Masuk
UKMPPD · Indonesia

Soal UKMPPD kardiovaskular

50 soal orisinal bergaya UKMPPD tentang kardiovaskular. Setiap soal dilengkapi jawaban benar, pembahasan, alasan pilihan lain salah, dan poin penting. Kerjakan di kuis atau baca di bawah, dikelompokkan per bagian.

Soal50 dengan jawaban
Bagian11
Pilihan per soal5
Waktu≈ 75 menit
UKMPPD Kardiovaskular: kuis latihanPilih jawaban untuk langsung melihat jawaban benar dan pembahasannya. Skor terbaik Anda tersimpan di browser ini.

Sindrom Koroner Akut

6 soal
1

Seorang laki-laki berusia 58 tahun datang ke IGD RS dengan nyeri dada seperti ditindih benda berat sejak 1 jam yang lalu, menjalar ke lengan kiri, disertai keringat dingin dan mual. Tekanan darah 100/70 mmHg, frekuensi nadi 58 kali/menit, frekuensi napas 20 kali/menit, saturasi oksigen 97%. Pemeriksaan EKG menunjukkan elevasi segmen ST pada lead II, III, dan aVF, disertai depresi segmen ST pada lead I dan aVL. Apakah diagnosis yang paling tepat pada pasien ini?

  1. AInfark miokard akut dengan elevasi ST dinding lateral
  2. BInfark miokard akut dengan elevasi ST dinding anterior
  3. CPerikarditis akut
  4. DAngina pektoris tidak stabil
  5. EInfark miokard akut dengan elevasi ST dinding inferior
Lihat jawaban
Jawaban: E. Infark miokard akut dengan elevasi ST dinding inferior

Elevasi segmen ST pada lead II, III, dan aVF menunjukkan iskemia transmural pada dinding inferior jantung yang diperdarahi oleh arteri koroner kanan (right coronary artery) pada sebagian besar populasi. Depresi segmen ST resiprokal pada lead I dan aVL semakin menguatkan diagnosis STEMI inferior. Gejala klasik berupa nyeri dada tipikal dengan keringat dingin dan mual mendukung etiologi iskemik akut. Diagnosis STEMI ditegakkan berdasarkan kombinasi gejala klinis dan temuan EKG sesuai kriteria elevasi ST pada dua lead yang berdekatan secara anatomis.

  • A. Infark lateral ditandai elevasi ST pada lead I, aVL, V5-V6, bukan pada lead inferior.
  • B. Infark anterior ditandai elevasi ST pada lead V1-V4, bukan pada lead II, III, aVF.
  • C. Perikarditis akut biasanya menunjukkan elevasi ST difus pada hampir semua lead disertai depresi segmen PR, bukan pola lead inferior spesifik.
  • D. Pada UAP tidak terdapat elevasi ST, hanya depresi ST atau inversi gelombang T tanpa elevasi troponin yang signifikan.
Poin penting: Elevasi segmen ST pada lead II, III, dan aVF merupakan tanda khas STEMI dinding inferior akibat oklusi arteri koroner kanan.
2

Seorang perempuan berusia 62 tahun datang ke IGD dengan nyeri dada substernal sejak 2 jam yang lalu, tidak hilang dengan istirahat. Tekanan darah 130/85 mmHg, frekuensi nadi 92 kali/menit, frekuensi napas 20 kali/menit. EKG menunjukkan depresi segmen ST pada lead V4-V6 tanpa elevasi ST. Pemeriksaan troponin I diperiksa 3 jam setelah onset nyeri dan hasilnya meningkat di atas nilai ambang batas 99 persentil sesuai kit yang digunakan. Apakah diagnosis yang paling tepat pada pasien ini?

  1. AAngina pektoris stabil
  2. BInfark miokard akut dengan elevasi ST
  3. CInfark miokard akut tanpa elevasi ST
  4. DAngina Prinzmetal
  5. EAngina pektoris tidak stabil
Lihat jawaban
Jawaban: C. Infark miokard akut tanpa elevasi ST

Diagnosis NSTEMI ditegakkan ketika terdapat gejala iskemia akut berupa nyeri dada yang tidak membaik dengan istirahat, disertai perubahan EKG berupa depresi ST atau inversi gelombang T tanpa elevasi ST, dan yang membedakannya dari UAP adalah ditemukannya peningkatan biomarker jantung seperti troponin di atas nilai ambang 99 persentil. Pada UAP, gambaran klinis dan EKG dapat serupa namun kadar troponin tetap normal karena belum terjadi nekrosis miokard yang bermakna. Peningkatan troponin pada NSTEMI menandakan telah terjadi kerusakan sel miokard meskipun tanpa oklusi total pembuluh darah koroner seperti pada STEMI.

  • A. Angina stabil ditandai nyeri dada yang timbul saat aktivitas dan membaik dengan istirahat, bukan nyeri menetap dengan troponin meningkat.
  • B. STEMI ditandai elevasi segmen ST yang persisten pada EKG, yang tidak ditemukan pada kasus ini.
  • D. Angina Prinzmetal terjadi akibat vasospasme koroner dengan elevasi ST sementara yang membaik setelah pemberian nitrat, bukan depresi ST menetap dengan troponin meningkat.
  • E. UAP memiliki gambaran klinis serupa namun tanpa peningkatan troponin di atas nilai ambang.
Poin penting: NSTEMI dibedakan dari UAP berdasarkan peningkatan troponin jantung di atas nilai ambang 99 persentil meskipun gambaran klinis dan EKG dapat serupa.
3

Seorang laki-laki berusia 55 tahun mengeluh nyeri dada seperti ditekan yang timbul setiap kali naik tangga ke lantai tiga rumahnya dan menghilang dalam 5 menit setelah beristirahat. Pasien memiliki riwayat hipertensi dan merokok 20 tahun. Pemeriksaan EKG saat istirahat dalam batas normal. Apakah mekanisme utama yang menyebabkan timbulnya nyeri dada pada kondisi tersebut?

  1. AVasospasme arteri koroner epikardial yang terjadi secara spontan tanpa hubungan dengan aktivitas fisik
  2. BRuptur plak aterosklerosis dengan trombosis akut yang menyumbat total lumen arteri koroner
  3. CDiseksi aorta asendens yang menjalar ke ostium arteri koroner
  4. DKetidakseimbangan antara kebutuhan dan suplai oksigen miokard akibat stenosis koroner yang menetap saat aktivitas fisik meningkat
  5. EPeradangan perikardium yang menyebabkan nyeri bertambah saat inspirasi dalam
Lihat jawaban
Jawaban: D. Ketidakseimbangan antara kebutuhan dan suplai oksigen miokard akibat stenosis koroner yang menetap saat aktivitas fisik meningkat

Angina pektoris stabil terjadi akibat stenosis aterosklerotik kronis pada arteri koroner yang menyebabkan suplai oksigen miokard terbatas secara tetap. Saat aktivitas fisik meningkat, kebutuhan oksigen miokard meningkat namun suplai tidak dapat mengikuti karena lumen pembuluh darah yang sudah menyempit, sehingga timbul iskemia reversibel yang bermanifestasi sebagai nyeri dada. Nyeri ini bersifat predictable, timbul pada tingkat aktivitas tertentu, dan menghilang dengan istirahat karena kebutuhan oksigen kembali turun sesuai suplai yang tersedia. Mekanisme ini berbeda dengan sindrom koroner akut yang melibatkan ruptur plak dan trombosis akut.

  • A. Vasospasme spontan tanpa hubungan aktivitas fisik merupakan mekanisme angina Prinzmetal, bukan angina stabil.
  • B. Ruptur plak dengan trombosis akut merupakan mekanisme sindrom koroner akut, bukan angina stabil yang bersifat kronis dan predictable.
  • C. Diseksi aorta menimbulkan nyeri dada mendadak dan hebat yang tidak berhubungan dengan aktivitas fisik dan tidak membaik dengan istirahat.
  • E. Nyeri yang bertambah dengan inspirasi dalam merupakan ciri nyeri pleuritik atau perikarditis, bukan angina.
Poin penting: Angina pektoris stabil timbul akibat ketidakseimbangan suplai-demand oksigen miokard pada stenosis koroner kronis yang memberat saat aktivitas fisik.
4

Seorang laki-laki berusia 48 tahun datang ke IGD puskesmas dengan nyeri dada khas sejak 2 jam yang lalu. EKG menunjukkan elevasi segmen ST pada lead V2-V5. Puskesmas tidak memiliki fasilitas kateterisasi jantung. Fasilitas PCI primer terdekat berjarak tempuh sekitar 180 menit dari puskesmas, sedangkan obat fibrinolitik tersedia di puskesmas tanpa kontraindikasi pada pasien. Apakah strategi reperfusi yang paling tepat dilakukan pada pasien ini?

