Neonatologi - Asfiksia & Resusitasi
4 soalBayi laki-laki baru lahir cukup bulan secara spontan di puskesmas PONED. Air ketuban jernih. Setelah tali pusat dipotong, bayi diletakkan di atas meja resusitasi yang telah dialasi kain hangat. Bayi tampak tidak menangis dan tonus otot lemah. Dokter segera melakukan penilaian awal. Apakah tindakan selanjutnya yang paling tepat dilakukan?
- AMelakukan intubasi endotrakeal segera
- BMemasang jalur intravena umbilikal untuk pemberian epinefrin
- CMengeringkan tubuh bayi, mengatur posisi kepala sedikit ekstensi, dan melakukan rangsangan taktil
- DMemberikan oksigen aliran bebas melalui sungkup wajah
- EMelakukan kompresi dada 90 kali per menit
Lihat jawaban
Pada setiap bayi baru lahir yang tidak menangis spontan atau tonus lemah, langkah awal resusitasi menurut algoritma IDAI adalah memastikan bayi hangat, mengeringkan tubuh, mengatur posisi kepala sedikit ekstensi (posisi menghidu) untuk membuka jalan napas, dan memberikan rangsangan taktil bila perlu, dilakukan dalam waktu kurang dari 30 detik. Langkah ini mendahului penilaian napas dan denyut jantung yang menentukan perlunya ventilasi tekanan positif. Tindakan ini bertujuan merangsang inisiasi napas spontan sebelum eskalasi ke tindakan resusitasi yang lebih invasif.
- A. Intubasi endotrakeal dilakukan jika VTP sungkup tidak efektif, bukan sebagai langkah pertama resusitasi
- B. Pemasangan jalur umbilikal dan epinefrin merupakan tindakan lanjutan jika resusitasi dasar dan VTP tidak berhasil
- D. Oksigen aliran bebas bukan langkah awal dan hanya diberikan pada bayi yang bernapas spontan namun sianosis, bukan pada tahap penilaian pertama
- E. Kompresi dada baru dilakukan jika denyut jantung tetap di bawah 60 kali per menit setelah VTP efektif 30 detik, bukan sebagai langkah awal
Bayi perempuan lahir cukup bulan di rumah sakit dengan riwayat ketuban keruh kehijauan. Setelah langkah awal resusitasi (dikeringkan, dihangatkan, posisi ekstensi kepala, rangsangan taktil) selama 30 detik, bayi tampak megap-megap (gasping) dengan laju jantung 90 kali per menit. Apakah tindakan selanjutnya yang paling tepat?
- AMemberikan ventilasi tekanan positif dengan balon dan sungkup dengan frekuensi 40-60 kali per menit
- BMengulang rangsangan taktil dan memberikan oksigen aliran bebas
- CMelakukan pengisapan lendir dalam pada trakea sebelum tindakan lain
- DMemberikan epinefrin intravena 0,01-0,03 mg/kg
- EMelakukan kompresi dada dengan rasio 3:1
Lihat jawaban
Bayi dengan napas megap-megap atau apnu dan/atau laju jantung kurang dari 100 kali per menit setelah langkah awal resusitasi merupakan indikasi ventilasi tekanan positif (VTP). VTP diberikan dengan balon dan sungkup yang menutup rapat wajah, frekuensi 40-60 kali per menit, dinilai ulang setelah 30 detik melalui perbaikan laju jantung dan pengembangan dada. VTP efektif adalah tindakan resusitasi paling penting dan paling sering memperbaiki kondisi bayi asfiksia.
- B. Rangsangan taktil ulang tidak efektif pada bayi gasping dengan laju jantung rendah; tindakan definitif yang dibutuhkan adalah VTP
- C. Pengisapan trakea rutin tidak dianjurkan pada bayi dengan ketuban bercampur mekonium yang masih bernapas atau menangis, sebaiknya VTP langsung diberikan
- D. Epinefrin diberikan bila laju jantung tetap di bawah 60 kali per menit setelah VTP dan kompresi dada adekuat, bukan pada tahap ini
- E. Kompresi dada hanya diindikasikan bila laju jantung tetap di bawah 60 kali per menit setelah VTP efektif selama 30 detik
Bayi laki-laki lahir cukup bulan melalui persalinan pervaginam. Pada menit pertama, denyut jantung 110 kali per menit, usaha napas lambat dan tidak teratur, tonus otot sedikit fleksi ekstremitas, refleks saat dirangsang berupa sedikit gerakan wajah (meringis), dan warna tubuh merah muda dengan ekstremitas kebiruan. Berapakah skor APGAR menit pertama bayi tersebut?
- A7
- B9
- C5
- D4
- E3
Lihat jawaban
Skor APGAR dinilai dari lima komponen: denyut jantung (110 kali per menit = 1), usaha napas (lambat tidak teratur = 1), tonus otot (sedikit fleksi = 1), refleks (meringis = 1), dan warna kulit (akrosianosis = 1), sehingga totalnya adalah 5. Skor APGAR menit pertama 7-10 menunjukkan kondisi baik, 4-6 asfiksia ringan-sedang yang mungkin memerlukan tindakan resusitasi, dan 0-3 asfiksia berat yang membutuhkan resusitasi segera. Skor APGAR bukan alat diagnosis asfiksia melainkan deskripsi kondisi klinis bayi dan respons terhadap resusitasi, serta memiliki nilai prognostik terbatas bila dinilai sendiri tanpa menit kelima.
- A. Nilai 7 tidak sesuai karena beberapa komponen (napas, tonus, refleks, warna) belum mencapai nilai maksimal 2
- B. Nilai 9 jauh lebih tinggi dari temuan klinis yang digambarkan, yang menunjukkan asfiksia ringan-sedang
- D. Nilai 4 kurang satu poin dari hasil penjumlahan kelima komponen yang benar
- E. Nilai 3 terlalu rendah untuk kombinasi temuan yang masing-masing bernilai 1 pada tiap komponen
Bayi perempuan lahir cukup bulan dengan riwayat gawat janin dan skor APGAR 2 pada menit pertama serta 4 pada menit kelima, memerlukan VTP selama 10 menit. Analisis gas darah tali pusat menunjukkan pH 6,95 dan defisit basa 18 mmol/L. Pada usia 6 jam, bayi tampak letargis, hipotonia generalisata, refleks moro lemah, dan mengalami satu episode kejang fokal. Apakah diagnosis yang paling tepat?
- AMeningitis neonatal
- BEnsefalopati hipoksik-iskemik sedang
- CSepsis neonatorum awitan dini
- DPerdarahan intraventrikular
- EHipoglikemia neonatal simtomatik
Lihat jawaban
Diagnosis ensefalopati hipoksik-iskemik (EHI) ditegakkan berdasarkan bukti asfiksia perinatal (APGAR rendah berkepanjangan, asidosis metabolik berat pH kurang dari 7,0 dan defisit basa lebih dari 12 mmol/L, kebutuhan resusitasi lanjutan) disertai manifestasi ensefalopati neonatal berupa gangguan kesadaran, tonus otot, refleks, dan kejang dalam 24-48 jam pertama kehidupan. Derajat sedang (Sarnat stadium II) ditandai letargi, hipotonia, refleks primitif lemah, dan kejang, berbeda dengan derajat ringan yang tidak ada kejang atau berat yang disertai koma dan apnu. Diagnosis EHI sedang-berat merupakan indikasi hipotermia terapeutik yang dimulai dalam 6 jam pertama untuk mengurangi kerusakan neurologis sekunder.
- A. Meningitis tidak menjelaskan riwayat asfiksia perinatal berat dengan asidosis metabolik ekstrem; biasanya disertai demam atau tanda infeksi sistemik
- C. Sepsis awitan dini tidak sesuai dengan riwayat gawat janin, APGAR rendah, dan asidosis metabolik berat yang menunjukkan etiologi hipoksik-iskemik
- D. Perdarahan intraventrikular lebih sering terjadi pada bayi prematur, bukan bayi cukup bulan dengan riwayat asfiksia seperti pada kasus ini
- E. Hipoglikemia simtomatik dapat menyebabkan letargi dan kejang tetapi tidak menjelaskan riwayat asfiksia berat dan asidosis gas darah tali pusat yang digambarkan
Neonatologi - BBLR & Prematuritas
2 soalBayi perempuan lahir prematur usia gestasi 30 minggu dengan berat lahir 1400 gram. Pada usia 2 jam, bayi tampak takipnu dengan laju napas 72 kali per menit, retraksi substernal dan interkostal, serta merintih (grunting) yang terdengar jelas. Saturasi oksigen 88% dengan oksigen nasal kanul 2 L/menit. Foto toraks menunjukkan gambaran retikulogranular difus dengan air bronchogram. Apakah tata laksana farmakologis spesifik yang paling tepat diberikan?
- APemberian surfaktan eksogen intratrakeal
- BPemberian deksametason intravena dosis tinggi
- CPemberian antibiotik ampisilin dan gentamisin intravena
- DPemberian furosemid intravena
- EPemberian aminofilin intravena
Lihat jawaban
Gambaran klinis dan radiologis (takipnu, retraksi, grunting, gambaran retikulogranular/ground-glass dengan air bronchogram) pada bayi prematur usia gestasi 30 minggu khas untuk sindrom gawat napas neonatus (RDS) akibat defisiensi surfaktan paru. Surfaktan eksogen diberikan secara intratrakeal untuk menurunkan tegangan permukaan alveolus, mencegah kolaps alveolus saat ekspirasi, dan memperbaiki komplians paru serta oksigenasi. Pemberian surfaktan dini, bersama dengan dukungan CPAP atau ventilasi mekanik sesuai derajat distres napas, merupakan tata laksana standar RDS pada bayi prematur dengan defisiensi surfaktan.
- B. Kortikosteroid diberikan antenatal pada ibu untuk mematangkan paru janin sebelum persalinan preterm, bukan sebagai terapi postnatal RDS yang sudah terjadi
- C. Antibiotik ditujukan untuk sepsis atau pneumonia kongenital yang menjadi diagnosis banding, bukan tata laksana spesifik RDS akibat defisiensi surfaktan
- D. Furosemid tidak memperbaiki defisiensi surfaktan dan dapat memperberat gangguan elektrolit pada bayi prematur
- E. Aminofilin digunakan untuk apnea of prematurity, bukan untuk mengatasi defisiensi surfaktan pada RDS
Bayi laki-laki lahir prematur usia gestasi 35 minggu dengan berat lahir 1800 gram, kini berusia 10 hari, kondisi klinis stabil, dapat minum ASI melalui sendok dengan baik, dan tidak memerlukan bantuan oksigen. Suhu tubuh stabil 36,8°C. Ibu ingin segera membawa bayi pulang namun khawatir bayi mengalami hipotermia di rumah tanpa inkubator. Apakah edukasi yang paling tepat diberikan kepada ibu untuk mencegah hipotermia di rumah?
- AMenempatkan bayi di dekat kipas angin untuk sirkulasi udara hangat
- BMembungkus bayi dengan selimut tebal tanpa kontak langsung dengan tubuh ibu
- CMelakukan perawatan metode kanguru dengan kontak kulit ke kulit antara bayi dan ibu secara kontinu
- DMemberikan bayi minum air gula hangat setiap jam untuk meningkatkan produksi panas tubuh
- EMemandikan bayi dengan air hangat setiap 2 jam untuk menjaga suhu tubuh
Lihat jawaban
Perawatan metode kanguru (PMK) adalah metode kontak kulit ke kulit antara bayi dan ibu (atau pengganti ibu) secara kontinu atau intermiten yang efektif mencegah hipotermia pada BBLR yang sudah stabil, karena tubuh ibu berfungsi sebagai sumber panas alami sekaligus memfasilitasi pemberian ASI dan bonding. PMK direkomendasikan WHO dan Kemenkes untuk bayi prematur/BBLR yang stabil secara klinis tanpa memerlukan alat bantu intensif, termasuk untuk perawatan di rumah setelah pulang dari fasilitas kesehatan. Metode ini menurunkan risiko hipotermia, sepsis, dan meningkatkan keberhasilan menyusui dibandingkan perawatan konvensional dalam inkubator semata.
- A. Kipas angin akan meningkatkan kehilangan panas melalui konveksi dan memperburuk risiko hipotermia pada BBLR
- B. Membungkus dengan selimut tanpa kontak kulit tidak memberikan sumber panas aktif seperti kontak kulit ke kulit pada metode kanguru
- D. Pemberian air gula tidak dianjurkan pada neonatus dan tidak terbukti mencegah hipotermia; ASI tetap menjadi nutrisi utama
- E. Memandikan bayi sering justru meningkatkan risiko hipotermia karena kehilangan panas melalui evaporasi, bukan mencegahnya
Neonatologi - Ikterus Neonatorum
1 soalBayi perempuan lahir cukup bulan dari ibu dengan golongan darah O, Rh positif. Bayi bergolongan darah A, Rh positif. Pada usia 18 jam, bayi tampak kuning hingga Kramer II, tampak agak lemas namun masih mau menyusu. Hasil laboratorium: bilirubin total serum 14 mg/dL, bilirubin indirek dominan, hemoglobin 11 g/dL, dan uji Coombs direk positif pada eritrosit bayi. Apakah mekanisme yang paling mendasari kondisi klinis bayi tersebut?
- AAntibodi IgG anti-A ibu melintasi plasenta dan menghemolisis eritrosit bayi
- BInfeksi kongenital yang menyebabkan hemolisis eritrosit janin
- CPeningkatan reabsorpsi bilirubin melalui sirkulasi enterohepatik akibat ASI kurang
- DGangguan konjugasi bilirubin akibat imaturitas enzim UDP-glukuronil transferase
- EDefisiensi enzim glukosa-6-fosfat dehidrogenase pada eritrosit bayi
Lihat jawaban
Pada inkompatibilitas ABO, ibu bergolongan darah O secara alami memiliki antibodi IgG anti-A dan anti-B yang dapat melintasi plasenta karena ukurannya kecil, berbeda dengan antibodi alami golongan darah lain yang umumnya IgM. Antibodi ini akan menempel pada eritrosit bayi yang mengekspresikan antigen A atau B dan menyebabkan hemolisis ekstravaskular melalui sistem retikuloendotelial, yang dibuktikan dengan uji Coombs direk positif. Hemolisis ini menimbulkan ikterus dini (onset dalam 24 jam pertama) dengan peningkatan bilirubin indirek yang cepat. Berbeda dengan inkompatibilitas Rh, inkompatibilitas ABO dapat terjadi pada kehamilan pertama karena sensitisasi alami terhadap antigen A/B di lingkungan.
