori CTG yang tepat penting untuk menghindari intervensi berlebihan maupun keterlambatan tindakan pada janin yang sebenarnya mengalami gawat janin.

  • A. Pengambilan sampel darah kulit kepala dilakukan pada kategori II yang mencurigakan, tidak diperlukan pada pola normal ini.
  • B. Tidak ditemukan deselerasi lambat berulang, variabilitas tidak ada, atau pola sinusoidal yang menjadi ciri kategori III.
  • C. Gambaran ini tidak menunjukkan ciri kategori II seperti variabilitas minimal atau deselerasi variabel berulang.
  • D. Tokolitik dan kategori III tidak sesuai karena rekaman menunjukkan janin dalam kondisi baik.
Poin penting: Kardiotokografi kategori I menunjukkan baseline normal, variabilitas moderat, tanpa deselerasi, sehingga cukup dilakukan observasi persalinan rutin tanpa intervensi tambahan.

Perdarahan Postpartum

5 soal
21

Seorang perempuan, 29 tahun, P2A0, melahirkan bayi 3900 gram secara spontan di puskesmas 20 menit lalu. Plasenta lahir lengkap. Saat ini terjadi perdarahan aktif dari jalan lahir. Pada pemeriksaan, uterus teraba lunak dan tidak berkontraksi baik meskipun sudah dilakukan masase selama beberapa menit. Tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 102 kali/menit. Tidak ditemukan robekan pada vagina maupun perineum. Apakah mekanisme yang paling mungkin mendasari perdarahan pada pasien ini?

  1. ASisa jaringan plasenta yang tertinggal di kavum uteri
  2. BInversio uterus akibat tarikan tali pusat berlebihan
  3. CLaserasi pada jalan lahir yang tidak terdeteksi
  4. DGangguan kontraksi miometrium setelah pelahiran
  5. EGangguan faktor pembekuan darah akibat koagulopati
Lihat jawaban
Jawaban: D. Gangguan kontraksi miometrium setelah pelahiran

Uterus yang teraba lunak dan tidak berkontraksi dengan baik setelah pelahiran plasenta lengkap, tanpa adanya laserasi jalan lahir, menunjukkan atonia uteri sebagai penyebab perdarahan postpartum. Atonia uteri merupakan penyebab tersering perdarahan postpartum (sekitar 70-80% kasus) dan termasuk kategori Tone dalam klasifikasi 4T. Mekanismenya adalah kegagalan miometrium berkontraksi secara adekuat untuk menjepit pembuluh darah di bekas tempat implantasi plasenta. Faktor risiko meliputi overdistensi uterus seperti pada bayi makrosomia (3900 gram pada pasien ini), persalinan lama, dan multiparitas.

  • A. Plasenta disebutkan lahir lengkap sehingga kategori Tissue tidak sesuai pada kasus ini.
  • B. Tidak terdapat gambaran klinis khas inversio uterus seperti massa yang keluar dari introitus atau fundus uteri yang tidak teraba.
  • C. Pemeriksaan sudah menyingkirkan adanya robekan pada vagina dan perineum.
  • E. Tidak ada data klinis yang mengarah pada gangguan koagulasi pada pasien ini.
Poin penting: Atonia uteri (kategori Tone) adalah penyebab tersering perdarahan postpartum, ditandai uterus lunak dan tidak berkontraksi tanpa adanya sisa jaringan atau laserasi.
22

Seorang perempuan, 32 tahun, P3A0, baru melahirkan pervaginam 10 menit lalu di puskesmas dengan plasenta lahir lengkap. Terjadi perdarahan aktif, darah keluar mengalir deras dari vagina. Uterus teraba lunak dan tinggi fundus uteri setinggi umbilikus. Tekanan darah 90/60 mmHg, nadi 110 kali/menit, akral teraba dingin. Bidan sudah melakukan masase fundus selama 15 detik namun perdarahan tidak berkurang. Apakah tindakan selanjutnya yang paling tepat dilakukan?

  1. AMelakukan kuretase untuk mengeluarkan sisa jaringan
  2. BMemasang tampon kondom intrauterin
  3. CMemberikan oksitosin 10 IU intramuskular atau drip intravena
  4. DMelakukan rujukan segera tanpa tindakan tambahan
  5. EMemberikan asam traneksamat 1 gram intravena
Lihat jawaban
Jawaban: C. Memberikan oksitosin 10 IU intramuskular atau drip intravena

Pada atonia uteri, setelah masase fundus awal tidak berhasil menghentikan perdarahan, langkah berikutnya sesuai algoritma tata laksana perdarahan postpartum adalah pemberian uterotonika lini pertama, yaitu oksitosin 10 IU intramuskular atau infus drip intravena. Oksitosin bekerja merangsang kontraksi miometrium sehingga pembuluh darah di bekas implantasi plasenta tertekan dan perdarahan berkurang. Bila oksitosin dan masase tidak cukup, kompresi bimanual dan uterotonika lini kedua baru dipertimbangkan. Resusitasi cairan dan rujukan dilakukan secara simultan, bukan sebagai pengganti tindakan medikamentosa awal.

  • A. Tidak ada indikasi sisa jaringan plasenta pada kasus ini karena plasenta telah lahir lengkap.
  • B. Tampon kondom merupakan tindakan lanjutan bila uterotonika dan kompresi bimanual gagal menghentikan perdarahan.
  • D. Rujukan tetap diperlukan namun tindakan penyelamatan awal seperti pemberian uterotonika harus segera dilakukan lebih dulu.
  • E. Asam traneksamat adalah terapi tambahan, bukan lini pertama untuk atonia uteri sebelum uterotonika utama diberikan.
Poin penting: Tata laksana awal atonia uteri meliputi masase fundus dan pemberian oksitosin sebagai uterotonika lini pertama sebelum tindakan lanjutan lainnya.
23

Seorang perempuan, 35 tahun, P4A0, mengalami perdarahan postpartum akibat atonia uteri. Oksitosin drip intravena telah diberikan namun perdarahan masih berlangsung. Pasien memiliki riwayat hipertensi kronik dengan tekanan darah saat ini 150/100 mmHg. Dokter berencana memberikan uterotonika lini kedua. Apakah pilihan obat yang paling tepat dihindari pada pasien ini?

  1. AOksitosin dosis tambahan
  2. BMisoprostol
  3. CKarbetosin
  4. DAsam traneksamat
  5. EMetilergometrin
Lihat jawaban
Jawaban: E. Metilergometrin

Metilergometrin (ergometrin) merupakan kontraindikasi relatif pada pasien dengan hipertensi atau preeklampsia karena bekerja sebagai agonis alfa-adrenergik yang menyebabkan vasokonstriksi perifer, sehingga dapat memperburuk hipertensi dan meningkatkan risiko krisis hipertensi, stroke, atau kejang. Pada pasien dengan tekanan darah 150/100 mmHg, pemberian ergometrin harus dihindari dan diganti dengan misoprostol sebagai alternatif lini kedua yang lebih aman pada kondisi ini. Misoprostol bekerja sebagai analog prostaglandin E1 yang merangsang kontraksi uterus tanpa efek vasokonstriksi sistemik yang signifikan.

  • A. Oksitosin tidak memiliki efek vasokonstriksi sistemik seperti ergometrin sehingga tetap dapat digunakan pada hipertensi.
  • B. Misoprostol relatif aman digunakan pada pasien hipertensi karena tidak menimbulkan vasokonstriksi sistemik yang bermakna.
  • C. Karbetosin bekerja serupa oksitosin tanpa efek vasokonstriksi perifer sehingga tidak dikontraindikasikan pada hipertensi.
  • D. Asam traneksamat merupakan antifibrinolitik yang tidak memiliki efek vasokonstriksi dan dapat diberikan sebagai terapi tambahan.
Poin penting: Ergometrin dikontraindikasikan pada pasien hipertensi atau preeklampsia karena efek vasokonstriksinya dapat memicu krisis hipertensi.
24

Seorang perempuan, 34 tahun, G3P2A0, memiliki riwayat dua kali seksio sesarea sebelumnya, datang untuk pemeriksaan antenatal pada usia kehamilan 32 minggu. Pada pemeriksaan USG transabdominal ditemukan plasenta terletak di segmen bawah rahim menutupi ostium uteri internum, disertai hilangnya zona hipoekoik retroplasenta dan tampak banyak lakuna ireguler pada jaringan plasenta. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?

