Infeksi Saluran Kemih
6 soalSeorang perempuan, 24 tahun, datang ke puskesmas dengan keluhan nyeri saat berkemih dan sering buang air kecil sejak 2 hari yang lalu. Pasien juga merasa tidak tuntas setelah berkemih. Tidak ada demam maupun nyeri pinggang. Riwayat keputihan disangkal. Pemeriksaan fisik: suhu 36,8°C, tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 82 kali/menit. Nyeri ketok sudut kostovertebra tidak ada. Pemeriksaan ginekologis dalam batas normal. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?
- ASindrom kandung kemih interstisial
- BSistitis akut tanpa komplikasi
- CVaginitis bakterial
- DPielonefritis akut
- EUretritis gonokokal
Lihat jawaban
Gejala disuria, frekuensi, dan urgensi tanpa demam atau nyeri pinggang pada wanita muda yang aktif secara seksual tanpa kelainan anatomis sangat khas untuk sistitis akut tanpa komplikasi (ISK bawah). Tidak adanya demam dan nyeri ketok kostovertebra membedakannya dari pielonefritis akut yang melibatkan saluran kemih atas. Diagnosis klinis sistitis tanpa komplikasi dapat ditegakkan tanpa kultur urin rutin pada kasus sederhana seperti ini. Pemeriksaan ginekologis normal menyingkirkan penyebab vaginal atau serviks sebagai sumber gejala.
- A. Sindrom kandung kemih interstisial bersifat kronis dengan nyeri suprapubik berulang, bukan akut 2 hari.
- C. Vaginitis biasanya disertai keputihan abnormal dan gatal, bukan gejala saluran kemih bawah murni.
- D. Tidak ada demam maupun nyeri ketok kostovertebra yang menjadi ciri khas infeksi saluran kemih atas.
- E. Uretritis gonokokal lebih sering disertai riwayat kontak seksual berisiko dan discharge uretra purulen.
Seorang perempuan, 30 tahun, datang ke puskesmas dengan disuria, frekuensi berkemih meningkat, dan urgensi sejak 1 hari yang lalu. Tidak ada demam, nyeri pinggang, maupun riwayat alergi obat. Pasien tidak sedang hamil. Pemeriksaan fisik dalam batas normal. Urinalisis menunjukkan leukosit esterase positif dan nitrit positif. Dokter puskesmas memutuskan memberikan terapi antibiotik empiris sesuai pedoman nasional. Apakah pilihan antibiotik lini pertama yang paling tepat?
- AAmoxicillin
- BCiprofloxacin
- CNitrofurantoin
- DCeftriaxone
- EGentamisin
Lihat jawaban
Nitrofurantoin merupakan salah satu pilihan lini pertama untuk sistitis akut tanpa komplikasi menurut panduan praktik klinis karena efektivitasnya tinggi terhadap patogen uropatogenik tersering (E. coli) dengan risiko resistensi yang relatif rendah dibanding fluorokuinolon. Obat ini bekerja dengan mengganggu enzim bakteri dan sintesis protein, DNA, serta dinding sel bakteri, dan berkonsentrasi tinggi di urin sehingga efektif untuk infeksi saluran kemih bawah. Fluorokuinolon seperti ciprofloxacin disimpan untuk kasus yang lebih berat atau gagal terapi lini pertama guna mencegah resistensi. Pemilihan antibiotik empiris harus mempertimbangkan pola resistensi lokal dan prinsip stewardship antibiotik.
- A. Amoxicillin memiliki tingkat resistensi E. coli yang tinggi sehingga tidak direkomendasikan sebagai terapi empiris tunggal.
- B. Ciprofloxacin merupakan lini kedua, disimpan untuk kasus komplikasi atau kegagalan terapi awal guna mencegah resistensi fluorokuinolon.
- D. Ceftriaxone adalah antibiotik parenteral yang digunakan untuk infeksi berat seperti pielonefritis, bukan sistitis tanpa komplikasi.
- E. Gentamisin bersifat nefrotoksik dan diberikan parenteral, tidak sesuai untuk terapi oral sistitis ringan.
Seorang perempuan, 28 tahun, dibawa ke IGD dengan demam tinggi, menggigil, dan nyeri pinggang kanan sejak 1 hari yang lalu. Tiga hari sebelumnya pasien mengalami disuria dan frekuensi berkemih meningkat yang tidak diobati. Pemeriksaan fisik: suhu 39,2°C, tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 110 kali/menit. Nyeri ketok sudut kostovertebra kanan positif. Pemeriksaan abdomen tidak ada defans muskular. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?
- ASistitis akut
- BPielonefritis akut
- CKolik renal akibat batu ureter
- DApendisitis akut retrosekal
- EAbses tuboovarium
Lihat jawaban
Trias demam tinggi dengan menggigil, nyeri pinggang (flank pain), dan gejala saluran kemih bawah yang mendahuluinya sangat karakteristik untuk pielonefritis akut, yaitu infeksi yang telah naik ke parenkim ginjal. Nyeri ketok sudut kostovertebra positif menguatkan keterlibatan ginjal. Progresi dari sistitis yang tidak diobati menjadi gejala sistemik dengan demam menunjukkan penyebaran infeksi asendens dari kandung kemih ke ginjal. Diagnosis pielonefritis akut umumnya dapat ditegakkan secara klinis dan didukung oleh urinalisis serta kultur urin.
- A. Sistitis akut tidak disertai demam tinggi, menggigil, atau nyeri ketok kostovertebra.
- C. Kolik renal akibat batu biasanya bersifat nyeri hebat kolik tanpa demam tinggi kecuali disertai infeksi.
- D. Apendisitis retrosekal dapat menyebabkan nyeri pinggang tetapi tidak didahului gejala saluran kemih bawah khas dan biasanya disertai nyeri perut kanan bawah.
- E. Abses tuboovarium biasanya disertai nyeri pelvis dan riwayat keputihan, tidak khas nyeri ketok kostovertebra.
Seorang perempuan, 35 tahun, dibawa ke IGD dengan demam tinggi, mual, muntah, dan nyeri pinggang kiri sejak 2 hari yang lalu. Pasien tidak dapat mentoleransi makanan maupun minuman oral karena muntah terus-menerus. Pemeriksaan fisik: suhu 39,5°C, tekanan darah 90/60 mmHg, nadi 118 kali/menit, frekuensi napas 24 kali/menit. Nyeri ketok sudut kostovertebra kiri positif. Laboratorium: leukosit 18.500/µL. Urinalisis menunjukkan piuria dan bakteriuria. Apakah tata laksana awal yang paling tepat untuk pasien ini?
- ARujuk langsung untuk nefrektomi
- BPemberian antipiretik saja dan pemulangan pasien
- CRawat jalan dengan antibiotik oral dan kontrol 3 hari
- DObservasi di IGD tanpa antibiotik sambil menunggu hasil kultur
- ERawat inap dengan rehidrasi cairan intravena dan antibiotik parenteral
Lihat jawaban
Pasien ini menunjukkan tanda pielonefritis akut berat dengan tanda sepsis (hipotensi, takikardia, takipnea) dan intoleransi oral akibat muntah persisten, sehingga memerlukan rawat inap. Tata laksana awal mencakup resusitasi cairan intravena untuk mengatasi dehidrasi dan ancaman syok sepsis, serta pemberian antibiotik parenteral spektrum luas secara empiris sambil menunggu hasil kultur urin dan darah. Penundaan terapi dapat meningkatkan risiko urosepsis dan kerusakan ginjal permanen. Setelah perbaikan klinis dan kemampuan toleransi oral, terapi dapat dialihkan ke antibiotik oral sesuai hasil kultur.
- A. Nefrektomi tidak diindikasikan pada pielonefritis akut tanpa komplikasi struktural berat seperti abses besar atau nekrosis luas.
- B. Hanya memberikan antipiretik tanpa antibiotik dan cairan tidak mengatasi infeksi dan ancaman syok sepsis.
- C. Rawat jalan tidak sesuai karena pasien memiliki tanda sepsis dan tidak dapat mentoleransi obat oral akibat muntah.
- D. Menunda antibiotik pada kondisi yang mengarah ke sepsis meningkatkan risiko komplikasi berat dan kematian.
Seorang perempuan, 26 tahun, G1P0A0 usia kehamilan 16 minggu, datang untuk kontrol antenatal rutin. Pasien tidak mengeluhkan disuria, frekuensi berkemih meningkat, maupun nyeri pinggang. Pemeriksaan fisik dalam batas normal, tanda vital normal. Hasil kultur urin skrining rutin menunjukkan pertumbuhan Escherichia coli sebanyak 100.000 CFU/mL pada dua sampel urin porsin tengah berturut-turut. Apakah tata laksana yang paling tepat pada pasien ini?
- AObservasi dan ulang kultur urin 1 bulan kemudian tanpa terapi
- BBerikan antibiotik oral sesuai hasil sensitivitas selama 7 hari
- CTidak perlu terapi karena pasien asimtomatik
- DBerikan antibiotik parenteral rawat inap segera
- ERujuk untuk USG ginjal sebelum menentukan terapi
Lihat jawaban
Bakteriuria asimtomatik pada ibu hamil didefinisikan sebagai pertumbuhan bakteri ≥10⁵ CFU/mL organisme tunggal pada urin porsin tengah tanpa gejala klinis infeksi saluran kemih, dan harus diterapi karena meningkatkan risiko pielonefritis akut, persalinan prematur, dan berat badan lahir rendah jika dibiarkan. Terapi antibiotik oral yang aman untuk kehamilan diberikan berdasarkan hasil uji sensitivitas selama kurang lebih 7 hari. Berbeda dengan populasi umum, bakteriuria asimtomatik pada ibu hamil selalu memerlukan pengobatan, bukan hanya diobservasi. Kultur urin ulang dilakukan setelah terapi untuk memastikan eradikasi bakteri.
- A. Menunda terapi dengan hanya observasi meningkatkan risiko progresi menjadi pielonefritis akut selama kehamilan.
- C. Pada ibu hamil, bakteriuria asimtomatik tetap harus diterapi karena risiko komplikasi kehamilan yang signifikan.
- D. Antibiotik parenteral rawat inap tidak diperlukan karena pasien asimtomatik dan dapat diterapi rawat jalan dengan antibiotik oral.
- E. USG ginjal tidak diperlukan sebagai syarat memulai terapi pada bakteriuria asimtomatik tanpa kecurigaan kelainan struktural.
Seorang anak laki-laki, 2 tahun, dibawa orang tuanya ke poliklinik karena demam berulang disertai ISK yang telah terjadi tiga kali dalam 6 bulan terakhir, dikonfirmasi dengan kultur urin positif setiap episode. Riwayat demam tinggi tanpa fokus infeksi jelas pada setiap episode. Tidak ada riwayat kelainan kongenital yang diketahui sebelumnya. Pemeriksaan fisik dalam batas normal. Apakah pemeriksaan penunjang lanjutan yang paling tepat dilakukan pada anak ini untuk mengevaluasi kemungkinan kelainan anatomis saluran kemih?
- AUltrasonografi (USG) traktus urinarius dan sistouretrografi berkemih (VCUG)
- BCT scan abdomen dengan kontras
- CPielografi intravena (IVP)
- DSistoskopi diagnostik
- EMRI abdomen tanpa kontras
Lihat jawaban
Anak dengan ISK rekuren, terutama disertai demam berulang pada usia muda, memiliki risiko tinggi mengalami refluks vesikoureter (VUR) atau kelainan anatomis saluran kemih lain yang mendasari. USG traktus urinarius digunakan sebagai pemeriksaan awal non-invasif untuk menilai ukuran, struktur ginjal, dan tanda hidronefrosis atau skar ginjal. Sistouretrografi berkemih (voiding cystourethrography/VCUG) diperlukan untuk mengonfirmasi dan menentukan derajat refluks vesikoureter bila dicurigai berdasarkan klinis atau hasil USG. Kombinasi kedua pemeriksaan ini merupakan modalitas lini pertama yang direkomendasikan pada evaluasi ISK rekuren anak untuk mendeteksi kelainan struktural yang berisiko menyebabkan jejas ginjal permanen.
- B. CT scan abdomen dengan kontras memberikan radiasi tinggi dan bukan modalitas lini pertama pada evaluasi anak dengan ISK rekuren.
- C. Pielografi intravena sudah jarang digunakan dan telah digantikan oleh USG dan VCUG yang lebih aman untuk anak.
- D. Sistoskopi bersifat invasif dan tidak digunakan sebagai pemeriksaan penunjang awal untuk mendeteksi refluks vesikoureter.
- E. MRI abdomen tidak menjadi pilihan lini pertama karena biaya tinggi, akses terbatas, dan tidak optimal menilai refluks saat berkemih.
Glomerulonefritis & Sindrom Nefrotik/Nefritik
6 soalSeorang anak laki-laki berusia 7 tahun dibawa ke puskesmas dengan keluhan bengkak pada kelopak mata dan buang air kecil berwarna seperti teh sejak 3 hari. Riwayat nyeri tenggorokan dan demam 2 minggu sebelumnya yang tidak diobati tuntas. Pemeriksaan fisik: tekanan darah 130/90 mmHg, edema periorbita, tidak ada edema tungkai bermakna. Urinalisis menunjukkan hematuria, proteinuria +2, dan silinder eritrosit. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar komplemen C3 serum rendah dan titer antistreptolisin O (ASTO) meningkat.
- APielonefritis akut
- BNefropati IgA
- CGlomerulonefritis akut pascastreptokokus
- DSindrom nefrotik idiopatik
- EGlomerulonefritis membranoproliferatif primer
Lihat jawaban
Kombinasi riwayat infeksi faring 1-3 minggu sebelumnya, hematuria makroskopik (urin berwarna teh), hipertensi, edema periorbita, penurunan C3 yang transien, dan ASTO meningkat merupakan gambaran klasik glomerulonefritis akut pascastreptokokus (GNAPS) pada anak. GNAPS terjadi akibat deposit kompleks imun pada membran basalis glomerulus yang mengaktifkan jalur komplemen sehingga C3 menurun sementara. Diagnosis ditegakkan secara klinis berdasarkan riwayat infeksi, gejala sindrom nefritik akut, dan bukti infeksi streptokokus sebelumnya tanpa memerlukan biopsi ginjal pada kasus tipikal. Prognosis umumnya baik dengan penyembuhan spontan dalam beberapa minggu.
- A. Pielonefritis akut menunjukkan gejala disuria dan piuria, bukan hematuria dengan silinder eritrosit dan C3 rendah.
- B. Nefropati IgA biasanya tidak disertai penurunan C3 dan jeda infeksi-hematuria lebih singkat (sinfaringitik).
- D. Sindrom nefrotik idiopatik ditandai proteinuria masif dan edema anasarka tanpa hematuria glomerulus yang dominan, berbeda dari gambaran kasus ini.
- E. Glomerulonefritis membranoproliferatif primer tidak berkaitan langsung dengan riwayat faringitis akut dan ASTO meningkat seperti pada kasus ini.
