Infeksi Respirasi Atas
7 soalSeorang perempuan berusia 22 tahun datang ke puskesmas dengan nyeri tenggorokan sejak 2 hari. Keluhan disertai demam tinggi dan tidak ada batuk maupun pilek. Suhu 38,6°C, frekuensi nadi 92 x/menit. Pemeriksaan tenggorok menunjukkan tonsil T2/T2 hiperemis dengan eksudat putih di permukaannya. Teraba pembesaran kelenjar getah bening servikal anterior yang nyeri tekan. Berdasarkan kriteria Centor, berapa skor pasien ini dan interpretasinya?
- ASkor 1, kemungkinan infeksi streptokokus sangat rendah
- BSkor 2, kemungkinan infeksi streptokokus rendah
- CSkor 4, kemungkinan infeksi streptokokus tinggi
- DSkor 5, kemungkinan infeksi streptokokus sangat tinggi
- ESkor 3, kemungkinan infeksi streptokokus sedang
Lihat jawaban
Kriteria Centor terdiri dari empat parameter: demam >38°C, eksudat tonsil, limfadenopati servikal anterior nyeri tekan, dan tidak adanya batuk, masing-masing bernilai 1 poin. Pasien ini memenuhi demam, eksudat tonsil, limfadenopati servikal, dan tidak ada batuk, sehingga totalnya 4 poin. Skor 4 atau lebih menunjukkan kemungkinan tinggi infeksi Streptococcus group A dan menjadi dasar pertimbangan pemberian antibiotik empiris. Skor Centor digunakan untuk membedakan faringitis bakterial dari viral tanpa memerlukan kultur tenggorok di layanan primer.
- A. Skor 1 jauh lebih rendah dari jumlah kriteria yang terpenuhi pada pasien ini.
- B. Skor yang disebutkan tidak sesuai karena pasien memenuhi seluruh 4 parameter Centor.
- D. Skor maksimal kriteria Centor klasik adalah 4, bukan 5.
- E. Skor 3 tidak sesuai karena keempat kriteria Centor terpenuhi, bukan hanya tiga.
Seorang anak laki-laki berusia 8 tahun dibawa ke puskesmas dengan nyeri menelan dan demam sejak 2 hari. Pada pemeriksaan didapatkan suhu 38,5°C, tonsil T3/T3 hiperemis dengan eksudat, serta pembesaran kelenjar limfe leher anterior yang nyeri tekan. Tidak ada riwayat alergi obat sebelumnya. Dokter puskesmas mendiagnosis faringitis bakterial akut. Apakah terapi antibiotik lini pertama yang paling tepat diberikan?
- ACiprofloxacin oral
- BAzitromisin oral
- CAmoksisilin oral
- DKlindamisin oral
- EDoksisiklin oral
Lihat jawaban
Amoksisilin merupakan antibiotik lini pertama untuk faringitis bakterial akibat Streptococcus group A karena efektif, murah, spektrum sesuai, dan jarang menimbulkan resistensi pada patogen ini. Pemberian antibiotik yang adekuat juga bertujuan mencegah komplikasi lanjut seperti demam rematik akut dan glomerulonefritis pasca-streptokokus. Pada pasien tanpa riwayat alergi penisilin, amoksisilin dapat diberikan selama 10 hari sesuai pedoman nasional. Alternatif seperti eritromisin atau makrolid baru dicadangkan untuk pasien dengan alergi penisilin.
- A. Ciprofloxacin merupakan fluorokuinolon yang tidak direkomendasikan sebagai lini pertama pada anak karena efek samping pada tulang rawan yang sedang bertumbuh.
- B. Azitromisin dicadangkan sebagai alternatif pada pasien dengan alergi penisilin, bukan lini pertama.
- D. Klindamisin digunakan pada kasus alergi penisilin berat atau infeksi berulang, bukan sebagai terapi lini pertama.
- E. Doksisiklin tidak dianjurkan pada anak di bawah 8 tahun karena risiko diskolorasi gigi dan bukan pilihan lini pertama faringitis streptokokus.
Seorang laki-laki berusia 25 tahun datang ke IGD rumah sakit dengan nyeri tenggorokan hebat sejak 5 hari yang memberat dalam 1 hari terakhir. Pasien mengeluh sulit membuka mulut dan suaranya terdengar seperti tertahan. Suhu 39,2°C, frekuensi nadi 110 x/menit. Pemeriksaan tenggorok menunjukkan pembengkakan asimetris pada palatum mole kanan yang mendorong uvula ke arah kiri, disertai trismus. Apakah komplikasi yang paling mungkin terjadi pada pasien ini?
- AAbses peritonsilar
- BSelulitis fasialis
- CAbses submandibula
- DLimfadenitis servikal supuratif
- EAbses retrofaringeal
Lihat jawaban
Abses peritonsilar merupakan komplikasi tonsilitis akut yang ditandai dengan trismus, suara 'hot potato voice', pembengkakan asimetris palatum mole, dan deviasi uvula ke sisi yang sehat. Kondisi ini terjadi akibat penyebaran infeksi dari tonsil ke ruang peritonsilar sehingga terbentuk kumpulan pus. Diagnosis ditegakkan secara klinis dan ditatalaksana dengan drainase (needle aspiration atau insisi) disertai antibiotik sistemik. Bila tidak ditangani, infeksi dapat menyebar ke ruang parafaring atau mediastinum.
- B. Selulitis fasialis menimbulkan pembengkakan difus pada wajah, bukan temuan intraoral khas deviasi uvula dan trismus.
- C. Abses submandibula menimbulkan pembengkakan di bawah mandibula, bukan pembengkakan intraoral pada palatum mole.
- D. Limfadenitis servikal supuratif menimbulkan pembengkakan kelenjar leher yang teraba, bukan pembengkakan asimetris palatum dengan deviasi uvula.
- E. Abses retrofaringeal lebih sering terjadi pada anak kecil dan menimbulkan nyeri leher serta kaku kuduk, tanpa deviasi uvula yang khas.
Seorang perempuan berusia 34 tahun datang ke puskesmas dengan hidung tersumbat, sekret hidung purulen, dan nyeri wajah di area pipi kiri sejak 12 hari. Keluhan sempat membaik pada hari ke-5 kemudian memburuk kembali disertai demam 38,3°C. Pemeriksaan hidung menunjukkan sekret mukopurulen di meatus media kiri dan nyeri tekan pada area sinus maksilaris kiri. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?
- ARinosinusitis akut bakterial
- BRinitis alergi dengan superinfeksi
- CSinusitis kronis eksaserbasi akut
- DRinosinusitis akut viral
- ERinitis vasomotor dengan infeksi sekunder
Lihat jawaban
Rinosinusitis akut bakterial dicurigai bila gejala menetap lebih dari 10 hari tanpa perbaikan, atau terdapat perburukan kedua ('double worsening') setelah perbaikan awal dalam perjalanan infeksi saluran napas atas, disertai demam dan nyeri wajah unilateral. Pola ini berbeda dari rinosinusitis viral yang biasanya membaik dalam 7-10 hari secara progresif. Diagnosis klinis ini tidak memerlukan pencitraan rutin pada kasus tanpa komplikasi. Terapi meliputi antibiotik seperti amoksisilin, dekongestan, dan analgesik sesuai pedoman.
- B. Rinitis alergi khasnya disertai bersin berulang, gatal hidung, dan sekret bening, bukan sekret purulen dengan nyeri wajah seperti ini.
- C. Durasi gejala 12 hari belum memenuhi definisi kronis yang memerlukan gejala menetap lebih dari 12 minggu.
- D. Rinosinusitis viral biasanya mereda progresif dalam 7-10 hari tanpa pola perburukan kedua seperti pada pasien ini.
- E. Rinitis vasomotor tidak disertai sekret purulen atau demam, dan dipicu oleh faktor non-alergi seperti perubahan suhu.
Seorang laki-laki berusia 28 tahun mengeluh bersin-bersin berulang, hidung gatal, dan keluar cairan bening dari hidung setiap pagi sejak 6 bulan terakhir, terutama saat terpapar debu rumah. Pemeriksaan hidung menunjukkan mukosa konka pucat kebiruan dan edema. Tidak ditemukan demam. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?
- ARinitis atrofi
- BRinosinusitis kronis
- CRinitis medikamentosa
- DRinitis alergi
- ERinitis vasomotor
Lihat jawaban
Rinitis alergi ditandai oleh gejala khas berupa bersin berulang, gatal hidung, dan rinore bening yang dipicu oleh alergen seperti debu rumah, dengan temuan mukosa konka pucat kebiruan dan edema pada pemeriksaan. Mekanismenya melibatkan reaksi hipersensitivitas tipe 1 yang diperantarai IgE terhadap alergen spesifik. Berbeda dengan rinitis vasomotor yang dipicu oleh faktor non-alergi seperti perubahan suhu atau bau tanpa gatal hidung yang menonjol. Diagnosis rinitis alergi diperkuat dengan riwayat pajanan alergen yang jelas dan dapat dikonfirmasi dengan uji kulit atau IgE spesifik bila diperlukan.
- A. Rinitis atrofi ditandai mukosa hidung yang mengering dan atrofi dengan krusta berbau, bukan mukosa edema pucat kebiruan.
- B. Rinosinusitis kronis disertai sekret purulen dan nyeri wajah yang menetap, bukan gejala khas alergi seperti pada pasien ini.
- C. Rinitis medikamentosa terjadi akibat pemakaian dekongestan topikal jangka panjang, yang tidak disebutkan pada riwayat pasien ini.
- E. Rinitis vasomotor tidak disertai gatal hidung dan bersin berulang yang menonjol, serta tidak terkait pajanan alergen spesifik seperti debu.
Seorang anak laki-laki berusia 4 tahun dibawa ke IGD dengan demam tinggi mendadak, nyeri menelan hebat, dan suara serak sejak 6 jam. Anak tampak lebih nyaman duduk dengan posisi leher condong ke depan dan mulut terbuka, serta mengeluarkan liur terus-menerus. Suhu 39,5°C, frekuensi napas 36 x/menit dengan stridor inspirasi yang semakin jelas. Saturasi oksigen 94%. Apakah tindakan awal yang paling tepat dilakukan pada pasien ini?
- AMemberikan antibiotik intravena sebagai tindakan pertama sambil menunda evaluasi jalan napas
- BMemberikan nebulisasi epinefrin terlebih dahulu sebelum tindakan lain
- CMelakukan pemeriksaan tenggorok dengan spatula lidah untuk visualisasi epiglotis
- DMelakukan rontgen leher lateral sebelum mengambil tindakan apapun
- EMempertahankan posisi nyaman anak dan segera menyiapkan jalan napas definitif oleh tim terlatih
Lihat jawaban
Pada kecurigaan epiglotitis akut dengan tanda distres napas seperti stridor, drooling, dan posisi tripod, prioritas utama adalah menjaga jalan napas tetap paten dengan membiarkan anak pada posisi nyaman tanpa manipulasi yang dapat memicu obstruksi total, sambil menyiapkan intubasi atau trakeostomi oleh tim anestesi/bedah THT yang kompeten. Manipulasi mulut atau faring seperti pemeriksaan dengan spatula lidah dapat memicu spasme laring dan obstruksi total sehingga harus dihindari. Pemeriksaan penunjang seperti rontgen hanya dilakukan bila kondisi stabil dan tidak boleh menunda tindakan menyelamatkan jalan napas. Epiglotitis merupakan kegawatan yang memerlukan penanganan jalan napas sebelum terapi definitif lainnya.
- A. Antibiotik penting namun bukan tindakan prioritas pertama; jalan napas harus diamankan terlebih dahulu sebelum terapi definitif lain.
- B. Nebulisasi epinefrin bukan tindakan utama pada epiglotitis dan lebih sering digunakan pada croup berat, bukan menggantikan amankan jalan napas.
- C. Pemeriksaan dengan spatula lidah dapat memicu spasme laring dan obstruksi total jalan napas, sehingga kontraindikasi pada kecurigaan epiglotitis.
- D. Rontgen leher dapat memperlambat tindakan penyelamatan jalan napas dan berisiko memicu obstruksi saat anak dipindahkan atau dibaringkan.
Seorang anak laki-laki berusia 3 tahun dengan croup berat ditangani di IGD dengan nebulisasi epinefrin dan kortikosteroid nebulisasi (budesonide). Setelah pemberian epinefrin, gejala stridor dan retraksi dinding dada membaik sementara dalam 2 jam pertama. Kortikosteroid nebulisasi diberikan untuk memberikan efek yang lebih bertahan lama. Apakah mekanisme utama kortikosteroid dalam memperbaiki obstruksi jalan napas pada kasus ini?
- AMengurangi edema mukosa laring melalui efek anti-inflamasi yang menekan permeabilitas vaskular
- BMenghambat pelepasan histamin dari sel mast secara langsung di mukosa laring
- CMenurunkan viskositas sekret jalan napas melalui efek mukolitik langsung
- DMeningkatkan produksi surfaktan pada epitel saluran napas bawah
- EMerelaksasi otot polos bronkus secara langsung melalui stimulasi reseptor beta-2 adrenergik
Lihat jawaban
Kortikosteroid pada croup bekerja melalui efek anti-inflamasi dengan menekan produksi mediator inflamasi dan menurunkan permeabilitas vaskular, sehingga mengurangi edema pada mukosa subglotis dan laring yang menjadi penyebab utama obstruksi jalan napas pada croup. Efek ini bersifat lebih lambat namun lebih bertahan lama dibandingkan epinefrin nebulisasi yang bekerja cepat melalui vasokonstriksi namun bersifat sementara. Kombinasi keduanya memberikan perbaikan klinis yang cepat sekaligus mencegah rebound setelah efek epinefrin menghilang. Dexamethasone oral atau budesonide nebulisasi merupakan pilihan standar sesuai pedoman penanganan croup.
- B. Kortikosteroid tidak bekerja langsung menghambat pelepasan histamin dari sel mast seperti mekanisme stabilisator sel mast.
- C. Kortikosteroid tidak memiliki efek mukolitik langsung terhadap viskositas sekret jalan napas.
- D. Peningkatan produksi surfaktan bukan mekanisme kerja kortikosteroid pada croup dan lebih relevan pada maturasi paru janin.
- E. Relaksasi otot polos melalui reseptor beta-2 adrenergik adalah mekanisme bronkodilator seperti epinefrin atau salbutamol, bukan mekanisme kortikosteroid.
