Skizofrenia dan Gangguan Psikotik
5 soalSeorang perempuan, 24 tahun, dibawa keluarga ke poli jiwa RSUD karena sejak 5 bulan terakhir sering berbicara sendiri dan mengatakan ada suara-suara yang mengomentari setiap tindakannya. Pasien juga yakin bahwa tetangga memasang alat penyadap di kamarnya dan mengendalikan pikirannya melalui gelombang radio. Sejak gejala muncul, pasien berhenti kuliah, tidak mandi selama berhari-hari, dan menarik diri dari keluarga. Tidak ditemukan riwayat penggunaan zat psikoaktif maupun kondisi medis umum yang relevan. Pemeriksaan fisik dan neurologis dalam batas normal. Apakah diagnosis yang paling tepat?
- AGangguan psikotik akut dan sementara
- BSkizofrenia
- CGangguan skizoafektif tipe depresif
- DGangguan waham menetap
- EGangguan skizofreniform
Lihat jawaban
Diagnosis skizofrenia menurut PPDGJ-III/ICD-10 ditegakkan bila terdapat gejala psikotik khas (waham dikendalikan, halusinasi auditorik berupa suara yang mengomentari perilaku, thought broadcasting/withdrawal) yang berlangsung minimal 1 bulan, disertai penurunan fungsi sosial dan okupasional yang bermakna. Pada kasus ini gejala sudah berlangsung 5 bulan dan disertai penurunan fungsi yang jelas (berhenti kuliah, menarik diri), sehingga memenuhi kriteria durasi dan fungsional skizofrenia. Tidak adanya penyebab organik atau zat psikoaktif juga mendukung diagnosis ini. Kriteria durasi inilah yang membedakan skizofrenia dari gangguan psikotik akut dan gangguan skizofreniform.
- A. Durasi gejala pada gangguan psikotik akut dan sementara kurang dari 1 bulan, sedangkan pada kasus ini sudah 5 bulan.
- C. Tidak ditemukan gejala episode depresif yang menonjol dan bersamaan dengan gejala psikotik seperti pada skizoafektif.
- D. Gangguan waham menetap ditandai waham tunggal tanpa halusinasi prominen, sedangkan pasien ini memiliki halusinasi auditorik yang jelas.
- E. Gangguan skizofreniform memiliki durasi 1-6 bulan namun umumnya dipakai bila durasi belum mencapai ambang kronis atau follow up masih dalam rentang tersebut; pada kasus dengan gejala jelas dan menetap selama 5 bulan dengan pola klinis khas skizofrenia, diagnosis skizofrenia lebih tepat ditegakkan.
Seorang laki-laki, 45 tahun, pedagang, datang ke poli jiwa diantar istrinya karena sejak 8 bulan terakhir yakin bahwa istrinya berselingkuh dengan tetangga, meskipun tidak ada bukti yang mendukung. Pasien sering menguntit istrinya dan memeriksa ponselnya setiap hari. Di luar keyakinan tersebut, pasien tetap dapat menjalankan usaha dagangnya dengan baik, berinteraksi normal dengan pelanggan, dan tidak ditemukan halusinasi, gangguan afek, maupun disorganisasi pikiran. Tidak ada riwayat penggunaan zat psikoaktif atau kondisi medis umum. Apakah diagnosis yang paling tepat pada pasien ini?
- AGangguan skizofreniform
- BSkizofrenia paranoid
- CGangguan obsesif-kompulsif
- DGangguan waham menetap
- EGangguan psikotik akut dan sementara
Lihat jawaban
Gangguan waham menetap ditandai oleh adanya satu waham tunggal atau sekelompok waham yang berkaitan (pada kasus ini waham kecemburuan/cemburu patologis) yang berlangsung minimal 3 bulan, tanpa halusinasi yang prominen, tanpa gejala skizofrenia lainnya seperti disorganisasi atau afek tumpul, dan fungsi sosial-okupasional di luar tema waham relatif terjaga. Pada kasus ini, pasien tetap dapat menjalankan usahanya dengan baik dan hanya terganggu pada area yang berkaitan dengan waham kecemburuannya, sesuai kriteria diagnostik tersebut. Tidak adanya halusinasi maupun penurunan fungsi global membedakannya dari skizofrenia.
- A. Gangguan skizofreniform memerlukan gambaran klinis skizofrenia dengan durasi 1-6 bulan, sedangkan kasus ini tidak disertai halusinasi atau gejala skizofrenia lain dan sudah berlangsung 8 bulan.
- B. Skizofrenia membutuhkan adanya halusinasi prominen dan/atau disorganisasi serta penurunan fungsi global, yang tidak ditemukan pada kasus ini.
- C. Pada gangguan obsesif-kompulsif, pasien menyadari pikirannya tidak rasional (insight baik) dan berusaha melawannya, berbeda dengan waham yang diyakini penuh sebagai kebenaran.
- E. Durasi gejala pada kasus ini sudah 8 bulan, jauh melebihi batas kurang dari 1 bulan untuk gangguan psikotik akut dan sementara.
Seorang laki-laki, 26 tahun, dibawa keluarga ke puskesmas karena sejak 2 hari terakhir gelisah, berbicara kacau, dan berusaha menyerang anggota keluarga karena yakin mereka akan membunuhnya. Pada pemeriksaan di puskesmas, pasien tampak sangat agitasi, berteriak-teriak, dan sulit ditenangkan. Tanda vital: tekanan darah 140/90 mmHg, frekuensi nadi 110 kali/menit, frekuensi napas 22 kali/menit, suhu 36,8°C. Dokter puskesmas tidak memiliki fasilitas rawat inap jiwa. Apakah tindakan awal yang paling tepat dilakukan oleh dokter puskesmas sebelum merujuk pasien?
- AMemberikan injeksi haloperidol intramuskular untuk mengendalikan agitasi, kemudian merujuk ke RS dengan fasilitas jiwa
- BMemberikan konseling suportif saja kepada keluarga dan menjadwalkan kontrol ulang satu minggu kemudian
- CMelakukan restraint fisik tanpa pemberian obat, lalu merujuk langsung ke RS tanpa penanganan awal
- DMemberikan terapi elektrokonvulsif sederhana di puskesmas untuk mengendalikan agitasi akut
- EMenenangkan pasien dengan obat herbal sedatif ringan sambil menunggu keluarga membawa pasien pulang
Lihat jawaban
Pada pasien dengan episode psikotik akut yang agitasi berat dan berisiko mencederai diri atau orang lain, tata laksana awal di puskesmas sesuai kompetensi dokter umum (SKDI 3B) adalah menstabilkan pasien dengan antipsikotik injeksi seperti haloperidol intramuskular untuk mengendalikan agitasi secara cepat sebelum dirujuk ke fasilitas yang memiliki layanan jiwa lebih lengkap. Haloperidol injeksi dipilih karena onset kerja cepat, profil keamanan yang dikenal baik, dan tersedia luas di puskesmas sesuai Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Jiwa. Rujukan tetap harus dilakukan karena puskesmas tidak memiliki fasilitas rawat inap jiwa untuk tata laksana definitif dan pemantauan lanjutan.
- B. Konseling suportif saja tidak memadai untuk mengendalikan episode psikotik akut dengan risiko kekerasan yang membutuhkan intervensi farmakologis segera.
- C. Restraint fisik tanpa pemberian obat tidak menangani agitasi psikotik secara adekuat dan berisiko menimbulkan cedera pada pasien maupun petugas.
- D. Terapi elektrokonvulsif bukan merupakan tata laksana lini awal di puskesmas dan membutuhkan fasilitas serta tenaga ahli jiwa khusus di rumah sakit.
- E. Obat herbal sedatif tidak memiliki bukti efikasi untuk mengendalikan agitasi psikotik akut dan menunda penanganan definitif yang dibutuhkan pasien.
Seorang perempuan, 29 tahun, didiagnosis skizofrenia paranoid episode pertama dan akan memulai terapi antipsikotik rawat jalan di RS tipe C. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit jantung, metabolik, maupun ekstrapiramidal sebelumnya, namun pasien bekerja sebagai pramugari dan sangat khawatir terhadap efek samping yang dapat mempengaruhi penampilan fisik serta gerakan tubuhnya. Dokter ingin memilih antipsikotik lini pertama sesuai Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran yang mempertimbangkan profil efek samping ekstrapiramidal yang lebih rendah. Apakah pilihan obat yang paling tepat?
- ATrifluoperazin
- BFlufenazin dekanoat
- CHaloperidol
- DKlorpromazin
- ERisperidon
Lihat jawaban
Risperidon merupakan antipsikotik generasi kedua (atipikal) yang bekerja dengan mengantagonis reseptor dopamin D2 dan serotonin 5-HT2A, sehingga memiliki profil efek samping ekstrapiramidal yang lebih rendah dibandingkan antipsikotik generasi pertama seperti haloperidol atau klorpromazin. Berdasarkan Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Jiwa, risperidon sering menjadi pilihan lini pertama pada pasien episode psikotik pertama, terutama bila terdapat kekhawatiran terhadap efek samping motorik yang dapat mengganggu fungsi okupasional pasien. Pemilihan obat tetap harus mempertimbangkan ketersediaan, biaya, dan respons individual pasien terhadap terapi.
- A. Trifluoperazin merupakan antipsikotik tipikal potensi tinggi dengan risiko efek samping ekstrapiramidal yang signifikan.
- B. Flufenazin dekanoat merupakan antipsikotik tipikal depot dengan risiko ekstrapiramidal tinggi dan biasanya dipakai untuk pasien dengan masalah kepatuhan, bukan pilihan lini pertama pada episode awal.
- C. Haloperidol merupakan antipsikotik tipikal dengan afinitas D2 tinggi yang berisiko lebih besar menimbulkan efek samping ekstrapiramidal seperti distonia dan parkinsonisme.
- D. Klorpromazin merupakan antipsikotik tipikal golongan fenotiazin rantai alifatik dengan efek sedatif kuat dan risiko ekstrapiramidal yang juga lebih tinggi dibanding antipsikotik atipikal.
Seorang laki-laki, 35 tahun, dengan skizofrenia kronis mendapat terapi haloperidol selama 2 bulan terakhir. Pasien datang kontrol dengan perbaikan gejala waham dan halusinasi, namun mengalami kekakuan otot, tremor halus pada kedua tangan, serta gerakan wajah seperti topeng (masked face). Dokter menjelaskan kepada pasien bahwa efek samping tersebut berkaitan dengan mekanisme kerja obat pada jalur dopaminergik tertentu di otak. Apakah mekanisme kerja utama haloperidol yang mendasari efek terapeutik maupun efek samping tersebut?
- ABlokade reseptor asetilkolin muskarinik sentral
- BBlokade reseptor dopamin D2 pasca-sinaptik
- CAgonis parsial reseptor dopamin D2
- DInhibisi reuptake serotonin dan norepinefrin
- EBlokade reseptor histamin H1 sentral
Lihat jawaban
Haloperidol bekerja melalui blokade reseptor dopamin D2 pasca-sinaptik, yang pada jalur mesolimbik menghasilkan efek antipsikotik dengan mengurangi gejala positif seperti waham dan halusinasi. Namun, blokade D2 yang sama pada jalur nigrostriatal menyebabkan efek samping ekstrapiramidal seperti rigiditas, tremor, dan bradikinesia (gambaran parkinsonisme) karena menghambat transmisi dopaminergik normal yang mengatur gerakan motorik di ganglia basalis. Efek samping ekstrapiramidal ini merupakan ciri khas antipsikotik tipikal dengan afinitas D2 tinggi seperti haloperidol, berbeda dengan antipsikotik atipikal yang memiliki afinitas serotonin 5-HT2A lebih dominan sehingga risiko ekstrapiramidal lebih rendah.
- A. Blokade reseptor muskarinik berkontribusi pada efek samping antikolinergik seperti mulut kering dan konstipasi, bukan mekanisme utama yang mendasari efek terapeutik maupun gejala ekstrapiramidal pada kasus ini.
- C. Agonis parsial reseptor D2 merupakan mekanisme kerja aripiprazol, bukan haloperidol yang bersifat antagonis penuh.
- D. Inhibisi reuptake serotonin dan norepinefrin merupakan mekanisme kerja antidepresan golongan SNRI, bukan mekanisme kerja antipsikotik tipikal.
- E. Blokade reseptor histamin H1 berkontribusi pada efek sedasi, bukan mekanisme yang mendasari efek antipsikotik maupun gejala ekstrapiramidal pada kasus ini.
Gangguan Mood
8 soalSeorang perempuan berusia 29 tahun datang ke puskesmas karena sering merasa tidak bersemangat sejak 3 tahun lalu. Ia menggambarkan dirinya sering merasa murung, kurang percaya diri, dan sulit berkonsentrasi hampir setiap hari, namun masih dapat bekerja sebagai admin kantor. Tidak pernah ada periode gejala yang hilang lebih dari dua bulan berturut-turut. Tidak ditemukan episode dengan peningkatan energi berlebihan, gagasan kebesaran, atau penurunan kebutuhan tidur. Tidak ada riwayat penggunaan zat psikoaktif maupun gangguan medis umum yang relevan.
- AGangguan afektif bipolar tipe II
- BGangguan siklotimia
- CGangguan penyesuaian dengan afek depresi
- DGangguan distimia
- EEpisode depresif ringan berulang
Lihat jawaban
Gangguan distimia ditandai oleh afek depresif kronis yang berlangsung minimal 2 tahun, dengan gejala yang tidak cukup berat atau lama untuk memenuhi kriteria episode depresif mayor, tanpa periode bebas gejala lebih dari dua bulan. Pasien pada kasus ini menunjukkan gejala depresif ringan kronis tanpa episode hipomanik, sehingga diagnosis yang tepat adalah distimia. Siklotimia berbeda karena melibatkan fluktuasi antara gejala hipomanik dan depresif ringan, bukan afek depresif menetap saja.
- A. Bipolar tipe II memerlukan riwayat episode hipomanik yang jelas, yang tidak dijumpai pada pasien ini.
