Masuk
UKMPPD · Indonesia

Soal UKMPPD gastrointestinal & hepatobilier

50 soal orisinal bergaya UKMPPD tentang gastrointestinal & hepatobilier. Setiap soal dilengkapi jawaban benar, pembahasan, alasan pilihan lain salah, dan poin penting. Kerjakan di kuis atau baca di bawah, dikelompokkan per bagian.

Soal50 dengan jawaban
Bagian9
Pilihan per soal5
Waktu≈ 75 menit
UKMPPD Gastrointestinal & hepatobilier: kuis latihanPilih jawaban untuk langsung melihat jawaban benar dan pembahasannya. Skor terbaik Anda tersimpan di browser ini.

Kelainan Esofagus

7 soal
1

Seorang perempuan berusia 35 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan rasa panas di dada bagian bawah menjalar ke tenggorokan sejak 3 bulan terakhir, terutama setelah makan besar dan saat berbaring malam hari. Keluhan disertai rasa asam di mulut. Tidak ada disfagia, penurunan berat badan, maupun muntah darah. Pemeriksaan fisik dalam batas normal. Pasien belum pernah mendapat terapi apapun untuk keluhan ini.

  1. AOmeprazol 20 mg per oral 1 kali sehari selama 2-4 minggu
  2. BRujuk langsung untuk endoskopi sebelum terapi apapun
  3. CRanitidin 150 mg per oral 2 kali sehari selama 2 minggu
  4. DSukralfat suspensi 3 kali sehari sebelum makan
  5. EAntasida kunyah diminum hanya saat timbul gejala
Lihat jawaban
Jawaban: A. Omeprazol 20 mg per oral 1 kali sehari selama 2-4 minggu

Pada kasus GERD tanpa tanda alarm (disfagia, penurunan berat badan, hematemesis, usia tua), diagnosis dapat ditegakkan secara klinis berdasarkan gejala tipikal heartburn dan regurgitasi asam. Tatalaksana awal di layanan primer adalah uji terapi empiris dengan proton pump inhibitor (PPI) seperti omeprazol selama 2-4 minggu, yang juga berfungsi sebagai konfirmasi diagnostik jika gejala membaik. PPI merupakan obat paling efektif untuk menekan sekresi asam lambung dan menyembuhkan mukosa esofagus dibandingkan golongan lain. Endoskopi hanya diperlukan bila terdapat tanda alarm atau gejala tidak membaik dengan terapi empiris.

  • B. Tanpa tanda alarm, endoskopi tidak diperlukan sebelum uji terapi empiris PPI dilakukan.
  • C. Ranitidin golongan H2 blocker kalah efektif dibanding PPI dalam penyembuhan esofagitis dan sudah ditarik dari pasaran di banyak negara termasuk Indonesia.
  • D. Sukralfat bekerja sebagai pelindung mukosa namun bukan terapi lini pertama untuk GERD tipikal.
  • E. Antasida hanya meredakan gejala sesaat dan tidak menyembuhkan inflamasi mukosa esofagus pada GERD.
Poin penting: GERD tanpa tanda alarm ditatalaksana dengan uji terapi PPI empiris selama 2-4 minggu di layanan primer tanpa perlu endoskopi awal.
2

Seorang perempuan berusia 42 tahun mengeluh kesulitan menelan makanan padat maupun cair sejak 6 bulan, memberat secara progresif, disertai regurgitasi makanan yang belum tercerna terutama malam hari dan penurunan berat badan 5 kg. Tidak ada riwayat nyeri ulu hati kronis. Pemeriksaan foto toraks menunjukkan pelebaran mediastinum tanpa gambaran udara-cairan yang jelas.

  1. ACT scan toraks dengan kontras
  2. BTes napas urea untuk Helicobacter pylori
  3. CpH-metri esofagus 24 jam
  4. DEndoskopi saluran cerna atas
  5. EEsofagografi barium
Lihat jawaban
Jawaban: E. Esofagografi barium

Akalasia dicurigai pada pasien dengan disfagia progresif terhadap makanan padat dan cair disertai regurgitasi, karena menunjukkan gangguan motilitas bukan obstruksi mekanik murni. Esofagografi barium merupakan pemeriksaan pencitraan awal yang khas menunjukkan dilatasi esofagus proksimal dengan penyempitan tajam di gastroesophageal junction membentuk gambaran bird beak akibat kegagalan relaksasi sfingter esofagus bawah. Manometri esofagus tetap menjadi baku emas untuk konfirmasi diagnosis, namun barium esofagografi adalah pemeriksaan awal yang paling tepat dan tersedia luas untuk mengarahkan diagnosis sebelum manometri.

  • A. CT scan toraks tidak memberikan gambaran fungsional motilitas esofagus yang khas untuk akalasia.
  • B. Tes Helicobacter pylori tidak relevan dengan gangguan motilitas esofagus seperti akalasia.
  • C. pH-metri menilai refluks asam, bukan gangguan motilitas yang mendasari akalasia.
  • D. Endoskopi berguna menyingkirkan keganasan namun sering menunjukkan hasil normal atau kurang spesifik pada akalasia dini.
Poin penting: Esofagografi barium pada akalasia menunjukkan gambaran khas bird beak akibat dilatasi esofagus proksimal dengan penyempitan di gastroesophageal junction.
3

Seorang anak laki-laki berusia 3 tahun dibawa ke IGD setelah tidak sengaja meminum cairan pembersih lantai yang bersifat basa kuat 2 bulan lalu dan telah menjalani perawatan luka bakar esofagus derajat 2. Saat ini anak mengalami kesulitan menelan makanan padat yang progresif disertai muntah setiap kali makan sejak 3 minggu terakhir, serta berat badan tidak naik.

  1. AKarsinoma esofagus
  2. BStriktur esofagus
  3. CFistula trakeoesofagus
  4. DAkalasia sekunder
  5. ERefluks gastroesofagus berat
Lihat jawaban
Jawaban: B. Striktur esofagus

Cairan basa kuat menyebabkan nekrosis liquefaktif yang menembus lebih dalam ke lapisan otot esofagus dibanding asam, sehingga risiko striktur pascaluka bakar lebih tinggi. Striktur esofagus merupakan komplikasi lanjut tersering dari luka bakar korosif esofagus, timbul akibat proses fibrosis dan penyembuhan luka yang berlebihan pada minggu hingga bulan setelah cedera akut, bermanifestasi sebagai disfagia progresif terhadap makanan padat. Tatalaksana definitif memerlukan dilatasi esofagus bertahap, dan pada kasus refrakter dapat memerlukan tindakan bedah.

  • A. Karsinoma esofagus pascakorosif biasanya timbul setelah bertahun-tahun, bukan dalam 2 bulan.
  • C. Fistula trakeoesofagus biasanya bermanifestasi dengan batuk saat makan atau infeksi paru berulang, bukan disfagia progresif murni.
  • D. Akalasia merupakan gangguan motilitas primer idiopatik, bukan sekuele langsung dari luka bakar korosif.
  • E. Keluhan timbul setelah cedera korosif dengan pola disfagia progresif, bukan gejala refluks kronis.
Poin penting: Striktur esofagus merupakan komplikasi lanjut tersering pascaluka bakar korosif, terutama akibat cairan basa, dan bermanifestasi sebagai disfagia progresif dalam beberapa minggu hingga bulan.
4

Seorang laki-laki berusia 58 tahun, perokok berat dan peminum alkohol sejak muda, mengeluh disfagia progresif terhadap makanan padat sejak 2 bulan, disertai penurunan berat badan 8 kg dalam 2 bulan. Endoskopi menunjukkan massa ireguler yang menyempitkan lumen di esofagus bagian tengah, dengan biopsi menunjukkan sel skuamosa berkeratinisasi yang menginvasi stroma.

  1. ALeiomiosarkoma esofagus
  2. BKarsinoma sel skuamosa esofagus
  3. CLimfoma esofagus primer
  4. DAdenokarsinoma esofagus
  5. EGastrointestinal stromal tumor esofagus
Lihat jawaban
Jawaban: B. Karsinoma sel skuamosa esofagus

Karsinoma sel skuamosa merupakan jenis kanker esofagus tersering di Indonesia dan Asia pada umumnya, berbeda dengan negara Barat yang didominasi adenokarsinoma akibat Barrett esofagus. Faktor risiko utama karsinoma sel skuamosa adalah konsumsi alkohol dan rokok jangka panjang, serta makanan yang diawetkan atau terlalu panas. Lokasi tersering adalah esofagus bagian tengah sepertiga, sesuai dengan temuan histopatologi sel skuamosa berkeratinisasi pada kasus ini. Diagnosis ditegakkan melalui endoskopi dengan biopsi untuk konfirmasi jenis histologi.

  • A. Leiomiosarkoma berasal dari otot polos dan tidak menunjukkan diferensiasi skuamosa pada biopsi.
  • C. Limfoma esofagus primer sangat jarang dan memiliki gambaran histologi limfoid, bukan sel skuamosa.
  • D. Adenokarsinoma lebih sering terjadi di esofagus distal akibat metaplasia Barrett dan lebih umum di negara Barat, tidak sesuai gambaran histologi sel skuamosa pada kasus ini.
  • E. GIST umumnya bersifat submukosa dan jarang menunjukkan gambaran sel skuamosa berkeratinisasi.
Poin penting: Karsinoma sel skuamosa adalah jenis kanker esofagus tersering di Indonesia, berkaitan dengan rokok dan alkohol, umumnya mengenai esofagus bagian tengah.
5

Seorang laki-laki berusia 50 tahun dengan riwayat sirosis hepatis dibawa ke IGD karena muntah darah segar sebanyak 3 kali sejak 2 jam lalu. Tekanan darah 90/60 mmHg, frekuensi nadi 118 kali/menit, frekuensi napas 24 kali/menit, akral dingin. Pemeriksaan abdomen ditemukan asites dan splenomegali. Setelah resusitasi cairan kristaloid dan transfusi darah dimulai, dokter berencana memberikan terapi farmakologis untuk menurunkan tekanan portal sebelum endoskopi dilakukan.

  1. AVitamin K intravena
  2. BPropranolol oral
  3. CAsam traneksamat intravena
  4. DMetoklopramid intravena
  5. EOctreotide intravena
Lihat jawaban
Jawaban: E. Octreotide intravena

Pada perdarahan akut akibat varises esofagus, octreotide (analog somatostatin) diberikan secara intravena untuk menurunkan tekanan vena porta melalui vasokonstriksi splanknik selektif, sehingga mengurangi aliran darah ke varises dan membantu menghentikan perdarahan. Terapi ini diberikan sesegera mungkin bersamaan dengan resusitasi dan sebelum atau selama menunggu endoskopi terapeutik (ligasi atau skleroterapi) dilakukan dalam 12 jam. Octreotide juga mengurangi risiko perdarahan ulang dan memudahkan visualisasi saat endoskopi.

  • A. Vitamin K tidak memiliki peran dalam menghentikan perdarahan varises akut karena bukan mengatasi koagulopati akibat defisiensi vitamin K murni.
  • B. Propranolol digunakan untuk profilaksis jangka panjang mencegah perdarahan varises berulang, bukan untuk tatalaksana perdarahan akut.
  • C. Asam traneksamat tidak terbukti efektif dan tidak direkomendasikan secara rutin pada perdarahan varises esofagus.
  • D. Metoklopramid adalah antiemetik dan tidak memiliki efek menurunkan tekanan portal.
Poin penting: Octreotide intravena merupakan terapi farmakologis awal pada perdarahan varises esofagus akut untuk menurunkan tekanan portal sebelum dan selama endoskopi terapeutik.
6

Seorang laki-laki berusia 30 tahun datang ke IGD dengan keluhan muntah darah segar sebanyak sekali, berwarna merah segar bercampur sedikit makanan, setelah sebelumnya muntah hebat berulang kali akibat pesta minum alkohol semalam. Tidak ada riwayat sirosis maupun penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid. Pemeriksaan tanda vital stabil, abdomen tidak ditemukan tanda akut.

  1. AErosi mukosa akibat refluks asam lambung kronik
  2. BInfiltrasi tumor yang mengerosi pembuluh darah submukosa
  3. CPerforasi transmural dinding esofagus akibat peningkatan tekanan intraluminal
  4. DPecahnya varises submukosa akibat hipertensi portal
  5. ERobekan mukosa akibat peningkatan tekanan intraabdomen mendadak saat muntah
Lihat jawaban
Jawaban: E. Robekan mukosa akibat peningkatan tekanan intraabdomen mendadak saat muntah

Mallory-Weiss tear terjadi akibat robekan mukosa dan submukosa longitudinal pada daerah gastroesophageal junction, disebabkan oleh peningkatan tekanan intraabdomen dan intragastrik yang mendadak saat episode muntah hebat atau retching berulang, sering dipicu oleh konsumsi alkohol berlebihan. Robekan ini menyebabkan hematemesis ringan sampai sedang dengan darah merah segar, biasanya self-limited dan berhenti spontan pada mayoritas kasus. Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis khas riwayat muntah hebat sebelum hematemesis, dikonfirmasi dengan endoskopi bila diperlukan.

  • A. Erosi akibat refluks kronik biasanya menimbulkan gejala heartburn kronik sebelumnya, tidak sesuai dengan onset akut pasca muntah hebat.
  • B. Tidak ada riwayat maupun temuan yang mengarah pada keganasan esofagus pada pasien muda ini.
  • C. Perforasi transmural khas pada sindrom Boerhaave disertai nyeri dada hebat dan tanda sepsis, bukan hematemesis ringan tanpa gejala sistemik berat.
  • D. Varises esofagus terjadi pada pasien dengan hipertensi portal akibat sirosis, yang tidak ada pada riwayat pasien ini.
Poin penting: Mallory-Weiss tear disebabkan oleh robekan mukosa gastroesophageal junction akibat peningkatan tekanan intraabdomen mendadak saat muntah hebat, khas pasca konsumsi alkohol berlebihan.
7

Seorang laki-laki berusia 45 tahun dibawa ke IGD dengan nyeri dada hebat mendadak di region retrosternal menjalar ke punggung, muncul segera setelah muntah hebat berulang akibat pesta makan dan minum alkohol. Pasien tampak sesak, tekanan darah 88/55 mmHg, frekuensi nadi 122 kali/menit, suhu 38,6°C. Pemeriksaan leher ditemukan krepitasi subkutan. Foto toraks menunjukkan udara di mediastinum dan efusi pleura kiri.

  1. APneumotoraks spontan primer
  2. BMallory-Weiss tear dengan perdarahan masif
  3. CDiseksi aorta tipe A
  4. DInfark miokard akut dengan syok kardiogenik
  5. ERuptur esofagus spontan (sindrom Boerhaave)
Lihat jawaban
Jawaban: E. Ruptur esofagus spontan (sindrom Boerhaave)

Sindrom Boerhaave adalah ruptur esofagus transmural spontan akibat peningkatan tekanan intraluminal esofagus secara tiba-tiba saat muntah hebat, menyebabkan kebocoran isi lambung dan udara ke mediastinum. Gambaran klasik berupa nyeri dada hebat mendadak pasca muntah, krepitasi subkutan akibat emfisema subkutan, serta tanda sepsis akibat mediastinitis kimiawi, didukung temuan udara mediastinum dan efusi pleura pada pencitraan. Kondisi ini merupakan kegawatan bedah yang membutuhkan diagnosis cepat dan tindakan operatif segera karena mortalitas tinggi bila terlambat ditangani.

  • A. Pneumotoraks spontan tidak disertai udara mediastinum luas maupun riwayat muntah hebat sebagai pencetus khas.
  • B. Mallory-Weiss tear tidak menyebabkan udara mediastinum maupun krepitasi subkutan karena robekan hanya mengenai mukosa.
  • C. Diseksi aorta tidak menjelaskan temuan udara mediastinum dan krepitasi subkutan yang berkaitan dengan ruptur saluran cerna.
  • D. Infark miokard tidak menjelaskan krepitasi subkutan maupun udara mediastinum pada foto toraks.
Poin penting: Sindrom Boerhaave adalah ruptur esofagus spontan pascamuntah hebat yang bermanifestasi sebagai nyeri dada akut, emfisema subkutan, dan udara mediastinum, merupakan kegawatan bedah dengan mortalitas tinggi.

