Masuk
UKMPPD · Indonesia

Soal UKMPPD bedah & kegawatdaruratan

50 soal orisinal bergaya UKMPPD tentang bedah & kegawatdaruratan. Setiap soal dilengkapi jawaban benar, pembahasan, alasan pilihan lain salah, dan poin penting. Kerjakan di kuis atau baca di bawah, dikelompokkan per bagian.

Soal50 dengan jawaban
Bagian10
Pilihan per soal5
Waktu≈ 75 menit
UKMPPD Bedah & kegawatdaruratan: kuis latihanPilih jawaban untuk langsung melihat jawaban benar dan pembahasannya. Skor terbaik Anda tersimpan di browser ini.

Trauma Primary Survey & Resusitasi

8 soal
1

Seorang laki-laki usia 30 tahun dibawa ke IGD setelah kecelakaan lalu lintas. Saat perawat mendekat, pasien dapat mengucapkan kalimat lengkap dengan suara jelas meskipun mengaduh kesakitan. Frekuensi napas 20 kali/menit, saturasi oksigen 98% dengan udara ruangan, tidak ada stridor atau retraksi. Frekuensi nadi 110 kali/menit, tekanan darah 100/70 mmHg, akral teraba hangat. Terdapat luka terbuka pada tungkai kanan dengan perdarahan aktif merembes. Apakah tindakan berikutnya yang paling tepat dilakukan dokter?

  1. AMelepas seluruh pakaian pasien untuk survei sekunder
  2. BMelakukan penekanan langsung pada luka yang berdarah aktif
  3. CMelakukan pemeriksaan neurologis GCS secara rinci
  4. DMemasang collar neck sebelum evaluasi lanjutan
  5. EMemasang jalur intravena dua jalur ukuran besar
Lihat jawaban
Jawaban: B. Melakukan penekanan langsung pada luka yang berdarah aktif

Primary survey ATLS mengikuti urutan A (airway dengan kontrol servikal), B (breathing), C (circulation dengan kontrol perdarahan), D (disability), E (exposure/environment). Pasien ini sudah terbukti airway dan breathing baik karena mampu berbicara jelas tanpa distres napas. Langkah berikutnya pada tahap C adalah mengendalikan sumber perdarahan eksternal yang aktif dengan penekanan langsung sebelum melanjutkan ke tindakan lain. Kontrol perdarahan harus dilakukan segera karena dapat memperberat syok hipovolemik.

  • A. Melepas pakaian untuk exposure dilakukan pada tahap E, setelah C selesai dievaluasi dan dikendalikan
  • C. Pemeriksaan GCS rinci merupakan tahap disability (D) yang dilakukan setelah circulation stabil
  • D. Collar neck termasuk bagian kontrol airway dan sudah seharusnya dilakukan lebih awal, bukan setelah circulation dievaluasi
  • E. Pemasangan jalur IV penting namun kontrol sumber perdarahan aktif harus didahulukan sebagai bagian circulation
Poin penting: Primary survey ATLS dilakukan secara berurutan A-B-C-D-E, dan kontrol perdarahan aktif merupakan prioritas utama pada tahap circulation.
2

Seorang laki-laki usia 45 tahun dibawa ke IGD RS tipe C setelah mengalami trauma wajah akibat terjatuh dari motor. Pasien tampak gelisah, terdengar suara napas kasar seperti berkumur (gurgling) dan terdapat stridor inspirasi. Pemeriksaan menunjukkan perdarahan aktif dari rongga mulut akibat fraktur mandibula dan terdapat pembengkakan jaringan lunak leher yang progresif. Frekuensi napas 28 kali/menit, saturasi oksigen 90% dengan oksigen masker 10 L/menit. Suction berulang tidak memperbaiki suara napas. Apakah diagnosis yang paling tepat pada kondisi jalan napas pasien ini?

  1. AObstruksi jalan napas atas akibat benda asing yang dapat diatasi dengan finger sweep
  2. BGagal napas akut akibat kontusio paru tanpa gangguan jalan napas
  3. CObstruksi jalan napas akibat kejang laring yang akan membaik spontan
  4. DHipoksemia akibat syok hemoragik tanpa gangguan anatomis jalan napas
  5. EObstruksi jalan napas partial yang memerlukan jalan napas definitif segera
Lihat jawaban
Jawaban: E. Obstruksi jalan napas partial yang memerlukan jalan napas definitif segera

Suara gurgling, stridor, perdarahan aktif intraoral, dan edema jaringan lunak leher yang progresif merupakan tanda klasik obstruksi jalan napas partial akibat darah, edema, atau distorsi anatomi. Kegagalan suction untuk membersihkan jalan napas dan adanya edema progresif menandakan risiko obstruksi total yang mengancam jiwa, sehingga jalan napas definitif (intubasi endotrakeal atau krikotirotomi bila gagal) harus segera dilakukan tanpa menunda. Jalan napas definitif didefinisikan sebagai pipa dengan cuff yang terpasang di trakea dan terhubung ke sumber oksigen. Menunggu perbaikan spontan pada kondisi ini sangat berisiko menyebabkan henti napas.

  • A. Tidak ada bukti benda asing padat yang dapat diambil secara manual; sumber obstruksi adalah darah dan edema jaringan
  • B. Adanya suara napas abnormal dan stridor menunjukkan gangguan anatomis jalan napas, bukan hanya masalah parenkim paru
  • C. Kejang laring bersifat sementara dan bukan penjelasan untuk edema progresif serta perdarahan aktif yang terus berlangsung
  • D. Suara napas abnormal dan stridor merupakan tanda obstruksi anatomis, bukan sekadar hipoksemia akibat syok
Poin penting: Suara napas abnormal seperti gurgling atau stridor pada trauma wajah dengan edema progresif menandakan obstruksi jalan napas partial yang memerlukan jalan napas definitif segera.
3

Seorang laki-laki usia 25 tahun dibawa ke IGD setelah tertusuk benda tajam di dada kiri. Pasien tampak sesak berat dan sianosis pada bibir. Pemeriksaan menunjukkan frekuensi napas 36 kali/menit, tekanan darah 80/50 mmHg, frekuensi nadi 130 kali/menit teraba lemah. Vena jugularis tampak distensi, trakea teraba bergeser ke kanan, dan pada auskultasi tidak terdengar suara napas pada hemitoraks kiri dengan perkusi hipersonor. Apakah tindakan yang paling tepat dilakukan dokter saat ini?

  1. AMelakukan dekompresi jarum pada dada kiri tanpa menunggu hasil pencitraan
  2. BMemberikan oksigen nasal kanul dan observasi tanda vital ketat
  3. CMelakukan pungsi pericardiosentesis untuk mengatasi tamponade jantung
  4. DMelakukan pemeriksaan CT scan toraks untuk evaluasi lebih lanjut
  5. EMelakukan foto rontgen toraks AP untuk konfirmasi sebelum tindakan
Lihat jawaban
Jawaban: A. Melakukan dekompresi jarum pada dada kiri tanpa menunggu hasil pencitraan

Tension pneumothorax merupakan diagnosis klinis yang ditegakkan berdasarkan temuan distres napas berat, deviasi trakea, distensi vena jugularis, hilangnya suara napas, dan perkusi hipersonor pada sisi yang terkena, disertai tanda syok obstruktif. Kondisi ini mengancam jiwa secara cepat sehingga tatalaksana harus segera dilakukan tanpa menunggu konfirmasi rontgen toraks yang hanya akan memperlambat penanganan. Dekompresi jarum segera dilakukan untuk mengurangi tekanan intratoraks dan mengembalikan hemodinamik pasien. Menunda tindakan demi pencitraan dapat berakibat fatal pada kondisi ini.

  • B. Oksigen saja tidak mengatasi penyebab utama berupa peningkatan tekanan intratoraks yang menekan struktur mediastinum
  • C. Tamponade jantung memberikan trias Beck berupa suara jantung menjauh, bukan hilangnya suara napas unilateral dan hipersonor
  • D. CT scan memerlukan waktu lama dan tidak sesuai untuk kondisi gawat darurat yang mengancam jiwa segera
  • E. Menunggu hasil rontgen toraks akan menunda tindakan yang mengancam jiwa pada kondisi yang sudah jelas secara klinis
Poin penting: Tension pneumothorax adalah diagnosis klinis berdasarkan distres napas, deviasi trakea, distensi vena jugularis, dan hilangnya suara napas unilateral, yang memerlukan dekompresi jarum segera tanpa menunggu pencitraan.
4

Dua pasien dibawa ke IGD setelah kecelakaan lalu lintas terpisah dengan trauma tumpul dada. Pasien pertama menunjukkan gerakan dinding dada kanan yang paradoksal saat bernapas, teraba krepitasi multipel pada beberapa iga berurutan, dengan saturasi oksigen 88% pada udara ruangan. Pasien kedua menunjukkan perkusi pekak pada hemitoraks kiri, suara napas menghilang di sisi tersebut, tekanan darah 85/55 mmHg, dan vena jugularis tampak kolaps tanpa distensi. Apakah yang membedakan kedua kondisi tersebut secara klinis?

  1. APasien pertama menunjukkan distensi vena jugularis akibat tamponade, pasien kedua menunjukkan perkusi hipersonor akibat udara bebas
  2. BPasien pertama mengalami deviasi trakea akibat tension pneumothorax, pasien kedua mengalami gerakan paradoksal akibat kontusio paru
  3. CPasien pertama dan kedua keduanya menunjukkan tanda yang identik sehingga tidak dapat dibedakan secara klinis
  4. DPasien pertama menunjukkan suara napas menghilang akibat hematothorax, pasien kedua menunjukkan krepitasi iga akibat flail chest
  5. EPasien pertama menunjukkan gerakan paradoksal dinding dada akibat fraktur iga multipel, pasien kedua menunjukkan tanda syok hipovolemik akibat akumulasi darah di kavum pleura
Lihat jawaban
Jawaban: E. Pasien pertama menunjukkan gerakan paradoksal dinding dada akibat fraktur iga multipel, pasien kedua menunjukkan tanda syok hipovolemik akibat akumulasi darah di kavum pleura

Flail chest ditandai oleh fraktur tiga atau lebih iga berurutan pada dua titik atau lebih yang menyebabkan segmen dinding dada bergerak paradoksal, yaitu tertarik ke dalam saat inspirasi dan terdorong keluar saat ekspirasi, sering disertai kontusio paru yang menyebabkan hipoksemia. Hematothorax masif ditandai oleh akumulasi darah lebih dari 1500 mL di kavum pleura yang menyebabkan perkusi pekak, suara napas menghilang, dan tanda syok hipovolemik berupa hipotensi dengan vena leher kolaps karena kehilangan volume intravaskular, berbeda dengan tension pneumothorax yang menunjukkan vena leher distensi. Membedakan kedua kondisi penting karena tatalaksana awalnya berbeda, flail chest memerlukan dukungan ventilasi dan analgesia, sedangkan hematothorax masif memerlukan pemasangan chest tube dan resusitasi cairan atau transfusi.

  • A. Deskripsi ini terbalik dan tidak sesuai dengan temuan klinis pada kedua pasien yang dijelaskan dalam stem
  • B. Tidak ada temuan deviasi trakea pada pasien pertama maupun gerakan paradoksal pada pasien kedua sesuai stem
  • C. Kedua pasien menunjukkan temuan klinis yang jelas berbeda dan dapat dibedakan secara klinis
  • D. Deskripsi ini terbalik dengan temuan klinis sebenarnya yang dijelaskan dalam stem untuk masing-masing pasien
Poin penting: Flail chest ditandai gerakan dinding dada paradoksal akibat fraktur iga multipel, sedangkan hematothorax masif ditandai suara napas menghilang disertai syok hipovolemik dengan vena leher kolaps.
5

Seorang laki-laki usia 28 tahun dengan berat badan 70 kg dibawa ke IGD setelah mengalami trauma abdomen akibat kecelakaan lalu lintas. Pemeriksaan menunjukkan frekuensi nadi 118 kali/menit, tekanan darah 100/85 mmHg, frekuensi napas 24 kali/menit, dan produksi urin menurun sekitar 15 mL/jam. Pasien tampak gelisah dan sedikit bingung saat ditanya. Berdasarkan estimasi ATLS, berapa perkiraan persentase volume darah yang hilang pada pasien ini?

  1. A30-40% volume darah
  2. BTidak dapat diestimasi tanpa pemeriksaan hemoglobin
  3. C15-30% volume darah
  4. DLebih dari 40% volume darah
  5. EKurang dari 15% volume darah
Lihat jawaban
Jawaban: A. 30-40% volume darah

Klasifikasi syok hemoragik ATLS kelas III ditandai dengan kehilangan volume darah sekitar 30-40%, disertai takikardia di atas 120 kali/menit, penurunan tekanan darah sistolik, takipnea, penurunan produksi urin menjadi 5-15 mL/jam, serta perubahan status mental berupa gelisah dan kebingungan akibat perfusi otak yang menurun. Pasien ini sudah menunjukkan tanda hipotensi relatif, takikardia signifikan, oliguria, dan gangguan status mental yang konsisten dengan kelas III, berbeda dengan kelas II yang tekanan darah sistolik biasanya masih normal. Pengenalan kelas syok penting untuk menentukan kebutuhan resusitasi cairan agresif dan kemungkinan transfusi darah segera.

  • B. Estimasi kelas syok hemoragik ATLS didasarkan pada parameter klinis seperti nadi, tekanan darah, dan status mental, tidak memerlukan nilai hemoglobin
  • C. Kehilangan darah 15-30% (kelas II) biasanya masih disertai tekanan darah sistolik normal dan status mental yang hanya sedikit cemas
  • D. Kehilangan darah lebih dari 40% (kelas IV) biasanya disertai tekanan darah sangat rendah, nadi sangat cepat atau tidak teraba, dan penurunan kesadaran berat
  • E. Kehilangan darah kurang dari 15% (kelas I) biasanya tidak menimbulkan perubahan tanda vital yang signifikan
Poin penting: Syok hemoragik kelas III ATLS ditandai kehilangan darah 30-40% dengan takikardia, hipotensi, oliguria, dan gelisah atau bingung akibat penurunan perfusi serebral.
6

Seorang perempuan usia 32 tahun dengan berat badan 60 kg dibawa ke IGD setelah mengalami perdarahan akibat trauma tumpul abdomen. Tekanan darah 88/60 mmHg, frekuensi nadi 124 kali/menit, akral dingin dan pucat. Dokter memutuskan untuk melakukan resusitasi cairan awal sambil menunggu produk darah tersedia. Apakah jenis cairan dan prinsip pemberian awal yang paling tepat pada pasien ini?

  1. AAlbumin 20% diberikan secara bolus cepat untuk ekspansi volume intravaskular
  2. BDekstrosa 5% diberikan cepat sebanyak 2000 mL melalui satu jalur intravena
  3. CDekstran diberikan bolus cepat untuk memperbaiki tekanan onkotik plasma
  4. DKoloid seperti hidroksietil starch diberikan sebagai cairan resusitasi lini pertama
  5. EKristaloid isotonik seperti RingerLaktat diberikan bolus hangat melalui dua jalur intravena besar
Lihat jawaban
Jawaban: E. Kristaloid isotonik seperti RingerLaktat diberikan bolus hangat melalui dua jalur intravena besar

Resusitasi awal syok hipovolemik akibat trauma menggunakan kristaloid isotonik seperti Ringer Laktat atau NaCl 0,9% yang dihangatkan, diberikan secara bolus melalui dua jalur intravena perifer berukuran besar (idealnya 14-16G) untuk memungkinkan pemberian cairan dalam volume besar secara cepat. Cairan kristaloid dipilih karena murah, mudah tersedia, dan efektif memperbaiki volume intravaskular sementara menunggu produk darah bila diperlukan, dengan prinsip resusitasi terkontrol tanpa overload cairan berlebihan yang dapat mengganggu pembentukan bekuan darah. Cairan dihangatkan untuk mencegah hipotermia yang memperburuk koagulopati pada pasien trauma. Penggunaan koloid atau produk sintetis lain tidak direkomendasikan sebagai lini pertama karena biaya tinggi dan risiko efek samping tanpa keunggulan bermakna dibanding kristaloid.