Seorang anak perempuan berusia 4 tahun dibawa ke rumah sakit dengan bengkak seluruh tubuh yang memberat sejak 1 minggu. Pemeriksaan fisik menunjukkan edema anasarka dan asites. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan proteinuria masif (urin protein +4 dengan rasio protein-kreatinin urin tinggi), albumin serum 1,8 g/dL, dan kolesterol total 320 mg/dL. Dokter menjelaskan kepada keluarga bahwa seluruh manifestasi klinis ini berawal dari satu kelainan dasar pada filter ginjal.
- APeningkatan permeabilitas membran basalis glomerulus terhadap protein plasma
- BPeningkatan tekanan hidrostatik kapiler glomerulus akibat vasokonstriksi arteriol aferen
- CPeningkatan reabsorpsi natrium di tubulus distal akibat hiperaldosteronisme primer
- DPenurunan laju filtrasi glomerulus akibat obstruksi tubulus oleh silinder protein
- EKerusakan sel epitel tubulus proksimal yang menyebabkan kebocoran albumin ke urin
Lihat jawaban
Pada sindrom nefrotik, kelainan dasar terletak pada peningkatan permeabilitas membran basalis glomerulus (terutama akibat kerusakan podosit) terhadap protein plasma, yang menyebabkan proteinuria masif. Hipoalbuminemia yang terjadi menurunkan tekanan onkotik plasma sehingga cairan berpindah ke interstisial dan menimbulkan edema. Hati merespons hipoalbuminemia dengan meningkatkan sintesis protein termasuk lipoprotein, sehingga terjadi hiperlipidemia. Rangkaian proteinuria-hipoalbuminemia-edema-hiperlipidemia ini semuanya bermula dari kebocoran glomerulus, bukan kelainan tubulus atau hemodinamik ginjal.
- B. Vasokonstriksi arteriol aferen bukan mekanisme dasar sindrom nefrotik dan tidak menjelaskan kebocoran protein masif.
- C. Hiperaldosteronisme sekunder dapat terjadi akibat hipovolemia relatif pada sindrom nefrotik, tetapi bukan kelainan dasar penyebab proteinuria.
- D. Obstruksi tubulus oleh silinder protein bukan mekanisme primer sindrom nefrotik dan tidak menjelaskan proteinuria masif awal.
- E. Kelainan primer pada sindrom nefrotik terletak di glomerulus, bukan pada sel tubulus proksimal.
Seorang anak laki-laki berusia 5 tahun dibawa ke rumah sakit dengan edema periorbita dan tungkai yang memberat sejak 5 hari. Tidak ada riwayat hematuria atau hipertensi. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan proteinuria masif, albumin serum 1,9 g/dL, kolesterol total 310 mg/dL, fungsi ginjal dan komplemen C3 normal. Dokter menegakkan diagnosis sindrom nefrotik idiopatik episode pertama dan akan memulai terapi lini pertama sesuai pedoman.
- AFurosemid intravena dosis tinggi sebagai terapi utama tanpa kortikosteroid
- BMetilprednisolon pulse dosis tinggi intravena sebagai terapi lini pertama rutin
- CSiklofosfamid oral 2 mg/kgBB/hari selama 8 minggu tanpa steroid
- DPrednison oral 2 mg/kgBB/hari selama 4 minggu, dilanjutkan tappering off
- ESiklosporin oral 5 mg/kgBB/hari sebagai terapi inisial tunggal
Lihat jawaban
Terapi lini pertama sindrom nefrotik idiopatik episode pertama pada anak adalah kortikosteroid oral, yaitu prednison dengan dosis inisial 2 mg/kgBB/hari (maksimal 60 mg/hari) selama 4-6 minggu, diikuti tappering off secara bertahap sesuai pedoman nasional. Sebagian besar anak dengan sindrom nefrotik idiopatik bersifat steroid-sensitif (lesi minimal) dan akan mengalami remisi dengan terapi ini. Obat imunosupresan lain seperti siklofosfamid atau siklosporin hanya diberikan pada kasus steroid-resistant atau relaps sering, bukan sebagai terapi inisial. Diuretik dapat diberikan sebagai terapi suportif edema, tetapi bukan terapi definitif penyebab dasar penyakit.
- A. Diuretik hanya terapi suportif simtomatik, bukan terapi utama yang mengatasi penyebab dasar proteinuria.
- B. Metilprednisolon pulse intravena digunakan pada kasus tertentu yang resistan, bukan sebagai terapi rutin lini pertama episode pertama.
- C. Siklofosfamid bukan terapi lini pertama dan hanya digunakan pada kasus relaps sering atau steroid-dependent setelah gagal respons steroid.
- E. Siklosporin digunakan pada kasus steroid-resistant, bukan sebagai terapi inisial lini pertama.
Seorang anak perempuan berusia 6 tahun dengan riwayat sindrom nefrotik idiopatik datang ke rumah sakit dengan keluhan tungkai kiri bengkak mendadak, nyeri, dan kemerahan sejak 1 hari. Pasien sedang mengalami relaps dengan proteinuria masif dan albumin serum 1,5 g/dL. Pemeriksaan fisik menunjukkan edema asimetris tungkai kiri yang lebih hangat dan nyeri tekan dibandingkan tungkai kanan. Dokter mencurigai komplikasi trombotik akibat kondisi hiperkoagulabilitas yang mendasari sindrom nefrotik.
- APenurunan kadar fibrinogen plasma akibat kehilangan melalui urin
- BPeningkatan kadar protein C dan protein S akibat sintesis hati yang meningkat
- CPenurunan agregasi trombosit akibat hipoalbuminemia berat
- DKehilangan antitrombin III melalui urin akibat proteinuria masif
- EPeningkatan aktivitas fibrinolisis akibat peningkatan plasminogen bebas
Lihat jawaban
Hiperkoagulabilitas pada sindrom nefrotik terjadi akibat kehilangan protein antikoagulan bermolekul kecil seperti antitrombin III melalui urin akibat proteinuria masif, sehingga keseimbangan koagulasi bergeser ke arah protrombotik. Selain itu, hati meningkatkan sintesis faktor koagulasi (fibrinogen, faktor V, VIII) sebagai respons kompensasi terhadap hipoalbuminemia, sementara trombosit juga cenderung lebih reaktif. Kombinasi faktor-faktor ini meningkatkan risiko trombosis vena dalam, termasuk vena ekstremitas dan vena renalis, yang merupakan komplikasi serius sindrom nefrotik yang memerlukan kewaspadaan klinis dan terkadang profilaksis antikoagulan.
- A. Fibrinogen justru meningkat akibat sintesis hati yang kompensatorik, bukan menurun.
- B. Protein C dan S tidak meningkat secara bermakna dan bukan mekanisme utama hiperkoagulabilitas pada sindrom nefrotik.
- C. Trombosit pada sindrom nefrotik cenderung lebih reaktif dan mudah beragregasi, bukan menurun aktivitasnya.
- E. Aktivitas fibrinolisis justru menurun pada sindrom nefrotik, memperberat kondisi protrombotik.
Tiga pasien datang ke puskesmas dengan keluhan buang air kecil berwarna merah kecokelatan. Pasien pertama berusia 8 tahun dengan riwayat faringitis 10 hari sebelumnya, tekanan darah 128/85 mmHg, urinalisis menunjukkan hematuria dan silinder eritrosit dengan C3 rendah. Pasien kedua berusia 25 tahun dengan riwayat infeksi saluran napas atas 2 hari sebelumnya, tekanan darah normal, urinalisis menunjukkan hematuria dan silinder eritrosit dengan C3 normal. Pasien ketiga berusia 45 tahun dengan riwayat hemoptisis dan nyeri sendi, urinalisis menunjukkan hematuria, silinder eritrosit, dan proteinuria berat disertai penurunan fungsi ginjal cepat dalam beberapa minggu. Dokter menyimpulkan ketiganya mengalami sindrom nefritik akibat penyebab berbeda.
- APasien 1: nefropati IgA, pasien 2: GNAPS, pasien 3: sindrom nefrotik idiopatik
- BPasien 1: nefropati IgA, pasien 2: glomerulonefritis progresif cepat, pasien 3: GNAPS
- CPasien 1: GNAPS, pasien 2: nefropati IgA, pasien 3: glomerulonefritis progresif cepat
- DPasien 1: glomerulonefritis progresif cepat, pasien 2: GNAPS, pasien 3: nefropati IgA
- EPasien 1: GNAPS, pasien 2: sindrom nefrotik idiopatik, pasien 3: nefropati IgA
Lihat jawaban
Pasien pertama dengan jeda laten 1-3 minggu setelah faringitis, hipertensi, dan C3 rendah sesuai dengan GNAPS. Pasien kedua dengan hematuria yang timbul 1-3 hari setelah infeksi saluran napas atas (synpharyngitic) dan C3 normal sesuai dengan nefropati IgA, yang khas menunjukkan jeda waktu lebih singkat dibanding GNAPS. Pasien ketiga dengan penurunan fungsi ginjal cepat dalam beberapa minggu disertai manifestasi sistemik (hemoptisis, artralgia) menunjukkan glomerulonefritis progresif cepat yang sering berkaitan dengan vaskulitis sistemik seperti sindrom Goodpasture atau granulomatosis dengan poliangiitis. Silinder eritrosit pada ketiganya menegaskan asal glomerulus, bukan saluran kemih bawah.
- A. Jeda waktu dan kadar C3 pada kasus ini lebih sesuai dengan urutan GNAPS lalu IgA, bukan sebaliknya.
- B. Urutan penyebab ini tidak sesuai dengan gambaran klinis dan jeda waktu masing-masing pasien yang dijelaskan.
- D. Gambaran klinis pasien 1 dengan jeda laten dan C3 rendah lebih sesuai GNAPS, bukan glomerulonefritis progresif cepat.
- E. Sindrom nefrotik idiopatik tidak ditandai hematuria dan silinder eritrosit yang dominan sebagai gejala utama.
Seorang laki-laki berusia 22 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan buang air kecil berwarna merah kecokelatan sejak 1 hari. Dua hari sebelumnya pasien mengalami demam dan nyeri tenggorokan ringan yang membaik sendiri. Tidak ada riwayat edema atau hipertensi. Pemeriksaan fisik dalam batas normal, tekanan darah 118/76 mmHg. Urinalisis menunjukkan hematuria mikroskopik dengan silinder eritrosit dan proteinuria ringan (+1). Pasien mengatakan episode serupa pernah terjadi 6 bulan lalu setelah demam, yang kemudian menghilang sendiri dalam beberapa hari.
- AGlomerulonefritis progresif cepat
- BSindrom nefrotik idiopatik relaps
- CNefropati IgA
- DGlomerulonefritis akut pascastreptokokus
- EPielonefritis akut rekurens
Lihat jawaban
Nefropati IgA khas ditandai dengan episode hematuria makroskopik berulang yang timbul segera atau dalam 1-2 hari setelah infeksi saluran napas atas (synpharyngitic hematuria), berbeda dengan GNAPS yang memiliki jeda laten 1-3 minggu. Riwayat episode serupa sebelumnya yang menghilang spontan juga mendukung diagnosis ini karena nefropati IgA cenderung bersifat episodik dan rekuren. Proteinuria ringan dan fungsi ginjal normal pada episode ini konsisten dengan nefropati IgA derajat ringan. Diagnosis definitif memerlukan biopsi ginjal yang menunjukkan deposit IgA dominan di mesangium, namun secara klinis pola rekuren pascainfeksi saluran napas atas sangat sugestif.
- A. Glomerulonefritis progresif cepat ditandai penurunan fungsi ginjal progresif dalam minggu, tidak sesuai dengan episode berulang yang membaik spontan ini.
- B. Sindrom nefrotik idiopatik ditandai proteinuria masif dan edema, bukan hematuria berulang pascainfeksi saluran napas.
- D. GNAPS memiliki jeda laten 1-3 minggu setelah infeksi, bukan 1-2 hari seperti pada kasus ini, dan biasanya episode tunggal bukan rekuren.
- E. Pielonefritis akut menunjukkan gejala disuria, demam tinggi, dan nyeri pinggang dengan piuria, bukan hematuria glomerulus dengan silinder eritrosit.
Penyakit Ginjal Kronik & Komplikasinya
6 soalSeorang laki-laki, 58 tahun, memiliki riwayat hipertensi sejak 10 tahun dan rutin kontrol ke puskesmas. Hasil laboratorium menunjukkan kreatinin serum 2,1 mg/dL, dengan perhitungan estimasi laju filtrasi glomerulus (eLFG) menggunakan rumus CKD-EPI sebesar 38 mL/menit/1,73 m². Pemeriksaan urinalisis menunjukkan albuminuria persisten dengan rasio albumin-kreatinin urine 450 mg/g. Berdasarkan klasifikasi KDIGO/PERNEFRI, pasien ini termasuk penyakit ginjal kronik stadium berapa?
- AStadium 3b
- BStadium 3a
- CStadium 4
- DStadium 2
- EStadium 1
Lihat jawaban
Klasifikasi stadium PGK menurut KDIGO/PERNEFRI didasarkan pada nilai eLFG: stadium 1 (≥90), stadium 2 (60-89), stadium 3a (45-59), stadium 3b (30-44), stadium 4 (15-29), dan stadium 5 (<15 mL/menit/1,73 m²). Nilai eLFG pasien ini 38 mL/menit/1,73 m² berada pada rentang stadium 3b. Selain penurunan eLFG, pasien juga memiliki albuminuria kategori A3 (>300 mg/g) yang menunjukkan risiko progresi tinggi. Klasifikasi stadium PGK penting untuk menentukan tata laksana, frekuensi pemantauan, dan waktu rujukan ke nefrologi.
- B. Stadium 3a memerlukan eLFG 45-59 mL/menit/1,73 m², di atas nilai pasien.
- C. Stadium 4 memerlukan eLFG 15-29 mL/menit/1,73 m², lebih rendah dari nilai pasien saat ini.
- D. Stadium 2 memerlukan eLFG 60-89 mL/menit/1,73 m², lebih tinggi dari nilai pasien.
- E. Stadium 1 memerlukan eLFG ≥90 mL/menit/1,73 m² dengan kerusakan ginjal struktural, tidak sesuai nilai pasien.
Seorang laki-laki, 55 tahun, dengan riwayat diabetes melitus tipe 2 selama 15 tahun datang dengan edema tungkai dan proteinuria masif. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan HbA1c 9,5%, kreatinin serum 2,8 mg/dL, dan rasio albumin-kreatinin urine 2200 mg/g. Diabetes melitus merupakan etiologi tersering penyakit ginjal kronik di Indonesia. Apakah mekanisme patofisiologi utama yang menyebabkan kerusakan ginjal progresif pada kondisi ini?