  1. AMemberikan terapi fibrinolitik segera di puskesmas sebelum merujuk ke fasilitas PCI
  2. BMenunggu pasien stabil terlebih dahulu selama beberapa jam sebelum memutuskan strategi reperfusi
  3. CMerujuk pasien ke fasilitas PCI terdekat tanpa memberitahukan diagnosis STEMI agar proses triase lebih cepat
  4. DMerujuk langsung untuk PCI primer meskipun waktu tempuh lama, tanpa pemberian terapi reperfusi apapun di puskesmas
  5. EMemberikan terapi antikoagulan dosis penuh saja tanpa fibrinolitik maupun rujukan PCI
Lihat jawaban
Jawaban: A. Memberikan terapi fibrinolitik segera di puskesmas sebelum merujuk ke fasilitas PCI

Pemilihan strategi reperfusi pada STEMI bergantung pada estimasi waktu dari diagnosis hingga PCI dapat dilakukan (door to balloon time). Apabila PCI primer tidak dapat dilakukan dalam 120 menit sejak diagnosis, maka fibrinolitik harus segera diberikan dalam 10 menit setelah diagnosis STEMI ditegakkan, asalkan tidak terdapat kontraindikasi. Pada kasus ini waktu tempuh ke fasilitas PCI mencapai 180 menit yang jauh melebihi batas 120 menit, sehingga fibrinolitik merupakan pilihan tatalaksana yang lebih tepat untuk membatasi area infark sedini mungkin. Setelah pemberian fibrinolitik, pasien tetap dirujuk untuk evaluasi dan PCI rescue bila diperlukan.

  • B. Menunda keputusan reperfusi memperpanjang waktu iskemia miokard dan bukan merupakan prinsip tatalaksana STEMI yang time-sensitive.
  • C. Informasi diagnosis harus disampaikan secara lengkap pada rujukan untuk memastikan kesiapan tim penerima dalam penanganan STEMI.
  • D. Merujuk tanpa reperfusi apapun pada waktu tempuh yang jauh melebihi 120 menit akan memperluas area infark dan meningkatkan risiko mortalitas.
  • E. Antikoagulan saja tanpa fibrinolitik atau PCI tidak memberikan reperfusi arteri koroner yang tersumbat.
Poin penting: Fibrinolitik dipilih sebagai strategi reperfusi apabila PCI primer tidak dapat dilakukan dalam 120 menit sejak diagnosis STEMI ditegakkan.
5

Seorang laki-laki berusia 60 tahun didiagnosis STEMI anterior dan direncanakan diberikan terapi fibrinolitik di puskesmas karena fasilitas PCI primer berjarak tempuh lebih dari 2 jam. Dari anamnesis diketahui pasien mengalami stroke hemoragik 3 bulan yang lalu dan saat ini tidak ada defisit neurologis residual. Tekanan darah 140/90 mmHg. Apakah pertimbangan yang paling tepat terkait pemberian fibrinolitik pada pasien ini?

  1. AFibrinolitik merupakan kontraindikasi absolut karena riwayat stroke hemoragik sebelumnya
  2. BFibrinolitik tetap dapat diberikan karena tidak ada defisit neurologis residual saat ini
  3. CFibrinolitik hanya dikontraindikasikan bila stroke hemoragik terjadi dalam 1 bulan terakhir
  4. DFibrinolitik dapat diberikan asalkan disertai pemberian plasma segar beku sebagai profilaksis
  5. EFibrinolitik dapat diberikan dengan dosis yang diturunkan separuh untuk mengurangi risiko perdarahan
Lihat jawaban
Jawaban: A. Fibrinolitik merupakan kontraindikasi absolut karena riwayat stroke hemoragik sebelumnya

Riwayat stroke hemoragik kapan pun merupakan kontraindikasi absolut terhadap terapi fibrinolitik karena risiko perdarahan intrakranial berulang yang dapat fatal. Hal ini berbeda dengan stroke iskemik yang kontraindikasinya bersifat relatif dan tergantung pada rentang waktu kejadian. Pada pasien ini, meskipun tidak ada defisit neurologis residual, riwayat stroke hemoragik tetap menjadi kontraindikasi absolut yang tidak dapat diabaikan. Pasien dengan kontraindikasi fibrinolitik harus dirujuk untuk PCI primer meskipun membutuhkan waktu tempuh lebih lama, karena risiko perdarahan intrakranial pada fibrinolitik jauh lebih berbahaya.

  • B. Tidak adanya defisit neurologis residual tidak menghapus risiko perdarahan ulang akibat kerusakan struktur pembuluh darah otak sebelumnya.
  • C. Kontraindikasi absolut fibrinolitik berlaku untuk riwayat stroke hemoragik kapan pun, tidak dibatasi hanya 1 bulan terakhir.
  • D. Pemberian plasma segar beku tidak menghilangkan risiko perdarahan intrakranial akibat fibrinolitik pada pasien dengan riwayat stroke hemoragik.
  • E. Tidak terdapat rekomendasi penurunan dosis fibrinolitik sebagai strategi mengatasi kontraindikasi absolut.
Poin penting: Riwayat stroke hemoragik kapan pun merupakan kontraindikasi absolut terhadap terapi fibrinolitik pada STEMI.
6

Seorang laki-laki berusia 63 tahun dirawat dengan STEMI inferior hari kedua. Saat dilakukan pemantauan, pasien mengeluh pusing dan lemas. Tekanan darah 85/55 mmHg, frekuensi nadi 38 kali/menit, frekuensi napas 20 kali/menit. Gambaran EKG menunjukkan gelombang P yang tidak memiliki hubungan tetap dengan kompleks QRS, dengan frekuensi atrium lebih cepat daripada frekuensi ventrikel. Apakah komplikasi yang paling mungkin terjadi pada pasien ini?

  1. ABlok atrioventrikular derajat satu
  2. BBlok atrioventrikular derajat dua tipe Mobitz I
  3. CBlok atrioventrikular derajat tiga (total)
  4. DFibrilasi atrium dengan respons ventrikel lambat
  5. ETakikardi ventrikel monomorfik
Lihat jawaban
Jawaban: C. Blok atrioventrikular derajat tiga (total)

STEMI inferior berhubungan dengan oklusi arteri koroner kanan yang pada sebagian besar individu juga memperdarahi nodus atrioventrikular (AV node) melalui cabang nodal AV. Iskemia pada nodus AV dapat menyebabkan blok AV derajat tinggi hingga blok AV total, yang ditandai dengan tidak adanya hubungan antara gelombang P dan kompleks QRS serta frekuensi atrium yang lebih cepat daripada frekuensi ventrikel. Kondisi ini dapat menyebabkan bradikardia bermakna dengan gangguan hemodinamik seperti hipotensi yang terlihat pada pasien ini. Tatalaksana awal meliputi pemberian atropin dan pertimbangan pacu jantung sementara bila tidak responsif.

  • A. Blok AV derajat satu hanya menunjukkan perpanjangan interval PR tanpa gangguan hubungan atrium-ventrikel, tidak sesuai gambaran disosiasi AV total.
  • B. Mobitz I menunjukkan perpanjangan PR progresif diikuti gelombang P yang tidak dihantarkan, berbeda dengan disosiasi AV total pada kasus ini.
  • D. Fibrilasi atrium menunjukkan gelombang P yang tidak terlihat jelas (fibrilasi), bukan gelombang P teratur yang terdisosiasi dari QRS.
  • E. Takikardi ventrikel menunjukkan kompleks QRS yang melebar dan cepat, bukan bradikardia dengan disosiasi gelombang P dan QRS.
Poin penting: STEMI inferior dapat menyebabkan blok AV derajat tinggi hingga total akibat keterlibatan arteri koroner kanan yang memperdarahi nodus AV.

Gagal Jantung

6 soal
7

Seorang perempuan berusia 70 tahun dibawa ke IGD dengan sesak napas berat yang timbul mendadak sejak 3 jam yang lalu. Pasien tampak gelisah dan duduk membungkuk ke depan. Pemeriksaan fisik menunjukkan tekanan darah 160/100 mmHg, frekuensi nadi 118 kali/menit, frekuensi napas 32 kali/menit, saturasi oksigen 88% pada udara ruangan. Auskultasi paru menunjukkan ronkhi basah kasar di seluruh lapangan paru kedua sisi. Tidak ditemukan tanda hipotensi atau syok. Apakah tatalaksana awal yang paling tepat diberikan pada pasien ini? Pilihan tindakan:

  1. APosisikan pasien terlentang datar, berikan oksigen, dan digoksin intravena
  2. BPosisikan pasien semi-fowler, berikan oksigen, dan furosemid intravena
  3. CPosisikan pasien terlentang datar, berikan cairan kristaloid bolus cepat, dan furosemid intravena
  4. DPosisikan pasien semi-fowler, berikan cairan kristaloid bolus cepat, dan dobutamin intravena
  5. EPosisikan pasien trendelenburg, berikan oksigen, dan morfin intravena dosis tinggi
Lihat jawaban
Jawaban: B. Posisikan pasien semi-fowler, berikan oksigen, dan furosemid intravena

Tatalaksana awal edema paru akut kardiogenik meliputi posisi semi-fowler atau duduk tegak untuk mengurangi preload dan memperbaiki mekanika pernapasan, pemberian oksigen untuk mengatasi hipoksemia (saturasi target lebih dari 94%), dan diuretik kuat intravena seperti furosemid untuk mengurangi kongesti paru melalui venodilatasi cepat dan diuresis. Posisi terlentang atau trendelenburg justru akan memperberat sesak karena meningkatkan preload ke jantung yang sudah terbebani. Pemberian cairan kristaloid bolus pada kondisi kongesti akut adalah kontraindikasi karena akan memperburuk edema paru.