  • A. Albumin bukan cairan resusitasi lini pertama pada syok hemoragik akut dan lebih mahal dibanding kristaloid
  • B. Dekstrosa 5% bukan cairan resusitasi untuk syok hipovolemik karena cepat berdifusi keluar ruang intravaskular dan tidak memperbaiki volume sirkulasi secara efektif
  • C. Dekstran dapat mengganggu fungsi platelet dan koagulasi sehingga tidak dianjurkan sebagai cairan resusitasi awal pada trauma
  • D. Koloid sintetik tidak digunakan sebagai cairan lini pertama pada resusitasi trauma karena risiko gangguan koagulasi dan biaya tinggi tanpa manfaat superior
Poin penting: Resusitasi awal syok hipovolemik pada trauma menggunakan kristaloid isotonik hangat seperti Ringer Laktat melalui dua jalur intravena besar sambil menunggu produk darah.
7

Seorang laki-laki usia 40 tahun dibawa ke IGD setelah terjatuh dari ketinggian sekitar 3 meter saat bekerja. Pasien mengeluh nyeri leher dan tidak dapat mengingat kejadian secara jelas, dengan skor GCS 14. Terdapat nyeri tekan pada garis tengah leher belakang. Petugas bermaksud memindahkan pasien dari brankar untuk pemeriksaan punggung dan pemasangan alas keras. Apakah prinsip tindakan yang paling tepat dilakukan untuk mencegah komplikasi pada pasien ini?

  1. AMemindahkan pasien dengan cara duduk tegak lalu dibantu berdiri perlahan
  2. BMemindahkan pasien dengan menarik kedua lengan tanpa mempertahankan posisi leher
  3. CMelakukan fleksi dan ekstensi leher secara pasif untuk menilai rentang gerak sebelum dipindahkan
  4. DMemiringkan pasien secara log roll dengan minimal empat orang sambil mempertahankan posisi netral kepala dan leher
  5. EMelepas cervical collar terlebih dahulu agar pemeriksaan leher lebih mudah dilakukan
Lihat jawaban
Jawaban: D. Memiringkan pasien secara log roll dengan minimal empat orang sambil mempertahankan posisi netral kepala dan leher

Pasien dengan riwayat trauma mekanisme energi tinggi, nyeri leher, nyeri tekan garis tengah, dan gangguan status mental memiliki risiko cedera servikal sehingga imobilisasi dengan cervical collar harus dipertahankan hingga cedera tulang belakang disingkirkan secara klinis atau radiologis. Teknik log roll dengan minimal empat orang, satu orang khusus mempertahankan stabilisasi kepala dan leher dalam posisi netral sejalan dengan tubuh, digunakan untuk memeriksa punggung dan memindahkan pasien ke alas keras tanpa menimbulkan gerakan rotasi atau fleksi pada tulang belakang yang dapat memperberat cedera neurologis. Prinsip ini merupakan bagian penting pencegahan cedera sekunder pada trauma tulang belakang.

  • A. Memindahkan pasien dengan duduk tegak dapat menimbulkan fleksi leher yang berbahaya bila terdapat cedera servikal tidak stabil
  • B. Menarik lengan tanpa stabilisasi leher berisiko menimbulkan gerakan rotasi atau fleksi yang memperberat cedera tulang belakang
  • C. Menilai rentang gerak leher secara aktif maupun pasif merupakan kontraindikasi pada kecurigaan cedera servikal akut
  • E. Melepas cervical collar sebelum cedera servikal disingkirkan dapat memperberat potensi cedera medula spinalis
Poin penting: Pasien dengan kecurigaan cedera servikal harus dipindahkan menggunakan teknik log roll dengan stabilisasi kepala dan leher posisi netral oleh minimal empat orang untuk mencegah cedera sekunder.
8

Seorang laki-laki 30 tahun dibawa ke IGD setelah kecelakaan sepeda motor. Primary survey telah dilakukan: jalan napas bebas, laju napas 18x/menit dengan suara napas vesikuler simetris, tekanan darah 118/76 mmHg, frekuensi nadi 92x/menit, akral hangat, GCS 15. Tidak ditemukan sumber perdarahan aktif maupun deformitas yang mengancam nyawa. Dokter IGD telah memastikan tidak ada gangguan pada komponen A, B, C, D yang memerlukan intervensi segera. Apakah tindakan yang paling tepat dilakukan selanjutnya?

  1. AMelakukan resusitasi cairan kristaloid 2000 mL secara cepat
  2. BMengulang primary survey dari awal sebelum melanjutkan evaluasi
  3. CSegera merujuk pasien ke rumah sakit tipe A tanpa pemeriksaan lanjutan
  4. DMelakukan pemeriksaan head-to-toe secara sistematis beserta anamnesis AMPLE
  5. EMemasang collar neck dan melakukan log roll tanpa pemeriksaan lain
Lihat jawaban
Jawaban: D. Melakukan pemeriksaan head-to-toe secara sistematis beserta anamnesis AMPLE

Setelah primary survey selesai dan pasien dinyatakan stabil pada komponen airway, breathing, circulation, dan disability, langkah berikutnya menurut algoritma ATLS adalah secondary survey. Secondary survey terdiri dari anamnesis lengkap menggunakan mnemonic AMPLE (Allergy, Medication, Past illness, Last meal, Event) dan pemeriksaan fisik head-to-toe untuk menemukan cedera yang tidak mengancam nyawa secara langsung namun tetap signifikan. Tujuannya adalah mendeteksi semua cedera agar tidak ada yang terlewat sebelum tata laksana definitif. Secondary survey hanya dilakukan setelah pasien stabil pada primary survey.

  • A. Resusitasi cairan agresif hanya diindikasikan bila ada tanda syok, yang tidak ditemukan pada pasien ini.
  • B. Primary survey tidak perlu diulang karena sudah dinyatakan stabil pada seluruh komponennya.
  • C. Rujukan tanpa evaluasi lengkap tidak sesuai alur karena pasien sudah stabil dan perlu dievaluasi menyeluruh dahulu.
  • E. Log roll merupakan bagian dari secondary survey, namun tidak boleh dilakukan terisolasi tanpa pemeriksaan head-to-toe lainnya.
Poin penting: Secondary survey berupa anamnesis AMPLE dan pemeriksaan head-to-toe hanya dilakukan setelah primary survey selesai dan pasien dinyatakan stabil.

Trauma Kepala & Spinal

5 soal
9

Seorang laki-laki 22 tahun dibawa ke IGD setelah terjatuh dari motor dan mengalami benturan pada kepala bagian temporal kanan. Saat tiba di IGD, pasien sadar penuh dan dapat berbicara normal dengan GCS 15. Dua jam kemudian pasien mendadak mengalami penurunan kesadaran, GCS turun menjadi 9, pupil kanan anisokor dengan diameter 6 mm dan refleks cahaya lambat, serta hemiparesis sisi kiri. Pemeriksaan CT scan kepala menunjukkan lesi hiperdens berbentuk bikonveks (lentikular) di regio temporal kanan yang tidak melewati garis sutura. Apakah diagnosis yang paling tepat?

  1. AHematoma epidural
  2. BHematoma intraserebral traumatik
  3. CKontusio serebri
  4. DPerdarahan subarakhnoid traumatik
  5. EHematoma subdural akut
Lihat jawaban
Jawaban: A. Hematoma epidural

Hematoma epidural khas terjadi akibat robeknya arteri meningea media setelah fraktur tulang temporal, sehingga darah terkumpul di antara tabula interna tulang tengkorak dan duramater. Gambaran klinis klasik berupa lucid interval, yaitu periode sadar sementara setelah trauma sebelum terjadi penurunan kesadaran mendadak akibat ekspansi hematoma yang menekan otak. Pada CT scan, hematoma epidural tampak sebagai lesi hiperdens berbentuk bikonveks (lentikular) yang dibatasi oleh sutura kranium karena duramater melekat kuat pada sutura. Tanda herniasi seperti anisokor dan hemiparesis kontralateral menunjukkan perlunya evakuasi bedah segera.

  • B. Hematoma intraserebral tampak sebagai lesi hiperdens di dalam parenkim otak, bukan di ruang ekstraaksial.
  • C. Kontusio serebri menunjukkan gambaran hiperdens multipel tidak beraturan di parenkim otak, bukan lesi lentikular ekstraaksial.
  • D. Perdarahan subarakhnoid tampak sebagai hiperdensitas mengikuti sulkus dan sisterna, bukan lesi bikonveks ekstraaksial.
  • E. Hematoma subdural akut memberikan gambaran CT bulan sabit (crescent) yang dapat melewati garis sutura, bukan bikonveks terbatas sutura.
Poin penting: Hematoma epidural ditandai lucid interval dan gambaran CT hiperdens bikonveks yang dibatasi garis sutura akibat robekan arteri meningea media.
10

Seorang perempuan 78 tahun dengan riwayat demensia dan konsumsi rutin warfarin dibawa keluarga karena sejak 3 minggu terakhir mengalami perburukan progresif berupa kebingungan, nyeri kepala ringan, dan kelemahan tungkai kiri. Keluarga menyangkal adanya riwayat trauma berat, namun mengakui pasien pernah terjatuh ringan dari kursi sekitar 1 bulan lalu tanpa cedera yang disadari saat itu. Pemeriksaan tanda vital dalam batas normal. CT scan kepala menunjukkan lesi hipodens berbentuk bulan sabit (crescent) di regio frontoparietal kanan dengan sedikit pergeseran garis tengah. Apakah diagnosis yang paling mungkin?

  1. ATumor otak primer
  2. BHematoma subdural kronik
  3. CInfark serebri kardioembolik
  4. DHematoma epidural
  5. EHematoma subdural akut
Lihat jawaban
Jawaban: B. Hematoma subdural kronik

Hematoma subdural kronik umumnya terjadi pada lansia dengan atrofi otak dan pada pasien yang mendapat terapi antikoagulan, akibat robeknya vena-vena penghubung (bridging veins) setelah trauma minor yang sering tidak disadari. Gejala muncul perlahan dalam beberapa minggu berupa penurunan fungsi kognitif progresif, nyeri kepala ringan, dan defisit neurologis fokal. Pada CT scan, hematoma subdural kronik tampak hipodens (karena darah sudah mencair) berbentuk bulan sabit yang dapat melewati garis sutura, berbeda dengan subdural akut yang tampak hiperdens. Faktor risiko utama meliputi usia lanjut, penggunaan antikoagulan, dan riwayat jatuh ringan berulang.

  • A. Tumor otak primer biasanya memberikan gambaran massa intraaksial dengan edema perifokal, bukan lesi ekstraaksial berbentuk bulan sabit.
  • C. Infark kardioembolik tidak memberikan gambaran lesi ekstraaksial hipodens berbentuk bulan sabit pada CT.
  • D. Hematoma epidural memberikan gambaran bikonveks yang dibatasi sutura, bukan bulan sabit, dan onsetnya akut setelah trauma signifikan.
  • E. Subdural akut tampak hiperdens pada CT dan muncul dengan gejala akut dalam jam hingga hari, tidak sesuai onset 3 minggu pada kasus ini.
Poin penting: Hematoma subdural kronik terjadi pada lansia atau pengguna antikoagulan akibat robekan bridging veins, bergejala progresif dalam minggu, dan tampak hipodens bulan sabit pada CT.
11

Seorang laki-laki 35 tahun dirawat di ICU pasca cedera kepala berat akibat kecelakaan lalu lintas. Pada hari kedua perawatan, pasien mengalami penurunan GCS dari 10 menjadi 7, disertai bradikardia dengan frekuensi nadi 52x/menit, tekanan darah meningkat menjadi 168/58 mmHg (sebelumnya 130/80 mmHg), dan pola napas menjadi ireguler. Pupil kanan mulai melebar dengan refleks cahaya lambat. Jalan napas dan ventilasi sudah dikelola dengan baik melalui pipa endotrakeal. Apakah tata laksana awal yang paling tepat dilakukan untuk mengatasi kondisi pasien saat ini?

  1. AElevasi kepala 30 derajat dan restriksi cairan hingga 500 mL/24 jam
  2. BPosisi kepala flat dan pemberian furosemid 40 mg intravena
  3. CTrendelenburg position dan pemberian dexamethasone 10 mg intravena
  4. DPosisi kepala flat dan hiperventilasi agresif hingga PaCO2 20 mmHg
  5. EElevasi kepala 30 derajat dan pemberian manitol 0,5-1 g/kgBB intravena
Lihat jawaban
Jawaban: E. Elevasi kepala 30 derajat dan pemberian manitol 0,5-1 g/kgBB intravena

Pasien menunjukkan trias Cushing (bradikardia, hipertensi dengan pelebaran nadi tekanan, napas ireguler) yang merupakan tanda klasik peningkatan tekanan intrakranial berat dengan ancaman herniasi. Tata laksana awal meliputi elevasi kepala 30 derajat untuk memperbaiki drainase vena serebral, serta pemberian manitol dosis 0,5-1 g/kgBB intravena sebagai agen osmotik untuk menurunkan edema otak secara cepat. Manitol bekerja menarik cairan dari jaringan otak ke intravaskular melalui efek osmotik, sehingga menurunkan volume otak dan tekanan intrakranial. Hiperventilasi agresif hanya digunakan sebagai tindakan sementara pada herniasi akut dan tidak boleh dipertahankan karena risiko iskemia serebral akibat vasokonstriksi berlebihan.

  • A. Restriksi cairan berlebihan dapat menyebabkan hipotensi dan memperburuk perfusi serebral, bukan tata laksana standar krisis TIK.
  • B. Posisi kepala flat tidak dianjurkan karena menghambat drainase vena serebral; furosemid bukan terapi lini pertama pada krisis TIK akut.
  • C. Posisi Trendelenburg akan memperburuk peningkatan TIK; dexamethasone tidak efektif untuk edema sitotoksik pasca trauma.
  • D. Hiperventilasi agresif hingga PaCO2 serendah itu berisiko menyebabkan iskemia serebral dan hanya boleh dilakukan sesaat pada herniasi akut, bukan sebagai terapi utama.
Poin penting: Tanda trias Cushing menunjukkan peningkatan TIK berat; tata laksana awal meliputi elevasi kepala 30 derajat dan manitol intravena untuk menurunkan edema otak.
12

Seorang laki-laki 50 tahun dibawa ke IGD setelah terpeleset di kamar mandi dan kepala membentur lantai keramik. Pasien sempat tidak sadar selama kurang lebih 1 menit namun saat tiba di IGD sudah sadar penuh dengan GCS 15, tidak ada muntah, tidak ada kejang, dan tidak ditemukan defisit neurologis fokal. Pasien mengeluh nyeri kepala ringan di lokasi benturan dan tidak dapat mengingat detail kejadian sesaat setelah jatuh (amnesia retrograde). Pasien memiliki riwayat mengonsumsi aspirin 80 mg per hari untuk pencegahan sekunder stroke. Apakah indikasi utama yang mendasari perlunya CT scan kepala pada pasien ini?

  1. AUsia pasien di bawah 60 tahun
  2. BGCS saat pemeriksaan di IGD mencapai nilai maksimal
  3. CTidak terdapat defisit neurologis fokal
  4. DPenggunaan rutin obat antikoagulan atau antiplatelet
  5. ELokasi benturan di area yang tidak berisiko tinggi
Lihat jawaban
Jawaban: D. Penggunaan rutin obat antikoagulan atau antiplatelet

Berdasarkan kriteria Canadian CT Head Rule dan New Orleans Criteria, penggunaan terapi antikoagulan atau antiplatelet merupakan salah satu faktor risiko tinggi yang mengindikasikan perlunya CT scan kepala pada cedera kepala ringan, karena meningkatkan risiko perdarahan intrakranial meski trauma tampak minor. Faktor risiko lain yang juga menjadi indikasi meliputi usia di atas 65 tahun, muntah berulang, kejang, amnesia pasca trauma lebih dari 30 menit, mekanisme trauma berbahaya, dan tanda fraktur basis cranii. Pasien ini memiliki amnesia retrograde namun durasinya tidak dijelaskan melebihi 30 menit, sehingga faktor risiko utama yang paling kuat mendasari indikasi CT scan adalah riwayat konsumsi antiplatelet. GCS 15 saat pemeriksaan tidak menyingkirkan kemungkinan perdarahan intrakranial pada pasien dengan faktor risiko koagulopati.