- AVaskulitis pembuluh darah kecil ginjal akibat autoantibodi ANCA
- BInfiltrasi sel plasma monoklonal pada interstisium ginjal
- CHiperfiltrasi glomerulus akibat hiperglikemia kronik yang menyebabkan hipertrofi dan sklerosis glomerulus
- DDeposit kompleks imun pada membran basalis glomerulus yang memicu inflamasi
- EObstruksi saluran kemih berulang akibat neuropati otonom kandung kemih
Lihat jawaban
Pada nefropati diabetik, hiperglikemia kronik menyebabkan hiperfiltrasi glomerulus melalui peningkatan tekanan intraglomerulus, yang lama-kelamaan menimbulkan hipertrofi glomerulus, penebalan membran basalis, ekspansi mesangial, dan akhirnya glomerulosklerosis nodular (lesi Kimmelstiel-Wilson). Proses ini berlangsung progresif selama bertahun-tahun ditandai dengan albuminuria yang meningkat secara bertahap hingga mencapai nefropati overt dengan proteinuria masif dan penurunan fungsi ginjal. Diabetes melitus merupakan etiologi tersering PGK di Indonesia menurut data Indonesian Renal Registry (IRR), diikuti oleh hipertensi. Pengendalian glikemik dan tekanan darah yang baik dapat memperlambat progresi kerusakan ginjal.
- A. Vaskulitis ANCA-associated merupakan penyebab glomerulonefritis pauci-imun, bukan mekanisme nefropati diabetik.
- B. Infiltrasi sel plasma monoklonal khas pada multiple myeloma, bukan patofisiologi diabetes.
- D. Mekanisme ini khas pada glomerulonefritis akibat kompleks imun seperti lupus nefritis, bukan nefropati diabetik.
- E. Neuropati otonom dapat menyebabkan retensi urine tetapi bukan mekanisme utama kerusakan glomerulus pada diabetes.
Seorang perempuan, 50 tahun, dengan penyakit ginjal kronik stadium 4 (eLFG 22 mL/menit/1,73 m²) mengeluh lemas dan mudah lelah sejak 2 bulan. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan hemoglobin 8,2 g/dL, MCV 88 fL (normositik), feritin serum 250 ng/mL, saturasi transferin 28%, dan tidak ditemukan tanda perdarahan aktif. Kadar vitamin B12 dan asam folat normal. Apakah mekanisme utama yang mendasari anemia pada pasien ini?
- ADefisiensi besi fungsional akibat gangguan absorpsi besi di saluran cerna
- BHemolisis kronik akibat uremia yang merusak membran eritrosit
- CPenekanan sumsum tulang oleh toksin uremik yang bersifat langsung sitotoksik
- DPerdarahan saluran cerna kronik akibat uremia yang tidak terdeteksi
- EProduksi eritropoietin oleh sel interstisial peritubular ginjal yang menurun akibat kerusakan parenkim ginjal
Lihat jawaban
Anemia pada PGK bersifat normositik normokromik dan terutama disebabkan oleh penurunan produksi eritropoietin oleh sel interstisial peritubular ginjal akibat kerusakan parenkim ginjal yang progresif. Eritropoietin diperlukan untuk merangsang eritropoiesis di sumsum tulang, sehingga defisiensinya menyebabkan penurunan produksi eritrosit meski cadangan besi cukup, seperti tercermin dari feritin dan saturasi transferin yang normal pada kasus ini. Diagnosis anemia akibat defisiensi eritropoietin ditegakkan setelah menyingkirkan penyebab anemia lain seperti defisiensi besi, B12, asam folat, atau perdarahan. Tata laksana definitif meliputi pemberian agen stimulasi eritropoiesis setelah status besi dikoreksi bila perlu.
- A. Profil besi pasien (feritin dan saturasi transferin) menunjukkan cadangan besi yang cukup, bukan defisiensi.
- B. Hemolisis bukan mekanisme utama anemia pada PGK dan tidak sesuai dengan profil laboratorium pasien.
- C. Toksin uremik dapat berkontribusi minor namun bukan mekanisme utama; defisiensi eritropoietin adalah penyebab primer.
- D. Tidak ada tanda klinis maupun laboratorium yang mendukung perdarahan saluran cerna pada kasus ini.
Seorang laki-laki, 47 tahun, dengan penyakit ginjal kronik stadium 5 yang menjalani hemodialisis rutin mengeluh nyeri tulang dan sendi sejak 3 bulan. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kalsium serum 8,2 mg/dL, fosfat serum 6,8 mg/dL, dan kadar hormon paratiroid (PTH) intact 850 pg/mL (nilai normal 15-65 pg/mL). Rontgen tulang menunjukkan resorpsi subperiosteal pada falang. Apakah pilihan tata laksana yang paling tepat untuk mengatasi kondisi hiperparatiroidisme sekunder pada pasien ini?
- APemberian suplementasi kalsium karbonat dosis tinggi tanpa pembatasan fosfat
- BPemberian bifosfonat intravena untuk menghambat resorpsi tulang
- CPemberian kalsitriol atau analog vitamin D aktif disertai pengikat fosfat
- DPemberian hormon paratiroid rekombinan untuk regulasi balik negatif
- EPemberian kalsitonin subkutan untuk menurunkan kadar PTH
Lihat jawaban
Hiperparatiroidisme sekunder pada PGK terjadi akibat hiperfosfatemia, defisiensi kalsitriol (bentuk aktif vitamin D), dan hipokalsemia yang merangsang sekresi PTH berlebihan oleh kelenjar paratiroid, menyebabkan osteodistrofi ginjal seperti osteitis fibrosa. Tata laksana lini pertama meliputi pembatasan fosfat diet, pemberian pengikat fosfat (seperti kalsium karbonat atau sevelamer) untuk menurunkan hiperfosfatemia, serta kalsitriol atau analog vitamin D aktif untuk menekan sekresi PTH dan mengoreksi hipokalsemia. Pemantauan kadar kalsium, fosfat, dan PTH secara berkala diperlukan untuk mencegah kalsifikasi metastatik akibat produk kalsium-fosfat yang berlebihan.
- A. Kalsium tanpa pembatasan fosfat berisiko meningkatkan produk kalsium-fosfat dan memicu kalsifikasi metastatik.
- B. Bifosfonat tidak direkomendasikan rutin pada osteodistrofi ginjal karena risiko akumulasi dan toksisitas pada gangguan fungsi ginjal.
- D. Pemberian PTH eksogen akan memperburuk hiperparatiroidisme, bukan menguranginya.
- E. Kalsitonin tidak digunakan sebagai terapi standar untuk hiperparatiroidisme sekunder pada PGK.
Seorang perempuan, 62 tahun, dengan penyakit ginjal kronik stadium 5 (eLFG 9 mL/menit/1,73 m²) datang ke IGD dengan sesak napas yang semakin memberat sejak 2 hari dan mual muntah berulang. Pemeriksaan fisik: frekuensi napas 32x/menit, SpO2 90% dengan udara ruangan, ronki basah halus di kedua basal paru, edema tungkai +3. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kalium serum 5,2 mEq/L, ureum 180 mg/dL, kreatinin 9,8 mg/dL, dan bikarbonat 16 mEq/L. Rontgen toraks menunjukkan edema paru bilateral. Apakah tindakan yang paling tepat dilakukan selanjutnya?
- AInisiasi hemodialisis darurat segera
- BPemberian diuretik furosemid dosis tinggi intravena dan observasi respons
- CPemberian oksigen nasal kanul dan rujuk rawat jalan poli nefrologi
- DPemberian kalsium glukonat intravena untuk stabilisasi membran sel
- EPemberian natrium bikarbonat intravena untuk koreksi asidosis metabolik
Lihat jawaban
Pasien ini menunjukkan tanda kelebihan cairan refrakter berupa edema paru dengan hipoksemia yang merupakan salah satu indikasi absolut dimulainya terapi pengganti ginjal darurat pada PGK stadium akhir, selain hiperkalemia berat, asidosis metabolik berat, perikarditis uremik, dan ensefalopati uremik. Pada kondisi overload cairan dengan edema paru yang mengancam jiwa, hemodialisis darurat memberikan koreksi cairan dan elektrolit yang lebih cepat dan efektif dibandingkan terapi medikamentosa saja. Diuretik seringkali tidak efektif pada PGK stadium akhir karena fungsi ginjal yang sangat rendah. Keputusan memulai hemodialisis tidak boleh ditunda karena risiko gagal napas dan kematian.
- B. Diuretik seringkali tidak efektif pada eLFG serendah ini dan tidak boleh menunda terapi definitif yang mengancam jiwa.
- C. Kondisi edema paru dengan hipoksemia memerlukan terapi definitif segera, bukan rujukan rawat jalan.
- D. Kalsium glukonat digunakan untuk hiperkalemia berat dengan perubahan EKG, bukan tata laksana utama pada kasus ini.
- E. Koreksi asidosis saja tidak mengatasi kelebihan cairan dan edema paru yang mengancam jiwa.
Seorang laki-laki, 60 tahun, dengan penyakit ginjal kronik stadium 3b (eLFG 32 mL/menit/1,73 m²) yang belum menjalani dialisis datang kontrol rutin ke poliklinik. Pasien dalam kondisi stabil tanpa edema bermakna, tidak oliguria, dan tidak ada tanda malnutrisi. Berat badan 65 kg. Apakah anjuran pembatasan asupan protein harian yang paling tepat untuk memperlambat progresi penyakit ginjal kronik pada pasien ini?
- A0,2-0,4 gram/kgBB/hari untuk meminimalkan beban nitrogen ginjal
- B0,6-0,8 gram/kgBB/hari dengan protein bernilai biologi tinggi
- CTidak perlu pembatasan protein selama pasien belum menjalani dialisis
- D1,2-1,5 gram/kgBB/hari untuk mencegah malnutrisi
- E1,8-2,0 gram/kgBB/hari seperti pada individu sehat aktif
Lihat jawaban
Pada PGK pradialisis (stadium 3-5 yang belum dialisis) tanpa malnutrisi, pembatasan asupan protein sekitar 0,6-0,8 gram/kgBB/hari dengan proporsi protein bernilai biologi tinggi (seperti telur, ikan, daging) direkomendasikan untuk mengurangi beban kerja filtrasi glomerulus dan memperlambat progresi penurunan fungsi ginjal. Pembatasan ini harus disertai pemantauan status nutrisi secara berkala karena restriksi protein berlebihan berisiko menyebabkan malnutrisi energi protein. Selain protein, pembatasan cairan disesuaikan dengan status volume dan jumlah urine pasien, biasanya dihitung dari jumlah urine 24 jam ditambah insensible water loss. Edukasi diet merupakan bagian penting pencegahan progresi PGK pada layanan primer maupun sekunder.
- A. Pembatasan protein seekstrem ini berisiko tinggi menyebabkan malnutrisi energi protein.
- C. Tanpa pembatasan, beban filtrasi glomerulus tetap tinggi dan progresi penurunan fungsi ginjal dapat lebih cepat.
- D. Asupan protein setinggi ini melebihi kebutuhan dan dapat memperberat hiperfiltrasi glomerulus pada PGK pradialisis.
- E. Asupan protein ini jauh melebihi anjuran untuk PGK pradialisis dan dapat mempercepat progresi penyakit.
Cedera Ginjal Akut
3 soalSeorang laki-laki berusia 62 tahun mengalami syok hipovolemik akibat perdarahan saluran cerna selama 2 hari sebelum mendapat resusitasi cairan adekuat. Pasien kemudian mengalami penurunan produksi urine disertai peningkatan kreatinin serum dari 0,9 mg/dL menjadi 3,5 mg/dL. Pemeriksaan sedimen urine menunjukkan silinder granular berpigmen gelap (silinder sel epitel tubulus). Apakah mekanisme utama yang mendasari kerusakan ginjal pada kondisi ini?
- AInfiltrasi sel inflamasi eosinofilik pada interstisium ginjal akibat reaksi hipersensitivitas
- BDeposisi kompleks imun pada membran basalis glomerulus yang memicu respons inflamasi
- CVasokonstriksi arteriol aferen akibat penghambatan sintesis prostaglandin ginjal
- DObstruksi tubulus distal oleh kristal akibat presipitasi zat endogen
- EIskemia menyebabkan kematian sel epitel tubulus dengan pelepasan sel ke lumen tubulus yang menyumbat aliran filtrat
Lihat jawaban
Syok hipovolemik berkepanjangan menyebabkan iskemia berat pada sel epitel tubulus, terutama di segmen S3 tubulus proksimal dan segmen tebal ansa Henle yang rentan terhadap hipoksia. Sel yang mengalami nekrosis terlepas dari membran basalis dan masuk ke lumen tubulus, membentuk silinder yang menyumbat aliran filtrat dan menyebabkan tekanan intratubular meningkat sehingga laju filtrasi glomerulus menurun (mekanisme back-leak dan obstruksi tubular). Proses ini mendasari terjadinya nekrosis tubular akut tipe iskemik, berbeda dari tipe nefrotoksik yang merusak sel tubulus secara langsung melalui toksin. Temuan silinder granular berpigmen pada sedimen urine merupakan ciri khas nekrosis tubular akut.
- A. Infiltrasi eosinofilik interstisial merupakan mekanisme nefritis interstisial akut alergi, berbeda dari proses iskemik pada kasus ini.
- B. Deposisi kompleks imun pada glomerulus merupakan mekanisme glomerulonefritis, bukan nekrosis tubular akut iskemik.
- C. Vasokonstriksi akibat penghambatan prostaglandin adalah mekanisme AKI prarenal fungsional terkait OAINS, bukan nekrosis tubular akut yang sudah terjadi.
- D. Obstruksi oleh kristal endogen seperti pada sindrom lisis tumor tidak sesuai dengan konteks klinis syok hipovolemik pada pasien ini.
Seorang laki-laki berusia 70 tahun dibawa ke IGD dengan keluhan tidak dapat berkemih sejak 18 jam disertai nyeri perut bawah hebat. Pasien memiliki riwayat kesulitan berkemih progresif sejak 1 tahun terakhir. Pemeriksaan fisik menunjukkan distensi buli-buli teraba hingga setinggi umbilikus dan nyeri tekan suprapubik. Pemeriksaan colok dubur menunjukkan prostat membesar, kenyal, dan licin. Kreatinin serum 3,8 mg/dL. Apakah tindakan awal yang paling tepat dilakukan pada pasien ini?
- ARujuk untuk tindakan transurethral resection of the prostate (TURP) segera
- BPemasangan kateter uretra untuk dekompresi buli-buli
- CPemberian tamsulosin per oral untuk relaksasi otot polos prostat
- DPemasangan nefrostomi perkutan bilateral
- EPemeriksaan USG abdomen untuk konfirmasi hidronefrosis bilateral
Lihat jawaban
Pasien mengalami retensi urine akut akibat obstruksi saluran keluar kandung kemih oleh pembesaran prostat, yang menyebabkan AKI pascarenal ditandai peningkatan kreatinin serum. Tindakan awal yang paling tepat dan segera adalah dekompresi kandung kemih melalui pemasangan kateter uretra, yang akan segera mengurangi tekanan intravesika dan memperbaiki aliran urine sehingga fungsi ginjal dapat membaik. Pemeriksaan pencitraan dan terapi definitif seperti TURP dilakukan setelah dekompresi awal dan stabilisasi pasien. Pada AKI pascarenal, menghilangkan obstruksi adalah prinsip utama tata laksana dan harus dilakukan secepat mungkin.