  1. APlasenta previa totalis tanpa penyulit
  2. BPlasenta akreta
  3. CSolusio plasenta
  4. DMola hidatidosa parsial
  5. EVasa previa
Lihat jawaban
Jawaban: B. Plasenta akreta

Gambaran USG berupa hilangnya zona hipoekoik retroplasenta (clear space) dan adanya lakuna ireguler multipel pada jaringan plasenta merupakan tanda khas plasenta akreta, yaitu kondisi invasi abnormal trofoblas plasenta ke dalam atau melebihi miometrium akibat kerusakan desidua basalis. Riwayat seksio sesarea berulang merupakan faktor risiko utama karena jaringan parut uterus mengganggu pembentukan desidua yang normal. Plasenta akreta sering disertai plasenta previa, namun temuan lakuna dan hilangnya zona clear space yang menunjukkan spektrum akreta sebagai diagnosis utama yang perlu diwaspadai pada kasus ini.

  • A. Plasenta previa totalis murni tanpa penyulit tidak akan menunjukkan gambaran lakuna ireguler dan hilangnya zona retroplasenta.
  • C. Solusio plasenta memberikan gambaran USG berupa hematoma retroplasenta, bukan lakuna ireguler pada jaringan plasenta.
  • D. Mola hidatidosa parsial memberikan gambaran vesikuler difus menyeluruh pada jaringan plasenta, berbeda dengan lakuna fokal pada akreta.
  • E. Vasa previa ditandai oleh pembuluh darah janin yang melintasi ostium uteri internum tanpa dilindungi jaringan plasenta atau tali pusat.
Poin penting: Riwayat seksio sesarea berulang disertai gambaran USG hilangnya zona retroplasenta dan lakuna ireguler mengarahkan diagnosis plasenta akreta.
25

Seorang bidan menolong persalinan normal seorang perempuan, 26 tahun, G1P0A0 di puskesmas. Bayi lahir sehat dan menangis kuat. Bidan bermaksud melakukan manajemen aktif kala tiga untuk mencegah perdarahan postpartum. Apakah komponen tindakan yang paling tepat dilakukan segera setelah bayi lahir?

  1. AMemijat fundus uteri secara terus-menerus selama satu jam
  2. BMenunda klem tali pusat selama lebih dari 3 menit pada semua kasus
  3. CMelakukan traksi tali pusat sebelum tanda pelepasan plasenta muncul
  4. DMemberikan infus cairan kristaloid dalam jumlah besar secara rutin
  5. EPemberian oksitosin 10 IU intramuskular dalam satu menit setelah bayi lahir
Lihat jawaban
Jawaban: E. Pemberian oksitosin 10 IU intramuskular dalam satu menit setelah bayi lahir

Manajemen aktif kala tiga merupakan intervensi standar untuk mencegah perdarahan postpartum, dan komponen utamanya adalah pemberian oksitosin 10 IU secara intramuskular dalam satu menit setelah bayi lahir, segera setelah dipastikan tidak ada bayi kedua. Oksitosin merangsang kontraksi uterus yang kuat sehingga mempercepat pelepasan plasenta dan mengurangi risiko atonia uteri. Komponen lain manajemen aktif kala tiga meliputi peregangan tali pusat terkendali setelah tanda pelepasan plasenta muncul dan masase fundus uteri setelah plasenta lahir, bukan sebelumnya atau dilakukan secara sembarangan.

  • A. Masase fundus dilakukan segera setelah plasenta lahir, bukan secara terus-menerus selama satu jam sebelum plasenta lahir.
  • B. Penundaan klem tali pusat bukan komponen utama pencegahan perdarahan postpartum dan tidak dilakukan secara rutin tanpa indikasi pada semua kasus.
  • C. Traksi tali pusat terkendali hanya dilakukan setelah tanda-tanda pelepasan plasenta muncul, bukan sebelumnya karena berisiko menyebabkan inversio uteri.
  • D. Pemberian cairan kristaloid rutin dalam jumlah besar bukan komponen manajemen aktif kala tiga dan tidak mencegah atonia uteri.
Poin penting: Komponen utama manajemen aktif kala tiga adalah pemberian oksitosin segera setelah bayi lahir untuk mencegah perdarahan postpartum akibat atonia uteri.

Infeksi dalam Kehamilan & Nifas

4 soal
26

Seorang perempuan, 27 tahun, P1A0, datang ke puskesmas dengan demam sejak 2 hari setelah melahirkan pervaginam di rumah 4 hari yang lalu. Pasien mengeluh nyeri perut bawah dan keluar cairan dari jalan lahir berbau tidak sedap. Suhu tubuh 38,7°C, tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 100 kali/menit. Pada pemeriksaan abdomen ditemukan nyeri tekan suprapubik dan fundus uteri masih teraba setinggi 2 jari di atas simfisis. Pemeriksaan dalam menunjukkan lokia purulen berbau. Apakah diagnosis yang paling mungkin?

  1. AInfeksi saluran kemih
  2. BEndometritis postpartum
  3. CSisa plasenta tanpa infeksi
  4. DMastitis puerperalis
  5. EAbses pelvis
Lihat jawaban
Jawaban: B. Endometritis postpartum

Demam di atas 38°C pada periode nifas disertai nyeri tekan uterus (subinvolusi dan nyeri suprapubik), lokia purulen berbau, serta takikardia merupakan gambaran klasik endometritis postpartum, yaitu infeksi pada lapisan endometrium akibat kontaminasi bakteri asenden dari jalan lahir setelah persalinan. Faktor risiko meliputi persalinan lama, ketuban pecah dini, dan tindakan manual pada jalan lahir. Tata laksana standar adalah antibiotik spektrum luas secara intravena yang mencakup kuman aerob dan anaerob, seperti kombinasi ampisilin, gentamisin, dan metronidazol, sampai pasien afebris minimal 24-48 jam.

  • A. Infeksi saluran kemih umumnya disertai gejala disuria atau nyeri pinggang dan tidak menjelaskan lokia purulen serta nyeri uterus.
  • C. Sisa plasenta tanpa infeksi tidak akan menimbulkan demam dan lokia berbau seperti pada kasus ini.
  • D. Mastitis puerperalis ditandai dengan nyeri, kemerahan, dan pembengkakan pada payudara, bukan nyeri uterus dan lokia purulen.
  • E. Abses pelvis biasanya merupakan komplikasi lanjut endometritis yang tidak membaik dengan antibiotik, dengan massa teraba pada pemeriksaan, belum sesuai pada presentasi awal ini.
Poin penting: Endometritis postpartum ditegakkan berdasarkan demam, nyeri tekan uterus, dan lokia purulen berbau pada periode nifas, dengan tata laksana antibiotik spektrum luas intravena.
27

Seorang perempuan, 29 tahun, G1P0A0, usia kehamilan 38 minggu, dirawat dengan ketuban pecah sejak 18 jam yang lalu. Saat ini pasien mengeluh demam, suhu tubuh 38,5°C, nadi 110 kali/menit. Denyut jantung janin 165 kali/menit. Pada pemeriksaan dalam ditemukan cairan ketuban berbau tidak sedap dan nyeri tekan pada uterus. Leukosit darah 16.000/µL. Apakah tata laksana yang paling tepat dilakukan selanjutnya?

  1. AObservasi suhu tubuh setiap 4 jam tanpa terapi antibiotik
  2. BPemberian antibiotik intravena segera dan terminasi persalinan
  3. CAmnioinfusion untuk mengurangi bau cairan ketuban
  4. DTokolitik untuk menunda persalinan hingga infeksi teratasi
  5. EPemberian antipiretik saja dan pemantauan ketat tanpa antibiotik
Lihat jawaban
Jawaban: B. Pemberian antibiotik intravena segera dan terminasi persalinan

Diagnosis korioamnionitis ditegakkan secara klinis berdasarkan demam maternal disertai minimal satu kriteria tambahan seperti takikardia maternal, takikardia janin, nyeri tekan uterus, atau cairan ketuban berbau, seperti pada pasien ini. Tata laksana korioamnionitis adalah pemberian antibiotik spektrum luas intravena segera, seperti ampisilin dan gentamisin, disertai upaya terminasi persalinan secepatnya karena memperpanjang kehamilan meningkatkan risiko sepsis maternal dan neonatal. Persalinan pervaginam dapat tetap diupayakan bila memungkinkan, namun seksio sesarea dilakukan atas indikasi obstetri lainnya, bukan karena korioamnionitis semata.