  • A. Kriteria usia yang menjadi faktor risiko adalah di atas 65 tahun, bukan di bawah 60 tahun.
  • B. GCS maksimal justru menurunkan kecurigaan cedera berat, bukan merupakan indikasi dilakukannya CT scan.
  • C. Tidak adanya defisit neurologis fokal merupakan tanda yang mengurangi kecurigaan, bukan indikasi untuk CT scan.
  • E. Lokasi benturan yang berisiko tinggi (misalnya area temporal) justru meningkatkan indikasi CT scan, bukan sebaliknya.
Poin penting: Penggunaan antikoagulan atau antiplatelet merupakan salah satu kriteria risiko tinggi yang mengindikasikan CT scan kepala pada cedera kepala ringan menurut Canadian CT Head Rule dan New Orleans Criteria.
13

Seorang laki-laki 28 tahun dibawa ke IGD setelah mengalami kecelakaan lalu lintas dengan benturan keras pada kepala. Pemeriksaan fisik menunjukkan ekimosis periorbital bilateral tanpa trauma langsung pada area tersebut, ekimosis di belakang telinga kiri, serta keluarnya cairan jernih dari hidung yang bertambah banyak saat pasien menundukkan kepala. Pada pemeriksaan otoskopi ditemukan membran timpani kiri intak namun tampak kebiruan di belakangnya. Tanda vital dalam batas normal dan GCS 15. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?

  1. AFraktur os nasal
  2. BFraktur os temporal tanpa keterlibatan basis cranii
  3. CFraktur basis cranii
  4. DKontusio jaringan lunak wajah
  5. EFraktur orbita (blow-out fracture)
Lihat jawaban
Jawaban: C. Fraktur basis cranii

Fraktur basis cranii ditandai dengan beberapa tanda klasik yaitu raccoon eyes (ekimosis periorbital bilateral tanpa trauma langsung akibat perdarahan fossa anterior), battle sign (ekimosis di area mastoid akibat perdarahan fossa media), serta rhinorrhea atau otorrhea akibat kebocoran cairan serebrospinal melalui robekan duramater yang berhubungan dengan fraktur tulang basis tengkorak. Keluarnya cairan jernih dari hidung yang bertambah saat kepala ditundukkan (meningkatkan tekanan intrakranial relatif) mendukung adanya rhinorrhea likuor serebrospinal. Hemotimpanum (membran timpani intak namun tampak kebiruan di baliknya akibat darah terperangkap) juga merupakan tanda fraktur basis cranii fossa media. Diagnosis ini penting karena berisiko meningitis akibat jalur terbuka antara ruang subarakhnoid dan lingkungan luar.

  • A. Fraktur os nasal biasanya memberikan deformitas lokal pada hidung tanpa kombinasi raccoon eyes, battle sign, dan hemotimpanum.
  • B. Fraktur os temporal terisolasi tanpa keterlibatan basis cranii tidak memberikan kombinasi raccoon eyes dan rhinorrhea.
  • D. Kontusio jaringan lunak tidak menjelaskan adanya kebocoran cairan serebrospinal maupun hemotimpanum.
  • E. Fraktur orbita blow-out khas memberikan diplopia dan enoftalmus akibat jebakan otot ekstraokular, bukan kombinasi tanda sistemik ini.
Poin penting: Fraktur basis cranii ditandai oleh raccoon eyes, battle sign, serta otorrhea atau rhinorrhea likuor akibat robekan duramater yang menyertai fraktur tulang basis tengkorak.
Kesulitan di satu topik?Minta asisten WhiteCoat Pro menjelaskannya, mengubah catatan Anda menjadi flashcard, atau menyusun rencana belajar untuk UKMPPD.
Buka asisten

Trauma Muskuloskeletal

6 soal
14

Seorang laki-laki berusia 28 tahun dibawa ke IGD RS setelah kecelakaan sepeda motor 1 jam yang lalu. Pasien mengeluh nyeri hebat pada tungkai bawah kanan. Pada pemeriksaan tampak luka terbuka di regio cruris dekstra berukuran 4 cm dengan fragmen tulang terlihat, perdarahan aktif minimal, tidak tampak kerusakan jaringan lunak yang luas, dan tidak ada tanda kontaminasi berat. Tekanan darah 120/80 mmHg, frekuensi nadi 92 kali/menit, akral hangat, pulsasi arteri dorsalis pedis teraba kuat. Apakah klasifikasi fraktur terbuka yang paling tepat pada pasien ini?

  1. AGustilo-Anderson tipe IIIB
  2. BGustilo-Anderson tipe II
  3. CGustilo-Anderson tipe I
  4. DGustilo-Anderson tipe IIIA
  5. EGustilo-Anderson tipe IIIC
Lihat jawaban
Jawaban: B. Gustilo-Anderson tipe II

Klasifikasi Gustilo-Anderson tipe II ditandai dengan luka terbuka berukuran 1-10 cm tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif, tanpa avulsi flap, dan tanpa kontaminasi berat, sesuai dengan temuan pada pasien ini. Tipe I memiliki luka lebih kecil dari 1 cm akibat tusukan fragmen tulang dari dalam ke luar (mekanisme energi rendah). Tipe III menunjukkan kerusakan jaringan lunak luas, kontaminasi berat, atau fraktur segmental/energi tinggi disertai kerusakan vaskular atau periosteal yang signifikan. Penentuan klasifikasi ini penting untuk memperkirakan risiko infeksi dan menentukan kebutuhan debridement serta jenis antibiotik profilaksis.

  • A. Tipe IIIB disertai kerusakan jaringan lunak berat yang memerlukan flap untuk penutupan, tidak sesuai dengan temuan klinis.
  • C. Tipe I memiliki ukuran luka kurang dari 1 cm akibat tusukan fragmen tulang dari dalam, tidak sesuai ukuran luka 4 cm pada pasien.
  • D. Tipe IIIA menunjukkan kerusakan jaringan lunak luas atau energi trauma tinggi yang tidak ditemukan pada pasien ini.
  • E. Tipe IIIC disertai kerusakan arteri yang memerlukan perbaikan vaskular, sedangkan pulsasi distal pasien masih teraba kuat.
Poin penting: Klasifikasi Gustilo-Anderson tipe II ditegakkan pada fraktur terbuka dengan luka 1-10 cm tanpa kerusakan jaringan lunak ekstensif dan tanpa kontaminasi berat.
15

Seorang perempuan berusia 40 tahun dibawa ke IGD setelah tertabrak mobil dengan kecepatan tinggi 30 menit yang lalu. Pasien tampak gelisah dan pucat. Tekanan darah 85/50 mmHg, frekuensi nadi 128 kali/menit, frekuensi napas 28 kali/menit, akral dingin dan basah. Pada pemeriksaan ditemukan deformitas dan nyeri tekan hebat pada regio pelvis, serta instabilitas saat kompresi lateral panggul. Tidak ditemukan jejas pada toraks maupun abdomen, dan pemeriksaan FAST abdomen negatif. Apakah tindakan stabilisasi awal yang paling tepat dilakukan pada pasien ini?

  1. AMelakukan reposisi tertutup pada sendi panggul
  2. BMelakukan laparotomi eksplorasi segera
  3. CMemasang pelvic binder pada level trokanter mayor
  4. DMemasang bidai Thomas splint pada kedua tungkai
  5. EMelakukan traksi skeletal pada kedua tungkai bawah
Lihat jawaban
Jawaban: C. Memasang pelvic binder pada level trokanter mayor

Fraktur pelvis dengan instabilitas mekanik merupakan penyebab penting syok hemoragik akibat perdarahan dari pleksus vena presakral dan fraktur tulang kanselosa yang kaya vaskular, dengan volume darah yang hilang ke retroperitoneum dapat mencapai beberapa liter. Pemasangan pelvic binder pada level trokanter mayor merupakan tindakan stabilisasi mekanik awal yang bertujuan mengurangi volume rongga pelvis sehingga menekan sumber perdarahan vena dan tulang, dilakukan bersamaan dengan resusitasi cairan dan produk darah sesuai protokol transfusi masif. Tindakan ini harus dilakukan sesegera mungkin pada pasien dengan tanda syok dan instabilitas pelvis sebelum pemeriksaan pencitraan lanjutan seperti CT scan. FAST negatif pada kasus ini mengarahkan sumber perdarahan utama ke fraktur pelvis, bukan ke organ intraabdomen.

  • A. Reposisi tertutup sendi panggul ditujukan untuk dislokasi panggul, bukan untuk fraktur cincin pelvis yang menyebabkan syok hemoragik.
  • B. Laparotomi eksplorasi tidak diindikasikan karena FAST abdomen negatif sehingga sumber perdarahan intraabdomen belum terbukti.
  • D. Thomas splint digunakan untuk imobilisasi fraktur femur, bukan untuk stabilisasi cincin pelvis yang tidak stabil.
  • E. Traksi skeletal bukan tindakan stabilisasi awal untuk fraktur pelvis dan lebih ditujukan untuk fraktur femur atau cedera ekstremitas bawah.
Poin penting: Pada fraktur pelvis tidak stabil dengan tanda syok hemoragik, pemasangan pelvic binder pada level trokanter mayor merupakan tindakan stabilisasi mekanik awal yang harus segera dilakukan bersama resusitasi cairan.
16

Seorang laki-laki berusia 24 tahun datang ke IGD setelah terjatuh saat bermain basket dengan posisi lengan kanan abduksi dan eksorotasi 1 jam yang lalu. Pasien mengeluh nyeri hebat pada bahu kanan dan tidak dapat menggerakkan lengannya. Pada pemeriksaan tampak kontur bahu kanan mendatar dengan tonjolan di bawah prosesus korakoid, lengan dalam posisi sedikit abduksi dan eksorotasi, serta pasien menahan lengan dengan tangan kontralateral. Sensasi raba pada regio deltoid dan pulsasi arteri radialis masih baik. Apakah tindakan awal yang paling tepat dilakukan pada pasien ini?

  1. AAspirasi sendi glenohumeral untuk evaluasi hemartrosis
  2. BOperasi reduksi terbuka segera
  3. CReduksi tertutup dengan teknik traksi-countertraksi
  4. DPemasangan gips thoracobrachial
  5. EPemasangan arm sling tanpa reduksi dan rujuk ke ortopedi
Lihat jawaban
Jawaban: C. Reduksi tertutup dengan teknik traksi-countertraksi

Gambaran klinis pasien berupa mekanisme trauma abduksi-eksorotasi, bahu tampak mendatar dengan tonjolan kaput humerus di anterior, serta lengan tertahan dalam posisi abduksi-eksorotasi merupakan tanda klasik dislokasi anterior sendi glenohumeral. Setelah dipastikan tidak ada defisit neurovaskular dan dikonfirmasi dengan foto rontgen bahu AP, tindakan awal yang tepat adalah reduksi tertutup segera menggunakan salah satu teknik seperti traksi-countertraksi untuk mengembalikan kaput humerus ke posisi anatomis, mengurangi nyeri, serta mencegah kerusakan neurovaskular dan jaringan lunak lebih lanjut akibat dislokasi yang berkepanjangan. Reduksi tertutup merupakan kompetensi yang dapat dilakukan di layanan gawat darurat sebelum imobilisasi dengan arm sling.

  • A. Aspirasi sendi tidak diperlukan pada dislokasi murni tanpa kecurigaan hemartrosis yang menyebabkan distensi berat.
  • B. Operasi reduksi terbuka hanya diindikasikan bila reduksi tertutup gagal atau terdapat fraktur disertai dislokasi yang kompleks.
  • D. Gips thoracobrachial bukan tata laksana dislokasi bahu dan lebih digunakan pada fraktur humerus tertentu.
  • E. Menunda reduksi hanya dengan sling tanpa reposisi memperpanjang waktu dislokasi dan meningkatkan risiko kerusakan neurovaskular serta kekakuan sendi.
Poin penting: Dislokasi anterior sendi bahu ditandai dengan bahu mendatar, lengan tertahan abduksi-eksorotasi, dan ditatalaksana dengan reduksi tertutup segera setelah evaluasi neurovaskular dan radiologis.
17

Seorang laki-laki berusia 20 tahun datang ke puskesmas setelah terjatuh dari motor dengan bahu kanan membentur aspal 2 jam yang lalu. Pasien mengeluh nyeri pada bahu kanan, namun masih dapat menggerakkan jari-jari dan pergelangan tangan dengan baik. Pada pemeriksaan ditemukan deformitas dan nyeri tekan pada pertengahan klavikula kanan tanpa luka terbuka, tidak ada krepitasi tulang yang menusuk kulit, sensasi raba pada seluruh lengan baik, pulsasi arteri radialis teraba kuat, dan tidak ditemukan gangguan napas. Apakah tata laksana awal yang paling tepat dilakukan oleh dokter di puskesmas?

  1. APemasangan gips thoracobrachial selama 6 minggu
  2. BTraksi skin pada lengan kanan selama observasi
  3. CReduksi terbuka dengan fiksasi internal segera
  4. DRujuk segera untuk operasi pemasangan plate and screw
  5. EPemasangan arm sling atau figure-of-eight bandage dan edukasi kontrol
Lihat jawaban
Jawaban: E. Pemasangan arm sling atau figure-of-eight bandage dan edukasi kontrol

Fraktur klavikula tertutup tanpa pergeseran berat, tanpa gangguan neurovaskular, dan tanpa komplikasi pada kulit merupakan kompetensi dokter umum di layanan primer sesuai SKDI untuk memberikan penanganan awal berupa imobilisasi menggunakan arm sling atau figure-of-eight bandage, pemberian analgetik, serta edukasi untuk kontrol ulang dan rujukan terencana ke ortopedi bila diperlukan evaluasi lanjutan. Mayoritas fraktur klavikula, terutama pada bagian tengah tanpa komplikasi, dapat sembuh dengan tata laksana konservatif tanpa memerlukan tindakan bedah. Operasi hanya diindikasikan pada kasus tertentu seperti fraktur terbuka, pergeseran berat yang mengancam kulit, atau disertai gangguan neurovaskular yang tidak dapat diatasi secara konservatif.

  • A. Gips thoracobrachial tidak digunakan untuk fraktur klavikula dan lebih sesuai untuk fraktur ekstremitas atas tertentu.
  • B. Traksi skin tidak diindikasikan untuk fraktur klavikula karena bukan modalitas tata laksana standar pada regio ini.
  • C. Reduksi terbuka dengan fiksasi internal bukan tata laksana lini pertama karena mayoritas fraktur klavikula sembuh baik secara konservatif.
  • D. Rujukan untuk operasi segera tidak diperlukan pada fraktur klavikula sederhana tanpa komplikasi neurovaskular atau kulit.
Poin penting: Fraktur klavikula tertutup tanpa komplikasi neurovaskular ditatalaksana secara konservatif dengan arm sling atau figure-of-eight bandage sebagai kompetensi dokter umum.
18

Seorang perempuan berusia 30 tahun dirawat di bangsal bedah dengan fraktur tertutup femur kanan pasca kecelakaan lalu lintas 36 jam yang lalu, belum dilakukan fiksasi. Pasien tiba-tiba mengalami sesak napas dan gelisah. Pada pemeriksaan ditemukan frekuensi napas 32 kali/menit, saturasi oksigen 88% tanpa oksigen tambahan, suhu tubuh 38,2°C, serta ditemukan ptekie pada konjungtiva dan dinding dada bagian atas. Pasien juga tampak disorientasi dan sulit diajak komunikasi. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?

  1. AFat embolism syndrome
  2. BSyok sepsis akibat infeksi luka
  3. CEmboli paru akibat trombosis vena dalam
  4. DAcute respiratory distress syndrome primer
  5. EPneumonia aspirasi
Lihat jawaban
Jawaban: A. Fat embolism syndrome

Fat embolism syndrome merupakan komplikasi yang khas terjadi 24-72 jam pasca fraktur tulang panjang seperti femur, disebabkan oleh masuknya globul lemak dari sumsum tulang ke dalam sirkulasi vena yang menyebabkan oklusi mikrovaskular dan reaksi inflamasi sistemik. Trias klasik fat embolism syndrome terdiri dari gangguan respirasi (hipoksemia dan takipnea), gangguan neurologis (disorientasi hingga penurunan kesadaran), dan ruam petekie yang khas muncul di konjungtiva, leher, dan dinding dada bagian atas, seperti yang ditemukan pada pasien ini. Faktor risiko utama meliputi fraktur tulang panjang atau pelvis, terutama yang belum difiksasi dalam 24-72 jam pertama pasca trauma. Diagnosis bersifat klinis dan tata laksana bersifat suportif dengan oksigenasi serta stabilisasi fraktur segera.