Gaster dan Duodenum

8 soal
8

Seorang perempuan berusia 52 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan nyeri ulu hati yang hilang timbul sejak 6 bulan. Pasien juga mengeluh berat badan turun 6 kg dalam 2 bulan terakhir tanpa diet khusus dan sulit menelan makanan padat sejak 3 minggu. Tanda vital dalam batas normal. Pemeriksaan abdomen tidak ditemukan massa maupun nyeri tekan bermakna. Pasien sebelumnya sudah mendapat terapi empiris PPI selama 2 minggu namun keluhan tidak membaik. Apakah tindakan yang paling tepat dilakukan selanjutnya?

  1. AMelanjutkan PPI dosis ganda selama 4 minggu lagi
  2. BMelakukan pemeriksaan USG abdomen rutin
  3. CMerujuk untuk esofagogastroduodenoskopi
  4. DMemberikan terapi eradikasi H. pylori empiris
  5. EMengganti PPI dengan antagonis H2
Lihat jawaban
Jawaban: C. Merujuk untuk esofagogastroduodenoskopi

Pasien ini memiliki alarm symptom berupa penurunan berat badan signifikan tanpa sebab jelas dan disfagia progresif, disertai usia di atas 50 tahun dan kegagalan terapi empiris. Menurut konsensus dispepsia, keberadaan satu atau lebih alarm symptom (disfagia, penurunan berat badan, anemia, hematemesis/melena, massa teraba, usia onset di atas 50-55 tahun) merupakan indikasi mutlak untuk rujukan endoskopi guna menyingkirkan keganasan atau lesi organik lain. Terapi empiris lanjutan tanpa evaluasi lebih jauh berisiko menunda diagnosis dini karsinoma gaster. Endoskopi memungkinkan visualisasi langsung mukosa serta biopsi jaringan bila ditemukan lesi mencurigakan.

  • A. Memperpanjang terapi empiris tanpa evaluasi lanjutan berisiko menunda diagnosis keganasan pada pasien dengan alarm symptom.
  • B. USG abdomen tidak dapat menilai mukosa saluran cerna atas secara adekuat dan bukan modalitas lini pertama untuk alarm symptom dispepsia.
  • D. Eradikasi empiris tanpa konfirmasi H. pylori dan tanpa menyingkirkan keganasan tidak sesuai alur alarm symptom.
  • E. Mengganti jenis obat tanpa evaluasi struktural tidak mengatasi kemungkinan lesi organik yang mendasari.
Poin penting: Alarm symptom pada dispepsia (disfagia, penurunan berat badan, usia >50 tahun, anemia, hematemesis/melena) merupakan indikasi rujukan endoskopi segera.
9

Seorang laki-laki berusia 60 tahun dengan riwayat osteoartritis rutin mengonsumsi natrium diklofenak selama 3 bulan terakhir datang dengan nyeri epigastrium dan rasa perih setelah makan. Pada endoskopi ditemukan erosi multipel pada mukosa lambung. Dokter menjelaskan bahwa kerusakan mukosa terjadi akibat penghambatan enzim yang berperan dalam produksi prostaglandin pelindung mukosa. Apakah mekanisme utama yang menyebabkan kerusakan mukosa lambung pada kondisi ini?

  1. AHambatan siklooksigenase-1 sehingga sintesis prostaglandin mukosa menurun
  2. BInfeksi bakteri yang merusak lapisan mukus lambung
  3. CPeningkatan motilitas lambung yang mempercepat pengosongan
  4. DPeningkatan produksi gastrin oleh sel G antrum
  5. ERefluks asam lambung akibat inkompetensi sfinkter esofagus bawah
Lihat jawaban
Jawaban: A. Hambatan siklooksigenase-1 sehingga sintesis prostaglandin mukosa menurun

NSAID non-selektif seperti diklofenak menghambat enzim siklooksigenase-1 (COX-1) yang berperan dalam sintesis prostaglandin E2 dan I2 pada mukosa lambung. Prostaglandin ini normalnya menstimulasi sekresi mukus dan bikarbonat serta menjaga aliran darah mukosa, sehingga penurunannya menyebabkan mukosa lambung rentan terhadap asam dan pepsin. Efek ini bersifat sistemik, bukan hanya lokal, sehingga NSAID oral maupun parenteral dapat menimbulkan erosi. Hal ini berbeda dengan mekanisme infeksi H. pylori yang merusak mukosa melalui urease dan sitotoksin bakteri.

  • B. Tidak ada bukti infeksi bakteri pada kasus ini; mekanisme NSAID bersifat kimiawi melalui penghambatan enzim, bukan infeksius.
  • C. Perubahan motilitas lambung bukan mekanisme primer kerusakan mukosa pada gastropati NSAID.
  • D. Peningkatan gastrin bukan mekanisme utama kerusakan mukosa akibat NSAID, melainkan terkait gastrinoma atau hipoklorhidria.
  • E. Refluks gastroesofageal adalah mekanisme berbeda yang menyebabkan esofagitis, bukan erosi mukosa lambung akibat NSAID.
Poin penting: Gastropati NSAID terjadi akibat hambatan COX-1 yang menurunkan sintesis prostaglandin pelindung mukosa lambung.
10

Seorang laki-laki berusia 35 tahun datang dengan dispepsia kronik tanpa alarm symptom. Pasien belum pernah menjalani endoskopi dan tidak sedang mengonsumsi PPI maupun antibiotik dalam 4 minggu terakhir. Dokter ingin memastikan ada tidaknya infeksi Helicobacter pylori sebagai penyebab keluhan sebelum memutuskan terapi, tanpa perlu melakukan tindakan invasif. Apakah pemeriksaan yang paling tepat dipilih pada pasien ini?

  1. APemeriksaan serologi IgG H. pylori
  2. BUrea breath test
  3. CKultur bakteri dari aspirat lambung
  4. DBiopsi mukosa lambung saat endoskopi
  5. EPemeriksaan antigen tinja saja tanpa konfirmasi lanjutan
Lihat jawaban
Jawaban: B. Urea breath test

Pada pasien tanpa alarm symptom yang tidak memerlukan endoskopi, uji non-invasif menjadi pilihan utama untuk mendeteksi infeksi H. pylori aktif. Urea breath test memiliki sensitivitas dan spesifisitas tinggi (di atas 90%), mendeteksi infeksi aktif melalui pemecahan urea berlabel oleh enzim urease bakteri, dan tidak memerlukan tindakan invasif. Pemeriksaan ini lebih akurat dibandingkan serologi IgG yang hanya menunjukkan riwayat pajanan dan dapat tetap positif meski infeksi sudah sembuh. Biopsi hanya diperlukan bila pasien memiliki indikasi endoskopi atau alarm symptom.

  • A. Serologi IgG tidak dapat membedakan infeksi aktif dari infeksi lampau sehingga kurang akurat untuk keputusan terapi.
  • C. Kultur bakteri memerlukan sampel jaringan invasif dan jarang digunakan karena pertumbuhan bakteri lambat dan sulit.
  • D. Biopsi bersifat invasif dan hanya dilakukan jika pasien memiliki indikasi endoskopi, bukan pilihan awal pada kasus tanpa alarm symptom.
  • E. Antigen tinja tanpa validasi tambahan kurang tepat disebut sebagai pilihan utama dibanding urea breath test pada skenario ini.
Poin penting: Urea breath test adalah uji non-invasif pilihan untuk mendeteksi infeksi aktif H. pylori pada pasien tanpa indikasi endoskopi.
11

Seorang laki-laki berusia 55 tahun dibawa ke IGD dengan nyeri perut hebat mendadak sejak 3 jam lalu yang dimulai di ulu hati lalu menyebar ke seluruh perut. Pasien memiliki riwayat nyeri ulu hati kronik dan rutin mengonsumsi obat antiinflamasi. Pemeriksaan fisik menunjukkan tekanan darah 100/70 mmHg, frekuensi nadi 118 x/menit, suhu 38,2°C. Abdomen tampak datar, kaku seperti papan, dengan nyeri tekan dan nyeri lepas tekan di seluruh regio, bising usus tidak terdengar. Pada foto polos abdomen posisi tegak ditemukan gambaran lusen berbentuk bulan sabit di bawah diafragma kanan. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?

  1. AUlkus peptikum perforasi
  2. BApendisitis akut perforasi
  3. CObstruksi usus halus total
  4. DKolesistitis akut gangrenosa
  5. EPankreatitis akut berat
Lihat jawaban
Jawaban: A. Ulkus peptikum perforasi

Gambaran klinis nyeri epigastrium mendadak yang menyebar ke seluruh abdomen disertai tanda peritonitis generalisata (abdomen papan, nyeri lepas tekan difus, bising usus menghilang) pada pasien dengan riwayat dispepsia kronik dan konsumsi NSAID sangat mengarah pada perforasi ulkus peptikum. Temuan udara bebas subdiafragma (gambaran bulan sabit lusen di bawah diafragma pada foto tegak) mengonfirmasi adanya perforasi organ berisi gas seperti lambung atau duodenum. NSAID merupakan faktor risiko utama ulserasi dan perforasi karena menghambat prostaglandin pelindung mukosa. Kondisi ini merupakan kedaruratan bedah yang memerlukan laparotomi segera.

  • B. Apendisitis perforasi biasanya diawali nyeri periumbilikal berpindah ke kuadran kanan bawah, bukan nyeri epigastrium mendadak dengan udara bebas masif subdiafragma.
  • C. Obstruksi usus halus menunjukkan gambaran air-fluid level dan dilatasi usus, bukan udara bebas subdiafragma.
  • D. Kolesistitis gangrenosa umumnya menimbulkan nyeri terlokalisasi di kuadran kanan atas, bukan peritonitis difus dengan udara bebas.
  • E. Pankreatitis akut biasanya tidak menghasilkan udara bebas subdiafragma pada foto polos abdomen.
Poin penting: Perforasi ulkus peptikum ditandai nyeri epigastrium mendadak, tanda peritonitis generalisata, dan udara bebas subdiafragma pada foto polos abdomen tegak.
12

Dua pasien datang dengan keluhan nyeri ulu hati kronik berulang. Pasien pertama, laki-laki 45 tahun, mengatakan nyeri justru membaik setelah makan namun kambuh lagi 2-3 jam kemudian dan sering membuatnya terbangun tengah malam karena nyeri. Pasien kedua, perempuan 50 tahun, mengatakan nyeri justru memberat segera setelah makan sehingga ia mengurangi porsi makan dan mengalami penurunan berat badan ringan. Apakah pola nyeri yang paling sesuai untuk membedakan ulkus duodenum pada pasien pertama?

  1. ANyeri berkurang setelah makan dan muncul kembali saat lambung kosong
  2. BNyeri membaik dengan puasa berkepanjangan lebih dari 24 jam
  3. CNyeri memberat segera setelah makan dan disertai penurunan berat badan
  4. DNyeri hanya timbul setelah konsumsi makanan berlemak tinggi
  5. ENyeri tidak berhubungan dengan waktu makan sama sekali
Lihat jawaban
Jawaban: A. Nyeri berkurang setelah makan dan muncul kembali saat lambung kosong

Ulkus duodenum klasik menunjukkan pola nyeri yang membaik setelah makan karena makanan menetralkan asam lambung sementara, namun nyeri kambuh 2-3 jam kemudian saat lambung kembali kosong dan asam merangsang ulkus, termasuk nyeri nokturnal yang membangunkan pasien. Sebaliknya, ulkus gaster cenderung menunjukkan nyeri yang memberat segera setelah makan karena distensi lambung dan peningkatan sekresi asam langsung mengiritasi lesi, sering disertai penurunan berat badan akibat pasien menghindari makan. Perbedaan pola ini membantu membedakan kedua jenis ulkus secara klinis sebelum konfirmasi endoskopi.

  • B. Pola ini tidak sesuai dengan presentasi klasik ulkus duodenum yang justru membaik sementara setelah makan.
  • C. Pola ini justru karakteristik ulkus gaster, bukan ulkus duodenum.
  • D. Pola nyeri terkait makanan berlemak lebih khas pada kolelitiasis, bukan ulkus duodenum.
  • E. Tidak adanya hubungan dengan waktu makan tidak sesuai dengan pola klasik ulkus duodenum yang jelas terkait rasa lapar.
Poin penting: Nyeri ulkus duodenum khas membaik setelah makan dan kambuh saat lambung kosong, sedangkan nyeri ulkus gaster memberat segera setelah makan.
13

Seorang laki-laki berusia 48 tahun dibawa ke IGD dengan muntah darah berwarna merah kehitaman sebanyak 2 kali dan tinja hitam lembek sejak pagi. Pasien memiliki riwayat sirosis hati. Pemeriksaan menunjukkan kesadaran somnolen, tekanan darah 85/55 mmHg, frekuensi nadi 128 x/menit, frekuensi napas 24 x/menit, akral dingin dan pucat. Hasil laboratorium menunjukkan hemoglobin 6,8 g/dL. Apakah tindakan awal yang paling tepat dilakukan segera sebelum endoskopi?

  1. AObservasi tanda vital setiap 6 jam tanpa intervensi cairan
  2. BResusitasi cairan kristaloid dan transfusi komponen darah
  3. CPemberian laktulosa oral untuk mencegah ensefalopati
  4. DPemberian antibiotik profilaksis oral tanpa resusitasi cairan
  5. EPemasangan selang nasogastrik untuk bilas lambung dengan air es
Lihat jawaban
Jawaban: B. Resusitasi cairan kristaloid dan transfusi komponen darah

Pasien ini menunjukkan tanda syok hipovolemik (hipotensi, takikardia, akral dingin, kesadaran menurun) akibat perdarahan saluran cerna atas masif dengan hemoglobin sangat rendah, sehingga prioritas utama adalah resusitasi hemodinamik segera dengan cairan kristaloid dan transfusi komponen darah sesuai kebutuhan sebelum tindakan diagnostik lain. Stabilisasi hemodinamik merupakan langkah A-B-C-D yang harus didahulukan sebelum skoring risiko seperti Glasgow-Blatchford atau Rockall digunakan untuk menentukan urgensi endoskopi dan triase lanjutan. Bilas lambung dengan air es tidak lagi direkomendasikan karena tidak terbukti menghentikan perdarahan dan dapat menyebabkan hipotermia. Pada pasien sirosis, resusitasi tetap menjadi prioritas sebelum terapi suportif lain seperti laktulosa atau antibiotik profilaksis diberikan.

  • A. Observasi tanpa intervensi aktif sangat berisiko pada pasien dengan tanda syok hipovolemik berat.
  • C. Laktulosa penting untuk mencegah ensefalopati hepatikum namun bukan prioritas awal dibanding stabilisasi hemodinamik pada pasien syok.
  • D. Antibiotik profilaksis penting pada pasien sirosis dengan perdarahan varises namun tidak boleh menggantikan resusitasi cairan sebagai prioritas utama.
  • E. Bilas lambung dengan air es sudah tidak direkomendasikan karena tidak efektif menghentikan perdarahan dan berisiko hipotermia.
Poin penting: Pada hematemesis melena dengan tanda syok, resusitasi cairan dan transfusi darah harus dilakukan segera sebelum evaluasi endoskopi.
14

Seorang laki-laki berusia 62 tahun dengan riwayat merokok berat dan konsumsi makanan asin serta diasap sejak muda datang dengan keluhan rasa cepat kenyang, nafsu makan menurun, dan penurunan berat badan 10 kg dalam 3 bulan. Pemeriksaan fisik menunjukkan konjungtiva anemis dan teraba pembesaran kelenjar getah bening keras tidak nyeri di fossa supraklavikula kiri. Apakah tanda klinis yang paling sesuai menggambarkan temuan kelenjar tersebut pada kecurigaan keganasan lambung ini?

  1. ATanda Virchow
  2. BTanda Grey Turner
  3. CTanda Murphy
  4. DTanda McBurney
  5. ETanda Cullen
Lihat jawaban
Jawaban: A. Tanda Virchow

Pembesaran kelenjar getah bening supraklavikula kiri yang keras dan tidak nyeri pada pasien dengan kecurigaan karsinoma gaster dikenal sebagai tanda Virchow, yang menggambarkan metastasis sel kanker melalui duktus torasikus ke kelenjar getah bening tersebut. Faktor risiko karsinoma gaster pada pasien ini meliputi konsumsi makanan tinggi garam dan makanan yang diasap atau diawetkan, serta riwayat merokok, yang berkaitan dengan peningkatan risiko adenokarsinoma lambung tipe intestinal. Temuan ini biasanya menandakan stadium lanjut dan prognosis buruk. Nodul Sister Mary Joseph (metastasis periumbilikal) merupakan tanda lain yang juga dapat ditemukan pada keganasan intraabdomen lanjut termasuk karsinoma gaster.