- B. Infeksi kongenital biasanya disertai manifestasi sistemik lain seperti hepatosplenomegali dan tidak menunjukkan uji Coombs direk positif terhadap antigen golongan darah.
- C. Breast milk jaundice terjadi lebih lambat (hari ke-4 hingga ke-7) dan tidak berkaitan dengan uji Coombs positif.
- D. Imaturitas UDP-glukuronil transferase menyebabkan ikterus fisiologis ringan tanpa bukti hemolisis atau Coombs positif.
- E. Defisiensi G6PD menyebabkan hemolisis namun uji Coombs direk akan negatif karena bukan proses imun.
Neonatologi - Infeksi Neonatal
2 soalSeorang bayi laki-laki lahir di puskesmas pada usia gestasi 36 minggu dengan berat lahir 2400 gram. Ibu mengalami ketuban pecah dini 20 jam sebelum persalinan dan demam intrapartum 38,5°C. Pada usia 18 jam, bayi tampak malas minum, suhu 35,8°C, laju napas 68 kali/menit dengan retraksi, dan tampak letargi. Apakah faktor risiko yang paling berperan menyebabkan kondisi bayi ini?
- APerawatan di ruang neonatal intensif yang lama
- BPemberian nutrisi parenteral total
- CProsedur pembedahan pada minggu pertama kehidupan
- DPemasangan kateter vena sentral pascalahir
- EKetuban pecah dini dan korioamnionitis maternal
Lihat jawaban
Sepsis neonatorum early-onset (onset dalam 72 jam pertama kehidupan) terutama disebabkan oleh transmisi vertikal mikroorganisme dari traktus genitalia ibu, dengan faktor risiko utama berupa ketuban pecah dini lebih dari 18 jam, korioamnionitis, demam intrapartum, dan prematuritas. Etiologi tersering adalah Streptococcus agalactiae (grup B) dan Escherichia coli. Sebaliknya, sepsis late-onset (setelah 72 jam) umumnya terkait faktor nosokomial seperti kateter vena sentral, ventilasi mekanik, atau prosedur invasif, dengan etiologi predominan organisme nosokomial seperti Staphylococcus koagulase negatif. Kasus ini dengan onset 18 jam dan riwayat ketuban pecah dini serta korioamnionitis maternal jelas menunjukkan sepsis early-onset.
- A. Lama perawatan NICU berkaitan dengan sepsis late-onset, bukan penyebab onset dini pada kasus ini.
- B. Nutrisi parenteral total merupakan faktor risiko sepsis late-onset terkait pajanan nosokomial.
- C. Prosedur pembedahan merupakan faktor risiko sepsis nosokomial late-onset, tidak sesuai dengan presentasi dini bayi ini.
- D. Kateter vena sentral merupakan faktor risiko sepsis late-onset nosokomial, tidak relevan pada onset 18 jam tanpa prosedur tersebut.
Seorang bayi perempuan usia 2 hari dirawat di rumah sakit dengan kecurigaan sepsis neonatorum early-onset berdasarkan riwayat ketuban pecah dini 24 jam dan klinis letargi, suhu tubuh tidak stabil, serta hasil laboratorium leukosit 22.000/μL dengan rasio imatur:total neutrofil 0,25. Dokter memutuskan memberikan terapi antibiotik empiris sambil menunggu hasil kultur darah. Apakah kombinasi antibiotik empiris lini pertama yang paling tepat?
- ASiprofloksasin dan klindamisin
- BAmpisilin dan gentamisin
- CVankomisin dan meropenem
- DSeftriakson dan metronidazol
- EKloramfenikol tunggal
Lihat jawaban
Kombinasi ampisilin dan gentamisin merupakan regimen antibiotik empiris lini pertama standar untuk sepsis neonatorum early-onset karena memberikan cakupan luas terhadap patogen tersering yaitu Streptococcus agalactiae (grup B) dan Escherichia coli, sekaligus memberikan efek sinergis bakterisidal terhadap organisme gram positif dan gram negatif. Ampisilin bekerja menghambat sintesis dinding sel bakteri, sedangkan gentamisin sebagai aminoglikosida menghambat sintesis protein subunit ribosom 30S. Regimen ini juga relatif aman dan murah sehingga direkomendasikan oleh Kemenkes sebagai lini pertama di fasilitas kesehatan primer maupun sekunder sebelum hasil kultur dan sensitivitas tersedia.
- A. Siprofloksasin dan klindamisin bukan regimen standar sepsis neonatorum dan fluorokuinolon umumnya dihindari pada neonatus.
- C. Vankomisin dan meropenem merupakan lini lanjutan untuk sepsis nosokomial resisten atau late-onset berat, bukan pilihan awal.
- D. Seftriosakson dikontraindikasikan pada neonatus terutama yang mendapat kalsium intravena karena risiko presipitasi di paru dan ginjal, serta metronidazol tidak termasuk cakupan empiris standar sepsis neonatal.
- E. Kloramfenikol tunggal tidak memberikan cakupan adekuat dan berisiko toksisitas sumsum tulang serta sindrom gray baby pada neonatus.
Neonatologi - Lain-lain
1 soalSeorang bayi laki-laki usia 8 hari dibawa ke puskesmas karena tidak bisa menyusu sejak 1 hari yang lalu. Bayi lahir di rumah dengan bantuan dukun menggunakan alat pemotong tali pusat tradisional, dan ibu tidak pernah mendapat imunisasi tetanus selama hamil. Pada pemeriksaan ditemukan trismus, mulut mencucu seperti mulut ikan, dan kejang yang dipicu rangsangan ringan dengan kesadaran tetap baik di antara episode kejang. Apakah upaya pencegahan primer yang paling tepat untuk mencegah kondisi ini?
- APemberian antibiotik profilaksis oral pada semua ibu hamil trimester ketiga
- BPemberian vitamin K1 intramuskular segera setelah lahir
- CPemberian ASI eksklusif sejak jam pertama kehidupan
- DPemeriksaan skrining kadar bilirubin rutin pada semua neonatus
- EPertolongan persalinan bersih dan perawatan tali pusat menggunakan alat steril
Lihat jawaban
Tetanus neonatorum disebabkan oleh kontaminasi Clostridium tetani pada luka tali pusat akibat pertolongan persalinan yang tidak bersih dan alat pemotong tali pusat yang tidak steril, ditambah status imunisasi tetanus ibu yang tidak adekuat. Pencegahan utama adalah praktik tiga bersih yaitu bersih tangan penolong, bersih alat pemotong tali pusat, dan bersih tempat persalinan, disertai imunisasi tetanus toksoid lengkap pada ibu hamil. Gambaran klinis klasik berupa trismus, risus sardonikus (mulut mencucu), dan kejang spastik dengan kesadaran tetap baik merupakan ciri khas tetanus neonatorum akibat toksin tetanospasmin yang menghambat pelepasan neurotransmiter inhibisi. Program eliminasi tetanus neonatorum di Indonesia menitikberatkan pada persalinan bersih dan imunisasi maternal.
- A. Antibiotik profilaksis oral rutin pada ibu hamil bukan strategi pencegahan tetanus neonatorum yang direkomendasikan.
- B. Vitamin K1 mencegah perdarahan akibat defisiensi vitamin K, tidak berkaitan dengan pencegahan tetanus.
- C. ASI eksklusif penting untuk nutrisi dan imunitas umum namun tidak mencegah infeksi Clostridium tetani melalui luka tali pusat.
- D. Skrining bilirubin berkaitan dengan deteksi ikterus neonatorum, tidak relevan dengan pencegahan tetanus.
Nutrisi & Tumbuh Kembang
4 soalSeorang anak perempuan usia 2 tahun dibawa ke posyandu untuk pemantauan tumbuh kembang. Berat badan 9 kg dan panjang badan 82 cm. Berdasarkan kurva pertumbuhan WHO, nilai z-score berat badan menurut umur (BB/U) adalah -2,2 SD, tinggi badan menurut umur (TB/U) adalah -1,0 SD, dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) adalah -2,6 SD. Apakah interpretasi status gizi yang paling tepat untuk anak ini?
- AGizi buruk kronik dengan stunting berat
- BGizi kurang (wasting) tanpa stunting
- CGizi lebih dengan risiko stunting
- DStatus gizi normal dengan variasi individu
- EObesitas dengan perawakan pendek
Lihat jawaban
Interpretasi status gizi menggunakan kurva WHO memerlukan tiga indeks sekaligus. Nilai TB/U -1,0 SD menunjukkan tinggi badan normal (tidak stunting, karena di atas ambang -2 SD). Nilai BB/TB -2,6 SD menunjukkan wasting karena berada di bawah ambang -2 SD, mengindikasikan kekurangan berat badan relatif terhadap tinggi badan yang biasanya bersifat akut. Nilai BB/U -2,2 SD konsisten dengan kombinasi tersebut karena BB/U dipengaruhi oleh BB/TB. Pola ini khas untuk gizi kurang akut (wasting) tanpa disertai gangguan pertumbuhan linear kronik (stunting).
- A. TB/U -1,0 SD berada dalam rentang normal sehingga tidak dapat diinterpretasikan sebagai stunting berat.
- C. Z-score BB/TB di bawah -2 SD menunjukkan defisit berat badan, bukan gizi lebih.
- D. Nilai BB/U dan BB/TB di bawah -2 SD menunjukkan adanya gangguan gizi, bukan status gizi normal.
- E. Nilai BB/TB yang rendah (-2,6 SD) menunjukkan kekurangan berat badan, bertentangan dengan obesitas.
Seorang anak perempuan usia 18 bulan dengan gizi buruk tipe marasmus dirawat di rumah sakit pada hari pertama perawatan. Anak tampak letargi, suhu tubuh 35,5°C, frekuensi nadi 130 kali/menit, tidak ditemukan syok. Dokter akan memulai tata laksana fase stabilisasi sesuai 10 langkah WHO/Kemenkes. Apakah prinsip pemberian nutrisi awal yang paling tepat pada fase ini?
- APuasa total selama 48 jam untuk stabilisasi metabolik sebelum pemberian nutrisi
- BNutrisi parenteral total sebagai rute pemberian utama fase stabilisasi
- CFormula F-75 diberikan sedikit dan sering untuk mencegah refeeding syndrome
- DSusu formula tinggi protein diberikan segera dalam volume penuh
- EFormula F-100 diberikan dalam jumlah besar untuk mengejar kenaikan berat badan cepat
Lihat jawaban
Pada fase stabilisasi tata laksana gizi buruk sesuai 10 langkah WHO/Kemenkes, formula F-75 (rendah protein dan energi, 75 kkal/100 mL) diberikan secara bertahap, sedikit, dan sering (8-12 kali per hari) untuk memenuhi kebutuhan metabolik basal tanpa membebani sistem organ yang sudah terganggu akibat malnutrisi berat. Pemberian nutrisi yang terlalu agresif pada fase awal dapat memicu refeeding syndrome berupa hipofosfatemia, hipokalemia, dan gagal jantung akut akibat pergeseran cairan dan elektrolit mendadak. Formula F-100 dengan kandungan energi dan protein lebih tinggi baru diberikan pada fase rehabilitasi setelah anak stabil dan nafsu makan kembali. Fase stabilisasi berlangsung sekitar 1-7 hari dengan fokus pada koreksi hipoglikemia, hipotermia, dehidrasi, dan infeksi sebelum mengejar kenaikan berat badan.
- A. Puasa total tidak dianjurkan karena anak gizi buruk memiliki cadangan glikogen sangat rendah dan berisiko hipoglikemia berat.
- B. Nutrisi parenteral total bukan rute utama dan berisiko komplikasi infeksi serta metabolik pada anak gizi buruk, enteral tetap diutamakan jika memungkinkan.
- D. Pemberian volume penuh segera sangat berisiko menimbulkan refeeding syndrome dan gagal jantung akut.
- E. F-100 dengan energi dan protein tinggi diberikan pada fase rehabilitasi setelah stabil, pemberian dini berisiko refeeding syndrome.
Seorang dokter puskesmas merencanakan program intervensi gizi di wilayah kerjanya yang memiliki prevalensi balita pendek cukup tinggi. Program ini ditujukan untuk mencegah terjadinya gangguan pertumbuhan linier kronis pada anak di bawah usia 2 tahun. Intervensi apakah yang paling tepat menjadi prioritas utama program tersebut?
- APemberian makanan tambahan tinggi kalori pada balita usia 3-5 tahun yang sudah mengalami gangguan pertumbuhan
- BPemberian antibiotik profilaksis pada bayi baru lahir untuk mencegah infeksi berulang
- CPemberian suplementasi zink pada semua anak usia sekolah dasar setiap bulan
- DEdukasi dan optimalisasi gizi ibu hamil serta pemberian ASI eksklusif enam bulan pertama kehidupan
- ESkrining tuberkulosis pada seluruh balita di wilayah tersebut setiap enam bulan
Lihat jawaban
Stunting disebabkan oleh kekurangan gizi kronis yang terjadi sejak periode 1000 hari pertama kehidupan (dari kehamilan hingga usia 2 tahun), sehingga pencegahan primer harus dimulai sedini mungkin. Intervensi gizi spesifik yang terbukti efektif meliputi perbaikan gizi ibu selama hamil, inisiasi menyusu dini, dan ASI eksklusif enam bulan yang mencegah defisit nutrisi pada periode kritis pertumbuhan otak dan tulang. Intervensi setelah usia 2 tahun bersifat kuratif/rehabilitatif dan hasilnya jauh kurang optimal karena jendela pertumbuhan kritis sudah terlewati. Program nasional percepatan penurunan stunting Kemenkes RI menempatkan intervensi 1000 HPK sebagai prioritas utama pencegahan primer.