  • B. Syok sepsis memerlukan fokus infeksi yang jelas dan tidak menjelaskan trias klasik gangguan respirasi, neurologis, dan ptekie pada kasus ini.
  • C. Emboli paru akibat trombosis vena dalam biasanya tidak disertai ruam petekie khas dan trias gangguan neurologis-respirasi-petekie.
  • D. ARDS primer tidak dikaitkan dengan fraktur tulang panjang dan tidak menjelaskan munculnya ptekie khas pada konjungtiva dan dada atas.
  • E. Pneumonia aspirasi tidak sesuai dengan onset gejala pasca fraktur tulang panjang dan tidak menjelaskan ruam petekie yang ditemukan.
Poin penting: Fat embolism syndrome dicurigai pada pasien dengan fraktur tulang panjang yang mengalami trias gangguan respirasi, gangguan neurologis, dan ruam petekie dalam 24-72 jam pasca trauma.
19

Seorang laki-laki berusia 45 tahun dibawa ke puskesmas setelah terjatuh dari tangga dengan tungkai bawah kanan membentur lantai 1 jam yang lalu. Pasien mengeluh nyeri hebat dan tidak dapat menggerakkan tungkai bawah kanan. Pada pemeriksaan ditemukan deformitas angulasi pada pertengahan tibia kanan, krepitasi teraba, pulsasi arteri dorsalis pedis teraba baik, dan sensasi raba pada kaki normal. Fasilitas radiologi dan ortopedi tidak tersedia di puskesmas tersebut sehingga pasien akan dirujuk ke rumah sakit. Apakah prinsip pembidaian yang paling tepat dilakukan sebelum rujukan?

  1. AMembidai pada posisi deformitas tanpa melakukan reduksi, meliputi sendi di atas dan di bawah fraktur
  2. BMembidai hanya pada lokasi fraktur tanpa menyertakan sendi di sekitarnya
  3. CMenunda pembidaian dan segera merujuk tanpa imobilisasi apapun
  4. DMelakukan reduksi tertutup penuh terlebih dahulu hingga sejajar anatomis sebelum dibidai
  5. EMelakukan traksi kuat pada tungkai hingga deformitas hilang sebelum dibidai
Lihat jawaban
Jawaban: A. Membidai pada posisi deformitas tanpa melakukan reduksi, meliputi sendi di atas dan di bawah fraktur

Prinsip pembidaian pada fraktur ekstremitas di layanan primer adalah melakukan imobilisasi pada posisi deformitas yang ditemukan tanpa upaya reduksi paksa, karena reduksi definitif memerlukan fasilitas radiologi dan kompetensi yang lebih tinggi untuk memastikan reposisi anatomis serta mencegah komplikasi vaskular. Bidai harus mencakup sendi di atas dan di bawah lokasi fraktur untuk mencegah gerakan pada fragmen fraktur selama transportasi, sehingga mengurangi nyeri, mencegah kerusakan jaringan lunak dan neurovaskular lebih lanjut, serta mencegah fraktur tertutup berubah menjadi fraktur terbuka. Hal ini merupakan kompetensi dokter umum di puskesmas (SKDI) sebagai tata laksana awal sebelum rujukan ke fasilitas yang memiliki layanan ortopedi definitif.

  • B. Bidai yang hanya mencakup lokasi fraktur tanpa menyertakan sendi di atas dan di bawahnya tidak memberikan imobilisasi yang adekuat.
  • C. Menunda pembidaian berisiko memperburuk cedera jaringan lunak dan neurovaskular selama proses rujukan.
  • D. Reduksi tertutup penuh hingga sejajar anatomis memerlukan evaluasi radiologis dan bukan kompetensi yang harus dipaksakan di puskesmas sebelum rujukan.
  • E. Traksi kuat untuk menghilangkan deformitas tanpa panduan radiologis berisiko menyebabkan kerusakan neurovaskular tambahan.
Poin penting: Pembidaian awal pada fraktur ekstremitas dilakukan pada posisi deformitas tanpa reduksi paksa, dengan imobilisasi mencakup sendi di atas dan di bawah lokasi fraktur sebelum rujukan.

Trauma Abdomen & Toraks

5 soal
20

Laki-laki 30 tahun dibawa ke IGD setelah kecelakaan sepeda motor dengan stang membentur perutnya 1 jam lalu. Tekanan darah 88/56 mmHg, nadi 124 kali/menit, frekuensi napas 24 kali/menit. Pasien tampak gelisah dan pucat. Pemeriksaan abdomen didapatkan jejas di regio periumbilikal dan defans muskular. Dokter IGD ingin segera memastikan ada tidaknya cairan bebas intraabdomen tanpa memindahkan pasien dari ruang resusitasi. Pemeriksaan penunjang awal apakah yang paling tepat dipilih?

  1. ALaparoskopi diagnostik
  2. BCT scan abdomen dengan kontras
  3. CDiagnostic peritoneal lavage
  4. DUltrasonografi FAST di tempat tidur
  5. EFoto polos abdomen tiga posisi
Lihat jawaban
Jawaban: D. Ultrasonografi FAST di tempat tidur

Pada pasien trauma tumpul abdomen dengan hemodinamik tidak stabil, FAST (Focused Assessment with Sonography for Trauma) merupakan pilihan karena dapat dikerjakan cepat di ruang resusitasi, non-invasif, dapat diulang, dan tidak memerlukan pemindahan pasien seperti CT scan. FAST mendeteksi cairan bebas di kavum peritoneum, perikardium, dan pleura sehingga membantu keputusan laparotomi segera. DPL bersifat invasif dan kini jarang digunakan karena FAST lebih cepat dan akurat untuk deteksi cairan bebas. CT scan hanya tepat pada pasien yang hemodinamik stabil.

  • A. Laparoskopi diagnostik bukan pilihan awal pada kegawatan dan berisiko memperberat kondisi pasien tidak stabil.
  • B. CT scan membutuhkan pemindahan pasien dan waktu lebih lama, hanya tepat pada pasien yang stabil secara hemodinamik.
  • C. DPL bersifat invasif dan membutuhkan waktu lebih lama, sudah banyak ditinggalkan sejak FAST tersedia luas.
  • E. Foto polos abdomen tidak sensitif untuk mendeteksi cairan bebas intraperitoneal pada trauma tumpul.
Poin penting: FAST merupakan modalitas pencitraan tercepat dan non-invasif untuk mendeteksi cairan bebas intraabdomen pada pasien trauma tumpul dengan hemodinamik tidak stabil.
21

Laki-laki 27 tahun dibawa ke IGD dengan luka tusuk di perut kiri atas 30 menit yang lalu akibat perkelahian. Tekanan darah 82/50 mmHg, nadi 130 kali/menit, akral dingin dan basah. Pemeriksaan abdomen tampak luka tusuk sepanjang 3 cm di regio hipokondrium kiri dengan eviserasi omentum dan perdarahan aktif. Setelah resusitasi cairan awal dimulai, tindakan apakah yang paling tepat dilakukan selanjutnya?

  1. APemberian antibiotik spektrum luas dan rujuk observasi 24 jam
  2. BCT scan abdomen dengan kontras untuk evaluasi organ dalam
  3. CEksplorasi luka lokal di IGD untuk menilai kedalaman
  4. DObservasi tanda vital setiap 15 menit di ruang rawat intensif
  5. ELaparotomi eksplorasi segera di kamar operasi
Lihat jawaban
Jawaban: E. Laparotomi eksplorasi segera di kamar operasi

Trauma tajam abdomen dengan tanda syok hemoragik, eviserasi organ, dan perdarahan aktif merupakan indikasi absolut laparotomi eksplorasi segera tanpa menunggu pemeriksaan penunjang tambahan. Menunda tindakan operatif untuk pencitraan pada pasien tidak stabil dapat memperburuk prognosis akibat perdarahan yang berlanjut. Resusitasi cairan dilakukan secara simultan sambil mempersiapkan pasien ke kamar operasi. Eksplorasi luka lokal hanya sesuai pada pasien stabil tanpa tanda peritonitis atau eviserasi.

  • A. Pemberian antibiotik saja tidak mengatasi sumber perdarahan aktif dan eviserasi yang memerlukan operasi segera.
  • B. CT scan memerlukan waktu dan pemindahan pasien yang berisiko pada kondisi hemodinamik tidak stabil dengan eviserasi.
  • C. Eksplorasi luka lokal hanya diindikasikan pada pasien stabil tanpa tanda peritonitis, eviserasi, atau syok.
  • D. Observasi tidak tepat karena pasien sudah menunjukkan tanda syok hemoragik yang membutuhkan tindakan definitif segera.
Poin penting: Eviserasi organ, syok hemoragik, dan perdarahan aktif pada trauma tajam abdomen merupakan indikasi absolut laparotomi eksplorasi segera.
22

Perempuan 22 tahun dibawa ke IGD setelah terjatuh dari motor dengan benturan di perut kiri 2 jam yang lalu. Tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 98 kali/menit, frekuensi napas 20 kali/menit, dan pasien sadar penuh. Pemeriksaan abdomen didapatkan nyeri tekan di kuadran kiri atas tanpa defans muskular. Hasil CT scan abdomen dengan kontras menunjukkan laserasi limpa derajat II tanpa tanda perdarahan aktif (blush) dan tidak ada cairan bebas yang signifikan. Tata laksana awal apakah yang paling tepat untuk pasien ini?

  1. ASplenektomi total segera
  2. BLaparoskopi eksplorasi untuk evaluasi ulang derajat cedera
  3. CObservasi ketat dengan tirah baring dan pemantauan hemodinamik serial
  4. DSplenorafi melalui laparotomi segera
  5. EEmbolisasi arteri splenika segera tanpa observasi
Lihat jawaban
Jawaban: C. Observasi ketat dengan tirah baring dan pemantauan hemodinamik serial

Pasien dengan ruptur limpa derajat rendah (I-III) yang hemodinamik stabil tanpa tanda perdarahan aktif pada CT scan dapat dikelola secara non-operatif berupa observasi ketat, tirah baring, dan pemantauan hemodinamik serta hemoglobin berkala. Manajemen konservatif berhasil pada mayoritas kasus trauma limpa tumpul derajat rendah dan menghindari morbiditas operasi serta risiko infeksi pascasplenektomi. Tindakan operatif atau embolisasi hanya diperlukan bila terjadi perburukan hemodinamik atau tanda perdarahan aktif yang menetap.

  • A. Splenektomi total tidak diperlukan pada pasien stabil dengan cedera derajat rendah tanpa perdarahan aktif.
  • B. Laparoskopi eksplorasi tidak diperlukan karena derajat cedera sudah jelas dari CT scan dan pasien stabil secara hemodinamik.
  • D. Splenorafi merupakan tindakan operatif yang tidak diperlukan selama pasien stabil dan dapat dikelola konservatif.
  • E. Embolisasi merupakan tindakan invasif yang dicadangkan untuk kasus dengan tanda perdarahan aktif, bukan pilihan awal tanpa observasi.
Poin penting: Ruptur limpa derajat rendah pada pasien yang hemodinamik stabil tanpa tanda perdarahan aktif dapat dikelola secara non-operatif dengan observasi ketat.
23

Laki-laki 35 tahun dibawa ke IGD setelah terjatuh dari ketinggian 3 meter dengan benturan di pinggang kanan. Tekanan darah 124/80 mmHg, nadi 90 kali/menit. Pemeriksaan fisik didapatkan jejas dan nyeri tekan pada regio flank kanan tanpa defans muskular. Urin kateter tampak berwarna merah kecoklatan. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan hemoglobin 13,2 g/dL dan urinalisis menunjukkan eritrosit penuh per lapang pandang. Tanda klinis manakah yang paling berperan dalam mengarahkan dokter untuk mencurigai adanya trauma ginjal pada pasien ini?

  1. AMekanisme jatuh dari ketinggian
  2. BNilai hemoglobin yang masih normal
  3. CHematuria makroskopik
  4. DNyeri tekan pada regio flank
  5. EJejas pada dinding pinggang
Lihat jawaban
Jawaban: C. Hematuria makroskopik

Hematuria, baik makroskopik maupun mikroskopik, merupakan tanda klinis kunci yang paling sering dikaitkan dengan trauma ginjal dan menjadi indikasi utama untuk melakukan pencitraan lanjutan berupa CT scan abdomen dengan kontras guna menentukan derajat cedera menurut klasifikasi AAST. Derajat keparahan hematuria tidak selalu berkorelasi linear dengan beratnya cedera ginjal, namun kehadirannya tetap menjadi penanda klinis yang paling spesifik dibanding nyeri atau jejas yang bersifat non-spesifik. Mekanisme trauma penting sebagai faktor risiko tetapi bukan tanda diagnostik langsung.

  • A. Mekanisme jatuh dari ketinggian merupakan faktor risiko, bukan tanda klinis langsung yang mengarahkan diagnosis.
  • B. Hemoglobin normal tidak menyingkirkan maupun mengarahkan diagnosis trauma ginjal secara spesifik.
  • D. Nyeri tekan flank bersifat non-spesifik dan dapat ditemukan pada berbagai trauma retroperitoneal lainnya.
  • E. Jejas pada dinding pinggang hanya menunjukkan adanya benturan eksternal, tidak spesifik menunjukkan cedera ginjal.
Poin penting: Hematuria merupakan tanda klinis kunci yang mengarahkan kecurigaan trauma ginjal dan menjadi indikasi pencitraan lanjutan.
24

Laki-laki 40 tahun dibawa ke IGD setelah kecelakaan lalu lintas dengan fraktur pelvis. Tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 110 kali/menit. Pasien mengeluh tidak dapat berkemih sejak kejadian. Pemeriksaan fisik didapatkan darah menetes dari meatus uretra eksterna, hematom pada skrotum dan perineum berbentuk kupu-kupu, serta pada pemeriksaan colok dubur prostat teraba melayang dan lebih tinggi dari posisi normal. Tindakan apakah yang sebaiknya dihindari pada pasien ini?

  1. APemasangan infus intravena perifer
  2. BPemasangan kateter uretra secara langsung
  3. CPemeriksaan colok dubur ulang untuk evaluasi
  4. DPemeriksaan foto polos pelvis
  5. EPemasangan kateter vena sentral bila diperlukan
Lihat jawaban
Jawaban: B. Pemasangan kateter uretra secara langsung

Adanya darah pada meatus uretra, hematom skrotum berbentuk kupu-kupu, dan prostat yang teraba melayang pada colok dubur merupakan tanda klasik ruptur uretra posterior akibat fraktur pelvis, sehingga pemasangan kateter uretra secara langsung dikontraindikasikan karena berisiko memperburuk robekan uretra dan membuat jalur palsu. Tindakan yang tepat adalah melakukan sistostomi suprapubik untuk diversi urin, kemudian evaluasi lanjut dengan uretrografi retrograd setelah pasien stabil. Pemeriksaan penunjang lain seperti foto polos pelvis dan akses vaskular tetap diperlukan dalam tata laksana trauma multipel ini.

  • A. Pemasangan infus perifer merupakan bagian dari resusitasi standar dan tidak berkaitan dengan cedera uretra.
  • C. Colok dubur ulang dapat dilakukan untuk evaluasi klinis dan tidak menimbulkan risiko tambahan pada uretra.
  • D. Foto polos pelvis diperlukan untuk menilai fraktur pelvis dan tidak berisiko memperburuk cedera uretra.
  • E. Kateter vena sentral dapat dipasang bila diperlukan untuk akses vaskular dan tidak memengaruhi cedera uretra.
Poin penting: Darah pada meatus uretra, hematom skrotum berbentuk kupu-kupu, dan prostat melayang adalah tanda ruptur uretra posterior yang mengontraindikasikan pemasangan kateter uretra langsung.

Luka Bakar

4 soal
25

Seorang laki-laki usia 30 tahun dibawa ke IGD RS setelah terkena tumpahan air panas saat bekerja di dapur 1 jam yang lalu. Pada pemeriksaan ditemukan area kulit di lengan bawah kanan berwarna merah dengan bula berisi cairan jernih, terasa sangat nyeri, dan dasar luka tampak basah kemerahan. Tidak ditemukan area kehitaman atau kulit yang mengeras. Tanda vital dalam batas normal.