  • B. Tanda Grey Turner adalah ekimosis pada pinggang yang berkaitan dengan pankreatitis hemoragik retroperitoneal.
  • C. Tanda Murphy merupakan tanda nyeri tekan saat inspirasi dalam pada palpasi kuadran kanan atas, khas untuk kolesistitis akut.
  • D. Tanda McBurney adalah titik nyeri tekan pada apendisitis akut, tidak berkaitan dengan metastasis kelenjar getah bening.
  • E. Tanda Cullen adalah ekimosis periumbilikal yang berkaitan dengan pankreatitis hemoragik atau ruptur kehamilan ektopik.
Poin penting: Tanda Virchow berupa pembesaran kelenjar getah bening supraklavikula kiri menandakan metastasis karsinoma gaster stadium lanjut.
15

Bayi laki-laki berusia 5 minggu dibawa ke puskesmas karena muntah hebat yang menyemprot setelah menyusu, terjadi hampir setiap kali minum ASI sejak 1 minggu terakhir. Bayi masih mau menyusu kembali segera setelah muntah. Pemeriksaan fisik: berat badan tampak turun dibanding kontrol sebelumnya, bayi tampak sedikit lemas dengan turgor kulit menurun. Pada palpasi abdomen regio epigastrium kanan teraba massa kecil memanjang seperti buah zaitun. Pemeriksaan laboratorium darah menunjukkan pH 7,52, HCO3- 32 mEq/L, Cl- 88 mEq/L, K+ 3,0 mEq/L. Apakah diagnosis yang paling mungkin?

  1. AMalrotasi usus dengan volvulus
  2. BStenosis pilorus hipertrofik
  3. CAtresia duodenum
  4. DAlergi protein susu sapi
  5. ERefluks gastroesofageal fisiologis
Lihat jawaban
Jawaban: B. Stenosis pilorus hipertrofik

Muntah projektil non-bilier pada bayi usia 2-8 minggu, teraba massa oliva di epigastrium kanan (hipertrofi otot pilorus), serta alkalosis metabolik hipokloremik hipokalemik akibat kehilangan asam lambung (HCl) yang berulang merupakan trias klasik stenosis pilorus hipertrofik. Mekanisme alkalosis terjadi karena hilangnya ion H+ dan Cl- melalui muntah, sementara ginjal mengkompensasi dengan menahan bikarbonat dan membuang K+ (hipokalemia) demi mempertahankan netralitas elektrokimia. Diagnosis dikonfirmasi dengan USG abdomen yang menunjukkan penebalan otot pilorus >3-4 mm dan panjang kanal pilorus >14-17 mm. Tatalaksana definitif adalah piloromiotomi setelah koreksi cairan dan elektrolit.

  • A. Malrotasi dengan volvulus biasanya muncul mendadak dengan muntah bilier dan tanda obstruksi akut, bukan progresif selama berminggu-minggu.
  • C. Atresia duodenum menyebabkan muntah bilier sejak hari pertama kehidupan, bukan onset usia 5 minggu, dan tidak teraba massa oliva.
  • D. Alergi protein susu sapi menimbulkan gejala gastrointestinal campuran dan sering disertai darah pada feses, bukan massa oliva dan alkalosis hipokloremik yang khas.
  • E. Refluks gastroesofageal fisiologis tidak menyebabkan muntah projektil hebat, alkalosis metabolik, atau massa teraba.
Poin penting: Stenosis pilorus hipertrofik khas ditandai muntah projektil non-bilier, massa oliva epigastrium, dan alkalosis metabolik hipokloremik hipokalemik pada bayi usia 2-8 minggu.
Kesulitan di satu topik?Minta asisten WhiteCoat Pro menjelaskannya, mengubah catatan Anda menjadi flashcard, atau menyusun rencana belajar untuk UKMPPD.
Buka asisten

Usus Halus dan Malabsorpsi

5 soal
16

Seorang perempuan berusia 28 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan diare kronis berlendir dan berminyak, kembung, serta penurunan berat badan 6 kg dalam 4 bulan. Keluhan dirasakan memberat setelah makan roti atau mi. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan anemia defisiensi besi dan kadar antibodi anti-transglutaminase jaringan (anti-tTG) IgA yang meningkat tajam. Biopsi duodenum menunjukkan atrofi vili, hiperplasia kripta, dan infiltrasi limfosit intraepitel. Apakah mekanisme dasar yang menyebabkan kerusakan mukosa usus pada kondisi ini?

  1. AInfeksi mikobakterium yang menyebabkan granuloma kaseosa transmural
  2. BPertumbuhan berlebih bakteri di usus halus akibat gangguan motilitas
  3. CDefisiensi enzim laktase pada brush border enterosit
  4. DInvasi bakteri Salmonella typhi ke plak Peyer ileum terminal
  5. ERespons inflamasi dimediasi sel T terhadap gluten yang dideaminasi oleh transglutaminase jaringan
Lihat jawaban
Jawaban: E. Respons inflamasi dimediasi sel T terhadap gluten yang dideaminasi oleh transglutaminase jaringan

Penyakit celiac adalah enteropati autoimun yang dipicu oleh konsumsi gluten (gliadin) pada individu dengan predisposisi genetik HLA-DQ2/DQ8. Enzim transglutaminase jaringan mendeaminasi gliadin menjadi peptida yang lebih imunogenik, yang kemudian dipresentasikan oleh sel dendritik melalui HLA-DQ2/DQ8 kepada sel T CD4+ di lamina propria. Aktivasi sel T ini memicu pelepasan sitokin proinflamasi yang merusak enterosit dan menyebabkan atrofi vili serta hiperplasia kripta. Antibodi anti-tTG IgA yang terbentuk digunakan sebagai penanda diagnostik utama dengan sensitivitas dan spesifisitas tinggi. Tatalaksana utama adalah diet bebas gluten seumur hidup.

  • A. Infeksi mikobakterium dengan granuloma kaseosa merupakan mekanisme tuberkulosis usus, bukan celiac.
  • B. Pertumbuhan bakteri berlebih (SIBO) merupakan entitas berbeda yang tidak melibatkan antibodi anti-tTG.
  • C. Defisiensi laktase menyebabkan intoleransi laktosa, bukan reaksi autoimun terhadap gluten dengan atrofi vili.
  • D. Invasi Salmonella typhi ke plak Peyer merupakan mekanisme demam tifoid, bukan celiac.
Poin penting: Penyakit celiac disebabkan oleh respons imun sel T terhadap gliadin yang dideaminasi oleh transglutaminase jaringan pada individu HLA-DQ2/DQ8 positif, ditandai antibodi anti-tTG dan atrofi vili duodenum.
17

Seorang laki-laki berusia 24 tahun mengeluh kembung, nyeri perut seperti kram, dan diare cair yang timbul sekitar 1-2 jam setelah minum susu sapi, membaik bila tidak mengonsumsi produk susu. Pemeriksaan fisik dalam batas normal. Pemeriksaan feses tidak menunjukkan leukosit maupun darah. Apakah pemeriksaan penunjang yang paling tepat untuk menegakkan diagnosis pada pasien ini?

  1. APemeriksaan antibodi anti-transglutaminase jaringan serum
  2. BBiopsi duodenum untuk menilai atrofi vili
  3. CPemeriksaan kadar elastase pankreas pada feses
  4. DKultur feses untuk bakteri patogen
  5. ETes hidrogen napas (hydrogen breath test) setelah pembebanan laktosa
Lihat jawaban
Jawaban: E. Tes hidrogen napas (hydrogen breath test) setelah pembebanan laktosa

Intoleransi laktosa terjadi akibat defisiensi enzim laktase pada brush border enterosit usus halus, sehingga laktosa tidak terhidrolisis menjadi glukosa dan galaktosa dan tetap berada di lumen usus, difermentasi oleh bakteri kolon menghasilkan gas hidrogen, asam lemak rantai pendek, dan menarik air secara osmotik sehingga timbul kembung, kram, dan diare. Tes hidrogen napas mengukur peningkatan kadar hidrogen dalam napas setelah pembebanan laktosa oral, karena hidrogen yang dihasilkan fermentasi bakteri diserap ke darah dan diekskresikan melalui paru. Peningkatan hidrogen napas lebih dari 20 ppm di atas nilai basal menunjukkan hasil positif. Tes ini non-invasif dan merupakan baku emas untuk konfirmasi diagnosis intoleransi laktosa.

  • A. Antibodi anti-tTG adalah pemeriksaan untuk penyakit celiac, tidak relevan pada defisiensi laktase.
  • B. Biopsi duodenum dengan atrofi vili digunakan untuk diagnosis penyakit celiac, bukan intoleransi laktosa yang histologinya normal.
  • C. Elastase feses digunakan untuk menilai insufisiensi eksokrin pankreas, bukan defisiensi laktase di brush border usus.
  • D. Kultur feses digunakan untuk mencari patogen penyebab diare infeksi, bukan untuk menilai defisiensi enzim.
Poin penting: Tes hidrogen napas setelah pembebanan laktosa merupakan baku emas non-invasif untuk mendiagnosis intoleransi laktosa akibat defisiensi laktase.
18

Seorang perempuan berusia 35 tahun datang dengan nyeri perut kanan bawah berulang, demam subfebris, penurunan berat badan 5 kg dalam 3 bulan, dan batuk kronis berdahak sejak 2 bulan yang lalu. Pemeriksaan fisik: suhu 37,8°C, teraba massa di fossa iliaka kanan yang nyeri tekan. Foto toraks menunjukkan infiltrat di apeks paru kanan dengan kavitas. Kolonoskopi menunjukkan ulkus transversal di ileum terminal dan sekum dengan tepi ulkus ireguler, serta ditemukan nodul submukosa. Biopsi menunjukkan granuloma kaseosa konfluen dengan nekrosis sentral. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?

  1. AKolitis ulseratif
  2. BTuberkulosis usus
  3. CKarsinoma sekum
  4. DLimfoma usus halus
  5. EPenyakit Crohn
Lihat jawaban
Jawaban: B. Tuberkulosis usus

Tuberkulosis usus khas mengenai area ileosekal karena stasis cairan dan kelimpahan jaringan limfoid di region tersebut, menimbulkan ulkus transversal dengan granuloma kaseosa konfluen yang besar dan nekrosis sentral pada biopsi, disertai bukti TB aktif di tempat lain seperti infiltrat kavitas apeks paru. Hal ini berbeda dengan penyakit Crohn yang granulomanya non-kaseosa, kecil, dan tidak konfluen, serta biasanya tanpa fokus TB paru penyerta. Diagnosis TB usus memerlukan konfirmasi dengan pemeriksaan BTA, kultur Mycobacterium tuberculosis, GeneXpert, atau PCR dari jaringan biopsi. Tatalaksana menggunakan obat antituberkulosis kategori 1 selama 6-9 bulan sesuai PNPK Kemenkes.

  • A. Kolitis ulseratif terbatas pada mukosa kolon secara kontinu mulai dari rektum, tidak membentuk granuloma kaseosa, dan tidak mengenai ileum terminal secara khas.
  • C. Karsinoma sekum menunjukkan massa dengan gambaran histopatologi sel epitel maligna, bukan granuloma kaseosa.
  • D. Limfoma usus halus tidak menunjukkan granuloma kaseosa dan biasanya disertai gambaran massa infiltratif pada pencitraan, bukan ulkus transversal dengan nekrosis kaseosa.
  • E. Penyakit Crohn menunjukkan granuloma non-kaseosa tanpa nekrosis sentral dan tidak disertai bukti TB paru aktif.
Poin penting: Tuberkulosis usus khas mengenai ileosekal dengan ulkus transversal dan granuloma kaseosa konfluen, berbeda dari Crohn yang granulomanya non-kaseosa, dan sering disertai fokus TB ekstraintestinal seperti paru.
19

Seorang laki-laki berusia 19 tahun dirawat di bangsal dengan demam tifoid sejak 16 hari yang lalu, belum mendapat terapi antibiotik yang adekuat. Pada hari perawatan ketiga, pasien mendadak mengeluh nyeri perut hebat yang menyebar ke seluruh lapangan abdomen, disertai mual dan muntah. Pemeriksaan fisik: tekanan darah 90/60 mmHg, frekuensi nadi 120 kali/menit, suhu 38,9°C. Abdomen tampak distensi, defans muskular pada seluruh kuadran, bising usus menghilang. Foto polos abdomen tegak menunjukkan gambaran udara bebas subdiafragma bilateral. Apakah komplikasi yang paling mungkin terjadi pada pasien ini?

  1. APankreatitis akut tifoid
  2. BPerforasi usus halus
  3. CAbses hati piogenik
  4. DPerdarahan saluran cerna bawah
  5. EKolesistitis akut tifoid
Lihat jawaban
Jawaban: B. Perforasi usus halus

Perforasi usus merupakan komplikasi serius demam tifoid yang paling sering terjadi pada minggu ketiga penyakit, akibat nekrosis dan ulserasi plak Peyer di ileum terminal yang mengalami hiperplasia limfoid akibat invasi Salmonella typhi. Tanda klinis khas berupa nyeri perut akut generalisata, defans muskular, distensi, dan tanda peritonitis disertai syok sepsis (takikardia, hipotensi). Gambaran udara bebas subdiafragma pada foto polos abdomen tegak mengonfirmasi adanya perforasi organ berlubang. Tatalaksana memerlukan laparotomi eksplorasi segera disertai resusitasi cairan dan antibiotik spektrum luas.

  • A. Pankreatitis akut menimbulkan nyeri epigastrium menjalar ke punggung dengan peningkatan amilase/lipase, bukan gambaran udara bebas subdiafragma.
  • C. Abses hati piogenik menimbulkan nyeri perut kanan atas dengan hepatomegali, bukan tanda peritonitis generalisata dan udara bebas subdiafragma.
  • D. Perdarahan saluran cerna bawah pada tifoid bermanifestasi sebagai hematokezia, bukan tanda akut abdomen dengan udara bebas subdiafragma.
  • E. Kolesistitis akut menimbulkan nyeri kuadran kanan atas dengan tanda Murphy positif, bukan peritonitis generalisata dengan udara bebas.
Poin penting: Perforasi usus pada demam tifoid umumnya terjadi pada minggu ketiga akibat nekrosis plak Peyer ileum, ditandai tanda peritonitis akut dan udara bebas subdiafragma pada foto polos abdomen.
20

Seorang bayi laki-laki berusia 8 bulan dibawa ke IGD dengan riwayat menangis mendadak dan menekuk kedua tungkai ke perut secara episodik setiap 15-20 menit sejak 6 jam yang lalu, di antara episode tampak lemas dan mengantuk. Ibu melaporkan bayi muntah dan buang air besar berlendir bercampur darah berwarna merah kehitaman seperti jeli sejak 2 jam terakhir. Pemeriksaan fisik: frekuensi nadi 150 kali/menit, pada palpasi abdomen kanan teraba massa memanjang seperti sosis di kuadran kanan atas, pada colok dubur didapatkan darah bercampur lendir pada sarung tangan. Apakah tatalaksana awal yang paling tepat setelah stabilisasi pasien?

  1. APemasangan nasogastric tube dan puasa tanpa prosedur reduksi
  2. BPemberian antibiotik spektrum luas dan observasi tanpa reduksi
  3. CLaparotomi eksplorasi segera tanpa pencitraan awal
  4. DReduksi dengan enema barium atau udara dipandu radiologi
  5. EAppendektomi segera karena dicurigai apendisitis akut
Lihat jawaban
Jawaban: D. Reduksi dengan enema barium atau udara dipandu radiologi

Intususepsi pada anak khas terjadi pada usia 3 bulan sampai 3 tahun dengan trias nyeri kolik abdomen episodik, massa abdomen seperti sosis, dan feses currant jelly stool (berlendir campur darah) akibat invaginasi segmen usus proksimal ke segmen distal yang menyebabkan obstruksi dan iskemia mukosa. Setelah resusitasi cairan dan stabilisasi hemodinamik, tatalaksana lini pertama pada pasien tanpa tanda peritonitis atau perforasi adalah reduksi non-operatif menggunakan enema udara atau barium yang dipandu fluoroskopi atau USG, yang juga bersifat diagnostik sekaligus terapeutik. Reduksi berhasil pada sekitar 80-90% kasus tanpa komplikasi. Operasi reduksi manual atau reseksi usus hanya dilakukan bila reduksi non-operatif gagal atau terdapat tanda peritonitis/perforasi/iskemia usus.