Pneumonia & Infeksi Paru
6 soalSeorang perempuan berusia 35 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan demam, batuk berdahak kuning, dan nyeri dada sejak 3 hari. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit paru kronik maupun komorbid lain. Pemeriksaan fisik: tekanan darah 110/70 mmHg, frekuensi nadi 88 x/menit, frekuensi napas 20 x/menit, suhu 38,2°C, ronki basah kasar di basal paru kanan. Pasien didiagnosis pneumonia komunitas ringan dan direncanakan rawat jalan. Apakah antibiotik empiris lini pertama yang paling tepat?
- ASeftriakson intravena
- BVankomisin oral
- CAmoksisilin oral
- DKlindamisin intravena
- EMeropenem oral
Lihat jawaban
Pada pneumonia komunitas (CAP) derajat ringan tanpa komorbid yang dapat ditangani rawat jalan, PPK Kemenkes merekomendasikan antibiotik oral golongan beta-laktam seperti amoksisilin sebagai lini pertama, karena efektif terhadap Streptococcus pneumoniae sebagai patogen tersering dan memiliki profil keamanan yang baik. Alternatif lain yang dapat dipertimbangkan adalah golongan makrolid bila dicurigai patogen atipik. Pemberian antibiotik intravena atau spektrum luas seperti karbapenem tidak diperlukan pada kasus rawat jalan tanpa faktor risiko resistensi atau gagal organ.
- A. Seftriakson intravena diperuntukkan untuk pasien rawat inap atau pneumonia berat, bukan rawat jalan ringan.
- B. Vankomisin ditujukan untuk infeksi MRSA, tidak menjadi pilihan empiris lini pertama pada CAP komunitas biasa.
- D. Klindamisin intravena tidak menjadi pilihan lini pertama CAP ringan dan rute intravena tidak sesuai untuk rawat jalan.
- E. Meropenem adalah antibiotik spektrum luas untuk infeksi berat atau resisten, berlebihan untuk CAP ringan rawat jalan.
Seorang anak perempuan berusia 2 tahun dibawa ke puskesmas dengan keluhan batuk dan sesak sejak 3 hari. Pemeriksaan menunjukkan anak tampak lemah, frekuensi napas 58 x/menit, terdapat tarikan dinding dada bagian bawah, dan saturasi oksigen 90% pada pulse oximetry. Tidak terdapat fasilitas rawat inap pediatri di puskesmas tersebut sehingga anak akan dirujuk ke rumah sakit. Apakah tata laksana awal yang paling tepat dilakukan sebelum merujuk?
- AMemberikan antibiotik oral dan memperbolehkan pulang dengan edukasi
- BMemberikan nebulisasi bronkodilator saja tanpa antibiotik
- CMenunda rujukan sampai saturasi oksigen anak kembali normal
- DMemberikan oksigen dan dosis pertama antibiotik injeksi sebelum rujuk
- EMemberikan antipiretik oral saja lalu langsung merujuk
Lihat jawaban
Anak ini diklasifikasikan sebagai pneumonia berat berdasarkan MTBS karena ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah disertai saturasi oksigen rendah (90%). Tata laksana pra-rujukan untuk pneumonia berat meliputi pemberian oksigen untuk mengatasi hipoksemia dan dosis pertama antibiotik injeksi (misalnya ampisilin atau benzilpenisilin) sebelum dirujuk ke fasilitas yang lebih lengkap, untuk mencegah perburukan selama proses rujukan. Penundaan rujukan atau pemberian terapi simptomatik saja berisiko menyebabkan dekompensasi respiratorik pada anak.
- A. Pneumonia berat bukan kondisi yang dapat ditangani rawat jalan, anak memerlukan rujukan dan terapi suportif segera.
- B. Nebulisasi bronkodilator tidak diindikasikan sebagai terapi utama pneumonia berat karena bukan kondisi bronkospasme primer.
- C. Menunda rujukan berisiko tinggi karena kondisi anak dapat memburuk tanpa fasilitas rawat inap yang adekuat di puskesmas.
- E. Antipiretik oral saja tidak mengatasi hipoksemia maupun infeksi yang mendasari pneumonia berat.
Seorang laki-laki berusia 78 tahun dengan riwayat stroke iskemik 6 bulan lalu dan disfagia dibawa ke IGD karena demam dan sesak napas sejak 2 hari setelah makan. Keluarga mengatakan pasien sering tersedak saat makan dan minum. Pemeriksaan fisik: suhu 38,5°C, frekuensi napas 28 x/menit, ronki basah kasar terutama di lapangan paru kanan bawah. Foto toraks menunjukkan infiltrat di segmen posterior lobus kanan atas dan segmen basal lobus kanan bawah. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?
- APneumonia aspirasi
- BEdema paru kardiogenik
- CEmboli paru
- DPneumonia komunitas tipikal
- ETuberkulosis paru aktif
Lihat jawaban
Pneumonia aspirasi dicurigai pada pasien dengan faktor risiko disfagia akibat stroke dan riwayat tersedak saat makan, dengan infiltrat yang khas mengenai segmen dependen paru seperti segmen posterior lobus atas dan segmen basal lobus bawah kanan (posisi anatomis bronkus utama kanan yang lebih vertikal). Mekanisme terjadi akibat aspirasi isi orofaring atau lambung yang mengandung bakteri anaerob dan aerob ke saluran napas bawah. Diagnosis ditegakkan dari kombinasi faktor risiko klinis, gambaran radiologis lokasi infiltrat yang khas, dan gejala klinis pneumonia.
- B. Edema paru kardiogenik menunjukkan gambaran infiltrat bilateral simetris disertai tanda gagal jantung, bukan infiltrat fokal seperti ini.
- C. Emboli paru biasanya muncul dengan nyeri dada pleuritik dan hipoksemia akut tanpa demam tinggi atau infiltrat lokal seperti ini.
- D. Pneumonia komunitas tipikal tidak menjelaskan faktor risiko disfagia dan lokasi infiltrat yang khas untuk aspirasi.
- E. Tuberkulosis paru aktif biasanya bersifat kronik dengan gejala lebih dari 2 minggu dan predileksi di apeks paru, tidak sesuai onset akut ini.
Seorang laki-laki berusia 45 tahun datang dengan demam tinggi, batuk berdahak, dan nyeri dada pleuritik sejak 3 hari. Pada foto toraks posisi PA ditemukan konsolidasi homogen yang menempati seluruh lobus kanan atas dengan batas tegas sesuai fisura interlobaris, tanpa air bronchogram yang tersebar luas, dan tanpa bercak-bercak infiltrat terpisah di lapangan paru lain. Apakah pola radiologis yang paling sesuai dengan temuan di atas?
- AEfusi pleura masif
- BPneumonia interstisial
- CAtelektasis lobus
- DBronkopneumonia
- EPneumonia lobaris
Lihat jawaban
Pneumonia lobaris memberikan gambaran konsolidasi homogen yang mengisi satu lobus secara keseluruhan dengan batas tegas sesuai fisura, akibat penyebaran infeksi melalui pori Kohn dan kanal Lambert ke seluruh unit lobus tersebut, khas pada infeksi Streptococcus pneumoniae. Berbeda dengan bronkopneumonia yang menunjukkan bercak-bercak infiltrat multipel dan tersebar tidak merata mengikuti distribusi bronkus. Air bronchogram dapat ditemukan pada konsolidasi lobaris namun gambaran utamanya tetap berupa konsolidasi padat satu lobus penuh.
- A. Efusi pleura masif memberikan gambaran opasitas basal dengan meniscus sign, bukan konsolidasi sesuai batas lobus.
- B. Pneumonia interstisial menunjukkan pola retikuler atau garis-garis infiltrat interstisial, bukan konsolidasi padat homogen.
- C. Atelektasis lobus menunjukkan pergeseran struktur mediastinum ke arah lesi akibat kolaps volume, tidak sesuai deskripsi ini.
- D. Bronkopneumonia bergambaran bercak infiltrat tersebar di berbagai lapangan paru, bukan konsolidasi homogen satu lobus penuh.
Seorang perempuan berusia 40 tahun dirawat dengan pneumonia komunitas sejak 5 hari, namun demam tidak membaik walaupun sudah mendapat antibiotik adekuat. Pemeriksaan fisik menunjukkan redup pada perkusi di basal paru kiri dengan suara napas menghilang. Dilakukan torakosentesis dan didapatkan cairan pleura keruh kekuningan dengan pH 7,0, glukosa 30 mg/dL, dan LDH cairan pleura 1800 U/L. Apakah tata laksana yang paling tepat untuk kondisi ini?
- ANebulisasi kortikosteroid inhalasi
- BObservasi dengan antibiotik intravena saja tanpa drainase
- CPemberian diuretik intravena dosis tinggi
- DTorakosentesis ulang setiap hari tanpa pemasangan drainase menetap
- EPemasangan chest tube (water-sealed drainage)
Lihat jawaban
Cairan pleura dengan pH <7,2, glukosa <40 mg/dL, dan LDH tinggi disertai gambaran keruh menunjukkan empiema atau efusi pleura parapneumonik komplikata, yang memerlukan drainase definitif melalui pemasangan chest tube (water-sealed drainage) selain pemberian antibiotik. Antibiotik saja tidak adekuat karena cairan purulen terlokalisasi tidak dapat dieliminasi tanpa drainase mekanis, berisiko menyebabkan fibrotoraks atau sepsis berkepanjangan. Drainase menetap melalui chest tube lebih efektif dibandingkan torakosentesis berulang karena memungkinkan evakuasi cairan secara kontinu.
- A. Kortikosteroid inhalasi tidak memiliki peran dalam tata laksana empiema yang merupakan infeksi bakterial terlokalisasi.
- B. Antibiotik saja tanpa drainase tidak adekuat karena cairan purulen terlokalisasi memerlukan evakuasi mekanis.
- C. Diuretik tidak berperan dalam penanganan empiema karena bukan kondisi kelebihan cairan sistemik.
- D. Torakosentesis berulang tanpa drainase menetap tidak efektif untuk cairan empiema yang terus terbentuk dan berisiko infeksi berulang.
Seorang perempuan berusia 22 tahun, mahasiswa kos, datang ke puskesmas dengan keluhan batuk kering yang tidak membaik sejak 10 hari, disertai demam ringan, nyeri kepala, dan nyeri tenggorokan. Beberapa teman sekamarnya memiliki keluhan serupa. Pemeriksaan tanda vital: suhu 37,8°C, frekuensi napas 20x/menit, tekanan darah 110/70 mmHg, saturasi oksigen 98%. Auskultasi paru ditemukan ronki basah halus minimal di basal kanan. Foto toraks menunjukkan infiltrat interstisial difus bilateral tanpa konsolidasi lobar. Dokter mendiagnosis pneumonia atipikal dan berencana memberikan antibiotik golongan makrolid.
- AMetronidazol
- BGentamisin
- CAmoksisilin
- DSefiksim
- EAzitromisin
Lihat jawaban
Mycoplasma pneumoniae tidak memiliki dinding sel sehingga resisten terhadap antibiotik beta-laktam seperti amoksisilin dan sefalosporin. Makrolid seperti azitromisin bekerja menghambat sintesis protein bakteri melalui ikatan pada subunit ribosom 50S, efektif terhadap organisme atipikal termasuk Mycoplasma, Chlamydophila, dan Legionella. Azitromisin menjadi pilihan lini pertama untuk pneumonia atipikal pada dewasa muda sehat berdasarkan pedoman pneumonia komunitas Indonesia (PDPI), dengan keuntungan dosis sekali sehari dan durasi terapi singkat (3-5 hari).
- A. Metronidazol aktif terhadap bakteri anaerob dan protozoa, bukan terhadap Mycoplasma pneumoniae.
- B. Gentamisin adalah aminoglikosida yang tidak digunakan sebagai terapi lini pertama pneumonia atipikal komunitas.
- C. Amoksisilin adalah beta-laktam yang tidak efektif karena Mycoplasma tidak memiliki dinding sel sebagai target kerja obat ini.
- D. Sefiksim merupakan sefalosporin (beta-laktam) sehingga tidak efektif terhadap organisme atipikal tanpa dinding sel.
Tuberkulosis
10 soalSeorang laki-laki berusia 40 tahun datang ke puskesmas dengan batuk berdahak sejak 4 minggu, disertai penurunan berat badan 5 kg dalam 2 bulan dan keringat malam. Tanda vital dalam batas normal. Pemeriksaan fisik toraks tidak ditemukan kelainan bermakna. Puskesmas tersebut memiliki fasilitas pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM) TB. Dokter mencurigai tuberkulosis paru dan ingin menegakkan diagnosis sesuai algoritma program nasional penanggulangan TB terbaru.
- APemeriksaan TCM dari sampel dahak sebagai pemeriksaan awal
- BPemeriksaan BTA mikroskopis dari dahak sewaktu-pagi-sewaktu
- CFoto toraks sebagai pemeriksaan penentu diagnosis utama
- DKultur Mycobacterium tuberculosis pada media Lowenstein-Jensen
- EUji tuberkulin (Mantoux test) sebagai konfirmasi diagnosis
Lihat jawaban
Sesuai algoritma Program Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Kemenkes RI terbaru, pemeriksaan TCM (Tes Cepat Molekuler) menjadi pemeriksaan penegakan diagnosis utama pada fasilitas yang memiliki alat tersebut karena mampu mendeteksi Mycobacterium tuberculosis sekaligus resistensi rifampisin dalam waktu kurang dari 2 jam. BTA mikroskopis hanya digunakan sebagai alternatif jika TCM tidak tersedia. Foto toraks bersifat pendukung, bukan penentu diagnosis pasti. Kultur memerlukan waktu lama (6-8 minggu) sehingga tidak digunakan sebagai lini pertama, dan uji tuberkulin tidak dapat membedakan infeksi laten dengan penyakit aktif.
- B. BTA mikroskopis digunakan sebagai pemeriksaan alternatif hanya jika fasilitas TCM tidak tersedia, bukan sebagai pilihan utama saat TCM ada.
- C. Foto toraks bersifat penunjang untuk menilai luas lesi, tetapi tidak dapat menegakkan diagnosis pasti TB tanpa konfirmasi bakteriologis.
- D. Kultur memberikan hasil akurat namun memerlukan waktu 6-8 minggu sehingga tidak praktis sebagai pemeriksaan diagnostik awal program nasional.
- E. Uji tuberkulin menunjukkan riwayat infeksi TB (laten maupun aktif) dan tidak dapat memastikan adanya penyakit TB aktif.