  1. ALuka bakar derajat III
  2. BLuka bakar derajat I
  3. CLuka bakar derajat II dalam
  4. DLuka bakar derajat II superfisial
  5. ELuka bakar derajat IV
Lihat jawaban
Jawaban: D. Luka bakar derajat II superfisial

Luka bakar derajat II superfisial (partial thickness superficial) mengenai epidermis dan sebagian dermis atas, ditandai dengan bula berisi cairan jernih, dasar luka merah muda dan basah, serta nyeri hebat karena ujung saraf sensorik masih intak. Derajat I hanya mengenai epidermis tanpa bula, berupa eritema tanpa bula. Derajat II dalam dasar lukanya lebih pucat dan nyeri berkurang karena kerusakan dermis lebih luas. Derajat III mengenai seluruh lapisan kulit sehingga kulit tampak putih seperti lilin atau hitam dan tidak nyeri karena ujung saraf rusak.

  • A. Derajat III memberikan gambaran kulit kaku, kering, berwarna putih seperti lilin atau hitam, dan tidak nyeri.
  • B. Derajat I tidak menimbulkan bula, hanya eritema dan nyeri ringan tanpa kerusakan dermis.
  • C. Derajat II dalam memberikan dasar luka yang lebih pucat dan sensasi nyeri berkurang, bukan nyeri hebat dengan dasar merah basah.
  • E. Derajat IV mengenai struktur lebih dalam seperti otot dan tulang, tidak sesuai gambaran klinis pada kasus.
Poin penting: Luka bakar derajat II superfisial ditandai bula berisi cairan jernih, dasar luka merah basah, dan nyeri hebat karena ujung saraf sensorik masih intak.
26

Seorang laki-laki usia 25 tahun dengan berat badan 60 kg mengalami luka bakar akibat kebakaran rumah 30 menit yang lalu. Setelah dilakukan penilaian menggunakan rule of nine, didapatkan luas luka bakar derajat II dan III sebesar 40% dari total luas permukaan tubuh. Pasien direncanakan resusitasi cairan kristaloid menggunakan formula Parkland.

  1. ATotal cairan 24 jam pertama 9.600 mL, separuh diberikan dalam 8 jam pertama sejak kejadian
  2. BTotal cairan 24 jam pertama 4.800 mL, separuh diberikan dalam 8 jam pertama sejak kejadian
  3. CTotal cairan 24 jam pertama 9.600 mL, seluruhnya diberikan merata selama 24 jam
  4. DTotal cairan 24 jam pertama 9.600 mL, separuh diberikan dalam 8 jam pertama sejak tiba di IGD
  5. ETotal cairan 24 jam pertama 14.400 mL, seluruhnya diberikan merata selama 24 jam
Lihat jawaban
Jawaban: A. Total cairan 24 jam pertama 9.600 mL, separuh diberikan dalam 8 jam pertama sejak kejadian

Formula Parkland menghitung kebutuhan cairan kristaloid (Ringer Laktat) 24 jam pertama sebesar 4 mL x berat badan (kg) x persentase luas luka bakar, sehingga pada kasus ini 4 x 60 x 40 = 9.600 mL. Separuh dari total volume diberikan dalam 8 jam pertama dan separuh sisanya dalam 16 jam berikutnya. Yang penting, waktu 8 jam pertama dihitung sejak saat terjadinya luka bakar, bukan sejak pasien tiba di rumah sakit, sehingga jika ada keterlambatan datang ke RS maka kecepatan tetesan harus disesuaikan untuk mengejar kekurangan volume.

  • B. Perhitungan volume ini salah karena hanya menggunakan faktor 2 mL/kg/%, bukan 4 mL/kg/% sesuai formula Parkland.
  • C. Pemberian merata selama 24 jam tidak sesuai formula Parkland yang mewajibkan separuh cairan diberikan lebih cepat dalam 8 jam pertama.
  • D. Perhitungan waktu 8 jam pertama harus dihitung sejak kejadian luka bakar, bukan sejak kedatangan di IGD, agar tidak terjadi keterlambatan resusitasi.
  • E. Volume ini terlalu besar dan pembagian merata 24 jam tidak sesuai prinsip pemberian separuh cairan dalam 8 jam pertama.
Poin penting: Formula Parkland menghitung cairan 24 jam pertama sebesar 4 mL x kgBB x %luas luka bakar, dengan separuh volume diberikan dalam 8 jam pertama dihitung sejak waktu kejadian.
27

Seorang laki-laki usia 40 tahun dibawa ke IGD setelah terjebak dalam kebakaran gudang tertutup selama kurang lebih 10 menit. Pada pemeriksaan ditemukan suara serak, batuk dengan dahak kehitaman, bulu hidung yang terbakar, serta jelaga di sekitar mulut dan hidung. Saturasi oksigen 97% dengan udara ruangan. Pasien tampak sedikit sesak dengan laju napas 24 kali/menit.

  1. AEdema paru kardiogenik
  2. BReaksi anafilaksis akibat asap
  3. CAspirasi pneumonia komunitas
  4. DCedera inhalasi jalan napas
  5. EPneumotoraks tension
Lihat jawaban
Jawaban: D. Cedera inhalasi jalan napas

Tanda kecurigaan cedera inhalasi jalan napas meliputi riwayat terjebak di ruangan tertutup saat kebakaran, suara serak, jelaga di sekitar wajah, mulut, atau hidung, bulu hidung yang terbakar, dan dahak berwarna kehitaman (sooty sputum). Saturasi oksigen yang masih normal tidak menyingkirkan cedera inhalasi karena pulse oximetry tidak dapat membedakan karboksihemoglobin dari oksihemoglobin. Kondisi ini berisiko tinggi mengalami edema jalan napas progresif sehingga memerlukan pemantauan jalan napas yang ketat dan pertimbangan intubasi dini.

  • A. Edema paru kardiogenik tidak dikaitkan dengan riwayat terjebak kebakaran, jelaga wajah, atau dahak kehitaman.
  • B. Anafilaksis ditandai urtikaria, angioedema, dan hipotensi, bukan jelaga wajah dan dahak kehitaman.
  • C. Aspirasi pneumonia komunitas tidak berkaitan dengan riwayat terjebak kebakaran dan tidak memberikan gambaran jelaga atau bulu hidung terbakar.
  • E. Pneumotoraks tension akan menimbulkan deviasi trakea, hilangnya suara napas sepihak, dan distres napas berat, tidak sesuai gambaran kasus.
Poin penting: Riwayat terjebak di ruangan tertutup, jelaga wajah, bulu hidung terbakar, suara serak, dan dahak kehitaman merupakan tanda kecurigaan kuat cedera inhalasi jalan napas.
28

Seorang perempuan usia 35 tahun datang ke puskesmas dengan luka bakar akibat tersiram minyak panas pada wajah dan leher sejak 2 jam yang lalu. Luas luka bakar diperkirakan 8% dari luas permukaan tubuh dengan gambaran bula dan kulit kemerahan basah. Tanda vital stabil, jalan napas bebas, tidak ada stridor. Dokter di puskesmas sudah memberikan resusitasi awal dan analgesik.

  1. AMerujuk ke rumah sakit karena luka bakar mengenai wajah
  2. BMerawat di puskesmas dengan kontrol ulang satu minggu lagi
  3. CMerujuk ke puskesmas lain untuk perawatan luka
  4. DMerujuk ke rumah sakit hanya jika timbul sesak napas
  5. EMerawat di puskesmas karena luas luka bakar kurang dari 10%
Lihat jawaban
Jawaban: A. Merujuk ke rumah sakit karena luka bakar mengenai wajah

Indikasi rujukan luka bakar ke fasilitas yang lebih tinggi antara lain luka bakar yang mengenai area khusus seperti wajah, tangan, kaki, genitalia, perineum, dan sendi-sendi besar karena berisiko menimbulkan gangguan fungsional dan kosmetik yang signifikan. Luas luka bakar pada kasus ini memang belum mencapai kriteria luas (>10% pada anak atau lansia, >15-20% pada dewasa), namun lokasi pada wajah dan leher tetap menjadi indikasi rujukan independen. Rujukan dilakukan setelah resusitasi awal dan stabilisasi di fasilitas primer, bukan menunggu komplikasi muncul.

  • B. Perawatan di puskesmas tidak sesuai karena lokasi wajah berisiko komplikasi fungsional dan kosmetik yang membutuhkan penanganan spesialistik.
  • C. Rujukan ke puskesmas lain tidak tepat karena kasus ini memerlukan fasilitas dengan kemampuan perawatan luka bakar area khusus yang lebih lengkap.
  • D. Menunggu timbulnya sesak napas berarti menunda rujukan hingga terjadi komplikasi berat yang dapat dicegah dengan rujukan dini.
  • E. Lokasi luka bakar pada wajah merupakan indikasi rujukan tersendiri terlepas dari luas luka bakar yang belum mencapai 10%.
Poin penting: Luka bakar yang mengenai wajah, tangan, kaki, genitalia, perineum, atau sendi besar merupakan indikasi rujukan ke rumah sakit terlepas dari luasnya.

Infeksi Bedah & Luka

5 soal
29

Seorang laki-laki usia 50 tahun akan menjalani operasi kolesistektomi elektif pukul 09.00. Dokter bedah merencanakan pemberian antibiotik profilaksis sefazolin intravena untuk mencegah infeksi luka operasi. Perawat anestesi menanyakan waktu pemberian yang paling tepat agar konsentrasi antibiotik dalam jaringan optimal saat insisi dilakukan.

  1. ASetelah operasi selesai di ruang pemulihan
  2. BSegera setelah insisi kulit dibuat
  3. CPada saat penutupan luka operasi
  4. D30-60 menit sebelum insisi kulit dilakukan
  5. E2 jam sebelum pasien masuk ke kamar operasi
Lihat jawaban
Jawaban: D. 30-60 menit sebelum insisi kulit dilakukan

Antibiotik profilaksis seperti sefazolin sebaiknya diberikan 30-60 menit sebelum insisi kulit agar kadar obat dalam jaringan dan serum mencapai konsentrasi optimal pada saat yang paling berisiko kontaminasi, yaitu saat insisi. Pemberian yang terlalu dini (misalnya 2 jam sebelum operasi) menyebabkan kadar obat sudah menurun saat insisi, sedangkan pemberian setelah insisi atau setelah operasi tidak memberikan perlindungan pada fase kritis kontaminasi. Dosis ulangan diberikan bila operasi berlangsung lebih dari waktu paruh obat atau terjadi perdarahan masif.

  • A. Pemberian setelah operasi selesai tidak memberikan perlindungan pada periode kontaminasi intraoperatif yang paling kritis.
  • B. Pemberian setelah insisi dibuat terlambat karena kontaminasi bakteri sudah dapat terjadi sebelum kadar obat adekuat tercapai.
  • C. Pemberian saat penutupan luka terlalu terlambat untuk mencegah kontaminasi yang terjadi selama proses operasi.
  • E. Pemberian 2 jam sebelum masuk kamar operasi menyebabkan kadar obat sudah menurun signifikan saat insisi dilakukan.
Poin penting: Antibiotik profilaksis bedah diberikan 30-60 menit sebelum insisi kulit untuk mencapai kadar jaringan optimal saat risiko kontaminasi tertinggi.
30

Seorang laki-laki usia 28 tahun datang ke IGD dengan luka tusuk di telapak kaki akibat menginjak paku berkarat saat bekerja di sawah 3 jam yang lalu. Luka tampak dalam, kotor, dengan jaringan di sekitarnya mengalami devitalisasi. Pasien mengaku tidak pernah mendapat imunisasi tetanus sejak dewasa dan tidak memiliki riwayat imunisasi dasar yang jelas.

  1. AAntibiotik metronidazol saja tanpa profilaksis tetanus
  2. BHuman tetanus immunoglobulin dan vaksin tetanus toksoid
  3. CObservasi tanpa profilaksis karena luka masih baru
  4. DVaksin tetanus toksoid saja tanpa immunoglobulin
  5. EHuman tetanus immunoglobulin saja tanpa vaksin
Lihat jawaban
Jawaban: B. Human tetanus immunoglobulin dan vaksin tetanus toksoid

Pada luka berisiko tinggi tetanus (luka kotor, dalam, dengan jaringan devitalisasi) pada pasien dengan status imunisasi tidak diketahui atau tidak lengkap, diberikan kombinasi human tetanus immunoglobulin (HTIG) untuk perlindungan pasif segera dan vaksin tetanus toksoid untuk membangun imunitas aktif jangka panjang. HTIG menetralkan toksin tetanus yang mungkin sudah terbentuk, sementara toksoid merangsang pembentukan antibodi oleh sistem imun pasien sendiri. Pemberian hanya salah satu komponen tidak memberikan perlindungan yang adekuat pada luka berisiko tinggi dengan status imunisasi tidak jelas.

  • A. Antibiotik tidak menggantikan kebutuhan profilaksis tetanus spesifik berupa toksoid dan immunoglobulin pada luka berisiko tinggi.
  • C. Observasi tanpa profilaksis tidak tepat karena luka tusuk kotor dengan jaringan devitalisasi tergolong luka berisiko tinggi tetanus.
  • D. Vaksin toksoid saja tidak memberikan perlindungan segera karena pembentukan antibodi memerlukan waktu, sedangkan luka ini berisiko tinggi dan status imunisasi tidak jelas.
  • E. Immunoglobulin saja hanya memberikan perlindungan pasif sementara tanpa membangun imunitas aktif jangka panjang.
Poin penting: Luka risiko tinggi tetanus dengan status imunisasi tidak diketahui memerlukan kombinasi human tetanus immunoglobulin dan vaksin tetanus toksoid.
31

Seorang laki-laki usia 55 tahun dengan riwayat diabetes mellitus datang ke IGD dengan luka pada tungkai bawah kiri yang memburuk cepat sejak 1 hari yang lalu setelah kecelakaan ringan. Pada pemeriksaan ditemukan nyeri hebat yang tidak sebanding dengan tampilan luka, kulit di sekitar luka berwarna kecoklatan dengan bula hemoragik, teraba krepitasi pada palpasi, serta tercium bau busuk khas. Suhu tubuh 38,9°C, tekanan darah 90/60 mmHg, frekuensi nadi 118 kali/menit.

  1. ADebridement bedah segera dan antibiotik spektrum luas
  2. BObservasi ketat dengan antibiotik oral rawat jalan
  3. CPemberian analgesik kuat dan rujuk rawat jalan bedah elektif
  4. DKompres hangat dan elevasi tungkai tanpa antibiotik
  5. EHiperbarik oksigen tunggal tanpa tindakan bedah
Lihat jawaban
Jawaban: A. Debridement bedah segera dan antibiotik spektrum luas

Gambaran klinis nyeri hebat tidak sebanding dengan tampilan luka, krepitasi akibat produksi gas oleh bakteri, bula hemoragik, dan bau busuk khas sangat mengarah pada gas gangren (clostridial myonecrosis) yang merupakan kedaruratan bedah. Tata laksana utama adalah debridement bedah segera dan agresif untuk membuang jaringan nekrotik serta mengendalikan sumber infeksi, dikombinasikan dengan antibiotik spektrum luas yang mencakup Clostridium perfringens seperti penisilin dosis tinggi dan klindamisin. Keterlambatan debridement meningkatkan risiko sepsis, kehilangan ekstremitas, dan kematian secara signifikan.

  • B. Observasi dengan antibiotik oral rawat jalan tidak adekuat untuk kondisi kedaruratan bedah dengan risiko sepsis dan nekrosis progresif.
  • C. Rujuk rawat jalan bedah elektif menunda penanganan kedaruratan yang dapat menyebabkan perburukan cepat dan kematian.
  • D. Kompres hangat dan elevasi tanpa antibiotik tidak mengatasi sumber infeksi bakteri yang mengancam jiwa.
  • E. Hiperbarik oksigen dapat menjadi terapi tambahan namun tidak boleh menggantikan debridement bedah segera sebagai tata laksana utama.
Poin penting: Gas gangren ditandai nyeri hebat tidak sebanding luka, krepitasi, bula hemoragik, dan bau busuk, memerlukan debridement bedah segera disertai antibiotik spektrum luas.
32

Seorang laki-laki, 52 tahun, penderita diabetes melitus tipe 2, dibawa ke IGD RS dengan nyeri hebat dan bengkak pada tungkai kanan sejak 2 hari yang memberat dengan cepat. Pemeriksaan tanda vital: tekanan darah 90/60 mmHg, frekuensi nadi 128 kali/menit, frekuensi napas 26 kali/menit, suhu 39,2°C. Pada tungkai kanan tampak kulit kemerahan dengan bula berisi cairan keruh, krepitasi pada palpasi, dan nyeri tekan yang jauh lebih hebat dibandingkan tampilan luka di permukaan kulit. Laboratorium: leukosit 22.000/µL, natrium 128 mmol/L, kreatinin 2,1 mg/dL, CRP 180 mg/L. Apakah tindakan yang paling tepat dilakukan segera setelah resusitasi awal?