  • A. Observasi tanpa antibiotik berisiko memperburuk infeksi menjadi sepsis maternal maupun gawat janin.
  • C. Amnioinfusion tidak memiliki peran dalam tata laksana korioamnionitis dan tidak mengatasi infeksi yang mendasarinya.
  • D. Tokolitik dikontraindikasikan pada korioamnionitis karena memperpanjang masa infeksi intrauterin dan meningkatkan risiko sepsis.
  • E. Antipiretik saja tidak mengatasi sumber infeksi dan tidak sesuai dengan tata laksana standar korioamnionitis yang memerlukan antibiotik.
Poin penting: Korioamnionitis ditegakkan secara klinis dari demam disertai takikardia, nyeri uterus, atau cairan ketuban berbau, dengan tata laksana antibiotik intravena segera dan terminasi persalinan.
28

Seorang perempuan berusia 26 tahun, G1P0A0, hamil 10 minggu, datang ke puskesmas untuk antenatal care. Ia memiliki kucing peliharaan di rumah dan sering membersihkan kotak pasir kucing tanpa sarung tangan. Pemeriksaan fisik dalam batas normal. Dokter ingin melakukan skrining infeksi yang dapat menyebabkan korioretinitis, kalsifikasi intrakranial, dan hidrosefalus pada janin bila ibu terinfeksi primer selama hamil. Pemeriksaan serologi apakah yang paling tepat diusulkan untuk mendeteksi infeksi akut tersebut?

  1. AAntigen permukaan Hepatitis B (HBsAg)
  2. BIgM anti-CMV dan deteksi DNA CMV urin
  3. CIgM dan IgG anti-HSV tipe 2
  4. DIgM dan IgG anti-Toxoplasma
  5. EIgM dan IgG anti-Rubella
Lihat jawaban
Jawaban: D. IgM dan IgG anti-Toxoplasma

Paparan kotoran kucing merupakan faktor risiko klasik toksoplasmosis karena kucing adalah inang definitif Toxoplasma gondii yang mengeluarkan ookista melalui feses. Infeksi primer pada ibu hamil dapat menular secara transplasental dan menyebabkan triad klasik pada janin berupa korioretinitis, kalsifikasi intrakranial, dan hidrosefalus. Diagnosis infeksi akut ditegakkan dengan IgM anti-Toxoplasma positif disertai IgG yang dikonfirmasi dengan uji aviditas untuk menentukan waktu infeksi. Skrining ini penting agar dapat diberikan terapi spiramisin untuk mengurangi risiko transmisi vertikal.

  • A. HBsAg digunakan untuk skrining hepatitis B, tidak sesuai dengan faktor risiko dan gambaran klinis pada kasus ini.
  • B. CMV tidak berkaitan dengan riwayat paparan kucing dan biasanya ditularkan melalui cairan tubuh atau kontak dekat.
  • C. HSV tipe 2 ditularkan secara seksual dan tidak berhubungan dengan paparan kotoran kucing.
  • E. Rubella tidak berkaitan dengan paparan kotoran kucing; gambaran klasiknya adalah katarak kongenital, tuli, dan kelainan jantung.
Poin penting: Paparan kotoran kucing pada ibu hamil mengarahkan kecurigaan toksoplasmosis kongenital, yang didiagnosis dengan serologi IgM/IgG anti-Toxoplasma.
29

Seorang perempuan berusia 29 tahun, G2P1A0, hamil 28 minggu, datang kontrol ke puskesmas. Hasil tes HIV pada trimester pertama menunjukkan reaktif dan telah dikonfirmasi dengan pemeriksaan lanjutan. Pemeriksaan CD4 saat ini 450 sel/mikroL dan viral load belum diperiksa. Pasien belum pernah mendapat terapi antiretroviral sebelumnya. Apakah tata laksana yang paling tepat untuk mencegah transmisi HIV dari ibu ke bayi pada kasus ini?

  1. AMemberikan terapi antiretroviral hanya jika viral load di atas 1000 kopi/mL
  2. BMemberikan zidovudin tunggal hanya pada saat persalinan
  3. CMenunda terapi antiretroviral sampai CD4 di bawah 350 sel/mikroL
  4. DMemulai terapi antiretroviral kombinasi segera tanpa menunggu hasil CD4 atau viral load
  5. EMenunda terapi antiretroviral sampai trimester ketiga
Lihat jawaban
Jawaban: D. Memulai terapi antiretroviral kombinasi segera tanpa menunggu hasil CD4 atau viral load

Menurut pedoman nasional pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak (PPIA) Kemenkes, semua ibu hamil dengan HIV positif harus segera memulai terapi antiretroviral kombinasi (ART) begitu diagnosis ditegakkan, tanpa menunggu hasil CD4 atau viral load, mengikuti prinsip 'test and treat'. Pemberian ART dini menurunkan viral load ibu sehingga risiko transmisi vertikal selama kehamilan, persalinan, dan menyusui dapat ditekan secara bermakna. Regimen lini pertama yang direkomendasikan adalah kombinasi tenofovir, lamivudin, dan efavirenz. Penundaan terapi hanya akan memperbesar risiko penularan ke janin.

  • A. Pemberian ART tidak bergantung pada ambang viral load tertentu; semua ibu hamil HIV positif harus diterapi.
  • B. Zidovudin tunggal saat persalinan merupakan strategi lama yang kurang efektif dibanding ART kombinasi dini.
  • C. Strategi menunggu ambang CD4 tertentu sudah tidak sesuai pedoman 'test and treat' terkini yang menganjurkan terapi segera.
  • E. Menunda hingga trimester ketiga memperpanjang periode viral load tinggi dan meningkatkan risiko transmisi.
Poin penting: Semua ibu hamil dengan HIV positif harus segera memulai terapi antiretroviral kombinasi tanpa menunggu CD4 atau viral load untuk mencegah transmisi vertikal.

Kehamilan Ektopik & Abortus

2 soal
30

Seorang perempuan berusia 27 tahun datang ke IGD dengan nyeri perut bawah mendadak sejak 2 jam yang lalu disertai pingsan sesaat. Ia mengaku terlambat haid 7 minggu. Tekanan darah 90/60 mmHg, nadi 118 kali/menit, konjungtiva pucat. Pemeriksaan abdomen: nyeri tekan dan nyeri lepas pada kuadran bawah, defans muskular minimal. Pemeriksaan dalam: nyeri goyang porsio positif, kavum Douglas menonjol. Pemeriksaan beta-hCG kualitatif urin positif. Apakah pemeriksaan penunjang yang paling tepat dilakukan segera untuk mengonfirmasi diagnosis pada kasus ini?

  1. AUSG transvaginal dan kadar beta-hCG serum
  2. BKultur darah dan pemeriksaan darah tepi lengkap
  3. CFoto polos abdomen tiga posisi
  4. DCT scan abdomen dengan kontras
  5. EKuldosentesis diikuti laparoskopi diagnostik elektif
Lihat jawaban
Jawaban: A. USG transvaginal dan kadar beta-hCG serum

Pada kecurigaan kehamilan ektopik terganggu dengan tanda syok hipovolemik, kombinasi USG transvaginal dan kadar beta-hCG serum kuantitatif merupakan modalitas utama untuk konfirmasi diagnosis secara cepat. USG transvaginal dapat memperlihatkan kavum uteri kosong disertai massa adneksa atau cairan bebas di kavum Douglas, sedangkan kadar beta-hCG membantu menilai kesesuaian usia gestasi dan memantau kinetika kadarnya. Pada kasus dengan hemodinamik tidak stabil seperti ini, pasien harus segera distabilkan dan dipersiapkan untuk laparotomi emergensi tanpa menunda waktu untuk pencitraan tambahan yang tidak perlu. Diagnosis klinis yang kuat disertai konfirmasi USG sudah cukup untuk indikasi operasi segera.