- B. Siklotimia memerlukan adanya periode hipomanik yang berselang-seling dengan periode depresif ringan, yang tidak ditemukan pada pasien ini.
- C. Gangguan penyesuaian berkaitan dengan stresor psikososial yang teridentifikasi dan durasinya biasanya tidak melebihi 6 bulan setelah stresor berakhir.
- E. Episode depresif ringan berulang ditandai oleh episode-episode diskret dengan periode remisi di antaranya, bukan gejala kronis menetap tanpa remisi.
Seorang laki-laki berusia 34 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan sedih berkepanjangan, kehilangan minat terhadap aktivitas yang biasa disukai, serta gangguan tidur sejak 6 minggu terakhir. Pasien masih mampu bekerja meski dengan konsentrasi menurun. Tidak ada riwayat gagasan membahayakan diri, riwayat kejang, maupun penyakit jantung. Pemeriksaan fisik dan tanda vital dalam batas normal. Dokter puskesmas mendiagnosis episode depresif mayor dan berencana memulai terapi farmakologis.
- AHaloperidol
- BFenitoin
- CSertralin
- DAmitriptilin
- EDiazepam
Lihat jawaban
SSRI seperti sertralin atau fluoksetin merupakan pilihan lini pertama untuk depresi mayor di layanan primer karena efikasi yang baik, profil keamanan lebih tinggi, dan efek samping yang lebih dapat ditoleransi dibandingkan antidepresan golongan lain. Sertralin juga relatif aman pada pasien dengan komorbiditas kardiovaskular dibandingkan trisiklik. Pemilihan ini sesuai dengan pedoman nasional yang merekomendasikan SSRI sebagai terapi awal depresi tanpa gejala psikotik.
- A. Haloperidol adalah antipsikotik, tidak diindikasikan sebagai terapi utama depresi mayor tanpa gejala psikotik.
- B. Fenitoin adalah antikonvulsan, tidak memiliki indikasi untuk tata laksana depresi mayor.
- D. Amitriptilin adalah antidepresan trisiklik dengan risiko efek samping antikolinergik dan kardiotoksik yang lebih tinggi, sehingga bukan pilihan lini pertama.
- E. Diazepam adalah benzodiazepin untuk ansietas akut, bukan terapi definitif depresi mayor dan berisiko ketergantungan.
Seorang perempuan berusia 40 tahun telah mengonsumsi fluoksetin selama 1 minggu atas resep dokter untuk terapi depresi mayor. Ia bertanya kepada dokter mengapa perasaannya belum membaik secara signifikan meskipun sudah rutin minum obat. Dokter menjelaskan bahwa efek terapeutik antidepresan golongan ini memerlukan waktu tertentu untuk tercapai meskipun efek pada reseptor sudah terjadi lebih cepat.
- AEfek klinis muncul dalam 24 jam akibat peningkatan langsung sintesis serotonin
- BEfek klinis muncul segera karena blokade langsung reseptor dopamin D2
- CEfek klinis membutuhkan waktu 2-4 minggu akibat adaptasi reseptor serotonin pascasinaps
- DEfek klinis tidak tergantung waktu karena kerja obat bersifat irreversibel pada enzim MAO
- EEfek klinis membutuhkan waktu 6 bulan akibat metabolisme hepar yang lambat
Lihat jawaban
SSRI bekerja dengan menghambat reuptake serotonin pada membran presinaps sehingga meningkatkan kadar serotonin di celah sinaps secara cepat, namun efek terapeutik klinis baru dirasakan setelah 2-4 minggu karena memerlukan downregulation dan desensitisasi reseptor serotonin pascasinaps (terutama autoreseptor 5-HT1A) yang menyebabkan adaptasi neuroplastik. Proses adaptasi reseptor inilah yang menjelaskan jeda waktu antara mulai terapi dan perbaikan gejala. Pasien perlu diedukasi mengenai hal ini agar tidak menghentikan obat secara prematur sebelum efek terapeutik tercapai.
- A. Peningkatan serotonin sinaptik memang terjadi cepat, tetapi efek klinis antidepresan tidak muncul dalam 24 jam.
- B. SSRI tidak bekerja melalui blokade reseptor dopamin D2; mekanisme ini lebih mendekati kerja antipsikotik.
- D. SSRI bukan inhibitor MAO dan tidak bekerja dengan menghambat enzim secara irreversibel.
- E. Waktu onset efek klinis SSRI jauh lebih singkat dari 6 bulan dan tidak terkait metabolisme hepar yang lambat sebagai mekanisme utama.
Seorang perempuan berusia 27 tahun dibawa ke IGD dengan agitasi, tremor, dan berkeringat banyak sejak 6 jam yang lalu. Pasien sedang menjalani terapi sertralin untuk depresi mayor dan baru-baru ini mulai mengonsumsi tramadol untuk nyeri punggung atas resep dokter lain. Pada pemeriksaan didapatkan suhu 38,9°C, tekanan darah 150/95 mmHg, frekuensi nadi 118 kali/menit, hiperrefleksia, dan klonus pada kedua ekstremitas bawah. Pasien tampak gelisah dan bingung.
- APutus alkohol
- BKrisis tirotoksik
- CSindrom neuroleptik maligna
- DSindrom serotonin
- EIntoksikasi stimulan
Lihat jawaban
Sindrom serotonin terjadi akibat kelebihan aktivitas serotonergik di sistem saraf pusat, sering dipicu oleh kombinasi SSRI dengan obat lain yang juga meningkatkan serotonin seperti tramadol. Gambaran klinis klasik berupa trias perubahan status mental, hiperaktivitas otonom (hipertermia, takikardia, hipertensi, diaforesis), dan abnormalitas neuromuskular (hiperrefleksia, klonus, tremor) yang sesuai dengan temuan pada pasien ini. Penanganan meliputi penghentian obat penyebab, terapi suportif, dan pemberian siproheptadin sebagai antagonis serotonin pada kasus sedang-berat.
- A. Putus alkohol tidak sesuai karena tidak ada riwayat konsumsi alkohol dan gambaran klonus bukan ciri khasnya.
- B. Krisis tirotoksik tidak terkait dengan penggunaan SSRI dan tramadol, dan biasanya disertai riwayat hipertiroid yang tidak dijumpai di sini.
- C. Sindrom neuroleptik maligna biasanya terkait penggunaan antipsikotik dan ditandai rigiditas otot seperti "lead-pipe" serta hiporefleksia, bukan hiperrefleksia dan klonus.
- E. Intoksikasi stimulan tidak menjelaskan kombinasi obat yang digunakan pasien dan tidak khas menimbulkan klonus serta hiperrefleksia yang menonjol.
Seorang laki-laki berusia 31 tahun dibawa keluarganya ke IGD rumah sakit karena sejak 5 hari terakhir tampak sangat energik, bicara cepat dan sulit dihentikan, tidur hanya 2 jam per malam namun tetap bertenaga, serta membeli barang mahal secara impulsif hingga menghabiskan tabungan. Pasien tampak gelisah, mudah tersinggung, dan menolak dirawat karena merasa dirinya sedang berada pada kondisi terbaiknya. Tidak ditemukan gejala psikotik. Tanda vital dalam batas normal.
- AAmitriptilin
- BFluoksetin
- CAsam valproat
- DAlprazolam
- EMetilfenidat
Lihat jawaban
Asam valproat merupakan salah satu obat mood stabilizer lini pertama untuk tata laksana episode manik akut, bekerja dengan meningkatkan aktivitas GABA dan menstabilkan eksitabilitas neuron sehingga efektif mengontrol gejala manik seperti hiperaktivitas, flight of ideas, dan impulsivitas. Pada episode manik akut tanpa gejala psikotik, valproat atau litium dapat digunakan sebagai terapi lini pertama, sering dikombinasikan dengan antipsikotik bila gejala berat. Pemberian antidepresan tunggal pada pasien bipolar justru berisiko memicu switching ke episode manik yang lebih berat.
- A. Amitriptilin adalah antidepresan trisiklik yang juga berisiko memicu switching ke manik, tidak sesuai untuk tata laksana manik akut.
- B. Fluoksetin adalah antidepresan yang justru berisiko memperburuk atau memicu episode manik pada pasien bipolar bila diberikan tanpa mood stabilizer.
- D. Alprazolam dapat membantu agitasi sementara tetapi bukan terapi definitif untuk mengontrol episode manik akut dan berisiko ketergantungan.
- E. Metilfenidat adalah stimulan yang dapat memperberat gejala manik karena meningkatkan aktivitas dopaminergik dan noradrenergik.
Seorang perempuan berusia 36 tahun dengan gangguan afektif bipolar tipe I telah mengonsumsi litium karbonat secara rutin selama 8 bulan untuk terapi rumatan. Pasien datang kontrol rutin tanpa keluhan akut, namun dokter ingin memastikan terapi tetap aman dan efektif dalam jangka panjang. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit ginjal maupun tiroid sebelumnya.
- AKadar gula darah puasa dan profil lipid setiap bulan
- BKadar enzim hati dan amonia darah setiap minggu
- CHitung jenis leukosit dan kadar prolaktin setiap hari
- DKadar litium serum, fungsi tiroid, dan fungsi ginjal secara berkala
- EElektrokardiografi harian untuk menilai interval QT
Lihat jawaban
Litium memiliki indeks terapeutik yang sempit sehingga memerlukan pemantauan kadar serum berkala untuk memastikan kadar tetap dalam rentang terapeutik dan menghindari toksisitas. Litium juga dapat menyebabkan hipotiroidisme akibat penghambatan pelepasan hormon tiroid dan nefrogenik diabetes insipidus atau penurunan fungsi ginjal pada penggunaan jangka panjang, sehingga fungsi tiroid dan ginjal perlu dipantau secara periodik, umumnya setiap 6-12 bulan pada kondisi stabil. Pemantauan ini penting untuk mendeteksi efek samping sebelum menjadi berat dan menyesuaikan dosis bila diperlukan.
- A. Pemantauan gula darah dan profil lipid lebih relevan untuk antipsikotik atipikal, bukan litium.
- B. Pemantauan enzim hati dan amonia darah lebih relevan untuk terapi asam valproat, bukan litium.
- C. Hitung jenis leukosit dipantau pada clozapine karena risiko agranulositosis, dan prolaktin dipantau pada antipsikotik tertentu, bukan litium.
- E. EKG harian tidak rutin diperlukan untuk litium karena risiko utamanya bukan pada perpanjangan QT seperti golongan antipsikotik tertentu.
Seorang laki-laki berusia 45 tahun datang ke puskesmas diantar istrinya karena sejak 2 bulan terakhir tampak murung, kehilangan minat bekerja, dan sering mengatakan dirinya tidak berguna. Saat ditanya lebih lanjut, pasien mengungkapkan sudah memiliki rencana spesifik untuk mengakhiri hidupnya menggunakan tali dan telah menyiapkan tali tersebut di rumah, namun belum melaksanakannya. Pasien tampak datar dan menolak kontak mata saat membicarakan hal ini.
- ARujuk segera untuk rawat inap psikiatri
- BRujuk ke psikolog untuk konseling rawat jalan terjadwal
- CResepkan fluoksetin dan kontrol ulang 2 minggu lagi
- DBerikan diazepam oral dan observasi di puskesmas selama 2 jam
- EEdukasi keluarga untuk pengawasan di rumah dan kontrol rutin bulanan
Lihat jawaban
Pasien dengan ide suicide yang disertai rencana spesifik dan sarana yang sudah disiapkan termasuk kategori risiko suicide tinggi dan memerlukan rawat inap segera untuk menjamin keselamatan serta memungkinkan pengawasan ketat dan tata laksana krisis. Penilaian risiko suicide meliputi ada tidaknya ide, rencana, sarana, dan niat; semakin lengkap ketiganya, semakin tinggi risiko dan semakin mendesak kebutuhan intervensi intensif. Terapi rawat jalan atau farmakoterapi tanpa pengamanan segera tidak memadai pada kondisi risiko tinggi seperti ini.
- B. Konseling rawat jalan terjadwal tidak memberikan pengamanan segera yang dibutuhkan pada kondisi risiko suicide tinggi akut.
- C. Memulai SSRI tanpa mengamankan pasien terlebih dahulu tidak cukup karena onset efek antidepresan memerlukan waktu minggu, sementara risiko saat ini mendesak.
- D. Diazepam dan observasi singkat di puskesmas tidak mengatasi risiko suicide yang mendesak dan bukan tata laksana definitif.
- E. Pengawasan di rumah tidak menjamin keselamatan pada pasien dengan rencana dan sarana suicide yang sudah konkret.
Seorang perempuan berusia 52 tahun dirawat di bangsal psikiatri dengan episode depresif berat disertai waham bersalah bahwa dirinya telah membawa bencana bagi keluarganya. Pasien tidak mau makan selama 3 hari terakhir, terus-menerus mengungkapkan keinginan untuk mati, dan telah mencoba menyakiti diri saat tidak diawasi. Pemberian sertralin dosis adekuat selama 6 minggu sebelumnya tidak memberikan perbaikan bermakna.
- APenggantian ke antidepresan trisiklik dosis tinggi
- BObservasi lanjutan tanpa perubahan terapi selama 4 minggu
- CPenambahan benzodiazepin dosis tinggi jangka panjang
- DTerapi elektrokonvulsif
- EPsikoterapi suportif intensif tanpa farmakoterapi
Lihat jawaban
Terapi elektrokonvulsif (ECT) diindikasikan pada depresi berat dengan ciri psikotik, risiko suicide tinggi, penolakan makan/minum yang mengancam nyawa, atau kasus yang refrakter terhadap farmakoterapi adekuat, seperti yang dialami pasien ini. ECT bekerja cepat dan efektif untuk kondisi yang mengancam jiwa karena dapat memberikan perbaikan gejala dalam hitungan hari hingga minggu, jauh lebih cepat dibandingkan menunggu respons obat baru. Keberadaan waham bersalah (ciri psikotik), risiko suicide aktif, dan kegagalan terapi SSRI adekuat menjadi indikasi kuat untuk ECT segera pada kasus ini.