  1. APemeriksaan CT scan tungkai untuk konfirmasi diagnosis sebelum tindakan apapun
  2. BDebridement bedah emergensi disertai antibiotik spektrum luas
  3. CRawat luka terbuka dengan kompres NaCl 0,9% dan evaluasi ulang setelah 48 jam
  4. DPemberian antibiotik spektrum luas dan observasi ketat tanda vital selama 24 jam
  5. EHiperbarik oksigen sebagai terapi tunggal untuk mengatasi infeksi jaringan lunak
Lihat jawaban
Jawaban: B. Debridement bedah emergensi disertai antibiotik spektrum luas

Pasien ini menunjukkan tanda klasik necrotizing fasciitis: nyeri yang tidak sesuai dengan tampilan klinis, krepitasi akibat gas jaringan, bula hemoragik/keruh, serta tanda sepsis (hipotensi, takikardia, leukositosis, hiponatremia, peningkatan kreatinin). Kondisi ini adalah kedaruratan bedah yang mengancam nyawa karena infeksi menyebar cepat sepanjang fascia dengan nekrosis jaringan progresif. Tata laksana definitif adalah debridement bedah emergensi untuk mengangkat seluruh jaringan nekrotik, dikombinasikan dengan antibiotik spektrum luas segera; keterlambatan debridement meningkatkan mortalitas secara signifikan. Pemeriksaan pencitraan hanya boleh dilakukan bila diagnosis belum pasti dan tidak boleh menunda tindakan bedah pada kasus yang jelas.

  • A. CT scan dapat menunda tindakan definitif pada kasus dengan tanda klinis yang sudah jelas mengarah ke necrotizing fasciitis.
  • C. Menunda tindakan bedah selama 48 jam sangat berisiko karena penyebaran infeksi sangat cepat dan dapat menyebabkan sepsis berat atau kematian.
  • D. Antibiotik saja tanpa debridement tidak akan mengatasi jaringan nekrotik yang menjadi sumber infeksi dan akan memperburuk prognosis.
  • E. Hiperbarik oksigen hanya sebagai terapi adjuvan, bukan pengganti debridement bedah.
Poin penting: Necrotizing fasciitis dengan tanda sepsis memerlukan debridement bedah emergensi segera setelah resusitasi, tidak boleh ditunda oleh pemeriksaan penunjang.
33

Seorang perempuan, 29 tahun, datang ke puskesmas dengan benjolan nyeri pada bokong kanan sejak 4 hari yang semakin membesar. Pemeriksaan tanda vital dalam batas normal. Status lokalis: benjolan berukuran 4x3 cm, hiperemis, teraba hangat, fluktuatif pada palpasi, dengan titik pus di tengahnya. Tidak ditemukan selulitis luas di sekitarnya maupun tanda sistemik. Apakah tata laksana awal yang paling tepat dilakukan di puskesmas?

  1. AKompres hangat dan observasi hingga abses pecah spontan
  2. BRujuk langsung ke rumah sakit untuk tindakan bedah mayor
  3. CAspirasi jarum halus untuk mengeluarkan isi abses
  4. DInsisi dan drainase abses
  5. EPemberian antibiotik oral selama 7 hari tanpa tindakan invasif
Lihat jawaban
Jawaban: D. Insisi dan drainase abses

Abses kulit yang sudah fluktuatif dengan pus terlokalisasi merupakan indikasi tata laksana insisi dan drainase (I&D) sebagai terapi lini pertama, karena antibiotik saja tidak dapat menembus kapsul abses secara efektif. Tindakan ini merupakan kompetensi dokter umum di puskesmas (SKDI level 4) dan dapat dilakukan dengan anestesi lokal, diikuti evakuasi pus dan pemasangan drain atau tampon bila perlu. Antibiotik sistemik hanya ditambahkan bila terdapat selulitis luas, tanda sistemik, atau pada pasien dengan komorbid imunokompromais. Abses yang ditangani adekuat dengan I&D umumnya tidak memerlukan rujukan kecuali terdapat komplikasi.

  • A. Menunggu pecah spontan memperpanjang morbiditas dan berisiko penyebaran infeksi.
  • B. Abses kulit sederhana tanpa komplikasi merupakan kompetensi dokter umum dan tidak memerlukan rujukan rutin.
  • C. Aspirasi jarum tidak adekuat untuk abses yang kental dan fluktuatif, insisi diperlukan untuk evakuasi pus secara tuntas.
  • E. Antibiotik tanpa drainase tidak efektif mengatasi kumpulan pus yang sudah terlokalisasi dalam kapsul abses.
Poin penting: Abses kulit yang fluktuatif ditatalaksana dengan insisi dan drainase sebagai terapi utama, merupakan kompetensi dokter umum di puskesmas.

Akut Abdomen

8 soal
34

Seorang laki-laki, 45 tahun, dibawa ke IGD RS dengan nyeri perut hebat seluruh lapangan abdomen sejak 6 jam yang lalu, muncul mendadak setelah sebelumnya mengalami nyeri ulu hati berulang selama beberapa bulan. Tanda vital: tekanan darah 100/70 mmHg, frekuensi nadi 118 kali/menit, frekuensi napas 28 kali/menit, suhu 38,0°C. Pemeriksaan abdomen: perut tampak datar dan tidak ikut bergerak saat bernapas, teraba keras seperti papan di seluruh regio, nyeri tekan dan nyeri lepas difus, bising usus tidak terdengar. Apakah tindakan yang paling tepat dilakukan segera setelah resusitasi cairan?

  1. AUSG abdomen ulang setiap 6 jam untuk menilai perburukan
  2. BPemasangan nasogastric tube dan puasa total tanpa tindakan bedah
  3. CPemberian antibiotik intravena dan observasi ketat 24 jam
  4. DEndoskopi saluran cerna atas untuk evaluasi sumber nyeri
  5. ELaparotomi eksplorasi emergensi
Lihat jawaban
Jawaban: E. Laparotomi eksplorasi emergensi

Pasien menunjukkan tanda klasik peritonitis generalisata berupa abdomen papan (defans muskular involunter difus), nyeri tekan dan nyeri lepas di seluruh regio, serta bising usus menghilang, didahului riwayat yang mengarah pada perforasi ulkus peptikum. Kondisi ini merupakan kedaruratan bedah abdomen yang mengancam nyawa akibat kontaminasi rongga peritoneum oleh isi saluran cerna, sehingga memerlukan laparotomi eksplorasi emergensi untuk mencari dan menutup sumber perforasi serta membersihkan rongga peritoneum. Penundaan tindakan bedah meningkatkan risiko sepsis dan syok septik.

  • A. Observasi dengan pencitraan berulang hanya menunda tindakan definitif yang sudah jelas diperlukan pada kondisi ini.
  • B. Nasogastric tube dan puasa hanya tindakan suportif, bukan definitif untuk peritonitis generalisata akibat perforasi.
  • C. Antibiotik saja tanpa kontrol sumber infeksi tidak akan mengatasi kontaminasi peritoneum yang terus berlangsung.
  • D. Endoskopi berisiko memperburuk perforasi dengan insuflasi udara dan tidak sesuai pada kondisi akut dengan tanda peritonitis.
Poin penting: Tanda defans muskular involunter difus dengan bising usus menghilang menunjukkan peritonitis generalisata yang merupakan indikasi laparotomi emergensi.
35

Seorang laki-laki, 50 tahun, datang ke IGD dengan nyeri perut hebat mendadak sejak 4 jam yang lalu, terutama di ulu hati yang kemudian menyebar ke seluruh perut. Pasien memiliki riwayat mengonsumsi obat anti inflamasi nonsteroid rutin untuk nyeri sendi. Tanda vital: tekanan darah 105/65 mmHg, frekuensi nadi 112 kali/menit, suhu 37,9°C. Pemeriksaan abdomen: defans muskular di seluruh regio, bising usus menurun. Apakah pemeriksaan penunjang awal yang paling tepat untuk mendukung diagnosis kerja pasien ini?

  1. AEndoskopi saluran cerna atas segera
  2. BCT scan abdomen tanpa kontras posisi supine
  3. CFoto polos abdomen posisi tegak atau left lateral decubitus
  4. DBarium swallow dengan kontras oral
  5. EUSG abdomen posisi supine
Lihat jawaban
Jawaban: C. Foto polos abdomen posisi tegak atau left lateral decubitus

Pasien dengan riwayat konsumsi OAINS rutin dan klinis peritonitis akut sangat mengarah pada perforasi gaster atau duodenum akibat ulkus peptikum. Pemeriksaan awal yang cepat, murah, dan tersedia luas untuk mendeteksi udara bebas intraperitoneal adalah foto polos abdomen posisi tegak (menunjukkan gambaran udara bebas subdiafragma) atau left lateral decubitus bila pasien tidak dapat berdiri. Udara bebas ini berasal dari kebocoran gas lambung/duodenum ke rongga peritoneum melalui lubang perforasi, dan temuan ini cukup untuk menegakkan diagnosis perforasi saluran cerna tanpa perlu kontras oral yang justru berisiko memperberat kontaminasi.

  • A. Endoskopi berisiko memperburuk perforasi akibat insuflasi udara dan dikontraindikasikan pada kecurigaan perforasi aktif.
  • B. CT scan lebih sensitif namun bukan pemeriksaan awal lini pertama karena waktu dan biaya lebih besar dibandingkan foto polos.
  • D. Kontras oral berisiko memperberat kontaminasi peritoneum melalui lubang perforasi dan bukan pemeriksaan awal yang dianjurkan.
  • E. USG kurang sensitif untuk mendeteksi udara bebas dibandingkan foto polos abdomen posisi tegak.
Poin penting: Foto polos abdomen posisi tegak atau left lateral decubitus adalah pemeriksaan awal untuk mendeteksi udara bebas subdiafragma pada kecurigaan perforasi saluran cerna atas.
36

Seorang perempuan, 40 tahun, dengan indeks massa tubuh 31 kg/m², datang ke puskesmas dengan nyeri perut kanan atas sejak 1 hari yang menjalar ke bahu kanan, disertai mual dan muntah setelah makan makanan berlemak. Tanda vital: tekanan darah 125/80 mmHg, frekuensi nadi 100 kali/menit, suhu 38,3°C. Pemeriksaan abdomen: nyeri tekan di kuadran kanan atas yang membuat pasien berhenti menarik napas dalam saat palpasi dilakukan di area tersebut. Apakah tata laksana awal yang paling tepat dilakukan di puskesmas sebelum merujuk pasien?

  1. APuasakan pasien, pasang jalur intravena untuk resusitasi cairan, dan berikan analgesik
  2. BBerikan obat golongan asam ursodeoksikolat oral untuk melarutkan batu
  3. CLakukan drainase perkutan kandung empedu di puskesmas
  4. DBerikan antiemetik oral saja dan pulangkan dengan edukasi diet rendah lemak
  5. ELakukan kolesistektomi segera di puskesmas sebelum dirujuk
Lihat jawaban
Jawaban: A. Puasakan pasien, pasang jalur intravena untuk resusitasi cairan, dan berikan analgesik

Pasien menunjukkan tanda Murphy positif (nyeri tekan kuadran kanan atas yang menyebabkan penghentian inspirasi dalam) disertai demam dan faktor risiko obesitas, mengarah pada kolesistitis akut. Di tingkat puskesmas, tata laksana awal yang sesuai kompetensi adalah stabilisasi berupa puasa untuk mengistirahatkan kandung empedu, resusitasi cairan intravena, serta pemberian analgesik untuk mengatasi nyeri, sebelum dirujuk ke fasilitas dengan kemampuan bedah untuk evaluasi lebih lanjut dan kemungkinan kolesistektomi. Tindakan definitif seperti kolesistektomi atau drainase perkutan bukan kompetensi puskesmas dan memerlukan fasilitas bedah serta pencitraan lanjutan.

  • B. Asam ursodeoksikolat digunakan untuk batu kolesterol kecil tanpa inflamasi akut, bukan untuk kolesistitis akut.
  • C. Drainase perkutan kandung empedu memerlukan fasilitas radiologi intervensi yang tidak tersedia di puskesmas.
  • D. Antiemetik saja tanpa stabilisasi dan rujukan tidak adekuat karena kolesistitis akut berisiko komplikasi seperti perforasi atau empiema.
  • E. Kolesistektomi adalah tindakan bedah definitif yang bukan kompetensi dan fasilitas puskesmas.
Poin penting: Tanda Murphy positif disertai demam mengarah pada kolesistitis akut yang memerlukan stabilisasi awal (puasa, cairan intravena, analgesik) sebelum rujukan ke fasilitas bedah.
37

Seorang perempuan, 48 tahun, datang ke IGD dengan nyeri perut kanan atas berulang sejak 3 hari, disertai mata dan kulit tampak kuning serta urine berwarna seperti teh pekat sejak 1 hari terakhir. Tidak ada demam. Pemeriksaan fisik: sklera ikterik, nyeri tekan ringan kuadran kanan atas tanpa tanda Murphy yang jelas. Laboratorium: bilirubin total 4,8 mg/dL, bilirubin direk 3,6 mg/dL, SGOT 45 U/L, SGPT 50 U/L, alkali fosfatase 320 U/L (nilai rujukan 40-150 U/L). Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?

  1. AKoledokolitiasis
  2. BHepatitis virus akut
  3. CKolelitiasis asimtomatik
  4. DKolangitis akut
  5. EKolesistitis akut tanpa komplikasi
Lihat jawaban
Jawaban: A. Koledokolitiasis

Pasien menunjukkan ikterus obstruktif dengan peningkatan bilirubin direk dominan dan alkali fosfatase yang meningkat tajam disertai transaminase hanya sedikit meningkat, pola yang khas untuk obstruksi duktus biliaris akibat batu yang bermigrasi ke duktus koledokus (koledokolitiasis). Berbeda dengan kolelitiasis sederhana yang batunya masih di kandung empedu dan biasanya tidak menyebabkan ikterus, pada koledokolitiasis batu menyumbat aliran bilier di duktus koledokus sehingga menimbulkan ikterus obstruktif, urine gelap (bilirubinuria), dan feses pucat. Tidak adanya demam atau tanda sepsis membedakannya dari kolangitis akut yang merupakan komplikasi infeksi akibat obstruksi bilier.

  • B. Hepatitis virus akut menunjukkan peningkatan transaminase (SGOT/SGPT) yang jauh lebih dominan dibandingkan alkali fosfatase.
  • C. Kolelitiasis asimtomatik tidak menimbulkan ikterus maupun peningkatan alkali fosfatase karena tidak ada obstruksi aliran bilier.
  • D. Kolangitis akut ditandai oleh trias Charcot (demam, ikterus, nyeri kuadran kanan atas) yang tidak lengkap pada pasien ini karena tidak ada demam.
  • E. Kolesistitis akut biasanya disertai tanda Murphy positif dan demam, serta tidak khas menimbulkan ikterus signifikan tanpa komplikasi.
Poin penting: Ikterus obstruktif dengan bilirubin direk dan alkali fosfatase meningkat dominan tanpa demam mengarahkan diagnosis koledokolitiasis, berbeda dari kolelitiasis yang tidak menimbulkan ikterus.
38

Seorang perempuan berusia 42 tahun datang ke IGD dengan nyeri perut hebat di epigastrium yang menjalar ke punggung sejak 10 jam yang lalu, disertai mual dan muntah berulang. Pasien memiliki riwayat konsumsi alkohol berat dan pernah dirawat karena batu kandung empedu. Pemeriksaan fisik: tekanan darah 110/70 mmHg, frekuensi nadi 102 x/menit, frekuensi napas 22 x/menit, suhu 37,8°C. Abdomen tampak distensi dengan nyeri tekan epigastrium dan bunyi usus menurun. Dokter ingin memastikan diagnosis dengan pemeriksaan laboratorium yang paling sensitif dan spesifik untuk kondisi ini.