  • B. Kultur darah tidak relevan pada kecurigaan ruptur kehamilan ektopik; pemeriksaan darah lengkap hanya menunjang penilaian anemia, bukan konfirmasi diagnosis.
  • C. Foto polos abdomen tidak dapat mendeteksi kehamilan ektopik dan tidak informatif pada kondisi ini.
  • D. CT scan memerlukan waktu lebih lama dan radiasi tinggi, tidak sesuai untuk pasien dengan tanda syok yang memerlukan tindakan cepat.
  • E. Kuldosentesis sudah ditinggalkan karena invasif dan kurang akurat; laparoskopi elektif tidak sesuai karena pasien memerlukan tindakan emergensi.
Poin penting: Kecurigaan kehamilan ektopik terganggu dengan tanda syok dikonfirmasi cepat melalui USG transvaginal dan beta-hCG serum sebelum tindakan operatif segera.
31

Seorang perempuan berusia 24 tahun, G1P0A0, datang ke poli kebidanan dengan keluhan terlambat haid 6 minggu dan nyeri perut bawah ringan. Hemodinamik stabil, tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 82 kali/menit. USG transvaginal menunjukkan kavum uteri kosong, massa adneksa kanan berukuran 2,5 cm tanpa gambaran kantung yolk atau denyut jantung janin, tanpa cairan bebas di kavum Douglas. Kadar beta-hCG serum 1200 mIU/mL. Fungsi hati dan ginjal normal. Pasien menginginkan penanganan yang tidak memerlukan operasi. Apakah tata laksana yang paling tepat untuk kasus ini?

  1. AMisoprostol per vaginam dosis tunggal
  2. BLaparoskopi salpingostomi segera
  3. CLaparotomi salpingektomi segera
  4. DObservasi ekspektatif tanpa terapi dan tanpa pemantauan
  5. EMetotreksat dosis tunggal intramuskular dengan pemantauan beta-hCG serial
Lihat jawaban
Jawaban: E. Metotreksat dosis tunggal intramuskular dengan pemantauan beta-hCG serial

Pada kehamilan ektopik belum ruptur dengan hemodinamik stabil, massa adneksa kecil (kurang dari 3,5 cm), tidak ada aktivitas jantung janin, dan kadar beta-hCG di bawah 5000 mIU/mL, terapi medikamentosa dengan metotreksat dosis tunggal intramuskular merupakan pilihan yang sesuai dan efektif. Metotreksat bekerja sebagai antagonis asam folat yang menghambat proliferasi sel trofoblas. Pemantauan beta-hCG dilakukan pada hari ke-4 dan ke-7 pascainjeksi, dengan keberhasilan terapi ditandai penurunan kadar beta-hCG minimal 15% antara kedua pemeriksaan tersebut. Pasien harus diedukasi untuk kontrol rutin karena risiko kegagalan terapi memerlukan tindakan bedah.

  • A. Misoprostol digunakan untuk evakuasi hasil konsepsi intrauterin, bukan untuk kehamilan ektopik.
  • B. Salpingostomi laparoskopi tetap merupakan tindakan bedah yang tidak diperlukan pada kasus dengan kriteria memenuhi syarat terapi medikamentosa.
  • C. Salpingektomi merupakan tindakan bedah definitif yang tidak sesuai dengan keinginan pasien untuk terapi nonoperatif pada kasus stabil ini.
  • D. Observasi tanpa terapi dan tanpa pemantauan berisiko tinggi terjadi ruptur tuba yang tidak terdeteksi.
Poin penting: Kehamilan ektopik belum ruptur dengan massa kecil, tanpa denyut jantung janin, dan beta-hCG di bawah 5000 mIU/mL dapat diterapi dengan metotreksat dosis tunggal disertai pemantauan beta-hCG serial.

Gangguan Haid & Endokrinologi Reproduksi

4 soal
32

Seorang perempuan berusia 42 tahun, P3A0, datang ke puskesmas dengan keluhan haid banyak dan memanjang hingga 10 hari sejak 6 bulan terakhir, disertai rasa penuh di perut bawah. Siklus haid teratur setiap 28 hari. Pemeriksaan bimanual: uterus membesar seperti kehamilan 10 minggu, konsistensi padat kenyal, permukaan berbenjol-benjol, tidak nyeri tekan. Tes kehamilan negatif. Kadar hemoglobin 9,8 g/dL. USG transvaginal menunjukkan beberapa massa hipoekoik berbatas tegas pada dinding miometrium dengan ukuran terbesar 5 cm, endometrium tidak menebal. Apakah kategori penyebab perdarahan uterus abnormal yang paling tepat menurut klasifikasi PALM-COEIN pada kasus ini?

  1. AKoagulopati
  2. BLeiomioma (Myoma)
  3. CAdenomiosis
  4. DHiperplasia endometrium
  5. EPolip endometrium
Lihat jawaban
Jawaban: B. Leiomioma (Myoma)

Gambaran uterus membesar, berbenjol-benjol, serta USG yang menunjukkan massa hipoekoik multipel berbatas tegas pada dinding miometrium merupakan karakteristik khas leiomioma uteri, kategori 'M' dalam klasifikasi PALM-COEIN. Leiomioma submukosa atau intramural yang besar dapat menyebabkan perdarahan uterus abnormal akibat gangguan kontraktilitas miometrium dan peningkatan luas permukaan endometrium yang berdarah. Anemia pada pasien ini merupakan akibat dari kehilangan darah kronis akibat menorrhagia. Diagnosis definitif leiomioma ditegakkan dengan USG yang memperlihatkan massa well-defined terpisah dari endometrium normal, berbeda dengan adenomiosis yang batasnya tidak tegas.

  • A. Koagulopati merupakan kelainan sistemik yang biasanya disertai riwayat mudah memar atau perdarahan di tempat lain, tidak sesuai dengan temuan massa uterus pada kasus ini.
  • C. Adenomiosis khas menunjukkan uterus membesar difus dengan batas tidak tegas dan gambaran heterogen pada miometrium, berbeda dengan massa berbatas tegas pada kasus ini.
  • D. Hiperplasia endometrium ditandai penebalan lapisan endometrium pada USG, sedangkan pada kasus ini endometrium dilaporkan tidak menebal.
  • E. Polip endometrium umumnya tampak sebagai lesi intrakaviter kecil pada USG, bukan massa miometrium multipel besar seperti pada kasus ini.
Poin penting: Massa miometrium multipel berbatas tegas pada USG dengan uterus berbenjol mengarahkan diagnosis leiomioma sebagai penyebab perdarahan uterus abnormal kategori struktural dalam klasifikasi PALM-COEIN.
33

Seorang perempuan berusia 24 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan siklus haid tidak teratur sejak 3 tahun terakhir, dengan interval 45-60 hari. Pasien juga mengeluh pertumbuhan rambut berlebih di area wajah dan dagu. Pemeriksaan fisik: TB 158 cm, BB 72 kg, IMT 28,8 kg/m2, terdapat hirsutisme pada wajah dan garis tengah abdomen. Pemeriksaan USG transvaginal menunjukkan ovarium kanan dengan 14 folikel ukuran 4-8 mm tersusun di pinggir ovarium. Pemeriksaan hormon tiroid dan prolaktin dalam batas normal.

  1. ASindrom ovarium polikistik
  2. BTumor ovarium penghasil androgen
  3. CSindrom Cushing
  4. DHiperplasia adrenal kongenital
  5. EHipotiroidisme subklinis
Lihat jawaban
Jawaban: A. Sindrom ovarium polikistik

Diagnosis ditegakkan berdasarkan kriteria Rotterdam yang memerlukan minimal 2 dari 3 kriteria: oligo/anovulasi, hiperandrogenisme klinis atau biokimia, dan gambaran ovarium polikistik pada USG (≥12 folikel berukuran 2-9 mm atau volume ovarium >10 mL), setelah menyingkirkan penyebab lain. Pasien ini memenuhi ketiga kriteria yaitu siklus haid tidak teratur (anovulasi), hirsutisme (hiperandrogenisme klinis), dan gambaran polikistik pada USG. Fungsi tiroid dan prolaktin normal sudah menyingkirkan diagnosis banding endokrin lain yang dapat menyerupai PCOS.