Seorang perempuan berusia 35 tahun dengan berat badan 50 kg didiagnosis TB paru kasus baru berdasarkan hasil TCM positif Mycobacterium tuberculosis tanpa resistensi rifampisin. Pasien belum pernah mendapat terapi OAT sebelumnya. Dokter puskesmas akan memulai pengobatan dengan regimen kategori 1 menggunakan paduan obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT).
- A2 bulan fase intensif (RHZE) dilanjutkan 4 bulan fase lanjutan (RH)
- B2 bulan fase intensif (RHZE) dilanjutkan 6 bulan fase lanjutan (RH)
- C1 bulan fase intensif (RHZE) dilanjutkan 5 bulan fase lanjutan (RH)
- D3 bulan fase intensif (RHZE) dilanjutkan 3 bulan fase lanjutan (RH)
- E4 bulan fase intensif (RHZE) dilanjutkan 2 bulan fase lanjutan (RHE)
Lihat jawaban
Regimen OAT kategori 1 untuk pasien TB paru kasus baru menurut Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis Kemenkes RI terdiri dari fase intensif selama 2 bulan menggunakan kombinasi Rifampisin, Isoniazid, Pirazinamid, dan Etambutol (RHZE) harian, diikuti fase lanjutan selama 4 bulan menggunakan Rifampisin dan Isoniazid (RH). Fase intensif bertujuan membunuh sebagian besar basil secara cepat dan mencegah resistensi, sedangkan fase lanjutan mengeliminasi basil yang tersisa untuk mencegah relaps. Total durasi pengobatan kategori 1 adalah 6 bulan.
- B. Fase lanjutan 6 bulan termasuk dalam regimen kategori 2 untuk pasien dengan riwayat pengobatan sebelumnya, bukan kategori 1.
- C. Fase intensif 1 bulan tidak sesuai durasi standar; fase intensif kategori 1 harus 2 bulan untuk membunuh basil secara adekuat.
- D. Durasi 3 bulan fase intensif dan 3 bulan fase lanjutan bukan merupakan regimen standar kategori 1 pada program nasional TB.
- E. Regimen dengan fase intensif 4 bulan dan penambahan etambutol pada fase lanjutan tidak sesuai paduan kategori 1 kasus baru.
Seorang laki-laki berusia 48 tahun dalam pengobatan OAT kategori 1 minggu ke-3 datang dengan keluhan mual, muntah, dan nyeri perut kanan atas sejak 3 hari, disertai urin berwarna seperti teh. Pemeriksaan fisik ditemukan sklera ikterik dan hepatomegali ringan. Hasil laboratorium: SGOT 180 U/L, SGPT 210 U/L (nilai normal <40 U/L), bilirubin total 2,8 mg/dL. Dokter mendiagnosis hepatitis akibat obat anti-TB.
- AMenurunkan dosis rifampisin dan isoniazid tanpa menghentikan pengobatan
- BMelanjutkan OAT kategori 1 dengan tambahan hepatoprotektor
- CMenghentikan seluruh OAT sampai fungsi hati normal, kemudian re-challenge bertahap
- DMenghentikan hanya pirazinamid dan melanjutkan rifampisin-isoniazid-etambutol
- EMengganti seluruh regimen dengan OAT lini kedua secara permanen
Lihat jawaban
Hepatotoksisitas OAT yang bermakna secara klinis (ikterik, SGOT/SGPT lebih dari 3 kali nilai normal dengan gejala, atau lebih dari 5 kali tanpa gejala) mengharuskan penghentian seluruh OAT segera karena rifampisin, isoniazid, dan pirazinamid bersifat hepatotoksik. Setelah fungsi hati kembali normal dan gejala klinis membaik, OAT diberikan kembali secara bertahap (re-challenge) dimulai dari obat yang risiko hepatotoksiknya paling rendah, biasanya etambutol dan rifampisin terlebih dahulu, dengan pemantauan fungsi hati berkala. Pendekatan ini sesuai pedoman Kemenkes untuk tata laksana efek samping OAT berat.
- A. Menurunkan dosis tanpa menghentikan pengobatan tidak tepat pada hepatitis akibat obat yang sudah menimbulkan gejala klinis dan ikterik.
- B. Melanjutkan OAT dengan hepatoprotektor berisiko memperberat kerusakan hati karena obat penyebab tetap diberikan.
- D. Menghentikan hanya pirazinamid tidak adekuat karena rifampisin dan isoniazid juga bersifat hepatotoksik dan harus dihentikan bersama saat terjadi hepatitis klinis.
- E. Penggantian permanen ke OAT lini kedua tidak diperlukan karena hepatotoksisitas OAT lini pertama umumnya reversibel setelah dihentikan sementara.
Seorang laki-laki berusia 50 tahun dalam pengobatan OAT kategori 1 bulan ke-2 mengeluhkan penglihatan kabur dan sulit membedakan warna hijau dan merah sejak 1 minggu terakhir. Pasien juga mengeluh nyeri pada sendi ibu jari kaki kanan yang terasa bengkak dan kemerahan. Hasil laboratorium menunjukkan asam urat serum 9,2 mg/dL. Dokter mencurigai efek samping dari dua komponen obat anti-TB yang berbeda.
- AStreptomisin menyebabkan neuritis optik, rifampisin menyebabkan hiperurisemia
- BRifampisin menyebabkan neuritis optik, etambutol menyebabkan hiperurisemia
- CIsoniazid menyebabkan neuritis optik, rifampisin menyebabkan hiperurisemia
- DPirazinamid menyebabkan neuritis optik, isoniazid menyebabkan hiperurisemia
- EEtambutol menyebabkan neuritis optik, pirazinamid menyebabkan hiperurisemia
Lihat jawaban
Etambutol dapat menyebabkan neuritis optik retrobulbar yang bermanifestasi sebagai penurunan tajam penglihatan dan gangguan persepsi warna, terutama membedakan warna merah dan hijau, akibat efek toksik pada saraf optik yang bersifat dosis-dependen dan umumnya reversibel bila obat dihentikan segera. Pirazinamid menghambat ekskresi asam urat di tubulus ginjal sehingga menyebabkan hiperurisemia yang dapat memicu artritis gout akut, ditandai nyeri, bengkak, dan kemerahan pada sendi, klasiknya pada ibu jari kaki (podagra). Kedua efek samping ini memerlukan pemantauan berkala selama terapi OAT.
- A. Streptomisin menyebabkan ototoksisitas dan nefrotoksisitas, bukan neuritis optik; rifampisin tidak menyebabkan hiperurisemia.
- B. Rifampisin tidak menyebabkan neuritis optik; efek sampingnya yang khas adalah hepatotoksisitas dan urine berwarna merah oranye.
- C. Isoniazid dikenal menyebabkan neuropati perifer (bukan neuritis optik) akibat defisiensi piridoksin, dan rifampisin tidak menyebabkan hiperurisemia.
- D. Pirazinamid menyebabkan hiperurisemia, bukan neuritis optik, dan isoniazid tidak menyebabkan hiperurisemia.
Seorang laki-laki berusia 45 tahun dengan riwayat pengobatan TB kategori 1 lengkap 6 bulan yang lalu, datang kembali ke puskesmas dengan batuk berdahak dan demam sejak 1 bulan. Pemeriksaan TCM menunjukkan hasil Mycobacterium tuberculosis positif dengan resistensi rifampisin. Dokter puskesmas mendiagnosis kecurigaan TB resisten obat dan perlu menentukan langkah tata laksana selanjutnya sesuai program nasional.
- AMemberikan OAT kategori 2 dengan tambahan streptomisin di puskesmas
- BMengulang pemeriksaan TCM 1 bulan kemudian tanpa memulai terapi apapun
- CMerujuk pasien ke fasilitas kesehatan rujukan TB RO untuk pengobatan lini kedua
- DMemberikan isoniazid profilaksis dosis tinggi selama 6 bulan tambahan
- EMelanjutkan OAT kategori 1 dengan perpanjangan fase intensif menjadi 3 bulan
Lihat jawaban
Hasil TCM yang menunjukkan resistensi rifampisin menandakan TB resisten rifampisin (TB RR) yang termasuk dalam kategori TB resisten obat (TB RO), sehingga pasien harus segera dirujuk ke fasilitas kesehatan rujukan TB RO yang memiliki tim ahli klinis (TAK) untuk memulai pengobatan dengan regimen lini kedua, seperti regimen jangka pendek bedaquiline-based atau regimen individual sesuai hasil uji kepekaan obat. Puskesmas tidak memiliki kewenangan maupun kapasitas untuk memulai terapi TB RO karena memerlukan pemantauan efek samping obat yang lebih intensif dan ketersediaan obat lini kedua yang khusus disediakan di fasilitas rujukan.
- A. OAT kategori 2 dengan streptomisin digunakan untuk kasus putus obat atau gagal terapi tanpa resistensi rifampisin terkonfirmasi, bukan untuk TB RO.
- B. Menunda terapi dengan hanya mengulang pemeriksaan berisiko memperburuk kondisi klinis pasien dan meningkatkan risiko penularan TB RO di masyarakat.
- D. Isoniazid profilaksis digunakan untuk pencegahan infeksi laten, bukan sebagai terapi untuk TB resisten obat aktif.
- E. Memperpanjang fase intensif OAT kategori 1 tidak tepat karena pasien sudah terbukti resisten terhadap rifampisin, komponen kunci regimen lini pertama.
Seorang anak laki-laki berusia 4 tahun dibawa ke puskesmas dengan batuk sejak 4 minggu dan berat badan tidak naik dalam 3 bulan terakhir meskipun nafsu makan baik. Ayah pasien sedang menjalani pengobatan TB paru BTA positif. Pemeriksaan fisik ditemukan pembesaran kelenjar getah bening leher multipel, tidak nyeri, ukuran terbesar 1,5 cm. Uji tuberkulin tidak dapat dilakukan karena keterbatasan fasilitas, dan foto toraks menunjukkan pembesaran kelenjar hilus. Dokter menghitung skor TB anak untuk menentukan diagnosis.
- ADiagnosis TB anak hanya dapat ditegakkan bila uji tuberkulin positif tanpa mempertimbangkan parameter lain
- BDiagnosis TB anak memerlukan konfirmasi bakteriologis BTA atau TCM positif sebelum skor dapat dihitung
- CKontak TB dengan BTA positif tidak termasuk parameter dalam sistem skoring TB anak
- DSkor TB anak tidak dapat dihitung karena uji tuberkulin tidak dilakukan sehingga diagnosis tidak dapat ditegakkan
- EKontak TB BTA positif, berat badan tidak naik, limfadenopati, dan foto toraks sugestif TB memberikan skor yang mendukung diagnosis TB anak
Lihat jawaban
Sistem skoring TB anak menurut Kemenkes RI menilai beberapa parameter meliputi riwayat kontak dengan pasien TB (skor 3 jika BTA positif), hasil uji tuberkulin, status gizi atau berat badan tidak naik, demam tanpa sebab jelas, batuk kronik, pembesaran kelenjar getah bening, pembengkakan sendi/tulang, dan gambaran foto toraks sugestif TB. Pada kasus ini, kontak BTA positif, berat badan tidak naik, limfadenopati, dan foto toraks sugestif TB masing-masing menyumbang skor sehingga total skor dapat mencapai ambang diagnosis TB anak (skor ≥6) meskipun uji tuberkulin tidak dapat dilakukan. Sistem skoring dirancang agar diagnosis TB anak tetap dapat ditegakkan secara klinis di fasilitas dengan sumber daya terbatas tanpa harus menunggu konfirmasi bakteriologis.
- A. Diagnosis TB anak tidak bergantung mutlak pada uji tuberkulin karena sistem skoring menggabungkan beberapa parameter klinis dan radiologis lainnya.
- B. Sistem skoring TB anak dirancang khusus untuk menegakkan diagnosis secara klinis tanpa memerlukan konfirmasi bakteriologis terlebih dahulu.
- C. Riwayat kontak dengan pasien TB BTA positif justru merupakan salah satu parameter dengan skor tertinggi (skor 3) dalam sistem skoring TB anak.
- D. Skor TB anak tetap dapat dihitung meski uji tuberkulin tidak dilakukan, karena parameter tersebut diberi skor 0 dan parameter lain tetap dinilai.
Seorang anak perempuan berusia 3 tahun dibawa ke puskesmas untuk pemeriksaan kontak karena ibunya baru terdiagnosis TB paru BTA positif dan sedang memulai pengobatan OAT. Anak tidak memiliki keluhan batuk, demam, maupun penurunan berat badan. Pemeriksaan fisik dalam batas normal dan berat badan sesuai kurva pertumbuhan. Foto toraks tidak menunjukkan kelainan. Dokter akan memberikan tata laksana pencegahan pada anak tersebut.
- ARifampisin profilaksis tunggal selama 3 bulan
- BOAT kategori 1 lengkap selama 6 bulan seperti pasien TB aktif
- CIsoniazid profilaksis dengan dosis 10 mg/kgBB/hari selama 6 bulan
- DVaksinasi BCG ulang tanpa pemberian obat profilaksis
- EObservasi tanpa intervensi karena anak tidak menunjukkan gejala
Lihat jawaban
Anak balita yang kontak erat dengan pasien TB paru BTA positif namun tidak menunjukkan gejala klinis TB aktif (asimptomatik, skor TB anak rendah, foto toraks normal) diberikan terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) berupa isoniazid profilaksis dengan dosis 10 mg/kgBB/hari (rentang 7-15 mg/kgBB/hari, maksimal 300 mg/hari) selama 6 bulan sesuai rekomendasi Kemenkes RI. Tujuan pemberian ini adalah mencegah progresi infeksi laten menjadi TB aktif, mengingat anak balita memiliki risiko tinggi berkembang menjadi TB berat seperti meningitis TB atau TB milier bila terinfeksi. Pemberian OAT lengkap tidak diperlukan karena anak tidak terbukti menderita TB aktif.
- A. Rifampisin profilaksis tunggal bukan regimen standar program nasional untuk pencegahan TB pada kontak anak di Indonesia.
- B. OAT kategori 1 lengkap hanya diberikan pada anak yang terdiagnosis TB aktif, sedangkan anak ini asimptomatik tanpa bukti penyakit aktif.
- D. Vaksinasi BCG ulang tidak diindikasikan dan tidak menggantikan kebutuhan terapi pencegahan pada anak yang terpajan kontak TB aktif.
- E. Observasi tanpa intervensi tidak tepat karena anak balita kontak erat BTA positif berisiko tinggi terinfeksi dan memerlukan terapi pencegahan.