  1. ALipase serum
  2. BC-reactive protein
  3. CAmilase serum
  4. DLeukosit darah lengkap
  5. ESGOT/SGPT
Lihat jawaban
Jawaban: A. Lipase serum

Lipase serum memiliki sensitivitas dan spesifisitas lebih tinggi dibandingkan amilase untuk diagnosis pankreatitis akut, karena lipase tetap meningkat lebih lama (hingga 8-14 hari) sementara amilase lebih cepat normal (3-5 hari) dan dapat meningkat pada kondisi non-pankreas seperti parotitis atau perforasi usus. Diagnosis pankreatitis akut menurut kriteria Atlanta revisi memerlukan dua dari tiga: nyeri perut khas, peningkatan lipase/amilase minimal 3 kali nilai normal atas, atau gambaran radiologis yang sesuai. Lipase lebih jarang memberikan hasil positif palsu sehingga menjadi pemeriksaan pilihan utama.

  • B. CRP berguna untuk menilai keparahan dan prognosis, bukan untuk diagnosis awal pankreatitis akut.
  • C. Amilase kurang spesifik karena dapat meningkat pada berbagai kondisi non-pankreas dan lebih cepat kembali normal.
  • D. Leukositosis bersifat non-spesifik dan dapat ditemukan pada berbagai kondisi inflamasi atau infeksi.
  • E. SGOT/SGPT menunjukkan kemungkinan etiologi bilier namun tidak digunakan untuk diagnosis pankreatitis itu sendiri.
Poin penting: Lipase serum merupakan pemeriksaan laboratorium dengan sensitivitas dan spesifisitas tertinggi untuk diagnosis pankreatitis akut dibandingkan amilase.
39

Seorang laki-laki berusia 58 tahun dengan riwayat operasi apendektomi 5 tahun yang lalu datang ke IGD dengan nyeri perut kolik hebat sejak 1 hari, disertai muntah berwarna kehijauan dan tidak dapat flatus sejak 12 jam. Pemeriksaan fisik: tekanan darah 100/60 mmHg, frekuensi nadi 110 x/menit, abdomen distensi dengan bunyi usus meningkat bernada tinggi (high-pitched). Dilakukan foto polos abdomen posisi tegak. Dokter ingin menginterpretasikan gambaran radiologis yang paling sesuai dengan kondisi klinis pasien saat ini.

  1. AGambaran kalsifikasi bentuk staghorn di regio renal
  2. BGambaran free air di bawah diafragma
  3. CGambaran dilatasi kolon dengan haustra yang jelas
  4. DGambaran air fluid level dan herring bone appearance pada usus halus
  5. EGambaran coffee bean sign di kuadran kiri bawah
Lihat jawaban
Jawaban: D. Gambaran air fluid level dan herring bone appearance pada usus halus

Pada obstruksi usus halus, foto polos abdomen posisi tegak menunjukkan dilatasi lengkung usus halus dengan air fluid level bertingkat (step ladder sign) serta gambaran herring bone atau valvula coniventes yang melintang penuh akibat distensi jejunum dan ileum proksimal. Riwayat operasi abdomen sebelumnya merupakan faktor risiko utama terjadinya adhesi yang menyebabkan obstruksi usus halus mekanik. Muntah kehijauan (bilious) dan bunyi usus meningkat bernada tinggi mendukung diagnosis obstruksi usus halus fase awal.

  • A. Kalsifikasi staghorn merupakan gambaran batu struvit pada pielum ginjal, tidak berkaitan dengan obstruksi usus.
  • B. Free air subdiafragma menunjukkan perforasi organ berlubang, bukan obstruksi sederhana.
  • C. Dilatasi kolon dengan haustra jelas lebih sesuai dengan obstruksi usus besar, bukan usus halus.
  • E. Coffee bean sign merupakan gambaran khas volvulus sigmoid, bukan obstruksi usus halus.
Poin penting: Obstruksi usus halus pada foto polos abdomen tegak khas menunjukkan air fluid level bertingkat dan gambaran herring bone akibat valvula coniventes yang teregang.
40

Seorang laki-laki berusia 65 tahun datang ke IGD dengan benjolan di lipat paha kanan yang tidak dapat dimasukkan kembali sejak 8 jam yang lalu, disertai nyeri hebat yang terus memberat, demam, dan muntah. Pemeriksaan fisik: tekanan darah 100/60 mmHg, frekuensi nadi 118 x/menit, suhu 38,6°C. Pada regio inguinal kanan teraba massa tegang, sangat nyeri tekan, dengan kulit di atasnya tampak eritema dan sedikit hangat. Dokter perlu segera menentukan kondisi yang mengharuskan tindakan operasi cito tanpa menunggu perbaikan konservatif.

  1. AHernia strangulata
  2. BHernia residivans tanpa komplikasi
  3. CHernia geser (sliding hernia) asimtomatik
  4. DHernia inkarserata reponibel
  5. EHernia reponibel simtomatik
Lihat jawaban
Jawaban: A. Hernia strangulata

Hernia strangulata terjadi ketika isi hernia yang terjepit mengalami gangguan suplai darah sehingga berisiko nekrosis, ditandai oleh nyeri hebat progresif, demam, takikardia, serta tanda lokal berupa eritema dan hangat pada kulit di atas benjolan, berbeda dengan hernia inkarserata sederhana yang hanya terjepit tanpa gangguan vaskular. Kondisi ini merupakan kegawatdaruratan bedah yang memerlukan operasi cito karena risiko perforasi dan sepsis intraabdomen. Tanda sistemik seperti demam dan takikardia pada kasus ini menunjukkan sudah terjadi iskemia atau nekrosis jaringan.

  • B. Hernia residivans tanpa komplikasi tidak menimbulkan nyeri hebat progresif disertai demam dan tanda iskemia.
  • C. Hernia geser asimtomatik tidak menimbulkan gejala akut maupun tanda inflamasi lokal.
  • D. Hernia inkarserata reponibel yang sebenarnya tanpa gangguan vaskular biasanya tidak disertai demam tinggi dan tanda eritema kulit seperti pada kasus ini.
  • E. Hernia reponibel simtomatik masih dapat dimasukkan kembali dan tidak menimbulkan tanda sistemik berat.
Poin penting: Hernia strangulata ditandai oleh nyeri hebat progresif disertai tanda sistemik (demam, takikardia) dan tanda lokal iskemia (eritema, hangat) akibat gangguan vaskular isi hernia, dan memerlukan operasi cito.
41

Seorang laki-laki berusia 50 tahun datang ke puskesmas dengan benjolan di lipat paha kiri yang muncul sejak 3 bulan terakhir, terutama saat mengangkat beban berat atau batuk, dan menghilang saat berbaring. Benjolan tidak nyeri dan dapat dimasukkan kembali dengan mudah oleh pasien sendiri. Pemeriksaan fisik: tanda vital dalam batas normal, teraba benjolan lunak di regio inguinal kiri yang membesar saat manuver Valsalva dan mudah direposisi, tanpa tanda nyeri tekan maupun eritema. Dokter puskesmas menegakkan diagnosis hernia inguinalis reponibel dan menentukan rencana tata laksana selanjutnya.

  1. AMerujuk pasien secara cito ke IGD rumah sakit untuk operasi segera
  2. BMelakukan observasi rawat jalan selama 6 bulan sebelum rujukan
  3. CMerujuk pasien secara elektif ke dokter bedah untuk tindakan herniorafi terjadwal
  4. DMelakukan reposisi manual lalu memberikan edukasi tanpa rujukan
  5. EMemberikan sabuk penyangga hernia (truss) sebagai terapi definitif
Lihat jawaban
Jawaban: C. Merujuk pasien secara elektif ke dokter bedah untuk tindakan herniorafi terjadwal

Hernia inguinalis reponibel tanpa tanda inkarserata atau strangulata merupakan kompetensi SKDI 3A bagi dokter umum, yaitu mampu membuat diagnosis klinis dan melakukan rujukan yang tepat, dalam hal ini rujukan elektif ke dokter bedah untuk tindakan herniorafi terjadwal karena risiko inkarserata tetap ada di kemudian hari. Operasi cito hanya diindikasikan bila terdapat tanda inkarserata atau strangulata seperti nyeri hebat, tidak dapat direposisi, atau tanda iskemia. Tindakan definitif hernia inguinalis adalah perbaikan bedah (hernioplasti/herniorafi), bukan terapi suportif semata.

  • A. Rujukan cito hanya diperlukan bila terdapat tanda inkarserata, strangulata, atau obstruksi, yang tidak ditemukan pada kasus ini.
  • B. Observasi berkepanjangan tanpa rujukan meningkatkan risiko terjadinya inkarserata atau strangulata yang bersifat darurat.
  • D. Hernia inguinalis tidak dapat ditangani tuntas hanya dengan reposisi manual karena defek pada dinding abdomen tetap ada dan berisiko kekambuhan atau komplikasi.
  • E. Truss hanya bersifat paliatif sementara dan bukan terapi definitif, karena tidak memperbaiki defek anatomis penyebab hernia.
Poin penting: Hernia inguinalis reponibel tanpa komplikasi ditangani dengan rujukan elektif ke dokter bedah untuk herniorafi terjadwal, sesuai kompetensi SKDI 3A dokter umum.

Kelainan Anorektal & Kolorektal

4 soal
42

Seorang perempuan berusia 38 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan terdapat benjolan di anus yang keluar saat mengejan ketika defekasi, namun dapat masuk kembali secara spontan tanpa perlu didorong. Benjolan kadang disertai sedikit darah segar pada tinja. Tidak ada nyeri hebat maupun riwayat benjolan yang sulit dimasukkan. Pemeriksaan rectal toucher dan inspeksi anus menunjukkan mukosa prolaps saat mengejan yang kembali masuk spontan setelah selesai mengejan, tanpa tanda trombosis. Dokter menentukan derajat hemoroid dan tata laksana awal yang paling sesuai.

  1. AHemoroid interna derajat I, tata laksana dengan hemoroidektomi segera
  2. BHemoroid interna derajat II, tata laksana dengan diet tinggi serat dan obat flebotonik
  3. CHemoroid eksterna trombosis, tata laksana dengan insisi dan evakuasi trombus
  4. DHemoroid interna derajat IV, tata laksana dengan reposisi manual dan rawat inap
  5. EHemoroid interna derajat III, tata laksana dengan rubber band ligation
Lihat jawaban
Jawaban: B. Hemoroid interna derajat II, tata laksana dengan diet tinggi serat dan obat flebotonik

Hemoroid interna derajat II ditandai dengan prolaps saat mengejan yang kembali masuk secara spontan tanpa bantuan manual, berbeda dengan derajat I yang tidak prolaps keluar anus, derajat III yang memerlukan reposisi manual, dan derajat IV yang prolaps permanen dan tidak dapat direposisi. Tata laksana lini pertama untuk derajat I dan II bersifat konservatif, meliputi modifikasi diet tinggi serat, cukup cairan, serta obat flebotonik untuk memperbaiki tonus vena dan mengurangi perdarahan. Tindakan invasif seperti rubber band ligation atau hemoroidektomi dicadangkan untuk derajat yang lebih berat atau yang gagal terapi konservatif.

  • A. Derajat I tidak mengalami prolaps sama sekali, dan hemoroidektomi segera tidak sesuai untuk derajat ringan yang masih dapat ditangani konservatif.
  • C. Tidak ditemukan tanda trombosis maupun lokasi eksterna pada kasus ini, sehingga diagnosis hemoroid eksterna trombosis tidak tepat.
  • D. Derajat IV bersifat prolaps permanen dan tidak dapat direposisi, berbeda dengan gambaran klinis pasien yang kembali spontan.
  • E. Pada kasus ini prolaps kembali spontan tanpa reposisi manual, sehingga bukan derajat III yang memerlukan reposisi manual.
Poin penting: Hemoroid interna derajat II ditandai prolaps saat mengejan yang kembali spontan, dan ditatalaksana awal secara konservatif dengan diet tinggi serat serta flebotonik.
43

Seorang laki-laki berusia 30 tahun datang ke puskesmas dengan nyeri hebat di anus seperti robek atau terbakar setiap kali buang air besar sejak 2 minggu, disertai sedikit darah segar yang melapisi permukaan tinja. Pasien memiliki riwayat konstipasi kronis dengan tinja keras. Nyeri berlangsung beberapa jam setelah defekasi dan membuat pasien takut untuk buang air besar. Inspeksi perianal menunjukkan robekan linear dangkal pada garis tengah posterior kanalis anal dengan spasme sfingter ani, tanpa tanda fistula atau abses. Dokter merencanakan tata laksana lini pertama yang sesuai.

  1. AAntibiotik spektrum luas oral selama 7 hari
  2. BDiet tinggi serat, pelunak tinja, dan salep nifedipin/nitrat topikal
  3. CRubber band ligation pada robekan kanalis anal
  4. DInsisi dan drainase segera di ruang tindakan puskesmas
  5. ESfinkterotomi lateral internal sebagai terapi lini pertama
Lihat jawaban
Jawaban: B. Diet tinggi serat, pelunak tinja, dan salep nifedipin/nitrat topikal

Fisura ani akut ditandai oleh nyeri hebat saat dan setelah defekasi akibat robekan linear mukosa kanalis anal, biasanya di garis tengah posterior, yang disebabkan oleh trauma dari tinja keras pada pasien konstipasi kronis. Tata laksana lini pertama bersifat konservatif, yaitu modifikasi diet tinggi serat dan cairan, pelunak tinja untuk mengurangi trauma ulang, serta salep topikal nifedipin atau nitrat (gliseril trinitrat) untuk merelaksasi sfingter ani interna dan memperbaiki aliran darah lokal sehingga mempercepat penyembuhan. Terapi bedah seperti sfinkterotomi hanya dipertimbangkan pada fisura kronis yang gagal dengan terapi konservatif adekuat.

  • A. Fisura ani bukan merupakan infeksi bakteri sehingga antibiotik tidak diindikasikan sebagai terapi utama.
  • C. Rubber band ligation digunakan untuk tata laksana hemoroid interna, bukan untuk fisura ani.
  • D. Insisi dan drainase diindikasikan untuk abses perianal, bukan untuk fisura ani yang merupakan robekan mukosa tanpa kumpulan nanah.
  • E. Sfinkterotomi lateral internal merupakan terapi untuk fisura kronis yang gagal dengan terapi konservatif, bukan lini pertama pada fisura akut.
Poin penting: Fisura ani akut ditatalaksana lini pertama secara konservatif dengan diet tinggi serat, pelunak tinja, dan salep topikal nifedipin/nitrat untuk merelaksasi sfingter ani.
44

Seorang laki-laki berusia 45 tahun datang ke IGD dengan nyeri hebat dan berdenyut di daerah sekitar anus sejak 4 hari, memberat dan disertai demam. Pemeriksaan fisik: tekanan darah 120/80 mmHg, frekuensi nadi 100 x/menit, suhu 38,9°C. Inspeksi perianal menunjukkan benjolan fluktuatif, hiperemis, dan sangat nyeri tekan di sebelah kanan anus dengan fluktuasi positif saat palpasi, tanpa adanya muara fistula pada kulit. Dokter IGD menentukan tindakan awal yang paling tepat sebelum pemberian terapi lain.

  1. APemberian antibiotik oral dosis tinggi tanpa tindakan drainase
  2. BObservasi rawat jalan dengan kompres hangat selama 1 minggu
  3. CPemberian analgetik kuat saja dan rujuk elektif ke poli bedah
  4. DFistulektomi segera pada saat yang sama
  5. EInsisi dan drainase abses segera
Lihat jawaban
Jawaban: E. Insisi dan drainase abses segera

Abses perianal merupakan kumpulan nanah akibat infeksi kelenjar anal yang menyumbat, ditandai oleh nyeri berdenyut, demam, serta benjolan fluktuatif dan hiperemis pada pemeriksaan fisik. Prinsip utama tata laksana abses adalah insisi dan drainase segera untuk mengeluarkan nanah dan mengurangi tekanan jaringan, karena antibiotik saja tidak dapat menembus kavitas abses secara adekuat. Antibiotik dapat diberikan sebagai terapi tambahan terutama pada pasien dengan tanda sistemik berat, selulitis luas, atau imunokompromais, namun bukan sebagai pengganti drainase.