  • B. Tumor ovarium penghasil androgen biasanya menyebabkan hiperandrogenisme yang berat dan progresif cepat, bukan gambaran folikel multipel bilateral yang khas PCOS.
  • C. Sindrom Cushing disertai gambaran klinis khas seperti moon face, buffalo hump, dan striae yang tidak ditemukan pada pasien ini.
  • D. Hiperplasia adrenal kongenital onset lambat biasanya disertai riwayat keluarga dan kadar 17-hidroksiprogesteron yang meningkat, tidak disebutkan pada kasus ini.
  • E. Hipotiroidisme subklinis dapat menyebabkan gangguan haid namun pemeriksaan tiroid pasien ini dalam batas normal.
Poin penting: Diagnosis PCOS menggunakan kriteria Rotterdam memerlukan minimal 2 dari 3 kriteria: oligo/anovulasi, hiperandrogenisme, dan gambaran ovarium polikistik pada USG, setelah menyingkirkan penyebab lain.
34

Seorang perempuan berusia 17 tahun dibawa ke IGD dengan perdarahan pervaginam yang banyak sejak 10 hari, mengganti pembalut hingga 6-7 kali per hari. Pasien belum menikah dan menyangkal aktivitas seksual. Tanda vital: TD 110/70 mmHg, nadi 98x/menit, suhu 36,7°C. Pemeriksaan abdomen dan genital eksterna dalam batas normal, tidak teraba massa. Pemeriksaan laboratorium: Hb 10,2 g/dL, trombosit 280.000/µL, tes kehamilan negatif, fungsi tiroid normal. USG transabdominal menunjukkan uterus dan ovarium normal tanpa massa. Dokter mendiagnosis perdarahan uterus disfungsional akibat anovulasi.

  1. AKuretase diagnostik segera
  2. BHisterektomi elektif
  3. CPemberian asam traneksamat per oral saja
  4. DPemberian GnRH agonis jangka panjang
  5. EPemberian kombinasi estrogen-progestin dosis tinggi secara oral
Lihat jawaban
Jawaban: E. Pemberian kombinasi estrogen-progestin dosis tinggi secara oral

Pada perdarahan uterus disfungsional akibat anovulasi dengan perdarahan akut yang cukup banyak namun hemodinamik stabil, terapi hormonal lini pertama adalah kombinasi estrogen-progestin dosis tinggi untuk menstabilkan dan meregenerasi endometrium secara cepat. Regimen ini bekerja dengan menghentikan perdarahan melalui efek estrogen yang menstabilkan permukaan endometrium yang rapuh akibat stimulasi estrogen tanpa lawan dari siklus anovulatoar. Setelah perdarahan terkontrol, dosis diturunkan secara tapering diikuti dengan terapi rumatan. Kuretase dan histerektomi tidak sesuai untuk remaja yang belum menikah dan tanpa kecurigaan patologi struktural.

  • A. Kuretase diagnostik tidak menjadi pilihan utama pada remaja dengan perdarahan anovulatoar tanpa kecurigaan patologi endometrium.
  • B. Histerektomi adalah tindakan definitif yang tidak sesuai untuk pasien usia remaja dengan perdarahan fungsional yang reversibel.
  • C. Asam traneksamat saja kurang efektif untuk perdarahan anovulatoar akut yang banyak dan tidak mengatasi ketidakseimbangan hormonal yang mendasari.
  • D. GnRH agonis menyebabkan amenorea melalui supresi hipofisis-ovarium namun bukan terapi lini pertama untuk perdarahan akut dan tidak sesuai untuk pasien usia reproduksi muda yang ingin tetap berfungsi normal.
Poin penting: Perdarahan uterus disfungsional anovulatoar akut dengan hemodinamik stabil ditangani dengan kombinasi estrogen-progestin dosis tinggi sebagai terapi hormonal lini pertama.
35

Seorang perempuan berusia 52 tahun datang dengan keluhan rasa panas yang menjalar dari dada ke wajah disertai berkeringat banyak, terjadi beberapa kali sehari sejak 6 bulan terakhir, serta kesulitan tidur dan haid yang tidak teratur dalam 1 tahun terakhir sebelum berhenti total 8 bulan yang lalu. Pasien masih memiliki uterus dan belum pernah menjalani histerektomi. Pemeriksaan fisik dan mammografi dalam batas normal, tidak ada riwayat kanker payudara, tromboemboli, atau penyakit hati. Pasien ingin mendapat terapi untuk mengurangi keluhannya.

  1. ATibolon dosis tinggi tanpa pemantauan
  2. BProgestin tunggal dosis tinggi
  3. CEstrogen oral tunggal tanpa progestin
  4. DTestosteron transdermal
  5. EKombinasi estrogen dan progestin
Lihat jawaban
Jawaban: E. Kombinasi estrogen dan progestin

Pada perempuan dengan uterus intak yang mengalami sindrom menopause dengan gejala vasomotor signifikan tanpa kontraindikasi, terapi hormon pengganti kombinasi estrogen-progestin adalah pilihan tepat. Progestin diberikan bersama estrogen untuk melindungi endometrium dari hiperplasia dan risiko karsinoma endometrium yang dapat terjadi bila estrogen diberikan tanpa lawan pada perempuan yang masih memiliki uterus. Terapi ini efektif mengurangi gejala vasomotor seperti hot flush dan gangguan tidur, serta harus digunakan pada dosis efektif terendah dengan evaluasi berkala.

  • A. Tibolon memang dapat digunakan namun pemberian dosis tinggi tanpa pemantauan tidak sesuai prinsip dosis efektif terendah dalam terapi hormon menopause.
  • B. Progestin tunggal dosis tinggi bukan terapi lini pertama untuk gejala vasomotor menopause pada perempuan tanpa kontraindikasi estrogen.
  • C. Estrogen tunggal tanpa progestin hanya sesuai untuk perempuan pasca histerektomi karena risiko hiperplasia dan kanker endometrium bila diberikan pada uterus yang masih intak.
  • D. Testosteron transdermal tidak diindikasikan sebagai terapi lini pertama untuk gejala vasomotor menopause.
Poin penting: Perempuan dengan uterus intak yang menjalani terapi hormon pengganti untuk sindrom menopause harus menerima kombinasi estrogen-progestin untuk mencegah hiperplasia endometrium.

Infeksi Genitalia & Penyakit Menular Seksual

3 soal
36

Seorang perempuan berusia 29 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan keputihan berbau tidak sedap seperti amis sejak 1 minggu, terutama memberat setelah berhubungan seksual. Tidak ada rasa gatal atau nyeri. Pemeriksaan inspekulo menunjukkan sekret vagina homogen berwarna keabu-abuan yang melekat pada dinding vagina, tanpa tanda inflamasi pada mukosa vagina. Pemeriksaan pH sekret vagina menunjukkan nilai 5,2. Pemeriksaan mikroskopis sekret dengan larutan KOH 10% menghasilkan bau amis yang semakin tajam.

  1. AKandidiasis vaginalis
  2. BVaginosis bakterialis
  3. CVaginitis atrofi
  4. DServisitis gonore
  5. ETrikomoniasis vaginalis
Lihat jawaban
Jawaban: B. Vaginosis bakterialis

Vaginosis bakterialis didiagnosis berdasarkan kriteria Amsel yaitu minimal 3 dari 4 kriteria: sekret vagina homogen keabu-abuan, pH vagina lebih dari 4,5, tes whiff positif (bau amis dengan penambahan KOH), dan ditemukannya clue cells pada pemeriksaan mikroskopis. Pasien ini menunjukkan sekret homogen keabuan, pH 5,2, dan tes whiff positif sehingga memenuhi kriteria diagnosis. Kondisi ini disebabkan oleh pergeseran flora vagina dari Lactobacillus menjadi bakteri anaerob seperti Gardnerella vaginalis, bukan proses inflamasi sehingga tidak disertai gatal atau eritema mukosa.

  • A. Kandidiasis vaginalis khasnya menimbulkan gatal hebat dengan sekret kental seperti keju tanpa bau amis dan pH biasanya kurang dari 4,5.
  • C. Vaginitis atrofi terjadi pada perempuan pascamenopause akibat defisiensi estrogen dengan gejala kering dan nyeri, bukan sekret berbau amis.
  • D. Servisitis gonore biasanya menimbulkan sekret mukopurulen dari endoserviks dengan tanda inflamasi serviks, bukan sekret vagina homogen keabuan.
  • E. Trikomoniasis vaginalis biasanya menimbulkan sekret berbusa berwarna kuning-kehijauan disertai gatal dan tanda inflamasi berupa strawberry cervix.
Poin penting: Vaginosis bakterialis didiagnosis menggunakan kriteria Amsel: sekret homogen keabuan, pH lebih dari 4,5, tes whiff positif, dan clue cells pada mikroskopis.
37

Seorang perempuan berusia 26 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan keputihan kekuningan dan nyeri saat berkemih sejak 5 hari. Pasien mengaku aktif secara seksual dengan pasangan baru 2 minggu lalu tanpa kondom. Pemeriksaan inspekulo menunjukkan serviks eritematosus dengan sekret mukopurulen keluar dari ostium uteri eksternum, mudah berdarah saat disentuh dengan lidi kapas. Tidak didapatkan nyeri goyang serviks maupun nyeri tekan adneksa. Dokter mendiagnosis servisitis dan merencanakan terapi dengan mempertimbangkan kemungkinan infeksi gonokokus dan non-gonokokus sekaligus sesuai pedoman nasional penanganan infeksi menular seksual.