  • A. Pemasangan NGT dan puasa saja tidak mengatasi penyebab obstruksi, harus disertai tindakan reduksi.
  • B. Observasi tanpa reduksi berisiko menyebabkan iskemia dan nekrosis usus yang progresif, intususepsi memerlukan tindakan aktif.
  • C. Laparotomi langsung tanpa mencoba reduksi non-operatif terlebih dahulu tidak sesuai tata laksana lini pertama bila tidak ada tanda peritonitis atau perforasi.
  • E. Apendisitis akut memberikan gambaran klinis berbeda tanpa massa sosis atau currant jelly stool, dan bukan diagnosis pada kasus ini.
Poin penting: Intususepsi pada anak ditandai nyeri kolik episodik, massa seperti sosis, dan currant jelly stool; tatalaksana lini pertama tanpa tanda peritonitis adalah reduksi dengan enema udara atau barium dipandu radiologi.

Usus Besar - Inflamasi dan Infeksi

7 soal
21

Seorang laki-laki berusia 30 tahun mengeluh diare berdarah bercampur lendir sejak 3 bulan terakhir, disertai tenesmus dan nyeri perut bawah. Kolonoskopi menunjukkan lesi inflamasi kontinu mulai dari rektum meluas ke proksimal hingga kolon desenden, mukosa tampak eritema difus, rapuh, dan mudah berdarah tanpa area mukosa normal yang terlewat di antaranya. Biopsi menunjukkan inflamasi terbatas pada mukosa dan submukosa dengan abses kripta, tanpa ditemukan granuloma. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?

  1. AKolitis pseudomembran
  2. BKolitis iskemik
  3. CPenyakit Crohn
  4. DKolitis tuberkulosis
  5. EKolitis ulseratif
Lihat jawaban
Jawaban: E. Kolitis ulseratif

Kolitis ulseratif khas menyebabkan inflamasi kontinu yang selalu dimulai dari rektum dan meluas secara proksimal tanpa skip lesion, terbatas hanya pada mukosa dan submukosa kolon, dengan gambaran histopatologi abses kripta tanpa granuloma. Hal ini berbeda dengan penyakit Crohn yang dapat mengenai seluruh saluran cerna dari mulut hingga anus secara segmental (skip lesion), bersifat transmural, dan menunjukkan granuloma non-kaseosa pada biopsi. Gejala klinis diare berdarah dengan tenesmus pada kolitis ulseratif berkaitan dengan keterlibatan rektum yang hampir selalu terjadi. Tatalaksana lini pertama kolitis ulseratif ringan-sedang adalah aminosalisilat (mesalazin/sulfasalazin) topikal atau oral.

  • A. Kolitis pseudomembran berkaitan dengan riwayat penggunaan antibiotik dan infeksi Clostridioides difficile, dengan gambaran pseudomembran kekuningan pada kolonoskopi.
  • B. Kolitis iskemik umumnya terjadi pada usia tua dengan faktor risiko vaskular dan mengenai daerah watershed, bukan inflamasi kontinu dari rektum.
  • C. Penyakit Crohn menunjukkan lesi segmental dengan skip lesion dan inflamasi transmural disertai granuloma, berbeda dengan kasus ini yang kontinu dan terbatas mukosa-submukosa.
  • D. Kolitis tuberkulosis khas mengenai daerah ileosekal dengan granuloma kaseosa, bukan inflamasi kontinu rektum-kolon tanpa granuloma.
Poin penting: Kolitis ulseratif menunjukkan inflamasi kontinu mulai dari rektum terbatas pada mukosa-submukosa tanpa granuloma, berbeda dengan Crohn yang segmental, transmural, dan bergranuloma.
22

Seorang laki-laki berusia 28 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan diare berdarah dan berlendir sejak 2 hari yang lalu, frekuensi 10-15 kali per hari dalam jumlah sedikit setiap kali buang air besar. Pasien juga mengeluh nyeri perut hebat sebelum defekasi dan rasa ingin buang air besar terus-menerus walau feses sudah habis. Suhu tubuh 38,9°C, frekuensi nadi 102 kali/menit. Pemeriksaan mikroskopis tinja menunjukkan banyak sel leukosit polimorfonuklear dan eritrosit, tanpa ditemukan trofozoit berisi eritrosit. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?

  1. AAmoebiasis intestinal
  2. BKolera
  3. CGiardiasis
  4. DDisentri basiler
  5. EKolitis ulseratif
Lihat jawaban
Jawaban: D. Disentri basiler

Disentri basiler akibat Shigella khas memberikan gejala onset akut dan cepat memberat, demam tinggi, nyeri kolik abdomen, tenesmus, serta tinja berlendir dan berdarah dalam volume kecil namun frekuensi sangat sering. Pada pemeriksaan mikroskopis tinja ditemukan banyak leukosit PMN akibat invasi mukosa kolon oleh bakteri, berbeda dengan amoebiasis yang biasanya menunjukkan sedikit leukosit namun ditemukan trofozoit Entamoeba histolytica berisi eritrosit fagositosis. Demam tinggi dan progresivitas cepat lebih mengarah ke etiologi bakteri invasif seperti Shigella dibandingkan parasit. Tatalaksana disentri basiler meliputi antibiotik seperti kotrimoksazol atau siprofloksasin sesuai pola resistensi lokal, berbeda dengan amoebiasis yang diterapi metronidazole.

  • A. Amoebiasis intestinal biasanya bersifat lebih subakut, leukosit tinja sedikit, dan ditemukan trofozoit berisi eritrosit pada pemeriksaan mikroskopis.
  • B. Kolera memberikan diare cair seperti air cucian beras tanpa darah atau lendir dan tanpa nyeri kolik hebat.
  • C. Giardiasis menyebabkan diare kronis berlemak (steatorea) tanpa darah, bukan disentri akut.
  • E. Kolitis ulseratif merupakan penyakit inflamasi kronik berulang, bukan presentasi akut infeksi dengan demam tinggi seperti kasus ini.
Poin penting: Disentri basiler (Shigella) khas dengan demam tinggi, tenesmus, dan leukosit PMN banyak pada tinja tanpa trofozoit, berbeda dari amoebiasis yang menunjukkan trofozoit berisi eritrosit dengan leukosit tinja minimal.
23

Seorang laki-laki berusia 35 tahun datang ke IGD rumah sakit dengan demam tinggi disertai menggigil sejak 5 hari yang lalu dan nyeri perut kanan atas yang menjalar ke bahu kanan. Tiga minggu sebelumnya pasien mengalami diare berlendir dan berdarah yang sembuh sendiri tanpa pengobatan. Pemeriksaan fisik menunjukkan suhu 39,2°C, hepatomegali dengan nyeri tekan pada kuadran kanan atas, dan tanda Ludwig positif. Pemeriksaan USG abdomen menunjukkan lesi hipoekoik bulat berbatas tegas berukuran 6 cm di lobus kanan hati. Pemeriksaan serologi antibodi Entamoeba histolytica positif. Apakah terapi lini pertama yang paling tepat untuk pasien ini?

  1. AAmfoterisin B intravena
  2. BAlbendazole oral
  3. CDoksisiklin oral
  4. DMetronidazole oral
  5. ESiprofloksasin intravena
Lihat jawaban
Jawaban: D. Metronidazole oral

Abses hati amuba merupakan komplikasi ekstraintestinal amoebiasis akibat invasi trofozoit Entamoeba histolytica melalui vena porta ke hati, biasanya didahului riwayat disentri amuba beberapa minggu sebelumnya. Metronidazole merupakan terapi lini pertama karena efektif membunuh trofozoit jaringan melalui pembentukan radikal bebas yang merusak DNA parasit. Dosis yang umum digunakan adalah 500-750 mg tiga kali sehari selama 7-10 hari. Pada abses besar atau tidak respons terhadap terapi medikamentosa dalam 72 jam, dapat dipertimbangkan aspirasi atau drainase perkutan sebagai terapi tambahan.

  • A. Amfoterisin B digunakan untuk infeksi jamur sistemik, bukan untuk amoebiasis.
  • B. Albendazole merupakan antihelmintik, tidak memiliki aktivitas signifikan terhadap Entamoeba histolytica.
  • C. Doksisiklin tidak memiliki indikasi untuk amoebiasis atau abses hati amuba.
  • E. Siprofloksasin adalah antibiotik untuk infeksi bakteri, tidak efektif terhadap parasit amuba.
Poin penting: Abses hati amuba sebagai komplikasi amoebiasis diterapi lini pertama dengan metronidazole oral karena efektif terhadap trofozoit jaringan Entamoeba histolytica.
24

Seorang perempuan berusia 40 tahun dibawa ke puskesmas dengan diare cair sangat banyak seperti air cucian beras sejak 6 jam yang lalu, tanpa disertai nyeri perut atau demam. Pasien sudah buang air besar lebih dari 15 kali. Pemeriksaan fisik menunjukkan kesadaran menurun, mata cekung, turgor kulit kembali sangat lambat, frekuensi nadi 130 kali/menit teraba lemah, dan tekanan darah 80/50 mmHg. Pemeriksaan tinja menunjukkan bakteri berbentuk koma yang motil pada mikroskop lapangan gelap. Apakah mekanisme utama yang menyebabkan diare profus pada kondisi ini?

  1. AToksin menyebabkan paralisis motilitas usus sehingga stasis cairan intraluminal
  2. BToksin menghambat absorpsi natrium melalui kerusakan brush border enterosit usus halus
  3. CToksin mengaktifkan adenilat siklase sehingga sekresi klorida dan air ke lumen usus meningkat
  4. DBakteri menghasilkan enterotoksin yang merusak vili usus sehingga malabsorpsi laktosa
  5. EBakteri menginvasi mukosa kolon menyebabkan destruksi sel epitel dan perdarahan
Lihat jawaban
Jawaban: C. Toksin mengaktifkan adenilat siklase sehingga sekresi klorida dan air ke lumen usus meningkat

Vibrio cholerae menghasilkan toksin kolera yang terdiri dari subunit A dan B; subunit B berikatan dengan reseptor ganglioside GM1 pada enterosit, memungkinkan subunit A masuk dan mengaktifkan adenilat siklase secara ireversibel melalui ADP-ribosilasi protein G. Peningkatan cAMP intraseluler ini menyebabkan sekresi aktif ion klorida dan diikuti natrium serta air secara masif ke lumen usus halus tanpa disertai kerusakan struktural mukosa. Mekanisme ini menjelaskan mengapa diare pada kolera berupa cairan jernih seperti air cucian beras tanpa darah atau leukosit, berbeda dari diare invasif. Pasien ini dengan dehidrasi berat (kesadaran menurun, nadi cepat lemah, hipotensi) memerlukan rehidrasi cairan intravena segera menggunakan RL dengan kecepatan sesuai derajat dehidrasi berat menurut klasifikasi WHO.

  • A. Toksin kolera justru merangsang hipersekresi aktif, bukan menyebabkan stasis usus akibat paralisis motilitas.
  • B. Mekanisme toksin kolera bekerja melalui aktivasi adenilat siklase, bukan penghambatan langsung absorpsi natrium pada brush border.
  • D. Kolera tidak merusak struktur vili usus sehingga malabsorpsi bukan mekanisme utama diare pada kondisi ini.
  • E. Kolera bersifat non-invasif, toksin bekerja pada tingkat seluler tanpa merusak struktur mukosa usus.
Poin penting: Toksin kolera mengaktifkan adenilat siklase melalui ADP-ribosilasi protein G sehingga terjadi hipersekresi klorida dan air tanpa invasi atau kerusakan mukosa usus.
25

Seorang anak laki-laki berusia 2 tahun dibawa ibunya ke puskesmas dengan diare cair 6 kali sehari sejak 1 hari yang lalu, tanpa darah atau lendir. Anak masih mau minum dan tampak aktif bermain. Pemeriksaan fisik menunjukkan berat badan 12 kg, kesadaran kompos mentis, mata tidak cekung, turgor kulit kembali segera, dan anak tidak tampak kehausan berlebihan. Tidak ditemukan tanda dehidrasi. Sesuai program LINTAS DIARE Kementerian Kesehatan, apakah tatalaksana awal yang paling tepat diberikan pada anak ini selain edukasi untuk melanjutkan pemberian makan?

  1. AOralit sesuai kebutuhan dan antibiotik metronidazole empiris
  2. BCairan rehidrasi intravena RL dan antibiotik kotrimoksazol
  3. CCairan rehidrasi intravena RL tanpa pemberian zinc
  4. DOralit sesuai kebutuhan dan zinc 20 mg per hari selama 10 hari
  5. EOralit sesuai kebutuhan dan antidiare loperamide
Lihat jawaban
Jawaban: D. Oralit sesuai kebutuhan dan zinc 20 mg per hari selama 10 hari

Program LINTAS DIARE (Lima Langkah Tuntaskan Diare) Kementerian Kesehatan RI terdiri dari pemberian oralit, zinc, ASI/makanan tetap diberikan, antibiotik hanya atas indikasi, dan edukasi kepada orang tua. Pada anak tanpa tanda dehidrasi (rencana terapi A), oralit diberikan untuk mengganti cairan yang hilang sesuai kebutuhan setelah setiap kali buang air besar cair. Zinc diberikan dengan dosis 20 mg per hari selama 10-14 hari pada anak usia di atas 6 bulan karena terbukti mengurangi durasi dan keparahan episode diare serta mencegah episode berulang dalam 2-3 bulan ke depan. Antibiotik tidak diindikasikan pada diare akut cair tanpa tanda infeksi invasif seperti darah dalam tinja.

  • A. Antibiotik empiris tidak diindikasikan karena tidak ada tanda disentri atau infeksi invasif pada kasus ini.
  • B. Anak tanpa tanda dehidrasi tidak memerlukan cairan intravena, dan antibiotik tidak diindikasikan pada diare cair tanpa darah.
  • C. Rehidrasi intravena tidak diperlukan pada anak tanpa dehidrasi, dan zinc tetap harus diberikan sesuai program LINTAS DIARE.
  • E. Loperamide tidak direkomendasikan pada anak karena risiko memperlambat eliminasi patogen dan efek samping ileus.
Poin penting: Program LINTAS DIARE pada anak tanpa dehidrasi menekankan pemberian oralit dan zinc 20 mg per hari selama 10-14 hari tanpa antibiotik rutin.
26

Seorang perempuan berusia 65 tahun dirawat di rumah sakit karena pneumonia dan mendapat terapi seftriakson intravena selama 10 hari. Pada hari ke-12 perawatan, pasien mengalami diare cair berbau sangat menyengat sebanyak 8 kali sehari disertai nyeri perut kram dan demam 38,5°C. Pemeriksaan fisik menunjukkan distensi abdomen ringan dengan nyeri tekan difus tanpa tanda peritonitis. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan leukosit 18.000/µL. Apakah pemeriksaan penunjang yang paling tepat untuk menegakkan diagnosis pada pasien ini?

  1. APemeriksaan mikroskopis tinja untuk telur dan parasit
  2. BPemeriksaan feses rutin untuk leukosit dan eritrosit
  3. CKolonoskopi dengan biopsi mukosa kolon
  4. DDeteksi toksin Clostridioides difficile pada tinja
  5. EKultur tinja rutin untuk bakteri patogen
Lihat jawaban
Jawaban: D. Deteksi toksin Clostridioides difficile pada tinja

Kolitis pseudomembran disebabkan oleh toksin A dan B Clostridioides difficile yang berproliferasi akibat gangguan flora normal usus setelah penggunaan antibiotik spektrum luas, seperti seftriakson pada kasus ini. Diagnosis ditegakkan melalui deteksi toksin C. difficile pada tinja menggunakan metode enzyme immunoassay atau PCR/NAAT yang lebih sensitif dan spesifik. Onset diare biasanya terjadi selama atau beberapa minggu setelah terapi antibiotik, dengan gejala khas diare berbau menyengat, nyeri perut kram, dan leukositosis. Tatalaksana lini pertama adalah menghentikan antibiotik pencetus bila memungkinkan dan memberikan vankomisin oral atau fidaksomisin sesuai derajat keparahan.