- A. Mengganti ke antidepresan lain memerlukan waktu minggu untuk menilai respons, yang tidak sesuai dengan kondisi mengancam jiwa yang mendesak.
- B. Observasi tanpa perubahan terapi berisiko membiarkan kondisi yang mengancam jiwa berlanjut tanpa intervensi definitif.
- C. Benzodiazepin dosis tinggi jangka panjang tidak mengatasi depresi berat dengan ciri psikotik dan berisiko ketergantungan serta sedasi berlebihan.
- E. Psikoterapi tanpa farmakoterapi tidak memadai untuk depresi berat dengan waham dan risiko suicide aktif yang mengancam jiwa.
Gangguan Cemas dan Somatoform
8 soalSeorang perempuan berusia 29 tahun datang ke poliklinik puskesmas dengan keluhan sudah empat kali dalam dua bulan terakhir mengalami episode mendadak jantung berdebar sangat kencang, sesak napas, keringat dingin, dan rasa seperti akan mati, yang berlangsung sekitar 15-20 menit lalu menghilang sendiri. Di luar episode tersebut, pasien terus-menerus merasa khawatir episode itu akan muncul lagi sehingga ia mulai menghindari naik angkutan umum sendirian. Pemeriksaan fisik dan EKG dalam batas normal. Apakah diagnosis yang paling tepat?
- AAgorafobia tanpa riwayat gangguan panik
- BGangguan ansietas menyeluruh
- CGangguan panik
- DSerangan panik tunggal
- EGangguan penyesuaian dengan ansietas
Lihat jawaban
Gangguan panik ditegakkan bila terdapat beberapa (lebih dari satu) serangan panik berat dalam periode sekitar satu bulan, yang terjadi pada keadaan tanpa bahaya objektif, tidak terbatas pada situasi yang diketahui atau dapat diduga, dan disertai dengan kecemasan antisipatorik (ketakutan akan serangan berikutnya) di antara episode. Pasien ini mengalami empat episode berulang dalam dua bulan dengan gejala otonom khas serta kecemasan antisipatorik yang menimbulkan perilaku menghindar, sesuai kriteria PPDGJ-III untuk gangguan panik (F41.0). Serangan panik tunggal tidak memenuhi kriteria karena harus berulang untuk disebut gangguan.
- A. Agorafobia menonjolkan rasa takut terhadap tempat atau situasi tertentu sebagai gejala utama, bukan serangan panik berulang yang mendahuluinya.
- B. GAD bercirikan kecemasan dan kekhawatiran yang mengambang bebas dan berlangsung hampir setiap hari, bukan episode mendadak dan berakhir dalam hitungan menit.
- D. Serangan panik tunggal hanya menggambarkan satu episode, sedangkan pasien ini mengalami episode berulang disertai kecemasan antisipatorik yang menetap.
- E. Gangguan penyesuaian memerlukan stresor psikososial yang jelas sebagai pencetus, yang tidak disebutkan pada kasus ini.
Seorang laki-laki berusia 35 tahun bekerja sebagai pegawai kantor datang ke puskesmas karena sejak tujuh bulan terakhir ia merasa cemas dan khawatir berlebihan hampir setiap hari mengenai pekerjaan, kesehatan keluarganya, dan keuangan, meskipun tidak ada ancaman nyata. Ia mengeluhkan sulit berkonsentrasi, mudah lelah, tegang pada otot leher dan bahu, serta sulit tidur karena pikirannya terus berputar. Tidak ditemukan episode serangan panik, fobia terhadap objek tertentu, atau gejala depresi mayor. Pemeriksaan fisik dan laboratorium dalam batas normal. Apakah diagnosis yang paling tepat?
- AGangguan obsesif-kompulsif
- BGangguan ansietas menyeluruh
- CGangguan penyesuaian dengan ansietas
- DEpisode depresif dengan gejala ansietas
- EGangguan panik
Lihat jawaban
Gangguan ansietas menyeluruh (GAD, F41.1) menurut PPDGJ-III ditandai dengan kecemasan yang mengambang bebas (free-floating) dan berlangsung hampir setiap hari selama minimal beberapa minggu sampai bulan, biasanya beberapa bulan, disertai gejala otonom dan somatik seperti ketegangan otot, mudah lelah, sulit konsentrasi, dan gangguan tidur. Kekhawatiran pasien ini bersifat menyebar pada berbagai aspek kehidupan, bukan terfokus pada situasi atau objek tertentu, dan telah berlangsung tujuh bulan sehingga memenuhi kriteria durasi. Tidak ada episode panik mendadak maupun gejala depresi mayor yang mendominasi, sehingga diagnosis GAD lebih tepat dibanding diagnosis banding lainnya.
- A. Tidak terdapat pikiran obsesif berulang maupun perilaku kompulsif pada pasien ini.
- C. Gangguan penyesuaian memerlukan stresor psikososial spesifik yang dapat diidentifikasi sebagai pencetus langsung, yang tidak disebutkan di sini.
- D. Tidak ditemukan afek depresif, kehilangan minat, atau gejala somatik depresi mayor yang dominan pada kasus ini.
- E. Gangguan panik ditandai serangan ansietas berat yang mendadak dan episodik, bukan kecemasan yang menetap dan mengambang bebas sepanjang hari.
Seorang perempuan berusia 24 tahun datang ke puskesmas karena sejak satu tahun terakhir selalu merasa sangat takut dan berdebar-debar setiap kali harus berbicara atau makan di depan orang banyak, misalnya saat presentasi di kantor atau makan bersama rekan kerja. Ia khawatir akan dinilai buruk, terlihat gemetar, atau dipermalukan di hadapan orang lain, sehingga mulai menghindari rapat kantor dan acara makan bersama. Di luar situasi sosial tersebut, ia tidak merasa cemas dan tidak takut berada sendirian di tempat umum atau menggunakan transportasi umum. Apakah diagnosis yang paling tepat?
- AFobia sosial
- BGangguan ansietas menyeluruh
- CGangguan panik dengan agorafobia
- DFobia spesifik
- EAgorafobia
Lihat jawaban
Fobia sosial (F40.1) ditandai dengan rasa takut yang menetap terhadap situasi sosial di mana individu merasa diperhatikan, dinilai, atau dipermalukan oleh orang lain, seperti berbicara atau makan di depan umum, yang menimbulkan perilaku menghindar terhadap situasi tersebut. Pasien ini hanya takut pada situasi sosial spesifik berupa penilaian orang lain, bukan takut terhadap objek tertentu (fobia spesifik) maupun takut berada di tempat terbuka atau ramai tanpa jalan keluar yang mudah (agorafobia). Tidak adanya kecemasan di luar konteks sosial dan tidak adanya riwayat serangan panik menyingkirkan diagnosis gangguan panik dengan agorafobia.
- B. GAD bersifat kecemasan mengambang bebas tanpa fokus situasi tertentu, sedangkan kecemasan pasien ini jelas terbatas pada situasi sosial.
- C. Tidak terdapat riwayat serangan panik mendadak yang mendahului perilaku menghindar pada kasus ini.
- D. Fobia spesifik berfokus pada objek atau situasi tunggal seperti hewan, ketinggian, atau jarum suntik, bukan situasi sosial yang melibatkan penilaian orang lain.
- E. Agorafobia ditandai takut berada di tempat terbuka, keramaian, atau jauh dari rumah karena sulit melarikan diri, bukan takut dinilai dalam interaksi sosial.
Seorang laki-laki berusia 27 tahun dibawa ke poliklinik karena sejak delapan bulan terakhir berulang kali mencuci tangan hingga lebih dari 30 kali sehari karena pikiran yang terus muncul bahwa tangannya terkontaminasi kuman berbahaya, meskipun ia menyadari pikiran tersebut berlebihan dan tidak masuk akal. Ia merasa sangat tertekan bila mencoba menahan diri untuk tidak mencuci tangan, dan perilaku ini mulai mengganggu pekerjaannya karena menyita waktu lebih dari dua jam setiap hari. Tidak ditemukan waham maupun halusinasi. Apakah diagnosis yang paling tepat?
- AGangguan somatisasi
- BGangguan kepribadian obsesif-kompulsif
- CGangguan ansietas menyeluruh
- DSkizofrenia paranoid
- EGangguan obsesif-kompulsif
Lihat jawaban
Gangguan obsesif-kompulsif (F42) ditegakkan bila terdapat pikiran obsesif (ide atau impuls berulang yang dirasakan sebagai milik pikiran sendiri namun tidak diinginkan dan disadari berlebihan/tidak masuk akal) dan/atau tindakan kompulsif (perilaku berulang yang dilakukan untuk mengurangi kecemasan akibat obsesi) yang berlangsung hampir setiap hari dan mengganggu fungsi, biasanya lebih dari dua minggu. Pasien ini memiliki obsesi berupa pikiran kontaminasi kuman dan kompulsi berupa cuci tangan berulang yang disadari berlebihan namun tidak dapat ditahan, disertai gangguan fungsi pekerjaan, sehingga memenuhi kriteria OCD. Tilikan pasien masih baik karena ia menyadari pikirannya tidak rasional, membedakannya dari gangguan psikotik.
- A. Gangguan somatisasi menonjolkan keluhan fisik berulang tanpa dasar organik, bukan pikiran obsesif dan perilaku kompulsif.
- B. Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif bersifat pola kepribadian menetap sejak dewasa muda berupa perfeksionisme dan kaku, bukan obsesi-kompulsi episodik yang mengganggu seperti pada kasus ini.
- C. GAD bercirikan kekhawatiran mengambang bebas tanpa pola obsesi-kompulsi yang khas seperti pada kasus ini.
- D. Tidak ditemukan waham atau halusinasi, dan pasien memiliki tilikan baik bahwa pikirannya berlebihan sehingga menyingkirkan diagnosis psikotik.
Seorang perempuan berusia 31 tahun didiagnosis dengan gangguan ansietas menyeluruh setelah mengalami kekhawatiran berlebihan hampir setiap hari selama lima bulan, disertai gangguan tidur dan ketegangan otot yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Pasien belum pernah mendapat terapi sebelumnya, tidak memiliki riwayat penyakit jantung, dan tidak sedang hamil. Dokter di puskesmas merencanakan tata laksana farmakologis jangka panjang. Apakah golongan obat yang paling tepat dipilih sebagai lini pertama?
- ATrisiklik antidepresan
- BSelective serotonin reuptake inhibitor (SSRI)
- CAntipsikotik tipikal
- DBeta blocker
- EBenzodiazepin
Lihat jawaban
SSRI (misalnya sertralin atau fluoksetin) merupakan terapi farmakologis lini pertama untuk gangguan ansietas menyeluruh karena efektivitasnya baik dalam jangka panjang, profil keamanan yang lebih baik, dan risiko ketergantungan yang rendah dibandingkan benzodiazepin. Pedoman nasional maupun internasional merekomendasikan SSRI dikombinasikan dengan terapi kognitif perilaku (CBT) sebagai pendekatan utama pada gangguan cemas, termasuk GAD. Benzodiazepin hanya digunakan untuk ansietas akut jangka pendek karena risiko toleransi dan ketergantungan bila digunakan lama.
- A. Trisiklik antidepresan dapat efektif namun bukan lini pertama karena profil efek samping kardiovaskular dan antikolinergik yang lebih berat dibanding SSRI.
- C. Antipsikotik tipikal tidak digunakan sebagai lini pertama pada gangguan cemas karena tidak terbukti superior dan memiliki risiko efek samping ekstrapiramidal.
- D. Beta blocker hanya bermanfaat untuk mengurangi gejala otonom situasional seperti pada fobia performa, bukan terapi utama GAD jangka panjang.
- E. Benzodiazepin efektif untuk ansietas akut jangka pendek namun berisiko toleransi dan ketergantungan bila dipakai untuk terapi jangka panjang.
Seorang laki-laki berusia 40 tahun datang ke unit gawat darurat dengan keluhan cemas hebat, jantung berdebar, dan napas terasa sesak sejak satu jam yang lalu setelah mengetahui anaknya mengalami kecelakaan lalu lintas. Pasien tampak gelisah, tangan gemetar, tekanan darah 140/90 mmHg, frekuensi nadi 110 kali/menit, saturasi oksigen 99%. Pemeriksaan fisik dan EKG dalam batas normal. Dokter memutuskan memberikan terapi farmakologis simtomatik segera untuk meredakan ansietas akut tersebut. Apakah hal yang paling penting diperhatikan terkait golongan obat yang diberikan?
- AObat ini aman diberikan jangka panjang tanpa risiko toleransi
- BEfek terapeutik baru tercapai setelah pemakaian rutin selama dua hingga empat minggu
- CObat ini merupakan pilihan utama untuk terapi pemeliharaan ansietas kronik
- DDurasi pemberian sebaiknya dibatasi beberapa hari untuk mencegah ketergantungan
- EObat ini tidak memiliki potensi penghentian mendadak yang berisiko
Lihat jawaban
Benzodiazepin seperti lorazepam atau diazepam efektif untuk meredakan ansietas akut secara cepat karena bekerja pada reseptor GABA-A sehingga memberikan efek sedatif dan anksiolitik dalam hitungan menit hingga jam. Namun, penggunaannya harus dibatasi jangka pendek, umumnya tidak lebih dari dua hingga empat minggu, karena risiko toleransi, ketergantungan fisik dan psikologis, serta gejala putus obat bila dihentikan tiba-tiba. Pada kasus ini, pemberian benzodiazepin tepat untuk mengatasi ansietas akut situasional, tetapi dokter harus merencanakan penghentian bertahap dan tidak menjadikannya terapi pemeliharaan jangka panjang.
- A. Benzodiazepin justru berisiko tinggi menimbulkan toleransi bila digunakan terus-menerus dalam jangka panjang.
- B. Efek anksiolitik benzodiazepin muncul cepat dalam hitungan menit hingga jam, berbeda dengan SSRI yang membutuhkan beberapa minggu.