- A. Pemberian makanan tambahan pada usia 3-5 tahun bersifat kuratif, bukan pencegahan primer, dan dilakukan setelah jendela kritis 1000 HPK terlewati
- B. Antibiotik profilaksis tidak direkomendasikan secara rutin dan bukan merupakan intervensi gizi untuk pencegahan stunting
- C. Suplementasi zink rutin bukan intervensi utama pencegahan stunting dan tidak ditargetkan pada usia sekolah dasar
- E. Skrining tuberkulosis bukan strategi utama pencegahan stunting meskipun infeksi kronis dapat berkontribusi pada gangguan tumbuh kembang
Seorang anak laki-laki usia 24 bulan dibawa ke puskesmas untuk pemeriksaan tumbuh kembang rutin. Ibu tidak memiliki kekhawatiran khusus, namun dokter ingin melakukan deteksi dini terhadap kemungkinan keterlambatan perkembangan secara terstruktur sesuai program pemerintah di tingkat pelayanan primer. Pemeriksaan apakah yang paling tepat digunakan sebagai instrumen skrining awal pada kunjungan ini?
- ABayley Scales of Infant Development
- BVineland Adaptive Behavior Scales
- CDenver Developmental Screening Test II
- DKuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP)
- ECapute Scales
Lihat jawaban
KPSP merupakan instrumen skrining perkembangan yang direkomendasikan Kemenkes RI untuk digunakan di tingkat pelayanan primer (puskesmas, posyandu) karena sederhana, cepat, dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan non-spesialis, dan sudah divalidasi untuk anak Indonesia usia 3 bulan hingga 72 bulan. Pemeriksaan terdiri dari 9-10 pertanyaan sesuai usia anak yang dijawab oleh orang tua atau pengasuh. Denver II dan instrumen lain seperti Bayley Scales lebih kompleks, memerlukan pelatihan khusus, dan biasanya digunakan di tingkat rujukan untuk evaluasi lebih mendalam setelah skrining awal menunjukkan hasil mencurigakan.
- A. Bayley Scales adalah instrumen evaluasi diagnostik komprehensif yang digunakan di tingkat tersier, bukan untuk skrining primer
- B. Vineland Adaptive Behavior Scales digunakan untuk menilai perilaku adaptif pada evaluasi lanjutan, bukan skrining awal di puskesmas
- C. Denver II lebih kompleks dan umumnya digunakan di tingkat rujukan atau oleh tenaga terlatih khusus, bukan sebagai skrining awal di puskesmas
- E. Capute Scales bukan instrumen yang digunakan dalam program skrining perkembangan nasional di Indonesia
Imunisasi
2 soalSeorang bayi perempuan usia 3 bulan dibawa ke puskesmas dua jam setelah mendapat imunisasi DPT-HB-Hib dosis kedua. Ibu mengatakan anak tampak rewel, demam, dan terdapat bengkak kemerahan di paha kiri lokasi suntikan. Suhu tubuh 38,2°C, tidak ada sesak napas, tidak ada ruam generalisata, anak masih mau menyusu. Tindakan apakah yang paling tepat dilakukan oleh dokter puskesmas?
- AMerujuk segera ke rumah sakit untuk rawat inap observasi intensif
- BMemberikan epinefrin intramuskular segera karena curiga reaksi anafilaksis
- CMenghentikan seluruh imunisasi DPT-HB-Hib pada anak ini untuk dosis selanjutnya
- DMemberikan parasetamol sesuai dosis, kompres hangat pada lokasi suntikan, dan edukasi bahwa ini reaksi lokal ringan yang wajar
- EMemberikan antibiotik oral untuk mencegah infeksi pada lokasi suntikan
Lihat jawaban
Demam ringan, rewel, dan reaksi lokal (bengkak, kemerahan, nyeri) di lokasi suntikan merupakan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) ringan yang umum terjadi setelah pemberian DPT-HB-Hib, terutama komponen pertusis whole-cell. Penanganan yang tepat adalah terapi simtomatik berupa antipiretik (parasetamol) dan kompres pada lokasi suntikan, disertai edukasi kepada orang tua bahwa reaksi ini wajar dan akan membaik dalam 1-2 hari. KIPI ringan seperti ini bukan kontraindikasi untuk pemberian dosis DPT-HB-Hib selanjutnya, dan tidak memerlukan epinefrin, rujukan rawat inap, maupun antibiotik karena tidak ada tanda anafilaksis atau infeksi bakteri.
- A. Rujukan rawat inap tidak diperlukan karena KIPI ini ringan dan dapat ditangani rawat jalan dengan terapi simtomatik
- B. Epinefrin hanya diberikan pada reaksi anafilaksis dengan tanda gangguan napas, sirkulasi, atau urtikaria generalisata, yang tidak ditemukan pada kasus ini
- C. Reaksi lokal ringan bukan kontraindikasi untuk dosis imunisasi selanjutnya, sehingga imunisasi DPT-HB-Hib tetap dapat dilanjutkan
- E. Antibiotik tidak diindikasikan karena tidak ada tanda infeksi bakteri seperti pus atau selulitis progresif pada lokasi suntikan
Seorang anak laki-laki usia 18 bulan dibawa ke puskesmas oleh ibunya yang baru pindah dari desa terpencil. Riwayat imunisasi anak hanya BCG dan hepatitis B saat lahir, tanpa imunisasi lain. Anak tampak sehat, tidak demam, status gizi baik. Dokter berencana melakukan catch-up imunisasi. Pendekatan apakah yang paling tepat dilakukan dokter pada kunjungan ini?
- AMemulai pemberian DPT-HB-Hib dosis pertama dan OPV dosis pertama hari ini, dengan interval minimal 4 minggu antar dosis berikutnya
- BMemberikan campak-rubela terlebih dahulu sebelum memulai DPT-HB-Hib karena risiko campak lebih mendesak
- CTidak perlu memberikan imunisasi susulan karena anak sudah melewati usia imunisasi dasar
- DMemberikan seluruh dosis DPT-HB-Hib dan polio yang tertinggal dalam satu kali suntikan hari ini
- EMenunggu hingga anak berusia 2 tahun untuk memulai imunisasi susulan dengan jadwal baru
Lihat jawaban
Prinsip catch-up immunization adalah melanjutkan imunisasi yang belum lengkap tanpa mengulang dari awal, dengan tetap memperhatikan interval minimal antar dosis yaitu 4 minggu untuk DPT-HB-Hib dan OPV. Anak pada kasus ini belum pernah mendapat DPT-HB-Hib maupun polio, sehingga dimulai dari dosis pertama pada kunjungan ini, dilanjutkan dosis kedua dan ketiga dengan interval minimal 4 minggu. Imunisasi susulan tetap dapat diberikan pada anak di atas usia jadwal normal karena prinsipnya adalah melengkapi status imunisasi, bukan menunda atau membatalkan karena keterlambatan.
- B. Campak-rubela dapat diberikan sesuai jadwal catch-up namun tidak harus selalu didahulukan sebelum DPT-HB-Hib; kedua jenis vaksin dapat diberikan bersamaan pada kunjungan berbeda sesuai ketersediaan dan interval
- C. Imunisasi susulan tetap wajib diberikan meskipun anak sudah melewati usia jadwal normal untuk melengkapi perlindungan terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi
- D. Pemberian seluruh dosis sekaligus dalam satu hari tidak sesuai prinsip interval minimal antar dosis yang diperlukan untuk respons imun optimal
- E. Catch-up imunisasi harus dimulai sesegera mungkin saat anak datang, tidak perlu menunggu usia tertentu karena menunda akan meningkatkan risiko penyakit yang dapat dicegah
Infeksi Respiratorik Akut
4 soalSeorang anak perempuan usia 3 tahun dibawa ke puskesmas dengan batuk dan demam sejak 2 hari. Frekuensi napas 42 kali/menit, suhu 38,8°C, tidak ada tarikan dinding dada ke dalam, tidak ada tanda bahaya umum. Anak didiagnosis pneumonia dan akan ditatalaksana secara rawat jalan. Antibiotik apakah yang paling tepat diberikan sebagai lini pertama sesuai pedoman nasional?
- AGentamisin intravena
- BEritromisin oral
- CAmpisilin intravena
- DAmoksisilin oral
- ECeftriaxone intramuskular
Lihat jawaban
Pada pneumonia tanpa tanda bahaya dan tanpa tarikan dinding dada ke dalam (klasifikasi pneumonia, bukan pneumonia berat), tatalaksana dapat dilakukan rawat jalan dengan antibiotik oral lini pertama berupa amoksisilin, sesuai pedoman nasional tatalaksana pneumonia anak dan rekomendasi IDAI. Amoksisilin dipilih karena efektif terhadap patogen tersering pneumonia komunitas pada anak yaitu Streptococcus pneumoniae, dengan profil keamanan baik dan ketersediaan luas di layanan primer. Antibiotik parenteral seperti ampisilin, gentamisin, atau ceftriaxone diindikasikan untuk pneumonia berat yang memerlukan rawat inap, bukan untuk kasus rawat jalan seperti pada skenario ini.
- A. Gentamisin intravena digunakan sebagai kombinasi terapi pneumonia berat atau sangat berat, bukan lini pertama pneumonia ringan rawat jalan
- B. Eritromisin bukan lini pertama untuk pneumonia bakterial tipikal pada anak dan lebih diindikasikan untuk pneumonia atipikal seperti infeksi Mycoplasma
- C. Ampisilin intravena diindikasikan untuk pneumonia berat yang memerlukan rawat inap, bukan untuk pneumonia ringan rawat jalan
- E. Ceftriaxone intramuskular merupakan pilihan untuk pneumonia berat, bukan terapi lini pertama pneumonia ringan yang dapat rawat jalan
Bayi laki-laki usia 7 bulan dibawa ke IGD puskesmas dengan keluhan batuk pilek sejak 3 hari dan sesak napas sejak 1 hari terakhir. Bayi masih mau menyusu meski lebih lambat. Pemeriksaan fisik: frekuensi napas 58 kali/menit, laju nadi 140 kali/menit, suhu 37,8°C, saturasi oksigen 94% udara ruang. Tampak retraksi dinding dada ringan dan terdengar mengi ekspirasi bilateral serta ronki halus difus pada auskultasi. Ini merupakan episode wheezing pertama pada bayi tersebut.
- ALaringotrakeobronkitis akut
- BAspirasi benda asing
- CAsma bronkial episode akut
- DPneumonia bakterial
- EBronkiolitis akut
Lihat jawaban
Bronkiolitis akut adalah infeksi saluran respiratorik bawah yang disebabkan virus (tersering RSV), khas pada bayi di bawah 2 tahun dengan episode wheezing pertama yang didahului gejala infeksi saluran napas atas. Tata laksana bersifat suportif: oksigen bila saturasi rendah, pemberian cairan/nutrisi adekuat, dan suction lendir bila perlu; bronkodilator, kortikosteroid, dan antibiotik tidak rutin diberikan karena tidak terbukti bermanfaat pada bronkiolitis viral. Diagnosis ditegakkan secara klinis tanpa perlu rutin pemeriksaan penunjang pada kasus ringan-sedang. Usia muda, episode wheezing pertama, dan gejala prodromal infeksi saluran napas atas membedakannya dari asma.
- A. Laringotrakeobronkitis (croup) khas dengan stridor inspiratorik dan suara serak/batuk menggonggong, bukan wheezing ekspirasi.
- B. Aspirasi benda asing biasanya mendadak tanpa gejala prodromal infeksi saluran napas dan sering asimetris.
- C. Asma bronkial jarang didiagnosis pada episode wheezing pertama di usia bayi tanpa riwayat atopi yang jelas.
- D. Pneumonia bakterial biasanya menunjukkan demam tinggi, ronki basah fokal, dan tidak khas dengan wheezing bilateral difus pada bayi.
Anak laki-laki usia 2 tahun dibawa orang tuanya ke IGD rumah sakit pada malam hari karena batuk menggonggong dan suara serak yang muncul mendadak setelah demam ringan sejak sore. Saat diperiksa, anak tampak rewel namun masih dapat ditenangkan dalam pangkuan ibunya. Frekuensi napas 32 kali/menit, laju nadi 118 kali/menit, suhu 38,1°C, saturasi oksigen 97% udara ruang. Terdengar stridor inspiratorik saat anak menangis namun tidak terdengar saat anak tenang. Tidak tampak retraksi dinding dada.
- ADeksametason oral dosis tunggal
- BNebulisasi epinefrin segera
- CNebulisasi salbutamol
- DIntubasi elektif untuk mengamankan jalan napas
- EAntibiotik intravena spektrum luas
Lihat jawaban
Pasien ini menunjukkan gambaran klasik croup (laringotrakeobronkitis akut) derajat ringan, yaitu stridor hanya saat anak menangis/aktif tanpa stridor saat istirahat dan tanpa retraksi, sehingga tata laksana lini pertama adalah kortikosteroid sistemik dosis tunggal seperti deksametason oral 0,15-0,6 mg/kgBB yang efektif mengurangi edema mukosa laring dalam beberapa jam. Nebulisasi epinefrin diindikasikan untuk croup derajat sedang-berat dengan stridor saat istirahat atau distres napas nyata, bukan untuk kasus ringan. Antibiotik tidak diperlukan karena croup disebabkan virus (umumnya parainfluenza). Croup ringan tidak memerlukan intervensi jalan napas invasif.
- B. Nebulisasi epinefrin diperuntukkan croup sedang-berat dengan stridor saat istirahat atau distres napas, bukan derajat ringan ini.
- C. Salbutamol bekerja pada bronkospasme saluran napas bawah, bukan pada edema laring yang mendasari croup.