  • A. Posisi terlentang memperberat sesak, dan digoksin bukan terapi lini pertama pada gagal jantung akut dekompensasi.
  • C. Posisi terlentang memperberat kongesti paru dan pemberian cairan bolus kontraindikasi pada edema paru akut.
  • D. Pemberian cairan bolus kontraindikasi pada kongesti paru akut; dobutamin diindikasikan bila ada tanda hipoperfusi/syok kardiogenik, bukan sebagai lini pertama tanpa hipotensi.
  • E. Posisi trendelenburg meningkatkan preload dan memperberat sesak; morfin dosis tinggi berisiko depresi napas dan bukan pilihan utama.
Poin penting: Tatalaksana awal edema paru akut kardiogenik meliputi posisi semi-fowler/duduk, oksigenasi, dan diuretik kuat intravena untuk mengurangi preload dan kongesti paru.
8

Seorang laki-laki berusia 55 tahun dengan riwayat gagal jantung kronik kontrol rutin di poliklinik. Pasien mengatakan dalam aktivitas sehari-hari ia tidak mengalami keluhan saat duduk atau berjalan santai di dalam rumah. Namun ketika naik tangga ke lantai dua rumahnya atau berjalan cepat sejauh lebih dari 100 meter, ia mulai merasa sesak napas dan kelelahan sehingga harus berhenti istirahat. Saat beristirahat di kursi, pasien tidak mengeluh sesak sama sekali. Berdasarkan klasifikasi fungsional NYHA, pasien ini termasuk kelas berapa?

  1. ANYHA kelas II-III transisi
  2. BNYHA kelas IV
  3. CNYHA kelas I
  4. DNYHA kelas III
  5. ENYHA kelas II
Lihat jawaban
Jawaban: E. NYHA kelas II

Klasifikasi fungsional NYHA kelas II ditandai dengan keterbatasan ringan pada aktivitas fisik, pasien tidak mengalami keluhan saat istirahat namun aktivitas fisik biasa seperti naik tangga atau berjalan cepat menimbulkan sesak, kelelahan, atau palpitasi. Pasien pada vignette ini tidak bergejala saat istirahat atau aktivitas ringan di dalam rumah, namun timbul gejala pada aktivitas sedang seperti naik tangga dan berjalan cepat jarak jauh, sesuai definisi kelas II. NYHA kelas I tidak ada keterbatasan sama sekali bahkan pada aktivitas berat, sedangkan kelas III gejala timbul pada aktivitas ringan sehari-hari seperti berjalan jarak pendek di dalam rumah.

  • A. Klasifikasi NYHA tidak mengenal kategori transisi antar kelas dalam penilaian standar.
  • B. Kelas IV ditandai gejala muncul bahkan saat istirahat, yang tidak sesuai dengan vignette ini.
  • C. Kelas I tidak ada keterbatasan aktivitas fisik sama sekali, sedangkan pasien ini sudah bergejala pada aktivitas sedang.
  • D. Kelas III ditandai gejala timbul pada aktivitas ringan sehari-hari, sedangkan pasien ini masih nyaman pada aktivitas ringan di dalam rumah.
Poin penting: NYHA kelas II ditandai gejala muncul pada aktivitas fisik biasa (sedang) seperti naik tangga, tanpa gejala saat istirahat atau aktivitas ringan.
9

Seorang laki-laki berusia 60 tahun dengan gagal jantung kronik dan hasil ekokardiografi menunjukkan fraksi ejeksi ventrikel kiri 32%. Pasien saat ini dalam kondisi stabil, tidak ada tanda kongesti akut, tekanan darah 118/76 mmHg, frekuensi nadi 78 kali/menit. Dokter merencanakan terapi farmakologis jangka panjang yang terbukti menurunkan mortalitas pada kondisi ini. Golongan obat manakah, selain ACE inhibitor/ARB dan beta-blocker, yang juga memiliki bukti kuat menurunkan mortalitas pada gagal jantung dengan fraksi ejeksi menurun?

  1. AAntagonis reseptor mineralokortikoid (spironolakton)
  2. BDigoksin
  3. CNitrat organik kerja panjang (isosorbid dinitrat) tunggal
  4. DDiuretik tiazid (hidroklorotiazid)
  5. EPenghambat kanal kalsium dihidropiridin (amlodipin)
Lihat jawaban
Jawaban: A. Antagonis reseptor mineralokortikoid (spironolakton)

Antagonis reseptor mineralokortikoid seperti spironolakton telah terbukti dalam berbagai uji klinis besar menurunkan mortalitas dan rawat inap pada pasien gagal jantung dengan fraksi ejeksi menurun (HFrEF), bekerja dengan menghambat efek aldosteron yang menyebabkan fibrosis miokard, retensi natrium, dan remodeling jantung yang merugikan. Bersama ACE inhibitor/ARB dan beta-blocker, golongan MRA termasuk dalam empat pilar terapi farmakologis utama HFrEF (bersama SGLT2 inhibitor) yang terbukti menurunkan mortalitas menurut pedoman PERKI dan pedoman internasional. Diuretik dan digoksin memperbaiki simptom namun tidak terbukti menurunkan mortalitas.

  • B. Digoksin memperbaiki simptom dan menurunkan rawat inap namun tidak terbukti menurunkan mortalitas pada HFrEF.
  • C. Kombinasi nitrat dengan hidralazin memiliki bukti manfaat pada populasi tertentu, namun nitrat tunggal tidak terbukti menurunkan mortalitas.
  • D. Diuretik tiazid hanya mengatasi kongesti simptomatik dan tidak terbukti menurunkan mortalitas pada HFrEF.
  • E. Amlodipin bersifat netral terhadap mortalitas pada HFrEF dan bukan bagian dari terapi pilar yang menurunkan mortalitas.
Poin penting: Antagonis reseptor mineralokortikoid merupakan salah satu pilar terapi farmakologis HFrEF yang terbukti menurunkan mortalitas, bersama ACE inhibitor/ARB, beta-blocker, dan SGLT2 inhibitor.
10

Seorang perempuan berusia 65 tahun dengan riwayat hipertensi tidak terkontrol datang ke IGD dengan sesak napas berat yang timbul mendadak. Pemeriksaan fisik menunjukkan ronkhi basah kasar di kedua basal paru dan distensi vena jugularis. Dokter meminta pemeriksaan rontgen toraks untuk konfirmasi penunjang. Manakah gambaran radiologis yang paling mendukung diagnosis edema paru akut kardiogenik pada pasien ini?

  1. AEfusi pleura masif unilateral tanpa kardiomegali
  2. BInfiltrat konsolidasi lobar unilateral dengan air bronchogram
  3. CHiperinflasi paru bilateral dengan diafragma mendatar dan penurunan vaskularisasi perifer
  4. DMassa kavitas di lobus atas paru dengan dinding tebal ireguler
  5. EInfiltrat alveolar perihilar bilateral berbentuk kupu-kupu (bat wing), kardiomegali, dan kongesti vena pulmonal
Lihat jawaban
Jawaban: E. Infiltrat alveolar perihilar bilateral berbentuk kupu-kupu (bat wing), kardiomegali, dan kongesti vena pulmonal

Gambaran radiologis khas edema paru akut kardiogenik meliputi infiltrat alveolar perihilar bilateral yang berbentuk seperti kupu-kupu (bat wing appearance) akibat cairan yang terkumpul di ruang alveolar sekitar hilus, disertai kardiomegali (cardiothoracic ratio lebih dari 50%), kongesti vena pulmonal (pelebaran vaskular di lobus atas atau cephalization), garis Kerley B akibat edema interstisial, dan dapat disertai efusi pleura bilateral. Gambaran ini mencerminkan peningkatan tekanan hidrostatik kapiler pulmonal akibat kegagalan pompa ventrikel kiri. Konsolidasi lobar unilateral lebih mengarah ke pneumonia, sedangkan hiperinflasi dengan diafragma mendatar khas PPOK.

  • A. Efusi pleura unilateral masif tanpa kardiomegali lebih mengarah pada etiologi non-kardiak seperti maligna atau infeksi.
  • B. Gambaran ini khas pneumonia lobaris, bukan edema paru kardiogenik yang bersifat bilateral dan perihilar.
  • C. Gambaran ini khas penyakit paru obstruktif kronik, tidak sesuai dengan patofisiologi kongesti kardiogenik.
  • D. Gambaran ini khas tuberkulosis paru kavitas atau abses paru, tidak sesuai dengan edema paru akut.
Poin penting: Edema paru akut kardiogenik pada rontgen toraks khas menunjukkan infiltrat alveolar bilateral bentuk kupu-kupu, kardiomegali, dan kongesti vena pulmonal akibat peningkatan tekanan hidrostatik kapiler paru.
11

Seorang laki-laki berusia 64 tahun dengan gagal jantung kronik mengalami penurunan curah jantung akibat disfungsi sistolik ventrikel kiri yang progresif. Untuk mengompensasi penurunan perfusi ginjal, tubuh pasien mengaktifkan sistem hormonal tertentu yang pada awalnya bertujuan mempertahankan tekanan darah dan perfusi organ, namun dalam jangka panjang justru memperburuk remodeling jantung. Aktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron pada kondisi ini terutama dipicu oleh penurunan perfusi pada struktur ginjal manakah? Konteks tambahan: perhatikan reseptor spesifik yang mendeteksi perubahan tekanan.