- C. Terapi pemeliharaan ansietas kronik lebih tepat menggunakan SSRI, bukan benzodiazepin yang berisiko ketergantungan.
- E. Penghentian benzodiazepin yang tiba-tiba setelah pemakaian lama berisiko menimbulkan gejala putus obat termasuk kejang pada kasus berat.
Seorang perempuan berusia 38 tahun datang ke puskesmas dengan berbagai keluhan fisik yang berpindah-pindah sejak tiga tahun terakhir, meliputi nyeri perut, nyeri punggung, mual, dan rasa nyeri saat berhubungan seksual, yang membuatnya berulang kali berobat ke berbagai dokter dan menjalani banyak pemeriksaan penunjang tanpa ditemukan kelainan organik yang menjelaskan keluhannya. Pasien yakin dirinya sakit secara fisik dan menolak penjelasan bahwa keluhannya berkaitan dengan faktor psikologis, namun ia tidak terfokus pada satu jenis penyakit tertentu melainkan mengeluhkan banyak gejala di berbagai sistem organ secara bergantian. Apakah diagnosis yang paling tepat?
- AGangguan konversi
- BGangguan cemas menyeluruh
- CHipokondriasis
- DGangguan somatisasi
- EGangguan nyeri somatoform menetap
Lihat jawaban
Gangguan somatisasi (F45.0) ditandai dengan banyak keluhan fisik yang berpindah-pindah dan melibatkan berbagai sistem organ (gastrointestinal, muskuloskeletal, seksual, kulit) yang berlangsung minimal dua tahun, tanpa dasar kelainan organik yang memadai, serta pasien berulang kali mencari pertolongan medis meski telah dijelaskan tidak ada kelainan fisik. Hipokondriasis berbeda karena pasien terfokus pada keyakinan menderita satu atau dua penyakit serius tertentu, bukan pada keluhan fisik yang beragam dan berpindah seperti kasus ini. Durasi tiga tahun dan keterlibatan multisistem pada pasien ini sesuai dengan kriteria gangguan somatisasi.
- A. Gangguan konversi menunjukkan gejala neurologis fungsional seperti kelumpuhan atau kebutaan mendadak, bukan keluhan fisik multisistem yang kronis.
- B. GAD bercirikan kekhawatiran mengambang bebas tanpa keluhan fisik multisistem yang menonjol seperti pada kasus ini.
- C. Hipokondriasis bercirikan keyakinan menderita penyakit serius spesifik, bukan keluhan fisik multisistem yang berpindah-pindah seperti kasus ini.
- E. Gangguan nyeri somatoform menetap hanya berfokus pada keluhan nyeri tunggal yang menetap, bukan berbagai gejala multisistem.
Seorang perempuan berusia 22 tahun dibawa ke unit gawat darurat karena tiba-tiba tidak dapat menggerakkan kedua tungkainya sejak dua jam yang lalu, tepat setelah bertengkar hebat dengan pacarnya. Pasien tampak tenang meskipun menceritakan kelumpuhannya. Pemeriksaan neurologis menunjukkan tonus otot normal, refleks fisiologis simetris normal, tidak ditemukan refleks patologis, dan tidak ada gangguan pola berkemih. Pemeriksaan CT scan kepala dan elektrolit dalam batas normal. Apakah tata laksana awal yang paling tepat?
- AMenjelaskan secara tegas kepada pasien bahwa tidak ada kelainan apa pun dan gejalanya tidak nyata
- BMemberikan diazepam intravena untuk mengatasi kelumpuhan akut
- CMelakukan pemeriksaan MRI medulla spinalis segera untuk mencari lesi struktural
- DMerujuk segera untuk tindakan bedah saraf eksploratif
- EMemberikan edukasi suportif dan menyarankan psikoterapi tanpa menegaskan bahwa gejala dibuat-buat
Lihat jawaban
Gangguan konversi (F44) ditegakkan ketika terdapat gejala neurologis fungsional seperti kelumpuhan mendadak yang tidak sesuai dengan pola anatomis atau fisiologis penyakit organik, biasanya muncul setelah stresor psikologis yang jelas, dengan pemeriksaan neurologis dan penunjang yang normal. Tata laksana awal yang tepat adalah memberikan edukasi suportif, menjelaskan bahwa gejala bersifat nyata bagi pasien namun berkaitan dengan proses psikologis dan berpotensi reversibel, serta merujuk untuk psikoterapi tanpa menyalahkan atau menuduh pasien berbohong. Pendekatan yang empatik dan tidak konfrontatif penting karena konfrontasi langsung dapat memperburuk gejala atau merusak hubungan terapeutik.
- A. Menegaskan secara konfrontatif bahwa gejala tidak nyata dapat merusak hubungan terapeutik dan memperburuk gejala pasien.
- B. Diazepam intravena tidak memiliki indikasi untuk mengatasi kelumpuhan fungsional pada gangguan konversi.
- C. Pemeriksaan neurologis yang normal dan tidak adanya tanda lesi struktural membuat MRI segera tidak menjadi prioritas tata laksana awal.
- D. Tidak terdapat indikasi bedah saraf karena tidak ditemukan kelainan struktural pada pemeriksaan penunjang.
Trauma dan Stresor
4 soalSeorang perempuan, 29 tahun, dibawa keluarga ke poliklinik puskesmas karena sering terbangun malam hari sambil berteriak sejak 4 bulan lalu. Pasien mengalami kecelakaan lalu lintas berat 5 bulan lalu dan hampir meninggal. Sejak itu pasien berulang kali membayangkan kembali kejadian kecelakaan secara tiba-tiba disertai rasa takut hebat, menghindari jalan tempat kecelakaan terjadi, enggan mengendarai kendaraan, serta merasa mudah terkejut dan waspada berlebihan terhadap suara kendaraan. Pasien juga mengaku sulit mengingat detail kecelakaan tersebut. Pemeriksaan status mental lain dalam batas normal. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?
- AGangguan stres pascatrauma (PTSD)
- BGangguan penyesuaian dengan kecemasan
- CGangguan stres akut
- DGangguan panik
- EGangguan kecemasan menyeluruh
Lihat jawaban
Diagnosis PTSD ditegakkan bila gejala intrusif (teringat/mengalami kembali peristiwa), avoidan (menghindari stimulus terkait trauma), dan hiperarousal (waspada berlebihan, mudah terkejut) menetap lebih dari 1 bulan setelah terpapar peristiwa traumatik yang mengancam nyawa. Pada kasus ini, gejala telah berlangsung sejak 4 bulan setelah kejadian 5 bulan lalu, sehingga memenuhi kriteria durasi PTSD, bukan gangguan stres akut yang durasinya kurang dari 1 bulan. Mekanisme yang mendasari melibatkan disregulasi sistem amigdala dan hipokampus akibat trauma berat. Gejala avoidan dan hiperarousal yang menonjol membedakannya dari gangguan kecemasan lain.
- B. Gangguan penyesuaian tidak memenuhi kriteria lengkap gejala intrusif, avoidan, dan hiperarousal yang spesifik terhadap peristiwa traumatik mengancam nyawa.
- C. Gangguan stres akut hanya berlangsung dalam rentang 3 hari hingga 1 bulan setelah trauma, sedangkan pada kasus ini gejala sudah berlangsung 4 bulan.
- D. Gangguan panik tidak berkaitan dengan peristiwa traumatik tertentu dan tidak disertai gejala avoidan terhadap stimulus trauma spesifik.
- E. Gangguan kecemasan menyeluruh tidak terkait dengan trauma tertentu dan tidak memiliki gejala intrusif berupa pengalaman kembali peristiwa traumatik.
Seorang laki-laki, 34 tahun, dibawa ke IGD RS oleh keluarganya karena tampak ketakutan dan sulit tidur sejak 2 minggu lalu. Dua minggu lalu, pasien menjadi korban perampokan bersenjata di mana ia hampir ditembak. Sejak kejadian tersebut, pasien berulang kali mengalami kilas balik (flashback) peristiwa perampokan, menghindari tempat kejadian, merasa mati rasa secara emosional, serta mudah terkejut dan sulit berkonsentrasi di tempat kerja. Pasien tampak linglung dan sulit mengingat urutan kejadian perampokan secara rinci. Tidak ada riwayat gangguan jiwa sebelumnya. Apakah diagnosis yang paling tepat pada pasien ini?
- AGangguan disosiatif
- BGangguan penyesuaian
- CGangguan stres akut
- DEpisode depresif ringan
- EGangguan stres pascatrauma (PTSD)
Lihat jawaban
Gangguan stres akut ditegakkan bila gejala intrusif, avoidan, hiperarousal, dan disosiatif (termasuk derealisasi atau kesulitan mengingat detail trauma) muncul dalam rentang 3 hari sampai 1 bulan setelah peristiwa traumatik. Pada kasus ini gejala baru berlangsung 2 minggu, sehingga belum memenuhi kriteria durasi minimal 1 bulan untuk PTSD. Bila gejala menetap lebih dari 1 bulan, diagnosis berubah menjadi PTSD. Gejala disosiatif seperti rasa mati rasa emosional dan kesulitan mengingat detail trauma lebih khas ditemukan pada fase akut ini.
- A. Gangguan disosiatif murni tidak mencakup seluruh trias gejala intrusif, avoidan, dan hiperarousal yang ditemukan pada pasien ini.
- B. Gangguan penyesuaian tidak memerlukan peristiwa traumatik yang mengancam nyawa dan tidak menimbulkan gejala intrusif-avoidan-hiperarousal spesifik seperti pada kasus ini.
- D. Episode depresif ringan tidak menjelaskan gejala intrusif berupa flashback dan avoidan yang menonjol pada pasien ini.
- E. PTSD baru dapat didiagnosis bila gejala menetap lebih dari 1 bulan, sedangkan pada pasien ini baru 2 minggu.
Seorang perempuan, 26 tahun, datang ke puskesmas dengan keluhan murung, sering menangis, dan sulit berkonsentrasi di kantor sejak 3 minggu lalu. Keluhan muncul setelah pasien diputuskan oleh pasangannya setelah menjalin hubungan selama 4 tahun. Pasien mengaku masih bisa bekerja meski merasa tidak bersemangat, dan tidak ada gagasan membahayakan diri. Pasien tidak mengalami kejadian yang mengancam nyawa, tidak ada gejala flashback maupun menghindari tempat tertentu. Pemeriksaan status mental menunjukkan afek depresif ringan tanpa gejala psikotik. Apakah diagnosis yang paling tepat pada pasien ini?
- AEpisode depresif berat
- BGangguan stres akut
- CGangguan stres pascatrauma
- DGangguan penyesuaian dengan afek depresi
- EGangguan siklotimik
Lihat jawaban
Gangguan penyesuaian ditegakkan ketika terdapat gejala emosional atau perilaku yang timbul sebagai respons terhadap suatu stresor psikososial yang dapat diidentifikasi (bukan peristiwa yang mengancam nyawa), muncul dalam 1-3 bulan setelah stresor, dan tidak memenuhi kriteria lengkap gangguan jiwa spesifik lain seperti episode depresif berat. Pada kasus ini stresornya adalah putus hubungan, gejala masih ringan dan fungsi sosial-okupasional pasien masih relatif terjaga. Tidak adanya gejala intrusif, avoidan, dan hiperarousal menyingkirkan PTSD maupun gangguan stres akut. Gangguan penyesuaian biasanya membaik dalam 6 bulan setelah stresor atau konsekuensinya berakhir.
- A. Episode depresif berat memerlukan gejala yang lebih berat dan mengganggu fungsi secara signifikan, sedangkan pasien ini masih mampu bekerja.
- B. Gangguan stres akut memerlukan peristiwa traumatik yang mengancam nyawa, bukan stresor psikososial biasa seperti putus hubungan.
- C. PTSD memerlukan peristiwa traumatik yang mengancam nyawa disertai gejala intrusif, avoidan, dan hiperarousal yang tidak ditemukan pada kasus ini.
- E. Gangguan siklotimik ditandai fluktuasi mood kronis antara hipomania dan depresi ringan selama minimal 2 tahun, tidak sesuai dengan kasus ini.
Seorang laki-laki, 31 tahun, didiagnosis PTSD setelah mengalami pengeboman di tempat kerjanya 3 bulan lalu. Pasien mengalami kilas balik berulang, menghindari area yang mengingatkannya pada kejadian, serta mudah terkejut dan sulit tidur. Pasien belum mendapat terapi apa pun sebelumnya. Dokter puskesmas berencana merujuk pasien ke dokter spesialis kedokteran jiwa untuk penanganan lebih lanjut. Apakah tata laksana lini pertama yang paling direkomendasikan untuk kondisi pasien ini?
- APemberian benzodiazepin dosis rendah jangka panjang
- BTerapi elektrokonvulsif
- CPemberian stabilisator mood
- DPemberian antipsikotik atipikal
- ETerapi kognitif perilaku berorientasi trauma
Lihat jawaban
Tata laksana lini pertama untuk PTSD menurut berbagai pedoman termasuk rekomendasi WHO dan PNPK adalah psikoterapi berorientasi trauma, khususnya terapi kognitif perilaku berorientasi trauma (trauma-focused CBT) atau eye movement desensitization and reprocessing (EMDR), yang bertujuan memproses ulang memori traumatik dan mengurangi penghindaran. Farmakoterapi dengan SSRI seperti sertraline atau paroxetine merupakan pilihan lini pertama bila psikoterapi tidak tersedia, pasien menolak psikoterapi, atau terdapat komorbiditas depresi berat. Benzodiazepin sebaiknya dihindari karena berisiko toleransi, dependensi, dan dapat memperburuk gejala disosiatif serta menghambat proses pemrosesan emosional trauma.
- A. Benzodiazepin jangka panjang tidak direkomendasikan karena risiko dependensi dan dapat mengganggu proses konsolidasi memori terapi trauma.
- B. Terapi elektrokonvulsif tidak diindikasikan untuk PTSD tanpa komorbiditas depresi berat refrakter yang mengancam jiwa.