- D. Intubasi hanya diperlukan pada obstruksi jalan napas berat yang mengancam jiwa, tidak sesuai kondisi anak ini.
- E. Croup disebabkan oleh virus sehingga antibiotik tidak memberikan manfaat dan tidak diindikasikan.
Anak perempuan usia 8 tahun dibawa ke puskesmas dengan keluhan nyeri menelan dan demam tinggi sejak 2 hari, tanpa batuk maupun pilek. Pemeriksaan fisik: suhu 38,9°C, tampak eksudat putih pada kedua tonsil yang membesar, faring hiperemis, serta pembesaran dan nyeri tekan kelenjar limfe servikal anterior. Tidak dijumpai konjungtivitis maupun ruam kulit.
- AFaringitis streptokokus grup A
- BFaringitis viral oleh adenovirus
- CMononukleosis infeksiosa
- DDifteri faring
- EFaringitis viral oleh rinovirus
Lihat jawaban
Gambaran klinis berupa demam tinggi mendadak, nyeri menelan, eksudat tonsil, dan limfadenopati servikal anterior tanpa batuk/pilek (sesuai kriteria Centor/McIsaac) sangat mengarah pada faringitis streptokokus grup A (Streptococcus pyogenes). Diagnosis ini penting karena infeksi yang tidak diobati adekuat dengan antibiotik (penisilin/amoksisilin) berisiko menimbulkan komplikasi lanjut berupa demam rematik akut akibat reaksi autoimun silang terhadap protein M streptokokus. Faringitis viral biasanya disertai gejala katarhal seperti batuk, pilek, dan konjungtivitis yang tidak ditemukan pada kasus ini. Terapi antibiotik dini pada faringitis streptokokus terbukti menurunkan risiko demam rematik.
- B. Faringitis adenovirus biasanya disertai konjungtivitis dan gejala katarhal, berbeda dengan gambaran kasus ini.
- C. Mononukleosis biasanya disertai limfadenopati generalisata dan splenomegali serta berlangsung lebih lama dari 2 hari.
- D. Difteri faring khas dengan membran pseudomembran keabu-abuan yang melekat dan mudah berdarah bila dilepas, bukan eksudat putih biasa.
- E. Rinovirus umumnya menyebabkan common cold ringan dengan pilek menonjol, bukan eksudat tonsil berat seperti ini.
Asma & Alergi Anak
3 soalAnak laki-laki usia 9 tahun dengan riwayat asma dibawa ke IGD karena sesak napas yang memberat sejak 2 jam. Anak hanya mampu berbicara dalam potongan kata, duduk membungkuk ke depan, dan tampak gelisah. Pemeriksaan fisik: frekuensi napas 36 kali/menit, laju nadi 128 kali/menit, saturasi oksigen 90% udara ruang, terdengar wheezing keras di seluruh lapang paru, serta retraksi suprasternal dan interkostal yang jelas.
- APemberian antihistamin generasi kedua
- BNebulisasi mukolitik
- CObservasi rawat jalan dengan bronkodilator oral
- DPemberian kortikosteroid inhalasi dosis rendah
- ENebulisasi agonis beta-2 kerja pendek berulang dengan oksigen
Lihat jawaban
Gambaran klinis berbicara terputus, duduk membungkuk, retraksi jelas, dan saturasi oksigen 90% menunjukkan serangan asma derajat berat, sehingga tata laksana awal di IGD adalah oksigenasi segera disertai nebulisasi agonis beta-2 kerja pendek (misalnya salbutamol) yang dapat diulang setiap 20 menit pada jam pertama, sesuai pedoman GINA dan PNAA (Pedoman Nasional Asma Anak). Kortikosteroid sistemik ditambahkan pada serangan sedang-berat namun bronkodilator inhalasi tetap menjadi terapi lini pertama tercepat untuk membuka jalan napas. Kortikosteroid inhalasi adalah terapi controller jangka panjang, bukan untuk serangan akut. Derajat berat seperti ini memerlukan penanganan segera di fasilitas kesehatan, bukan rawat jalan.
- A. Antihistamin tidak memiliki peran dalam tata laksana serangan asma akut karena bukan mekanisme bronkospasme histamin-mediated utama.
- B. Mukolitik tidak mengatasi bronkospasme akut dan bukan terapi lini pertama pada serangan asma.
- C. Derajat serangan berat dengan saturasi 90% memerlukan penanganan gawat darurat segera, tidak dapat ditatalaksana rawat jalan.
- D. Kortikosteroid inhalasi merupakan terapi controller jangka panjang, tidak memberikan efek bronkodilatasi cepat untuk serangan akut.
Anak perempuan usia 10 tahun dengan asma persisten kontrol rutin ke poli. Dalam 4 minggu terakhir, ibu melaporkan anak mengalami gejala asma siang hari sebanyak 4 kali per minggu, terbangun malam karena sesak 2 kali, penggunaan pelega (reliever) hampir setiap hari, dan aktivitas bermain sedikit terbatas. Anak saat ini hanya menggunakan salbutamol inhalasi bila perlu tanpa terapi controller harian.
- AKortikosteroid oral jangka panjang dosis rendah
- BTeofilin oral lepas lambat sebagai monoterapi
- CAgonis beta-2 kerja panjang tunggal tanpa kortikosteroid
- DKortikosteroid inhalasi dosis rendah harian
- EAntagonis reseptor leukotrien sebagai monoterapi lini pertama
Lihat jawaban
Berdasarkan kriteria kontrol asma GINA, pasien ini menunjukkan asma tidak terkontrol (gejala siang >2x/minggu, gejala malam, penggunaan reliever hampir harian, dan keterbatasan aktivitas), sehingga memerlukan inisiasi terapi controller harian. Kortikosteroid inhalasi dosis rendah merupakan terapi controller lini pertama pada anak dengan asma persisten karena bekerja mengurangi inflamasi jalan napas kronik yang mendasari hiperresponsivitas bronkus. Agonis beta-2 kerja panjang tidak boleh diberikan sebagai monoterapi tanpa kortikosteroid inhalasi karena meningkatkan risiko eksaserbasi berat. Antagonis leukotrien dan teofilin merupakan pilihan alternatif atau tambahan, bukan lini pertama.
- A. Kortikosteroid oral jangka panjang memiliki efek samping sistemik signifikan dan hanya digunakan pada asma berat yang tidak terkontrol dengan terapi inhalasi maksimal.
- B. Teofilin memiliki indeks terapi sempit dan bukan pilihan monoterapi lini pertama pada anak dengan asma persisten.
- C. Agonis beta-2 kerja panjang sebagai monoterapi tanpa kortikosteroid inhalasi meningkatkan risiko eksaserbasi berat dan kematian terkait asma.
- E. Antagonis reseptor leukotrien kurang efektif dibanding kortikosteroid inhalasi dan merupakan alternatif, bukan lini pertama.
Bayi laki-laki usia 4 bulan dibawa ibunya ke puskesmas karena sering muntah, tinja berlendir bercampur sedikit darah, dan ruam merah gatal di pipi sejak diberikan susu formula 2 minggu lalu sebagai pendamping ASI. Pemeriksaan fisik: berat badan sesuai kurva pertumbuhan, tampak dermatitis eritematosa pada kedua pipi, tidak ada tanda dehidrasi. Dokter mencurigai alergi susu sapi.
- ABiopsi mukosa usus sebagai pemeriksaan awal wajib
- BPemeriksaan kadar IgE total serum sebagai konfirmasi tunggal
- CEliminasi susu formula berbasis susu sapi diikuti uji provokasi oral terbuka
- DPemberian antihistamin oral selama 2 minggu tanpa penghentian susu formula
- EPemberian susu formula kedelai langsung tanpa periode eliminasi
Lihat jawaban
Baku emas diagnosis alergi susu sapi adalah eliminasi alergen (mengganti susu formula dengan formula hidrolisat ekstensif atau asam amino) selama 2-4 minggu diikuti uji provokasi oral terbuka (reintroduksi) untuk memastikan gejala muncul kembali, karena gejala klinis saja tidak cukup spesifik. Jika gejala menghilang saat eliminasi dan muncul kembali saat provokasi, diagnosis alergi susu sapi dikonfirmasi. IgE total tidak spesifik dan tidak dapat digunakan sebagai konfirmasi tunggal karena banyak kondisi lain juga meningkatkan IgE total. Susu kedelai berisiko reaksi silang dan tidak dianjurkan sebagai pengganti awal tanpa evaluasi eliminasi formal.
- A. Biopsi usus bersifat invasif dan hanya dipertimbangkan pada kasus kompleks, bukan sebagai pemeriksaan awal wajib.
- B. IgE total tidak spesifik untuk alergi susu sapi dan tidak dapat dijadikan konfirmasi diagnostik tunggal.
- D. Antihistamin hanya meredakan simptom sementara dan tidak menegakkan diagnosis tanpa menghilangkan alergen pencetus.
- E. Susu kedelai berisiko sensitisasi silang dan bukan langkah diagnostik, melainkan pilihan terapi setelah diagnosis ditegakkan.
Gastrointestinal & Diare
4 soalAnak perempuan usia 18 bulan dibawa ke puskesmas karena diare cair sejak 2 hari, frekuensi lebih dari 10 kali sehari. Pada pemeriksaan, anak tampak lemas dan sulit dibangunkan, mata tampak sangat cekung, saat diberi minum anak malas dan tidak mau minum. Cubitan kulit perut kembali sangat lambat (lebih dari 2 detik). Laju nadi 148 kali/menit, akral teraba dingin.
- ADiare akut dengan dehidrasi berat
- BDiare akut tanpa dehidrasi
- CDiare akut dengan dehidrasi ringan-sedang
- DDiare akut dengan syok hipovolemik terkompensasi tanpa dehidrasi
- EDiare persisten dengan dehidrasi sedang
Lihat jawaban
Menurut klasifikasi MTBS/WHO, dehidrasi berat ditegakkan bila terdapat minimal dua dari tanda: letargis/tidak sadar, mata sangat cekung, tidak bisa minum atau minum sangat sedikit, dan cubitan kulit kembali sangat lambat (>2 detik). Pasien ini memenuhi seluruh empat tanda tersebut disertai takikardia dan akral dingin yang menunjukkan kompromi sirkulasi, sehingga diklasifikasikan dehidrasi berat dan memerlukan rehidrasi segera (Rencana Terapi C) dengan cairan intravena. Dehidrasi ringan-sedang hanya menunjukkan sebagian tanda dengan derajat lebih ringan seperti gelisah/rewel dan mata cekung tanpa letargi berat. Durasi diare 2 hari masih tergolong akut, bukan persisten yang didefinisikan berlangsung ≥14 hari.
- B. Tanpa dehidrasi berarti tidak ada tanda dehidrasi sama sekali, sedangkan pasien ini menunjukkan tanda klasik dehidrasi berat.
- C. Dehidrasi ringan-sedang ditandai anak gelisah/rewel dan mata cekung tanpa letargi berat, berbeda dari kondisi pasien ini.
- D. Klasifikasi MTBS tidak memisahkan syok dari dehidrasi berat; tanda-tanda pasien ini sudah memenuhi kriteria dehidrasi berat itu sendiri.
- E. Diare persisten didefinisikan berlangsung ≥14 hari, sedangkan diare pasien ini baru berlangsung 2 hari sehingga tergolong diare akut.
Anak laki-laki usia 2 tahun datang ke puskesmas dengan diare cair sejak 1 hari, frekuensi 6 kali, tanpa darah maupun lendir. Pada pemeriksaan, anak tampak aktif dan mau minum dengan baik, mata tidak cekung, cubitan kulit kembali segera. Berat badan 12 kg. Dokter memutuskan anak dapat dipulangkan dengan edukasi rehidrasi di rumah.
- AAntibiotik empiris spektrum luas tanpa indikasi spesifik
- BOralit formula osmolaritas rendah diberikan setiap kali diare sesuai usia
- COralit formula osmolaritas tinggi konvensional sesuai usia
- DPuasa total selama 24 jam untuk mengistirahatkan usus
- EInfus cairan kristaloid isotonik di puskesmas sebelum dipulangkan
Lihat jawaban
Anak ini tergolong diare akut tanpa dehidrasi sehingga ditatalaksana dengan Rencana Terapi A, yaitu pemberian cairan tambahan di rumah berupa oralit formula osmolaritas rendah (osmolaritas 245 mOsm/L, mengandung natrium 75 mEq/L dan glukosa 75 mmol/L) yang terbukti mengurangi volume tinja dan muntah dibanding formula konvensional. Oralit diberikan setiap kali anak buang air besar cair, ditambah zinc selama 10-14 hari, serta edukasi tanda bahaya untuk kembali kontrol. Infus intravena hanya diperlukan pada dehidrasi berat atau syok, bukan pada kondisi tanpa dehidrasi. Oralit formula osmolaritas tinggi konvensional sudah tidak direkomendasikan karena WHO telah merekomendasikan formula osmolaritas rendah.
- A. Antibiotik empiris tidak diindikasikan pada diare cair akut tanpa darah/lendir yang umumnya disebabkan virus.
- C. Formula osmolaritas tinggi konvensional sudah tidak direkomendasikan WHO karena formula osmolaritas rendah lebih efektif menurunkan volume tinja.
- D. Puasa total tidak direkomendasikan karena nutrisi dan ASI/makanan tetap harus diberikan selama diare untuk mencegah malnutrisi.
- E. Infus intravena hanya diindikasikan pada dehidrasi berat atau tidak dapat minum, bukan pada diare tanpa dehidrasi seperti kasus ini.
Seorang bayi laki-laki usia 8 bulan dibawa ke IGD rumah sakit karena menangis kesakitan secara tiba-tiba dan berulang sejak 12 jam yang lalu, di antara episode tangisan anak tampak tenang dan lemas. Ibu mengatakan anak muntah beberapa kali dan terakhir buang air besar bercampur lendir berwarna merah kehitaman seperti gelatin. Pemeriksaan fisik: frekuensi nadi 130 kali/menit, frekuensi napas 32 kali/menit, suhu 37,2°C. Pada palpasi abdomen kuadran kanan atas teraba massa memanjang seperti sosis, nyeri tekan positif. Apakah pemeriksaan penunjang awal yang paling tepat untuk menegakkan diagnosis?