  • A. Pemeriksaan parasit tidak relevan karena etiologi pada kasus ini adalah bakteri toksigenik, bukan parasit.
  • B. Pemeriksaan leukosit dan eritrosit tinja tidak spesifik untuk C. difficile dan tidak dapat memastikan diagnosis.
  • C. Kolonoskopi dapat menunjukkan pseudomembran namun bersifat invasif dan bukan pemeriksaan lini pertama dibandingkan uji toksin tinja.
  • E. Kultur tinja rutin tidak mendeteksi toksin C. difficile dan tidak sensitif untuk diagnosis kolitis pseudomembran.
Poin penting: Diagnosis kolitis pseudomembran ditegakkan dengan deteksi toksin Clostridioides difficile pada tinja pada pasien dengan riwayat penggunaan antibiotik dan diare onset baru.
27

Seorang perempuan berusia 50 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan nyeri perut kanan bawah berulang, penurunan berat badan 6 kg dalam 3 bulan, demam subfebris, dan perubahan pola buang air besar sejak 2 bulan terakhir. Pasien tinggal di daerah endemis tuberkulosis dan memiliki riwayat kontak dengan pasien TB paru. Pemeriksaan fisik menunjukkan massa teraba di kuadran kanan bawah dengan nyeri tekan ringan. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan anemia ringan dan LED meningkat. Apakah pemeriksaan penunjang yang paling tepat untuk membedakan kolitis tuberkulosis dari karsinoma kolon pada pasien ini?

  1. APemeriksaan tuberkulin skin test (Mantoux)
  2. BPemeriksaan tumor marker CEA serum
  3. CPemeriksaan foto toraks untuk mencari TB paru aktif
  4. DKolonoskopi dengan biopsi multipel untuk histopatologi dan kultur/PCR TB
  5. ECT scan abdomen dengan kontras saja tanpa biopsi
Lihat jawaban
Jawaban: D. Kolonoskopi dengan biopsi multipel untuk histopatologi dan kultur/PCR TB

Kolitis tuberkulosis dan karsinoma kolon, terutama di sekum dan kolon asendens, dapat memberikan presentasi klinis yang serupa berupa massa abdomen, penurunan berat badan, dan perubahan kebiasaan buang air besar, sehingga sulit dibedakan hanya berdasarkan gejala klinis atau pencitraan. Kolonoskopi dengan biopsi multipel merupakan pemeriksaan baku untuk menegakkan diagnosis definitif, memungkinkan visualisasi langsung lesi (ulkus transversal pada TB versus massa ulseratif ireguler pada karsinoma) serta pengambilan jaringan untuk histopatologi (granuloma kaseosa pada TB) dan pemeriksaan mikrobiologi berupa kultur atau PCR Mycobacterium tuberculosis. Pencitraan seperti CT scan dapat membantu menilai luasnya lesi namun tidak dapat memastikan diagnosis histopatologis. Tuberkulin skin test dan foto toraks tidak dapat memastikan keterlibatan usus karena TB ekstraparu dapat terjadi tanpa TB paru aktif.

  • A. Mantoux test hanya menunjukkan pajanan terhadap Mycobacterium tuberculosis dan tidak dapat memastikan lokasi atau diagnosis lesi usus.
  • B. CEA dapat meningkat pada karsinoma kolon namun tidak spesifik dan tidak dapat membedakan secara definitif dari kolitis TB.
  • C. Foto toraks dapat normal pada TB usus tanpa keterlibatan paru sehingga tidak dapat menyingkirkan atau memastikan diagnosis.
  • E. CT scan dapat menunjukkan penebalan dinding atau massa namun tidak dapat memberikan diagnosis histopatologis definitif tanpa biopsi.
Poin penting: Kolonoskopi dengan biopsi multipel untuk histopatologi dan kultur/PCR TB merupakan pemeriksaan terbaik untuk membedakan kolitis tuberkulosis dari karsinoma kolon.

Kegawatan Abdomen Bedah

7 soal
28

Seorang laki-laki berusia 22 tahun datang ke IGD dengan nyeri perut yang awalnya dirasakan di sekitar umbilikus sejak 18 jam yang lalu, kemudian berpindah dan menetap di perut kanan bawah sejak 6 jam terakhir. Pasien juga mengeluh mual dan tidak nafsu makan. Pemeriksaan fisik menunjukkan suhu 37,9°C, nyeri tekan dan nyeri lepas pada titik McBurney, serta nyeri perut kanan bawah yang bertambah saat palpasi kuadran kiri bawah. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan leukosit 13.200/µL dengan 78% neutrofil. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?

  1. AAppendisitis akut
  2. BKolesistitis akut
  3. CKista ovarium terputar
  4. DDivertikulitis Meckel
  5. ELimfadenitis mesenterika
Lihat jawaban
Jawaban: A. Appendisitis akut

Appendisitis akut khas dengan nyeri viseral periumbilikal yang kemudian beralih menjadi nyeri somatik terlokalisasi di titik McBurney (sepertiga jarak dari SIAS ke umbilikus) akibat progresi inflamasi dari lumen appendiks ke peritoneum parietal. Tanda Rovsing positif, yaitu nyeri di kuadran kanan bawah saat palpasi kuadran kiri bawah, terjadi akibat pergeseran gas usus yang meregangkan peritoneum yang meradang di sisi kanan. Leukositosis dengan predominasi neutrofil mendukung proses inflamasi akut. Skor Alvarado yang mencakup gejala migrasi nyeri, anoreksia, mual/muntah, nyeri tekan kuadran kanan bawah, nyeri lepas, demam, leukositosis, dan shift neutrofil digunakan untuk membantu stratifikasi kemungkinan diagnosis sebelum tindakan apendektomi.

  • B. Kolesistitis akut memberikan nyeri kuadran kanan atas dengan tanda Murphy positif, bukan nyeri kuadran kanan bawah dengan migrasi khas.
  • C. Kista ovarium terputar terjadi pada pasien perempuan, tidak sesuai dengan jenis kelamin pasien pada kasus ini.
  • D. Divertikulitis Meckel jarang bermanifestasi pada usia ini dan biasanya ditandai perdarahan saluran cerna, bukan pola nyeri migrasi seperti kasus ini.
  • E. Limfadenitis mesenterika biasanya didahului infeksi saluran pernapasan atas dan tidak memberikan tanda Rovsing yang khas seperti appendisitis.
Poin penting: Appendisitis akut didiagnosis berdasarkan nyeri migrasi periumbilikal ke titik McBurney disertai tanda Rovsing, nyeri lepas, dan leukositosis dengan predominasi neutrofil.
29

Seorang perempuan berusia 24 tahun datang ke IGD puskesmas dengan nyeri perut kanan bawah sejak 18 jam yang lalu, awalnya dirasakan di ulu hati kemudian berpindah. Mual dan muntah dijumpai, nafsu makan menurun. Pemeriksaan tanda vital: suhu 38,1°C, tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 96 kali/menit. Pemeriksaan abdomen: nyeri tekan McBurney positif, Rovsing sign positif, tidak didapatkan defans muskular generalisata. Leukosit 13.200/µL. Dokter puskesmas mendiagnosis apendisitis akut tanpa tanda perforasi dan merujuk ke rumah sakit untuk operasi. Apakah tatalaksana definitif yang paling tepat untuk kondisi pasien ini?

  1. AApendektomi segera setelah pemberian antibiotik profilaksis praoperasi
  2. BLaparotomi eksplorasi tanpa persiapan antibiotik
  3. CObservasi rawat jalan dengan antibiotik oral selama 7 hari
  4. DDrainase perkutan abses appendiks terlebih dahulu
  5. EPemberian analgetik dan antibiotik tanpa tindakan operasi
Lihat jawaban
Jawaban: A. Apendektomi segera setelah pemberian antibiotik profilaksis praoperasi

Apendisitis akut tanpa komplikasi merupakan kegawatan bedah yang tatalaksana definitifnya adalah apendektomi, baik secara terbuka maupun laparoskopi. Antibiotik profilaksis diberikan praoperasi untuk menurunkan risiko infeksi luka operasi dan dilanjutkan sesuai temuan intraoperatif (misalnya bila ditemukan perforasi atau abses, antibiotik dilanjutkan pascaoperasi). Penundaan operasi meningkatkan risiko perforasi dan peritonitis. Tatalaksana konservatif hanya dipertimbangkan pada kasus tertentu dengan massa apendikular terkontrol, bukan pada kasus akut tanpa komplikasi seperti ini.

  • B. Operasi tanpa antibiotik profilaksis meningkatkan risiko infeksi luka operasi dan tidak sesuai standar.
  • C. Observasi rawat jalan tidak tepat karena berisiko perforasi dan peritonitis bila penanganan ditunda.
  • D. Drainase perkutan ditujukan untuk abses apendikular terlokalisasi, bukan apendisitis akut tanpa komplikasi.
  • E. Antibiotik saja tanpa operasi bukan tatalaksana definitif pada apendisitis akut tanpa komplikasi.
Poin penting: Tatalaksana definitif apendisitis akut tanpa komplikasi adalah apendektomi yang didahului antibiotik profilaksis praoperasi.
30

Seorang laki-laki berusia 58 tahun dibawa ke IGD dengan keluhan perut kembung, muntah berwarna kehijauan, dan tidak bisa buang air besar maupun flatus sejak 3 hari yang lalu. Pasien memiliki riwayat operasi usus 5 tahun yang lalu. Pemeriksaan tanda vital: tekanan darah 100/60 mmHg, nadi 110 kali/menit, suhu 37,0°C. Pemeriksaan abdomen: distensi simetris, bising usus meningkat bernada tinggi (metallic sound), tidak ada defans muskular. Dilakukan foto polos abdomen posisi tegak. Apakah gambaran radiologis yang paling sesuai untuk mendukung diagnosis pasien ini?

  1. AGambaran bird beak sign pada kolon sigmoid
  2. BGambaran air fluid level bertingkat dengan dilatasi usus halus berbentuk herring bone
  3. CGambaran free air subdiafragma pada kedua sisi
  4. DGambaran coffee bean sign pada regio kolon kiri
  5. EGambaran step ladder tanpa dilatasi usus
Lihat jawaban
Jawaban: B. Gambaran air fluid level bertingkat dengan dilatasi usus halus berbentuk herring bone

Pada ileus obstruktif usus halus, foto polos abdomen posisi tegak menunjukkan dilatasi lengkung usus halus dengan air fluid level yang tersusun bertingkat (step ladder) dan gambaran valvula konniventes yang menyerupai tulang ikan (herring bone appearance). Riwayat operasi abdomen sebelumnya mendukung etiologi adhesi sebagai penyebab obstruksi. Bising usus meningkat bernada metalik merupakan temuan klasik fase awal obstruksi mekanik. Gambaran ini berbeda dengan volvulus atau perforasi yang memiliki tanda radiologis khas lainnya.

  • A. Bird beak sign terlihat pada pencitraan kontras volvulus, bukan pada ileus obstruktif sederhana.
  • C. Free air subdiafragma menandakan perforasi organ berongga, bukan temuan khas ileus obstruktif.
  • D. Coffee bean sign merupakan tanda khas volvulus sigmoid, bukan ileus obstruktif usus halus.
  • E. Step ladder tanpa dilatasi tidak sesuai karena obstruksi mekanik justru menimbulkan dilatasi usus proksimal.
Poin penting: Ileus obstruktif usus halus bergambaran air fluid level bertingkat dengan pola herring bone pada foto polos abdomen tegak.
31

Seorang laki-laki berusia 72 tahun datang dengan keluhan perut membesar progresif dan tidak bisa flatus maupun buang air besar sejak 4 hari yang lalu. Pasien memiliki riwayat konstipasi kronis dan jarang beraktivitas. Pemeriksaan fisik: distensi abdomen asimetris, perkusi timpani, bising usus menurun. Tanda vital dalam batas normal. Dilakukan foto polos abdomen. Apakah gambaran radiologis yang paling khas untuk menunjang diagnosis kondisi pasien ini?

  1. AGambaran double bubble sign pada epigastrium
  2. BGambaran target sign pada regio periumbilikal
  3. CGambaran dilatasi usus halus berbentuk herring bone dengan air fluid level bertingkat
  4. DGambaran thumbprinting pada dinding kolon desendens
  5. EGambaran dua lengkung usus besar yang sangat dilatasi membentuk bentukan seperti biji kopi (coffee bean sign)
Lihat jawaban
Jawaban: E. Gambaran dua lengkung usus besar yang sangat dilatasi membentuk bentukan seperti biji kopi (coffee bean sign)

Volvulus sigmoid khas menunjukkan gambaran coffee bean sign pada foto polos abdomen, yaitu dilatasi masif kolon sigmoid yang terputar membentuk dua lengkung usus besar menyerupai biji kopi dengan garis tengah radiolusen di antaranya. Kondisi ini sering terjadi pada lansia dengan riwayat konstipasi kronis akibat redundansi sigmoid. Diagnosis dapat dikonfirmasi dengan barium enema yang menunjukkan bird beak sign pada titik torsi. Penanganan awal dapat berupa dekompresi endoskopi bila tidak ada tanda strangulasi.

  • A. Double bubble sign merupakan tanda khas atresia duodenum pada neonatus.
  • B. Target sign merupakan tanda intususepsi pada pencitraan ultrasonografi, bukan temuan foto polos volvulus.
  • C. Herring bone appearance adalah tanda ileus obstruktif usus halus, bukan volvulus sigmoid.
  • D. Thumbprinting menggambarkan edema mukosa kolon pada kolitis iskemik, bukan volvulus.
Poin penting: Volvulus sigmoid bergambaran coffee bean sign akibat dilatasi kolon sigmoid yang terputar pada foto polos abdomen.
32

Seorang laki-laki berusia 45 tahun dibawa ke IGD dengan nyeri perut hebat di seluruh lapangan abdomen sejak 6 jam yang lalu, didahului nyeri ulu hati sebelumnya. Pasien memiliki riwayat konsumsi obat antiinflamasi nonsteroid jangka panjang. Pemeriksaan tanda vital: tekanan darah 90/60 mmHg, nadi 124 kali/menit, suhu 38,4°C, frekuensi napas 26 kali/menit. Pemeriksaan abdomen: pasien tampak berbaring diam menghindari gerakan, abdomen papan (board-like), nyeri tekan di seluruh kuadran, nyeri lepas tekan positif di seluruh lapangan abdomen, bising usus menghilang. Apakah diagnosis yang paling tepat berdasarkan temuan klinis tersebut?

  1. ASindrom iritasi usus eksaserbasi akut
  2. BPankreatitis akut ringan
  3. CKolik bilier akut
  4. DPeritonitis generalisata
  5. EGastritis erosif akut
Lihat jawaban
Jawaban: D. Peritonitis generalisata

Peritonitis generalisata ditandai oleh nyeri perut difus dengan tanda rangsang peritoneum berupa defans muskular (abdomen papan) dan rebound tenderness di seluruh lapangan abdomen, disertai tanda sepsis seperti takikardia, hipotensi, dan demam. Bising usus yang menghilang menunjukkan ileus paralitik sekunder akibat inflamasi peritoneum luas. Riwayat konsumsi NSAID jangka panjang mengarah pada kemungkinan perforasi ulkus peptikum sebagai penyebab, yang menumpahkan isi lambung ke kavum peritoneum. Kondisi ini merupakan kegawatan bedah yang memerlukan resusitasi cepat dan laparotomi eksplorasi segera.

  • A. Sindrom iritasi usus tidak menimbulkan tanda akut sepsis maupun rangsang peritoneum seperti pada kasus ini.
  • B. Pankreatitis akut ringan tidak menimbulkan abdomen papan dan rebound tenderness di seluruh lapangan abdomen.
  • C. Kolik bilier biasanya bersifat kolik dan terlokalisasi di kuadran kanan atas, tanpa tanda peritonitis generalisata.
  • E. Gastritis erosif akut menimbulkan nyeri epigastrium tanpa tanda rangsang peritoneum difus dan sepsis.
Poin penting: Peritonitis generalisata ditegakkan dari nyeri difus dengan defans muskular, rebound tenderness di seluruh abdomen, dan tanda sepsis sistemik.
33

Seorang bayi laki-laki berusia 3 minggu dibawa ke poli anak dengan keluhan perut kembung sejak lahir dan sulit buang air besar, memerlukan rangsangan rektal untuk defekasi. Riwayat mekonium baru keluar lebih dari 48 jam setelah lahir. Pemeriksaan colok dubur menunjukkan ampula rekti kolaps dengan semburan feses dan udara yang eksplosif setelah jari ditarik. Dokter mencurigai megakolon kongenital. Apakah pemeriksaan penunjang yang paling tepat untuk memastikan diagnosis definitif pada pasien ini?