- C. Stabilisator mood tidak memiliki bukti kuat sebagai lini pertama PTSD dan biasanya digunakan pada gangguan bipolar komorbid.
- D. Antipsikotik atipikal bukan lini pertama PTSD dan hanya dipertimbangkan pada kasus refrakter dengan gejala psikotik atau agitasi berat.
Gangguan Terkait Zat
7 soalSeorang laki-laki, 24 tahun, dibawa temannya ke IGD puskesmas karena muntah-muntah dan bicara kacau setelah pesta minum alkohol beberapa jam lalu. Pemeriksaan tanda vital: tekanan darah 100/60 mmHg, frekuensi nadi 110 kali/menit, frekuensi napas 10 kali/menit dangkal, suhu 36,0°C. Pasien tampak mengantuk berat, berbicara meracau, jalan sempoyongan, dan napas berbau alkohol. Saturasi oksigen 90% pada udara ruangan. Apakah tata laksana awal yang paling tepat pada pasien ini?
- AMemberikan infus natrium bikarbonat untuk mengatasi asidosis
- BMemberikan flumazenil intravena segera
- CMemberikan haloperidol intramuskular untuk mengatasi agitasi
- DMelakukan bilas lambung segera
- EMenjaga jalan napas dan memberikan suplementasi oksigen sambil memantau tanda vital
Lihat jawaban
Tata laksana awal intoksikasi alkohol akut berat berfokus pada stabilisasi jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi (ABC), karena depresi napas dan risiko aspirasi muntahan merupakan penyebab utama kematian. Pasien ini menunjukkan tanda depresi napas (frekuensi napas 10 kali/menit, saturasi 90%) dan penurunan kesadaran sehingga posisi lateral/pemantauan jalan napas serta suplementasi oksigen harus menjadi prioritas sebelum tindakan lain. Bilas lambung tidak direkomendasikan karena alkohol cepat diabsorpsi dan berisiko aspirasi pada pasien dengan kesadaran menurun. Pemantauan ketat gula darah, elektrolit, dan tanda vital juga penting karena risiko hipoglikemia pada intoksikasi alkohol.
- A. Natrium bikarbonat tidak diindikasikan karena tidak ada bukti asidosis metabolik berat pada kasus ini, dan tatalaksana utama tetap stabilisasi ABC.
- B. Flumazenil digunakan untuk mengatasi intoksikasi benzodiazepin, bukan alkohol, dan tidak memiliki peran dalam penatalaksanaan intoksikasi alkohol.
- C. Haloperidol tidak diperlukan pada pasien ini karena tidak terdapat agitasi berat, dan prioritas utama adalah stabilisasi jalan napas.
- D. Bilas lambung tidak dianjurkan pada intoksikasi alkohol karena absorpsi alkohol sangat cepat dan berisiko aspirasi pada pasien dengan kesadaran menurun.
Seorang laki-laki, 45 tahun, dirawat di bangsal penyakit dalam karena pankreatitis akut. Pasien memiliki riwayat minum alkohol setiap hari selama 10 tahun dan terakhir minum alkohol 3 hari sebelum masuk rumah sakit. Pada hari rawat ketiga, pasien tampak sangat gelisah, berbicara tidak nyambung, berkeringat banyak, dan mengatakan melihat serangga merayap di dinding yang sebenarnya tidak ada. Tanda vital: tekanan darah 160/100 mmHg, frekuensi nadi 130 kali/menit, suhu 38,2°C, tremor tangan kasar. Apakah tata laksana farmakologis utama yang paling tepat untuk kondisi pasien ini?
- ABenzodiazepin dosis titrasi, misalnya diazepam atau lorazepam
- BPropranolol dosis tinggi untuk mengatasi takikardia
- CHaloperidol dosis tinggi sebagai terapi tunggal
- DAntikonvulsan fenitoin sebagai profilaksis kejang
- EClonidine sebagai terapi tunggal untuk mengontrol hipertensi
Lihat jawaban
Delirium tremens merupakan komplikasi berat sindrom putus alkohol yang biasanya timbul 48-96 jam setelah penghentian alkohol, ditandai dengan delirium, halusinasi visual, agitasi berat, hiperaktivitas otonom (takikardia, hipertensi, demam, diaforesis), dan tremor kasar. Benzodiazepin, seperti diazepam atau lorazepam, merupakan terapi lini pertama karena bekerja pada reseptor GABA-A yang sama dengan alkohol sehingga dapat mencegah dan mengatasi hiperaktivitas sistem saraf pusat akibat putus alkohol, termasuk mencegah kejang dan delirium tremens. Dosis dititrasi berdasarkan skor penilaian seperti CIWA-Ar hingga gejala terkontrol. Haloperidol dapat digunakan sebagai terapi tambahan untuk halusinasi berat, tetapi tidak menggantikan benzodiazepin karena tidak mengatasi hiperaktivitas otonom dan dapat menurunkan ambang kejang.
- B. Propranolol dapat menutupi tanda takikardia tanpa mengatasi risiko kejang dan delirium, sehingga bukan terapi utama pada kondisi ini.
- C. Haloperidol sebagai terapi tunggal tidak mengatasi hiperaktivitas otonom dan dapat menurunkan ambang kejang, sehingga tidak menjadi pilihan utama.
- D. Fenitoin tidak efektif untuk mencegah kejang akibat putus alkohol karena kejang tersebut bersifat withdrawal seizure yang responsif terhadap benzodiazepin.
- E. Clonidine hanya mengurangi gejala otonom tanpa mencegah progresi menjadi delirium tremens atau kejang, sehingga tidak dapat menjadi terapi tunggal.
Seorang laki-laki, 50 tahun, dengan riwayat konsumsi alkohol berat selama 15 tahun dibawa ke IGD karena tidak sadarkan diri setelah ditemukan tergeletak di rumah. Pemeriksaan gula darah sewaktu kapiler menunjukkan hasil 45 mg/dL. Pasien tampak kurus, dengan tanda malnutrisi dan mata tampak bergerak abnormal (nistagmus horizontal). Dokter jaga IGD berencana memberikan koreksi hipoglikemia dengan infus dekstrosa. Apakah tindakan yang paling tepat dilakukan sebelum pemberian dekstrosa pada pasien ini?
- AMemberikan asam folat oral
- BMemberikan piridoksin oral
- CMemberikan tiamin intravena atau intramuskular
- DMemberikan vitamin B12 intramuskular
- EMemberikan multivitamin oral setelah pasien sadar
Lihat jawaban
Pada pasien dengan riwayat konsumsi alkohol kronis dan malnutrisi yang berisiko defisiensi tiamin, pemberian dekstrosa tanpa tiamin terlebih dahulu dapat mencetuskan atau memperberat ensefalopati Wernicke, karena metabolisme glukosa membutuhkan tiamin sebagai kofaktor dan pemberian glukosa dapat menghabiskan cadangan tiamin yang sudah rendah. Oleh karena itu, tiamin parenteral harus diberikan sebelum atau bersamaan dengan dekstrosa pada pasien alkoholik dengan hipoglikemia atau penurunan kesadaran. Nistagmus yang ditemukan pada pasien ini merupakan salah satu tanda klasik ensefalopati Wernicke, bersama ataksia dan gangguan kesadaran. Tindakan ini merupakan langkah pencegahan sederhana namun krusial dalam tata laksana kedaruratan pasien alkoholik.
- A. Asam folat penting pada defisiensi nutrisi alkoholik tetapi tidak berperan dalam pencegahan segera ensefalopati Wernicke yang dicetuskan pemberian glukosa.
- B. Piridoksin (vitamin B6) tidak berkaitan dengan pencegahan ensefalopati Wernicke, melainkan lebih relevan pada neuropati akibat obat tertentu.
- D. Vitamin B12 tidak memiliki peran langsung dalam mencegah ensefalopati Wernicke yang disebabkan oleh defisiensi tiamin.
- E. Multivitamin oral tidak dapat diberikan pada pasien yang tidak sadar dan tidak menggantikan kebutuhan tiamin parenteral segera.
Seorang laki-laki, 27 tahun, ditemukan tidak sadarkan diri di toilet umum oleh petugas kebersihan dan dibawa ke IGD. Terdapat bekas suntikan baru pada lipat siku kedua lengan. Pemeriksaan tanda vital: tekanan darah 90/60 mmHg, frekuensi nadi 58 kali/menit, frekuensi napas 6 kali/menit dangkal, saturasi oksigen 82% pada udara ruangan. Pada pemeriksaan ditemukan pupil miosis bilateral seperti titik (pinpoint). Apakah tata laksana awal yang paling tepat untuk mengatasi kondisi pasien ini?
- APemberian naloxone intravena atau intramuskular
- BPemberian flumazenil intravena
- CPemberian metadon oral dosis rendah
- DPemberian N-asetilsistein intravena
- EPemberian atropin intravena
Lihat jawaban
Trias klasik intoksikasi opioid berupa depresi napas, penurunan kesadaran, dan pupil pinpoint (miosis bilateral) pada pasien ini sangat khas, didukung oleh bekas suntikan baru yang mengarah pada penggunaan opioid intravena. Naloxone merupakan antagonis reseptor opioid yang bekerja cepat untuk membalikkan depresi napas dan penurunan kesadaran akibat overdosis opioid, dan harus diberikan segera secara intravena atau intramuskular dengan pemantauan ketat karena efeknya dapat lebih singkat dibanding opioid penyebab sehingga mungkin memerlukan dosis ulangan atau infus kontinu. Tata laksana suportif jalan napas dan oksigenasi tetap harus diberikan bersamaan. Naloxone diberikan secara titrasi untuk menghindari pencetusan sindrom putus opioid akut yang berat.
- B. Flumazenil digunakan untuk mengatasi intoksikasi benzodiazepin, bukan opioid, dan tidak memiliki efek pada reseptor opioid.
- C. Metadon digunakan untuk terapi rumatan ketergantungan opioid jangka panjang, bukan untuk mengatasi kedaruratan depresi napas akut akibat overdosis.
- D. N-asetilsistein merupakan antidotum untuk intoksikasi parasetamol, tidak memiliki peran pada intoksikasi opioid.
- E. Atropin digunakan untuk mengatasi bradikardia akibat efek muskarinik berlebihan seperti pada intoksikasi organofosfat, bukan untuk intoksikasi opioid.
Seorang laki-laki berusia 29 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan gelisah, nyeri otot seluruh tubuh, dan diare sejak 10 jam terakhir. Pasien mengaku rutin menggunakan heroin suntik selama 3 tahun terakhir dan terakhir menggunakan 1 hari yang lalu. Pada pemeriksaan didapatkan tekanan darah 140/90 mmHg, frekuensi nadi 108 x/menit, suhu 37,2°C, pupil midriasis, lakrimasi, rinorea, piloereksi, dan tremor halus pada kedua tangan. Kesadaran compos mentis, tidak ada halusinasi. Apakah prinsip tata laksana farmakologis yang paling tepat untuk kondisi pasien ini?
- ARawat inap untuk detoksifikasi cepat tanpa pemberian agonis opioid apapun
- BPemberian naltrekson dosis tunggal untuk mempercepat eliminasi opioid dari tubuh
- CPemberian naloxon intravena untuk mengatasi gejala putus zat yang timbul
- DPemberian metadon dosis awal rendah yang dititrasi naik sesuai gejala putus zat
- EPemberian benzodiazepin dosis tinggi sebagai terapi substitusi utama
Lihat jawaban
Pasien mengalami sindrom putus opioid ditandai oleh midriasis, lakrimasi, rinorea, piloereksi, nyeri otot, dan diare setelah penghentian penggunaan heroin. Terapi substitusi opioid menggunakan metadon, agonis opioid kerja panjang, diberikan dengan dosis awal rendah (biasanya 10-20 mg) lalu dititrasi naik secara bertahap berdasarkan respons klinis untuk mengurangi gejala putus zat dan craving sambil menghindari efek sedasi dan depresi napas berlebihan. Pendekatan ini merupakan bagian dari program terapi rumatan metadon (PTRM) yang telah diadopsi sebagai program nasional di Indonesia untuk pengguna opioid dengan ketergantungan.
- A. Detoksifikasi cepat tanpa agonis opioid meningkatkan risiko ketidaknyamanan berat dan drop out terapi dibandingkan substitusi bertahap
- B. Naltrekson adalah antagonis opioid yang justru akan mencetuskan atau memperberat gejala putus zat, bukan mengatasinya
- C. Naloxon adalah antagonis opioid yang digunakan untuk mengatasi overdosis/intoksikasi opioid, bukan untuk sindrom putus zat, dan akan memperburuk gejala
- E. Benzodiazepin bukan terapi substitusi untuk ketergantungan opioid dan tidak mengatasi mekanisme dasar putus opioid
Seorang laki-laki berusia 24 tahun dibawa ke IGD oleh temannya karena gelisah hebat dan berbicara cepat sejak 2 jam yang lalu setelah menghadiri pesta. Pada pemeriksaan didapatkan tekanan darah 160/100 mmHg, frekuensi nadi 128 x/menit, frekuensi napas 24 x/menit, suhu 38,6°C. Pasien tampak sangat waspada berlebihan, pupil midriasis, berkeringat banyak, dan tampak menggaruk-garuk kulit lengannya berulang kali meski tidak ada lesi kulit. Pasien mengatakan merasa sangat percaya diri dan energik. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?
- AIntoksikasi amfetamin
- BIntoksikasi kanabis
- CIntoksikasi alkohol
- DSindrom putus alkohol
- EPutus zat amfetamin
Lihat jawaban
Pasien menunjukkan gambaran klasik intoksikasi stimulan (amfetamin) berupa hipertensi, takikardia, hipertermia ringan, midriasis, euforia dengan rasa percaya diri berlebihan, serta perilaku stereotipik berupa menggaruk kulit berulang (formication/tactile hallucination) yang khas pada intoksikasi stimulan dosis tinggi. Gejala otonom simpatis yang menonjol bersama perubahan perilaku akut setelah pajanan zat mendukung diagnosis intoksikasi, bukan putus zat yang justru ditandai oleh gejala dysphoria, lelah, dan hipersomnia. Diagnosis klinis ditegakkan berdasarkan riwayat penggunaan zat dan temuan pemeriksaan fisik tanpa memerlukan konfirmasi laboratorium segera untuk tata laksana awal.