- ABarium enema
- BCT scan abdomen dengan kontras
- CEndoskopi saluran cerna bawah
- DFoto polos abdomen posisi supine
- EUltrasonografi abdomen
Lihat jawaban
Kecurigaan klinis intususepsi pada bayi ditegakkan dari trias nyeri kolik berulang, massa abdomen seperti sosis, dan feses red currant jelly. Ultrasonografi abdomen merupakan modalitas pencitraan awal pilihan karena non-invasif, tidak menggunakan radiasi, dan memiliki sensitivitas serta spesifisitas tinggi dengan gambaran khas target sign atau pseudokidney sign pada potongan transversal. Setelah diagnosis dikonfirmasi dengan USG, barium atau air enema dapat digunakan sekaligus sebagai terapi reduksi non-operatif pada kasus tanpa tanda peritonitis atau perforasi. Foto polos abdomen hanya dapat mendukung kecurigaan namun kurang spesifik untuk diagnosis pasti.
- A. Barium enema bersifat diagnostik sekaligus terapeutik namun bukan pemeriksaan awal, biasanya dilakukan setelah konfirmasi USG.
- B. CT scan memberikan radiasi tinggi dan tidak menjadi pilihan awal pada bayi dibanding USG yang lebih aman dan cepat.
- C. Endoskopi saluran cerna bawah bukan modalitas yang digunakan untuk diagnosis intususepsi pada bayi.
- D. Foto polos abdomen hanya menunjukkan tanda tidak spesifik seperti obstruksi usus dan tidak dapat memastikan diagnosis.
Seorang bayi laki-laki usia 5 minggu dibawa ke IGD karena muntah menyemprot (projectile vomiting) berulang setiap setelah menyusu sejak 1 minggu terakhir. Muntahan berupa susu tanpa bercampur cairan kehijauan. Bayi tampak selalu lapar dan ingin menyusu kembali setelah muntah. Berat badan saat ini 3,8 kg, turun dari 4,3 kg dua minggu sebelumnya. Pemeriksaan fisik: bayi tampak dehidrasi sedang, pada palpasi epigastrium kanan teraba massa kecil keras seperti buah zaitun (olive-like mass). Pemeriksaan gas darah menunjukkan alkalosis metabolik hipokloremik hipokalemik. Apakah tata laksana awal yang paling tepat sebelum tindakan definitif?
- APemasangan nasogastric tube untuk dekompresi segera
- BPemberian formula khusus rendah laktosa
- CPemberian atropin intravena
- DResusitasi cairan dan koreksi elektrolit
- ERujuk langsung untuk piloromiotomi tanpa stabilisasi
Lihat jawaban
Stenosis pilorus hipertrofik khas terjadi pada bayi usia 2-8 minggu dengan muntah projektil non-bilier, massa olive-like di epigastrium, dan alkalosis metabolik hipokloremik hipokalemik akibat kehilangan asam lambung yang berulang. Tata laksana awal yang krusial adalah resusitasi cairan intravena menggunakan cairan isotonik serta koreksi gangguan elektrolit dan asam-basa sebelum tindakan pembedahan, karena operasi pada pasien dengan alkalosis berat meningkatkan risiko apnea pascaoperasi akibat depresi pusat napas. Piloromiotomi merupakan tata laksana definitif namun bukan tindakan kegawatan yang harus segera dilakukan tanpa stabilisasi terlebih dahulu. Diagnosis dapat dikonfirmasi dengan USG abdomen yang menunjukkan penebalan dan pemanjangan otot pilorus.
- A. Dekompresi NGT tidak menjadi prioritas utama karena obstruksi pada level pilorus, bukan ileus yang membutuhkan dekompresi lambung segera sebagai tata laksana awal.
- B. Perubahan jenis formula tidak mengatasi penyebab obstruksi mekanik dan tidak menjadi prioritas tata laksana awal.
- C. Atropin intravena digunakan sebagai terapi alternatif non-bedah pada kasus tertentu namun bukan tata laksana awal kegawatan dan tidak menggantikan stabilisasi cairan.
- E. Operasi tanpa stabilisasi elektrolit dan asam-basa terlebih dahulu meningkatkan risiko komplikasi anestesi berat seperti apnea pascaoperasi.
Infeksi Tropis & Demam
5 soalSeorang anak laki-laki usia 9 tahun, berat badan 28 kg, dirawat di rumah sakit dengan diagnosis demam berdarah dengue hari sakit ke-5. Saat ini anak tampak gelisah, akral dingin dan lembap, pengisian kapiler lebih dari 2 detik. Pemeriksaan tanda vital: frekuensi nadi 140 kali/menit teraba lemah, tekanan darah 80/70 mmHg, frekuensi napas 32 kali/menit. Hematokrit meningkat dari 38% menjadi 48% dalam 6 jam, trombosit 45.000/μL. Apakah tata laksana cairan awal yang paling tepat?
- AKristaloid isotonik 10 mL/kgBB/jam selama 4 jam, lalu evaluasi
- BBolus koloid 20 mL/kgBB dalam 1 jam sebagai cairan lini pertama
- CKristaloid isotonik 6-7 mL/kgBB/jam, evaluasi ulang setiap 4-6 jam
- DBolus kristaloid isotonik 10-20 mL/kgBB dalam 10-15 menit, evaluasi ulang
- ETransfusi komponen darah segera tanpa pemberian kristaloid
Lihat jawaban
Pasien ini menunjukkan tanda syok dengue (derajat III/IV) dengan tekanan nadi menyempit, takikardia, akral dingin, dan perfusi perifer buruk disertai peningkatan hematokrit signifikan yang menandakan kebocoran plasma berat. Tata laksana syok dengue memerlukan resusitasi cepat berupa bolus kristaloid isotonik (misalnya Ringer laktat atau NaCl 0,9%) 10-20 mL/kgBB diberikan secepatnya dalam 10-15 menit, kemudian dievaluasi respons klinis dan hemodinamik untuk menentukan kecepatan cairan selanjutnya. Cairan koloid hanya dipertimbangkan sebagai lini kedua apabila syok tidak membaik setelah bolus kristaloid awal atau kebocoran plasma masif. Pilihan cairan rumatan lambat seperti 6-7 mL/kgBB/jam hanya sesuai untuk DBD derajat I/II tanpa syok.
- A. Kecepatan ini masih kurang agresif untuk resusitasi syok yang membutuhkan bolus cepat, bukan infus bertahap dalam 4 jam.
- B. Koloid bukan cairan lini pertama pada syok dengue, hanya digunakan sebagai lini kedua bila syok menetap setelah bolus kristaloid.
- C. Kecepatan ini terlalu lambat untuk kondisi syok dan hanya sesuai untuk DBD tanpa syok (derajat I/II).
- E. Transfusi komponen darah hanya diindikasikan bila ada perdarahan masif, bukan sebagai tata laksana awal syok akibat kebocoran plasma.
Seorang anak perempuan usia 10 tahun dirawat dengan demam berdarah dengue hari sakit ke-4. Suhu tubuh turun dari 39,5°C menjadi 37,2°C dalam 24 jam terakhir, namun anak tampak lemas dan ibu mengeluhkan nyeri perut yang memberat. Pemeriksaan tanda vital: frekuensi nadi 112 kali/menit, tekanan darah 95/75 mmHg, akral masih hangat. Hasil laboratorium hari ini: hematokrit 44% (nilai awal saat masuk 36%), trombosit 60.000/μL. Apakah interpretasi yang paling tepat terhadap kondisi klinis dan laboratorium pasien saat ini?
- AHasil laboratorium menunjukkan infeksi sekunder bakteri
- BPenurunan suhu menandakan resolusi infeksi dengue sepenuhnya
- CTrombositopenia ini menunjukkan gangguan sumsum tulang primer yang memerlukan biopsi
- DPasien sedang memasuki fase kritis dengan risiko kebocoran plasma
- EPasien sudah memasuki fase konvalesen dan membaik
Lihat jawaban
Penurunan suhu tubuh pada hari sakit ke-3 hingga ke-5 pada infeksi dengue justru menandai masuknya pasien ke fase kritis, bukan fase penyembuhan, karena pada periode ini terjadi peningkatan permeabilitas kapiler yang menyebabkan kebocoran plasma. Peningkatan hematokrit dari 36% menjadi 44% (naik lebih dari 20% dari nilai dasar) bersamaan dengan penurunan trombosit menjadi 60.000/μL merupakan tanda hemokonsentrasi akibat kebocoran plasma yang harus diwaspadai sebagai prediktor progresi ke syok dengue. Nyeri perut yang memberat juga termasuk warning sign WHO yang mengindikasikan perlunya pemantauan ketat dan kemungkinan terapi cairan lebih intensif. Fase kritis inilah yang menjadi periode paling berbahaya dan menentukan keberhasilan tata laksana DBD.
- A. Tidak ada bukti klinis maupun laboratorium yang mengarah pada infeksi bakteri sekunder pada kasus ini.
- B. Penurunan suhu pada infeksi dengue justru dapat menandai awal fase kritis, bukan tanda resolusi penyakit.
- C. Trombositopenia pada DBD disebabkan oleh peningkatan destruksi dan gangguan agregasi trombosit perifer, bukan kegagalan produksi sumsum tulang yang memerlukan biopsi.
- E. Penurunan suhu pada hari ke-3 sampai ke-5 justru menandai fase kritis, bukan fase konvalesen yang biasanya ditandai perbaikan klinis dan hematokrit stabil.
Seorang anak laki-laki berusia 8 tahun dibawa ke puskesmas di Papua dengan demam naik turun sejak 4 hari, menggigil, dan berkeringat banyak. Suhu 39,2°C, nadi 110 kali/menit, frekuensi napas 24 kali/menit. Pemeriksaan hapusan darah tebal dan tipis menunjukkan eritrosit terinfeksi berukuran normal dengan bentuk pisang (gametosit) dan trofozoit cincin halus, tanpa pembesaran eritrosit. Anak tidak muntah dan dapat minum obat oral. Berat badan 25 kg. Apakah regimen pengobatan lini pertama yang paling tepat diberikan?
- AKlorokuin selama 3 hari ditambah primakuin dosis tunggal
- BArtesunat intravena selama 3 hari dilanjutkan dihydroartemisinin-piperakuin
- CKina sulfat selama 7 hari ditambah doksisiklin
- DDihydroartemisinin-piperakuin selama 3 hari ditambah primakuin dosis tunggal
- EDihydroartemisinin-piperakuin selama 3 hari ditambah primakuin selama 14 hari
Lihat jawaban
Gambaran hapusan darah dengan eritrosit ukuran normal dan gametosit berbentuk pisang khas untuk Plasmodium falciparum. Menurut Pedoman Nasional Pengendalian Malaria Kemenkes RI, lini pertama malaria falciparum tanpa komplikasi adalah dihydroartemisinin-piperakuin (DHP) selama 3 hari dikombinasi dengan primakuin dosis tunggal (0,25 mg/kgBB) sebagai gametositosidal. Primakuin dosis panjang 14 hari hanya diberikan pada malaria vivax atau ovale untuk eradikasi hipnozoit hati. Pasien ini stabil dan dapat minum oral sehingga tidak memerlukan terapi parenteral.
- A. Klorokuin sudah tidak digunakan karena resistensi tinggi Plasmodium falciparum terhadap klorokuin di Indonesia.
- B. Artesunat intravena hanya diindikasikan pada malaria berat/komplikata, pasien ini tidak menunjukkan tanda malaria berat.
- C. Kina dan doksisiklin bukan lagi lini pertama di Indonesia dan doksisiklin kontraindikasi pada anak di bawah 8 tahun.
- E. Primakuin 14 hari adalah regimen untuk malaria vivax/ovale guna eradikasi hipnozoit, bukan untuk falciparum.
Seorang anak perempuan berusia 2 tahun dibawa ke IGD setelah kejang di rumah. Ibu menceritakan anak demam tinggi sejak pagi, suhu di rumah 39,5°C. Saat kejang, tangan dan kaki kanan anak tampak kaku kemudian menghentak-hentak selama sekitar 8 menit, lalu berhenti sendiri. Dua jam kemudian anak kejang kembali dengan gambaran serupa. Di antara kedua episode anak tampak mengantuk namun dapat dibangunkan. Tidak ada riwayat trauma kepala atau kaku kuduk. Apakah klasifikasi kejang demam yang paling tepat pada anak ini?
- AStatus epileptikus demam
- BEpilepsi dengan demam
- CKejang demam sederhana
- DKejang demam plus
- EKejang demam kompleks
Lihat jawaban
Kejang demam kompleks ditandai oleh salah satu dari tiga kriteria: durasi lebih dari 15 menit, bersifat fokal (satu sisi tubuh), atau berulang lebih dari satu kali dalam 24 jam. Pada kasus ini terdapat dua kriteria terpenuhi, yaitu kejang fokal (unilateral kanan) dan berulang dalam 24 jam, sehingga digolongkan kejang demam kompleks. Kejang demam sederhana bersifat umum, berlangsung kurang dari 15 menit, dan tidak berulang dalam 24 jam. Klasifikasi ini penting karena kejang demam kompleks memiliki risiko rekurensi dan risiko epilepsi di kemudian hari yang lebih tinggi sehingga evaluasi lebih lanjut dipertimbangkan.
- A. Status epileptikus didefinisikan sebagai kejang terus menerus atau berulang tanpa pulih kesadaran lebih dari 30 menit, tidak sesuai durasi kasus ini.
- B. Diagnosis epilepsi memerlukan kejang berulang tanpa demam, bukan diagnosis untuk episode kejang disertai demam akut ini.
- C. Kejang demam sederhana bersifat umum, singkat, dan tidak berulang, tidak sesuai gambaran kasus ini.
- D. Istilah kejang demam plus tidak digunakan dalam klasifikasi standar kejang demam di Indonesia.