  1. ADuktus koligentes medula ginjal
  2. BAnsa Henle bagian desendens tipis
  3. CApparatus jukstaglomerulus pada arteriol aferen glomerulus
  4. DTubulus kontortus distal bagian makula densa semata tanpa keterlibatan arteriol
  5. EKapsula Bowman pada glomerulus
Lihat jawaban
Jawaban: C. Apparatus jukstaglomerulus pada arteriol aferen glomerulus

Pada gagal jantung, penurunan curah jantung menyebabkan penurunan tekanan perfusi ginjal yang dideteksi oleh sel jukstaglomerulus pada dinding arteriol aferen glomerulus, berfungsi sebagai barosensor intrarenal. Penurunan tekanan ini memicu pelepasan renin dari sel jukstaglomerulus, yang mengubah angiotensinogen menjadi angiotensin I, kemudian dikonversi oleh ACE menjadi angiotensin II di paru-paru. Angiotensin II menyebabkan vasokonstriksi dan merangsang sekresi aldosteron dari korteks adrenal, meningkatkan retensi natrium dan air sehingga awalnya mempertahankan tekanan darah dan perfusi, namun aktivasi kronis RAAS justru mempercepat fibrosis miokard, remodeling patologis, dan progresi gagal jantung. Mekanisme ini menjadi dasar rasional terapi ACE inhibitor/ARB dan MRA pada gagal jantung.

  • A. Duktus koligentes berperan pada reabsorpsi air dan natrium yang diatur aldosteron dan ADH, bukan tempat deteksi tekanan pemicu pelepasan renin.
  • B. Ansa Henle desendens tipis berperan dalam mekanisme konsentrasi urin melalui countercurrent multiplier, tidak terkait pelepasan renin.
  • D. Makula densa berperan mendeteksi konsentrasi natrium klorida di tubulus distal dan bekerja bersama arteriol aferen, bukan sebagai sensor tekanan tunggal yang terpisah.
  • E. Kapsula Bowman berperan dalam filtrasi glomerulus, bukan dalam deteksi tekanan perfusi atau pelepasan renin.
Poin penting: Penurunan perfusi ginjal pada gagal jantung dideteksi oleh sel jukstaglomerulus di arteriol aferen, memicu aktivasi RAAS yang awalnya kompensatorik namun kronisnya memperburuk remodeling jantung.
12

Seorang perempuan berusia 68 tahun dengan gagal jantung kronik NYHA III dirawat dan mendapat furosemide intravena dosis tinggi selama 5 hari untuk mengatasi kongesti berat. Pada hari keenam, pasien mengeluh lemas, kram otot, dan telinga berdenging disertai penurunan pendengaran ringan. Pemeriksaan elektrolit menunjukkan kalium serum 2,8 mmol/L. Apakah mekanisme yang paling mendasari kedua efek samping yang dialami pasien ini?

  1. AHambatan reabsorpsi natrium di tubulus distal disertai efek toksik langsung pada nervus vestibularis
  2. BVasodilatasi arteriol aferen ginjal yang menurunkan laju filtrasi glomerulus secara akut
  3. CHambatan karbonik anhidrase di tubulus proksimal yang menyebabkan alkalosis metabolik berat
  4. DAntagonisme reseptor aldosteron di tubulus koligentes yang menyebabkan retensi kalium berlebihan
  5. EHambatan reabsorpsi Na-K-2Cl di ansa Henle dan akumulasi obat pada cairan endolimfe telinga dalam
Lihat jawaban
Jawaban: E. Hambatan reabsorpsi Na-K-2Cl di ansa Henle dan akumulasi obat pada cairan endolimfe telinga dalam

Furosemide adalah diuretik loop yang menghambat kotransporter Na-K-2Cl di ansa Henle asendens tebal, menyebabkan kehilangan kalium berlebihan melalui peningkatan aliran distal dan sekresi kalium sehingga terjadi hipokalemia. Pada dosis tinggi, terutama bila diberikan secara intravena cepat, furosemide juga dapat terakumulasi pada cairan endolimfe koklea dan vestibulum sehingga mengganggu homeostasis ion di telinga dalam, menimbulkan ototoksisitas reversibel berupa tinitus dan penurunan pendengaran. Risiko ototoksisitas meningkat pada dosis tinggi, pemberian cepat, gangguan fungsi ginjal, dan penggunaan bersama obat ototoksik lain seperti aminoglikosida. Pemantauan elektrolit berkala dan kecepatan infus yang tepat penting untuk mencegah komplikasi ini.

  • A. Furosemide bekerja di ansa Henle, bukan tubulus distal, dan tidak memiliki efek toksik langsung pada nervus vestibularis.
  • B. Mekanisme ini tidak menjelaskan hipokalemia maupun ototoksisitas yang terjadi pada pasien.
  • C. Furosemide bukan penghambat karbonik anhidrase; mekanisme ini merupakan mekanisme kerja asetazolamid.
  • D. Furosemide bukan antagonis aldosteron dan justru menyebabkan kehilangan kalium, bukan retensi.
Poin penting: Diuretik loop dosis tinggi dapat menyebabkan hipokalemia akibat hambatan Na-K-2Cl di ansa Henle dan ototoksisitas reversibel akibat gangguan homeostasis ion endolimfe telinga dalam.
Kesulitan di satu topik?Minta asisten WhiteCoat Pro menjelaskannya, mengubah catatan Anda menjadi flashcard, atau menyusun rencana belajar untuk UKMPPD.
Buka asisten

Hipertensi

5 soal
13

Seorang perempuan berusia 45 tahun datang ke puskesmas untuk kontrol rutin tanpa keluhan. Pada tiga kali kunjungan berbeda dalam sebulan terakhir, pengukuran tekanan darah yang dilakukan dengan teknik yang benar menunjukkan hasil rerata 148/94 mmHg. Pasien tidak memiliki riwayat diabetes melitus, penyakit ginjal, maupun penyakit kardiovaskular sebelumnya. Pemeriksaan fisik dan laboratorium dasar lainnya dalam batas normal. Berdasarkan konsensus Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (InaSH) dan PERKI terkini, bagaimana klasifikasi tekanan darah pasien ini?

  1. AHipertensi derajat 2
  2. BTekanan darah normal dengan variasi pengukuran
  3. CHipertensi derajat 1
  4. DHipertensi terisolasi sistolik
  5. ETekanan darah tinggi normal (prehipertensi)
Lihat jawaban
Jawaban: C. Hipertensi derajat 1

Diagnosis hipertensi ditegakkan berdasarkan pengukuran tekanan darah berulang pada kesempatan berbeda dengan teknik yang benar, bukan hanya satu kali pengukuran. Berdasarkan konsensus InaSH dan PERKI, hipertensi derajat 1 didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik 140-159 mmHg dan/atau diastolik 90-99 mmHg, sedangkan hipertensi derajat 2 adalah sistolik di atas 160 mmHg dan/atau diastolik di atas 100 mmHg. Pasien ini dengan rerata tekanan darah 148/94 mmHg pada pengukuran berulang memenuhi kriteria hipertensi derajat 1. Klasifikasi derajat ini penting untuk menentukan target terapi dan kecepatan intensifikasi tatalaksana farmakologis dan non-farmakologis.

  • A. Hipertensi derajat 2 memerlukan tekanan sistolik di atas 160 mmHg atau diastolik di atas 100 mmHg, sedangkan hasil pasien masih di bawah ambang tersebut.
  • B. Pengukuran berulang pada kesempatan berbeda dengan teknik benar yang konsisten menunjukkan nilai tinggi sudah cukup menegakkan diagnosis hipertensi, bukan sekadar variasi.
  • D. Hipertensi sistolik terisolasi ditandai sistolik tinggi dengan diastolik normal di bawah 90 mmHg, sedangkan diastolik pasien juga meningkat.
  • E. Kategori prehipertensi berlaku untuk tekanan darah 130-139/85-89 mmHg, sedangkan tekanan pasien sudah melewati ambang hipertensi.
Poin penting: Diagnosis dan derajat hipertensi ditentukan dari rerata pengukuran tekanan darah berulang pada kesempatan berbeda, dengan hipertensi derajat 1 pada rentang 140-159/90-99 mmHg.
14

Seorang laki-laki berusia 58 tahun dibawa ke IGD dengan nyeri kepala hebat sejak 2 jam yang lalu. Tekanan darah 220/130 mmHg, frekuensi nadi 96 kali/menit. Pasien tampak gelisah dan pada pemeriksaan neurologis didapatkan penurunan kesadaran dengan GCS E3V4M5 serta funduskopi menunjukkan papiledema bilateral. Tidak ditemukan defisit neurologis fokal. Hasil pemeriksaan kreatinin serum 2,1 mg/dL (sebelumnya normal). Apakah tatalaksana awal yang paling tepat bagi pasien ini?

  1. AMemberikan diuretik loop intravena dosis tinggi sebagai agen tunggal untuk menurunkan tekanan darah segera
  2. BMemberikan antihipertensi oral kerja cepat dan memulangkan pasien dengan kontrol poliklinik dalam 24 jam
  3. CMenurunkan tekanan darah arteri rerata sekitar 20-25% dalam 1 jam pertama menggunakan obat antihipertensi intravena
  4. DMenunda terapi antihipertensi apa pun sampai dilakukan pencitraan otak untuk menyingkirkan stroke hemoragik
  5. EMenurunkan tekanan darah hingga target 120/80 mmHg secepatnya dalam 30 menit menggunakan nifedipin sublingual
Lihat jawaban
Jawaban: C. Menurunkan tekanan darah arteri rerata sekitar 20-25% dalam 1 jam pertama menggunakan obat antihipertensi intravena

Pasien ini mengalami hipertensi emergensi karena tekanan darah sangat tinggi disertai bukti kerusakan organ target akut berupa ensefalopati hipertensif (penurunan kesadaran, papiledema) dan gangguan fungsi ginjal akut. Tatalaksana hipertensi emergensi memerlukan penurunan tekanan darah arteri rerata secara terkontrol sekitar 20-25% dalam 1 jam pertama menggunakan agen intravena titrasi seperti nikardipin atau nitroprusid, dilanjutkan penurunan bertahap dalam 24-48 jam berikutnya untuk mencegah hipoperfusi organ. Penurunan tekanan darah yang terlalu cepat dan agresif dapat menyebabkan iskemia serebral, miokard, atau ginjal akibat autoregulasi perfusi yang terganggu. Hipertensi urgensi, berbeda dengan emergensi, tidak disertai kerusakan organ akut dan dapat ditangani dengan obat oral serta penurunan tekanan yang lebih bertahap dalam 24-48 jam.