Seorang anak perempuan berusia 4 tahun dibawa ke IGD RS dengan demam naik turun selama 3 minggu, batuk, dan sesak napas yang memberat dalam 3 hari terakhir. Anak tampak kurus, berat badan tidak naik sejak 2 bulan. Riwayat kontak dengan kakek yang batuk kronik dan sedang menjalani pengobatan paru. Pada pemeriksaan fisik didapatkan frekuensi napas 44 kali/menit, suhu 38,7°C, retraksi interkostal ringan, dan ronki halus di kedua lapang paru. Hasil foto toraks menunjukkan bercak-bercak kecil berukuran 1-3 mm yang tersebar merata di kedua lapang paru menyerupai tabur biji-bijian.
- AEdema paru kardiogenik
- BBronkiolitis akut
- CPneumonia aspirasi
- DTuberkulosis milier
- EPneumonia atipikal
Lihat jawaban
Gambaran radiologis berupa nodul-nodul kecil milier (1-3 mm) yang tersebar merata di kedua lapang paru menyerupai tabur biji padi (millet seed appearance) merupakan ciri khas TB milier, akibat penyebaran hematogen basil Mycobacterium tuberculosis. Kondisi ini sering terjadi pada anak dengan daya tahan tubuh rendah dan riwayat kontak erat dengan penderita TB dewasa. Gejala sistemik seperti demam lama, berat badan tidak naik, dan distres pernapasan progresif mendukung diagnosis ini. TB milier termasuk TB berat yang memerlukan rawat inap dan terapi OAT segera.
- A. Edema paru kardiogenik menunjukkan gambaran bat wing atau kongesti vaskular, bukan nodul milier, dan tidak sesuai dengan riwayat kontak TB serta gejala kronik.
- B. Bronkiolitis akut umumnya terjadi pada bayi kurang dari 2 tahun dengan wheezing dan hiperinflasi paru, bukan gambaran milier.
- C. Pneumonia aspirasi biasanya didahului riwayat tersedak atau gangguan menelan, dengan infiltrat terutama di lobus bawah, bukan nodul milier merata.
- E. Pneumonia atipikal biasanya menunjukkan infiltrat interstisial difus tanpa pola milier yang khas dan tanpa riwayat kontak TB.
Seorang laki-laki berusia 28 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan sesak napas dan nyeri dada kanan yang memberat sejak 2 minggu, disertai demam subfebris dan penurunan berat badan 4 kg dalam 1 bulan. Pada pemeriksaan fisik ditemukan perkusi redup dan suara napas menghilang di basal paru kanan. Dilakukan pungsi pleura dan didapatkan cairan berwarna kuning jernih sebanyak 400 mL. Hasil analisis cairan pleura menunjukkan kadar protein cairan 4,8 g/dL (protein serum 6,5 g/dL), kadar LDH cairan 320 U/L (LDH serum 200 U/L), glukosa cairan 55 mg/dL, dan hitung jenis sel didominasi oleh limfosit (85%).
- ATransudat akibat gagal jantung kongestif
- BEksudat limfositik akibat tuberkulosis pleura
- CEksudat hemoragik akibat keganasan paru
- DEksudat neutrofilik akibat empiema bakterial
- ETransudat akibat sindrom nefrotik
Lihat jawaban
Kriteria Light menyatakan cairan pleura tergolong eksudat bila rasio protein cairan/serum lebih dari 0,5 atau rasio LDH cairan/serum lebih dari 0,6; pada kasus ini kedua rasio terpenuhi sehingga cairan termasuk eksudat. Dominasi limfosit lebih dari 50% pada eksudat, disertai gejala konstitusional seperti demam lama dan penurunan berat badan, sangat khas untuk efusi pleura akibat tuberkulosis. Pada TB pleura, mekanisme terjadinya efusi adalah reaksi hipersensitivitas tipe lambat terhadap antigen mikobakterium yang pecah ke ruang pleura. Diagnosis pasti memerlukan pemeriksaan lanjutan seperti ADA (adenosine deaminase) cairan pleura atau biopsi pleura bila tersedia.
- A. Gagal jantung kongestif menghasilkan transudat dengan rasio protein dan LDH cairan/serum yang rendah, tidak sesuai dengan hasil analisis pada kasus ini.
- C. Keganasan paru dapat menyebabkan eksudat limfositik namun biasanya cairan berwarna hemoragik, sedangkan pada kasus ini cairan berwarna kuning jernih.
- D. Empiema bakterial biasanya menunjukkan cairan purulen dengan dominasi neutrofil dan glukosa yang sangat rendah, bukan dominasi limfosit.
- E. Sindrom nefrotik menyebabkan transudat akibat hipoalbuminemia, bukan eksudat dengan rasio protein dan LDH yang tinggi seperti pada kasus ini.
Seorang laki-laki berusia 35 tahun dengan TB paru kategori 1 baru telah menjalani pengobatan OAT fase intensif selama 2 bulan secara teratur. Pasien datang kontrol ke puskesmas dan dilakukan pemeriksaan dahak ulang untuk evaluasi. Hasil pemeriksaan BTA dahak pada akhir bulan kedua masih menunjukkan hasil positif.
- AHentikan pengobatan dan rujuk untuk pemeriksaan resistensi obat tanpa terapi lanjutan
- BLanjutkan fase intensif dengan tambahan sisipan OAT kategori 1 selama 1 bulan
- CGanti seluruh regimen menjadi kategori 2 tanpa pemeriksaan tambahan
- DLangsung lanjutkan ke fase lanjutan sesuai jadwal baku kategori 1
- EUlangi fase intensif kategori 1 dari awal selama 2 bulan penuh
Lihat jawaban
Pada pemantauan pengobatan TB kategori 1, bila hasil BTA dahak pada akhir bulan kedua (akhir fase intensif) masih positif, maka diberikan OAT sisipan (HRZE) selama 1 bulan sebelum melanjutkan ke fase lanjutan, sesuai Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran TB Kemenkes RI. Pemeriksaan dahak diulang kembali setelah sisipan untuk menilai konversi. Jika pada evaluasi bulan ke-5 BTA tetap negatif maka pengobatan dilanjutkan sampai selesai, namun bila positif pada bulan ke-5 pasien dinyatakan gagal pengobatan dan dirujuk untuk uji kepekaan obat.
- A. Hasil BTA positif pada bulan kedua belum memenuhi kriteria gagal pengobatan sehingga tidak perlu langsung dirujuk tanpa terapi lanjutan.
- C. Mengganti ke kategori 2 hanya dilakukan pada kasus kambuh, gagal pengobatan, atau putus obat, bukan pada evaluasi bulan kedua yang masih positif.
- D. Melanjutkan langsung ke fase lanjutan tanpa sisipan berisiko menyebabkan resistensi obat karena beban basil yang masih tinggi.
- E. Mengulang fase intensif dari awal selama 2 bulan penuh tidak sesuai pedoman; yang dianjurkan adalah sisipan selama 1 bulan saja.
Asma & PPOK
7 soalSeorang laki-laki berusia 25 tahun dibawa ke IGD dengan sesak napas berat yang muncul tiba-tiba sejak 1 jam lalu. Pasien hanya mampu berbicara dalam kata-kata terputus, duduk membungkuk ke depan, dan tampak gelisah. Pemeriksaan tanda vital menunjukkan frekuensi napas 32 kali/menit, frekuensi nadi 128 kali/menit, dan saturasi oksigen 89% pada udara ruangan. Pada auskultasi terdengar wheezing keras di seluruh lapang paru dan penggunaan otot bantu napas yang jelas.
- AKortikosteroid inhalasi dosis tinggi sebagai terapi utama
- BOksigen dan antibiotik spektrum luas intravena segera
- COksigen, nebulisasi salbutamol-ipratropium berulang, dan kortikosteroid sistemik
- DNebulisasi salbutamol tunggal tanpa oksigen tambahan
- EObservasi tanpa terapi karena menunggu hasil analisis gas darah
Lihat jawaban
Pasien ini menunjukkan tanda serangan asma akut berat (bicara terputus, frekuensi napas dan nadi tinggi, saturasi oksigen rendah, penggunaan otot bantu napas) yang memerlukan penanganan segera di IGD. Tata laksana awal meliputi pemberian oksigen untuk mencapai saturasi 93-95%, nebulisasi kombinasi beta-2 agonis kerja pendek (salbutamol) dan antikolinergik (ipratropium bromida) yang dapat diulang setiap 20 menit pada jam pertama, serta kortikosteroid sistemik (misalnya metilprednisolon intravena) untuk menekan inflamasi saluran napas. Kombinasi bronkodilator ganda terbukti memberikan efek bronkodilatasi lebih baik dibanding salbutamol tunggal pada serangan berat.
- A. Kortikosteroid inhalasi tidak memiliki onset kerja cepat yang diperlukan pada serangan akut; yang digunakan adalah kortikosteroid sistemik.
- B. Antibiotik tidak diberikan secara rutin pada serangan asma akut kecuali ada bukti infeksi bakterial yang jelas seperti pneumonia.
- D. Nebulisasi tunggal tanpa oksigen tidak adekuat pada pasien dengan saturasi oksigen 89% yang berisiko hipoksemia berat.
- E. Observasi tanpa terapi sangat berbahaya pada pasien dengan tanda serangan berat dan hipoksemia yang memerlukan tata laksana segera.
Seorang dokter puskesmas menjelaskan kepada pasien asma mengenai dua jenis obat inhalasi yang akan diberikan saat serangan, yaitu salbutamol dan ipratropium bromida, yang bekerja melalui jalur reseptor berbeda pada otot polos saluran napas untuk menghasilkan efek bronkodilatasi.
- ASalbutamol mengaktifkan reseptor beta-2 adrenergik meningkatkan cAMP, sedangkan ipratropium menghambat reseptor muskarinik
- BSalbutamol dan ipratropium keduanya bekerja menghambat reseptor muskarinik pada otot polos bronkus
- CSalbutamol menghambat reseptor muskarinik, sedangkan ipratropium mengaktifkan reseptor beta-2 adrenergik
- DSalbutamol menghambat fosfodiesterase secara langsung, sedangkan ipratropium mengaktifkan reseptor beta-2
- ESalbutamol dan ipratropium keduanya bekerja mengaktifkan reseptor beta-2 adrenergik dengan afinitas berbeda
Lihat jawaban
Salbutamol merupakan agonis beta-2 adrenergik kerja pendek yang berikatan dengan reseptor beta-2 pada otot polos bronkus, mengaktifkan adenilat siklase sehingga meningkatkan kadar cAMP intraseluler dan menyebabkan relaksasi otot polos bronkus. Ipratropium bromida merupakan antikolinergik yang bekerja menghambat reseptor muskarinik M3 pada otot polos saluran napas, sehingga mengurangi bronkokonstriksi yang dimediasi oleh asetilkolin melalui saraf parasimpatis. Kombinasi kedua obat dengan mekanisme berbeda ini memberikan efek bronkodilatasi yang lebih kuat dibanding penggunaan tunggal, terutama pada serangan asma berat.
- B. Salbutamol bukan antikolinergik, mekanismenya adalah mengaktifkan reseptor beta-2 adrenergik, bukan menghambat reseptor muskarinik.
- C. Mekanisme kedua obat tertukar; salbutamol bekerja pada reseptor beta-2, bukan muskarinik, dan ipratropium bekerja pada reseptor muskarinik, bukan beta-2.
- D. Salbutamol tidak bekerja melalui penghambatan fosfodiesterase; obat golongan fosfodiesterase inhibitor adalah teofilin, bukan salbutamol.
- E. Ipratropium bukan agonis beta-2 adrenergik, melainkan antagonis reseptor muskarinik dengan mekanisme kerja yang berbeda dari salbutamol.
Seorang perempuan berusia 40 tahun dengan asma persisten telah menggunakan kortikosteroid inhalasi dosis rendah secara teratur selama 3 bulan terakhir. Namun, pasien masih mengalami gejala asma pada siang hari sebanyak 4 kali per minggu dan terbangun malam hari karena sesak sebanyak 1 kali per minggu meskipun kepatuhan dan teknik inhalasi sudah dievaluasi baik.
- ATambahkan agonis beta-2 kerja panjang (LABA) pada kortikosteroid inhalasi dosis rendah
- BGanti kortikosteroid inhalasi dengan antihistamin oral dosis tinggi
- CTambahkan antibiotik makrolid jangka panjang sebagai terapi tambahan rutin
- DHentikan kortikosteroid inhalasi dan ganti dengan bronkodilator kerja pendek rutin harian
- ETurunkan dosis kortikosteroid inhalasi karena dianggap tidak efektif
Lihat jawaban
Pada pasien dengan gejala asma yang belum terkontrol meskipun sudah menggunakan kortikosteroid inhalasi (ICS) dosis rendah secara teratur dan teknik inhalasi sudah baik, langkah tata laksana berikutnya menurut GINA adalah step-up ke ICS dosis rendah dikombinasi dengan agonis beta-2 kerja panjang (LABA), seperti formoterol atau salmeterol. Kombinasi ICS-LABA memberikan kontrol inflamasi jalan napas sekaligus bronkodilatasi jangka panjang, lebih efektif dibanding menaikkan dosis ICS saja pada kebanyakan pasien dewasa. Evaluasi kepatuhan dan teknik inhalasi harus selalu dilakukan sebelum menaikkan terapi untuk memastikan kegagalan kontrol bukan akibat masalah teknis.
- B. Antihistamin oral tidak memiliki peran dalam tata laksana kontroler asma karena mekanisme asma tidak dimediasi primer oleh histamin.
- C. Antibiotik makrolid jangka panjang bukan terapi standar kontroler asma dan hanya dipertimbangkan pada kasus asma berat tertentu dengan indikasi khusus.
- D. Menghentikan kortikosteroid inhalasi dan mengganti dengan bronkodilator kerja pendek rutin tidak menekan inflamasi jalan napas yang mendasari asma.
- E. Menurunkan dosis kortikosteroid tidak sesuai karena gejala pasien menunjukkan kontrol yang belum tercapai, sehingga terapi perlu dinaikkan bukan diturunkan.
Seorang laki-laki berusia 58 tahun dengan riwayat merokok 2 bungkus per hari selama 30 tahun datang dengan keluhan sesak napas yang memberat bertahap sejak 1 tahun terakhir dan batuk berdahak kronik. Pemeriksaan spirometri setelah pemberian bronkodilator menunjukkan FEV1 1,8 L (58% nilai prediksi) dan rasio FEV1/FVC 62%. Tidak terdapat perbaikan bermakna setelah pemberian bronkodilator.