  • A. Antibiotik saja tidak adekuat karena tidak dapat menembus kavitas abses secara efektif tanpa drainase mekanis.
  • B. Observasi tanpa drainase berisiko menyebabkan perluasan infeksi, sepsis, atau pembentukan fistula.
  • C. Menunda tindakan dengan hanya memberikan analgetik meningkatkan risiko komplikasi berat seperti sepsis perianal.
  • D. Fistulektomi dilakukan setelah proses akut abses teratasi dan jalur fistula sudah terbentuk jelas, bukan bersamaan dengan drainase abses akut.
Poin penting: Abses perianal ditatalaksana dengan insisi dan drainase segera sebagai tindakan utama, karena antibiotik tunggal tidak dapat menembus kavitas abses secara adekuat.
45

Seorang laki-laki berusia 58 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan perubahan pola defekasi sejak 3 bulan terakhir, kadang diare kadang konstipasi. Pasien juga mengeluh BAB bercampur darah segar dan lendir, serta berat badan turun 8 kg dalam 2 bulan tanpa sebab yang jelas. Pemeriksaan fisik didapatkan konjungtiva pucat dan teraba massa di regio iliaka kiri yang tidak nyeri tekan. Pemeriksaan colok dubur tidak teraba massa. Apakah pemeriksaan penunjang yang paling tepat untuk menegakkan diagnosis pada pasien ini?

  1. AUSG abdomen
  2. BCT scan abdomen dengan kontras
  3. CBarium enema
  4. DKolonoskopi dengan biopsi
  5. EPemeriksaan darah samar feses
Lihat jawaban
Jawaban: D. Kolonoskopi dengan biopsi

Pasien ini memiliki tanda alarm karsinoma kolorektal berupa perubahan pola defekasi, hematokezia, penurunan berat badan signifikan, anemia, dan teraba massa abdomen pada usia di atas 50 tahun. Kolonoskopi merupakan baku emas karena memungkinkan visualisasi langsung seluruh kolon serta pengambilan biopsi untuk konfirmasi histopatologi. CT scan dan USG berguna untuk staging setelah diagnosis histopatologi ditegakkan, bukan sebagai alat diagnosis awal. Pedoman nasional penatalaksanaan kanker kolorektal menempatkan kolonoskopi sebagai pemeriksaan utama pada pasien dengan tanda alarm.

  • A. USG abdomen tidak cukup sensitif untuk mendeteksi lesi mukosa kolon dan tidak dapat biopsi.
  • B. CT scan abdomen berguna untuk staging metastasis, bukan pemeriksaan awal penegak diagnosis.
  • C. Barium enema kurang sensitif dibanding kolonoskopi dan tidak dapat mengambil sampel biopsi.
  • E. Darah samar feses adalah alat skrining populasi, tidak menegakkan diagnosis definitif pada pasien simtomatik.
Poin penting: Pasien dengan tanda alarm (perubahan pola defekasi, hematokezia, penurunan berat badan, anemia, usia >50 tahun) wajib menjalani kolonoskopi dengan biopsi sebagai pemeriksaan penegak diagnosis karsinoma kolorektal.

Urologi Bedah

3 soal
46

Seorang laki-laki berusia 35 tahun datang ke IGD dengan nyeri pinggang kanan hebat yang menjalar ke arah selangkangan sejak 6 jam yang lalu, disertai mual dan tidak bisa diam karena kesakitan. Tidak didapatkan demam. Pemeriksaan tanda vital: tekanan darah 130/80 mmHg, nadi 96 x/menit, suhu 36,8°C. Pemeriksaan fisik didapatkan nyeri ketok costovertebral angle kanan positif. Urinalisis menunjukkan hematuria mikroskopik. Dokter mencurigai batu ureter. Apakah pemeriksaan pencitraan yang paling tepat untuk menegakkan diagnosis dan menentukan lokasi batu pada pasien ini?

  1. ABNO-IVP
  2. BCT urografi tanpa kontras
  3. CFoto polos abdomen (BNO)
  4. DUSG abdomen
  5. EMRI abdomen
Lihat jawaban
Jawaban: B. CT urografi tanpa kontras

CT urografi tanpa kontras (CT scan non-kontras) merupakan baku emas untuk diagnosis batu saluran kemih karena memiliki sensitivitas dan spesifisitas tertinggi, dapat mendeteksi batu radiolusen sekalipun, serta menentukan ukuran, lokasi, dan derajat obstruksi dengan akurat tanpa risiko reaksi kontras. BNO-IVP memerlukan kontras dan waktu pemeriksaan lebih lama, serta kontraindikasi pada gangguan fungsi ginjal atau alergi kontras. USG dan foto polos memiliki sensitivitas lebih rendah terutama untuk batu ureter. Pedoman urologi nasional dan internasional merekomendasikan CT urografi non-kontras sebagai modalitas pilihan pada kasus kolik renal akut.

  • A. BNO-IVP membutuhkan kontras, waktu lebih lama, dan berisiko pada gangguan ginjal, sudah bukan pilihan utama.
  • C. Foto polos abdomen hanya dapat mendeteksi batu radioopak dan kurang akurat menentukan lokasi pasti.
  • D. USG abdomen operator dependent dan kurang sensitif mendeteksi batu ureter tengah.
  • E. MRI abdomen tidak rutin digunakan untuk batu saluran kemih karena biaya tinggi dan ketersediaan terbatas.
Poin penting: CT urografi tanpa kontras merupakan pencitraan pilihan utama untuk mendiagnosis dan menentukan lokasi batu saluran kemih pada pasien dengan kolik renal akut.
47

Seorang laki-laki berusia 45 tahun dibawa ke IGD setelah mengalami kecelakaan lalu lintas dengan benturan pada daerah selangkangan. Pasien mengeluh tidak bisa berkemih sejak kejadian. Pemeriksaan fisik didapatkan jejas dan hematom pada perineum, serta terdapat darah menetes dari meatus uretra eksternum. Pemeriksaan colok dubur menunjukkan prostat teraba melayang (high-riding prostate). Buli-buli teraba penuh pada palpasi suprapubik. Apakah tindakan yang paling tepat dilakukan pada pasien ini?

  1. AKateterisasi intermiten menggunakan kateter kaku
  2. BPemasangan kateter uretra ukuran kecil dengan pelumas adekuat
  3. CDilatasi uretra sebelum pemasangan kateter
  4. DPemasangan sistostomi suprapubik
  5. EPemasangan kateter dengan bantuan guidewire
Lihat jawaban
Jawaban: D. Pemasangan sistostomi suprapubik

Temuan darah di meatus uretra, hematom perineum, dan prostat yang teraba melayang pada colok dubur merupakan tanda klasik ruptur uretra posterior akibat trauma, yang menjadi kontraindikasi absolut pemasangan kateter uretra karena berisiko memperberat kerusakan uretra dan membentuk jalur palsu. Pada kondisi ini, tindakan yang tepat adalah sistostomi suprapubik untuk mengalirkan urin sambil menunggu evaluasi uretra lebih lanjut dengan uretrografi retrograde. Pemasangan kateter uretra dalam bentuk apa pun, termasuk dengan guidewire atau dilatasi, tetap berisiko tinggi pada kecurigaan ruptur uretra.

  • A. Kateterisasi intermiten tetap melalui uretra sehingga berisiko sama memperberat trauma uretra.
  • B. Pemasangan kateter uretra meskipun ukuran kecil tetap kontraindikasi karena kecurigaan ruptur uretra posterior.
  • C. Dilatasi uretra pada kecurigaan ruptur dapat memperburuk robekan dan membentuk jalur palsu.
  • E. Penggunaan guidewire tidak mengubah risiko trauma lanjut pada uretra yang sudah ruptur.
Poin penting: Kecurigaan ruptur uretra pasca trauma (darah di meatus, hematom perineum, prostat melayang) merupakan kontraindikasi kateterisasi uretra dan memerlukan sistostomi suprapubik.
48

Seorang laki-laki berusia 68 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan sering terbangun malam hari untuk berkemih hingga 4 kali, pancaran urin lemah, dan rasa tidak lampias setelah berkemih sejak 1 tahun terakhir. Keluhan semakin memberat 2 bulan terakhir, dan pasien kini mengeluh tidak bisa berkemih sama sekali sejak tadi pagi disertai nyeri perut bawah. Pemeriksaan fisik didapatkan buli-buli teraba penuh setinggi umbilikus, nyeri tekan suprapubik. Pemeriksaan colok dubur didapatkan prostat membesar, kenyal, permukaan rata, tidak nyeri. Apakah tindakan yang paling tepat dilakukan oleh dokter di puskesmas?

  1. AMelakukan pemasangan kateter uretra untuk dekompresi, kemudian rujuk ke dokter spesialis urologi
  2. BMelakukan pungsi suprapubik dan observasi di puskesmas
  3. CMerujuk pasien tanpa tindakan awal ke rumah sakit tipe A
  4. DMemberikan analgetik dan menyarankan pasien banyak minum air
  5. EMemberikan alfa blocker oral dan edukasi kontrol 1 minggu lagi
Lihat jawaban
Jawaban: A. Melakukan pemasangan kateter uretra untuk dekompresi, kemudian rujuk ke dokter spesialis urologi

Pasien ini mengalami retensio urin akut akibat BPH yang merupakan kompetensi dokter umum untuk melakukan dekompresi awal dengan kateterisasi uretra (kompetensi SKDI level 4A untuk tindakan kedaruratan ini) sebelum merujuk ke spesialis urologi untuk penanganan definitif BPH, karena retensio urin akut pada BPH termasuk kondisi yang harus dirujuk ke layanan sekunder (kompetensi SKDI 3B untuk BPH). Alfa blocker tidak mengatasi retensio akut yang sudah terjadi. Pungsi suprapubik bukan tindakan standar yang tersedia di puskesmas untuk kondisi ini dan berisiko tanpa fasilitas yang adekuat.

  • B. Pungsi suprapubik bukan tindakan rutin di puskesmas dan lebih berisiko dibanding kateterisasi uretra.
  • C. Merujuk tanpa dekompresi awal menunda penanganan dan memperberat risiko komplikasi ginjal.
  • D. Analgetik dan hidrasi tidak mengatasi obstruksi saluran kemih yang menyebabkan retensio.
  • E. Alfa blocker tidak dapat mengatasi retensio urin akut yang sedang terjadi, pasien perlu dekompresi segera.
Poin penting: Retensio urin akut akibat BPH ditangani dengan kateterisasi dekompresi awal oleh dokter umum, diikuti rujukan ke spesialis urologi untuk tata laksana definitif.

Tumor & Benjolan Bedah Umum

2 soal
49

Seorang perempuan berusia 24 tahun datang dengan benjolan di payudara kiri yang disadari sejak 6 bulan lalu, tidak nyeri, dan tidak membesar. Pemeriksaan fisik didapatkan massa pada kuadran lateral atas payudara kiri berukuran 2x2 cm, konsistensi kenyal, permukaan rata, batas tegas, mobile terhadap jaringan sekitar, tidak terdapat retraksi kulit maupun puting, dan tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening aksila. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?

  1. AKista payudara
  2. BKarsinoma mammae invasif
  3. CFibroadenoma mammae
  4. DPapiloma intraduktal
  5. EMastitis granulomatosa
Lihat jawaban
Jawaban: C. Fibroadenoma mammae

Fibroadenoma mammae khas ditemukan pada perempuan usia muda (15-35 tahun) dengan karakteristik massa kenyal, batas tegas, permukaan rata, mobile, dan tidak nyeri, berbeda dengan karsinoma mammae yang biasanya keras, batas tidak tegas, terfiksasi pada jaringan sekitar, disertai retraksi kulit atau puting serta pembesaran kelenjar getah bening regional. Usia muda dan karakteristik massa yang jinak pada pasien ini sangat mendukung diagnosis fibroadenoma. Konfirmasi diagnosis dapat dilakukan dengan USG payudara dan bila perlu biopsi jarum halus (FNAB) atau core biopsy.

  • A. Kista payudara biasanya teraba fluktuatif dan dapat nyeri terutama saat siklus menstruasi, berbeda dengan konsistensi kenyal padat pada kasus ini.
  • B. Karsinoma mammae lebih sering pada usia lebih tua dengan massa keras, terfiksasi, dan disertai retraksi kulit atau limfadenopati yang tidak ditemukan di sini.
  • D. Papiloma intraduktal biasanya bermanifestasi dengan keluarnya cairan dari puting (nipple discharge), yang tidak dikeluhkan pasien.
  • E. Mastitis granulomatosa biasanya disertai tanda inflamasi seperti nyeri, kemerahan, dan kadang abses, tidak sesuai gambaran kasus.
Poin penting: Fibroadenoma mammae pada perempuan usia muda khas bermanifestasi sebagai massa kenyal, batas tegas, mobile, dan tidak nyeri, berbeda dengan karsinoma mammae yang keras dan terfiksasi.
50

Seorang perempuan berusia 45 tahun datang dengan benjolan di leher depan yang disadari membesar sejak 4 bulan terakhir. Pasien tidak mengeluh berdebar atau penurunan berat badan. Pemeriksaan fisik didapatkan nodul tiroid tunggal pada lobus kanan berukuran 2 cm, konsistensi keras, permukaan tidak rata, dan teraba terfiksasi pada jaringan sekitar saat pasien menelan. Teraba pula satu kelenjar getah bening di leher kanan berukuran 1 cm, kenyal, tidak nyeri. Pemeriksaan hormon tiroid dalam batas normal. Apakah pemeriksaan penunjang yang paling tepat untuk menentukan sifat nodul tersebut?

  1. ACT scan leher dengan kontras
  2. BUSG tiroid dengan Doppler
  3. CSidik tiroid (thyroid scan) dengan radioiodine
  4. DBiopsi aspirasi jarum halus (FNAB)
  5. EPemeriksaan kadar tiroglobulin serum
Lihat jawaban
Jawaban: D. Biopsi aspirasi jarum halus (FNAB)

Nodul tiroid dengan karakteristik mencurigakan malignansi seperti konsistensi keras, permukaan tidak rata, terfiksasi pada jaringan sekitar, serta disertai limfadenopati servikal merupakan indikasi kuat untuk dilakukan FNAB guna menentukan sifat sitologi nodul tersebut. FNAB merupakan pemeriksaan baku untuk membedakan nodul jinak dan ganas pada tiroid dengan akurasi tinggi dan merupakan prosedur minimal invasif. USG tiroid dapat membantu menilai karakteristik nodul dan memandu FNAB, tetapi tidak memberikan diagnosis sitologi definitif. Sidik tiroid lebih berguna pada kasus hipertiroidisme untuk menilai nodul fungsional, bukan untuk menentukan malignansi.

  • A. CT scan leher berguna untuk staging ekstensi tumor, bukan sebagai pemeriksaan awal penentu sifat nodul.
  • B. USG tiroid dapat menilai karakteristik morfologi nodul dan memandu biopsi, namun tidak memberikan diagnosis sitologi pasti.
  • C. Sidik tiroid berguna menilai nodul fungsional (toksik) pada hipertiroidisme, bukan untuk menyingkirkan malignansi pada nodul eutiroid.
  • E. Tiroglobulin digunakan untuk pemantauan pasca tiroidektomi pada kanker tiroid berdiferensiasi baik, bukan untuk diagnosis awal.
Poin penting: Nodul tiroid dengan tanda kecurigaan malignansi (keras, terfiksasi, permukaan tidak rata, disertai limfadenopati) memerlukan FNAB sebagai pemeriksaan penunjang utama untuk menentukan sifat sitologi.

Pertanyaan umum

Apakah ini soal asli UKMPPD?

Bukan. Ini soal latihan orisinal yang ditulis bergaya UKMPPD sesuai blueprint ujian. Setiap soal dikerjakan ulang oleh model kedua yang independen tanpa melihat kunci, dan soal dengan kunci yang diperdebatkan dihapus.

Bagaimana cara memakai soal bedah & kegawatdaruratan ini?

Kerjakan kuis dulu tanpa melihat jawaban, lalu baca pembahasan setiap soal yang salah atau ditebak. Poin penting di bawah setiap jawaban adalah hal yang perlu diingat.

Apakah soalnya gratis?

Ya. Semua soal, jawaban, dan pembahasan di halaman ini gratis tanpa perlu mendaftar.

Topik UKMPPD lainnya

UKMPPD diselenggarakan oleh Panitia Nasional UKMPPD. WhiteCoat Pro tidak berafiliasi dengan maupun didukung oleh lembaga tersebut. Semua soal adalah soal latihan orisinal: ditulis oleh tim editorial WhiteCoat Pro dengan bantuan AI dan diperiksa oleh model AI kedua yang independen, yang mengerjakan setiap soal tanpa melihat kunci; soal dengan kunci yang diperdebatkan dihapus. Ini bukan soal ujian asli. Untuk belajar, bukan saran medis.