Seorang anak perempuan berusia 14 bulan dibawa ke IGD karena kejang demam pertama kali, berlangsung sekitar 3 menit, bersifat umum, dan sudah berhenti sendiri sebelum tiba di rumah sakit. Saat diperiksa, anak sudah sadar penuh, aktif menangis, dan dapat digendong ibunya. Suhu 38,8°C, tidak ditemukan kaku kuduk, tanda Brudzinski maupun Kernig negatif, ubun-ubun tidak cembung. Riwayat imunisasi tidak lengkap dan belum pernah mendapat antibiotik dalam beberapa hari terakhir. Apakah tindakan yang paling tepat selanjutnya?
- APungsi lumbal hanya jika kejang berulang dalam 24 jam ini
- BPungsi lumbal segera karena usia anak kurang dari 18 bulan
- CCT scan kepala sebelum memutuskan pungsi lumbal
- DObservasi klinis tanpa pungsi lumbal rutin
- EPemberian antibiotik empiris tanpa pungsi lumbal
Lihat jawaban
Pada anak dengan kejang demam sederhana yang telah kembali sadar penuh dan tidak menunjukkan tanda rangsang meningeal (kaku kuduk, Brudzinski, Kernig negatif) maupun tanda peningkatan tekanan intrakranial, pungsi lumbal rutin tidak diperlukan. Pedoman IDAI menyatakan bahwa pungsi lumbal dipertimbangkan kuat pada bayi kurang dari 12 bulan karena tanda meningitis sering tidak jelas, dianjurkan pada usia 12-18 bulan, dan tidak rutin pada usia lebih dari 18 bulan bila tidak ada tanda klinis mengarah meningitis. Status imunisasi tidak lengkap dan riwayat pemakaian antibiotik sebelumnya menjadi pertimbangan tambahan, namun pada kasus ini keduanya tidak mendukung kecurigaan meningitis yang tersamar. Observasi klinis ketat dengan evaluasi berkala dipilih karena anak tampak sadar baik dan tidak ada red flag.
- A. Keputusan pungsi lumbal tidak bergantung pada apakah kejang berulang dalam 24 jam, melainkan pada tanda klinis meningitis.
- B. Pada usia 12-18 bulan pungsi lumbal dianjurkan dipertimbangkan, bukan wajib segera dilakukan, terutama tanpa tanda meningeal.
- C. CT scan kepala tidak rutin diperlukan pada kejang demam tanpa tanda peningkatan tekanan intrakranial atau defisit neurologis fokal.
- E. Pemberian antibiotik empiris tanpa indikasi klinis jelas tidak dianjurkan dan dapat menutupi gambaran klinis bila memang ada infeksi.
Infeksi Berat & TB Anak
2 soalSeorang anak perempuan berusia 6 tahun dengan berat badan 18 kg baru terdiagnosis TB paru dan akan memulai pengobatan fase intensif menggunakan kombinasi dosis tetap (KDT) yang mengandung rifampisin, isoniazid, dan pirazinamid. Dosis rifampisin yang direkomendasikan adalah 10-15 mg/kgBB per hari. Apakah prinsip yang paling tepat mendasari pemilihan dosis dan jumlah tablet KDT pada anak ini? Catatan: dosis dihitung berdasarkan berat badan aktual anak saat kontrol, menggunakan tabel dosis OAT anak yang mengelompokkan berat badan dalam rentang tertentu.
- ADosis diberikan sama seperti dosis dewasa karena anak sudah berusia di atas 5 tahun
- BDosis dihitung sekali di awal terapi dan tidak perlu disesuaikan hingga terapi selesai
- CDosis ditentukan berdasarkan luas permukaan tubuh seperti pada kemoterapi
- DDosis dihitung tetap berdasarkan usia anak tanpa mempertimbangkan berat badan
- EDosis dihitung berdasarkan berat badan dan disesuaikan ulang setiap bulan sesuai kenaikan berat badan
Lihat jawaban
Prinsip dasar pemberian OAT anak adalah dosis dihitung berdasarkan berat badan aktual (mg/kgBB), bukan usia, dan harus dievaluasi ulang setiap bulan karena berat badan anak dapat berubah signifikan selama pengobatan 6 bulan. Jika terjadi kenaikan berat badan yang menyebabkan anak berpindah kelompok rentang dosis pada tabel KDT, jumlah tablet yang diberikan harus disesuaikan agar dosis tetap optimal dan tidak subterapeutik. Penyesuaian rutin ini penting untuk mencegah kegagalan terapi akibat underdosing sekaligus menghindari toksisitas akibat overdosing.
- A. Dosis dewasa tidak digunakan pada anak karena perbedaan farmakokinetik dan risiko toksisitas pada berat badan yang jauh lebih kecil.
- B. Dosis harus dievaluasi ulang secara berkala karena berat badan anak dapat berubah bermakna selama 6 bulan pengobatan.
- C. Perhitungan berdasarkan luas permukaan tubuh tidak digunakan dalam pedoman dosis OAT anak di Indonesia, yang menggunakan mg/kgBB.
- D. Dosis OAT anak dihitung berdasarkan berat badan, bukan usia, karena variasi berat badan antar anak usia sama bisa besar.
Seorang anak laki-laki berusia 18 bulan dibawa ke IGD dengan demam tinggi sejak 2 hari, kejang satu kali di rumah, dan tampak sangat lemas. Pada pemeriksaan, anak tampak letargis, suhu 39,8°C, ubun-ubun besar teraba cembung, kaku kuduk positif, dan tanda Kernig positif. Hasil pungsi lumbal menunjukkan cairan serebrospinal keruh, jumlah leukosit 2500/mm³ (dominan neutrofil), protein 180 mg/dL, dan glukosa CSS 20 mg/dL dengan glukosa darah sewaktu 90 mg/dL. Apakah terapi antibiotik empiris intravena yang paling tepat diberikan segera?
- AKotrimoksazol
- BAmpisilin tunggal
- CMetronidazol
- DAzitromisin
- ESeftriakson
Lihat jawaban
Gambaran cairan serebrospinal keruh dengan pleositosis neutrofilik, protein tinggi, dan rasio glukosa CSS/darah yang sangat rendah (20/90, kurang dari 0,4) sangat mendukung diagnosis meningitis bakterialis akut. Pedoman Kemenkes dan IDAI merekomendasikan sefalosporin generasi ketiga seperti seftriakson sebagai antibiotik empiris lini pertama pada anak di luar periode neonatal karena spektrumnya mencakup patogen utama meningitis anak (Streptococcus pneumoniae, Neisseria meningitidis, Haemophilus influenzae) dan penetrasi sawar darah otak yang baik. Terapi harus dimulai secepatnya tanpa menunggu hasil kultur definitif untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas.
- A. Kotrimoksazol bukan antibiotik lini pertama untuk meningitis bakterialis akut dan penetrasi sawar darah otaknya kurang optimal untuk kondisi ini.
- B. Ampisilin tunggal tidak mencakup patogen penghasil beta-laktamase dan tidak menjadi pilihan monoterapi standar pada kelompok usia ini.
- C. Metronidazol ditujukan untuk kuman anaerob, bukan patogen utama penyebab meningitis bakterialis pada anak.
- D. Azitromisin memiliki penetrasi sawar darah otak yang terbatas dan bukan pilihan standar untuk meningitis bakterialis akut.
Kardiologi Anak
3 soalSeorang anak laki-laki usia 2 tahun dibawa ke IGD RS karena tiba-tiba tampak semakin biru dan sesak setelah menangis lama saat imunisasi. Riwayat sejak bayi sering tampak kebiruan terutama saat menangis atau menyusu, dan sering berjongkok saat lelah bermain. Pada pemeriksaan didapatkan kesadaran somnolen, frekuensi nadi 160 kali/menit, frekuensi napas 48 kali/menit, saturasi oksigen 68% dengan udara ruangan. Auskultasi jantung menunjukkan bising ejeksi sistolik derajat III/VI di sela iga II-III parasternal kiri yang justru melemah dibanding biasanya. Apakah tindakan awal yang paling tepat dilakukan pada pasien ini?
- AMemposisikan anak knee-chest dan memberikan oksigen aliran tinggi
- BMemberikan epinefrin intravena untuk mengatasi syok
- CMemberikan digoksin intravena untuk meningkatkan kontraktilitas jantung
- DMelakukan kardioversi segera karena curiga aritmia maligna
- EMemberikan furosemid intravena untuk mengurangi kongesti paru
Lihat jawaban
Pasien mengalami serangan sianotik (hypercyanotic spell/tet spell) pada Tetralogi Fallot, dipicu oleh menangis lama yang meningkatkan resistensi vaskular pulmonal dan memperberat shunt kanan-ke-kiri melalui VSD akibat obstruksi infundibulum pulmonal yang dinamis. Tata laksana awal adalah memposisikan anak knee-chest (atau jongkok pada anak yang lebih besar) untuk meningkatkan resistensi vaskular sistemik sehingga mengurangi shunt kanan-ke-kiri, disertai pemberian oksigen aliran tinggi. Melemahnya bising ejeksi menandakan aliran ke pulmonal semakin berkurang akibat spasme infundibulum yang memberat, bukan perbaikan. Langkah selanjutnya bila tidak respons adalah morfin, propranolol, atau fenilefrin, bukan diuretik, digoksin, atau kardioversi.
- B. Epinefrin meningkatkan kontraktilitas dan dapat memperberat obstruksi infundibulum sehingga memperburuk shunt kanan-ke-kiri.
- C. Digoksin tidak diindikasikan pada Tetralogi Fallot karena dapat memperberat obstruksi infundibulum akibat peningkatan kontraktilitas.
- D. Tidak ada bukti aritmia pada kasus ini, gambaran klinis khas serangan sianotik akibat penyakit jantung bawaan sianotik.
- E. Furosemid tidak mengatasi penyebab utama yaitu spasme infundibulum pulmonal dan dapat memperberat hipovolemia relatif.
Seorang bayi perempuan usia 4 bulan dibawa ke puskesmas untuk kontrol tumbuh kembang. Ibu mengatakan anak sering terlihat napas cepat saat menyusu dan berat badan sulit naik. Pemeriksaan fisik didapatkan frekuensi napas 52 kali/menit, frekuensi nadi 130 kali/menit, berat badan di bawah persentil 5 menurut kurva WHO. Auskultasi jantung menunjukkan bising pansistolik derajat III/VI, kasar, terdengar paling jelas di sela iga III-IV parasternal kiri tanpa penjalaran ke leher, disertai thrill. Bunyi jantung kedua terdengar normal. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada bayi ini?
- AVentricular septal defect
- BStenosis pulmonal
- CAtrial septal defect
- DPatent ductus arteriosus
- EKoarktasio aorta
Lihat jawaban
Ventricular septal defect (VSD) ditandai dengan bising pansistolik kasar derajat III-IV/VI di sela iga III-IV parasternal kiri (area tricuspid), sering disertai thrill, akibat aliran turbulen darah dari ventrikel kiri ke ventrikel kanan melalui defek septum. Gagal tumbuh dan takipnea saat menyusu mencerminkan gagal jantung kongestif akibat shunt kiri-ke-kanan yang menyebabkan kelebihan volume sirkulasi pulmonal. Bunyi jantung kedua yang normal membedakannya dari ASD yang khas dengan split S2 lebar yang tetap (fixed wide split). Diagnosis pasti ditegakkan dengan ekokardiografi.
- B. Stenosis pulmonal memberikan bising ejeksi sistolik di area pulmonal dengan kemungkinan ejection click, bukan bising pansistolik.
- C. ASD khas dengan bising ejeksi sistolik di area pulmonal disertai fixed wide split S2, bukan bising pansistolik kasar dengan thrill.
- D. PDA khas dengan bising kontinu (machinery murmur) di sela iga II parasternal kiri, bukan bising pansistolik.
- E. Koarktasio aorta khas dengan nadi femoralis lemah atau tertinggal dan perbedaan tekanan darah lengan-tungkai, bukan bising pansistolik dengan thrill.
Seorang anak laki-laki usia 9 tahun dibawa ke RS dengan keluhan demam dan nyeri berpindah pada beberapa sendi besar sejak 5 hari lalu, saat ini sendi lutut kanan dan pergelangan kaki kiri tampak merah, bengkak, dan nyeri hebat saat digerakkan. Dua minggu sebelumnya anak mengalami nyeri tenggorok dengan demam tinggi yang tidak diobati. Pemeriksaan fisik didapatkan suhu 38,5°C, frekuensi nadi 110 kali/menit, terdengar bising pansistolik baru di apeks yang menjalar ke aksila. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan LED 45 mm/jam, CRP 36 mg/L, dan titer ASTO meningkat. Apakah diagnosis yang paling tepat pada pasien ini?
- APenyakit Kawasaki
- BArtritis reaktif pasca-infeksi
- CDemam rematik akut
- DArtritis idiopatik juvenil
- EArtritis septik
Lihat jawaban
Diagnosis demam rematik akut ditegakkan menggunakan kriteria Jones yang direvisi, memerlukan bukti infeksi Streptococcus grup A sebelumnya ditambah dua kriteria mayor atau satu mayor dan dua minor. Pasien ini memenuhi dua kriteria mayor yaitu poliartritis migratif (sendi besar berpindah) dan karditis (bising pansistolik baru di apeks), disertai bukti infeksi streptokokus berupa riwayat faringitis dan titer ASTO yang meningkat. Demam serta peningkatan LED dan CRP merupakan kriteria minor yang mendukung. Patogenesis melibatkan reaksi autoimun silang (molecular mimicry) antara antigen streptokokus dan jaringan jantung, sendi, serta sistem saraf.
- A. Penyakit Kawasaki ditandai demam lebih dari 5 hari dengan konjungtivitis, ruam, limfadenopati servikal, dan perubahan mukosa, bukan poliartritis migratif dengan bukti infeksi streptokokus.