  • A. Diuretik loop bukan agen lini pertama untuk hipertensi emergensi dan tidak memberikan kontrol tekanan darah yang cepat serta titrasi yang diperlukan.
  • B. Adanya kerusakan organ target akut menandakan hipertensi emergensi yang memerlukan rawat inap dan terapi intravena segera, bukan rawat jalan.
  • D. Terapi antihipertensi pada hipertensi emergensi tidak boleh ditunda karena risiko perburukan organ target yang progresif.
  • E. Penurunan tekanan darah yang terlalu cepat dan agresif ke target normal dapat menyebabkan hipoperfusi serebral dan iskemia organ; nifedipin sublingual juga tidak direkomendasikan karena efek penurunan tekanan yang tidak terkontrol.
Poin penting: Hipertensi emergensi dengan kerusakan organ target akut ditangani dengan penurunan tekanan darah arteri rerata 20-25% dalam 1 jam pertama menggunakan antihipertensi intravena titrasi.
15

Seorang laki-laki berusia 55 tahun dengan riwayat diabetes melitus tipe 2 sejak 8 tahun datang untuk kontrol. Tekanan darah 152/96 mmHg pada dua kali pengukuran terpisah. Pemeriksaan urinalisis menunjukkan mikroalbuminuria, dan kreatinin serum 1,0 mg/dL dengan perkiraan laju filtrasi glomerulus 85 mL/menit/1,73m². Pasien belum pernah mendapat terapi antihipertensi sebelumnya. Apakah golongan obat antihipertensi yang paling tepat dipilih sebagai terapi awal pada pasien ini?

  1. AAgonis reseptor alfa-2 sentral
  2. BPenyekat beta kardioselektif
  3. CPenyekat kanal kalsium golongan dihidropiridin
  4. DDiuretik tiazid dosis rendah
  5. EPenghambat enzim pengubah angiotensin (ACE inhibitor)
Lihat jawaban
Jawaban: E. Penghambat enzim pengubah angiotensin (ACE inhibitor)

Pada pasien hipertensi dengan diabetes melitus disertai mikroalbuminuria, ACE inhibitor menjadi pilihan lini pertama karena selain menurunkan tekanan darah sistemik, obat ini memberikan efek nefroprotektif melalui dilatasi arteriol eferen glomerulus sehingga menurunkan tekanan intraglomerulus dan proteinuria. Efek ini independen dari efek antihipertensinya dan telah dibuktikan memperlambat progresi nefropati diabetik dalam berbagai studi klinis. Golongan ARB merupakan alternatif setara bila ACE inhibitor tidak dapat ditoleransi, misalnya karena batuk. Pemilihan ini sejalan dengan rekomendasi PERKI dan Perkeni yang menempatkan ACE inhibitor atau ARB sebagai terapi awal pada hipertensi dengan komorbid diabetes dan albuminuria.

  • A. Agonis alfa-2 sentral bukan terapi lini pertama pada hipertensi dengan diabetes dan memiliki profil efek samping yang kurang menguntungkan untuk terapi jangka panjang.
  • B. Penyekat beta bukan pilihan lini pertama pada diabetes karena dapat menutupi gejala hipoglikemia dan tidak memberikan efek nefroprotektif spesifik.
  • C. Penyekat kanal kalsium dihidropiridin efektif menurunkan tekanan darah namun tidak memberikan efek antiproteinurik spesifik seperti ACE inhibitor.
  • D. Diuretik tiazid dapat memperburuk kontrol glikemik dan tidak memberikan efek nefroprotektif sebesar ACE inhibitor pada nefropati diabetik.
Poin penting: ACE inhibitor merupakan antihipertensi lini pertama pada pasien hipertensi dengan diabetes melitus dan mikroalbuminuria karena efek nefroprotektifnya melalui penurunan tekanan intraglomerulus.
16

Seorang perempuan berusia 60 tahun dengan hipertensi telah mendapat captopril selama 3 minggu. Pasien mengeluh batuk kering yang mengganggu sejak 10 hari terakhir, tanpa demam, tanpa produksi sputum, dan tanpa riwayat asma atau infeksi saluran napas sebelumnya. Pemeriksaan fisik paru dalam batas normal dan foto toraks tidak menunjukkan kelainan. Apakah mekanisme yang paling mendasari keluhan batuk pada pasien ini?

  1. AIritasi langsung mukosa laring akibat sifat asam dari metabolit obat
  2. BReaksi hipersensitivitas tipe I yang dimediasi IgE terhadap komponen obat
  3. CPenumpukan cairan interstisial paru akibat retensi natrium dan air
  4. DAkumulasi bradikinin akibat hambatan degradasinya oleh enzim pengubah angiotensin
  5. EBronkokonstriksi akibat hambatan reseptor beta-2 adrenergik di bronkus
Lihat jawaban
Jawaban: D. Akumulasi bradikinin akibat hambatan degradasinya oleh enzim pengubah angiotensin

ACE inhibitor seperti captopril menghambat enzim pengubah angiotensin, yang selain mengubah angiotensin I menjadi angiotensin II juga berperan mendegradasi bradikinin. Hambatan enzim ini menyebabkan akumulasi bradikinin di saluran napas, yang merangsang refleks batuk melalui stimulasi serabut saraf sensorik lokal. Batuk kering ini merupakan efek samping kelas yang umum, muncul pada sekitar 10-20% pengguna ACE inhibitor, bersifat tidak berhubungan dengan dosis, dan biasanya mereda dalam beberapa hari setelah obat dihentikan. Bila batuk sangat mengganggu, obat dapat diganti dengan golongan ARB yang tidak memengaruhi metabolisme bradikinin.

  • A. Tidak terdapat metabolit asam dari ACE inhibitor yang secara langsung mengiritasi mukosa laring sebagai mekanisme batuk ini.
  • B. Batuk akibat ACE inhibitor bukan reaksi alergi yang dimediasi IgE, melainkan efek farmakologis kelas obat yang dapat terjadi pada siapa saja yang menggunakannya.
  • C. Tidak ada bukti retensi cairan atau edema paru pada pasien ini, dan mekanisme batuk ACE inhibitor tidak berkaitan dengan retensi natrium.
  • E. ACE inhibitor tidak memiliki aktivitas pada reseptor beta adrenergik sehingga tidak menyebabkan bronkokonstriksi melalui mekanisme ini.
Poin penting: Batuk kering akibat ACE inhibitor disebabkan oleh akumulasi bradikinin akibat hambatan degradasinya oleh enzim pengubah angiotensin.
17

Seorang perempuan berusia 38 tahun datang dengan episode berulang berupa sakit kepala berdenyut hebat, berdebar-debar, berkeringat banyak, dan wajah pucat yang berlangsung sekitar 15-20 menit, muncul beberapa kali dalam sebulan terakhir tanpa pencetus jelas. Di antara episode, pasien merasa baik. Saat episode terjadi, tekanan darah terukur 210/120 mmHg dan frekuensi nadi 128 kali/menit, sedangkan di luar episode tekanan darah berkisar 130/85 mmHg. Pemeriksaan fisik lain tidak ditemukan kelainan bermakna. Apakah pemeriksaan penunjang awal yang paling tepat untuk mengonfirmasi kecurigaan diagnosis pada pasien ini?

  1. AKadar hormon tiroid (TSH dan FT4)
  2. BKadar kalsium dan hormon paratiroid dalam darah
  3. CKadar kortisol plasma pagi dan tes supresi deksametason
  4. DKadar aldosteron dan renin plasma
  5. EKatekolamin dan metanefrin dalam urin tampung 24 jam
Lihat jawaban
Jawaban: E. Katekolamin dan metanefrin dalam urin tampung 24 jam

Gambaran klinis pasien berupa trias klasik sakit kepala, berdebar, dan berkeringat yang terjadi episodik disertai lonjakan tekanan darah paroksismal sangat mengarah pada feokromositoma, tumor penghasil katekolamin berlebih dari medula adrenal atau jaringan kromafin ekstra-adrenal. Pemeriksaan awal yang direkomendasikan adalah pengukuran katekolamin bebas dan metanefrin dalam urin tampung 24 jam, karena metanefrin merupakan metabolit katekolamin yang lebih stabil dan memiliki sensitivitas tinggi untuk mendeteksi sekresi tumor yang bersifat intermiten. Hasil yang meningkat signifikan mengonfirmasi diagnosis biokimiawi sebelum dilanjutkan pencitraan seperti CT atau MRI adrenal untuk lokalisasi tumor. Diagnosis dini penting karena tumor ini dapat menyebabkan krisis hipertensi yang mengancam jiwa, terutama saat manipulasi bedah bila tidak terdiagnosis sebelumnya.