- ABronkiektasis difus
- BPenyakit paru obstruktif kronik (PPOK)
- CGagal jantung kronik dengan kongesti paru
- DFibrosis paru idiopatik
- EAsma bronkial persisten
Lihat jawaban
Diagnosis PPOK ditegakkan berdasarkan hasil spirometri pasca-bronkodilator dengan rasio FEV1/FVC kurang dari 70%, yang menunjukkan adanya obstruksi saluran napas yang tidak reversibel penuh, sesuai kriteria GOLD. Pada kasus ini, rasio FEV1/FVC 62% dan tidak ada perbaikan bermakna setelah bronkodilator mendukung diagnosis PPOK, terutama dengan riwayat merokok berat sebagai faktor risiko utama. Nilai FEV1 58% dari prediksi menunjukkan derajat obstruksi sedang menurut klasifikasi GOLD. Gejala klinis berupa sesak progresif dan batuk berdahak kronik semakin memperkuat diagnosis ini.
- A. Bronkiektasis dapat menyebabkan obstruksi namun biasanya disertai riwayat infeksi paru berulang dan produksi sputum purulen banyak, bukan riwayat merokok sebagai faktor dominan.
- C. Gagal jantung kronik menunjukkan pola restriktif atau campuran pada spirometri akibat kongesti paru, bukan obstruksi dengan rasio FEV1/FVC rendah yang persisten.
- D. Fibrosis paru idiopatik menunjukkan pola restriktif pada spirometri dengan rasio FEV1/FVC normal atau meningkat, bukan rasio yang menurun seperti pada kasus ini.
- E. Asma bronkial biasanya menunjukkan obstruksi yang reversibel secara bermakna setelah bronkodilator, berbeda dengan kasus ini yang tidak menunjukkan perbaikan.
Seorang laki-laki berusia 68 tahun dengan riwayat PPOK dibawa ke IGD karena sesak napas memberat sejak 2 hari, disertai batuk dengan dahak yang bertambah banyak dan berubah warna menjadi kuning kehijauan. Pada pemeriksaan didapatkan tekanan darah 140/90 mmHg, frekuensi nadi 110 kali/menit, frekuensi napas 28 kali/menit, suhu 37,6°C, saturasi oksigen 88% dengan udara ruangan. Auskultasi paru terdengar ronki basah kasar dan ekspirasi memanjang pada kedua lapang paru. Selain bronkodilator kerja cepat dan kortikosteroid sistemik, terapi tambahan apakah yang paling tepat diberikan pada pasien ini?
- AAntitusif kodein untuk mengurangi batuk
- BAntikoagulan profilaksis heparin
- CDiuretik furosemid intravena
- DAntibiotik oral azitromisin
- EMukolitik ambroksol dosis tinggi
Lihat jawaban
Pasien menunjukkan tanda eksaserbasi akut PPOK dengan tiga kriteria kardinal Anthonisen: sesak bertambah, volume sputum bertambah, dan purulensi sputum bertambah, sehingga memenuhi indikasi pemberian antibiotik. Antibiotik diberikan karena eksaserbasi dengan sputum purulen umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri seperti Haemophilus influenzae, Streptococcus pneumoniae, atau Moraxella catarrhalis. Pilihan antibiotik lini pertama pada PPK Kemenkes meliputi golongan makrolid, aminopenisilin dengan atau tanpa asam klavulanat, atau tetrasiklin disesuaikan dengan derajat keparahan dan faktor risiko. Pemberian antibiotik pada eksaserbasi dengan kriteria tersebut terbukti mempersingkat masa rawat dan menurunkan risiko kegagalan terapi.
- A. Antitusif tidak dianjurkan karena dapat mengganggu pengeluaran sekret yang justru perlu dikeluarkan.
- B. Antikoagulan tidak rutin diberikan tanpa indikasi tromboemboli yang jelas pada eksaserbasi PPOK.
- C. Tidak ada tanda overload cairan atau gagal jantung yang menjadi indikasi diuretik pada pasien ini.
- E. Mukolitik tidak memiliki peran utama pada tata laksana eksaserbasi akut dan bukan terapi prioritas.
Seorang laki-laki berusia 70 tahun dengan PPOK stabil derajat berat menjalani terapi oksigen jangka panjang di rumah menggunakan nasal kanul. Keluarga membawa pasien ke IGD karena mengantuk berlebihan dan sulit dibangunkan sejak 6 jam terakhir. Keluarga mengatakan pasien menaikkan sendiri aliran oksigen dari 2 liter/menit menjadi 6 liter/menit karena merasa masih sesak. Pada pemeriksaan didapatkan frekuensi napas 10 kali/menit dangkal, saturasi oksigen 99%, dan analisis gas darah menunjukkan PaCO2 85 mmHg dengan pH 7,25. Mekanisme apakah yang paling tepat menjelaskan kondisi pasien ini? (Catatan: pertanyaan mengenai mekanisme fisiologis, bukan mengenai nama diagnosis)
- AReaksi alergi terhadap selang nasal kanul yang menyebabkan obstruksi jalan napas atas
- BEdema paru akut akibat kelebihan volume oksigen yang dihirup
- CHilangnya rangsangan hipoksia terhadap pusat napas akibat koreksi oksigenasi berlebihan
- DBronkospasme berat akibat oksigen yang menyebabkan air trapping progresif
- EDepresi pusat napas akibat efek toksik langsung oksigen pada batang otak
Lihat jawaban
Pada pasien PPOK kronik dengan retensi CO2, pusat napas menjadi kurang sensitif terhadap peningkatan PaCO2 dan bergantung pada hipoksemia sebagai rangsangan utama untuk bernapas. Pemberian oksigen aliran tinggi yang mengoreksi hipoksemia secara berlebihan menghilangkan rangsangan ini sehingga ventilasi menurun, menyebabkan retensi CO2 semakin berat dan terjadi narkosis CO2 yang bermanifestasi sebagai penurunan kesadaran. Target saturasi oksigen pada PPOK yang dianjurkan adalah sekitar 88-92% untuk menghindari hiperkapnia iatrogenik ini. Kondisi ini ditegaskan oleh hasil analisis gas darah pasien yang menunjukkan asidosis respiratorik berat dengan PaCO2 sangat tinggi.
- A. Tidak ada data yang mendukung reaksi alergi atau obstruksi mekanik jalan napas atas pada pasien ini.
- B. Tidak ada bukti klinis seperti ronki basah atau gambaran kongesti yang mendukung edema paru pada skenario ini.
- D. Frekuensi napas yang menurun dan gambaran klinis tidak menunjukkan bronkospasme akut sebagai mekanisme utama.
- E. Oksigen tidak memiliki efek toksik langsung pada batang otak dalam konsentrasi terapeutik yang digunakan.
Seorang perempuan berusia 48 tahun datang dengan keluhan sesak napas berulang dan batuk yang memberat terutama pada malam hari sejak 3 tahun terakhir. Pasien tidak pernah merokok dan tidak ada riwayat pajanan asap atau debu kerja. Keluhan sering dipicu oleh udara dingin dan dirasakan membaik total di antara episode. Pemeriksaan fisik saat ini dalam batas normal. Spirometri menunjukkan VEP1/KVP 72% sebelum bronkodilator dan meningkat menjadi VEP1 sebesar 15% serta 220 mL setelah pemberian salbutamol inhalasi. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?
- APenyakit paru obstruktif kronik
- BBronkiektasis dengan komponen obstruktif
- CAsma bronkial
- DBronkitis kronik eksaserbasi
- EAsthma-COPD overlap
Lihat jawaban
Pasien ini menunjukkan gambaran khas asma yaitu gejala episodik yang reversibel sempurna di antara serangan, dipicu oleh faktor pencetus seperti udara dingin, dan onset pada usia yang relatif muda tanpa riwayat merokok atau pajanan okupasi. Uji bronkodilator menunjukkan reversibilitas signifikan dengan peningkatan VEP1 lebih dari 12% dan 200 mL, yang mendukung diagnosis asma. PPOK umumnya terjadi pada perokok atau terpajan iritan kronik dengan gejala progresif yang tidak reversibel sempurna. Tidak adanya riwayat merokok atau pajanan okupasi serta pola reversibel penuh membedakan asma dari PPOK maupun kondisi overlap.
- A. PPOK umumnya terkait riwayat merokok atau pajanan iritan kronik dan bersifat progresif tanpa reversibilitas sempurna, tidak sesuai profil pasien ini.
- B. Tidak ada gambaran klinis berupa sputum purulen kronik atau riwayat infeksi berulang yang mengarah ke bronkiektasis pada pasien ini.
- D. Bronkitis kronik didefinisikan oleh batuk produktif kronik minimal 3 bulan dalam 2 tahun berturut-turut dan terkait pajanan iritan, tidak sesuai gambaran episodik pasien ini.
- E. Asthma-COPD overlap memerlukan gambaran campuran keduanya termasuk faktor risiko PPOK, yang tidak ditemukan pada pasien tanpa riwayat merokok ini.
Penyakit Paru Obstruktif/Restriktif Lain
3 soalSeorang perempuan berusia 45 tahun datang dengan keluhan batuk berdahak banyak sejak 5 tahun terakhir, terutama berwarna kuning kehijauan dan kadang bercampur darah. Pasien juga mengeluh sering mengalami infeksi saluran napas bawah berulang. Pada pemeriksaan fisik didapatkan ronki basah kasar persisten di basal paru kanan dan jari tabuh (clubbing finger). Pemeriksaan CT scan toraks resolusi tinggi menunjukkan dilatasi bronkus dengan dinding menebal yang tidak mengecil ke arah perifer. Apakah gambaran khas yang mendukung diagnosis pada pemeriksaan CT scan tersebut? (Catatan: deskripsikan temuan radiologis dalam kata-kata, bukan gambar)
- AKista berdinding tipis multipel tersebar difus di kedua paru
- BKonsolidasi lobus dengan air bronkogram di dalamnya
- CGambaran honeycombing subpleural dengan distribusi basal bilateral
- DNodul perilimfatik multipel dengan limfadenopati hilus bilateral
- ETanda cincin (signet ring sign) dengan diameter bronkus lebih besar dari arteri yang berdampingan
Lihat jawaban
Bronkiektasis ditandai oleh dilatasi bronkus permanen akibat kerusakan dinding bronkus, yang pada CT scan resolusi tinggi tampak sebagai signet ring sign, yaitu diameter lumen bronkus yang melebar menjadi lebih besar daripada arteri pulmonalis yang menyertainya di sebelahnya. Temuan lain yang mendukung meliputi bronkus yang tidak mengecil ke arah perifer (lack of tapering) serta dinding bronkus yang menebal. Gejala klinis klasik berupa batuk produktif kronik dengan sputum purulen berlimpah, hemoptisis, infeksi berulang, dan jari tabuh mendukung diagnosis ini. Honeycombing dan nodul perilimfatik merupakan gambaran yang lebih mengarah ke penyakit paru interstisial, bukan bronkiektasis.
- A. Kista tipis difus bilateral lebih mengarah ke penyakit kistik paru seperti limfangioleiomiomatosis, bukan bronkiektasis fokal.
- B. Konsolidasi dengan air bronkogram menggambarkan pneumonia, bukan dilatasi bronkus kronik pada bronkiektasis.
- C. Honeycombing subpleural basal bilateral merupakan gambaran khas fibrosis paru idiopatik, bukan bronkiektasis.
- D. Nodul perilimfatik dengan limfadenopati hilus lebih mengarah ke sarkoidosis, bukan bronkiektasis.
Seorang laki-laki berusia 52 tahun datang dengan keluhan sesak napas yang perlahan memberat sejak 2 tahun dan batuk kering kronik. Pasien bekerja sebagai penambang pasir kuarsa di pertambangan terbuka selama 20 tahun tanpa menggunakan alat pelindung pernapasan yang memadai. Pasien tidak merokok. Pada pemeriksaan fisik ditemukan ronki kering minimal di kedua lapang paru atas. Foto toraks menunjukkan multipel nodul kecil berbatas tegas berukuran 2-5 mm tersebar predominan di zona atas kedua paru dengan beberapa kalsifikasi pada kelenjar getah bening hilus. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?
- ABerylliosis
- BAsbestosis
- CBisinosis
- DSilikosis
- EPneumonitis hipersensitivitas kronik
Lihat jawaban
Silikosis adalah pneumokoniosis akibat inhalasi kronik debu silika kristalin yang banyak ditemukan pada pekerja tambang, pemotong batu, dan pekerja pasir kuarsa. Gambaran radiologis klasik berupa nodul kecil multipel berbatas tegas predominan di zona atas paru, serta kalsifikasi kelenjar getah bening hilus yang disebut eggshell calcification, sangat karakteristik untuk silikosis. Riwayat pekerjaan dengan pajanan debu silika selama puluhan tahun tanpa alat pelindung yang adekuat merupakan faktor risiko utama yang mendukung diagnosis ini. Asbestosis umumnya menunjukkan gambaran fibrosis interstisial di zona bawah paru dengan plak pleura, berbeda dari distribusi zona atas pada silikosis.
- A. Berylliosis terkait pajanan berilium pada industri logam atau elektronik, tidak sesuai dengan riwayat pekerjaan pasien sebagai penambang pasir.
- B. Asbestosis terkait pajanan asbes, bukan pasir kuarsa, dan secara khas menunjukkan fibrosis zona bawah dengan plak pleura, bukan nodul zona atas.
- C. Bisinosis terkait pajanan debu kapas pada pekerja tekstil, tidak sesuai dengan pekerjaan pasien di pertambangan.
- E. Pneumonitis hipersensitivitas terkait pajanan antigen organik seperti jamur atau protein hewan, bukan debu mineral silika.
Seorang bayi laki-laki berusia 4 bulan dibawa ke puskesmas dengan keluhan batuk pilek sejak 3 hari diikuti sesak napas sejak 1 hari terakhir. Riwayat kelahiran cukup bulan tanpa penyulit. Pemeriksaan tanda vital menunjukkan frekuensi napas 58 kali/menit, frekuensi nadi 140 kali/menit, suhu 37,8°C, saturasi oksigen 94% dengan udara ruangan. Pada pemeriksaan fisik ditemukan retraksi dinding dada ringan, napas cuping hidung, dan wheezing ekspiratorik difus pada kedua lapang paru disertai beberapa ronki basah halus. Bayi masih dapat minum ASI dengan baik meski sedikit lebih lambat. Apakah tata laksana awal yang paling tepat pada pasien ini?