- A. TURP adalah terapi definitif jangka panjang yang dilakukan setelah pasien stabil, bukan tindakan awal pada kondisi gawat darurat ini.
- C. Tamsulosin tidak memberikan efek cepat untuk mengatasi retensi urine akut yang sudah terjadi dan tidak menggantikan kebutuhan dekompresi segera.
- D. Nefrostomi perkutan diindikasikan pada obstruksi saluran kemih atas, bukan obstruksi akibat pembesaran prostat yang menyumbat uretra.
- E. Pencitraan dapat dilakukan namun bukan prioritas utama ketika diagnosis klinis retensi urine akut sudah jelas dan tindakan dekompresi harus segera dilakukan.
Seorang laki-laki berusia 55 tahun dirawat dengan AKI akibat sepsis. Pada hari ketiga perawatan, pasien mengalami sesak napas berat dan edema paru pada pemeriksaan foto toraks. Tekanan darah 170/100 mmHg, frekuensi napas 32 kali/menit, saturasi oksigen 88% dengan oksigen masker 10 liter/menit. Produksi urine dalam 6 jam terakhir hanya 20 mL meskipun telah diberikan furosemid dosis tinggi intravena. Apakah tindakan yang paling tepat dilakukan selanjutnya pada pasien ini?
- APemberian nitrogliserin intravena untuk menurunkan preload
- BPemberian dopamin dosis rendah untuk memperbaiki perfusi ginjal
- CObservasi balans cairan ketat dengan restriksi cairan oral
- DHemodialisis emergensi
- EMenambah dosis furosemid intravena
Lihat jawaban
Pasien mengalami kelebihan cairan refrakter dengan edema paru dan gagal napas yang tidak responsif terhadap diuretik dosis tinggi, salah satu indikasi mutlak dialisis emergensi pada AKI selain asidosis metabolik berat, hiperkalemia berat, dan uremia simtomatik. Ultrafiltrasi melalui hemodialisis dapat mengeluarkan cairan berlebih secara cepat dan efektif, mengatasi edema paru yang mengancam jiwa ini. Menunggu respons diuretik lebih lanjut atau terapi medikamentosa lain hanya akan memperlambat koreksi kondisi gawat darurat ini. Prinsip ini tercakup dalam kriteria AEIOU (Acidosis, Electrolyte, Intoxication, Overload cairan, Uremia) sebagai indikasi dialisis pada AKI.
- A. Nitrogliserin dapat membantu sementara namun tidak mengatasi kelebihan cairan secara definitif pada pasien dengan fungsi ginjal yang sudah sangat menurun.
- B. Dopamin dosis rendah tidak terbukti memperbaiki fungsi ginjal atau outcome pada AKI dan tidak mengatasi kegawatan edema paru saat ini.
- C. Observasi dan restriksi cairan tidak memadai untuk mengatasi edema paru akut dengan gagal napas yang sudah terjadi.
- E. Pasien sudah mengalami oliguria berat dengan respons minimal terhadap furosemid dosis tinggi, menandakan diuretik tidak lagi efektif sehingga menambah dosis tidak akan membantu.
Nefrolitiasis & Urolitiasis
5 soalSeorang laki-laki berusia 35 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan nyeri pinggang kanan hebat yang muncul mendadak sejak 4 jam lalu, menjalar ke arah selangkangan dan skrotum kanan. Pasien tampak gelisah, mengubah posisi berulang tanpa bisa menemukan posisi nyaman. Terdapat riwayat kencing berwarna kemerahan sesaat sebelum keluhan muncul. Tekanan darah 140/90 mmHg, frekuensi nadi 100 kali/menit. Nyeri ketok kostovertebra kanan positif, tidak ada demam. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?
- AKolik ureter akibat batu pada ureter distal kanan
- BKolesistitis akut
- CTorsio testis kanan
- DApendisitis akut
- EPielonefritis akut kanan
Lihat jawaban
Nyeri pinggang mendadak yang menjalar ke selangkangan dan skrotum, disertai hematuria dan nyeri ketok kostovertebra positif tanpa demam, merupakan gambaran khas kolik akibat batu yang bermigrasi di sepanjang ureter, terutama ureter distal karena nyeri menjalar hingga ke genitalia. Pasien dengan kolik ureter khas tampak gelisah dan terus bergerak mencari posisi nyaman (berbeda dengan peritonitis yang cenderung diam). Lokasi nyeri yang bermigrasi sesuai dengan letak batu: nyeri pinggang untuk batu di pelvis renalis atau ureter proksimal, menjalar ke selangkangan untuk batu di ureter tengah, dan ke skrotum/labia untuk batu di ureter distal. Hematuria terjadi akibat trauma mukosa ureter oleh batu yang bergerak.
- B. Kolesistitis akut menimbulkan nyeri kuadran kanan atas dengan tanda Murphy positif, tidak sesuai dengan lokasi dan pola nyeri pada pasien ini.
- C. Torsio testis menimbulkan nyeri skrotum akut dengan testis membengkak dan letak tinggi, tanpa riwayat nyeri pinggang menjalar atau hematuria seperti pada pasien ini.
- D. Apendisitis akut biasanya menimbulkan nyeri yang dimulai di periumbilikal berpindah ke kuadran kanan bawah tanpa hematuria, dan pasien cenderung diam karena nyeri bertambah dengan gerakan.
- E. Pielonefritis akut biasanya disertai demam tinggi, menggigil, dan tanda infeksi sistemik, yang tidak ditemukan pada pasien ini.
Seorang perempuan berusia 40 tahun datang ke IGD rumah sakit dengan nyeri pinggang kiri hebat mendadak menjalar ke selangkangan sejak 5 jam lalu, disertai mual dan hematuria mikroskopik. Tidak ada riwayat alergi obat atau penyakit ginjal sebelumnya. Tekanan darah 130/80 mmHg, frekuensi nadi 96 kali/menit, suhu 36,8°C. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kreatinin serum 0,9 mg/dL. Apakah pemeriksaan penunjang yang paling tepat untuk menegakkan diagnosis pada pasien ini?
- AMRI abdomen tanpa kontras
- BFoto polos abdomen (BNO)
- CPielografi intravena (BNO-IVP)
- DUltrasonografi abdomen
- ECT scan abdomen tanpa kontras
Lihat jawaban
CT scan abdomen tanpa kontras merupakan baku emas untuk diagnosis nefrolitiasis dan urolitiasis karena memiliki sensitivitas dan spesifisitas tertinggi (lebih dari 95%) dalam mendeteksi batu di sepanjang saluran kemih, termasuk batu radiolusen seperti batu asam urat yang tidak terlihat pada foto polos. Pemeriksaan ini juga dapat menilai derajat hidronefrosis, ukuran dan lokasi batu secara akurat tanpa risiko reaksi kontras, serta tidak memerlukan fungsi ginjal normal seperti pada IVP. Pada pasien dengan fungsi ginjal baik dan fasilitas tersedia di rumah sakit, CT scan tanpa kontras menjadi pilihan utama dibanding modalitas pencitraan lain untuk menegakkan diagnosis definitif urolitiasis.
- A. MRI abdomen tidak digunakan sebagai pemeriksaan lini pertama untuk nefrolitiasis karena biaya tinggi, waktu pemeriksaan lama, dan sensitivitas terhadap batu lebih rendah dibanding CT scan.
- B. Foto polos abdomen hanya dapat mendeteksi batu yang bersifat radioopak dan tidak dapat menilai derajat obstruksi secara akurat.
- C. Pielografi intravena memerlukan pemberian kontras dengan risiko reaksi alergi dan nefrotoksisitas, serta kini sudah banyak ditinggalkan karena CT scan lebih akurat dan lebih cepat.
- D. USG abdomen berguna sebagai pemeriksaan awal terutama pada kehamilan atau anak, namun sensitivitasnya lebih rendah untuk mendeteksi batu ureter dibanding CT scan.
Seorang laki-laki berusia 38 tahun datang ke IGD dengan nyeri pinggang kanan hebat yang menjalar ke selangkangan sejak 3 jam lalu. Pasien tampak gelisah dan tidak bisa diam. Tanda vital: tekanan darah 140/90 mmHg, frekuensi nadi 102 kali/menit, suhu 36,8°C. Tidak ada demam maupun gejala iritatif berkemih. Pemeriksaan fisik menunjukkan nyeri ketok kostovertebra kanan tanpa tanda peritonitis. Hasil urinalisis menunjukkan hematuria mikroskopik tanpa leukosituria. Apakah golongan obat yang paling tepat diberikan sebagai lini pertama untuk mengatasi nyeri pasien ini?
- AAntispasmodik antikolinergik tunggal
- BOpioid kuat intravena
- CKortikosteroid intravena
- DAntiinflamasi nonsteroid parenteral
- EParasetamol oral
Lihat jawaban
Pada kolik renal, nyeri timbul akibat peningkatan tekanan intraluminal ureter dan pelepasan prostaglandin yang meningkatkan aliran darah ginjal dan tonus otot polos ureter. OAINS seperti ketorolak parenteral bekerja menghambat sintesis prostaglandin sehingga mengurangi tekanan intraluminal dan spasme ureter, serta memberikan efek analgesik yang setara atau lebih baik dibanding opioid dengan efek samping lebih ringan. Pedoman PNPK urolitiasis Kemenkes merekomendasikan OAINS sebagai lini pertama pada pasien tanpa kontraindikasi (misalnya gangguan ginjal berat atau riwayat perdarahan saluran cerna). Opioid digunakan sebagai lini kedua bila OAINS tidak efektif atau dikontraindikasikan.
- A. Antispasmodik antikolinergik tunggal tidak terbukti superior dan tidak mengatasi komponen inflamasi yang mendasari nyeri kolik.
- B. Opioid bukan lini pertama karena efek samping mual, muntah, dan sedasi lebih sering, serta tidak menghambat prostaglandin penyebab utama nyeri.
- C. Kortikosteroid tidak memiliki peran dalam tata laksana nyeri kolik renal akut.
- E. Parasetamol oral kurang efektif untuk nyeri kolik akut yang hebat dan onsetnya lebih lambat.
Seorang perempuan berusia 45 tahun dengan riwayat batu saluran kemih berulang menjalani pemeriksaan metabolik. Hasil analisis komposisi batu sebelumnya menunjukkan batu kalsium oksalat. Pasien memiliki kebiasaan mengonsumsi suplemen vitamin C dosis tinggi setiap hari dan jarang minum air putih. Hasil urin 24 jam menunjukkan kadar oksalat urin yang meningkat. Apakah mekanisme utama yang menjelaskan peningkatan risiko pembentukan batu pada pasien ini?
- APeningkatan absorpsi kalsium di usus akibat kelebihan vitamin C
- BPenghambatan enzim xantin oksidase oleh vitamin C
- CPeningkatan pH urin yang memicu presipitasi kalsium oksalat
- DPeningkatan konversi asam askorbat menjadi oksalat yang diekskresi ginjal
- EPenurunan sitrat urin akibat metabolisme vitamin C
Lihat jawaban
Asam askorbat (vitamin C) dosis tinggi dimetabolisme sebagian menjadi oksalat melalui jalur metabolik di hati, sehingga meningkatkan ekskresi oksalat urin (hiperoksaluria). Hiperoksaluria merupakan faktor risiko metabolik utama pembentukan batu kalsium oksalat, jenis batu tersering pada urolitiasis dewasa, karena oksalat berikatan dengan kalsium membentuk kristal yang mudah mengendap terutama bila volume urin rendah. Kondisi ini diperberat oleh dehidrasi yang menurunkan volume urin dan meningkatkan konsentrasi zat pembentuk batu. Edukasi membatasi suplementasi vitamin C dosis tinggi dan meningkatkan hidrasi merupakan bagian penting pencegahan rekurensi.
- A. Vitamin C tidak secara langsung meningkatkan absorpsi kalsium usus; mekanisme utamanya melalui konversi menjadi oksalat.
- B. Vitamin C tidak menghambat xantin oksidase; mekanisme ini tidak relevan dengan pembentukan batu kalsium oksalat.
- C. Vitamin C bersifat asam dan justru cenderung menurunkan pH urin, bukan meningkatkannya.
- E. Vitamin C tidak menurunkan sitrat urin secara signifikan sebagai mekanisme utama pembentukan batu pada kasus ini.
Seorang laki-laki berusia 50 tahun dirawat di puskesmas dengan nyeri pinggang kiri kolik sejak 5 hari yang lalu. Hasil pemeriksaan USG abdomen di puskesmas menunjukkan batu ureter kiri berukuran 9 mm pada ureter proksimal disertai hidronefrosis ringan. Pasien sudah mendapat OAINS dan hidrasi adekuat namun nyeri masih berulang dan batu belum turun setelah observasi 1 minggu. Tanda vital dalam batas normal, tidak ada demam, fungsi ginjal (ureum, kreatinin) normal. Apakah tindakan yang paling tepat dilakukan selanjutnya?
- ALanjutkan terapi konservatif dan observasi 2 minggu lagi di puskesmas
- BBerikan antibiotik spektrum luas empiris dan pulangkan pasien
- CLakukan nefrostomi perkutan di puskesmas
- DBerikan diuretik untuk mempercepat peluruhan batu
- ERujuk ke dokter spesialis urologi untuk tindakan ESWL atau ureteroskopi
Lihat jawaban
Batu ureter berukuran lebih dari 6-7 mm memiliki kemungkinan keluar spontan yang sangat rendah, dan menurut pedoman urologi, batu dengan ukuran tersebut yang gagal keluar setelah periode observasi disertai nyeri berulang merupakan indikasi untuk tindakan aktif seperti ESWL (extracorporeal shock wave lithotripsy) atau ureteroskopi. Kompetensi SKDI untuk kasus ini di puskesmas adalah mengenali indikasi rujukan, bukan melakukan tindakan definitif. Rujukan ke spesialis urologi diperlukan karena fasilitas dan kompetensi untuk ESWL atau tindakan endourologi tidak tersedia di tingkat puskesmas.
- A. Observasi lebih lanjut tidak tepat karena ukuran batu besar dengan kemungkinan keluar spontan sangat kecil dan nyeri sudah berulang.
- B. Tidak ada tanda infeksi (demam, leukositosis) yang menjadi indikasi antibiotik empiris, dan memulangkan pasien tanpa tindakan definitif berisiko komplikasi obstruktif lanjut.
- C. Nefrostomi perkutan adalah tindakan definitif yang membutuhkan kompetensi dan fasilitas spesialistik, tidak dilakukan di puskesmas.