- B. Artritis reaktif pasca-infeksi umumnya tidak disertai karditis dan tidak memenuhi kriteria Jones untuk demam rematik.
- D. Artritis idiopatik juvenil bersifat kronis (lebih dari 6 minggu) dan tidak disertai bukti infeksi streptokokus atau karditis akut.
- E. Artritis septik biasanya monoartikular dengan tanda infeksi lokal berat dan tidak menunjukkan pola migratif pada sendi besar.
Hematologi & Onkologi Anak
3 soalSeorang anak perempuan usia 18 bulan dibawa ke puskesmas karena tampak pucat dan lemas sejak 2 bulan terakhir. Anak mendapat ASI eksklusif hingga usia 6 bulan kemudian diberi susu formula dan makanan pendamping namun jarang mengonsumsi daging atau sayuran hijau. Pemeriksaan fisik didapatkan konjungtiva pucat, tidak ada organomegali. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan hemoglobin 8,5 g/dL, MCV 62 fL, MCHC 24 g/dL, dan apusan darah tepi menunjukkan eritrosit mikrositik hipokromik dengan anisositosis. Kadar feritin serum 8 ng/mL (rendah). Apakah tata laksana suplementasi besi yang paling tepat untuk pasien ini?
- ABesi elemental oral dosis 3-6 mg/kgBB/hari selama 2 minggu saja
- BTransfusi sel darah merah segera tanpa pemberian besi oral
- CAsam folat oral dosis tinggi sebagai terapi utama
- DBesi intravena dosis tunggal tanpa pemberian besi oral
- EBesi elemental oral dosis 3-6 mg/kgBB/hari selama 3 bulan
Lihat jawaban
Diagnosis anemia defisiensi besi ditegakkan dari gambaran mikrositik hipokromik pada apusan darah tepi, MCV dan MCHC rendah, serta feritin serum rendah yang merupakan indikator cadangan besi tubuh yang paling sensitif. Tata laksana lini pertama adalah suplementasi besi elemental oral dosis 3-6 mg/kgBB/hari, diberikan hingga kadar hemoglobin normal tercapai (biasanya 4-6 minggu) dan dilanjutkan selama total sekitar 3 bulan untuk mengisi kembali cadangan besi tubuh. Edukasi pola makan tinggi besi (daging, hati, sayuran hijau) serta penghindaran minum susu berlebihan juga penting karena susu dapat menghambat absorpsi besi.
- A. Durasi 2 minggu tidak cukup untuk mengisi kembali cadangan besi tubuh walaupun hemoglobin sudah mulai naik.
- B. Transfusi tidak diperlukan karena hemoglobin 8,5 g/dL pada anak yang hemodinamik stabil cukup ditangani dengan besi oral.
- C. Asam folat tidak mengatasi defisiensi besi dan bukan terapi utama pada kasus dengan gambaran mikrositik hipokromik serta feritin rendah.
- D. Besi intravena bukan pilihan lini pertama pada anemia defisiensi besi ringan-sedang tanpa intoleransi atau malabsorpsi berat.
Seorang anak laki-laki usia 2 tahun dibawa ke RS karena pucat progresif sejak usia 6 bulan dan perut tampak membesar. Riwayat transfusi darah berulang setiap 3-4 minggu sejak usia 1 tahun. Pemeriksaan fisik didapatkan facies Cooley (dahi menonjol, hidung pelana, maksila hipertrofi), konjungtiva pucat, hepatosplenomegali dengan lien teraba Schuffner IV. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan hemoglobin 6 g/dL, MCV 58 fL, apusan darah tepi menunjukkan sel target, anisopoikilositosis berat, dan sel eritroblast. Apakah pemeriksaan penunjang yang paling tepat untuk memastikan diagnosis pasien ini?
- AAspirasi sumsum tulang
- BElektroforesis hemoglobin
- CKadar feritin serum
- DTes Coombs direk
- EKadar besi serum dan TIBC
Lihat jawaban
Elektroforesis hemoglobin merupakan pemeriksaan baku untuk memastikan diagnosis talasemia mayor, yaitu dengan menunjukkan peningkatan HbF dan HbA2 serta tidak adanya atau sangat rendahnya HbA akibat mutasi gen beta-globin yang mengganggu sintesis rantai beta hemoglobin. Gambaran klinis berupa anemia berat sejak usia dini, hepatosplenomegali, facies Cooley akibat ekspansi sumsum tulang kompensatorik, serta sel target dan eritroblast pada apusan darah tepi sangat mengarah pada talasemia beta mayor. Feritin dan profil besi berguna memantau kelebihan besi akibat transfusi berulang, bukan untuk diagnosis awal talasemia.
- A. Aspirasi sumsum tulang menunjukkan hiperplasia eritroid namun bukan pemeriksaan konfirmasi definitif untuk talasemia.
- C. Feritin serum mencerminkan beban besi tubuh akibat transfusi berulang, bukan pemeriksaan diagnostik spesifik untuk talasemia.
- D. Tes Coombs direk digunakan untuk mendeteksi anemia hemolitik autoimun, bukan talasemia yang bersifat herediter.
- E. Kadar besi serum dan TIBC digunakan untuk evaluasi defisiensi atau kelebihan besi, tidak memastikan diagnosis talasemia.
Seorang anak perempuan usia 4 tahun dibawa ke IGD karena muncul bintik-bintik merah di kulit dan mimisan sejak 2 hari lalu. Riwayat demam dan batuk pilek 2 minggu sebelumnya yang sudah sembuh. Anak tampak aktif bermain, tidak demam, tidak ada pembesaran hati, limpa, atau kelenjar getah bening. Pemeriksaan fisik menunjukkan ptekie dan ekimosis multipel di ekstremitas serta badan. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan hemoglobin 12,5 g/dL, leukosit 7.200/µL dengan hitung jenis normal, dan trombosit 18.000/µL. Apusan darah tepi menunjukkan trombosit besar (giant platelets) tanpa sel blast. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?
- AKoagulasi intravaskular diseminata
- BPurpura trombositopenik imun
- CAnemia aplastik
- DSindrom hemolitik uremik
- ELeukemia limfoblastik akut
Lihat jawaban
Purpura trombositopenik imun (ITP) pada anak khas muncul 1-4 minggu setelah infeksi virus, dengan trombositopenia terisolasi (trombosit kurang dari 100.000/µL) tanpa anemia, leukopenia, organomegali, atau limfadenopati, serta anak tampak sehat secara klinis. Mekanisme yang mendasari adalah pembentukan autoantibodi terhadap trombosit yang menyebabkan destruksi trombosit berlebihan di limpa. Giant platelets pada apusan darah tepi menunjukkan peningkatan produksi trombosit kompensatorik oleh sumsum tulang yang masih sehat. Pada kasus tanpa perdarahan berat, tata laksana dapat berupa observasi karena sebagian besar ITP anak bersifat self-limited dalam 6 bulan.
- A. Koagulasi intravaskular diseminata disertai gangguan faktor koagulasi (PT/aPTT memanjang, fibrinogen rendah) dan biasanya pada anak yang sakit berat.
- C. Anemia aplastik menunjukkan pansitopenia (anemia, leukopenia, dan trombositopenia bersamaan), bukan trombositopenia terisolasi.
- D. Sindrom hemolitik uremik disertai anemia hemolitik mikroangiopati dan gangguan fungsi ginjal, tidak sesuai dengan gambaran kasus ini.
- E. Leukemia limfoblastik akut biasanya disertai anemia, leukositosis atau leukopenia dengan sel blast, serta organomegali atau limfadenopati.
Nefrologi & Urologi Anak
3 soalSeorang anak laki-laki usia 4 tahun dibawa ke puskesmas karena kedua kelopak mata bengkak sejak 5 hari lalu yang semakin meluas ke seluruh tubuh, disertai perut membesar dan buang air kecil yang tampak berbusa. Tidak ada riwayat demam atau nyeri tenggorok sebelumnya. Pemeriksaan fisik didapatkan edema periorbital, edema anasarka, dan asites. Pemeriksaan urinalisis menunjukkan proteinuria +4, tanpa hematuria. Pemeriksaan laboratorium darah menunjukkan albumin serum 1,8 g/dL dan kolesterol total 320 mg/dL. Apakah diagnosis yang paling tepat pada pasien ini?
- ASindrom nefrotik
- BSindrom nefritik akut
- CSindrom hemolitik uremik
- DGagal ginjal akut prerenal
- EGlomerulonefritis akut pasca-streptokokus
Lihat jawaban
Diagnosis sindrom nefrotik ditegakkan berdasarkan trias klinis yaitu proteinuria masif (lebih dari 40 mg/m2/jam atau dipstick +3 hingga +4), hipoalbuminemia (kurang dari 2,5 g/dL), dan edema, yang sering disertai hiperkolesterolemia sebagai kriteria tambahan. Mekanisme dasarnya adalah peningkatan permeabilitas membran basalis glomerulus terhadap protein, yang pada anak paling sering disebabkan oleh penyakit perubahan minimal (minimal change disease). Edema pada sindrom nefrotik bersifat progresif dan generalisata akibat hipoalbuminemia yang menurunkan tekanan onkotik plasma, berbeda dengan sindrom nefritik yang ditandai hematuria dan hipertensi dengan edema lebih ringan.
- B. Sindrom nefritik akut ditandai hematuria, hipertensi, dan edema ringan, berbeda dari trias proteinuria masif, hipoalbuminemia, dan edema pada kasus ini.
- C. Sindrom hemolitik uremik disertai anemia hemolitik, trombositopenia, dan gagal ginjal akut, bukan trias proteinuria, hipoalbuminemia, dan edema.
- D. Gagal ginjal akut prerenal ditandai penurunan fungsi ginjal akibat hipoperfusi, tidak sesuai dengan gambaran proteinuria masif dan hipoalbuminemia pada kasus ini.
- E. Glomerulonefritis akut pasca-streptokokus khas dengan hematuria gross, hipertensi, dan riwayat infeksi streptokokus sebelumnya, bukan proteinuria masif dengan hipoalbuminemia berat.
Seorang anak laki-laki, usia 7 tahun, dibawa ke puskesmas dengan keluhan bengkak pada kedua kelopak mata dan urine berwarna seperti teh sejak 2 hari yang lalu. Riwayat nyeri tenggorokan dan demam 3 minggu sebelumnya, tidak diobati. Pemeriksaan fisik: tekanan darah 140/95 mmHg, edema periorbital, tidak ada edema tungkai. Pemeriksaan urinalisis menunjukkan eritrosit 20-30/LPB, silinder eritrosit positif, dan proteinuria +2. Kadar komplemen C3 serum rendah. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?
- ANefropati IgA
- BPurpura Henoch-Schonlein dengan nefritis
- CGlomerulonefritis akut pasca-streptokokus
- DPielonefritis akut
- ESindrom nefrotik idiopatik
Lihat jawaban
Glomerulonefritis akut pasca-streptokokus (GNAPS) khas terjadi 1-3 minggu setelah infeksi faring atau kulit oleh Streptococcus beta-hemolitikus grup A, bermanifestasi sebagai sindrom nefritik akut: hematuria (urine seperti teh), edema periorbital, hipertensi, dan penurunan komplemen C3 yang transien akibat aktivasi jalur komplemen alternatif. Silinder eritrosit pada urinalisis menegaskan asal glomerulus dari hematuria. Diagnosis klinis ditegakkan dari kombinasi gejala khas, riwayat infeksi streptokokus, dan C3 rendah tanpa perlu biopsi ginjal pada kasus tipikal. Tata laksana bersifat suportif karena umumnya self-limiting pada anak.
- A. Nefropati IgA biasanya tidak didahului jarak laten 1-3 minggu dan komplemen C3 umumnya normal.
- B. Purpura Henoch-Schonlein disertai ruam purpura khas pada ekstremitas bawah dan nyeri perut, tidak ditemukan pada kasus ini.
- D. Pielonefritis akut bermanifestasi dengan demam tinggi, nyeri pinggang, dan leukosituria, bukan silinder eritrosit dan C3 rendah.
- E. Sindrom nefrotik menunjukkan edema anasarka, proteinuria masif, dan hipoalbuminemia, bukan hematuria gross dengan silinder eritrosit sebagai gejala utama.
Seorang bayi perempuan, usia 8 bulan, dibawa ke IGD RS dengan demam tinggi 39,2°C selama 2 hari tanpa gejala saluran kemih yang jelas, disertai penurunan nafsu makan. Pemeriksaan fisik dalam batas normal selain suhu tubuh meningkat. Urinalisis dari kateterisasi menunjukkan leukosit 50-60/LPB dan nitrit positif. Kultur urine tumbuh Escherichia coli lebih dari 10^5 CFU/mL. Pasien ini merupakan episode infeksi saluran kemih pertama. Apakah pemeriksaan pencitraan lanjutan yang paling tepat direncanakan setelah fase akut teratasi?
- ACT scan abdomen dengan kontras
- BMRI abdomen tanpa kontras
- CPielografi intravena
- DSistoskopi
- EUltrasonografi ginjal dan saluran kemih
Lihat jawaban
Pada bayi dengan ISK febris pertama kali, ultrasonografi ginjal dan saluran kemih (USG KUB) merupakan pemeriksaan pencitraan lini pertama yang direkomendasikan karena non-invasif, tidak menggunakan radiasi, dan dapat mendeteksi kelainan anatomis seperti hidronefrosis, obstruksi, atau anomali kongenital saluran kemih. Pemeriksaan lanjutan seperti voiding cystourethrography (VCUG) atau skintigrafi DMSA baru dipertimbangkan bila ditemukan kelainan pada USG, ISK berulang, atau terdapat kecurigaan refluks vesikoureter derajat tinggi. Pendekatan ini sesuai pedoman IDAI untuk evaluasi ISK pertama pada bayi dan anak kecil.
- A. CT scan abdomen menggunakan radiasi ion tinggi dan tidak diperlukan sebagai pencitraan awal pada ISK pertama anak.
- B. MRI abdomen tidak praktis, mahal, dan tidak menjadi pilihan lini pertama untuk evaluasi ISK pada bayi.