- APemberian bronkodilator inhalasi salbutamol sebagai terapi rutin
- BTerapi suportif berupa oksigenasi bila diperlukan, nutrisi, dan hidrasi adekuat
- CPemberian antibiotik ampisilin intravena empiris
- DPemberian nebulisasi epinefrin rutin setiap 4 jam
- EPemberian kortikosteroid sistemik deksametason
Lihat jawaban
Bronkiolitis pada bayi, yang sering disebabkan oleh respiratory syncytial virus, ditandai oleh gejala infeksi saluran napas atas yang diikuti wheezing dan distres napas pada bayi usia kurang dari 2 tahun. Tata laksana utama bersifat suportif, meliputi pemberian oksigen bila saturasi rendah, menjaga hidrasi dan nutrisi yang adekuat, serta pemantauan tanda distres napas. Bronkodilator, kortikosteroid sistemik, dan antibiotik tidak terbukti memberikan manfaat rutin pada bronkiolitis viral tanpa komplikasi bakteri dan tidak direkomendasikan sebagai terapi standar. Pada pasien ini dengan retraksi ringan dan saturasi masih 94% serta masih dapat minum, pendekatan suportif dengan observasi ketat merupakan pilihan yang paling sesuai.
- A. Bronkodilator tidak terbukti memberikan manfaat konsisten pada bronkiolitis viral dan tidak dianjurkan sebagai terapi rutin.
- C. Antibiotik tidak diindikasikan karena bronkiolitis umumnya disebabkan infeksi virus tanpa bukti infeksi bakteri sekunder pada pasien ini.
- D. Nebulisasi epinefrin rutin tidak direkomendasikan sebagai terapi standar bronkiolitis dan hanya dipertimbangkan pada kondisi tertentu dengan pengawasan khusus.
- E. Kortikosteroid sistemik tidak terbukti efektif pada bronkiolitis viral dan tidak direkomendasikan sebagai terapi standar.
Kegawatan Respirasi
6 soalSeorang perempuan berusia 52 tahun datang dengan sesak napas mendadak dan nyeri dada sisi kanan yang memberat saat menarik napas, 2 hari setelah operasi penggantian sendi lutut kanan. Pasien belum bisa menggerakkan kaki kanan secara aktif sejak operasi. Pemeriksaan tanda vital menunjukkan tekanan darah 110/70 mmHg, frekuensi nadi 108 kali/menit, frekuensi napas 26 kali/menit, suhu 37,2°C, saturasi oksigen 93% dengan udara ruangan. Betis kanan tampak bengkak dengan diameter 4 cm lebih besar dibanding betis kiri, teraba hangat dan nyeri tekan di sepanjang vena dalam. Tidak ada riwayat keganasan maupun hemoptisis. Berdasarkan skor Wells, bagaimana kategori risiko pasien ini untuk kemungkinan emboli paru?
- ASkor Wells tidak dapat diterapkan karena pasien pasca operasi
- BEmboli paru dapat disingkirkan tanpa pemeriksaan lanjutan
- CRisiko sedang (probabilitas sedang emboli paru)
- DRisiko tinggi (probabilitas tinggi emboli paru)
- ERisiko rendah (probabilitas rendah emboli paru)
Lihat jawaban
Skor Wells pasien ini mencakup tanda klinis DVT (bengkak, hangat, nyeri tekan vena dalam betis kanan dengan selisih diameter lebih dari 3 cm = 3 poin), denyut jantung lebih dari 100 kali/menit (1,5 poin), serta imobilisasi/operasi dalam 4 minggu terakhir (1,5 poin), dengan total skor sekitar 6 poin. Menurut kriteria Wells, skor lebih dari 6 termasuk kategori probabilitas tinggi, sedangkan skor 2-6 kategori sedang dan kurang dari 2 kategori rendah. Pasien dengan probabilitas tinggi memerlukan pencitraan definitif seperti CT angiografi pulmonal langsung tanpa bergantung pada D-dimer karena nilai prediksi negatif D-dimer kurang bermakna pada kelompok risiko tinggi. Stratifikasi ini penting untuk menentukan jalur diagnostik yang efisien dan mengurangi risiko keterlambatan tata laksana antikoagulan.
- A. Skor Wells tetap dapat diterapkan pada pasien pasca operasi karena riwayat operasi justru merupakan salah satu komponen penilaiannya.
- B. Dengan skor tinggi, emboli paru tidak dapat disingkirkan tanpa pencitraan definitif.
- C. Total skor yang terakumulasi dari tanda DVT jelas, takikardia, dan riwayat operasi/imobilisasi sudah melebihi ambang kategori sedang.
- E. Risiko rendah tidak sesuai karena terdapat tanda klinis DVT yang jelas dan faktor risiko operasi besar baru-baru ini.
Seorang laki-laki berusia 45 tahun datang ke IGD dengan sesak napas mendadak sejak 6 jam yang lalu tanpa nyeri dada maupun batuk darah. Pasien baru kembali dari perjalanan pesawat selama 14 jam 3 hari sebelumnya. Tekanan darah 124/80 mmHg, frekuensi nadi 92 kali/menit, frekuensi napas 22 kali/menit, saturasi oksigen 96% dengan udara ruangan, suhu 36,8°C. Tidak ditemukan tanda bengkak atau nyeri pada tungkai. Setelah dihitung, skor Wells pasien ini adalah 1 poin (probabilitas rendah). Apakah pemeriksaan penunjang awal yang paling tepat dilakukan selanjutnya?
- AEkokardiografi transtorakal
- BPemeriksaan D-dimer plasma
- CAngiografi pulmonal konvensional
- DVentilasi-perfusi (V/Q) scan paru
- ECT angiografi pulmonal langsung
Lihat jawaban
Pada pasien dengan probabilitas klinis rendah hingga sedang berdasarkan skor Wells, langkah diagnostik awal yang direkomendasikan adalah pemeriksaan D-dimer plasma karena nilai prediksi negatifnya tinggi pada kelompok risiko ini. Bila hasil D-dimer negatif (di bawah ambang batas usia-adjusted atau standar laboratorium), diagnosis emboli paru dapat disingkirkan tanpa perlu pencitraan lanjutan, sehingga menghindari pajanan radiasi dan kontras yang tidak perlu. Bila D-dimer positif, pasien baru dilanjutkan dengan CT angiografi pulmonal sebagai modalitas konfirmasi definitif. Strategi berjenjang ini sesuai pedoman diagnosis emboli paru akut yang mengutamakan efisiensi dan keamanan pasien.
- A. Ekokardiografi berguna menilai disfungsi ventrikel kanan pada kasus yang sudah terkonfirmasi atau kondisi tidak stabil, bukan pemeriksaan awal skrining.
- C. Angiografi pulmonal konvensional bersifat invasif dan tidak lagi menjadi pilihan awal karena tersedia CT angiografi yang lebih aman.
- D. V/Q scan digunakan sebagai alternatif pada pasien dengan kontraindikasi kontras, bukan sebagai lini pertama rutin.
- E. CT angiografi pulmonal merupakan pemeriksaan konfirmasi lini kedua setelah D-dimer positif, bukan pemeriksaan awal pada probabilitas rendah.
Seorang perempuan berusia 38 tahun dirawat di ICU hari ke-2 dengan sepsis akibat pneumonia komunitas berat. Dalam 48 jam terakhir pasien mengalami perburukan sesak napas progresif. Pemeriksaan menunjukkan frekuensi napas 32 kali/menit dengan bantuan ventilasi mekanik, PEEP 8 cmH2O, PaO2 70 mmHg dengan FiO2 0,6 (rasio PaO2/FiO2 sekitar 117). Foto toraks menunjukkan infiltrat bilateral difus yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh efusi pleura, kolaps lobus/paru, atau nodul. Ekokardiografi tidak menunjukkan tanda gagal jantung kiri maupun kelebihan cairan yang jelas. Apakah diagnosis yang paling tepat berdasarkan kriteria Berlin pada pasien ini?
- AARDS derajat ringan
- BARDS derajat berat
- CARDS derajat sedang
- DPneumonia komunitas berat tanpa ARDS
- EEdema paru kardiogenik akut
Lihat jawaban
Kriteria Berlin mendiagnosis ARDS berdasarkan onset akut dalam 1 minggu, infiltrat bilateral pada pencitraan yang tidak sepenuhnya dijelaskan oleh efusi, kolaps, atau nodul, gagal napas yang tidak dapat dijelaskan oleh gagal jantung atau kelebihan cairan, dan rasio PaO2/FiO2 dengan PEEP minimal 5 cmH2O. Derajat ARDS diklasifikasikan menjadi ringan (PaO2/FiO2 201-300), sedang (101-200), dan berat (kurang dari atau sama dengan 100). Pasien ini memenuhi seluruh kriteria onset akut, infiltrat bilateral, eksklusi kardiogenik, dan rasio PaO2/FiO2 sekitar 117 dengan PEEP 8 cmH2O, sehingga digolongkan ARDS derajat sedang. Klasifikasi ini penting menentukan intensitas tata laksana ventilasi dan prognosis pasien.
- A. Derajat ringan membutuhkan rasio PaO2/FiO2 antara 201-300, sedangkan pasien ini jauh di bawah ambang tersebut.
- B. Derajat berat membutuhkan rasio PaO2/FiO2 kurang dari atau sama dengan 100, sedangkan rasio pasien ini sekitar 117.
- D. Rasio PaO2/FiO2 yang rendah dengan infiltrat bilateral akut sudah memenuhi kriteria diagnosis ARDS, bukan sekadar pneumonia berat tanpa ARDS.
- E. Ekokardiografi tidak menunjukkan tanda gagal jantung kiri sehingga penyebab kardiogenik telah disingkirkan sesuai kriteria Berlin.
Seorang laki-laki berusia 55 tahun dengan berat badan ideal 70 kg dirawat di ICU dengan ARDS akibat aspirasi pneumonia. Pasien terintubasi dan menggunakan ventilasi mekanik mode volume control. Dokter ruangan menetapkan volume tidal awal 700 mL dengan frekuensi napas 14 kali/menit. Setelah beberapa jam, tekanan plateau jalan napas terukur 32 cmH2O dan saturasi oksigen tetap rendah. Apakah penyesuaian tata laksana ventilasi mekanik yang paling tepat untuk pasien ini?
- AMeningkatkan volume tidal menjadi 900 mL untuk memperbaiki oksigenasi
- BMenurunkan frekuensi napas menjadi 6 kali/menit tanpa mengubah volume tidal
- CMengganti mode ventilasi menjadi pressure support tanpa target volume tertentu
- DMempertahankan volume tidal saat ini dan hanya menaikkan FiO2 menjadi 100%
- EMenurunkan volume tidal menjadi sekitar 420 mL dengan target tekanan plateau di bawah 30 cmH2O
Lihat jawaban
Strategi ventilasi protektif paru pada ARDS menggunakan volume tidal rendah sekitar 6 mL/kg berat badan ideal (bukan berat badan aktual), yang pada pasien ini setara sekitar 420 mL, dengan target tekanan plateau di bawah 30 cmH2O untuk mencegah barotrauma dan volutrauma akibat overdistensi alveolus. Volume tidal 700 mL pada pasien ini jauh melebihi target protektif (10 mL/kg) dan berkontribusi pada tekanan plateau yang sudah tinggi (32 cmH2O), meningkatkan risiko cedera paru akibat ventilator (ventilator-induced lung injury). Strategi ini telah dibuktikan menurunkan mortalitas pada ARDS melalui studi landmark ARDSNet dan menjadi dasar rekomendasi internasional. Penyesuaian PEEP dan FiO2 tetap diperlukan untuk oksigenasi, namun volume tidal rendah adalah komponen inti strategi protektif.
- A. Meningkatkan volume tidal akan memperburuk overdistensi alveolus dan meningkatkan risiko cedera paru akibat ventilator.
- B. Menurunkan frekuensi napas tanpa mengurangi volume tidal tidak mengatasi risiko volutrauma akibat volume tidal yang berlebihan.
- C. Mode pressure support tanpa target volume tidak menjamin volume tidal rendah yang menjadi prinsip utama ventilasi protektif pada ARDS.
- D. Mempertahankan volume tidal tinggi tetap berisiko barotrauma meski FiO2 dinaikkan; FiO2 tinggi juga berisiko toksisitas oksigen.
Seorang laki-laki berusia 68 tahun dengan riwayat penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) datang ke IGD dengan sesak napas yang memberat dan penurunan kesadaran ringan sejak 1 hari yang lalu. Frekuensi napas 16 kali/menit dengan napas dangkal, saturasi oksigen 88% dengan oksigen nasal kanul 3 liter/menit. Analisis gas darah arteri menunjukkan pH 7,30, PaCO2 68 mmHg, PaO2 58 mmHg, HCO3 32 mEq/L. Apakah klasifikasi gagal napas yang paling tepat pada pasien ini?
- AGagal napas tipe 1 dengan kompensasi metabolik penuh
- BGagal napas tipe 2 (hiperkapnia)
- CInsufisiensi respirasi kronik stabil tanpa gagal napas akut
- DGagal napas tipe campuran akut murni tanpa kompensasi
- EGagal napas tipe 1 (hipoksemia)
Lihat jawaban
Gagal napas tipe 2 didefinisikan sebagai hipoksemia (PaO2 kurang dari 60 mmHg) yang disertai hiperkapnia (PaCO2 lebih dari 45 mmHg), mencerminkan kegagalan ventilasi alveolar seperti yang terjadi pada eksaserbasi PPOK akibat kelemahan otot pernapasan dan peningkatan kerja napas yang tidak dapat dikompensasi. Pasien ini memiliki PaO2 58 mmHg (hipoksemia) dan PaCO2 68 mmHg (hiperkapnia bermakna), sesuai dengan gagal napas tipe 2. Gagal napas tipe 1 sebaliknya hanya menunjukkan hipoksemia dengan PaCO2 normal atau rendah, biasanya akibat gangguan pertukaran gas seperti pneumonia atau edema paru tanpa gangguan ventilasi. Identifikasi tipe gagal napas penting untuk menentukan tata laksana, karena gagal napas tipe 2 sering memerlukan dukungan ventilasi untuk mengatasi hiperkapnia, bukan sekadar pemberian oksigen tinggi yang berisiko memperburuk retensi CO2.