  • A. Pemeriksaan tiroid digunakan untuk mengevaluasi hipertiroidisme, yang dapat menyebabkan berdebar namun biasanya tidak menimbulkan lonjakan tekanan darah ekstrem episodik seperti pada kasus ini.
  • B. Kalsium dan hormon paratiroid digunakan untuk evaluasi hiperparatiroidisme, yang tidak sesuai dengan gambaran klinis paroksismal pasien ini.
  • C. Kortisol dan tes supresi deksametason digunakan untuk evaluasi sindrom Cushing, yang memberikan gambaran klinis berbeda tanpa episode paroksismal khas ini.
  • D. Kadar aldosteron dan renin digunakan untuk mengevaluasi hiperaldosteronisme primer, yang biasanya menyebabkan hipertensi persisten dengan hipokalemia, bukan episode paroksismal seperti pasien ini.
Poin penting: Kecurigaan feokromositoma berdasarkan trias paroksismal sakit kepala, berdebar, dan berkeringat dikonfirmasi dengan pemeriksaan katekolamin dan metanefrin urin tampung 24 jam.

Aritmia

5 soal
18

Seorang laki-laki berusia 68 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan jantung berdebar-debar sejak 2 hari yang lalu. Pasien memiliki riwayat hipertensi dan diabetes melitus tipe 2. Pemeriksaan fisik: tekanan darah 138/86 mmHg, nadi ireguler 110 kali/menit, tidak ditemukan tanda gagal jantung. Elektrokardiogram menunjukkan tidak adanya gelombang P yang jelas, interval R-R yang ireguler, dengan gelombang fibrilasi halus pada baseline. Dokter menghitung skor CHA2DS2-VASc pasien ini sebesar 3.

  1. ATidak memerlukan terapi antitrombotik karena risiko rendah
  2. BMemberikan aspirin dosis rendah saja
  3. CMemberikan aspirin dan klopidogrel kombinasi
  4. DMemberikan antikoagulan oral jangka panjang
  5. EMemberikan antikoagulan hanya saat kardioversi
Lihat jawaban
Jawaban: D. Memberikan antikoagulan oral jangka panjang

Pasien ini terdiagnosis fibrilasi atrium berdasarkan gambaran EKG tanpa gelombang P dan interval R-R ireguler. Skor CHA2DS2-VASc sebesar 3 menunjukkan risiko stroke yang tinggi sehingga menurut pedoman PERKI dan ESC, pasien dengan skor ≥2 pada laki-laki memerlukan antikoagulan oral jangka panjang untuk mencegah kejadian tromboemboli. Antikoagulan oral dapat berupa warfarin dengan target INR 2-3 atau golongan non-vitamin K antagonist oral anticoagulant (NOAC) seperti rivaroksaban atau apiksaban. Terapi antiplatelet tunggal maupun ganda tidak terbukti efektif mencegah stroke pada fibrilasi atrium dan bukan merupakan pilihan terapi yang direkomendasikan.

  • A. Skor CHA2DS2-VASc 3 termasuk kategori risiko tinggi yang memerlukan terapi antikoagulan, bukan risiko rendah tanpa terapi.
  • B. Aspirin tunggal tidak efektif mencegah stroke pada fibrilasi atrium dan tidak direkomendasikan sebagai terapi antitrombotik pada skor risiko tinggi.
  • C. Kombinasi dua antiplatelet tidak terbukti superior dibanding antikoagulan oral dan meningkatkan risiko perdarahan tanpa manfaat pencegahan stroke yang setara.
  • E. Antikoagulan pada fibrilasi atrium dengan skor risiko tinggi harus diberikan jangka panjang, bukan hanya periprosedural saat kardioversi.
Poin penting: Skor CHA2DS2-VASc ≥2 pada laki-laki atau ≥3 pada perempuan menjadi indikasi pemberian antikoagulan oral jangka panjang pada fibrilasi atrium.
19

Seorang perempuan berusia 24 tahun dibawa ke unit gawat darurat dengan keluhan jantung berdebar-debar mendadak sejak 30 menit yang lalu, disertai rasa cemas. Pasien sadar penuh dan dapat berbicara dengan jelas. Pemeriksaan fisik: tekanan darah 112/74 mmHg, nadi teratur 190 kali/menit, frekuensi napas 20 kali/menit, akral hangat. Elektrokardiogram menunjukkan takikardia kompleks QRS sempit dan regular tanpa gelombang P yang jelas.

  1. AMemberikan digoksin intravena
  2. BMemberikan amiodaron intravena
  3. CMelakukan manuver valsava
  4. DMemberikan metoprolol intravena
  5. EMelakukan kardioversi tersinkronisasi segera
Lihat jawaban
Jawaban: C. Melakukan manuver valsava

Pasien ini mengalami takikardia supraventrikular paroksismal (TSVP) dengan kondisi hemodinamik stabil, ditandai dengan tekanan darah yang masih normal dan kesadaran penuh. Tatalaksana awal lini pertama pada TSVP stabil adalah manuver vagal seperti manuver valsava atau pemijatan sinus karotis, yang bekerja meningkatkan tonus vagal untuk memperlambat konduksi melalui nodus AV dan menghentikan sirkuit re-entry. Bila manuver vagal gagal, langkah selanjutnya adalah pemberian adenosin intravena bolus cepat. Kardioversi tersinkronisasi hanya diindikasikan pada pasien dengan instabilitas hemodinamik seperti hipotensi, penurunan kesadaran, atau edema paru akut.

  • A. Digoksin intravena memiliki onset kerja lambat dan bukan pilihan tatalaksana akut lini pertama pada TSVP.
  • B. Amiodaron bukan terapi lini pertama pada TSVP stabil dan lebih digunakan pada takikardia ventrikel atau fibrilasi atrium.
  • D. Metoprolol intravena dapat dipertimbangkan namun bukan langkah awal pertama sebelum manuver vagal dicoba pada pasien stabil.
  • E. Kardioversi tersinkronisasi hanya diindikasikan pada pasien dengan instabilitas hemodinamik, sedangkan pasien ini masih stabil.
Poin penting: Tatalaksana awal TSVP dengan hemodinamik stabil adalah manuver vagal sebelum pemberian adenosin intravena.
20

Seorang laki-laki berusia 55 tahun mendadak tidak responsif saat berada di ruang tunggu puskesmas. Pemeriksaan menunjukkan pasien tidak bernapas dan tidak teraba nadi karotis. Monitor EKG yang segera dipasang menunjukkan gambaran gelombang ireguler kasar tanpa kompleks QRS, gelombang P, maupun gelombang T yang dapat dikenali. Tim medis telah melakukan kompresi dada berkualitas tinggi dan ventilasi sejak 1 menit yang lalu.

  1. AMemberikan atropin intravena
  2. BMemberikan epinefrin intravena terlebih dahulu
  3. CMelanjutkan kompresi dada tanpa defibrilasi
  4. DMelakukan defibrilasi segera
  5. EMelakukan kardioversi tersinkronisasi
Lihat jawaban
Jawaban: D. Melakukan defibrilasi segera

Gambaran EKG pada pasien ini menunjukkan fibrilasi ventrikel, yaitu ritme yang dapat dikenai syok (shockable rhythm) dalam algoritme resusitasi jantung paru. Menurut algoritme bantuan hidup jantung lanjut, begitu fibrilasi ventrikel teridentifikasi, defibrilasi segera harus dilakukan sesegera mungkin karena setiap keterlambatan menurunkan peluang keberhasilan resusitasi secara signifikan. Epinefrin dan obat antiaritmia lain diberikan setelah defibrilasi pertama tidak berhasil mengembalikan ritme, bukan sebagai langkah awal. Defibrilasi bekerja mendepolarisasi seluruh sel miokard secara simultan untuk memutus sirkuit re-entry kacau pada fibrilasi ventrikel.

  • A. Atropin tidak memiliki peran dalam tatalaksana fibrilasi ventrikel dan hanya digunakan pada bradiaritmia simptomatik.
  • B. Epinefrin diberikan setelah defibrilasi pertama atau kedua tidak berhasil, bukan sebagai tindakan awal sebelum defibrilasi.
  • C. Melanjutkan kompresi tanpa defibrilasi akan menunda terapi definitif yang terbukti meningkatkan survival pada ritme yang dapat dikenai syok.
  • E. Kardioversi tersinkronisasi tidak dapat dilakukan pada fibrilasi ventrikel karena tidak ada kompleks QRS yang dapat disinkronkan, sehingga memerlukan defibrilasi asinkron.
Poin penting: Fibrilasi ventrikel merupakan ritme shockable yang memerlukan defibrilasi segera dalam algoritme resusitasi jantung paru.
21

Seorang laki-laki berusia 70 tahun datang ke IGD dengan keluhan lemas dan pandangan berkunang-kunang sejak 3 hari yang lalu, disertai satu episode pingsan singkat. Pemeriksaan fisik: tekanan darah 96/62 mmHg, nadi teratur 38 kali/menit, frekuensi napas 18 kali/menit. Elektrokardiogram menunjukkan gelombang P yang muncul dengan interval teratur namun tidak berhubungan sama sekali dengan kompleks QRS yang juga muncul teratur namun dengan frekuensi lebih lambat, tanpa hubungan antara gelombang P dan kompleks QRS.