- B. Intoksikasi kanabis umumnya menimbulkan euforia disertai relaksasi, konjungtiva merah, dan nafsu makan meningkat, bukan agitasi hipertensif berat
- C. Intoksikasi alkohol menimbulkan sedasi, disartria, ataksia, dan penurunan kesadaran, bukan agitasi dengan hipertensi dan takikardia seperti pada pasien ini
- D. Sindrom putus alkohol menimbulkan tremor, kejang, atau delirium tremens pada pasien dengan riwayat ketergantungan alkohol yang menghentikan konsumsi, tidak sesuai riwayat pasien ini
- E. Putus zat amfetamin ditandai oleh dysphoria, kelelahan, hipersomnia, dan nafsu makan meningkat, berlawanan dengan gambaran hiperaktif pasien ini
Seorang laki-laki berusia 35 tahun datang ke poliklinik psikiatri mengaku telah menggunakan sabu (metamfetamin) selama 2 tahun terakhir. Ia menyatakan bahwa dosis yang digunakan terus meningkat karena dosis sebelumnya tidak lagi memberikan efek yang diharapkan. Ia juga mengaku beberapa kali mencoba berhenti namun selalu gagal, menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mencari dan menggunakan zat tersebut, serta tetap melanjutkan penggunaan meskipun telah dipecat dari pekerjaan akibat hal ini. Apakah istilah diagnostik yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi pasien ini?
- ASindrom ketergantungan zat
- BPenggunaan zat coba-coba (eksperimental)
- CGangguan psikotik akibat zat
- DPenggunaan zat yang merugikan
- EIntoksikasi zat akut
Lihat jawaban
Pasien memenuhi kriteria sindrom ketergantungan zat menurut PPDGJ-III/ICD-10 karena terdapat toleransi (dosis meningkat untuk efek yang sama), keinginan kuat/sulit mengendalikan penggunaan (kegagalan berhenti berulang), dominasi penggunaan zat dalam hidupnya (menghabiskan waktu mencari dan menggunakan), serta tetap melanjutkan penggunaan meski mengetahui konsekuensi merugikan secara nyata (kehilangan pekerjaan). Minimal tiga dari enam kriteria harus terpenuhi dalam periode 12 bulan terakhir untuk menegakkan diagnosis ketergantungan, dan pasien ini jelas memenuhi lebih dari tiga kriteria. Diagnosis ini penting karena menentukan kebutuhan intervensi yang lebih intensif dibanding penggunaan berbahaya biasa.
- B. Penggunaan coba-coba menggambarkan pajanan awal tanpa pola kompulsif, toleransi, atau konsekuensi fungsional berat seperti yang dialami pasien ini
- C. Gangguan psikotik akibat zat memerlukan adanya waham atau halusinasi yang menonjol, yang tidak disebutkan pada kasus ini
- D. Penggunaan zat yang merugikan hanya menunjukkan dampak fisik atau mental akibat zat tanpa adanya toleransi, kompulsi, atau hendaya kontrol seperti pada pasien ini
- E. Intoksikasi zat akut menggambarkan keadaan klinis sementara akibat efek langsung zat, bukan pola penggunaan jangka panjang dengan toleransi dan hendaya kontrol
Kedaruratan Psikiatri
4 soalSeorang perempuan berusia 40 tahun dengan riwayat skizofrenia dibawa ke IGD RSJ karena mengamuk dan membahayakan diri sendiri. Setelah upaya verbal dan farmakologis tidak berhasil mengendalikan perilaku pasien, dokter memutuskan untuk melakukan tindakan fiksasi fisik (restraint). Sesuai dengan prinsip etika dan Undang-Undang Kesehatan Jiwa di Indonesia, apakah syarat utama yang harus dipenuhi sebelum dan selama tindakan restraint dilakukan?
- ARestraint dapat dilakukan tanpa indikasi medis asalkan keluarga pasien menyetujui secara lisan
- BRestraint hanya memerlukan persetujuan dari petugas keamanan rumah sakit tanpa perlu keterlibatan dokter
- CRestraint dilakukan atas indikasi medis yang jelas, dalam waktu seminimal mungkin, dengan pemantauan berkala dan dokumentasi tertulis
- DRestraint dapat dilakukan sebagai bentuk hukuman agar pasien tidak mengulangi perilaku agresifnya
- ERestraint dilakukan untuk jangka waktu yang tidak ditentukan sampai keluarga pasien datang menjemput
Lihat jawaban
Berdasarkan UU No. 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa dan prinsip etika kedokteran, tindakan restraint/seklusi hanya boleh dilakukan atas indikasi medis yang jelas (membahayakan diri sendiri atau orang lain) setelah upaya yang lebih ringan gagal, dilakukan dalam durasi seminimal mungkin, dengan pemantauan tanda vital dan kondisi klinis secara berkala, serta didokumentasikan secara tertulis mengenai indikasi, durasi, dan evaluasi. Hal ini untuk melindungi hak pasien terhadap perlakuan yang manusiawi dan menghindari penyalahgunaan tindakan restraint sebagai hukuman atau kemudahan semata. Dokter yang berwenang harus mengevaluasi ulang kebutuhan restraint secara berkala, bukan membiarkannya tanpa batas waktu.
- A. Persetujuan keluarga secara lisan tanpa indikasi medis yang jelas melanggar prinsip bahwa restraint harus didasarkan pada kebutuhan klinis, bukan semata kemudahan
- B. Keputusan restraint harus melibatkan tenaga medis yang berwenang menilai indikasi klinis, bukan hanya petugas keamanan
- D. Restraint sebagai hukuman bertentangan dengan prinsip etika dan hukum bahwa tindakan ini hanya untuk keselamatan, bukan punitif
- E. Restraint tanpa batas waktu yang jelas dan evaluasi berkala melanggar hak pasien dan prinsip bahwa tindakan ini harus seminimal mungkin durasinya
Seorang perempuan berusia 22 tahun dibawa ke IGD oleh keluarganya setelah ditemukan meminum sejumlah obat tidur dalam jumlah banyak 1 jam yang lalu. Pasien sadar penuh, tanda vital dalam batas normal. Saat diwawancara, pasien mengungkapkan bahwa ia telah merencanakan tindakan ini sejak 1 minggu terakhir, menuliskan surat perpisahan, dan merasa menyesal karena masih selamat. Ia juga mengatakan masih ingin mengakhiri hidupnya jika diberi kesempatan. Apakah tata laksana segera yang paling tepat pada pasien ini?
- ALakukan pemeriksaan psikologis terjadwal pada kunjungan kontrol berikutnya tanpa rawat inap
- BBerikan antidepresan dosis penuh segera dan pulangkan setelah observasi 2 jam
- CRujuk ke psikolog untuk konseling rawat jalan dalam 1 minggu mendatang
- DRawat inap dengan pengawasan ketat (observasi 1:1) dan konsultasi psikiatri segera
- EPulangkan pasien dengan edukasi keluarga untuk mengawasi di rumah
Lihat jawaban
Pasien ini menunjukkan risiko suicide yang sangat tinggi karena adanya perencanaan matang (direncanakan 1 minggu, menulis surat perpisahan), percobaan aktif dengan metode yang mematikan, serta ide suicide persisten yang masih diungkapkan secara eksplisit (menyesal masih hidup, ingin mengulangi). Pada kondisi ini, rawat inap dengan pengawasan ketat (observasi 1:1 untuk mencegah akses terhadap sarana mencederai diri) dan konsultasi psikiatri segera merupakan tata laksana wajib untuk menjamin keselamatan pasien sambil dilakukan evaluasi dan tata laksana definitif terhadap gangguan jiwa yang mendasari. Memulangkan pasien dengan risiko tinggi tanpa pengawasan ketat sangat berbahaya karena risiko percobaan ulang dalam waktu dekat sangat tinggi.
- A. Menunda evaluasi dan pengawasan ke kunjungan berikutnya mengabaikan risiko suicide akut yang memerlukan tindakan segera, bukan terjadwal
- B. Pemberian antidepresan tidak memberikan efek segera (butuh beberapa minggu) dan tidak mengatasi risiko keselamatan akut pasien saat ini
- C. Rujukan rawat jalan dengan jeda waktu 1 minggu tidak memadai untuk risiko suicide tinggi yang memerlukan intervensi dan pengawasan segera
- E. Memulangkan pasien dengan risiko suicide tinggi tanpa pengawasan profesional ketat sangat berisiko karena ide suicide masih aktif dan persisten
Seorang laki-laki berusia 76 tahun dibawa ke IGD oleh keluarga karena sejak 2 hari yang lalu tampak bingung, bicara kacau, dan kadang tidak mengenali anggota keluarganya. Keluhan ini muncul mendadak dan fluktuatif, memburuk pada malam hari. Sebelumnya pasien dapat beraktivitas mandiri dan tidak memiliki riwayat gangguan kognitif. Pada pemeriksaan didapatkan pasien sulit memusatkan perhatian, kadang tertidur saat diwawancara lalu terbangun dan bicara melantur, suhu 38,5°C, frekuensi nadi 102 x/menit. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?
- ADemensia Alzheimer
- BGangguan kognitif ringan
- CDelirium
- DDepresi dengan gejala psikotik
- EDemensia vaskular
Lihat jawaban
Delirium ditandai oleh onset akut (dalam hitungan jam hingga hari), perjalanan fluktuatif terutama memburuk pada malam hari (sundowning), gangguan atensi dan kesadaran yang berfluktuasi, serta sering disertai tanda infeksi atau gangguan metabolik seperti demam dan takikardia pada pasien ini. Berbeda dengan demensia yang berlangsung kronik progresif dengan kesadaran yang jernih, atau depresi yang biasanya berlangsung berminggu-minggu tanpa gangguan atensi/kesadaran yang fluktuatif, delirium merupakan kedaruratan medis yang menandakan adanya proses organik akut yang mendasarinya (misalnya infeksi, gangguan metabolik, atau efek obat) dan memerlukan pencarian etiologi segera. Gangguan atensi yang fluktuatif dengan perubahan tingkat kesadaran adalah ciri pembeda utama delirium dari diagnosis banding lainnya.
- A. Demensia Alzheimer berlangsung kronik progresif selama bulan hingga tahun dengan kesadaran yang jernih, tidak sesuai dengan onset akut dan fluktuatif pada pasien ini
- B. Gangguan kognitif ringan tidak disertai gangguan kesadaran, fluktuasi atensi berat, maupun tanda vital abnormal seperti pada pasien ini
- D. Depresi dengan gejala psikotik tidak menjelaskan gangguan atensi fluktuatif, demam, dan takikardia yang mengarah pada proses organik akut
- E. Demensia vaskular juga bersifat kronik dengan perjalanan bertahap atau stepwise, bukan onset akut dalam 2 hari seperti pasien ini
Seorang perempuan berusia 82 tahun dirawat di bangsal penyakit dalam karena pneumonia. Pada hari ketiga perawatan, perawat melaporkan pasien tiba-tiba menjadi bingung, gelisah, dan mencoba melepas infus berulang kali. Pasien tampak disorientasi waktu dan tempat, sulit mengikuti instruksi sederhana, dengan kesadaran yang fluktuatif sepanjang hari. Suhu 38,8°C, frekuensi nadi 118 x/menit, tekanan darah 100/65 mmHg, saturasi oksigen 91%. Setelah diagnosis delirium ditegakkan secara klinis, apakah pemeriksaan penunjang awal yang paling tepat dilakukan untuk mencari etiologi yang mendasari?
- AElektroensefalografi (EEG) rutin pada semua pasien delirium tanpa kecurigaan kejang
- BPemeriksaan MRI kepala segera sebagai modalitas pencitraan lini pertama
- CPemeriksaan psikometri lengkap (MMSE dan tes neuropsikologi) sebelum intervensi medis
- DPungsi lumbal segera tanpa indikasi klinis spesifik untuk menyingkirkan meningitis
- EPemeriksaan darah lengkap, elektrolit, saturasi oksigen/analisis gas darah, dan kultur darah untuk evaluasi sepsis
Lihat jawaban
Pada pasien delirium, terutama dengan latar belakang infeksi aktif seperti pneumonia dan tanda vital yang mengindikasikan sepsis (demam tinggi, takikardia, hipotensi relatif, hipoksemia), pemeriksaan penunjang awal yang tepat meliputi darah lengkap (leukositosis), elektrolit (gangguan natrium/kalium dapat mencetuskan delirium), saturasi oksigen/analisis gas darah (menilai hipoksemia), dan kultur darah untuk mengevaluasi sepsis sebagai penyebab potensial. Pendekatan ini sesuai prinsip bahwa delirium adalah manifestasi sindrom organik akut yang memerlukan pencarian etiologi medis dasar sebelum pemeriksaan pencitraan atau neurologis lanjutan yang lebih spesifik dan mahal. Pemeriksaan lanjutan seperti pencitraan otak atau EEG baru diindikasikan bila ditemukan defisit neurologis fokal atau kecurigaan kejang pada evaluasi awal.