- A. Kombinasi hipoksemia dan hiperkapnia bermakna tidak sesuai dengan definisi gagal napas tipe 1.
- C. Perubahan kesadaran dan nilai gas darah yang abnormal menunjukkan proses akut, bukan kondisi kronik stabil.
- D. Istilah ini bukan klasifikasi standar gagal napas yang dikenal dalam praktik klinis.
- E. Gagal napas tipe 1 hanya ditandai hipoksemia tanpa hiperkapnia bermakna, sedangkan pasien ini memiliki PaCO2 yang jelas meningkat.
Seorang perempuan berusia 60 tahun dengan eksaserbasi akut PPOK dirawat di bangsal selama 4 hari. Pada hari ketiga, analisis gas darah arteri menunjukkan pH 7,36, PaCO2 70 mmHg, HCO3 38 mEq/L, PaO2 65 mmHg dengan oksigen nasal kanul 2 liter/menit. Pasien tampak tenang, kesadaran kompos mentis, tidak ada tanda distres napas akut. Bagaimana interpretasi analisis gas darah pasien ini yang paling tepat?
- AGas darah dalam batas normal untuk pasien PPOK
- BAsidosis metabolik dengan kompensasi respiratorik
- CAsidosis respiratorik akut tanpa kompensasi
- DAsidosis respiratorik kronik dengan kompensasi metabolik hampir penuh
- EAlkalosis metabolik primer dengan kompensasi respiratorik
Lihat jawaban
Nilai pH 7,36 mendekati normal meskipun PaCO2 sangat tinggi (70 mmHg) menunjukkan bahwa telah terjadi kompensasi metabolik berupa retensi bikarbonat (HCO3 38 mEq/L) yang mengembalikan pH mendekati rentang normal. Pola ini khas pada asidosis respiratorik kronik, karena ginjal membutuhkan waktu beberapa hari untuk meningkatkan reabsorpsi bikarbonat sebagai respons kompensasi terhadap hiperkapnia yang menetap, berbeda dengan asidosis respiratorik akut yang pH-nya akan sangat rendah karena kompensasi ginjal belum terjadi. Klinis pasien yang tenang dan kompos mentis mendukung bahwa hiperkapnia ini sudah berlangsung lama dan tubuh telah beradaptasi, bukan kejadian akut baru. Pemahaman ini penting agar target terapi oksigen pada pasien retainer CO2 kronik tidak terlalu agresif sehingga tidak menghilangkan rangsang hipoksia untuk bernapas.
- A. Nilai PaCO2 dan HCO3 jelas abnormal sehingga tidak dapat dikatakan gas darah dalam batas normal.
- B. Tidak ada penurunan HCO3 primer yang mengarah pada asidosis metabolik; justru HCO3 meningkat sebagai kompensasi.
- C. Asidosis respiratorik akut tanpa kompensasi akan menunjukkan pH yang jauh lebih rendah karena HCO3 belum naik signifikan, berbeda dengan kondisi pasien ini.
- E. PaCO2 yang tinggi dengan pH mendekati normal menunjukkan gangguan primer respiratorik, bukan alkalosis metabolik.
Neoplasma Paru & Mediastinum
4 soalSeorang laki-laki usia 62 tahun datang ke poli paru dengan keluhan batuk berdahak bercampur darah sejak 2 bulan, penurunan berat badan 8 kg dalam 3 bulan, dan nyeri dada kanan. Pasien memiliki riwayat merokok 2 bungkus per hari selama 35 tahun. Pada pemeriksaan fisik didapatkan suara napas menurun di lapangan paru kanan atas. Foto toraks menunjukkan massa pada lobus kanan atas berukuran 4 cm dengan batas ireguler. Apakah faktor risiko utama yang paling berkaitan dengan kondisi pasien ini?
- ARiwayat tuberkulosis paru sebelumnya
- BPajanan asap biomassa rumah tangga
- CRiwayat merokok jangka panjang
- DRiwayat infeksi virus human papilloma
- EPajanan radon di lingkungan kerja
Lihat jawaban
Kanker paru paling sering disebabkan oleh karsinogen dalam asap rokok, dengan risiko yang meningkat seiring jumlah batang rokok per hari dan lama durasi merokok (dinyatakan dalam indeks Brinkman atau pack-years). Pasien ini memiliki riwayat merokok berat selama 35 tahun yang merupakan faktor risiko dominan dibandingkan faktor lain. Gambaran klinis berupa batuk darah, penurunan berat badan, dan massa paru pada foto toraks sangat sesuai dengan kanker paru. Faktor risiko lain seperti pajanan asap biomassa, radon, dan riwayat TB paru berperan namun bukan faktor risiko utama pada kasus dengan riwayat merokok berat seperti ini.
- A. Riwayat TB paru meningkatkan risiko kanker paru melalui jaringan parut kronis namun bukan faktor risiko utama dibandingkan riwayat merokok berat.
- B. Pajanan asap biomassa merupakan faktor risiko penting terutama pada perokok pasif atau bukan perokok, bukan faktor dominan pada pasien ini.
- D. Infeksi HPV berkaitan dengan kanker serviks dan orofaring, tidak terbukti sebagai faktor risiko utama kanker paru.
- E. Pajanan radon adalah faktor risiko kanker paru namun jauh lebih jarang dan tidak disebutkan pada riwayat pasien.
Seorang laki-laki usia 58 tahun dengan riwayat merokok berat didiagnosis kanker paru berdasarkan biopsi transtorakal. Hasil histopatologi menunjukkan sel-sel kecil berbentuk oat, inti hiperkromatik dengan sitoplasma minimal, tersusun dalam kelompok padat, serta pewarnaan imunohistokimia positif untuk marker neuroendokrin (sinaptofisin dan kromogranin). Apakah implikasi tata laksana yang paling tepat berdasarkan jenis histologis ini?
- AImunoterapi tunggal tanpa kemoterapi sebagai lini pertama
- BReseksi bedah kuratif sebagai pilihan utama pada semua stadium
- CKemoterapi dan radioterapi sebagai modalitas utama karena pertumbuhan cepat dan metastasis dini
- DTerapi hormonal antiandrogen sebagai modalitas utama
- ETerapi target inhibitor EGFR sebagai lini pertama
Lihat jawaban
Gambaran histopatologi sel kecil berbentuk oat dengan inti hiperkromatik, sitoplasma minimal, dan marker neuroendokrin positif menunjukkan karsinoma paru sel kecil (small cell lung cancer/SCLC). SCLC bersifat sangat agresif dengan pertumbuhan cepat dan kecenderungan metastasis dini sehingga pada sebagian besar kasus sudah tidak dapat direseksi saat diagnosis, dan kemoterapi berbasis platinum dikombinasikan dengan radioterapi (atau imunoterapi pada stadium ekstensif) menjadi modalitas utama. Hal ini berbeda dengan karsinoma paru non-sel kecil (NSCLC) yang pada stadium dini dapat direseksi secara bedah. Terapi target EGFR hanya bermanfaat pada subtipe adenokarsinoma NSCLC dengan mutasi spesifik.
- A. Imunoterapi tunggal bukan lini pertama, pada SCLC imunoterapi dikombinasikan dengan kemoterapi.
- B. Reseksi bedah kuratif jarang menjadi pilihan utama pada SCLC karena pada sebagian besar kasus sudah bermetastasis saat diagnosis.
- D. Terapi hormonal antiandrogen tidak memiliki peran dalam tata laksana kanker paru.
- E. Terapi target EGFR digunakan pada adenokarsinoma NSCLC dengan mutasi EGFR, tidak pada karsinoma sel kecil.
Seorang perempuan usia 60 tahun dengan riwayat merokok berat dan massa paru kanan pada foto toraks datang dengan keluhan lemas, mual, dan nyeri kepala sejak 1 minggu. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan natrium serum 118 mmol/L, osmolalitas serum 255 mOsm/kg, osmolalitas urin 450 mOsm/kg, dan natrium urin 60 mmol/L, tanpa tanda dehidrasi maupun edema. Fungsi tiroid dan adrenal normal. Apakah mekanisme yang paling mendasari kondisi ini?
- AProduksi antibodi terhadap kanal kalsium presinaptik
- BSekresi hormon antidiuretik ektopik oleh sel tumor
- CProduksi faktor humoral penekan sumsum tulang
- DSekresi hormon adrenokortikotropik ektopik oleh sel tumor
- ESekresi paratohormon-related protein oleh sel tumor
Lihat jawaban
Gambaran hiponatremia dengan osmolalitas serum rendah, osmolalitas urin tidak maksimal tersupresi (lebih dari 100 mOsm/kg), natrium urin tinggi (lebih dari 40 mmol/L), serta tidak adanya tanda dehidrasi atau edema sesuai dengan sindrom sekresi ADH yang tidak sesuai (SIADH), yang sering disebabkan oleh sekresi ADH ektopik dari sel karsinoma paru sel kecil. Mekanisme ini menyebabkan retensi air berlebihan di tubulus ginjal sehingga terjadi hiponatremia dilusional. Sindrom paraneoplastik lain seperti hiperkalsemia disebabkan oleh sekresi PTH-related protein, biasanya pada karsinoma sel skuamosa, bukan pada kasus hiponatremia ini.
- A. Antibodi terhadap kanal kalsium presinaptik menyebabkan sindrom Lambert-Eaton dengan kelemahan otot proksimal, tidak sesuai dengan kasus ini.
- C. Faktor humoral penekan sumsum tulang menyebabkan sitopenia, tidak menjelaskan gambaran hiponatremia pasien.
- D. ACTH ektopik menyebabkan sindrom Cushing dengan gambaran klinis hiperkortisolisme, tidak sesuai dengan gambaran laboratorium pasien.
- E. PTH-related protein menyebabkan hiperkalsemia paraneoplastik, bukan hiponatremia seperti pada kasus ini.
Seorang laki-laki usia 55 tahun dengan riwayat merokok 30 tahun datang dengan keluhan bengkak pada wajah dan leher yang semakin memberat sejak 2 minggu, disertai sesak napas dan nyeri kepala yang memberat saat membungkuk. Pemeriksaan fisik menunjukkan edema pada wajah, leher, dan kedua lengan atas, disertai pelebaran vena-vena di dinding dada atas dan leher. Foto toraks menunjukkan massa mediastinum superior yang luas. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?
- ATrombosis vena subklavia bilateral
- BLimfedema akibat obstruksi duktus torasikus
- CSindrom vena kava superior
- DEfusi perikardium dengan tamponade jantung
- EGagal jantung kanan dekompensasi
Lihat jawaban
Kombinasi edema wajah dan leher, distensi vena-vena kolateral di dinding dada atas, nyeri kepala yang memberat saat membungkuk akibat peningkatan tekanan vena serebral, serta adanya massa mediastinum superior pada pasien dengan riwayat merokok berat sangat khas untuk sindrom vena kava superior akibat kompresi atau invasi tumor terhadap vena kava superior. Kondisi ini paling sering disebabkan oleh kanker paru, terutama tipe sel kecil, yang menekan atau menginvasi vena kava superior di mediastinum. Diagnosis ditegakkan secara klinis dan dikonfirmasi dengan pencitraan CT toraks dengan kontras.
- A. Trombosis vena subklavia bilateral jarang terjadi bersamaan dan tidak menjelaskan adanya massa mediastinum pada foto toraks.
- B. Obstruksi duktus torasikus menyebabkan chylothorax, bukan edema wajah dengan pelebaran vena kolateral dinding dada.
- D. Tamponade jantung menyebabkan hipotensi, bunyi jantung melemah, dan distensi vena jugularis namun tidak menyebabkan edema wajah khas seperti kasus ini.
- E. Gagal jantung kanan menyebabkan edema tungkai dan distensi vena jugularis namun tidak menjelaskan massa mediastinum dan pola edema wajah-leher yang khas.
Penyakit Pleura & Dinding Dada
3 soalSeorang laki-laki usia 45 tahun dirawat dengan pneumonia komunitas disertai efusi pleura kanan yang baru terdeteksi pada foto toraks. Dokter berencana melakukan torakosentesis diagnostik untuk menentukan etiologi efusi. Setelah tindakan, pasien mengeluh sesak napas mendadak dan nyeri dada kanan tajam. Pemeriksaan fisik menunjukkan frekuensi napas 28 kali/menit, saturasi oksigen 90%, serta suara napas menghilang pada hemitoraks kanan dengan perkusi hipersonor. Apakah komplikasi yang paling mungkin terjadi pada pasien ini?
- ALaserasi hati akibat jarum
- BInfeksi pleura sekunder (empiema)
- CHemotoraks
- DPneumotoraks
- EEdema paru reekspansi
Lihat jawaban
Torakosentesis merupakan tindakan invasif untuk mengambil cairan pleura dengan tujuan diagnostik atau terapeutik, namun memiliki risiko komplikasi berupa pneumotoraks akibat jarum menembus pleura visceral dan melukai parenkim paru. Gambaran klinis sesak napas mendadak, nyeri dada tajam, suara napas menghilang, dan perkusi hipersonor pada sisi yang sama dengan tindakan sangat khas untuk pneumotoraks. Risiko pneumotoraks dapat diminimalkan dengan penggunaan panduan ultrasonografi saat tindakan. Komplikasi lain seperti edema reekspansi umumnya terjadi setelah pengeluaran cairan dalam jumlah besar secara cepat dan bergejala batuk serta sesak tanpa gambaran hipersonor.
- A. Laserasi hati merupakan komplikasi yang sangat jarang dan biasanya terjadi pada tindakan di sisi kanan bawah yang terlalu rendah, dengan gambaran klinis nyeri abdomen dan tanda perdarahan intra-abdomen, bukan hipersonor toraks.
- B. Empiema berkembang dalam beberapa hari akibat infeksi, tidak menimbulkan gejala akut segera setelah tindakan.
- C. Hemotoraks akibat cedera vaskular akan menunjukkan perkusi redup akibat darah di kavum pleura, bukan hipersonor.
- E. Edema paru reekspansi terjadi setelah pengeluaran cairan pleura dalam jumlah besar secara cepat, biasanya dengan gambaran infiltrat pada foto toraks, bukan hipersonor pada perkusi.
Seorang laki-laki usia 35 tahun dibawa ke IGD RSUD setelah mengalami kecelakaan lalu lintas dengan dada membentur setir mobil. Pasien mengeluh sesak dan nyeri dada hebat. Pada pemeriksaan didapatkan frekuensi napas 32 kali/menit, saturasi oksigen 88% tanpa oksigen tambahan, tekanan darah 100/70 mmHg. Inspeksi menunjukkan segmen dinding dada kanan lateral yang bergerak paradoksal, bergerak ke dalam saat inspirasi dan ke luar saat ekspirasi, disertai krepitasi pada palpasi beberapa iga berurutan. Apakah diagnosis yang paling tepat pada pasien ini?