  1. ASiprofloksasin 500 mg per oral dosis tunggal saja
  2. BAmoksisilin 500 mg per oral 3 kali sehari selama 7 hari saja
  3. CMetronidazol 2 gram per oral dosis tunggal saja
  4. DSeftriakson 250 mg intramuskular dosis tunggal ditambah azitromisin 1 gram per oral dosis tunggal
  5. EDoksisiklin 100 mg per oral 2 kali sehari selama 7 hari saja
Lihat jawaban
Jawaban: D. Seftriakson 250 mg intramuskular dosis tunggal ditambah azitromisin 1 gram per oral dosis tunggal

Sesuai pedoman nasional penanganan infeksi menular seksual di Indonesia, terapi servisitis dengan kecurigaan infeksi gonore sebaiknya diberikan secara dual therapy karena tingginya kemungkinan koinfeksi gonokokus dan klamidia. Regimen yang direkomendasikan adalah seftriakson 250 mg intramuskular dosis tunggal untuk mengatasi Neisseria gonorrhoeae ditambah azitromisin 1 gram per oral dosis tunggal untuk mengatasi Chlamydia trachomatis. Pendekatan dual therapy ini juga membantu mengurangi risiko resistensi gonokokus terhadap antibiotik tunggal. Pasangan seksual juga harus diobati secara bersamaan untuk mencegah reinfeksi.

  • A. Siprofloksasin sudah tidak direkomendasikan sebagai terapi gonore karena tingginya tingkat resistensi Neisseria gonorrhoeae terhadap fluorokuinolon.
  • B. Amoksisilin bukan pilihan terapi untuk gonore maupun klamidia karena tidak efektif terhadap kedua patogen tersebut.
  • C. Metronidazol adalah terapi untuk trikomoniasis dan vaginosis bakterialis, tidak efektif terhadap gonokokus maupun klamidia.
  • E. Doksisiklin tunggal hanya efektif untuk klamidia dan tidak mengatasi kemungkinan infeksi gonokokus yang resisten terhadap tetrasiklin.
Poin penting: Servisitis dengan kecurigaan gonore ditatalaksana dengan dual therapy seftriakson intramuskular dosis tunggal ditambah azitromisin oral dosis tunggal untuk mencakup koinfeksi klamidia.
38

Seorang perempuan berusia 24 tahun datang ke IGD dengan nyeri perut bawah bilateral sejak 3 hari, demam, dan keputihan berbau. Tanda vital: TD 110/70 mmHg, nadi 104x/menit, suhu 38,6°C. Pemeriksaan abdomen: nyeri tekan suprapubik bilateral tanpa tanda peritonitis generalisata. Pemeriksaan ginekologi: nyeri goyang serviks positif, nyeri tekan kedua adneksa, sekret serviks mukopurulen. Pemeriksaan laboratorium: leukosit 15.200/µL, CRP meningkat. USG transvaginal menunjukkan massa kistik kompleks pada adneksa kanan berukuran 7x6 cm dengan septa internal dan debris, sugestif abses tuboovarium.

  1. ALaparotomi eksplorasi darurat tanpa terapi antibiotik awal
  2. BRawat jalan dengan antibiotik oral dosis tunggal
  3. CHisterektomi total segera tanpa percobaan antibiotik
  4. DObservasi tanpa antibiotik menunggu hasil kultur
  5. ERawat inap dengan antibiotik intravena kombinasi dan evaluasi drainase bila tidak respons
Lihat jawaban
Jawaban: E. Rawat inap dengan antibiotik intravena kombinasi dan evaluasi drainase bila tidak respons

Penyakit radang panggul dengan komplikasi abses tuboovarium merupakan indikasi rawat inap untuk pemberian antibiotik intravena kombinasi spektrum luas yang mencakup gonokokus, klamidia, dan bakteri anaerob, seperti kombinasi sefalosporin generasi ketiga dengan doksisiklin dan metronidazol. Pasien harus dievaluasi ketat dalam 48-72 jam, dan bila tidak ada respons klinis atau abses tidak mengecil maka dipertimbangkan drainase perkutan atau laparoskopi. Tindakan bedah radikal seperti histerektomi hanya dipertimbangkan pada kasus yang gagal terapi medis dan drainase, atau kondisi mengancam jiwa seperti ruptur abses dengan sepsis.

  • A. Laparotomi darurat tanpa terapi antibiotik awal tidak sesuai karena pasien belum menunjukkan tanda akut abdomen yang mengancam jiwa seperti ruptur abses.
  • B. Rawat jalan dengan antibiotik oral tidak sesuai karena adanya abses tuboovarium dan tanda sistemik berat yang memerlukan terapi parenteral intensif.
  • C. Histerektomi segera tanpa percobaan antibiotik tidak sesuai karena terapi medis harus dicoba terlebih dahulu sebelum tindakan bedah radikal.
  • D. Observasi tanpa antibiotik berisiko menyebabkan perburukan sepsis dan ruptur abses, terapi empiris harus segera dimulai tanpa menunggu kultur.
Poin penting: Abses tuboovarium pada PID memerlukan rawat inap dengan antibiotik intravena kombinasi spektrum luas dan evaluasi drainase bila tidak respons dalam 48-72 jam.

Neoplasma Ginekologi

4 soal
39

Seorang perempuan berusia 38 tahun datang ke puskesmas untuk program skrining kanker leher rahim. Pasien belum pernah menjalani skrining sebelumnya, aktif secara seksual, dan tidak memiliki keluhan ginekologi. Petugas melakukan pemeriksaan inspeksi visual dengan asam asetat 3-5% pada serviks. Setelah aplikasi asam asetat selama 1 menit, tampak area berwarna putih (acetowhite) dengan tepi tegas pada zona transformasi arah jam 6-9, tidak meluas ke kanalis endoserviks.

  1. AHasil IVA negatif namun curiga kanker invasif, rujuk kemoterapi
  2. BHasil IVA negatif, ulang skrining 5 tahun kemudian
  3. CHasil IVA positif, langsung lakukan histerektomi
  4. DHasil IVA positif, rujuk untuk krioterapi atau pemeriksaan kolposkopi lebih lanjut
  5. EHasil IVA tidak dapat dinilai, ulangi Pap smear segera
Lihat jawaban
Jawaban: D. Hasil IVA positif, rujuk untuk krioterapi atau pemeriksaan kolposkopi lebih lanjut

Hasil IVA dinyatakan positif apabila ditemukan area acetowhite dengan tepi tegas pada zona transformasi setelah aplikasi asam asetat, yang mengindikasikan kemungkinan lesi prakanker serviks. Tindak lanjut standar untuk hasil IVA positif pada fasilitas dengan kemampuan adalah krioterapi segera bila lesi memenuhi kriteria (see and treat) atau rujukan untuk kolposkopi dan biopsi guna konfirmasi diagnostik bila terdapat keraguan atau lesi tidak memenuhi kriteria krioterapi. Program skrining nasional di Indonesia menggunakan IVA sebagai metode skrining utama di fasilitas kesehatan primer karena murah, cepat, dan hasilnya langsung dapat ditindaklanjuti pada kunjungan yang sama.

  • A. Gambaran acetowhite dengan tepi tegas pada zona transformasi tanpa tanda invasif jelas tidak langsung mengindikasikan kanker invasif yang memerlukan kemoterapi.
  • B. Hasil ini merupakan IVA positif bukan negatif, sehingga tidak tepat langsung dikategorikan sebagai hasil negatif dengan interval ulang skrining panjang.
  • C. Histerektomi tidak diindikasikan untuk hasil IVA positif tanpa konfirmasi diagnostik histopatologi terlebih dahulu.
  • E. Gambaran yang dijelaskan merupakan hasil IVA positif yang dapat dinilai dengan jelas, bukan hasil yang tidak dapat dinilai.
Poin penting: Hasil IVA positif berupa area acetowhite bertepi tegas pada zona transformasi ditindaklanjuti dengan krioterapi segera atau rujukan kolposkopi sesuai fasilitas dan kriteria lesi.
40

Seorang perempuan berusia 28 tahun datang ke puskesmas untuk konsultasi mengenai pencegahan kanker leher rahim. Ia belum pernah menikah dan belum aktif secara seksual. Dokter menjelaskan bahwa infeksi virus tertentu merupakan penyebab utama kanker serviks melalui integrasi genom virus ke dalam sel epitel serviks sehingga mengganggu fungsi protein pengatur siklus sel. Protein virus apakah yang berperan menginaktivasi protein p53 sehingga sel yang mengalami mutasi tidak mengalami apoptosis dan berkembang menjadi displasia?