  1. AFoto polos abdomen posisi tegak
  2. BBarium enema untuk menilai zona transisi kolon
  3. CUltrasonografi abdomen untuk menilai dilatasi kolon
  4. DBiopsi rektum untuk menilai keberadaan sel ganglion
  5. EPemeriksaan manometri anorektal
Lihat jawaban
Jawaban: D. Biopsi rektum untuk menilai keberadaan sel ganglion

Baku emas diagnosis penyakit Hirschsprung adalah biopsi rektum (full-thickness atau suction biopsy) yang menunjukkan tidak adanya sel ganglion pada pleksus submukosa dan mienterikus disertai hipertrofi serabut saraf kolinergik. Barium enema dapat mendukung diagnosis dengan menunjukkan zona transisi antara segmen aganglionik yang menyempit dan segmen proksimal yang dilatasi, namun bukan merupakan konfirmasi definitif. Manometri anorektal berguna sebagai pemeriksaan penyaring karena menunjukkan tidak adanya refleks inhibisi rektoanal, tetapi tetap memerlukan konfirmasi histopatologi. Diagnosis pasti selalu memerlukan bukti histologis ketidakadaan sel ganglion.

  • A. Foto polos abdomen hanya menunjukkan tanda obstruksi usus distal secara umum, tidak spesifik untuk Hirschsprung.
  • B. Barium enema bersifat sugestif dan membantu menentukan lokasi zona transisi, tetapi bukan baku emas diagnosis.
  • C. Ultrasonografi abdomen tidak dapat menilai keberadaan sel ganglion dan bukan baku emas diagnosis.
  • E. Manometri anorektal merupakan pemeriksaan penyaring fungsional, bukan konfirmasi histopatologi definitif.
Poin penting: Baku emas diagnosis penyakit Hirschsprung adalah biopsi rektum yang menunjukkan tidak adanya sel ganglion pada pleksus submukosa dan mienterikus.
34

Seorang laki-laki berusia 55 tahun datang ke puskesmas untuk konsultasi kesehatan rutin. Pasien tidak memiliki keluhan buang air besar saat ini, tidak ada riwayat keluarga kanker kolorektal, dan tidak ada riwayat penyakit radang usus. Pasien ingin mengetahui apakah perlu dilakukan pemeriksaan skrining kanker kolorektal. Apakah rekomendasi skrining yang paling tepat untuk pasien dengan risiko rata-rata seperti ini menurut panduan yang berlaku?

  1. ASigmoidoskopi fleksibel dimulai pada usia 65 tahun
  2. BKolonoskopi hanya dilakukan bila muncul perdarahan per rektum
  3. CPemeriksaan CEA serum setiap tahun sebagai metode skrining utama
  4. DSkrining tidak diperlukan kecuali terdapat keluhan penurunan berat badan drastis
  5. EPemeriksaan darah samar feses setiap tahun atau kolonoskopi setiap 10 tahun dimulai usia 45-50 tahun
Lihat jawaban
Jawaban: E. Pemeriksaan darah samar feses setiap tahun atau kolonoskopi setiap 10 tahun dimulai usia 45-50 tahun

Skrining kanker kolorektal pada populasi risiko rata-rata direkomendasikan dimulai pada usia 45-50 tahun, dengan pilihan metode berupa pemeriksaan darah samar feses (fecal occult blood test atau fecal immunochemical test) setiap tahun, atau kolonoskopi setiap 10 tahun sebagai modalitas yang lebih sensitif dan dapat sekaligus mengangkat polip prekursor. Gejala alarm seperti perubahan kebiasaan defekasi, perdarahan per rektum, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, dan anemia defisiensi besi pada usia di atas 50 tahun harus segera dievaluasi dengan kolonoskopi tanpa menunggu jadwal skrining rutin. CEA bukan alat skrining karena sensitivitas dan spesifisitasnya rendah untuk deteksi dini, dan lebih digunakan untuk pemantauan pascaterapi.

  • A. Usia mulai skrining yang dianjurkan adalah 45-50 tahun, bukan 65 tahun yang terlalu terlambat.
  • B. Menunggu munculnya perdarahan berarti menunggu stadium lanjut, bertentangan dengan prinsip skrining deteksi dini.
  • C. CEA serum tidak direkomendasikan sebagai alat skrining utama karena sensitivitas dan spesifisitas rendah.
  • D. Skrining tetap direkomendasikan pada populasi risiko rata-rata meski tanpa keluhan, bukan hanya menunggu gejala berat.
Poin penting: Skrining kanker kolorektal pada risiko rata-rata dimulai usia 45-50 tahun dengan darah samar feses tahunan atau kolonoskopi setiap 10 tahun.

Hepatitis Virus

1 soal
35

Seorang laki-laki berusia 22 tahun, mahasiswa yang tinggal di asrama, datang dengan keluhan demam, mual, dan mata kuning sejak 3 hari yang lalu. Pasien mengaku beberapa temannya di asrama mengalami keluhan serupa dalam 2 minggu terakhir setelah makan di warung yang sama. Pemeriksaan fisik: sklera ikterik, hepatomegali ringan dengan nyeri tekan. Hasil laboratorium: SGOT 850 U/L, SGPT 920 U/L, bilirubin total 4,2 mg/dL, IgM anti-HAV positif, IgG anti-HAV negatif. Apakah interpretasi yang paling tepat terhadap hasil serologi tersebut?

  1. AInfeksi hepatitis A kronis dengan replikasi virus yang persisten
  2. BInfeksi hepatitis A lampau yang telah sembuh dan memberikan imunitas
  3. CInfeksi akut hepatitis A yang baru terjadi dan menular melalui jalur fekal-oral
  4. DKeadaan carrier kronis hepatitis A yang dapat menularkan virus terus-menerus
  5. EReaktivasi infeksi hepatitis A pada pasien dengan riwayat vaksinasi sebelumnya
Lihat jawaban
Jawaban: C. Infeksi akut hepatitis A yang baru terjadi dan menular melalui jalur fekal-oral

IgM anti-HAV positif menandakan infeksi akut hepatitis A yang baru terjadi, biasanya muncul sekitar 2-4 minggu setelah terpapar virus dan dapat terdeteksi hingga 3-6 bulan, sedangkan IgG anti-HAV yang masih negatif menunjukkan belum terbentuk imunitas jangka panjang. Virus hepatitis A ditularkan melalui jalur fekal-oral, biasanya akibat konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi tinja penderita, sesuai dengan riwayat kejadian serupa pada teman-teman asrama yang makan di tempat yang sama (outbreak point source). Hepatitis A bersifat self-limiting dan tidak berkembang menjadi infeksi kronis, berbeda dengan hepatitis B atau C. Penatalaksanaan bersifat suportif dengan edukasi kebersihan untuk mencegah penularan lebih lanjut.

  • A. Hepatitis A tidak berkembang menjadi infeksi kronis sehingga istilah replikasi persisten tidak berlaku untuk virus ini.
  • B. Infeksi lampau yang sembuh ditandai oleh IgG anti-HAV positif dengan IgM anti-HAV negatif, bukan sebaliknya seperti pada kasus ini.
  • D. Hepatitis A tidak memiliki fase carrier kronis karena virus ini bersifat self-limiting dan dieliminasi oleh sistem imun.
  • E. Tidak ada bukti riwayat vaksinasi pada kasus ini, dan hepatitis A tidak dikenal memiliki fase reaktivasi seperti hepatitis B.
Poin penting: IgM anti-HAV positif dengan IgG anti-HAV negatif menunjukkan infeksi akut hepatitis A yang ditularkan melalui jalur fekal-oral.

Sirosis dan Komplikasinya

5 soal
36

Seorang perempuan berusia 52 tahun dengan riwayat sirosis hepatis datang dengan perut membesar sejak 3 minggu. Pemeriksaan fisik: perut membuncit, shifting dullness positif, tidak ada demam. Pungsi asites dilakukan: albumin serum 2,8 g/dL, albumin cairan asites 0,6 g/dL. Hasil analisis cairan menunjukkan gradien tersebut sebesar 2,2 g/dL. Apakah interpretasi yang tepat mengenai etiologi asites pasien ini?

  1. AAsites disebabkan oleh hipertensi portal
  2. BAsites disebabkan oleh tuberkulosis peritoneal
  3. CAsites disebabkan oleh karsinomatosis peritoneal
  4. DAsites disebabkan oleh sindrom nefrotik murni
  5. EAsites disebabkan oleh pankreatitis akut
Lihat jawaban
Jawaban: A. Asites disebabkan oleh hipertensi portal

SAAG (gradien albumin serum-asites) dihitung dengan mengurangkan albumin cairan asites dari albumin serum. Nilai SAAG ≥1,1 g/dL menunjukkan asites akibat hipertensi portal, seperti pada sirosis hepatis, gagal jantung kongestif, atau sindrom Budd-Chiari, karena peningkatan tekanan hidrostatik sinusoid menyebabkan transudasi cairan rendah protein ke rongga peritoneum. Pada kasus ini, SAAG 2,2 g/dL (≥1,1 g/dL) sejalan dengan riwayat sirosis hepatis pasien. Sebaliknya, SAAG <1,1 g/dL mengarah ke penyebab eksudatif seperti karsinomatosis peritoneal atau tuberkulosis peritoneal akibat kebocoran protein ke peritoneum.

  • B. Tuberkulosis peritoneal umumnya memberikan SAAG rendah (<1,1 g/dL) akibat inflamasi peritoneum.
  • C. Karsinomatosis peritoneal biasanya menunjukkan SAAG rendah (<1,1 g/dL) karena proses eksudatif.
  • D. Sindrom nefrotik dapat menyebabkan SAAG rendah dan biasanya tidak berkaitan dengan riwayat sirosis.
  • E. Pankreatitis akut menyebabkan asites eksudatif dengan SAAG rendah, bukan tinggi.
Poin penting: SAAG ≥1,1 g/dL menunjukkan asites akibat hipertensi portal, sedangkan SAAG <1,1 g/dL mengarah ke penyebab eksudatif non-portal.
37

Seorang laki-laki berusia 58 tahun dengan sirosis hepatis dek ompensata dibawa ke IGD dengan demam dan nyeri perut sejak 1 hari. Suhu tubuh 38,6°C, tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 104 kali/menit. Pemeriksaan abdomen: asites dengan nyeri tekan difus tanpa tanda peritonitis bedah akut. Pungsi asites diagnostik menunjukkan hitung neutrofil absolut 350 sel/mm³. Apakah terapi antibiotik empiris yang paling tepat diberikan pada pasien ini?

  1. ACiprofloxacin oral
  2. BAmoksisilin-klavulanat oral
  3. CMetronidazol oral
  4. DGentamisin intravena
  5. ESefotaksim intravena
Lihat jawaban
Jawaban: E. Sefotaksim intravena

Diagnosis peritonitis bakterial spontan (PBS) ditegakkan bila hitung neutrofil absolut cairan asites ≥250 sel/mm³ tanpa sumber infeksi intra-abdomen bedah yang jelas. Terapi empiris lini pertama adalah sefalosporin generasi ketiga seperti sefotaksim intravena karena spektrumnya mencakup bakteri Gram negatif enterik (terutama Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae) yang paling sering menjadi penyebab PBS, serta memiliki penetrasi baik ke cairan asites. Pemberian albumin intravena juga dianjurkan pada PBS dengan kreatinin tinggi untuk mencegah sindrom hepatorenal. Aminoglikosida seperti gentamisin dihindari karena risiko nefrotoksisitas tinggi pada pasien sirosis.

  • A. Ciprofloxacin oral bukan pilihan pertama pada PBS akut bergejala berat, dan risiko resistensi florokuinolon meningkat pada pasien yang telah mendapat profilaksis.
  • B. Amoksisilin-klavulanat oral kurang dianjurkan sebagai terapi empiris awal karena bioavailabilitas dan penetrasi yang kurang optimal pada kondisi akut dengan tanda infeksi sistemik.
  • C. Metronidazol hanya efektif terhadap kuman anaerob dan tidak mencakup patogen Gram negatif enterik yang dominan pada PBS.
  • D. Gentamisin berisiko tinggi menyebabkan nefrotoksisitas pada pasien sirosis dan tidak direkomendasikan sebagai lini pertama.
Poin penting: Peritonitis bakterial spontan didiagnosis dengan neutrofil asites ≥250 sel/mm³ dan diterapi empiris dengan sefalosporin generasi ketiga seperti sefotaksim.
38

Seorang laki-laki berusia 61 tahun dengan riwayat sirosis hepatis dibawa keluarganya karena bingung dan mengantuk berlebihan sejak 2 hari, didahului tidak buang air besar selama 4 hari. Pemeriksaan fisik: kesadaran somnolen, flapping tremor positif, sklera ikterik, tidak demam. Tidak ditemukan tanda perdarahan saluran cerna. Apakah tatalaksana awal yang paling tepat untuk mengatasi kondisi pasien ini?

  1. ALaktulosa oral atau melalui enema
  2. BRestriksi protein total dalam diet
  3. CFlumazenil intravena
  4. DInfus manitol intravena
  5. ERifaksimin oral sebagai monoterapi tunggal
Lihat jawaban
Jawaban: A. Laktulosa oral atau melalui enema

Ensefalopati hepatikum pada pasien ini dicetuskan oleh konstipasi, yang meningkatkan produksi dan absorpsi amonia oleh bakteri usus. Laktulosa merupakan terapi lini pertama karena bekerja sebagai disakarida non-diserap yang menurunkan pH kolon, mengubah amonia (NH3) menjadi amonium (NH4+) yang tidak diabsorbsi, serta mempercepat transit usus untuk mengeluarkan nitrogen. Laktulosa dapat diberikan oral maupun per enema pada pasien dengan kesadaran menurun yang tidak dapat menelan dengan aman. Identifikasi dan koreksi faktor pencetus, dalam kasus ini konstipasi, tetap menjadi bagian penting tatalaksana bersamaan dengan pemberian laktulosa.

  • B. Restriksi protein total tidak lagi direkomendasikan karena dapat memperburuk status nutrisi tanpa manfaat klinis bermakna.
  • C. Flumazenil hanya bermanfaat bila ensefalopati dicetuskan oleh intoksikasi benzodiazepin, bukan pada kasus ini.
  • D. Manitol digunakan untuk edema serebri pada peningkatan tekanan intrakranial, bukan untuk ensefalopati hepatikum.
  • E. Rifaksimin digunakan sebagai terapi tambahan untuk pencegahan rekurensi, bukan monoterapi tunggal pada episode akut.
Poin penting: Laktulosa merupakan terapi lini pertama ensefalopati hepatikum dengan menurunkan produksi dan absorpsi amonia usus, disertai koreksi faktor pencetus.
39

Seorang laki-laki berusia 55 tahun dengan sirosis hepatis dan asites refrakter mengalami penurunan produksi urine progresif dalam 1 minggu terakhir tanpa riwayat muntah, diare, atau penggunaan diuretik berlebihan. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kreatinin serum meningkat dari 0,9 menjadi 2,6 mg/dL, natrium urine sangat rendah, dan tidak ditemukan proteinuria maupun hematuria bermakna pada urinalisis. Apakah mekanisme patofisiologi utama yang mendasari gangguan ginjal pada pasien ini?

  1. ANekrosis tubular akut akibat toksin eksogen langsung pada epitel tubulus ginjal
  2. BNefritis interstisial akibat reaksi hipersensitivitas terhadap obat
  3. CVasokonstriksi arteri ginjal akibat aktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron akibat vasodilatasi splanknik
  4. DObstruksi saluran kemih akibat pembesaran prostat yang menyumbat aliran urine
  5. EGlomerulonefritis akibat deposisi kompleks imun pada membran basal glomerulus
Lihat jawaban
Jawaban: C. Vasokonstriksi arteri ginjal akibat aktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron akibat vasodilatasi splanknik

Sindrom hepatorenal terjadi akibat hipertensi portal yang menyebabkan vasodilatasi splanknik melalui pelepasan nitrat oksida dan mediator vasodilator lain, sehingga terjadi penurunan volume sirkulasi efektif. Tubuh mengompensasi dengan mengaktifkan sistem renin-angiotensin-aldosteron, sistem saraf simpatis, dan pelepasan vasopresin, yang menyebabkan vasokonstriksi kuat pada pembuluh darah ginjal sementara sirkulasi splanknik tetap berdilatasi. Akibatnya terjadi penurunan laju filtrasi glomerulus fungsional tanpa adanya kerusakan struktural ginjal yang nyata, ditandai dengan natrium urine sangat rendah dan sedimen urine yang relatif normal. Kondisi ini bersifat fungsional dan reversibel bila fungsi hati membaik atau setelah transplantasi hati.