- D. Diuretik tidak terbukti efektif mempercepat peluruhan batu dan dapat memperberat obstruksi akibat peningkatan produksi urin.
Kelainan Elektrolit & Asam-Basa Ginjal
4 soalSeorang perempuan berusia 30 tahun datang dengan kelemahan otot dan riwayat nefrolitiasis berulang. Hasil analisis gas darah arteri: pH 7,28, PCO2 30 mmHg, HCO3- 14 mEq/L. Kadar kalium serum 2,8 mEq/L. pH urin diperiksa dan hasilnya 6,8 meskipun dalam kondisi asidosis sistemik. Tidak ditemukan glukosuria maupun gangguan tubulus proksimal lain. Apakah diagnosis yang paling sesuai dengan temuan klinis dan laboratorium pasien ini?
- AAsidosis ketotik diabetik
- BAsidosis tubulus renalis tipe 1 (distal)
- CAsidosis laktat
- DAsidosis tubulus renalis tipe 4
- EAsidosis tubulus renalis tipe 2 (proksimal)
Lihat jawaban
Asidosis tubulus renalis (RTA) tipe 1 atau distal terjadi akibat gangguan sekresi ion hidrogen oleh sel tubulus distal, sehingga pH urin tidak dapat diasamkan di bawah 5,5 meskipun terdapat asidosis metabolik sistemik berat, seperti pada kasus ini dengan pH urin 6,8. Kondisi ini sering disertai hipokalemia berat akibat kehilangan kalium urin dan berhubungan dengan nefrokalsinosis serta nefrolitiasis kalsium fosfat berulang akibat hiperkalsiuria dan sitraturia rendah. Sebaliknya, RTA tipe 2 (proksimal) ditandai gangguan reabsorpsi bikarbonat sehingga pH urin dapat turun normal setelah bikarbonat plasma cukup rendah, dan biasanya tidak menyebabkan nefrolitiasis signifikan.
- A. Asidosis ketotik diabetik disertai hiperglikemia dan ketonuria, tidak sesuai dengan gambaran klinis pasien yang tanpa riwayat diabetes dan tanpa glukosuria.
- C. Asidosis laktat biasanya terjadi pada kondisi hipoperfusi atau hipoksia jaringan, tidak sesuai dengan gambaran kronis dan nefrolitiasis berulang pada pasien ini.
- D. RTA tipe 4 berhubungan dengan hiperkalemia akibat defisiensi atau resistensi aldosteron, bukan hipokalemia seperti pada pasien ini.
- E. RTA tipe 2 disebabkan gangguan reabsorpsi bikarbonat proksimal sehingga pH urin biasanya dapat turun di bawah 5,5 pada asidosis berat, dan jarang menyebabkan batu ginjal berulang seperti pada kasus ini.
Seorang laki-laki berusia 62 tahun dengan riwayat kanker paru jenis karsinoma sel kecil datang dengan keluhan lemas dan bingung ringan. Pemeriksaan fisik tidak menunjukkan edema maupun tanda dehidrasi, turgor kulit normal, tidak ada asites. Hasil laboratorium: natrium serum 118 mEq/L, osmolalitas plasma 245 mOsm/kg, osmolalitas urin 450 mOsm/kg, natrium urin 55 mEq/L. Fungsi tiroid dan kortisol pagi dalam batas normal. Apakah mekanisme utama yang mendasari kondisi hiponatremia pada pasien ini?
- APenurunan volume sirkulasi efektif akibat gagal jantung kongestif
- BPeningkatan reabsorpsi natrium tubulus akibat hiperaldosteronisme sekunder
- CKehilangan natrium melalui saluran cerna akibat muntah berulang
- DSekresi hormon antidiuretik yang tidak sesuai menyebabkan retensi air bebas tanpa edema
- EDefisiensi kortisol yang menyebabkan gangguan ekskresi air bebas
Lihat jawaban
Pada SIADH (syndrome of inappropriate antidiuretic hormone secretion), sekresi ADH yang berlebihan dan tidak sesuai dengan osmolalitas plasma menyebabkan reabsorpsi air berlebihan di duktus koligens sehingga terjadi dilusi natrium plasma, ditandai osmolalitas urin yang tidak tersupresi (lebih dari 100 mOsm/kg) meskipun osmolalitas plasma rendah, serta natrium urin yang tinggi (lebih dari 40 mEq/L) pada pasien euvolemik tanpa edema atau tanda dehidrasi. Karsinoma sel kecil paru merupakan penyebab SIADH ektopik tersering karena sel tumor dapat mensekresi ADH secara autonom. Fungsi tiroid dan kortisol normal menyingkirkan hipotiroidisme dan insufisiensi adrenal sebagai penyebab hiponatremia euvolemik lainnya.
- A. Gagal jantung kongestif menyebabkan hiponatremia hipervolemik dengan tanda edema dan natrium urin rendah akibat aktivasi RAAS, tidak sesuai dengan gambaran klinis pasien.
- B. Hiperaldosteronisme sekunder menyebabkan retensi natrium dan cenderung menimbulkan hipertensi serta hipokalemia, bukan hiponatremia dengan natrium urin tinggi.
- C. Kehilangan natrium gastrointestinal menyebabkan hiponatremia hipovolemik dengan natrium urin rendah, tidak sesuai dengan gambaran euvolemik dan natrium urin tinggi pada pasien ini.
- E. Defisiensi kortisol (insufisiensi adrenal) telah disingkirkan karena hasil kortisol pagi normal pada pasien ini.
Seorang perempuan berusia 58 tahun dibawa ke IGD dengan kejang dan penurunan kesadaran mendadak. Keluarga mengatakan pasien mengalami mual dan bingung sejak 1 hari sebelumnya. Tanda vital: tekanan darah 130/80 mmHg, frekuensi nadi 92 kali/menit, saturasi oksigen 97%. Hasil laboratorium natrium serum 108 mEq/L. Tidak ditemukan tanda edema maupun dehidrasi berat. Apakah tata laksana awal yang paling tepat untuk mengatasi kondisi hiponatremia pada pasien ini?
- ARestriksi cairan saja tanpa pemberian natrium tambahan
- BInfus NaCl 3% diberikan bertahap dengan target kenaikan natrium serum tidak lebih dari 8-10 mEq/L dalam 24 jam pertama
- CInfus NaCl 0,9% diberikan cepat hingga natrium serum mencapai 140 mEq/L dalam 6 jam
- DPemberian diuretik loop dosis tinggi untuk meningkatkan ekskresi air bebas
- EKoreksi cepat NaCl 3% hingga natrium serum naik 20 mEq/L dalam 4 jam pertama
Lihat jawaban
Hiponatremia berat dengan gejala neurologis berat seperti kejang dan penurunan kesadaran merupakan kedaruratan yang memerlukan koreksi segera menggunakan NaCl hipertonik (3%) untuk mengurangi edema otak akut. Namun, kecepatan koreksi harus dibatasi tidak lebih dari 8-10 mEq/L dalam 24 jam pertama (atau sekitar 4-6 mEq/L dalam beberapa jam awal untuk mengatasi gejala akut) untuk mencegah sindrom demielinisasi osmotik (central pontine myelinolysis) akibat koreksi yang terlalu cepat. Pemantauan natrium serum dilakukan secara berkala (setiap 2-4 jam) selama fase koreksi awal untuk memastikan kecepatan koreksi tetap dalam batas aman.
- A. Restriksi cairan saja tidak cukup untuk mengatasi hiponatremia berat dengan gejala neurologis akut yang mengancam jiwa dan membutuhkan koreksi natrium aktif.
- C. NaCl 0,9% tidak cukup hipertonik untuk mengatasi hiponatremia berat simtomatik secara cepat, dan koreksi hingga normal dalam 6 jam melebihi batas aman sehingga berisiko sindrom demielinisasi osmotik.
- D. Diuretik loop tidak diindikasikan sebagai terapi awal pada hiponatremia simtomatik berat yang membutuhkan koreksi natrium segera dengan cairan hipertonik.
- E. Koreksi sebesar 20 mEq/L dalam 4 jam jauh melebihi batas aman dan berisiko tinggi menyebabkan sindrom demielinisasi osmotik.
Seorang perempuan berusia 29 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan sering buang air kecil dalam jumlah banyak dan sering minum sejak 3 bulan terakhir. Dalam sehari ia dapat minum hingga 8 liter air dan buang air kecil lebih dari 10 kali, termasuk pada malam hari. Tidak ada riwayat diabetes mellitus. Pemeriksaan fisik dalam batas normal. Gula darah sewaktu 98 mg/dL. Dokter merencanakan uji deprivasi air untuk membedakan penyebab sentral dan nefrogenik dari kondisi ini. Pemeriksaan apakah yang paling tepat dilakukan setelah periode deprivasi air untuk membedakan kedua penyebab tersebut?
- AMengukur kadar glukosa darah puasa setelah deprivasi air
- BMengukur volume urin total selama 24 jam sebelum deprivasi
- CMengukur kadar natrium serum setelah deprivasi air selama 8 jam
- DMengukur berat jenis urin pada pagi hari sebelum deprivasi
- EMengukur osmolalitas urin sebelum dan setelah pemberian desmopresin
Lihat jawaban
Pada uji deprivasi air, setelah osmolalitas plasma meningkat dan urin tidak lagi berkonsentrasi secara adekuat, desmopresin (analog ADH) diberikan untuk menilai respons ginjal terhadap hormon tersebut. Pada diabetes insipidus sentral, osmolalitas urin akan meningkat tajam (lebih dari 50%) setelah desmopresin karena ginjal masih responsif terhadap ADH, sedangkan pada diabetes insipidus nefrogenik osmolalitas urin tetap rendah karena tubulus ginjal tidak responsif terhadap ADH. Langkah ini merupakan bagian krusial dari protokol uji deprivasi air klasik (Miller-Moses) untuk menegakkan diagnosis definitif. Tanpa langkah ini, diagnosis sentral versus nefrogenik tidak dapat dipastikan hanya dari respons terhadap deprivasi air saja.
- A. Glukosa darah digunakan untuk menyingkirkan diabetes mellitus sebagai penyebab poliuria, bukan untuk membedakan jenis diabetes insipidus.
- B. Volume urin 24 jam menggambarkan derajat poliuria namun tidak membedakan mekanisme sentral atau nefrogenik.
- C. Natrium serum dapat meningkat pada kedua jenis diabetes insipidus akibat dehidrasi, sehingga tidak dapat membedakan etiologi sentral dari nefrogenik.
- D. Berat jenis urin hanya memberi perkiraan kasar konsentrasi urin dan tidak dapat membedakan respons terhadap ADH eksogen.
Hipertensi & Ginjal
4 soalSeorang perempuan berusia 26 tahun datang dengan tekanan darah 170/110 mmHg yang sulit terkontrol meski telah mendapat tiga jenis obat antihipertensi dosis maksimal. Pada auskultasi abdomen terdengar bruit sistolik-diastolik di regio epigastrium sedikit ke lateral kanan. Tidak ada riwayat diabetes mellitus maupun dislipidemia. Fungsi ginjal: ureum 22 mg/dL, kreatinin 0,8 mg/dL. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kalium serum 3,1 mmol/L. Dokter mencurigai adanya penyempitan pembuluh darah ginjal sebagai penyebab hipertensi pasien. Pemeriksaan penunjang awal apakah yang paling tepat untuk menegakkan diagnosis pada pasien ini?
- AElektrokardiografi 12 sadapan
- BUrinalisis rutin dan sedimen urin
- CFoto polos abdomen
- DDuplex ultrasonography arteri renalis
- EPemeriksaan kadar aldosteron plasma acak
Lihat jawaban
Pada pasien usia muda dengan hipertensi berat, resisten terhadap terapi, disertai bruit abdomen dan hipokalemia akibat aktivasi sekunder sistem renin-angiotensin-aldosteron, kecurigaan hipertensi renovaskular akibat displasia fibromuskular arteri renalis harus ditegakkan. Duplex ultrasonography arteri renalis merupakan modalitas pencitraan non-invasif lini pertama yang direkomendasikan karena dapat menilai kecepatan aliran darah dan rasio resistensi arteri renalis tanpa radiasi atau kontras nefrotoksik. Jika hasil mendukung, pencitraan lanjutan seperti angiografi CT, MRA, atau angiografi konvensional dapat dilakukan untuk konfirmasi dan perencanaan intervensi. Displasia fibromuskular khas mengenai perempuan muda dan sering melibatkan dua pertiga distal arteri renalis.
- A. EKG dapat menunjukkan hipertrofi ventrikel kiri akibat hipertensi kronik, tetapi tidak membantu menegakkan diagnosis etiologi renovaskular.
- B. Urinalisis berguna untuk menyingkirkan penyakit parenkim ginjal primer, tetapi tidak dapat mendiagnosis stenosis arteri renalis.
- C. Foto polos abdomen tidak dapat menilai pembuluh darah ginjal dan tidak relevan untuk evaluasi stenosis arteri renalis.
- E. Aldosteron plasma acak lebih relevan untuk mencurigai hiperaldosteronisme primer, bukan penyebab renovaskular, dan hipokalemia di sini bersifat sekunder akibat aktivasi RAAS.
Seorang laki-laki berusia 52 tahun dengan diabetes mellitus tipe 2 sejak 10 tahun menjalani pemeriksaan rutin tahunan. Hasil pemeriksaan rasio albumin-kreatinin urin menunjukkan 180 mg/g (meningkat dari 25 mg/g dua tahun sebelumnya). Tekanan darah 145/90 mmHg, HbA1c 8,2%. Dokter menjelaskan bahwa peningkatan albuminuria pada pasien ini terjadi secara bertahap akibat perubahan struktural progresif pada glomerulus. Mekanisme patofisiologi awal apakah yang paling mendasari terjadinya progresi mikroalbuminuria menjadi makroalbuminuria pada nefropati diabetik ini?
- AInfiltrasi neutrofil akibat infeksi saluran kemih berulang
- BHiperfiltrasi glomerulus dan penebalan membran basalis akibat hiperglikemia kronik
- CTrombosis vena renalis akibat sindrom nefrotik
- DEmboli kolesterol pada arteriol aferen glomerulus
- EDeposisi kompleks imun pada mesangium glomerulus
Lihat jawaban
Nefropati diabetik diawali oleh hiperglikemia kronik yang menyebabkan hiperfiltrasi glomerulus akibat vasodilatasi arteriol aferen yang lebih dominan daripada arteriol eferen, meningkatkan tekanan intraglomerulus. Hiperglikemia juga memicu glikasi protein matriks ekstraseluler sehingga terjadi penebalan membran basalis glomerulus dan ekspansi mesangium. Kerusakan podosit dan hilangnya selektivitas barier filtrasi menyebabkan kebocoran albumin yang progresif, dimulai dari mikroalbuminuria lalu berlanjut menjadi makroalbuminuria dan akhirnya penurunan fungsi ginjal. Proses ini bersifat kronik dan progresif selama bertahun-tahun apabila kontrol glikemik dan tekanan darah tidak optimal.