- AFraktur iga simpel tanpa komplikasi
- BRuptur diafragma traumatik
- CFlail chest
- DKontusio paru tanpa fraktur iga
- EPneumotoraks tertutup sederhana
Lihat jawaban
Flail chest didefinisikan sebagai fraktur pada tiga atau lebih iga berurutan, masing-masing pada dua tempat, yang menyebabkan segmen dinding dada menjadi tidak stabil dan bergerak paradoksal terhadap sisa dinding dada, yaitu bergerak ke dalam saat inspirasi dan ke luar saat ekspirasi akibat perbedaan tekanan intratoraks. Kondisi ini sering disertai kontusio paru di bawahnya yang memperberat gangguan pertukaran gas, sehingga pasien dapat mengalami hipoksemia berat seperti pada kasus ini dengan saturasi oksigen 88%. Tata laksana awal meliputi pemberian oksigen, analgesia adekuat, dan dukungan ventilasi bila diperlukan, dengan pemantauan ketat fungsi respirasi.
- A. Fraktur iga simpel tidak menimbulkan gerakan paradoksal dinding dada seperti pada kasus ini.
- B. Ruptur diafragma traumatik biasanya menunjukkan gambaran usus di rongga toraks pada pencitraan, tidak menyebabkan gerakan paradoksal dinding dada.
- D. Kontusio paru dapat menyertai flail chest namun tidak menjelaskan gerakan paradoksal dinding dada dan krepitasi iga berurutan yang ditemukan.
- E. Pneumotoraks tertutup sederhana menunjukkan suara napas menurun dan hipersonor pada perkusi, tidak menyebabkan gerakan dinding dada paradoksal.
Seorang laki-laki berusia 62 tahun datang ke poliklinik paru dengan keluhan sesak napas progresif dan nyeri dada kanan sejak 3 bulan terakhir. Pasien bekerja sebagai pekerja galangan kapal selama lebih dari 25 tahun dan sering terpapar bahan isolasi panas tanpa alat pelindung diri. Pemeriksaan fisik menunjukkan perkusi redup dan suara napas menurun pada hemitoraks kanan. Foto toraks menunjukkan penebalan pleura ireguler disertai efusi pleura kanan masif. Analisis cairan pleura menunjukkan eksudat hemoragik. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?
- ASilikosis dengan efusi pleura reaktif
- BKarsinoma bronkogenik dengan metastasis pleura
- CTuberkulosis pleura
- DMesothelioma pleura maligna
- EEmpiema pleura kronik
Lihat jawaban
Riwayat pajanan asbestos jangka panjang (misalnya pekerja galangan kapal, konstruksi, atau industri isolasi) merupakan faktor risiko utama mesothelioma pleura maligna, dengan masa laten 20-40 tahun sejak pajanan pertama. Gambaran klinis khas berupa penebalan pleura ireguler yang mengelilingi paru disertai efusi pleura hemoragik rekuren yang masif dan sulit berulang setelah drainase. Diagnosis pasti memerlukan biopsi pleura dengan pemeriksaan imunohistokimia. Tatalaksana umumnya paliatif karena prognosis buruk, dengan pertimbangan kemoterapi atau pleurodesis untuk kontrol efusi.
- A. Silikosis berkaitan dengan pajanan debu silika (pertambangan, pemotongan batu) dan bergambaran nodul paru, bukan penebalan pleura masif dengan efusi hemoragik.
- B. Karsinoma bronkogenik umumnya menunjukkan massa paru primer pada foto toraks, bukan penebalan pleura difus ireguler.
- C. Efusi pleura tuberkulosis biasanya eksudat limfositik, bukan hemoragik, dan tidak berkaitan dengan riwayat pajanan asbestos.
- E. Empiema menunjukkan cairan purulen kental dengan tanda infeksi sistemik, bukan efusi hemoragik.
Infeksi Respirasi Khusus & Pediatri
4 soalSeorang anak laki-laki berusia 6 tahun dibawa ke IGD dengan keluhan demam, nyeri menelan, dan suara serak sejak 3 hari. Pemeriksaan tenggorok menunjukkan selaput putih keabu-abuan yang melekat erat pada tonsil dan dinding faring, berdarah saat dilepas secara paksa. Terdapat pembesaran kelenjar getah bening leher disertai edema jaringan lunak leher (bull neck appearance). Riwayat imunisasi tidak lengkap. Apakah tatalaksana spesifik yang paling tepat diberikan segera pada pasien ini?
- AAnti Diphtheria Serum (ADS) dosis sesuai berat badan dan derajat keparahan
- BImunoglobulin intravena dosis tinggi
- CVaksin DPT booster segera
- DAntitoksin tetanus (ATS)
- EKortikosteroid sistemik dosis tinggi
Lihat jawaban
Gambaran pseudomembran keabu-abuan yang melekat erat dan berdarah saat dilepas, disertai bull neck, merupakan tanda khas difteri yang disebabkan Corynebacterium diphtheriae. Tatalaksana utama adalah pemberian Anti Diphtheria Serum (ADS) segera untuk menetralkan toksin yang belum terikat pada jaringan, tanpa menunggu konfirmasi kultur, karena keterlambatan pemberian meningkatkan risiko komplikasi berat seperti miokarditis dan neuropati. Dosis ADS disesuaikan dengan lokasi dan luas membran serta derajat keparahan klinis. Antibiotik seperti eritromisin atau penisilin diberikan sebagai terapi tambahan untuk eradikasi kuman, bukan sebagai terapi utama menetralkan toksin.
- B. Imunoglobulin intravena tidak spesifik menetralkan eksotoksin difteri.
- C. Vaksin DPT bersifat pencegahan jangka panjang dan tidak menetralkan toksin yang sudah bersirkulasi pada infeksi akut.
- D. ATS digunakan untuk tetanus, bukan untuk menetralkan toksin difteri.
- E. Kortikosteroid dapat digunakan sebagai terapi tambahan pada obstruksi jalan napas, bukan terapi spesifik utama.
Seorang ibu membawa bayinya yang berusia 2 bulan ke posyandu untuk imunisasi rutin. Bayi lahir cukup bulan, sudah mendapat imunisasi Hepatitis B saat lahir dan BCG serta polio tetes pada usia 1 bulan. Berat badan saat ini 5,2 kg, tidak ada riwayat demam atau kejang sebelumnya. Sesuai Program Pengembangan Imunisasi (PPI) Kemenkes, apakah kombinasi imunisasi yang paling tepat diberikan pada kunjungan ini?
- ABCG ulangan dan polio tetes dosis ketiga
- BDPT-HB-Hib dosis kedua dan PCV dosis kedua
- CCampak-Rubela dan DPT-HB-Hib dosis ketiga
- DDPT-HB-Hib dosis pertama dan PCV dosis pertama
- EDPT-HB-Hib dosis pertama saja tanpa PCV
Lihat jawaban
Menurut jadwal imunisasi nasional Kemenkes, imunisasi DPT-HB-Hib dosis pertama diberikan pada usia 2 bulan bersamaan dengan polio oral dosis kedua dan PCV (pneumokokus) dosis pertama. Jadwal ini bertujuan memberikan perlindungan dini terhadap difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, Haemophilus influenzae tipe B, dan pneumonia pneumokokus pada usia rentan infeksi saluran napas bawah. Dosis kedua DPT-HB-Hib dan PCV baru diberikan pada usia 3 bulan, sedangkan dosis ketiga pada usia 4 bulan. Pemberian kombinasi vaksin ini aman diberikan bersamaan pada kunjungan yang sama di lokasi penyuntikan berbeda.
- A. BCG hanya diberikan satu kali pada usia 1 bulan tanpa pengulangan dan polio tetes dosis ketiga diberikan pada usia 4 bulan.
- B. Dosis kedua baru diberikan pada usia 3 bulan, bukan usia 2 bulan.
- C. Campak-Rubela diberikan pada usia 9 bulan, dan DPT-HB-Hib dosis ketiga diberikan pada usia 4 bulan.
- E. PCV dosis pertama tetap harus diberikan bersamaan pada usia 2 bulan sesuai jadwal PPI.
Seorang bayi laki-laki lahir melalui seksio sesarea elektif pada usia gestasi 37 minggu dengan berat lahir 3100 gram. Pada usia 1 jam, bayi tampak takipnea dengan frekuensi napas 72 kali/menit, merintih ringan, dan retraksi minimal, namun tidak sianosis. Saturasi oksigen 94% dengan oksigen nasal kanul aliran rendah. Foto toraks menunjukkan gambaran garis-garis perihilar yang menonjol disertai hiperinflasi paru dan efusi pleura minimal, tanpa gambaran granular difus. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada bayi ini?
- AHipertensi pulmonal persisten neonatus
- BPneumonia neonatal
- CSindrom aspirasi mekonium
- DRespiratory distress syndrome
- ETransient tachypnea of the newborn
Lihat jawaban
Transient tachypnea of the newborn (TTN) khas terjadi pada bayi yang lahir melalui seksio sesarea tanpa persalinan pervaginam, akibat keterlambatan absorpsi cairan paru fetal. Gambaran klinis berupa takipnea yang muncul segera setelah lahir dengan distres napas ringan hingga sedang, dan umumnya membaik dalam 24-72 jam. Foto toraks menunjukkan garis perihilar menonjol, hiperinflasi paru, dan kadang efusi pleura minimal, berbeda dengan RDS yang menunjukkan gambaran granular difus dengan air bronchogram akibat defisiensi surfaktan pada bayi prematur. Tatalaksana TTN bersifat suportif berupa pemberian oksigen sesuai kebutuhan dan observasi, karena kondisi ini self-limiting.
- A. Hipertensi pulmonal persisten neonatus menunjukkan sianosis berat yang tidak responsif terhadap oksigen dan perbedaan saturasi pre dan post-duktal.
- B. Pneumonia neonatal biasanya disertai faktor risiko infeksi seperti ketuban pecah dini lama atau demam ibu, dan gambaran radiologis berupa infiltrat fokal atau difus asimetris.
- C. Sindrom aspirasi mekonium terjadi pada bayi dengan riwayat mekonium pada cairan ketuban dan menunjukkan infiltrat kasar ireguler dengan hiperinflasi berat.
- D. RDS lebih sering pada bayi prematur dengan defisiensi surfaktan dan menunjukkan gambaran granular difus dengan air bronchogram, bukan garis perihilar.
Seorang anak laki-laki berusia 5 tahun dibawa orang tuanya ke puskesmas karena sering mendengkur keras setiap malam sejak 1 tahun terakhir, disertai episode tampak berhenti bernapas sesaat saat tidur yang diikuti tarikan napas mendadak. Pada siang hari anak sering terlihat mengantuk, sulit berkonsentrasi di sekolah, dan mengalami penurunan prestasi akademik. Pemeriksaan fisik menunjukkan tonsil membesar grade 3-4 bilateral dengan hipertrofi adenoid yang menyebabkan facies adenoid. Apakah tindakan yang paling tepat dilakukan selanjutnya pada pasien ini?
- AMerujuk ke spesialis THT untuk evaluasi dan tonsiladenoidektomi
- BMemberikan kortikosteroid intranasal dan observasi di puskesmas
- CEdukasi orang tua mengenai posisi tidur dan evaluasi ulang 3 bulan
- DMemberikan antibiotik oral untuk mengatasi hipertrofi tonsil
- EMerujuk ke spesialis anak untuk pemeriksaan polisomnografi rawat jalan
Lihat jawaban
Gejala mendengkur keras, episode henti napas saat tidur, dan gangguan kognitif-perilaku siang hari pada anak dengan tonsil besar grade 3-4 dan hipertrofi adenoid sangat sugestif sindrom obstruksi tidur (obstructive sleep apnea) akibat obstruksi jalan napas atas. Pada anak dengan hipertrofi tonsiladenoid yang jelas secara klinis, rujukan ke spesialis THT untuk evaluasi dan tindakan tonsiladenoidektomi merupakan tatalaksana definitif karena pembesaran tonsil dan adenoid adalah penyebab anatomis utama OSA pada anak. Polisomnografi berguna untuk konfirmasi diagnosis dan menilai derajat keparahan, namun pada fasilitas primer dengan gambaran klinis yang jelas, rujukan segera ke THT lebih diutamakan agar penanganan definitif tidak tertunda.
- B. Kortikosteroid intranasal hanya bermanfaat pada OSA ringan tanpa hipertrofi tonsil berat dan bukan terapi definitif pada kasus ini.
- C. Observasi dan edukasi posisi tidur tidak adekuat untuk kasus dengan hipertrofi tonsiladenoid berat dan gangguan kognitif yang sudah signifikan.
- D. Antibiotik tidak mengatasi hipertrofi tonsil kronik yang mendasari obstruksi jalan napas.
- E. Polisomnografi rawat jalan dapat membantu konfirmasi tetapi tidak menggantikan kebutuhan rujukan ke THT untuk penanganan anatomis definitif.
Pertanyaan umum
Apakah ini soal asli UKMPPD?
Bukan. Ini soal latihan orisinal yang ditulis bergaya UKMPPD sesuai blueprint ujian. Setiap soal dikerjakan ulang oleh model kedua yang independen tanpa melihat kunci, dan soal dengan kunci yang diperdebatkan dihapus.
Bagaimana cara memakai soal respirasi ini?
Kerjakan kuis dulu tanpa melihat jawaban, lalu baca pembahasan setiap soal yang salah atau ditebak. Poin penting di bawah setiap jawaban adalah hal yang perlu diingat.
Apakah soalnya gratis?
Ya. Semua soal, jawaban, dan pembahasan di halaman ini gratis tanpa perlu mendaftar.
Topik UKMPPD lainnya
UKMPPD diselenggarakan oleh Panitia Nasional UKMPPD. WhiteCoat Pro tidak berafiliasi dengan maupun didukung oleh lembaga tersebut. Semua soal adalah soal latihan orisinal: ditulis oleh tim editorial WhiteCoat Pro dengan bantuan AI dan diperiksa oleh model AI kedua yang independen, yang mengerjakan setiap soal tanpa melihat kunci; soal dengan kunci yang diperdebatkan dihapus. Ini bukan soal ujian asli. Untuk belajar, bukan saran medis.