  1. APemberian atropin intravena sebagai terapi definitif
  2. BPemberian digoksin intravena
  3. CPemasangan pacu jantung permanen
  4. DObservasi tanpa intervensi karena asimtomatik
  5. EPemberian antikoagulan oral jangka panjang
Lihat jawaban
Jawaban: C. Pemasangan pacu jantung permanen

Gambaran EKG pasien menunjukkan blok AV derajat tiga (komplit) dengan disosiasi atrioventrikular total, yaitu gelombang P dan kompleks QRS yang masing-masing teratur namun tidak saling berhubungan. Pasien ini simtomatik dengan gejala hipoperfusi serebral berupa sinkop dan hipotensi, sehingga menurut pedoman PERKI dan ESC, indikasi pemasangan pacu jantung permanen bersifat definitif pada blok AV derajat tiga simtomatik tanpa memandang penyebab yang reversibel. Atropin dapat diberikan sementara sebagai tatalaksana darurat namun tidak efektif pada blok yang terjadi di bawah nodus AV dan bukan terapi definitif jangka panjang. Pacu jantung permanen diperlukan untuk mengembalikan konduksi atrioventrikular yang adekuat secara permanen.

  • A. Atropin hanya bermanfaat sementara pada blok di level nodus AV dan sering tidak efektif pada blok derajat tiga, serta bukan terapi definitif.
  • B. Digoksin justru dapat memperburuk konduksi atrioventrikular dan tidak memiliki peran dalam tatalaksana blok AV derajat tiga.
  • D. Pasien ini simtomatik dengan sinkop dan hipotensi sehingga tidak dapat hanya diobservasi tanpa intervensi.
  • E. Antikoagulan tidak memiliki peran dalam tatalaksana blok AV derajat tiga karena bukan merupakan kondisi trombogenik.
Poin penting: Blok AV derajat tiga simtomatik merupakan indikasi definitif pemasangan pacu jantung permanen.
22

Seorang laki-laki berusia 62 tahun dengan riwayat infark miokard 2 tahun yang lalu datang ke IGD dengan keluhan berdebar-debar sejak 1 jam yang lalu. Pemeriksaan fisik: tekanan darah 128/80 mmHg, nadi teratur 160 kali/menit. Elektrokardiogram menunjukkan takikardia kompleks QRS lebar dengan durasi QRS 160 milidetik, disertai konkordansi positif seluruh sadapan prekordial (V1 hingga V6 seluruhnya menunjukkan defleksi positif dominan).

  1. ATakikardia atrial multifokal
  2. BTakikardia ventrikel
  3. CTakikardia supraventrikular dengan aberansi
  4. DFlutter atrium dengan blok variabel
  5. EFibrilasi atrium dengan konduksi aberan
Lihat jawaban
Jawaban: B. Takikardia ventrikel

Gambaran konkordansi positif pada seluruh sadapan prekordial merupakan salah satu kriteria yang sangat spesifik untuk mendukung diagnosis takikardia ventrikel, terutama pada pasien dengan riwayat infark miokard yang berisiko tinggi mengalami aritmia ventrikel akibat jaringan parut miokard. Durasi QRS yang sangat lebar (lebih dari 140 milidetik pada morfologi RBBB-like atau lebih dari 160 milidetik) juga mendukung asal ventrikel. Pada SVT dengan aberansi, pola sadapan prekordial biasanya menunjukkan kombinasi defleksi positif dan negatif yang menyerupai pola blok cabang bundel khas (RBBB atau LBBB tipikal), bukan konkordansi total. Pada pasien dengan riwayat penyakit jantung struktural, setiap takikardia kompleks lebar harus dianggap sebagai takikardia ventrikel hingga terbukti sebaliknya.

  • A. Takikardia atrial multifokal menunjukkan morfologi gelombang P yang bervariasi dengan kompleks QRS sempit, tidak sesuai gambaran kasus ini.
  • C. SVT dengan aberansi biasanya menunjukkan morfologi blok cabang bundel tipikal, bukan konkordansi positif total pada seluruh sadapan prekordial.
  • D. Flutter atrium dengan blok variabel biasanya menunjukkan kompleks QRS sempit dengan gelombang flutter gigi gergaji, tidak sesuai gambaran kompleks lebar pada kasus ini.
  • E. Fibrilasi atrium menunjukkan interval R-R yang sangat ireguler, sedangkan pada kasus ini interval R-R teratur.
Poin penting: Konkordansi positif pada seluruh sadapan prekordial merupakan kriteria kuat untuk diagnosis takikardia ventrikel pada takikardia kompleks lebar.

Penyakit Jantung Valvular

5 soal
23

Seorang perempuan berusia 34 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan sesak napas saat beraktivitas dan mudah lelah sejak 6 bulan terakhir. Pasien mengaku sering mengalami nyeri sendi berpindah-pindah saat kecil namun tidak berobat. Pemeriksaan fisik: tekanan darah 110/70 mmHg, frekuensi nadi 88 kali/menit ireguler, frekuensi napas 22 kali/menit. Auskultasi jantung didapatkan bunyi jantung pertama mengeras, diikuti bunyi tambahan bernada tinggi segera setelah bunyi jantung kedua, dan bunyi bergemuruh bernada rendah pada fase diastolik terdengar paling jelas di apeks dengan pasien miring ke kiri. Apakah mekanisme yang paling mendasari kelainan katup pada pasien ini?

  1. ADilatasi anulus mitral akibat kardiomiopati dilatasi
  2. BRuptur muskulus papilaris akibat infark miokard akut
  3. CKalsifikasi katup mitral akibat proses degeneratif usia tua
  4. DDegenerasi miksomatosa daun katup mitral
  5. EFibrosis dan fusi komisura katup mitral akibat riwayat demam rematik
Lihat jawaban
Jawaban: E. Fibrosis dan fusi komisura katup mitral akibat riwayat demam rematik

Riwayat nyeri sendi berpindah pada usia muda menunjukkan kemungkinan demam rematik akut yang tidak terdiagnosis, yang dapat menyebabkan penyakit jantung rematik kronik berupa stenosis mitral. Proses inflamasi autoimun pasca infeksi Streptococcus group A menyebabkan fibrosis, penebalan, dan fusi komisura serta chordae tendineae katup mitral sehingga lubang katup menyempit. Gambaran khas auskultasi berupa opening snap (bunyi tambahan bernada tinggi setelah S2 akibat pembukaan katup mitral yang kaku) dan diastolic rumble (bising mid-diastolik bernada rendah di apeks) sangat mendukung diagnosis stenosis mitral. Fibrilasi atrium sering menyertai akibat dilatasi atrium kiri kronik.

  • A. Dilatasi anulus menyebabkan regurgitasi mitral fungsional, bukan stenosis.
  • B. Ruptur muskulus papilaris menyebabkan regurgitasi mitral akut, bukan stenosis.
  • C. Kalsifikasi degeneratif lebih berkaitan dengan stenosis aorta pada usia tua.
  • D. Degenerasi miksomatosa merupakan mekanisme pada prolaps katup mitral, bukan stenosis.
Poin penting: Stenosis mitral pada dewasa muda paling sering disebabkan oleh fibrosis dan fusi komisura katup akibat penyakit jantung rematik, dengan tanda khas opening snap dan diastolic rumble.
24

Seorang laki-laki berusia 58 tahun datang dengan keluhan sesak napas saat naik tangga sejak 3 bulan yang lalu, memberat dalam 2 minggu terakhir disertai bengkak pada kedua tungkai. Pemeriksaan fisik: tekanan darah 128/78 mmHg, frekuensi nadi 92 kali/menit reguler, frekuensi napas 24 kali/menit, ronki basah halus di kedua basal paru, edema pretibial +/+. Pada auskultasi jantung terdengar bising yang terdengar sepanjang sistol dengan intensitas sama, paling jelas di apeks, menjalar ke aksila kiri. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?

  1. ARegurgitasi mitral
  2. BProlaps katup mitral tanpa regurgitasi
  3. CRegurgitasi aorta
  4. DStenosis aorta
  5. EStenosis mitral
Lihat jawaban
Jawaban: A. Regurgitasi mitral

Bising holosistolik (pansistolik) dengan intensitas konstan sepanjang sistol, paling jelas terdengar di apeks dan menjalar ke aksila kiri merupakan gambaran klasik regurgitasi mitral. Mekanismenya adalah aliran darah balik dari ventrikel kiri ke atrium kiri melalui katup mitral yang tidak menutup sempurna selama sistol, menimbulkan gejala gagal jantung kiri seperti sesak dan ronki basah akibat kongesti paru. Penjalaran bising ke aksila terjadi karena arah aliran regurgitan mengarah ke dinding posterolateral atrium kiri yang berdekatan dengan aksila.

  • B. Prolaps katup mitral tanpa regurgitasi biasanya hanya menimbulkan klik midsistolik tanpa bising holosistolik.
  • C. Regurgitasi aorta menimbulkan bising diastolik dekresendo di tepi sternum kiri.
  • D. Stenosis aorta menimbulkan bising ejeksi sistolik crescendo-decrescendo yang menjalar ke karotis.
  • E. Stenosis mitral menimbulkan bising diastolik (rumble), bukan sistolik.
Poin penting: Regurgitasi mitral khas memberikan bising holosistolik di apeks yang menjalar ke aksila.
25

Seorang laki-laki berusia 70 tahun datang dengan keluhan nyeri dada seperti tertekan saat berjalan cepat, disertai satu kali pingsan sesaat saat naik tangga 1 minggu yang lalu. Pasien juga mengeluh sesak napas yang semakin memberat dalam beberapa bulan terakhir. Pemeriksaan fisik: tekanan darah 132/84 mmHg, frekuensi nadi 78 kali/menit reguler dengan pulsasi lemah dan lambat teraba di arteri karotis. Auskultasi jantung didapatkan bising ejeksi sistolik berbentuk crescendo-decrescendo, paling keras di sela iga 2 parasternal kanan, menjalar ke leher. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?