  • A. Nekrosis tubular akut menunjukkan sedimen urine abnormal dengan cast granular dan natrium urine yang relatif tinggi, berbeda dari gambaran fungsional pada kasus ini.
  • B. Nefritis interstisial biasanya terkait riwayat obat tertentu dan disertai eosinofilia atau piuria steril, tidak sesuai gambaran kasus ini.
  • D. Obstruksi saluran kemih akan menunjukkan tanda hidronefrosis pada pencitraan dan bukan mekanisme khas sirosis.
  • E. Glomerulonefritis biasanya disertai hematuria dan proteinuria bermakna yang tidak ditemukan pada pasien ini.
Poin penting: Sindrom hepatorenal terjadi akibat vasodilatasi splanknik pada hipertensi portal yang memicu vasokonstriksi ginjal fungsional melalui aktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron.
40

Seorang laki-laki berusia 48 tahun dengan sirosis hepatis akibat hepatitis B kronik datang untuk kontrol rutin. Pasien tidak memiliki keluhan baru, pemeriksaan fisik dalam batas normal sesuai sirosis kompensata. Dokter merencanakan program pemantauan berkala untuk deteksi dini komplikasi onkologis. Apakah modalitas pemantauan berkala yang paling tepat direkomendasikan setiap 6 bulan pada pasien ini?

  1. AEndoskopi saluran cerna atas setiap 6 bulan
  2. BUSG abdomen dan kadar alfa-fetoprotein (AFP) serum
  3. CPemeriksaan kadar bilirubin total dan albumin serum
  4. DBiopsi hati berulang setiap 6 bulan
  5. ECT scan abdomen dengan kontras setiap bulan
Lihat jawaban
Jawaban: B. USG abdomen dan kadar alfa-fetoprotein (AFP) serum

Pasien sirosis hepatis, terutama akibat hepatitis B atau C kronik, memiliki risiko tinggi berkembang menjadi karsinoma hepatoseluler (KHS) sehingga direkomendasikan program surveilans berkala. Kombinasi USG abdomen dan pemeriksaan AFP serum setiap 6 bulan merupakan modalitas standar untuk deteksi dini KHS karena USG dapat mendeteksi nodul baru pada parenkim hati sedangkan AFP membantu meningkatkan sensitivitas deteksi, meskipun AFP sendiri tidak cukup spesifik sebagai alat diagnostik tunggal. Deteksi dini memungkinkan intervensi kuratif seperti reseksi, ablasi, atau transplantasi hati pada stadium awal. CT scan kontras dicadangkan untuk konfirmasi lesi yang dicurigai pada USG, bukan sebagai modalitas skrining rutin.

  • A. Endoskopi saluran cerna atas digunakan untuk skrining varises esofagus, bukan untuk deteksi karsinoma hepatoseluler.
  • C. Bilirubin dan albumin serum menilai fungsi hati secara umum, bukan modalitas skrining spesifik untuk kanker hati.
  • D. Biopsi hati berulang bersifat invasif dan tidak digunakan sebagai alat skrining rutin karena risiko komplikasi.
  • E. CT scan abdomen dengan kontras setiap bulan tidak praktis, mahal, dan berisiko akibat radiasi serta kontras berulang, dan bukan modalitas skrining rutin.
Poin penting: Pasien sirosis hepatis memerlukan surveilans karsinoma hepatoseluler berupa USG abdomen dan AFP serum setiap 6 bulan.

Hepar dan Metabolik Lain

4 soal
41

Seorang perempuan berusia 44 tahun datang untuk pemeriksaan kesehatan rutin tanpa keluhan. Indeks massa tubuh 31 kg/m², lingkar pinggang 98 cm, tekanan darah 138/88 mmHg. Pemeriksaan laboratorium: glukosa darah puasa 118 mg/dL, trigliserida 210 mg/dL, HDL 38 mg/dL, SGOT 52 U/L, SGPT 68 U/L. USG abdomen menunjukkan hepar membesar dengan ekogenisitas difus meningkat tanpa tanda sirosis. Pasien tidak mengonsumsi alkohol. Apakah faktor risiko utama yang paling berperan pada kondisi hepar pasien ini?

  1. AAutoimunitas terhadap sel hepatosit
  2. BAkumulasi tembaga pada penyakit Wilson
  3. CDefisiensi alfa-1 antitripsin
  4. DResistensi insulin pada sindrom metabolik
  5. EInfeksi virus hepatitis B kronik
Lihat jawaban
Jawaban: D. Resistensi insulin pada sindrom metabolik

Pasien ini menunjukkan gambaran klinis sindrom metabolik berupa obesitas sentral, hipertensi, dislipidemia (trigliserida tinggi, HDL rendah), dan gangguan toleransi glukosa, disertai peningkatan enzim transaminase dan gambaran steatosis hepar pada USG tanpa riwayat konsumsi alkohol signifikan. Kondisi ini mengarah pada perlemakan hati non-alkoholik (NAFLD), yang patogenesisnya terkait erat dengan resistensi insulin. Resistensi insulin meningkatkan lipolisis jaringan adiposa dan lipogenesis de novo di hati, menyebabkan akumulasi trigliserida intrahepatik berlebihan. NAFLD kini dianggap sebagai manifestasi hepar dari sindrom metabolik dan merupakan penyebab penyakit hati kronik yang semakin meningkat prevalensinya.

  • A. Hepatitis autoimun lebih sering disertai peningkatan transaminase sangat tinggi dan tidak berkaitan dengan profil metabolik seperti pada kasus ini.
  • B. Penyakit Wilson biasanya muncul pada usia lebih muda dengan gangguan neurologis dan tidak sesuai profil klinis pasien ini.
  • C. Defisiensi alfa-1 antitripsin merupakan penyebab genetik langka penyakit hati yang tidak terkait dengan gambaran sindrom metabolik pasien.
  • E. Tidak ada data serologi yang mendukung infeksi hepatitis B pada kasus ini, dan gambaran klinis lebih sesuai dengan komponen sindrom metabolik.
Poin penting: NAFLD berkaitan erat dengan resistensi insulin sebagai komponen utama sindrom metabolik, ditandai obesitas, dislipidemia, dan hiperglikemia.
42

Seorang laki-laki berusia 35 tahun dalam pengobatan tuberkulosis paru bulan pertama dengan regimen rifampisin, isoniazid, pirazinamid, dan etambutol mengeluh mual dan nyeri perut kanan atas sejak 5 hari. Pemeriksaan fisik: sklera ikterik, nyeri tekan hipokondrium kanan. Laboratorium: SGOT 320 U/L, SGPT 410 U/L, bilirubin total 3,2 mg/dL, fosfatase alkali normal. Apakah obat anti-tuberkulosis yang paling berperan menyebabkan pola kerusakan hepatosit pada pasien ini?

  1. ALevofloxacin
  2. BIsoniazid
  3. CSikloserin
  4. DStreptomisin
  5. EEtambutol
Lihat jawaban
Jawaban: B. Isoniazid

Pola kerusakan hati pada pasien ini bersifat hepatoselular, ditandai peningkatan transaminase (SGOT dan SGPT) yang jauh lebih dominan dibandingkan fosfatase alkali yang normal. Isoniazid merupakan obat anti-tuberkulosis yang paling sering menyebabkan hepatotoksisitas melalui metabolit toksik hasil asetilasi oleh enzim N-asetiltransferase hepatik, terutama pada pasien dengan fenotip asetilator cepat atau penggunaan bersama rifampisin yang menginduksi enzim sitokrom P450. Risiko meningkat pada usia lebih tua, malnutrisi, dan konsumsi alkohol. Rifampisin juga dapat menyebabkan hepatotoksisitas namun lebih sering berpola kolestatik dengan peningkatan bilirubin dan fosfatase alkali yang lebih dominan.

  • A. Levofloxacin bukan bagian regimen standar OAT lini pertama dan tidak menjadi penyebab utama pola kerusakan hepatosit ini.
  • C. Sikloserin terutama menyebabkan efek samping neuropsikiatri, bukan hepatotoksisitas primer.
  • D. Streptomisin terutama menyebabkan ototoksisitas dan nefrotoksisitas, bukan hepatotoksisitas.
  • E. Etambutol lebih sering menyebabkan neuritis optik dibandingkan hepatotoksisitas signifikan.
Poin penting: Isoniazid adalah obat anti-tuberkulosis yang paling sering menyebabkan hepatotoksisitas dengan pola kerusakan hepatoselular.
43

Seorang laki-laki berusia 29 tahun datang dengan mata kuning sejak 2 hari, disertai urine berwarna seperti teh pekat dan tinja pucat. Tidak ada demam maupun nyeri perut. Pemeriksaan fisik: sklera ikterik, hepar tidak teraba membesar. Laboratorium: bilirubin total 8,5 mg/dL, bilirubin direk 6,8 mg/dL, SGOT 45 U/L, SGPT 50 U/L, fosfatase alkali 410 U/L (nilai rujukan 40–130 U/L). Apakah jenis ikterus yang paling sesuai dengan gambaran klinis dan laboratorium pasien ini?

  1. AIkterus hepatoselular
  2. BSindrom Gilbert
  3. CSindrom Crigler-Najjar
  4. DIkterus obstruktif
  5. EIkterus hemolitik
Lihat jawaban
Jawaban: D. Ikterus obstruktif

Gambaran klinis berupa urine gelap, tinja pucat (akolik), dan laboratorium dengan peningkatan bilirubin direk yang dominan disertai fosfatase alkali yang meningkat signifikan menunjukkan ikterus obstruktif (kolestatik). Pada kondisi ini, obstruksi aliran bilier menyebabkan bilirubin terkonjugasi (direk) yang sudah larut air tidak dapat disekresikan ke usus sehingga tereskresi melalui urine, sementara penurunan bilirubin yang mencapai usus menyebabkan tinja menjadi pucat. Peningkatan fosfatase alkali yang jauh lebih dominan dibandingkan transaminase (SGOT/SGPT yang relatif normal) juga mendukung proses kolestasis obstruktif dibandingkan kerusakan parenkim hati primer.

  • A. Ikterus hepatoselular biasanya menunjukkan peningkatan transaminase yang jauh lebih dominan dibandingkan fosfatase alkali, berbeda dari pola pasien ini.
  • B. Sindrom Gilbert menyebabkan hiperbilirubinemia indirek ringan akibat defisiensi parsial enzim glukuronidasi, tidak sesuai dengan temuan bilirubin direk tinggi pada pasien ini.
  • C. Sindrom Crigler-Najjar menyebabkan hiperbilirubinemia indirek berat akibat defisiensi enzim glukuronil transferase, tidak sesuai dengan pola bilirubin direk dominan pada kasus ini.
  • E. Ikterus hemolitik ditandai peningkatan bilirubin indirek yang dominan akibat peningkatan pemecahan eritrosit, bukan bilirubin direk seperti pada kasus ini.
Poin penting: Peningkatan bilirubin direk dominan disertai fosfatase alkali tinggi dan transaminase relatif normal menunjukkan ikterus obstruktif akibat kolestasis.
44

Seorang laki-laki berusia 52 tahun datang ke IGD RS dengan demam tinggi disertai menggigil sejak 6 hari, serta nyeri perut kanan atas yang menjalar ke bahu. Pasien memiliki riwayat diabetes mellitus tidak terkontrol. Pemeriksaan fisik: suhu 39,2°C, tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 104 kali/menit, hepatomegali dengan nyeri tekan pada regio hipokondrium kanan. Laboratorium: leukosit 18.500/µL, SGOT 65 U/L, SGPT 58 U/L, fosfatase alkali meningkat. USG abdomen menunjukkan lesi kistik hipoekoik berdinding tebal berukuran 7 cm di lobus kanan hepar dengan debris internal. Apakah tatalaksana awal yang paling tepat?

  1. APemberian obat antiamuba oral tanpa drainase maupun antibiotik
  2. BPemberian antibiotik empiris intravena saja tanpa drainase
  3. CDrainase perkutan dengan pemandu USG disertai antibiotik empiris intravena
  4. DReseksi segmental hepar segera sebagai tindakan definitif
  5. EObservasi dengan antipiretik dan evaluasi ulang USG dalam 2 minggu
Lihat jawaban
Jawaban: C. Drainase perkutan dengan pemandu USG disertai antibiotik empiris intravena

Abses hati piogenik dengan ukuran lebih dari 5 cm memerlukan drainase, idealnya drainase perkutan dengan pemandu USG, dikombinasikan dengan antibiotik empiris intravena spektrum luas yang mencakup kuman gram negatif dan anaerob (misalnya sefalosporin generasi ketiga dikombinasi metronidazol). Diabetes mellitus merupakan faktor risiko utama abses hati piogenik karena menurunkan fungsi imun dan memudahkan translokasi bakteri dari saluran bilier atau usus. Drainase bertujuan mengurangi beban bakteri dan mempercepat resolusi klinis, sementara antibiotik mengatasi infeksi sistemik. Reseksi hepar hanya dipertimbangkan bila drainase gagal atau terdapat komplikasi berat.

  • A. Abses piogenik bukan disebabkan amuba sehingga obat antiamuba tidak tepat, dan tanpa drainase maupun antibiotik risiko perburukan tinggi.
  • B. Antibiotik tanpa drainase kurang efektif untuk abses berukuran besar karena pus yang terkumpul tidak dapat dieliminasi hanya dengan terapi sistemik.
  • D. Reseksi hepar bersifat invasif dan bukan pilihan awal; drainase perkutan lebih aman dan efektif sebagai lini pertama.
  • E. Observasi tanpa intervensi berisiko menyebabkan sepsis atau ruptur abses karena ukuran lesi sudah besar dan pasien demam tinggi.
Poin penting: Abses hati piogenik berukuran lebih dari 5 cm ditatalaksana dengan drainase perkutan dipandu USG disertai antibiotik empiris intravena spektrum luas.

Bilier dan Pankreas

6 soal
45

Seorang perempuan berusia 45 tahun datang ke poliklinik untuk kontrol rutin diabetes. Saat pemeriksaan USG abdomen rutin, ditemukan batu kandung empedu berukuran 1,2 cm tanpa dilatasi duktus bilier. Pasien tidak pernah mengeluh nyeri perut, mual, atau demam. Pemeriksaan fisik dalam batas normal, tanda Murphy negatif. Laboratorium: bilirubin total 0,8 mg/dL, SGOT dan SGPT normal, leukosit 7.200/µL. Apakah tatalaksana yang paling tepat untuk pasien ini?

  1. AERCP untuk ekstraksi batu kandung empedu
  2. BPemberian asam ursodeoksikolat jangka panjang
  3. CKolesistostomi perkutan sebagai tindakan definitif
  4. DKolesistektomi laparoskopi elektif segera
  5. EObservasi tanpa intervensi bedah dengan edukasi gejala alarm
Lihat jawaban
Jawaban: E. Observasi tanpa intervensi bedah dengan edukasi gejala alarm

Kolelitiasis asimptomatik umumnya tidak memerlukan intervensi bedah karena risiko berkembang menjadi simptomatik relatif rendah, sekitar 1-2% per tahun, dan risiko komplikasi kolesistektomi dapat melebihi manfaatnya pada pasien tanpa gejala. Pasien hanya perlu diedukasi mengenai gejala alarm seperti nyeri kolik bilier, demam, atau ikterus yang mengindikasikan perlunya evaluasi ulang. Kolesistektomi elektif baru diindikasikan bila timbul gejala simptomatik seperti kolik bilier berulang, atau pada kondisi khusus seperti kandung empedu porcelain, batu lebih dari 3 cm, atau riwayat pankreatitis bilier. Observasi dengan edukasi adalah pendekatan yang sesuai pada kasus ini.