  1. AProtein E2
  2. BProtein E1
  3. CProtein L1
  4. DProtein L2
  5. EProtein E6
Lihat jawaban
Jawaban: E. Protein E6

Human papillomavirus (HPV) tipe risiko tinggi (terutama 16 dan 18) menghasilkan onkoprotein E6 dan E7. E6 berikatan dengan p53 dan memicu degradasinya melalui jalur ubiquitin-proteasome, sehingga sel dengan kerusakan DNA tidak mengalami apoptosis dan terus berproliferasi. E7 bekerja menginaktivasi protein Rb. Vaksinasi HPV (bivalen, kuadrivalen, atau nonavalen) bekerja dengan menginduksi antibodi terhadap protein kapsid L1 sebelum terjadi infeksi, sehingga mencegah integrasi genom virus ke sel host. Pemahaman mekanisme ini mendasari rekomendasi vaksinasi HPV pada usia dini sebagai pencegahan primer kanker serviks.

  • A. Protein E2 berfungsi mengatur transkripsi gen virus, bukan menginaktivasi p53.
  • B. Protein E1 berperan dalam replikasi DNA virus, tidak menginaktivasi p53.
  • C. Protein L1 adalah komponen kapsid utama yang menjadi target antibodi vaksin, bukan onkoprotein.
  • D. Protein L2 adalah komponen kapsid minor, bukan onkoprotein yang menginaktivasi p53.
Poin penting: Onkoprotein E6 HPV risiko tinggi menginaktivasi p53 sehingga memicu karsinogenesis serviks, dan vaksinasi HPV mencegah infeksi melalui antibodi terhadap protein kapsid L1.
41

Seorang perempuan berusia 24 tahun datang ke IGD dengan nyeri perut bawah kanan mendadak sejak 3 jam yang lalu disertai mual dan muntah. Nyeri dirasakan sangat hebat dan terus-menerus. Riwayat haid teratur, HPHT 10 hari yang lalu. Pemeriksaan tanda vital: tekanan darah 110/70 mmHg, frekuensi nadi 102 x/menit, suhu 37,2°C. Pemeriksaan abdomen: nyeri tekan kuat pada kuadran kanan bawah tanpa tanda peritonitis generalisata. Pemeriksaan USG transvaginal menunjukkan ovarium kanan membesar hingga 7 cm dengan edema stroma dan aliran darah doppler yang minimal/tidak terdeteksi, disertai gambaran massa kistik di dalamnya. Apakah diagnosis yang paling mungkin?

  1. AKista dermoid terinfeksi
  2. BKista ovarium fungsional
  3. CTorsio ovarium
  4. DTumor ovarium ganas stadium awal
  5. EKista endometriosis ruptur
Lihat jawaban
Jawaban: C. Torsio ovarium

Torsio ovarium khas pada perempuan usia reproduktif dengan nyeri perut bawah mendadak, hebat, unilateral, disertai mual/muntah akibat rangsangan peritoneum. Temuan USG doppler berupa aliran darah yang menurun atau tidak terdeteksi pada ovarium yang membesar dengan edema stroma sangat mendukung diagnosis torsio, karena terjadi obstruksi suplai darah akibat pemutaran pedikel ovarium, biasanya dipicu oleh adanya massa/kista yang menjadi titik berat. Diagnosis ini merupakan kegawatdaruratan ginekologi yang membutuhkan laparoskopi/laparotomi segera untuk detorsi guna menyelamatkan ovarium. Kista fungsional biasanya tidak menimbulkan gangguan aliran darah doppler yang signifikan.

  • A. Kista dermoid terinfeksi biasanya disertai demam tinggi dan tanda infeksi sistemik yang lebih jelas.
  • B. Kista fungsional umumnya asimtomatik atau nyeri ringan dan tidak menunjukkan gangguan aliran darah doppler.
  • D. Tumor ganas stadium awal jarang menimbulkan nyeri akut mendadak seperti ini dan tidak khas menunjukkan gangguan aliran doppler akut.
  • E. Kista endometriosis ruptur biasanya didahului riwayat dismenore kronis dan menunjukkan cairan bebas di kavum Douglas pada USG.
Poin penting: Torsio ovarium ditandai nyeri akut hebat unilateral dengan penurunan/hilangnya aliran darah doppler pada ovarium yang membesar, merupakan kegawatdaruratan yang membutuhkan tindakan bedah segera.
42

Seorang perempuan berusia 58 tahun datang ke poli kandungan dengan keluhan keluar darah dari jalan lahir sejak 2 minggu terakhir. Pasien telah mengalami menopause sejak 7 tahun yang lalu dan tidak menggunakan terapi hormon pengganti. Riwayat obesitas dengan indeks massa tubuh 32 kg/m², serta riwayat diabetes melitus tipe 2 terkontrol. Pemeriksaan ginekologi: tidak ditemukan lesi pada serviks maupun vagina, darah berasal dari ostium uteri eksterna. Pemeriksaan USG transvaginal menunjukkan tebal endometrium 9 mm dengan ekogenisitas heterogen. Apakah langkah pemeriksaan penunjang selanjutnya yang paling tepat untuk menegakkan diagnosis?

  1. APap smear serviks
  2. BMRI pelvis dengan kontras
  3. CBiopsi endometrium (aspirasi atau kuretase)
  4. DKuret biopsi serviks
  5. EPemeriksaan kadar CA-125 serum
Lihat jawaban
Jawaban: C. Biopsi endometrium (aspirasi atau kuretase)

Perdarahan pascamenopause dengan ketebalan endometrium lebih dari 4-5 mm pada USG transvaginal merupakan indikasi kuat untuk dilakukan biopsi endometrium guna menyingkirkan hiperplasia atipik atau karsinoma endometrium. Biopsi dapat dilakukan dengan aspirasi endometrium (misalnya kanul Pipelle) di poliklinik atau dilatasi dan kuretase bila hasil aspirasi tidak representatif. Faktor risiko pasien ini seperti obesitas dan diabetes melitus meningkatkan risiko karsinoma endometrium melalui mekanisme hiperestrogenisme relatif. Diagnosis histopatologi dari jaringan endometrium adalah baku emas untuk konfirmasi keganasan.

  • A. Pap smear bertujuan mendeteksi lesi pra-kanker serviks, bukan untuk mendiagnosis kelainan endometrium.
  • B. MRI pelvis berguna untuk staging bila diagnosis keganasan sudah ditegakkan, bukan sebagai pemeriksaan awal penegak diagnosis.
  • D. Kuret biopsi serviks tidak mengambil jaringan endometrium sehingga tidak dapat menegakkan diagnosis keganasan endometrium.
  • E. CA-125 tidak spesifik untuk diagnosis kanker endometrium dan lebih digunakan sebagai penanda tumor ovarium epitelial.
Poin penting: Perdarahan pascamenopause dengan endometrium menebal pada USG harus ditindaklanjuti dengan biopsi endometrium untuk menyingkirkan karsinoma endometrium.

Kontrasepsi & Kesehatan Reproduksi Keluarga Berencana

3 soal
43

Seorang perempuan berusia 34 tahun datang ke puskesmas untuk konsultasi KB. Ia memiliki riwayat migrain dengan aura yang muncul sejak 2 tahun terakhir, terjadi sekitar 2 kali per bulan. Pasien tidak merokok dan tidak memiliki riwayat hipertensi atau penyakit tromboemboli. Ia ingin menggunakan kontrasepsi hormonal yang efektif dan mudah dihentikan bila ingin hamil kembali. Berdasarkan kriteria kelayakan medis WHO, apakah metode kontrasepsi yang paling aman untuk pasien ini?