- A. EEG tidak rutin diperlukan pada semua pasien delirium kecuali ada kecurigaan klinis kejang non-konvulsif
- B. MRI kepala bukan pemeriksaan lini pertama kecuali dicurigai adanya lesi struktural fokal atau defisit neurologis, dan tidak praktis sebagai skrining awal rutin
- C. Pemeriksaan psikometri formal tidak sesuai dilakukan pada pasien delirium akut yang tidak kooperatif dan memerlukan stabilisasi medis segera terlebih dahulu
- D. Pungsi lumbal hanya diindikasikan bila ada kecurigaan klinis meningitis/ensefalitis (misalnya kaku kuduk, demam dengan tanda rangsang meningeal), bukan dilakukan rutin tanpa indikasi
Gangguan Perkembangan dan Anak
3 soalSeorang anak laki-laki berusia 3 tahun dibawa ibunya ke puskesmas karena belum bisa berbicara dengan lancar. Menurut ibunya, anak tidak pernah menoleh ketika dipanggil namanya, tidak melakukan kontak mata saat diajak bicara, dan lebih suka bermain sendiri dengan menyusun mobil-mobilan berjajar berulang-ulang selama berjam-jam. Anak menjadi sangat rewel jika urutan mainannya diubah. Tidak ada riwayat kejang maupun regresi motorik. Pemeriksaan fisik dan neurologis dalam batas normal. Apakah diagnosis yang paling mungkin?
- AGangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas
- BDisabilitas intelektual
- CGangguan perkembangan bahasa ekspresif
- DGangguan spektrum autisme
- EGangguan kecemasan perpisahan
Lihat jawaban
Diagnosis gangguan spektrum autisme ditegakkan berdasarkan dua domain inti: gangguan komunikasi dan interaksi sosial (tidak ada kontak mata, tidak responsif saat dipanggil) serta pola perilaku, minat, atau aktivitas yang terbatas dan repetitif (bermain berulang, resisten terhadap perubahan rutinitas). Gejala ini muncul pada masa perkembangan awal, sesuai dengan kasus pada anak usia 3 tahun ini. Kriteria DSM-5 menekankan defisit yang menetap pada kedua domain tersebut, bukan hanya keterlambatan bicara semata. Tidak diperlukan pencitraan atau laboratorium khusus karena diagnosis bersifat klinis berdasarkan observasi perilaku dan riwayat perkembangan.
- A. ADHD ditandai inatensi dan hiperaktivitas, bukan defisit interaksi sosial dan perilaku repetitif yang kaku.
- B. Disabilitas intelektual ditandai keterbatasan fungsi intelektual dan adaptif global, bukan defisit sosial-komunikasi khas seperti pada kasus ini.
- C. Gangguan bahasa ekspresif hanya melibatkan keterlambatan bicara tanpa gangguan interaksi sosial dan perilaku repetitif yang menonjol.
- E. Gangguan kecemasan perpisahan ditandai kecemasan berlebihan saat berpisah dari pengasuh, tidak sesuai dengan gambaran klinis ini.
Seorang anak laki-laki berusia 8 tahun dibawa ke poliklinik karena sering mendapat laporan dari guru bahwa ia tidak bisa diam di kelas, sering berjalan-jalan saat pelajaran berlangsung, dan sulit menunggu antrean. Ibunya menyatakan gejala serupa sudah terlihat sejak anak berusia 4 tahun, berupa sulit berkonsentrasi mengerjakan tugas, mudah teralih perhatian, dan sering kehilangan barang. Gejala ini muncul baik di rumah maupun di sekolah dan mengganggu prestasi akademiknya. Pemeriksaan fisik dan neurologis normal. Apakah diagnosis yang paling mungkin?
- AGangguan cemas menyeluruh pada anak
- BGangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas
- CGangguan perilaku menentang
- DGangguan spektrum autisme
- EGangguan belajar spesifik
Lihat jawaban
Diagnosis ADHD ditegakkan bila terdapat gejala inatensi dan/atau hiperaktivitas-impulsivitas yang menetap, muncul sebelum usia 12 tahun, berlangsung minimal 6 bulan, dan terjadi pada lebih dari satu tatanan (rumah dan sekolah) sehingga mengganggu fungsi akademik atau sosial. Pada kasus ini gejala sudah muncul sejak usia 4 tahun dan terjadi di dua tatanan berbeda, memenuhi kriteria onset dini dan pervasif menurut DSM-5. Hiperaktivitas motorik (tidak bisa diam, berjalan-jalan di kelas) dan inatensi (mudah teralih, kehilangan barang) keduanya ditemukan. Tata laksana awal meliputi terapi perilaku, dan farmakoterapi dipertimbangkan bila gejala berat atau tidak respons terhadap intervensi perilaku.
- A. Gangguan cemas menyeluruh ditandai kekhawatiran berlebihan, tidak sesuai dengan gambaran hiperaktivitas dan inatensi ini.
- C. Gangguan perilaku menentang ditandai sikap permusuhan dan menentang otoritas, bukan inatensi dan hiperaktivitas motorik.
- D. Autisme ditandai defisit interaksi sosial dan perilaku repetitif, tidak sesuai dengan gejala utama kasus ini.
- E. Gangguan belajar spesifik terbatas pada kesulitan akademik spesifik seperti membaca atau menulis, tanpa hiperaktivitas motorik.
Seorang anak laki-laki berusia 9 tahun telah didiagnosis ADHD tipe kombinasi oleh psikiater sejak 6 bulan lalu. Orang tua telah menjalani program psikoedukasi dan terapi modifikasi perilaku secara konsisten selama 3 bulan, namun anak masih menunjukkan hiperaktivitas berat di sekolah sehingga prestasi akademik menurun drastis dan anak dikeluarkan sementara dari kelas. Berat badan anak 28 kg, tanda vital dalam batas normal, tidak ada riwayat kelainan jantung atau kejang. Apakah tata laksana farmakologis lini pertama yang paling tepat?
- ADiazepam
- BHaloperidol
- CFluoksetin
- DMetilfenidat
- ERisperidon
Lihat jawaban
Metilfenidat merupakan stimulan golongan psikostimulansia yang menjadi lini pertama farmakoterapi ADHD apabila terapi perilaku saja tidak cukup mengendalikan gejala atau gejala berat hingga mengganggu fungsi akademik dan sosial secara signifikan. Obat ini bekerja dengan menghambat reuptake dopamin dan norepinefrin di sinaps sehingga meningkatkan neurotransmisi di korteks prefrontal yang berperan pada atensi dan kontrol impuls. Sebelum pemberian perlu dilakukan evaluasi kardiovaskular dan riwayat kejang karena stimulan dapat meningkatkan tekanan darah dan frekuensi nadi. Pemantauan berkala terhadap pertumbuhan, nafsu makan, dan tidur diperlukan selama terapi.
- A. Diazepam merupakan benzodiazepin untuk ansietas akut atau kejang, tidak diindikasikan pada ADHD dan dapat memperburuk hiperaktivitas.
- B. Haloperidol merupakan antipsikotik tipikal untuk psikosis, tidak digunakan sebagai lini pertama ADHD.
- C. Fluoksetin merupakan antidepresan golongan SSRI yang digunakan pada depresi dan gangguan obsesif kompulsif, bukan ADHD.
- E. Risperidon merupakan antipsikotik yang digunakan pada gangguan perilaku berat terkait autisme, bukan lini pertama ADHD.
Gangguan Makan dan Tidur
3 soalSeorang perempuan berusia 19 tahun, mahasiswi, datang ke poliklinik diantar ibunya karena berat badan yang terus menurun dalam 6 bulan terakhir. Tinggi badan 160 cm, berat badan 38 kg (IMT 14,8 kg/m²). Pasien mengaku sangat takut menjadi gemuk meskipun sudah sangat kurus, dan selalu merasa dirinya masih terlihat besar ketika melihat cermin. Pasien membatasi asupan makanan secara ketat dan berolahraga berlebihan setiap hari. Menstruasi terakhir 4 bulan lalu. Pemeriksaan fisik menunjukkan kulit kering, lanugo pada lengan, dan bradikardia dengan frekuensi nadi 48 kali/menit. Apakah diagnosis yang paling mungkin?
- AGangguan makan pika
- BAnoreksia nervosa
- CGangguan dismorfik tubuh
- DDepresi dengan gejala somatik
- EBulimia nervosa
Lihat jawaban
Anoreksia nervosa ditegakkan berdasarkan tiga kriteria utama: pembatasan asupan energi yang menyebabkan berat badan sangat rendah relatif terhadap usia, jenis kelamin, dan tinggi badan; ketakutan intens terhadap kenaikan berat badan atau perilaku persisten yang menghambat kenaikan berat badan; serta gangguan persepsi terhadap bentuk atau berat tubuh sendiri. Pasien ini memiliki IMT sangat rendah (14,8 kg/m²), distorsi body image, dan perilaku restriksi disertai olahraga berlebihan. Tanda fisik seperti lanugo, bradikardia, dan amenore merupakan komplikasi akibat malnutrisi kronik dan penurunan metabolisme basal. Penanganan memerlukan pendekatan multidisiplin meliputi rehabilitasi nutrisi dan psikoterapi.
- A. Pika ditandai konsumsi zat non-makanan seperti tanah atau kertas, tidak sesuai dengan gambaran klinis ini.
- C. Gangguan dismorfik tubuh berfokus pada kekhawatiran cacat fisik tertentu tanpa disertai pembatasan asupan makanan yang ekstrem dan penurunan berat badan berat.
- D. Depresi dapat menyebabkan penurunan berat badan namun tidak disertai distorsi body image dan ketakutan gemuk yang khas.
- E. Bulimia nervosa ditandai episode makan berlebihan diikuti perilaku kompensasi, biasanya dengan berat badan normal atau mendekati normal, bukan IMT sangat rendah seperti kasus ini.
Seorang perempuan berusia 22 tahun datang ke IGD dengan keluhan lemas dan kram otot sejak 2 hari. Pasien memiliki riwayat episode makan dalam jumlah besar yang tidak terkontrol beberapa kali per minggu dalam 8 bulan terakhir, diikuti perilaku memuntahkan makanan secara sengaja karena merasa sangat bersalah. Berat badan pasien dalam rentang normal (IMT 21 kg/m²). Pemeriksaan fisik menunjukkan erosi email gigi bagian dalam dan pembesaran kelenjar parotis bilateral. Hasil laboratorium: kalium 2,8 mEq/L, klorida 85 mEq/L, dan analisis gas darah menunjukkan alkalosis metabolik. Apakah komplikasi elektrolit yang paling mendasari manifestasi klinis pasien ini?
- AHiperkalemia akibat gagal ginjal akut
- BHipernatremia akibat dehidrasi berat
- CHipokalsemia akibat malabsorpsi
- DHipokalemia akibat muntah berulang
- EHipofosfatemia akibat refeeding syndrome
Lihat jawaban
Bulimia nervosa dengan perilaku muntah berulang menyebabkan kehilangan asam lambung (HCl) dan kalium dalam jumlah besar, mengakibatkan hipokalemia dan alkalosis metabolik hipokloremik. Kelemahan otot dan kram pada pasien ini merupakan manifestasi klasik hipokalemia, yang juga berisiko menimbulkan aritmia jantung yang mengancam jiwa. Erosi email gigi bagian dalam (perimilolisis) dan pembesaran kelenjar parotis bilateral merupakan tanda khas akibat paparan asam lambung berulang pada rongga mulut. Pemantauan elektrolit serial dan koreksi kalium merupakan bagian penting tata laksana kedaruratan pada bulimia nervosa.
- A. Gagal ginjal akut tidak sesuai dengan gambaran klinis dan tidak menjelaskan erosi gigi serta pembesaran parotis.
- B. Hipernatremia dapat terjadi pada dehidrasi berat namun tidak menjelaskan alkalosis metabolik dan hipokalemia pada kasus ini.
- C. Hipokalsemia tidak menjelaskan pola elektrolit dan asam basa yang ditemukan pada pasien ini.
- E. Refeeding syndrome terjadi saat renutrisi pada pasien malnutrisi berat, tidak sesuai dengan konteks muntah berulang pada bulimia ini.
Seorang laki-laki berusia 45 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan sulit memulai tidur sejak 3 bulan terakhir, hampir setiap malam membutuhkan lebih dari 1 jam untuk tertidur. Pasien sering terbangun di malam hari dan merasa tidak segar saat bangun pagi, sehingga mengganggu konsentrasi kerja. Tidak ditemukan gangguan mood, nyeri kronik, maupun penggunaan zat tertentu. Pasien memiliki kebiasaan menggunakan ponsel di tempat tidur hingga larut malam dan sering tidur siang selama 2 jam. Pemeriksaan fisik dalam batas normal. Apakah tata laksana awal yang paling tepat?
- APemberian melatonin dosis tinggi jangka panjang
- BPemberian zolpidem dosis rendah setiap malam
- CPemberian diazepam sebelum tidur
- DPemeriksaan polisomnografi segera
- EEdukasi higiene tidur dan terapi perilaku kognitif untuk insomnia
Lihat jawaban
Tata laksana lini pertama insomnia primer kronik adalah intervensi non-farmakologis, yaitu edukasi higiene tidur dan terapi perilaku kognitif untuk insomnia (CBT-I). Higiene tidur meliputi menghindari penggunaan gawai sebelum tidur, membatasi tidur siang, menjaga jadwal tidur-bangun yang konsisten, dan menghindari kafein menjelang malam. Pada kasus ini ditemukan faktor pencetus yang dapat dimodifikasi, yaitu penggunaan ponsel larut malam dan tidur siang berlebihan, sehingga intervensi perilaku menjadi pilihan utama sebelum mempertimbangkan farmakoterapi. Farmakoterapi hipnotik hanya dipertimbangkan bila intervensi non-farmakologis tidak berhasil dan digunakan dalam jangka pendek karena risiko toleransi dan ketergantungan.
- A. Melatonin dosis tinggi jangka panjang tidak terbukti lebih superior dan bukan tata laksana awal lini pertama untuk insomnia primer.
- B. Zolpidem dapat dipertimbangkan bila terapi non-farmakologis gagal, bukan sebagai lini pertama, dan berisiko ketergantungan jika rutin setiap malam.
- C. Diazepam tidak direkomendasikan untuk insomnia kronik karena risiko toleransi, ketergantungan, dan efek sedasi residual yang tinggi.
- D. Polisomnografi diindikasikan bila dicurigai gangguan tidur organik seperti apnea tidur, tidak diperlukan sebagai langkah awal pada kasus ini.