  • A. ERCP diindikasikan untuk batu duktus koledokus, bukan untuk batu kandung empedu tanpa obstruksi duktus bilier.
  • B. Asam ursodeoksikolat digunakan untuk melarutkan batu kolesterol kecil pada kasus tertentu, bukan terapi rutin untuk kolelitiasis asimptomatik.
  • C. Kolesistostomi perkutan adalah tindakan drainase sementara pada kolesistitis akut berisiko tinggi operasi, bukan untuk kolelitiasis asimptomatik.
  • D. Kolesistektomi elektif segera tidak diindikasikan pada kolelitiasis asimptomatik karena risiko bedah tidak sebanding dengan manfaat pencegahan.
Poin penting: Kolelitiasis asimptomatik ditatalaksana dengan observasi dan edukasi gejala alarm, sedangkan kolesistektomi diindikasikan bila timbul gejala simptomatik atau faktor risiko komplikasi.
46

Seorang perempuan berusia 38 tahun datang ke IGD dengan nyeri perut kanan atas sejak 1 hari yang memberat setelah makan makanan berlemak, disertai demam dan mual. Pemeriksaan fisik: suhu 38,5°C, tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 96 kali/menit. Saat palpasi dalam pada regio hipokondrium kanan sambil pasien diminta menarik napas dalam, pasien tiba-tiba menghentikan inspirasi karena nyeri hebat. Leukosit 14.200/µL. Apakah pemeriksaan penunjang awal yang paling tepat untuk menegakkan diagnosis?

  1. ACT scan abdomen dengan kontras
  2. BERCP diagnostik
  3. CMRCP (magnetic resonance cholangiopancreatography)
  4. DSkintigrafi hepatobilier (HIDA scan)
  5. EUSG abdomen
Lihat jawaban
Jawaban: E. USG abdomen

Pasien ini menunjukkan tanda Murphy positif (nyeri yang menghentikan inspirasi saat palpasi hipokondrium kanan), yang khas untuk kolesistitis akut. USG abdomen merupakan modalitas pencitraan lini pertama karena murah, cepat, tidak invasif, dan sangat sensitif untuk mendeteksi batu kandung empedu, penebalan dinding kandung empedu lebih dari 3 mm, cairan perikolesistik, serta tanda Murphy sonografik. CT scan dan MRCP digunakan bila USG inkonklusif atau dicurigai komplikasi seperti perforasi atau abses. HIDA scan memiliki sensitivitas tinggi namun jarang digunakan sebagai lini pertama karena waktu pemeriksaan lebih lama dan ketersediaan terbatas.

  • A. CT scan lebih mahal dan bukan lini pertama, biasanya digunakan bila USG tidak jelas atau dicurigai komplikasi.
  • B. ERCP bersifat invasif dan terutama digunakan untuk tatalaksana obstruksi duktus bilier, bukan diagnosis awal kolesistitis.
  • C. MRCP lebih ditujukan untuk evaluasi duktus bilier, bukan modalitas awal untuk kolesistitis akut.
  • D. HIDA scan sensitif namun bukan pilihan awal karena ketersediaan terbatas dan waktu pemeriksaan lebih lama dibanding USG.
Poin penting: USG abdomen merupakan modalitas pencitraan awal pilihan untuk kolesistitis akut karena cepat, murah, dan dapat mendeteksi tanda-tanda khas seperti penebalan dinding kandung empedu dan tanda Murphy sonografik.
47

Seorang perempuan berusia 50 tahun datang dengan nyeri perut kanan atas berulang sejak 1 minggu, disertai urin berwarna gelap seperti teh dan kulit yang mulai menguning. Tidak terdapat demam. Pemeriksaan fisik: tekanan darah 125/80 mmHg, nadi 88 kali/menit, suhu 36,8°C, sklera ikterik ringan, nyeri tekan ringan hipokondrium kanan tanpa tanda peritonitis. Laboratorium: bilirubin total 4,5 mg/dL, bilirubin direk 3,6 mg/dL, fosfatase alkali meningkat 3 kali nilai normal, SGOT dan SGPT sedikit meningkat. USG abdomen menunjukkan duktus koledokus melebar 11 mm dengan gambaran hiperekoik disertai bayangan akustik di dalam lumen duktus. Apakah interpretasi yang paling tepat dari temuan tersebut?

  1. AHepatitis akut dengan kolestasis intrahepatik
  2. BKarsinoma kaput pankreas dengan infiltrasi duktus bilier
  3. CKolesistitis akut dengan edema dinding kandung empedu
  4. DKista duktus koledokus kongenital
  5. EKoledokolitiasis dengan obstruksi duktus bilier ekstrahepatik
Lihat jawaban
Jawaban: E. Koledokolitiasis dengan obstruksi duktus bilier ekstrahepatik

Peningkatan bilirubin direk yang dominan disertai peningkatan fosfatase alkali menunjukkan pola kolestasis ekstrahepatik (obstruktif). Temuan USG berupa dilatasi duktus koledokus lebih dari 6-8 mm disertai struktur hiperekoik dengan bayangan akustik di dalam lumen duktus sangat sugestif batu duktus koledokus (koledokolitiasis). Kombinasi klinis ikterus, nyeri kolik bilier, dan dilatasi duktus pada pencitraan ini konsisten dengan obstruksi akibat batu, bukan proses intrahepatik. Tatalaksana definitif memerlukan ERCP untuk ekstraksi batu.

  • A. Hepatitis akut menimbulkan kolestasis intrahepatik tanpa dilatasi duktus ekstrahepatik pada USG.
  • B. Karsinoma kaput pankreas biasanya menimbulkan dilatasi duktus bilier tanpa gambaran hiperekoik bayangan akustik khas batu di dalam lumen.
  • C. Kolesistitis akut tidak menjelaskan dilatasi duktus koledokus dan gambaran hiperekoik dengan bayangan akustik di dalam lumen duktus.
  • D. Kista duktus koledokus kongenital tampak sebagai dilatasi kistik tanpa gambaran hiperekoik dengan bayangan akustik khas batu.
Poin penting: Dilatasi duktus koledokus disertai gambaran hiperekoik dengan bayangan akustik pada USG, bersama pola kolestasis obstruktif (bilirubin direk dan fosfatase alkali meningkat), menunjukkan koledokolitiasis.
48

Seorang perempuan berusia 48 tahun dengan riwayat kolelitiasis datang ke IGD dengan nyeri hebat di ulu hati menjalar ke punggung sejak 8 jam, disertai muntah berulang. Pemeriksaan fisik: tekanan darah 100/65 mmHg, nadi 110 kali/menit, suhu 37,5 °C, frekuensi napas 22 kali/menit, nyeri tekan epigastrium. Laboratorium: lipase serum 800 U/L, hematokrit 48%, ureum 42 mg/dL. USG abdomen menunjukkan multipel batu kandung empedu tanpa dilatasi duktus koledokus. Apakah tatalaksana awal yang paling tepat pada pasien ini?

  1. AKolesistektomi laparoskopi emergensi dalam 24 jam pertama
  2. BAntibiotik profilaksis spektrum luas intravena segera tanpa resusitasi cairan
  3. CNutrisi parenteral total segera sebagai sumber kalori utama
  4. DResusitasi cairan kristaloid intravena dan puasa sementara dengan pemantauan ketat
  5. EERCP emergensi dalam 24 jam pertama tanpa resusitasi cairan
Lihat jawaban
Jawaban: D. Resusitasi cairan kristaloid intravena dan puasa sementara dengan pemantauan ketat

Batu bilier merupakan etiologi tersering pankreatitis akut di Indonesia, diikuti oleh konsumsi alkohol. Tatalaksana awal pankreatitis akut, apapun etiologinya, berfokus pada resusitasi cairan kristaloid yang agresif untuk mengatasi hipovolemia relatif akibat sekuestrasi cairan ke ruang ketiga (tercermin dari hematokrit dan ureum yang meningkat), serta puasa sementara untuk mengistirahatkan pankreas disertai pemantauan tanda vital dan skor keparahan. Antibiotik profilaksis tidak direkomendasikan rutin kecuali terdapat bukti infeksi atau nekrosis terinfeksi. ERCP emergensi hanya diindikasikan bila terdapat kolangitis atau obstruksi bilier persisten, sedangkan kolesistektomi dilakukan setelah fase akut mereda.

  • A. Kolesistektomi emergensi tidak dilakukan pada fase akut pankreatitis; sebaiknya ditunda hingga inflamasi mereda, biasanya dalam rawat inap yang sama setelah perbaikan klinis.
  • B. Antibiotik profilaksis tidak direkomendasikan rutin pada pankreatitis akut tanpa tanda infeksi, dan resusitasi cairan harus menjadi prioritas utama.
  • C. Nutrisi parenteral total bukan pilihan awal; nutrisi enteral dini lebih dianjurkan bila toleransi oral belum memungkinkan, dan resusitasi cairan tetap prioritas pertama.
  • E. ERCP emergensi hanya diindikasikan bila ada kolangitis atau obstruksi bilier persisten; pada kasus ini tidak ada dilatasi duktus koledokus.
Poin penting: Batu bilier adalah etiologi tersering pankreatitis akut di Indonesia, dan tatalaksana awal berfokus pada resusitasi cairan agresif serta puasa sementara dengan pemantauan ketat.
49

Seorang laki-laki berusia 55 tahun dengan riwayat konsumsi alkohol berat selama lebih dari 15 tahun datang dengan keluhan diare kronik berupa tinja berminyak dan berbau busuk sejak 4 bulan, disertai penurunan berat badan 8 kg dalam 3 bulan serta sering merasa haus dan sering berkemih. Pemeriksaan fisik: indeks massa tubuh 17 kg/m², tidak ada ikterus. Laboratorium: glukosa darah puasa 182 mg/dL, HbA1c 8,2%. CT scan abdomen menunjukkan kalsifikasi difus pada parenkim pankreas dengan atrofi kelenjar. Apakah mekanisme yang paling mendasari komplikasi diare kronik pada pasien ini?

  1. AAtrofi vili usus halus akibat reaksi autoimun terhadap gluten
  2. BOvergrowth bakteri usus halus akibat motilitas usus yang melambat
  3. CInsufisiensi relatif akibat peningkatan sekresi asam lambung yang menginaktivasi enzim pankreas
  4. DInsufisiensi endokrin pankreas akibat destruksi sel beta pulau Langerhans
  5. EInsufisiensi eksokrin pankreas akibat destruksi sel asinar sehingga sekresi lipase berkurang
Lihat jawaban
Jawaban: E. Insufisiensi eksokrin pankreas akibat destruksi sel asinar sehingga sekresi lipase berkurang

Pankreatitis kronik menyebabkan destruksi progresif sel asinar pankreas akibat inflamasi dan fibrosis berulang, sehingga terjadi insufisiensi eksokrin dengan penurunan sekresi enzim pencernaan terutama lipase. Hal ini menyebabkan malabsorpsi lemak yang bermanifestasi sebagai steatorea (tinja berminyak dan berbau busuk) serta penurunan berat badan. Destruksi pulau Langerhans pada pankreatitis kronik lanjut juga menyebabkan diabetes mellitus sekunder (pankreatogenik) seperti yang tampak pada peningkatan glukosa darah dan HbA1c pasien ini, namun mekanisme diare pada kasus ini terutama disebabkan oleh insufisiensi eksokrin, bukan endokrin. Kalsifikasi pankreas pada pencitraan merupakan tanda khas pankreatitis kronik lanjut.

  • A. Tidak ada bukti klinis maupun riwayat yang mendukung penyakit celiac pada pasien ini, dan temuan CT scan jelas mengarah pada patologi pankreas.
  • B. Overgrowth bakteri usus halus bukan mekanisme utama pada kasus ini; temuan kalsifikasi pankreas dan riwayat alkohol kronik lebih mengarah pada insufisiensi eksokrin.
  • C. Mekanisme ini tidak sesuai dengan patofisiologi pankreatitis kronik; justru sekresi enzim pankreas yang berkurang, bukan inaktivasi oleh asam lambung berlebih.
  • D. Destruksi sel beta menjelaskan diabetes mellitus sekunder pada pasien ini, namun bukan mekanisme utama diare berlemak (steatorea).
Poin penting: Pankreatitis kronik menyebabkan insufisiensi eksokrin akibat destruksi sel asinar (menimbulkan steatorea dan malabsorpsi) serta insufisiensi endokrin akibat destruksi pulau Langerhans (menimbulkan diabetes mellitus sekunder).
50

Seorang laki-laki berusia 62 tahun datang ke poliklinik RS dengan keluhan kulit dan mata berwarna kuning yang semakin memberat sejak 1 bulan terakhir. Keluhan disertai urine berwarna seperti teh pekat dan tinja berwarna pucat seperti dempul. Pasien juga mengeluh berat badan turun 8 kg dalam 2 bulan dan gatal-gatal di seluruh tubuh. Pasien menyangkal adanya nyeri perut. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 120/80 mmHg, frekuensi nadi 88 kali/menit, frekuensi napas 18 kali/menit, suhu 36,8°C. Sklera ikterik, teraba massa kistik di regio hipokondrium kanan yang tidak nyeri tekan dan bergerak sesuai pernapasan. Hasil laboratorium menunjukkan bilirubin total 12,5 mg/dL, bilirubin direk 9,8 mg/dL, ALP 420 U/L (meningkat), dan CA 19-9 meningkat tajam. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?

  1. AKolesistitis akut
  2. BKoledokolitiasis
  3. CHepatitis virus akut
  4. DKolangitis akut
  5. EKarsinoma caput pankreas
Lihat jawaban
Jawaban: E. Karsinoma caput pankreas

Ikterus progresif tanpa nyeri, disertai penurunan berat badan, serta teraba kandung empedu yang membesar, tidak nyeri tekan, dan dapat digerakkan (tanda Courvoisier) sangat khas untuk obstruksi bilier akibat massa di caput pankreas yang menyumbat duktus koledokus secara perlahan. Peningkatan CA 19-9 mendukung kecurigaan keganasan pankreas. Pada koledokolitiasis atau kolesistitis, obstruksi bersifat mendadak dan disertai nyeri kolik serta kandung empedu yang nyeri tekan (tanda Murphy), bukan tanda Courvoisier. Diagnosis definitif memerlukan pencitraan lanjutan seperti CT scan abdomen dengan kontras dan konfirmasi histopatologi.

  • A. Kolesistitis akut menimbulkan nyeri tekan hebat di hipokondrium kanan dengan tanda Murphy positif, berbeda dengan kandung empedu yang tidak nyeri pada kasus ini.
  • B. Koledokolitiasis biasanya menimbulkan nyeri kolik bilier mendadak, bukan ikterus progresif tanpa nyeri dengan kandung empedu teraba membesar.
  • C. Hepatitis virus akut umumnya disertai gejala prodromal seperti demam dan mual sebelum ikterus, dengan peningkatan transaminase yang dominan, bukan massa teraba.
  • D. Kolangitis akut ditandai trias Charcot (demam, nyeri, ikterus) dengan tanda sepsis, tidak sesuai gambaran klinis pasien ini.
Poin penting: Ikterus progresif tanpa nyeri disertai tanda Courvoisier (kandung empedu membesar, tidak nyeri tekan, dapat digerakkan) merupakan tanda klasik karsinoma caput pankreas yang menyumbat duktus koledokus distal.

Pertanyaan umum

Apakah ini soal asli UKMPPD?

Bukan. Ini soal latihan orisinal yang ditulis bergaya UKMPPD sesuai blueprint ujian. Setiap soal dikerjakan ulang oleh model kedua yang independen tanpa melihat kunci, dan soal dengan kunci yang diperdebatkan dihapus.

Bagaimana cara memakai soal gastrointestinal & hepatobilier ini?

Kerjakan kuis dulu tanpa melihat jawaban, lalu baca pembahasan setiap soal yang salah atau ditebak. Poin penting di bawah setiap jawaban adalah hal yang perlu diingat.

Apakah soalnya gratis?

Ya. Semua soal, jawaban, dan pembahasan di halaman ini gratis tanpa perlu mendaftar.

Topik UKMPPD lainnya

UKMPPD diselenggarakan oleh Panitia Nasional UKMPPD. WhiteCoat Pro tidak berafiliasi dengan maupun didukung oleh lembaga tersebut. Semua soal adalah soal latihan orisinal: ditulis oleh tim editorial WhiteCoat Pro dengan bantuan AI dan diperiksa oleh model AI kedua yang independen, yang mengerjakan setiap soal tanpa melihat kunci; soal dengan kunci yang diperdebatkan dihapus. Ini bukan soal ujian asli. Untuk belajar, bukan saran medis.