- A. Infiltrasi neutrofil khas pada pielonefritis akut, bukan patofisiologi kerusakan glomerulus kronik pada diabetes.
- C. Trombosis vena renalis adalah komplikasi akut sindrom nefrotik, bukan mekanisme primer progresi albuminuria pada diabetes.
- D. Emboli kolesterol menyebabkan penyakit ginjal aterosklerotik akut, bukan proses kronik bertahap seperti pada nefropati diabetik.
- E. Deposisi kompleks imun pada mesangium merupakan mekanisme khas nefropati IgA atau glomerulonefritis, bukan nefropati diabetik.
Seorang laki-laki berusia 58 tahun dengan riwayat diabetes mellitus tipe 2 dan penyakit ginjal kronik datang kontrol rutin. Tekanan darah 152/94 mmHg. Pemeriksaan laboratorium: kreatinin serum 1,6 mg/dL, estimasi laju filtrasi glomerulus 42 mL/menit/1,73 m², kalium serum 4,6 mmol/L, dan rasio albumin-kreatinin urin 420 mg/g. Pasien belum pernah mendapat terapi antihipertensi sebelumnya. Dokter akan memulai terapi farmakologis untuk mengontrol tekanan darah sekaligus memperlambat progresi penyakit ginjal. Golongan obat antihipertensi apakah yang paling tepat dipilih sebagai lini pertama pada pasien ini?
- APenghambat enzim pengubah angiotensin (ACE-inhibitor)
- BAgonis alfa-2 sentral
- CDiuretik tiazid
- DPenyekat beta kardioselektif
- EPenghambat kanal kalsium golongan dihidropiridin
Lihat jawaban
Pada pasien penyakit ginjal kronik dengan proteinuria signifikan (rasio albumin-kreatinin lebih dari 300 mg/g), ACE-inhibitor atau ARB merupakan terapi lini pertama karena selain menurunkan tekanan darah sistemik, obat ini menurunkan tekanan intraglomerulus melalui dilatasi arteriol eferen sehingga mengurangi proteinuria dan memperlambat progresi penyakit ginjal. Efek nefroprotektif ini independen dari efek antihipertensi semata dan telah dibuktikan dalam berbagai studi klinis besar pada populasi diabetes dengan nefropati. Pemantauan kalium serum dan kreatinin diperlukan setelah inisiasi terapi karena potensi hiperkalemia dan penurunan laju filtrasi glomerulus awal. Pedoman PNPK Kemenkes dan KDIGO merekomendasikan golongan ini sebagai pilihan utama pada kondisi ini.
- B. Agonis alfa-2 sentral bukan terapi lini pertama pada PGK dan tidak memiliki efek nefroprotektif terhadap proteinuria.
- C. Diuretik tiazid kurang efektif pada laju filtrasi glomerulus di bawah 30-40 mL/menit dan tidak memberikan efek antiproteinurik spesifik.
- D. Penyekat beta tidak memiliki efek nefroprotektif spesifik terhadap proteinuria dan bukan pilihan lini pertama pada PGK dengan albuminuria.
- E. Penghambat kanal kalsium dihidropiridin dapat menyebabkan vasodilatasi arteriol aferen yang justru meningkatkan tekanan intraglomerulus dan memperberat proteinuria bila digunakan tanpa ACE-inhibitor/ARB.
Seorang perempuan berusia 61 tahun dengan hipertensi dan penyakit ginjal kronik stadium 3 baru memulai terapi captopril dua minggu lalu. Kreatinin serum sebelum terapi adalah 1,4 mg/dL. Pada kontrol ulang, kreatinin serum menjadi 1,55 mg/dL dan kalium serum 5,0 mmol/L. Pasien tidak mengeluh lemas, tidak ada perubahan irama jantung pada EKG, dan tekanan darah terkontrol baik di 128/80 mmHg. Pasien bertanya apakah obatnya perlu dihentikan karena hasil laboratorium tersebut. Tindakan apakah yang paling tepat dilakukan oleh dokter terhadap terapi captopril pada pasien ini?
- AMenaikkan dosis captopril untuk mengatasi hipertensi residual
- BMenghentikan captopril dan memulai kalium polistiren sulfonat empat kali sehari
- CMerujuk pasien untuk hemodialisis darurat karena hiperkalemia
- DMenghentikan captopril segera dan menggantinya dengan diuretik loop
- EMelanjutkan captopril dengan dosis yang sama dan memantau fungsi ginjal serta kalium secara berkala
Lihat jawaban
Peningkatan kreatinin serum hingga 30% dari nilai awal setelah inisiasi ACE-inhibitor atau ARB dianggap sebagai respons hemodinamik yang dapat diterima dan tidak memerlukan penghentian obat, karena mencerminkan penurunan tekanan intraglomerulus yang justru merupakan efek nefroprotektif jangka panjang. Pada kasus ini, kenaikan kreatinin hanya sekitar 10,7%, masih dalam batas yang dapat diterima. Kalium serum 5,0 mmol/L termasuk hiperkalemia ringan tanpa gejala atau perubahan EKG, sehingga terapi dapat dilanjutkan dengan pemantauan berkala kreatinin dan kalium, biasanya 1-2 minggu setelah inisiasi dan setiap perubahan dosis. Penghentian ACE-inhibitor hanya diindikasikan bila kreatinin meningkat lebih dari 30% atau terjadi hiperkalemia berat (lebih dari 6,0 mmol/L) atau simptomatik.
- A. Menaikkan dosis tidak diperlukan karena tekanan darah sudah terkontrol baik, dan tindakan ini berisiko memperburuk hiperkalemia.
- B. Hiperkalemia ringan tanpa gejala tidak memerlukan resin pengikat kalium, apalagi dikombinasikan dengan penghentian obat yang masih aman dilanjutkan.
- C. Hemodialisis darurat hanya diindikasikan pada hiperkalemia berat atau simptomatik, bukan pada kalium 5,0 mmol/L tanpa gejala atau perubahan EKG.
- D. Penghentian captopril tidak diperlukan pada perubahan laboratorium ringan ini, dan diuretik loop bukan pengganti yang memberikan efek nefroprotektif serupa.
Infeksi & Kelainan Struktural Khusus
5 soalSeorang perempuan berusia 56 tahun dengan diabetes mellitus tipe 2 yang tidak terkontrol dibawa ke IGD dengan demam tinggi, nyeri pinggang kanan hebat, dan penurunan kesadaran sejak 1 hari. Tekanan darah 88/56 mmHg, frekuensi nadi 124 kali/menit, suhu 39,2°C. Gula darah sewaktu 420 mg/dL, keton urin negatif. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan leukosit 22.000/µL dan kreatinin serum 2,1 mg/dL. CT scan abdomen tanpa kontras menunjukkan gambaran gas pada parenkim ginjal kanan disertai udara pada sistem kolekting. Tata laksana apakah yang paling tepat dilakukan segera pada pasien ini selain pemberian antibiotik spektrum luas dan resusitasi cairan?
- ANefrektomi darurat atau drainase perkutan segera
- BPemberian insulin intravena dosis tinggi saja tanpa intervensi bedah
- CPemasangan kateter double-J ureter tanpa drainase abses
- DObservasi ketat dengan antibiotik oral rawat jalan
- ELitotripsi gelombang kejut ekstrakorporeal
Lihat jawaban
Pielonefritis emfisematosa adalah infeksi necrotizing berat pada parenkim ginjal yang ditandai produksi gas oleh bakteri penghasil gas (tersering Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae), paling sering terjadi pada pasien diabetes mellitus tidak terkontrol dan merupakan kondisi kegawatdaruratan urologi dengan mortalitas tinggi bila tidak ditangani agresif. Selain antibiotik spektrum luas dan resusitasi cairan, tata laksana definitif memerlukan drainase perkutan segera pada kasus dengan gas terbatas, atau nefrektomi darurat pada kasus dengan nekrosis luas, syok sepsis, atau gagal terapi konservatif. Keterlambatan intervensi bedah meningkatkan risiko kematian secara signifikan karena sumber infeksi tidak dapat dieradikasi hanya dengan antibiotik. Kontrol glikemik ketat tetap penting namun bukan pengganti intervensi definitif terhadap sumber infeksi.
- B. Insulin penting untuk kontrol glikemik namun tidak mengatasi sumber infeksi nekrotikans yang memerlukan drainase atau pengangkatan jaringan.
- C. Kateter double-J hanya mengatasi obstruksi ureter dan tidak mendrainase fokus infeksi nekrotik pada parenkim ginjal.
- D. Observasi rawat jalan sangat tidak tepat pada kondisi sepsis berat dengan syok yang memerlukan intervensi segera di rumah sakit.
- E. Litotripsi digunakan untuk batu saluran kemih, tidak relevan pada infeksi nekrotikans ginjal.
Seorang laki-laki berusia 38 tahun datang dengan keluhan nyeri pinggang kiri kronik dan hipertensi yang baru terdiagnosis. Ayah pasien meninggal akibat gagal ginjal pada usia 55 tahun. Pemeriksaan fisik menunjukkan teraba massa pada kedua regio flank yang berbenjol-benjol. Ultrasonografi abdomen menunjukkan kedua ginjal membesar dengan multipel kista kortikomedular bilateral berbagai ukuran. Fungsi ginjal: kreatinin serum 1,3 mg/dL. Dokter merencanakan pemeriksaan skrining untuk mendeteksi kelainan penyerta berbahaya yang sering menyertai kondisi ini. Pemeriksaan penunjang apakah yang paling tepat direkomendasikan untuk mendeteksi komplikasi vaskular serebral yang berpotensi fatal pada pasien ini?
- AAngiografi MR atau CT otak untuk mendeteksi aneurisma serebral
- BCT scan toraks untuk mendeteksi kista paru
- CEkokardiografi untuk menilai fungsi ventrikel kiri
- DUltrasonografi karotis untuk menilai plak aterosklerosis
- EElektroensefalografi untuk mendeteksi aktivitas epileptiform
Lihat jawaban
Pasien ini menunjukkan gambaran klasik penyakit ginjal polikistik autosomal dominan (ADPKD): ginjal membesar bilateral dengan multipel kista, riwayat keluarga gagal ginjal, dan hipertensi pada usia relatif muda. ADPKD berhubungan dengan aneurisma sakular intrakranial pada sekitar 8-10% pasien, risiko meningkat hingga 20% bila ada riwayat keluarga aneurisma serebral atau stroke hemoragik, dan ruptur aneurisma dapat menyebabkan perdarahan subarachnoid yang fatal. Skrining dengan angiografi MR (MRA) otak tanpa kontras direkomendasikan terutama pada pasien dengan riwayat keluarga aneurisma serebral, gejala neurologis, atau pekerjaan berisiko tinggi. Kelainan penyerta lain pada ADPKD meliputi kista hati, divertikulosis kolon, dan prolaps katup mitral.
- B. CT toraks dapat mendeteksi kelainan paru namun tidak relevan untuk skrining komplikasi vaskular serebral fatal pada ADPKD.
- C. Ekokardiografi berguna menilai prolaps katup mitral yang juga dapat menyertai ADPKD, tetapi tidak mendeteksi aneurisma serebral.
- D. Ultrasonografi karotis menilai risiko aterosklerosis, bukan skrining spesifik untuk aneurisma serebral yang khas menyertai ADPKD.
- E. EEG digunakan untuk evaluasi epilepsi, bukan untuk mendeteksi kelainan vaskular struktural seperti aneurisma.
Seorang bayi laki-laki berusia 3 bulan dibawa ibunya karena pembesaran perut sebelah kiri yang disadari sejak lahir dan semakin membesar. Pemeriksaan antenatal sebelumnya tidak dilaporkan adanya kelainan. Pada pemeriksaan fisik teraba massa kistik di flank kiri, tidak nyeri tekan, tanpa demam. Ultrasonografi abdomen menunjukkan dilatasi pelvis renalis kiri yang nyata dengan kaliks yang membulat, namun ureter tampak tidak melebar dan buli-buli normal. Tidak tampak refluks pada pemeriksaan sistouretrografi miksi. Diagnosis apakah yang paling mungkin mendasari kelainan pada bayi ini?
- AObstruksi ureteropelvic junction
- BValvula uretra posterior
- CRefluks vesikoureter derajat tinggi
- DUreterokel ektopik bilateral
- EUreter ektopik dengan duplikasi sistem pelvikalises
Lihat jawaban
Obstruksi ureteropelvic junction (UPJ) adalah penyebab tersering hidronefrosis kongenital, ditandai dilatasi pelvis renalis dan kaliks akibat penyempitan fungsional atau struktural pada pertemuan pelvis renalis dengan ureter proksimal, sementara ureter distal dan buli-buli tetap berukuran normal karena obstruksi terletak proksimal. Sistouretrografi miksi yang tidak menunjukkan refluks menyingkirkan refluks vesikoureter sebagai penyebab dilatasi. Diagnosis ditegakkan dengan USG yang memperlihatkan dilatasi kaliks tanpa dilatasi ureter, dan konfirmasi derajat obstruksi dapat dilakukan dengan renografi diuretik (MAG3) untuk menilai fungsi dan drainase ginjal. Penanganan dapat berupa observasi pada kasus ringan hingga pieloplasti pada kasus obstruktif signifikan dengan penurunan fungsi ginjal.
- B. Valvula uretra posterior menyebabkan obstruksi saluran keluar buli-buli dengan dilatasi bilateral saluran kemih atas dan penebalan dinding buli-buli, bukan dilatasi unilateral tanpa kelainan buli-buli.
- C. Refluks vesikoureter derajat tinggi biasanya disertai dilatasi ureter dan telah disingkirkan oleh hasil sistouretrografi miksi yang negatif.
- D. Ureterokel ektopik bilateral umumnya tampak sebagai massa kistik pada muara ureter di buli-buli pada pencitraan, bukan dilatasi pelvis renalis isolated tanpa pelebaran ureter.
- E. Ureter ektopik dengan duplikasi sistem pelvikalises menunjukkan gambaran dua sistem pengumpul pada satu ginjal, berbeda dari temuan dilatasi pelvis tunggal pada kasus ini.
Seorang perempuan, 42 tahun, datang ke poliklinik dengan keluhan nyeri suprapubik kronik sejak 8 bulan yang memberat saat kandung kemih terisi penuh dan mereda setelah berkemih. Ia juga mengeluh frekuensi berkemih meningkat hingga 12 kali per hari dan nokturia 3-4 kali. Tidak ada riwayat demam, hematuria, atau keputihan. Pemeriksaan urinalisis berulang dalam 3 bulan terakhir selalu normal, kultur urin steril. Pemeriksaan USG abdomen dan sistoskopi tidak menunjukkan batu, massa, maupun kelainan struktural lain. Keluhan tidak membaik dengan beberapa kali pemberian antibiotik empiris.