- C. Pielografi intravena sudah jarang digunakan karena menggunakan kontras dan radiasi, digantikan oleh USG yang lebih aman.
- D. Sistoskopi bersifat invasif dan tidak diindikasikan untuk evaluasi awal ISK pada anak.
Endokrin & Metabolik Anak
2 soalSeorang anak perempuan, usia 9 tahun, dibawa ke IGD dengan keluhan lemas, mual, dan muntah sejak 1 hari, didahului sering haus dan sering kencing sejak 3 minggu. Pemeriksaan fisik: kesadaran somnolen, frekuensi napas 32 kali/menit dalam dan cepat, nadi 130 kali/menit, tekanan darah 90/60 mmHg, turgor kulit menurun, napas berbau aseton. Hasil laboratorium: glukosa darah 480 mg/dL, pH darah arteri 7,12, bikarbonat 8 mEq/L, keton urine +3. Apakah tata laksana awal yang paling tepat dilakukan pada pasien ini?
- AInsulin subkutan kerja cepat dosis tunggal
- BBolus insulin regular intravena dosis tinggi
- CPemberian natrium bikarbonat intravena segera
- DPemberian cairan rehidrasi NaCl 0,9% secara bertahap
- EPemberian glukosa oral dan observasi
Lihat jawaban
Tata laksana awal ketoasidosis diabetik (KAD) pada anak dimulai dengan rehidrasi cairan isotonik (NaCl 0,9%) secara bertahap selama 24-48 jam untuk mengoreksi defisit cairan dan memperbaiki perfusi, sebelum atau bersamaan dengan insulin rumatan drip yang dimulai 1 jam setelah rehidrasi berjalan. Insulin bolus intravena dosis tinggi harus dihindari karena meningkatkan risiko edema serebri, komplikasi paling berbahaya pada KAD anak. Bikarbonat umumnya tidak diberikan rutin karena dapat memperburuk asidosis intraselular dan risiko edema serebri, kecuali asidosis sangat berat dengan gangguan hemodinamik mengancam jiwa. Koreksi yang terlalu cepat pada osmolaritas serum berisiko menyebabkan edema serebri yang fatal.
- A. Insulin subkutan tidak dapat diandalkan pada kondisi dehidrasi berat karena absorpsi tidak terprediksi.
- B. Bolus insulin dosis tinggi meningkatkan risiko penurunan osmolaritas yang terlalu cepat dan edema serebri pada anak.
- C. Bikarbonat rutin tidak direkomendasikan karena berisiko memperburuk asidosis intraselular dan edema serebri.
- E. Pasien dalam kondisi somnolen dan dehidrasi berat sehingga pemberian oral tidak aman dan tidak mengatasi KAD.
Seorang bayi laki-laki, usia 10 hari, dibawa ke puskesmas untuk kontrol rutin. Ibu mengeluhkan bayinya tampak malas menyusu, jarang menangis, dan tidur terus-menerus. Pemeriksaan fisik: suhu 36,2°C, wajah tampak sembab dengan lidah besar menjulur, ikterus ringan, hernia umbilikalis, dan hipotonia. Bayi lahir cukup bulan dengan berat lahir normal. Apakah langkah paling tepat yang seharusnya telah dilakukan pada bayi ini sejak lahir untuk mencegah komplikasi jangka panjang?
- APemeriksaan kadar bilirubin serum rutin pada hari pertama kehidupan
- BSkrining hipotiroid kongenital dengan pemeriksaan TSH dari darah tumit pada usia 48-72 jam
- CPemeriksaan pendengaran dengan otoacoustic emission pada minggu pertama
- DPemeriksaan gula darah sewaktu pada semua bayi baru lahir
- EPemeriksaan kadar hemoglobin rutin pada usia 1 bulan
Lihat jawaban
Hipotiroid kongenital sering asimtomatik pada periode neonatal dini sehingga deteksi dini bergantung pada skrining bayi baru lahir (SHK) dengan pengambilan sampel darah tumit untuk pemeriksaan TSH, idealnya pada usia 48-72 jam setelah lahir. Gejala klinis seperti letargi, malas menyusu, makroglosia, hernia umbilikalis, hipotonia, dan ikterus prolonged baru muncul setelah beberapa hari hingga minggu, saat kerusakan neurologis akibat defisiensi hormon tiroid mungkin sudah terjadi. Keterlambatan terapi levotiroksin dapat menyebabkan retardasi mental ireversibel, sehingga skrining neonatal menjadi program nasional untuk deteksi dan terapi sejak dini. Program ini merupakan bagian dari Skrining Hipotiroid Kongenital yang digalakkan Kemenkes RI.
- A. Pemeriksaan bilirubin tidak mendeteksi hipotiroid kongenital meskipun ikterus dapat menjadi salah satu gejala penyerta.
- C. Skrining pendengaran penting namun tidak mencegah komplikasi neurologis akibat defisiensi hormon tiroid.
- D. Pemeriksaan gula darah ditujukan untuk deteksi hipoglikemia neonatal, bukan untuk hipotiroid kongenital.
- E. Pemeriksaan hemoglobin rutin ditujukan untuk deteksi anemia, tidak relevan dengan pencegahan hipotiroid kongenital.
Neurologi & Genetik Anak
3 soalSeorang bayi perempuan, usia 2 hari, lahir cukup bulan dengan berat lahir 2600 gram, dikonsulkan oleh bidan karena tampak gambaran wajah yang tidak biasa. Pemeriksaan fisik menunjukkan fisura palpebra miring ke atas, lipatan epikantus bilateral, jembatan hidung datar, lidah relatif besar yang sering menjulur, telinga kecil dengan letak rendah, single palmar crease pada kedua tangan, dan hipotonia generalisata. Terdengar bising jantung pansistolik grade III/VI di seluruh precordium. Apakah pemeriksaan penunjang awal yang paling penting dilakukan untuk mendeteksi komorbiditas yang mengancam jiwa pada bayi ini?
- APemeriksaan fungsi tiroid
- BAnalisis kromosom (kariotipe)
- CUSG abdomen
- DEkokardiografi
- EPemeriksaan darah tepi lengkap
Lihat jawaban
Bayi dengan gambaran dismorfik khas sindrom Down (fisura palpebra miring ke atas, epikantus, lidah besar, single palmar crease, hipotonia) memiliki risiko tinggi kelainan jantung kongenital, terutama defek septum atrioventrikular, yang terjadi pada sekitar 40-50% kasus dan dapat mengancam jiwa bila tidak terdeteksi dini. Adanya bising jantung pansistolik pada bayi ini mengindikasikan perlunya ekokardiografi segera untuk menegakkan diagnosis anatomis kelainan jantung dan menentukan tata laksana, termasuk kemungkinan koreksi bedah. Meskipun kariotipe diperlukan untuk konfirmasi diagnosis genetik, pemeriksaan ini tidak bersifat darurat dan tidak mendeteksi komorbiditas yang mengancam jiwa secara langsung. Skrining lain seperti fungsi tiroid dan kelainan gastrointestinal tetap penting namun bukan prioritas segera dibandingkan evaluasi jantung pada bayi dengan bising jantung signifikan.
- A. Hipotiroid kongenital juga perlu diskrining pada sindrom Down namun bukan ancaman jiwa akut dibandingkan kelainan jantung dengan bising signifikan.
- B. Kariotipe penting untuk konfirmasi diagnosis genetik namun tidak mendeteksi komorbiditas jantung yang mengancam jiwa secara langsung dan hasilnya tidak segera tersedia.
- C. USG abdomen berguna mendeteksi anomali gastrointestinal seperti atresia duodenum namun bukan prioritas pada bayi dengan bising jantung.
- E. Darah tepi lengkap dapat mendeteksi kelainan hematologi seperti leukemia transient, namun bukan prioritas segera dibandingkan evaluasi kelainan jantung.
Seorang anak laki-laki, usia 18 bulan, dibawa ibunya ke poli anak karena belum bisa berjalan dan tampak kaku pada kedua tungkai. Riwayat lahir prematur usia gestasi 30 minggu dengan asfiksia berat saat lahir, dirawat di NICU selama 3 minggu. Pemeriksaan neurologis menunjukkan peningkatan tonus otot pada kedua tungkai dengan pola scissoring saat digantung vertikal, refleks tendon dalam meningkat pada kedua tungkai, klonus pergelangan kaki positif bilateral, dan refleks Babinski positif bilateral. Perkembangan kognitif dan bahasa dalam batas normal untuk usia. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada anak ini?
- ACerebral palsy tipe diplegia spastik
- BGlobal developmental delay
- CDistrofi otot Duchenne
- DMielopati akibat trauma lahir
- EAtrofi otot spinal tipe 2
Lihat jawaban
Cerebral palsy tipe diplegia spastik merupakan diagnosis klinis yang ditegakkan berdasarkan kelainan tonus dan gerak non-progresif akibat kerusakan otak pada periode perinatal, khas terjadi pada bayi prematur dengan riwayat asfiksia atau perdarahan periventrikular. Pola klasik diplegia spastik menunjukkan spastisitas predominan pada kedua tungkai dengan pola scissoring, hiperrefleksia, klonus, dan Babinski positif, sementara fungsi kognitif sering relatif terjaga. Diagnosis bersifat klinis tanpa memerlukan pencitraan untuk konfirmasi, meskipun MRI kepala dapat membantu mengidentifikasi etiologi seperti leukomalasia periventrikular. Tata laksana awal meliputi rujukan ke rehabilitasi medik untuk fisioterapi dini guna mencegah kontraktur dan mengoptimalkan fungsi motorik.
- B. Global developmental delay mengacu pada keterlambatan di berbagai domain perkembangan, sedangkan pada kasus ini kognitif dan bahasa normal dengan kelainan motorik spesifik.
- C. Distrofi otot Duchenne bermanifestasi sebagai kelemahan otot proksimal progresif dengan pseudohipertrofi betis pada anak laki-laki usia lebih besar, bukan spastisitas sejak bayi.
- D. Mielopati trauma lahir biasanya terkait trauma persalinan sungsang dengan defisit neurologis setinggi level lesi spinal, tidak sesuai dengan riwayat dan pola klinis pasien.
- E. Atrofi otot spinal tipe 2 menunjukkan hipotonia dan kelemahan progresif akibat degenerasi motor neuron bawah, bukan spastisitas dengan refleks meningkat.
Seorang anak laki-laki, usia 2 tahun, dibawa ibunya ke puskesmas karena belum bisa berbicara dan jarang menoleh saat dipanggil namanya. Ibu juga mengamati anak jarang melakukan kontak mata, tidak menunjuk benda yang diinginkan, lebih senang bermain sendiri dengan memutar-mutar roda mobil mainan berulang-ulang, dan menjadi sangat rewel bila rutinitas hariannya diubah. Pemeriksaan fisik dan neurologis dalam batas normal, tidak ada dismorfik. Apakah instrumen skrining perkembangan yang paling tepat digunakan pada usia ini untuk mendukung kecurigaan diagnosis tersebut?
- AModified Checklist for Autism in Toddlers (M-CHAT)
- BCapute Scale
- CDenver Developmental Screening Test (DDST)
- DVineland Adaptive Behavior Scale
- EBayley Scales of Infant Development
Lihat jawaban
M-CHAT merupakan instrumen skrining yang dirancang khusus untuk mendeteksi risiko autism spectrum disorder (ASD) pada anak usia 16-30 bulan, menilai perilaku kunci seperti kontak mata, joint attention, respons terhadap nama, dan perilaku repetitif yang sesuai dengan gejala pada kasus ini. Gejala khas ASD meliputi gangguan komunikasi sosial (tidak menoleh saat dipanggil, kurang kontak mata, tidak menunjuk) disertai perilaku terbatas dan berulang (memutar roda berulang, kaku terhadap perubahan rutinitas). Skrining dini dengan M-CHAT penting karena intervensi dini pada usia prasekolah terbukti memperbaiki outcome perkembangan jangka panjang anak dengan ASD. Instrumen lain seperti DDST bersifat skrining perkembangan umum dan tidak spesifik untuk ASD.
- B. Capute Scale digunakan untuk menilai perkembangan kognitif dan motorik bayi, bukan instrumen skrining spesifik autisme.
- C. DDST adalah skrining perkembangan umum untuk motorik, bahasa, dan sosial, tidak spesifik untuk mendeteksi gejala autisme.
- D. Vineland Adaptive Behavior Scale menilai perilaku adaptif secara umum dan biasanya digunakan setelah diagnosis ditegakkan, bukan sebagai skrining awal.
- E. Bayley Scales menilai perkembangan kognitif, motorik, dan bahasa secara komprehensif namun bukan instrumen skrining spesifik untuk autisme.
Pertanyaan umum
Apakah ini soal asli UKMPPD?
Bukan. Ini soal latihan orisinal yang ditulis bergaya UKMPPD sesuai blueprint ujian. Setiap soal dikerjakan ulang oleh model kedua yang independen tanpa melihat kunci, dan soal dengan kunci yang diperdebatkan dihapus.
Bagaimana cara memakai soal ilmu kesehatan anak ini?
Kerjakan kuis dulu tanpa melihat jawaban, lalu baca pembahasan setiap soal yang salah atau ditebak. Poin penting di bawah setiap jawaban adalah hal yang perlu diingat.
Apakah soalnya gratis?
Ya. Semua soal, jawaban, dan pembahasan di halaman ini gratis tanpa perlu mendaftar.
Topik UKMPPD lainnya
UKMPPD diselenggarakan oleh Panitia Nasional UKMPPD. WhiteCoat Pro tidak berafiliasi dengan maupun didukung oleh lembaga tersebut. Semua soal adalah soal latihan orisinal: ditulis oleh tim editorial WhiteCoat Pro dengan bantuan AI dan diperiksa oleh model AI kedua yang independen, yang mengerjakan setiap soal tanpa melihat kunci; soal dengan kunci yang diperdebatkan dihapus. Ini bukan soal ujian asli. Untuk belajar, bukan saran medis.