  1. APil kombinasi estrogen-progestin dosis rendah
  2. BKontrasepsi suntik kombinasi bulanan
  3. CKontrasepsi progestin saja (pil atau suntik progestin)
  4. DKoyo (patch) kontrasepsi kombinasi
  5. ECincin vagina kombinasi (vaginal ring)
Lihat jawaban
Jawaban: C. Kontrasepsi progestin saja (pil atau suntik progestin)

Menurut kriteria kelayakan medis WHO (Medical Eligibility Criteria for Contraceptive Use), migrain dengan aura pada usia berapa pun termasuk kategori 4 untuk kontrasepsi hormonal kombinasi (estrogen-progestin) karena meningkatkan risiko stroke iskemik akibat efek estrogen pada agregasi platelet dan vasospasme pembuluh darah serebral. Kontrasepsi progestin saja (pil progestin, suntik, atau implan) termasuk kategori 2, sehingga dapat digunakan dengan manfaat yang melebihi risiko pada pasien dengan migrain bergejala aura. Oleh karena itu, metode berbasis progestin saja adalah pilihan paling aman untuk pasien ini.

  • A. Pil kombinasi mengandung estrogen yang kontraindikasi absolut (kategori 4 WHO) pada migrain dengan aura karena risiko stroke iskemik.
  • B. Suntik kombinasi mengandung estrogen sehingga memiliki risiko yang sama seperti pil kombinasi pada migrain dengan aura.
  • D. Koyo kombinasi tetap melepaskan estrogen secara sistemik sehingga berisiko sama dengan metode kombinasi lainnya.
  • E. Cincin vagina kombinasi tetap mengandung estrogen sistemik sehingga tidak aman pada migrain dengan aura.
Poin penting: Migrain dengan aura merupakan kontraindikasi absolut (WHO kategori 4) untuk kontrasepsi hormonal yang mengandung estrogen, sehingga metode progestin saja menjadi pilihan yang lebih aman.
44

Seorang perempuan berusia 29 tahun, P1A0, datang ke puskesmas ingin menggunakan AKDR (IUD) tembaga sebagai metode kontrasepsi. Ia melahirkan 3 bulan yang lalu dan menyusui eksklusif. Pemeriksaan ginekologi dalam batas normal, tidak ada riwayat keputihan abnormal atau nyeri panggul. Dokter menjelaskan mekanisme kerja utama AKDR tembaga dalam mencegah kehamilan. Apakah mekanisme kerja utama AKDR tembaga tersebut?

  1. AMenghambat ovulasi melalui penekanan aksis hipotalamus-hipofisis
  2. BReaksi inflamasi lokal yang bersifat spermisidal dan menghambat fertilisasi
  3. CMenghambat kapasitasi sperma melalui perubahan pH vagina
  4. DMenipiskan endometrium secara permanen sehingga tidak dapat terjadi implantasi
  5. EMengentalkan lendir serviks sehingga sperma tidak dapat menembus kanalis servikalis
Lihat jawaban
Jawaban: B. Reaksi inflamasi lokal yang bersifat spermisidal dan menghambat fertilisasi

AKDR tembaga bekerja terutama dengan menimbulkan reaksi inflamasi steril lokal pada kavum uteri akibat pelepasan ion tembaga, yang menghasilkan efek spermisidal/sitotoksik terhadap sperma dan ovum sehingga menghambat proses fertilisasi sebelum sperma mencapai tuba fallopi. AKDR tembaga tidak menghambat ovulasi, karena bekerja secara lokal di kavum uteri tanpa mempengaruhi aksis hormonal. Metode ini aman digunakan pada ibu menyusui dan dapat dipasang segera setelah masa nifas tanpa mempengaruhi produksi ASI, menjadikannya pilihan tepat untuk pasien ini.

  • A. Penekanan ovulasi adalah mekanisme kontrasepsi hormonal sistemik, bukan mekanisme AKDR tembaga yang bekerja non-hormonal.
  • C. Perubahan pH vagina bukan mekanisme kerja AKDR karena AKDR bekerja di dalam kavum uteri, bukan di vagina.
  • D. AKDR tembaga tidak menipiskan endometrium secara signifikan seperti AKDR hormonal levonorgestrel.
  • E. Pengentalan lendir serviks adalah mekanisme kerja kontrasepsi progestin, bukan mekanisme utama AKDR tembaga.
Poin penting: Mekanisme kerja utama AKDR tembaga adalah reaksi inflamasi lokal spermisidal di kavum uteri yang menghambat fertilisasi, tanpa memengaruhi ovulasi.
45

Seorang perempuan berusia 36 tahun, P4A0, datang ke puskesmas bersama suaminya untuk konsultasi KB permanen. Anak terkecil berusia 2 tahun, dan pasangan menyatakan sudah tidak ingin memiliki anak lagi. Pasien tidak memiliki kontraindikasi medis untuk tindakan bedah. Setelah konseling mendalam mengenai sifat permanen metode ini beserta alternatif kontrasepsi jangka panjang lainnya, pasangan tetap memilih tubektomi. Apakah syarat utama yang harus dipenuhi sebelum tindakan tubektomi dilakukan sesuai prinsip KB mantap di Indonesia?

  1. APersetujuan tertulis dari suami sebagai syarat mutlak pelengkap
  2. BUsia pasien minimal 40 tahun pada saat tindakan dilakukan
  3. CJumlah anak hidup minimal 5 orang sebelum tindakan disetujui
  4. DSurat rekomendasi dari kepala desa atau tokoh masyarakat setempat
  5. EPersetujuan tindakan medis (informed consent) tertulis dari pasien sendiri secara sukarela
Lihat jawaban
Jawaban: E. Persetujuan tindakan medis (informed consent) tertulis dari pasien sendiri secara sukarela

Prinsip utama KB mantap (kontrasepsi mantap/tubektomi dan vasektomi) di Indonesia mengacu pada prinsip sukarela, informed choice, dan informed consent. Syarat utama yang wajib dipenuhi adalah persetujuan tindakan medis tertulis dari pasien sendiri secara sukarela setelah mendapat konseling lengkap mengenai sifat permanen tindakan, efektivitas, dan alternatif metode lain. Persetujuan suami/istri dianjurkan namun bukan syarat mutlak yang menggantikan hak otonomi pasien, karena tindakan dilakukan pada tubuh pasien sendiri. Tidak ada syarat usia minimal 40 tahun atau jumlah anak minimal yang kaku, karena keputusan didasarkan pada kesukarelaan dan kesiapan psikologis pasangan, bukan angka demografis semata.

  • A. Persetujuan suami dianjurkan secara etis namun bukan syarat mutlak yang dapat menggantikan hak otonomi pasien terhadap tubuhnya sendiri.
  • B. Tidak ada batasan usia minimal 40 tahun yang baku dalam syarat kontrasepsi mantap di Indonesia.
  • C. Tidak ada syarat jumlah anak hidup minimal 5 orang; keputusan didasarkan pada kesukarelaan pasangan, bukan jumlah anak tertentu.
  • D. Surat rekomendasi dari kepala desa bukan merupakan syarat medis atau legal untuk tindakan kontrasepsi mantap.
Poin penting: Syarat utama tindakan kontrasepsi mantap adalah informed consent tertulis dari pasien secara sukarela setelah konseling lengkap, bukan persetujuan pihak lain atau batasan usia/jumlah anak yang kaku.

Pertanyaan umum

Apakah ini soal asli UKMPPD?

Bukan. Ini soal latihan orisinal yang ditulis bergaya UKMPPD sesuai blueprint ujian. Setiap soal dikerjakan ulang oleh model kedua yang independen tanpa melihat kunci, dan soal dengan kunci yang diperdebatkan dihapus.

Bagaimana cara memakai soal obstetri & ginekologi ini?

Kerjakan kuis dulu tanpa melihat jawaban, lalu baca pembahasan setiap soal yang salah atau ditebak. Poin penting di bawah setiap jawaban adalah hal yang perlu diingat.

Apakah soalnya gratis?

Ya. Semua soal, jawaban, dan pembahasan di halaman ini gratis tanpa perlu mendaftar.

Topik UKMPPD lainnya

UKMPPD diselenggarakan oleh Panitia Nasional UKMPPD. WhiteCoat Pro tidak berafiliasi dengan maupun didukung oleh lembaga tersebut. Semua soal adalah soal latihan orisinal: ditulis oleh tim editorial WhiteCoat Pro dengan bantuan AI dan diperiksa oleh model AI kedua yang independen, yang mengerjakan setiap soal tanpa melihat kunci; soal dengan kunci yang diperdebatkan dihapus. Ini bukan soal ujian asli. Untuk belajar, bukan saran medis.