- ATuberkulosis buli-buli
- BOveractive bladder (kandung kemih hiperaktif)
- CSistitis interstisial/sindrom kandung kemih nyeri
- DSistitis bakterialis kronik
- EKarsinoma in situ buli-buli
Lihat jawaban
Sistitis interstisial/sindrom kandung kemih nyeri (IC/BPS) adalah diagnosis klinis eksklusi yang ditegakkan pada pasien dengan nyeri suprapubik kronik terkait pengisian kandung kemih, disertai frekuensi dan nokturia, tanpa bukti infeksi (kultur steril) maupun kelainan struktural pada pencitraan dan sistoskopi. Diagnosis ini baru ditegakkan setelah menyingkirkan penyebab lain seperti infeksi, tumor, dan batu. Tidak respons terhadap antibiotik empiris mendukung bukan etiologi infeksi. Tata laksana awal meliputi edukasi, modifikasi diet, dan analgesia, dengan terapi lini kedua berupa antidepresan trisiklik atau instilasi intravesika bila diperlukan.
- A. Tuberkulosis buli-buli biasanya disertai riwayat TB paru, hematuria, atau gambaran khas pada pencitraan/sistoskopi.
- B. Overactive bladder biasanya tidak disertai nyeri suprapubik yang mereda setelah berkemih sebagai gejala dominan.
- D. Kultur urin steril berulang menyingkirkan infeksi bakteri sebagai penyebab.
- E. Karsinoma in situ biasanya menunjukkan kelainan pada sistoskopi atau sitologi urin positif.
Seorang laki-laki, 16 tahun, dibawa ke IGD dengan nyeri hebat pada skrotum kanan yang muncul mendadak sejak 3 jam lalu saat bangun tidur, disertai mual dan muntah. Tidak ada riwayat trauma, demam, atau keluhan saat berkemih. Pemeriksaan fisik: testis kanan terletak lebih tinggi dari testis kiri dengan posisi horizontal, skrotum kanan bengkak dan sangat nyeri tekan difus. Refleks kremaster kanan tidak didapatkan. Elevasi testis tidak mengurangi nyeri.
- AOrkitis akut
- BTorsio apendiks testis
- CTorsio testis
- DHernia skrotalis inkarserata
- EEpididimitis akut
Lihat jawaban
Torsio testis adalah kegawatan urologi yang ditandai onset nyeri skrotum mendadak, testis letak tinggi dan horizontal (bell-clapper deformity), refleks kremaster negatif, serta tanda Prehn negatif (elevasi testis tidak mengurangi nyeri). Kondisi ini terjadi akibat putaran funikulus spermatikus yang menyebabkan iskemia testis, dan merupakan kegawatdaruratan bedah karena viabilitas testis menurun drastis setelah 6 jam. Diagnosis klinis ini harus segera ditindaklanjuti dengan eksplorasi bedah tanpa menunggu pencitraan jika klinis sangat sugestif. Epididimitis umumnya memberikan tanda Prehn positif dan disertai gejala infeksi saluran kemih.
- A. Orkitis biasanya menyertai parotitis (mumps) dan onset lebih bertahap dengan demam.
- B. Torsio apendiks testis biasanya nyeri lebih ringan dan terlokalisasi (blue dot sign), tanpa posisi testis yang abnormal.
- D. Hernia inkarserata biasanya disertai massa yang dapat ditelusuri ke kanalis inguinalis dan gejala obstruksi usus.
- E. Epididimitis biasanya onset bertahap, disertai gejala disuria/demam, dan tanda Prehn positif (nyeri berkurang dengan elevasi).
Trauma & Kegawatan Urologi
3 soalSeorang laki-laki, 25 tahun, dibawa ke IGD setelah mengalami kecelakaan sepeda motor dengan benturan langsung pada pinggang kiri. Tanda vital: tekanan darah 110/70 mmHg, frekuensi nadi 98 kali/menit. Pemeriksaan fisik didapatkan jejas dan nyeri tekan pada regio flank kiri, tanpa tanda peritonitis. Urinalisis menunjukkan hematuria makroskopik. Pasien hemodinamik stabil setelah resusitasi cairan awal.
- ATrauma limpa
- BTrauma ureter
- CTrauma hepar
- DTrauma ginjal
- ETrauma kandung kemih
Lihat jawaban
Trauma ginjal harus dicurigai pada pasien dengan riwayat trauma tumpul mengenai regio flank/pinggang disertai hematuria makroskopik, karena ginjal terletak retroperitoneal dan rentan mengalami kontusio atau laserasi akibat benturan langsung pada area tersebut. Pada pasien hemodinamik stabil, pencitraan lanjutan berupa CT scan abdomen dengan kontras fase ekskresi adalah baku emas untuk menentukan derajat trauma ginjal menurut klasifikasi AAST dan menentukan tata laksana konservatif atau operatif. Hematuria makroskopik pasca-trauma tumpul flank merupakan indikasi kuat untuk evaluasi pencitraan ginjal.
- A. Trauma limpa biasanya memberikan nyeri pada kuadran kiri atas dengan tanda iritasi peritoneum, bukan hematuria.
- B. Trauma ureter jarang terjadi akibat trauma tumpul dan biasanya terkait trauma penetrasi atau prosedur iatrogenik.
- C. Trauma hepar biasanya memberikan nyeri kuadran kanan atas dengan tanda iritasi peritoneum, bukan hematuria.
- E. Trauma kandung kemih biasanya terkait fraktur pelvis dan nyeri suprapubik, bukan nyeri flank.
Seorang laki-laki, 30 tahun, dibawa ke IGD setelah mengalami kecelakaan lalu lintas dengan jejas pada daerah perineum dan dicurigai fraktur pelvis. Pasien mengeluh tidak dapat berkemih sejak kejadian. Pemeriksaan fisik: terdapat darah menetes dari meatus uretra eksterna, hematoma kupu-kupu (butterfly hematoma) pada perineum, dan teraba kandung kemih penuh di suprapubik. Pemeriksaan colok dubur menunjukkan prostat teraba lebih tinggi dari posisi normal dan tidak terfiksasi dengan baik.
- ATrauma ginjal derajat berat
- BRuptur kandung kemih intraperitoneal
- CRuptur uretra
- DFraktur penis
- ERuptur ureter
Lihat jawaban
Trias klasik ruptur uretra pasca-trauma pelvis adalah darah menetes dari meatus uretra eksterna, retensi urin, dan pada colok dubur prostat teraba melayang (high-riding prostate) akibat terputusnya kontinuitas uretra membranosa dari struktur penyangganya. Hematoma kupu-kupu pada perineum terjadi akibat ekstravasasi darah dan urin yang terbatas oleh fascia Colles. Diagnosis ini penting karena menentukan kontraindikasi pemasangan kateter uretra secara buta dan memerlukan sistografi retrograd atau sistostomi suprapubik sebagai tata laksana awal.
- A. Trauma ginjal memberikan hematuria dan nyeri flank, tidak memberikan darah di meatus atau prostat melayang.
- B. Ruptur kandung kemih intraperitoneal biasanya memberikan tanda asites urin dan nyeri perut difus, bukan prostat melayang.
- D. Fraktur penis terkait trauma langsung pada penis ereksi dengan deformitas penis, bukan trauma pelvis dengan prostat melayang.
- E. Ruptur ureter jarang pada trauma tumpul dan tidak memberikan darah di meatus uretra eksterna atau prostat melayang.
Seorang laki-laki, 35 tahun, dibawa ke IGD setelah terjatuh dari motor dengan benturan pada daerah perineum. Pasien mengeluh nyeri perineum hebat dan belum dapat berkemih sejak 4 jam yang lalu. Pemeriksaan fisik ditemukan darah menetes dari meatus uretra eksterna dan hematoma pada skrotum serta perineum. Kandung kemih teraba penuh pada palpasi suprapubik. Dokter IGD mencurigai adanya ruptur uretra.
- APemasangan kateter uretra ukuran kecil secara hati-hati
- BPemasangan kateter uretra dengan bantuan guidewire
- CPemasangan kateter sistostomi suprapubik
- DObservasi tanpa tindakan hingga pasien dapat berkemih spontan
- EPemberian diuretik untuk mempercepat produksi urin
Lihat jawaban
Pada kecurigaan ruptur uretra dengan tanda klasik darah di meatus, hematoma perineum/skrotum, dan retensi urin, pemasangan kateter uretra merupakan kontraindikasi karena dapat memperberat laserasi, menyebabkan false passage, infeksi, atau konversi ruptur parsial menjadi total. Tata laksana alternatif yang tepat adalah sistostomi suprapubik untuk dekompresi buli-buli sambil menunggu evaluasi lanjutan seperti sistouretrografi retrograd guna menentukan derajat dan lokasi ruptur. Tindakan definitif pada uretra dilakukan secara elektif setelah kondisi pasien stabil dan evaluasi lengkap.
- A. Kateter uretra ukuran berapa pun tetap berisiko memperberat kerusakan uretra dan merupakan kontraindikasi pada kecurigaan ruptur uretra.
- B. Penggunaan guidewire tidak mengubah risiko memperberat laserasi uretra dan tetap bukan pilihan tata laksana awal yang aman.
- D. Observasi tanpa dekompresi berisiko distensi buli-buli berkepanjangan dan tidak sesuai dengan kegawatan retensi urin.
- E. Diuretik tidak mengatasi obstruksi akibat ruptur uretra dan tidak relevan pada kegawatan ini.
Neoplasma Saluran Kemih
4 soalSeorang laki-laki, 58 tahun, datang ke poliklinik dengan keluhan kencing berwarna merah tanpa nyeri sejak 2 bulan terakhir, disertai penurunan berat badan 6 kg dalam 3 bulan dan nyeri tumpul pada pinggang kanan. Pemeriksaan fisik ditemukan massa padat yang teraba di regio flank kanan, tidak nyeri tekan, dengan batas tidak tegas. Tidak ada riwayat demam atau gejala saluran kemih bawah. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan hemoglobin 10,2 g/dL dan laju endap darah meningkat.
- ALimfoma retroperitoneal
- BHidronefrosis akibat batu staghorn
- CAngiomiolipoma ginjal
- DKarsinoma sel transisional pelvis renalis
- EKarsinoma sel renal
Lihat jawaban
Trias klasik karsinoma sel renal berupa hematuria tanpa nyeri, massa abdomen/flank yang teraba, dan nyeri pinggang tumpul, meskipun kini jarang ditemukan ketiganya bersamaan karena banyak kasus terdeteksi lebih awal secara insidental melalui pencitraan. Gejala sistemik seperti penurunan berat badan dan anemia mendukung kecurigaan keganasan. Diagnosis ditegakkan dengan CT scan abdomen berkontras yang menunjukkan massa renal heterogen dengan pola enhancement khas, dan tata laksana utama adalah nefrektomi radikal atau parsial tergantung stadium.
- A. Limfoma retroperitoneal jarang memberikan hematuria sebagai gejala dominan dan biasanya disertai limfadenopati multipel.
- B. Hidronefrosis akibat batu staghorn biasanya disertai riwayat infeksi saluran kemih berulang dan nyeri kolik, bukan penurunan berat badan progresif.
- C. Angiomiolipoma ginjal biasanya asimtomatik atau bermanifestasi perdarahan retroperitoneal akut, bukan trias kronik seperti pada kasus ini.
- D. Karsinoma sel transisional pelvis renalis lebih sering memberikan hematuria dominan tanpa massa teraba besar sejak awal.
Seorang laki-laki berusia 62 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan kencing berwarna merah tanpa disertai nyeri sejak 2 minggu yang lalu. Tidak ada demam, nyeri pinggang, maupun gangguan berkemih lain. Pasien memiliki riwayat merokok 2 bungkus per hari selama 35 tahun. Pemeriksaan fisik dalam batas normal. Urinalisis menunjukkan eritrosit penuh per lapang pandang tanpa leukosit maupun nitrit. Dokter menjelaskan bahwa kebiasaan merokok pasien merupakan faktor risiko utama keganasan yang dicurigai. Apakah mekanisme utama yang mendasari hubungan antara merokok dan keganasan tersebut?
- ANikotin menginduksi hiperplasia otot detrusor yang berkembang menjadi displasia sel transisional
- BMetabolit karsinogenik amin aromatik dari asap rokok diekskresikan melalui urine dan berkontak langsung dengan urotelium
- CKarbon monoksida dalam asap rokok menyebabkan hipoksia kronik sel urotelium yang memicu transformasi maligna
- DTar rokok menyebabkan iritasi mekanis langsung pada mukosa uretra saat proses berkemih
- ENikotin menyebabkan vasokonstriksi kronis pembuluh darah vesika urinaria sehingga memicu iskemia sel urotelium
Lihat jawaban
Asap rokok mengandung karsinogen amin aromatik (misalnya 2-naftilamin dan 4-aminobifenil) yang diabsorpsi, dimetabolisme di hati, kemudian diekskresikan melalui ginjal dalam bentuk metabolit aktif. Metabolit ini terkonsentrasi dalam urine dan berkontak langsung dengan epitel urotelium kandung kemih dalam waktu lama, menyebabkan kerusakan DNA dan mutasi yang mengarah pada transformasi maligna sel transisional. Merokok merupakan faktor risiko terbesar karsinoma kandung kemih, meningkatkan risiko 3-4 kali lipat dibanding bukan perokok. Gejala khas awal adalah hematuria makroskopik tanpa nyeri (painless gross hematuria).
- A. Nikotin tidak menyebabkan hiperplasia otot detrusor sebagai jalur karsinogenesis.
- C. Hipoksia akibat karbon monoksida bukan mekanisme karsinogenik utama yang dikaitkan dengan kanker kandung kemih.
- D. Iritasi mekanis oleh tar bukan mekanisme yang mendasari karsinogenesis urotelium.
- E. Vasokonstriksi kronis bukan mekanisme karsinogenesis utama pada kanker kandung kemih terkait rokok.
Seorang perempuan berusia 68 tahun datang ke IGD rumah sakit dengan keluhan kencing berwarna merah seperti air cucian daging sejak 3 hari yang lalu, tanpa nyeri saat berkemih maupun nyeri pinggang. Tidak ada riwayat trauma atau demam. Riwayat merokok disangkal, namun pasien bekerja di industri tekstil selama 20 tahun. Tanda vital dalam batas normal. Pemeriksaan fisik abdomen dan pinggang tidak ditemukan massa atau nyeri ketok. Urinalisis menunjukkan hematuria makroskopik tanpa proteinuria maupun silinder eritrosit. Apakah pemeriksaan penunjang awal yang paling tepat dilakukan untuk mengevaluasi kemungkinan keganasan pada pasien ini?