Psikiatri Khusus dan Lainnya
5 soalSeorang perempuan berusia 24 tahun datang ke poliklinik psikiatri diantar temannya karena berulang kali melukai lengannya sendiri dengan silet setelah bertengkar dengan pacarnya. Pasien menceritakan riwayat hubungan dengan pacar yang selalu berganti-ganti secara intens, di mana pasien bisa sangat mengidolakan pasangannya namun tiba-tiba membenci dan memutuskan hubungan ketika merasa akan ditinggalkan. Pasien mengaku sering merasa hampa dan tidak tahu siapa dirinya sebenarnya, serta mudah marah hebat yang tidak sebanding dengan pemicunya. Pola ini telah berlangsung sejak usia remaja dan muncul di berbagai aspek kehidupan pasien. Apakah diagnosis yang paling mungkin?
- AGangguan bipolar tipe II
- BGangguan kepribadian antisosial
- CGangguan kepribadian ambang
- DGangguan stres pascatrauma
- EGangguan kepribadian histrionik
Lihat jawaban
Gangguan kepribadian ambang ditandai oleh pola pervasif ketidakstabilan dalam hubungan interpersonal, citra diri, dan afek, disertai impulsivitas yang nyata sejak usia dewasa awal. Ciri khas meliputi hubungan interpersonal yang intens dan tidak stabil dengan pola idealisasi-devaluasi ekstrem, ketakutan akan ditinggalkan, perilaku melukai diri atau upaya bunuh diri berulang, perasaan hampa kronik, gangguan identitas diri, dan ketidakstabilan afek. Pasien pada kasus ini menunjukkan sekurangnya lima ciri tersebut yang muncul sejak remaja dan pervasif di berbagai konteks kehidupan, sesuai kriteria diagnostik DSM-5. Tata laksana utama adalah psikoterapi, seperti dialectical behavior therapy, dengan farmakoterapi sebagai tambahan untuk gejala spesifik.
- A. Bipolar tipe II ditandai episode hipomanik dan depresi mayor yang episodik, bukan ketidakstabilan afek dan identitas yang pervasif dan kronik.
- B. Gangguan kepribadian antisosial ditandai pelanggaran hak orang lain dan perilaku melanggar hukum, bukan ketakutan ditinggalkan dan instabilitas identitas.
- D. Gangguan stres pascatrauma memerlukan riwayat trauma spesifik dengan gejala intrusi dan hiperarousal, tidak sesuai dengan pola kepribadian pervasif ini.
- E. Gangguan kepribadian histrionik ditandai perilaku mencari perhatian dan dramatisasi emosi, tanpa pola melukai diri dan ketakutan ditinggalkan yang ekstrem.
Seorang laki-laki berusia 27 tahun dibawa oleh polisi ke IGD setelah terlibat perkelahian dan merusak kendaraan orang lain. Dari catatan rekam jejak, pasien sudah tiga kali ditahan sejak usia 16 tahun karena pencurian dan penganiayaan. Pasien tampak tenang, tidak menyesal, dan mengatakan bahwa orang yang dipukulnya "memang pantas dihajar". Riwayat sejak SMP sering membolos, mencuri uang teman, dan pernah menyiksa hewan peliharaan tetangga. Pasien tidak menunjukkan rasa bersalah ketika diceritakan dampak perbuatannya terhadap korban. Tidak ditemukan gejala psikotik, gangguan mood, atau penggunaan zat pada saat ini.
- AGangguan tingkah laku (conduct disorder) menetap
- BGangguan kepribadian ambang (borderline)
- CGangguan kepribadian narsistik
- DGangguan eksplosif intermiten
- EGangguan kepribadian antisosial
Lihat jawaban
Diagnosis gangguan kepribadian antisosial ditegakkan pada individu berusia minimal 18 tahun dengan pola perilaku melanggar norma sosial dan hak orang lain yang menetap sejak sebelum usia 15 tahun (ditandai riwayat gangguan tingkah laku), disertai kurangnya rasa bersalah, impulsivitas, dan kecenderungan agresif berulang. Pasien ini memenuhi kriteria usia dewasa dengan riwayat masa kecil berupa mencuri, membolos, dan kekerasan terhadap hewan yang merupakan ciri gangguan tingkah laku masa anak-remaja sebagai prasyarat diagnosis. Tidak adanya rasa bersalah dan sikap membenarkan tindakan agresif memperkuat diagnosis ini. Gejala tidak dapat dijelaskan oleh gangguan psikotik, mood, atau zat.
- A. Gangguan tingkah laku adalah diagnosis masa anak-remaja (di bawah 18 tahun), sedangkan pasien ini sudah dewasa dengan pola menetap.
- B. Gangguan kepribadian ambang ditandai ketidakstabilan afek, hubungan interpersonal, dan citra diri, bukan pola pelanggaran hukum berulang tanpa rasa bersalah.
- C. Gangguan kepribadian narsistik ditandai rasa kebesaran diri dan kebutuhan dikagumi, bukan perilaku kriminal berulang sejak remaja.
- D. Gangguan eksplosif intermiten terbatas pada episode agresi impulsif tanpa pola pervasif pelanggaran hak orang lain sejak remaja.
Seorang perempuan berusia 24 tahun dibawa ke IGD oleh keluarga pada hari ke-5 pascapersalinan anak pertama. Keluarga mengatakan sejak kemarin pasien bicara kacau, mengatakan bayinya adalah "titisan roh jahat" yang harus dimusnahkan, dan tadi malam sempat mencoba mencekik bayinya sebelum dicegah oleh suami. Pasien tampak gelisah, waham curiga terhadap keluarga, dan mendengar suara yang menyuruhnya menyakiti bayi. Tanda vital: tekanan darah 128/82 mmHg, nadi 96 kali/menit, suhu 37,0°C. Pemeriksaan fisik dan neurologis dalam batas normal.
- ARawat inap segera dengan pemisahan sementara dari bayi dan pemberian antipsikotik
- BKonseling psikoterapi suportif tanpa farmakoterapi di puskesmas
- CRawat jalan dengan edukasi keluarga dan kontrol ulang satu minggu kemudian
- DObservasi di rumah dengan pendampingan keluarga secara bergantian
- EPemberian antidepresan golongan SSRI dan evaluasi ulang dua minggu kemudian
Lihat jawaban
Psikosis postpartum merupakan kedaruratan psikiatri karena risiko tinggi tindakan membahayakan diri sendiri atau bayi, seperti yang terjadi pada kasus ini dengan percobaan mencekik bayi disertai waham dan halusinasi auditorik komando. Tata laksana awal wajib rawat inap untuk pengawasan ketat, memisahkan sementara ibu dari bayi demi keselamatan, serta memulai antipsikotik untuk mengendalikan gejala psikotik secepat mungkin. Rawat jalan atau observasi di rumah tidak memberikan pengawasan yang adekuat terhadap risiko bahaya akut. Keputusan rawat inap ini sesuai prinsip penanganan kedaruratan psikiatri yang mengutamakan keselamatan pasien dan orang di sekitarnya.
- B. Psikoterapi suportif saja tidak mengatasi gejala psikotik akut dan tidak memberikan perlindungan segera terhadap bayi.
- C. Rawat jalan tidak memberikan pengawasan yang cukup untuk mencegah risiko kekerasan terhadap bayi yang sudah terjadi.
- D. Observasi di rumah tidak aman karena risiko kekerasan terhadap bayi sudah terbukti nyata pada kasus ini.
- E. SSRI tidak efektif untuk gejala psikotik akut dan evaluasi dua minggu terlalu lambat untuk kondisi kedaruratan ini.
Seorang dokter umum di puskesmas menerima pasien laki-laki berusia 30 tahun yang dibawa keluarga karena sejak 6 bulan terakhir sering mendengar suara-suara yang mengomentari perilakunya dan yakin bahwa tetangga memasang alat penyadap di rumahnya untuk mencelakainya. Pasien tampak waspada berlebihan namun masih bisa diajak komunikasi, tidak ada riwayat kekerasan maupun penggunaan zat. Dokter puskesmas mencurigai skizofrenia dan ingin menentukan tindakan yang sesuai dengan tingkat kompetensinya menurut SKDI.
- AMerujuk langsung tanpa melakukan anamnesis maupun pemeriksaan awal apapun
- BMenegakkan diagnosis definitif dan memulai terapi antipsikotik jangka panjang secara mandiri tanpa rujukan
- CMemberikan rujukan ke psikolog klinis saja tanpa melibatkan psikiater
- DHanya mengamati pasien tanpa tindakan apapun hingga keluarga membawa ke psikiater sendiri
- EMembuat diagnosis klinis berdasarkan gejala, memberikan tata laksana awal, lalu merujuk ke psikiater
Lihat jawaban
Skizofrenia termasuk kompetensi SKDI tingkat 3A, yang berarti dokter umum mampu membuat diagnosis klinis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan, memberikan tata laksana awal pada kondisi tertentu, kemudian merujuk ke dokter spesialis yang relevan (psikiater) untuk penanganan definitif. Dokter puskesmas berperan penting dalam deteksi dini, stabilisasi awal bila diperlukan, serta edukasi keluarga sebelum merujuk, bukan menegakkan diagnosis definitif maupun memulai terapi jangka panjang secara mandiri karena memerlukan tindak lanjut dan pemantauan spesialistik. Sistem rujukan berjenjang ini memastikan pasien mendapat penanganan sesuai kompetensi fasilitas kesehatan primer sekaligus akses ke layanan spesialistik yang tepat.
- A. Rujukan tanpa anamnesis dan pemeriksaan awal tidak sesuai prinsip pelayanan primer yang harus melakukan evaluasi klinis dahulu.
- B. Terapi antipsikotik jangka panjang dan diagnosis definitif skizofrenia berada di luar kompetensi mandiri dokter umum di puskesmas.
- C. Psikolog klinis tidak berwenang memberikan terapi farmakologis sehingga rujukan ke psikiater tetap diperlukan untuk kasus skizofrenia.
- D. Mengamati tanpa tindakan apapun mengabaikan peran dokter puskesmas dalam deteksi awal dan tata laksana pendahuluan sesuai SKDI 3A.
Seorang perempuan berusia 40 tahun dengan riwayat skizofrenia paranoid dibawa ke IGD dalam kondisi gelisah berat, berbicara kacau, dan menolak semua tindakan medis karena yakin dokter ingin meracuninya. Pasien memerlukan pemberian injeksi antipsikotik segera untuk mengendalikan agitasi yang membahayakan dirinya sendiri dan petugas. Keluarga yang mendampingi (suami) hadir di IGD dan bersedia memberikan persetujuan tindakan.
- ADokter harus meminta persetujuan dari kepala puskesmas atau direktur rumah sakit sebagai pengganti keluarga
- BDokter dapat meminta persetujuan tindakan kepada suami pasien sebagai wali yang sah karena pasien dinilai tidak kompeten mengambil keputusan saat ini
- CDokter tidak dapat memberikan tindakan apapun tanpa persetujuan langsung dari pasien meskipun pasien gelisah berat
- DDokter dapat memberikan tindakan tanpa persetujuan siapapun karena pasien memiliki gangguan jiwa secara permanen
- EDokter harus menunggu penetapan pengadilan mengenai status kompetensi pasien sebelum memberikan tindakan apapun
Lihat jawaban
Pada kondisi kedaruratan psikiatri dengan agitasi berat yang membahayakan diri sendiri atau orang lain, pasien dinilai tidak kompeten secara sementara untuk memberikan persetujuan tindakan karena gangguan penilaian realitas (waham, gaduh gelisah). Dalam situasi ini, persetujuan tindakan dapat diperoleh dari keluarga terdekat yang hadir, seperti suami, sesuai prinsip persetujuan oleh wali/keluarga pada pasien yang tidak kompeten mengambil keputusan medis. Keterlambatan tindakan karena menunggu proses hukum formal dapat membahayakan keselamatan pasien dan petugas, sehingga penetapan pengadilan bukan prasyarat tindakan kedaruratan. Prinsip ini sejalan dengan etika kedokteran mengenai informed consent pada pasien dengan kapasitas mental terganggu secara akut.
- A. Kepala puskesmas atau direktur rumah sakit bukan pihak yang berwenang menggantikan peran keluarga dalam persetujuan tindakan medis pasien.
- C. Menunggu persetujuan langsung pasien yang sedang gaduh gelisah dan tidak kompeten dapat membahayakan keselamatan pasien dan petugas.
- D. Tindakan tanpa persetujuan siapapun tidak sesuai etika kedokteran meski pasien memiliki gangguan jiwa, kecuali kedaruratan tanpa keluarga yang hadir.
- E. Penetapan pengadilan memerlukan waktu lama dan tidak praktis untuk kondisi kedaruratan psikiatri yang membutuhkan tindakan segera.
Pertanyaan umum
Apakah ini soal asli UKMPPD?
Bukan. Ini soal latihan orisinal yang ditulis bergaya UKMPPD sesuai blueprint ujian. Setiap soal dikerjakan ulang oleh model kedua yang independen tanpa melihat kunci, dan soal dengan kunci yang diperdebatkan dihapus.
Bagaimana cara memakai soal psikiatri ini?
Kerjakan kuis dulu tanpa melihat jawaban, lalu baca pembahasan setiap soal yang salah atau ditebak. Poin penting di bawah setiap jawaban adalah hal yang perlu diingat.
Apakah soalnya gratis?
Ya. Semua soal, jawaban, dan pembahasan di halaman ini gratis tanpa perlu mendaftar.
Topik UKMPPD lainnya
UKMPPD diselenggarakan oleh Panitia Nasional UKMPPD. WhiteCoat Pro tidak berafiliasi dengan maupun didukung oleh lembaga tersebut. Semua soal adalah soal latihan orisinal: ditulis oleh tim editorial WhiteCoat Pro dengan bantuan AI dan diperiksa oleh model AI kedua yang independen, yang mengerjakan setiap soal tanpa melihat kunci; soal dengan kunci yang diperdebatkan dihapus. Ini bukan soal ujian asli. Untuk belajar, bukan saran medis.