- ABiopsi ginjal perkutan
- BCT urografi tanpa kontras
- CPemeriksaan kadar kreatinin serum dan elektrolit
- DUltrasonografi traktus urinarius dan sistoskopi
- EKultur urine dan tes sensitivitas antibiotik
Lihat jawaban
Pada pasien usia tua dengan hematuria makroskopik tanpa nyeri (painless gross hematuria), kecurigaan utama adalah keganasan traktus urinarius, terutama karsinoma kandung kemih atau sel ginjal. Evaluasi awal yang direkomendasikan adalah kombinasi ultrasonografi traktus urinarius untuk menilai ginjal dan massa pada kandung kemih, serta sistoskopi sebagai gold standard untuk mendeteksi lesi mukosa kandung kemih yang tidak selalu tervisualisasi pada pencitraan. Pendekatan ini sesuai dengan prinsip evaluasi hematuria pada populasi risiko tinggi (usia di atas 40 tahun, riwayat merokok atau pajanan okupasional bahan kimia). Jika hasil negatif namun kecurigaan tetap tinggi, CT urografi dengan kontras dapat dipertimbangkan sebagai pemeriksaan lanjutan.
- A. Biopsi ginjal perkutan bersifat invasif dan bukan pemeriksaan awal, serta lebih diindikasikan untuk evaluasi penyakit parenkim ginjal bukan keganasan urotelium.
- B. CT urografi tanpa kontras kurang sensitif untuk mendeteksi lesi urotelium dibandingkan sistoskopi, dan pencitraan definitif memerlukan kontras.
- C. Kreatinin dan elektrolit menilai fungsi ginjal, bukan untuk skrining keganasan traktus urinarius.
- E. Tidak ada tanda infeksi saluran kemih seperti leukosituria atau nitrit positif yang mendukung kultur urine sebagai langkah awal.
Seorang laki-laki berusia 65 tahun datang ke poliklinik urologi dengan keluhan sering terbangun malam hari untuk berkemih dan aliran kencing yang melemah sejak 6 bulan terakhir. Tidak ada riwayat hematuria maupun nyeri tulang. Pemeriksaan colok dubur menunjukkan prostat membesar, konsistensi kenyal, permukaan rata, tidak teraba nodul. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar PSA total 3,2 ng/mL. Pasien mengajukan pertanyaan apakah hasil tersebut mengindikasikan kanker prostat dan perlu biopsi. Apakah interpretasi dan tindak lanjut yang paling tepat untuk pasien ini?
- APSA meningkat signifikan, biopsi prostat transrektal harus segera dilakukan untuk konfirmasi diagnosis
- BPSA tidak dapat diinterpretasikan tanpa pemeriksaan free PSA, sehingga perlu diulang dengan metode tersebut
- CPSA dalam batas normal dan colok dubur tidak mencurigakan, biopsi prostat tidak diperlukan saat ini, dianjurkan observasi dan PSA ulang berkala
- DPSA menunjukkan kecurigaan tinggi keganasan, pasien harus langsung menjalani prostatektomi radikal
- EPSA normal namun colok dubur abnormal, sehingga MRI multiparametrik wajib dilakukan sebelum biopsi
Lihat jawaban
Kadar PSA total di bawah 4 ng/mL pada laki-laki usia lanjut umumnya dianggap dalam rentang normal untuk usia tersebut, terutama bila disertai pemeriksaan colok dubur yang tidak mencurigakan (tidak ada nodul, permukaan rata, konsistensi kenyal khas hiperplasia prostat benigna). Pada kondisi ini, biopsi prostat tidak diindikasikan karena risiko keganasan rendah, dan pendekatan yang tepat adalah observasi dengan pemantauan PSA berkala serta evaluasi gejala saluran kemih bawah. Biopsi prostat diindikasikan bila PSA meningkat progresif, PSA di atas ambang batas sesuai usia, atau ditemukan nodul keras/ireguler pada colok dubur. Gejala pasien saat ini lebih mengarah pada pembesaran prostat jinak (BPH).
- A. PSA 3,2 ng/mL belum melebihi ambang batas normal sehingga belum menjadi indikasi biopsi segera.
- B. PSA total sudah cukup untuk interpretasi awal pada kasus dengan colok dubur tidak mencurigakan, free PSA lebih berguna pada kasus PSA borderline.
- D. Keputusan terapi definitif seperti prostatektomi hanya diambil setelah konfirmasi histopatologi melalui biopsi, bukan berdasarkan PSA saja.
- E. Colok dubur pada kasus ini tidak abnormal (tidak ada nodul), sehingga pernyataan ini tidak sesuai dengan temuan klinis.
Kelainan Kongenital & Pediatrik Lain
4 soalSeorang bayi laki-laki berusia 2 bulan dibawa ibunya ke puskesmas untuk kontrol rutin. Saat pemeriksaan fisik genitalia, ditemukan muara uretra terletak di permukaan ventral batang penis, sekitar pertengahan antara glans dan skrotum, disertai kurvatura penis ke arah ventral saat ereksi menurut laporan ibu. Testis teraba bilateral di skrotum. Tidak ada keluhan kesulitan berkemih maupun pancaran urine yang mengarah ke atas. Apakah tindakan yang paling tepat dilakukan oleh dokter di puskesmas?
- AMelakukan dilatasi uretra secara berkala di puskesmas
- BMerujuk untuk pemasangan kateter suprapubik permanen
- CObservasi hingga usia 5 tahun karena kelainan dapat menutup spontan
- DMenyarankan sirkumsisi segera untuk memperbaiki posisi muara uretra
- EMerujuk ke dokter spesialis bedah urologi anak untuk rencana koreksi bedah sebelum usia 18 bulan
Lihat jawaban
Hipospadia adalah kelainan kongenital berupa letak muara uretra eksterna di sisi ventral penis, dapat disertai kurvatura penis (chordee) dan preputium yang tidak sempurna menutupi glans (hooded prepuce). Diagnosis ditegakkan secara klinis melalui inspeksi genitalia. Tata laksana definitif adalah koreksi bedah (uretroplasti) yang idealnya dilakukan pada usia 6-18 bulan, sebelum anak memiliki kesadaran terhadap body image dan sebelum usia toilet training, sehingga rujukan dini ke spesialis urologi anak sangat penting. Sirkumsisi tidak boleh dilakukan sebelum koreksi karena kulit preputium sering digunakan sebagai bahan graft untuk rekonstruksi uretra.
- A. Dilatasi uretra bukan tata laksana hipospadia dan tidak dapat dilakukan di puskesmas.
- B. Kateter suprapubik permanen tidak diindikasikan pada hipospadia tanpa obstruksi saluran kemih.
- C. Hipospadia tidak menutup spontan dan observasi tanpa tindakan akan menunda koreksi optimal serta meningkatkan risiko gangguan psikososial anak.
- D. Sirkumsisi dikontraindikasikan sebelum koreksi hipospadia karena preputium diperlukan sebagai material rekonstruksi uretra.
Seorang anak laki-laki berusia 6 tahun dibawa ayahnya ke IGD dengan keluhan ujung penis bengkak dan tampak kebiruan sejak 4 jam yang lalu setelah preputium ditarik ke belakang glans penis saat mandi dan tidak dapat dikembalikan ke posisi semula. Anak menangis kesakitan. Pemeriksaan fisik menunjukkan preputium tertarik di belakang korona glans membentuk cincin konstriktif, glans penis edema, teraba keras, dan tampak kebiruan dibandingkan kulit sekitarnya. Apakah tindakan awal yang paling tepat dilakukan segera pada pasien ini?
- AMemasang kateter urine untuk mengatasi retensi urine
- BMemberikan antibiotik oral dan observasi rawat jalan
- CMelakukan sirkumsisi elektif terjadwal dalam 1 minggu ke depan
- DMelakukan reduksi manual segera dengan kompresi glans dan traksi preputium ke posisi anatomis
- EMelakukan kompres hangat dan pulang dengan edukasi orang tua
Lihat jawaban
Parafimosis adalah kondisi gawat darurat urologi di mana preputium yang tertarik ke belakang glans tidak dapat dikembalikan ke posisi semula, membentuk cincin konstriktif yang menjerat penis dan menyebabkan edema, kongesti vena, hingga iskemia glans bila tidak segera ditangani. Tata laksana awal adalah reduksi manual segera, yaitu kompresi glans untuk mengurangi edema disertai traksi preputium ke depan melewati korona glans untuk mengembalikan posisi anatomis. Bila reduksi manual gagal, dilakukan insisi dorsal pada cincin konstriktif (dorsal slit) sebagai tindakan definitif darurat. Berbeda dengan fimosis yang merupakan preputium tidak dapat ditarik ke belakang dan umumnya bukan kegawatan, parafimosis memerlukan penanganan segera untuk mencegah nekrosis glans.
- A. Parafimosis tidak menyebabkan retensi urine akibat obstruksi uretra, sehingga pemasangan kateter tidak relevan sebagai tindakan utama.
- B. Antibiotik tidak mengatasi penyebab mekanis konstriksi dan kondisi ini bukan proses infeksi primer.
- C. Parafimosis adalah kegawatdaruratan sehingga tidak boleh ditunda; penundaan dapat menyebabkan nekrosis glans.
- E. Kompres hangat tanpa reduksi tidak mengatasi cincin konstriktif dan memulangkan pasien berisiko menyebabkan nekrosis glans.
Seorang anak perempuan berusia 7 tahun dibawa ibunya ke puskesmas karena masih sering mengompol saat tidur malam, terjadi hampir setiap malam sejak lahir tanpa pernah mengalami periode kering yang bermakna. Tidak ada keluhan mengompol pada siang hari, tidak ada riwayat poliuria, polidipsia, maupun gangguan berkemih seperti urgensi atau disuria. Riwayat tumbuh kembang normal, tidak ada stresor psikososial bermakna. Pemeriksaan fisik dan neurologis dalam batas normal. Urinalisis dan kadar glukosa darah sewaktu normal. Apakah diagnosis yang paling tepat untuk kondisi anak ini?
- AOveractive bladder syndrome
- BEnuresis nokturnal primer monosimptomatik
- CInkontinensia urine fungsional diurnal
- DDiabetes insipidus nefrogenik
- EEnuresis nokturnal sekunder
Lihat jawaban
Enuresis nokturnal primer monosimptomatik didefinisikan sebagai berkemih involunter saat tidur yang terjadi pada anak usia 5 tahun atau lebih, tanpa pernah mencapai periode kering bermakna (minimal 6 bulan berturut-turut) sejak lahir, dan tidak disertai gejala saluran kemih bawah lain pada siang hari seperti urgensi, frekuensi, atau disuria. Diagnosis ditegakkan setelah menyingkirkan penyebab organik seperti infeksi saluran kemih, diabetes mellitus, maupun diabetes insipidus melalui anamnesis dan pemeriksaan penunjang sederhana. Tata laksana lini pertama berupa edukasi, modifikasi perilaku (bladder training, membatasi minum sebelum tidur), dan alarm enuresis, dengan desmopresin sebagai pilihan farmakologis bila diperlukan.
- A. Overactive bladder ditandai dengan urgensi dan frekuensi berkemih pada siang hari yang tidak dikeluhkan pasien ini.
- C. Inkontinensia diurnal terjadi pada siang hari, sedangkan pasien ini hanya mengompol saat tidur malam.
- D. Diabetes insipidus nefrogenik disertai poliuria dan polidipsia yang tidak ditemukan pada pasien ini.
- E. Enuresis sekunder didiagnosis bila anak sebelumnya pernah mencapai periode kering minimal 6 bulan kemudian kembali mengompol, tidak sesuai dengan riwayat pasien ini.
Seorang bayi laki-laki berusia 8 bulan dibawa ibunya ke puskesmas untuk imunisasi rutin. Pada pemeriksaan fisik, skrotum kanan tampak hipoplastik dan testis kanan tidak teraba di skrotum maupun di kanalis inguinalis saat palpasi dengan posisi berbaring maupun duduk mengangkang. Testis kiri teraba normal di skrotum. Riwayat lahir cukup bulan, berat lahir 3100 gram, tidak ada riwayat operasi inguinal sebelumnya. Apakah risiko komplikasi jangka panjang yang paling mungkin terjadi apabila kondisi testis kanan pasien ini tidak ditatalaksana?
- APeningkatan risiko hipogonadisme hipergonadotropik bilateral segera setelah pubertas
- BPeningkatan risiko hidrokel testis kontralateral
- CPeningkatan risiko torsio testis kontralateral yang teraba normal
- DPeningkatan risiko infertilitas dan keganasan testis di kemudian hari
- EPeningkatan risiko varikokel pada testis yang tidak turun
Lihat jawaban
Kriptorkismus adalah kondisi testis yang tidak turun sempurna ke dalam skrotum, dapat terletak di kanalis inguinalis, intraabdominal, atau ektopik. Testis yang tetap berada di luar skrotum terpapar suhu tubuh yang lebih tinggi dibandingkan suhu skrotum normal, menyebabkan gangguan spermatogenesis progresif serta meningkatkan risiko keganasan testis (terutama seminoma) di kemudian hari akibat displasia sel germinal. Tata laksana definitif adalah orkidopeksi, idealnya dilakukan pada usia 6-12 bulan, untuk menurunkan testis ke skrotum dan mengurangi risiko komplikasi tersebut. Pada bayi ini, rujukan untuk evaluasi dan tata laksana bedah sudah sesuai dengan usia target terapi.
- A. Hipogonadisme hipergonadotropik bilateral tidak terjadi akibat kriptorkismus unilateral dengan testis kontralateral normal.
- B. Kriptorkismus tidak secara langsung meningkatkan risiko hidrokel pada testis kontralateral yang normal.
- C. Kriptorkismus tidak meningkatkan risiko torsio pada testis kontralateral yang posisinya normal di skrotum.
- E. Varikokel bukan komplikasi khas dari testis yang tidak turun dan tidak terkait langsung dengan patofisiologi kriptorkismus.
Pertanyaan umum
Apakah ini soal asli UKMPPD?
Bukan. Ini soal latihan orisinal yang ditulis bergaya UKMPPD sesuai blueprint ujian. Setiap soal dikerjakan ulang oleh model kedua yang independen tanpa melihat kunci, dan soal dengan kunci yang diperdebatkan dihapus.
Bagaimana cara memakai soal ginjal & saluran kemih ini?
Kerjakan kuis dulu tanpa melihat jawaban, lalu baca pembahasan setiap soal yang salah atau ditebak. Poin penting di bawah setiap jawaban adalah hal yang perlu diingat.
Apakah soalnya gratis?
Ya. Semua soal, jawaban, dan pembahasan di halaman ini gratis tanpa perlu mendaftar.
Topik UKMPPD lainnya
UKMPPD diselenggarakan oleh Panitia Nasional UKMPPD. WhiteCoat Pro tidak berafiliasi dengan maupun didukung oleh lembaga tersebut. Semua soal adalah soal latihan orisinal: ditulis oleh tim editorial WhiteCoat Pro dengan bantuan AI dan diperiksa oleh model AI kedua yang independen, yang mengerjakan setiap soal tanpa melihat kunci; soal dengan kunci yang diperdebatkan dihapus. Ini bukan soal ujian asli. Untuk belajar, bukan saran medis.