  1. AStenosis aorta
  2. BRegurgitasi mitral
  3. CStenosis pulmonal
  4. DStenosis mitral
  5. ERegurgitasi aorta
Lihat jawaban
Jawaban: A. Stenosis aorta

Trias klasik stenosis aorta berat terdiri dari angina, sinkop, dan sesak napas (gagal jantung), yang kesemuanya terdapat pada pasien ini. Bising ejeksi sistolik crescendo-decrescendo yang paling jelas di sela iga 2 parasternal kanan dan menjalar ke arteri karotis, disertai pulsus parvus et tardus (lemah dan lambat), merupakan gambaran auskultasi khas stenosis aorta. Mekanisme gejala terjadi akibat obstruksi aliran keluar ventrikel kiri yang menyebabkan hipertrofi ventrikel kiri, peningkatan kebutuhan oksigen miokard, serta penurunan curah jantung saat beraktivitas.

  • B. Regurgitasi mitral menimbulkan bising holosistolik di apeks menjalar ke aksila.
  • C. Stenosis pulmonal jarang pada dewasa dan bisingnya terdengar di sela iga 2 parasternal kiri.
  • D. Stenosis mitral menimbulkan bising diastolik di apeks, tidak menjalar ke karotis.
  • E. Regurgitasi aorta menimbulkan bising diastolik dekresendo dengan water hammer pulse, bukan trias stenosis aorta.
Poin penting: Trias angina, sinkop, dan sesak napas disertai bising ejeksi sistolik menjalar ke karotis merupakan gambaran khas stenosis aorta.
26

Seorang laki-laki berusia 45 tahun dengan riwayat sifilis yang tidak diobati datang dengan keluhan sesak napas saat beraktivitas dan rasa berdebar-debar sejak 4 bulan terakhir. Pemeriksaan fisik: tekanan darah 156/48 mmHg, frekuensi nadi 96 kali/menit reguler, teraba pulsasi arteri yang kuat dan cepat kolaps pada perabaan nadi radialis. Tampak pulsasi kepala mengangguk mengikuti denyut jantung. Auskultasi jantung didapatkan bising diastolik dekresendo di sela iga 3 parasternal kiri. Apakah mekanisme yang paling mendasari tanda perifer pada pasien ini?

  1. APenurunan kontraktilitas ventrikel kiri akibat kardiomiopati iskemik
  2. BObstruksi aliran keluar ventrikel kiri menyebabkan peningkatan afterload kronik
  3. CAliran darah balik dari aorta ke ventrikel kiri saat diastol menyebabkan peningkatan volume sekuncup dan tekanan nadi melebar
  4. DPeningkatan tekanan atrium kiri menyebabkan kongesti vena pulmonalis
  5. EFusi komisura katup aorta menyebabkan penyempitan orifisium katup
Lihat jawaban
Jawaban: C. Aliran darah balik dari aorta ke ventrikel kiri saat diastol menyebabkan peningkatan volume sekuncup dan tekanan nadi melebar

Pasien ini menunjukkan tanda khas regurgitasi aorta berupa water hammer pulse (pulsasi nadi kuat dan cepat kolaps, disebut juga Corrigan pulse) dan tekanan nadi yang melebar (wide pulse pressure), pada kasus ini akibat aortitis sifilis yang merusak akar aorta dan katup aorta. Pada regurgitasi aorta, sebagian darah yang telah dipompa ke aorta saat sistol mengalir balik ke ventrikel kiri selama diastol melalui katup aorta yang tidak menutup sempurna. Hal ini menyebabkan peningkatan volume sekuncup pada sistol berikutnya (tekanan sistolik meningkat) disertai penurunan tekanan diastolik akibat aliran balik, sehingga tekanan nadi melebar dan menimbulkan pulsasi perifer yang kuat dan kolaps cepat.

  • A. Penurunan kontraktilitas menyebabkan penurunan curah jantung dan nadi lemah, bukan water hammer pulse.
  • B. Mekanisme ini terjadi pada stenosis aorta, menyebabkan pulsus parvus et tardus bukan water hammer pulse.
  • D. Mekanisme ini terjadi pada stenosis mitral, menyebabkan kongesti paru bukan tanda perifer aorta.
  • E. Mekanisme ini terjadi pada stenosis aorta, bukan regurgitasi.
Poin penting: Water hammer pulse dan tekanan nadi melebar pada regurgitasi aorta disebabkan oleh aliran balik darah ke ventrikel kiri saat diastol yang meningkatkan volume sekuncup sistolik berikutnya.
27

Seorang perempuan berusia 40 tahun dengan riwayat penyakit jantung rematik dan telah menjalani operasi penggantian katup mitral mekanik 2 tahun yang lalu, akan menjalani pencabutan gigi geraham karena karies dalam. Pasien tidak memiliki riwayat alergi obat. Apakah tatalaksana pencegahan yang paling tepat diberikan sebelum prosedur tersebut?

  1. AAmoksisilin 500 mg per oral, diberikan 3 kali sehari selama 7 hari setelah prosedur
  2. BMetronidazol 500 mg per oral, diberikan 30-60 menit sebelum prosedur
  3. CAmoksisilin 2 gram per oral, diberikan 30-60 menit sebelum prosedur
  4. DSeftriakson 1 gram intravena, diberikan segera setelah prosedur selesai
  5. ETidak diperlukan antibiotik profilaksis karena prosedur pencabutan gigi berisiko rendah
Lihat jawaban
Jawaban: C. Amoksisilin 2 gram per oral, diberikan 30-60 menit sebelum prosedur

Pasien dengan katup jantung prostetik termasuk kelompok risiko tertinggi untuk endokarditis infektif sehingga memerlukan profilaksis antibiotik sebelum prosedur gigi yang berisiko menimbulkan bakteremia, seperti pencabutan gigi yang melibatkan manipulasi jaringan gingiva atau daerah periapikal. Regimen yang direkomendasikan adalah dosis tunggal amoksisilin 2 gram per oral diberikan 30-60 menit sebelum prosedur untuk mencapai kadar bakterisidal dalam darah saat terjadi bakteremia transien. Tujuan profilaksis adalah mencegah kolonisasi bakteri streptokokus viridans pada katup yang abnormal atau prostetik.

  • A. Profilaksis diberikan sebagai dosis tunggal sebelum prosedur, bukan regimen multi-dosis pascaprosedur.
  • B. Metronidazol tidak memiliki aktivitas terhadap streptokokus viridans sehingga bukan pilihan profilaksis endokarditis.
  • D. Seftriakson intravena bukan pilihan lini pertama dan pemberian harus sebelum bukan setelah prosedur.
  • E. Pasien dengan katup prostetik termasuk kelompok risiko tinggi sehingga tetap memerlukan profilaksis.
Poin penting: Pasien dengan katup jantung prostetik memerlukan profilaksis dosis tunggal amoksisilin 2 gram per oral 30-60 menit sebelum prosedur gigi berisiko tinggi.

Demam Rematik dan Penyakit Jantung Rematik

3 soal
28

Seorang anak laki-laki berusia 9 tahun dibawa ke puskesmas dengan keluhan nyeri dan bengkak pada lutut kanan yang kemudian berpindah ke pergelangan kaki kiri dalam 3 hari terakhir. Riwayat sakit tenggorokan disertai demam 3 minggu sebelumnya tidak diobati. Pemeriksaan fisik: suhu 38,5°C, frekuensi nadi 110 kali/menit, ditemukan gerakan involunter mendadak pada tangan dan kaki yang tidak terkontrol, serta bising pansistolik baru di apeks. Pemeriksaan laboratorium: ASTO meningkat, laju endap darah 60 mm/jam. Apakah kombinasi kriteria Jones yang terpenuhi untuk menegakkan diagnosis pada pasien ini?

  1. ATiga kriteria mayor yaitu poliartritis, korea, dan karditis
  2. BSatu kriteria mayor dan tiga kriteria minor
  3. CDua kriteria mayor dan dua kriteria minor
  4. DEmpat kriteria minor tanpa kriteria mayor
  5. EDua kriteria minor dan bukti infeksi streptokokus saja tanpa kriteria mayor
Lihat jawaban
Jawaban: A. Tiga kriteria mayor yaitu poliartritis, korea, dan karditis

Pasien memenuhi tiga kriteria mayor Jones yaitu poliartritis migrans (nyeri bengkak sendi berpindah), korea (gerakan involunter mendadak khas chorea Sydenham), dan karditis (bising pansistolik baru menandakan regurgitasi mitral akibat valvulitis). Diagnosis demam rematik akut ditegakkan apabila terdapat dua kriteria mayor, atau satu mayor ditambah dua kriteria minor, disertai bukti infeksi Streptococcus group A sebelumnya (riwayat faringitis, ASTO meningkat). Pada kasus ini, didapatkan tiga kriteria mayor sekaligus sehingga diagnosis demam rematik akut sangat kuat ditegakkan.

  • B. Pasien memenuhi tiga kriteria mayor, bukan hanya satu mayor dengan tiga minor.
  • C. Pasien memenuhi tiga kriteria mayor, bukan hanya dua mayor dan dua minor.
  • D. Poliartritis, korea, dan karditis merupakan kriteria mayor, bukan minor.
  • E. Pasien memiliki kriteria mayor yang jelas berupa poliartritis, korea, dan karditis, bukan hanya kriteria minor.
Poin penting: Diagnosis demam rematik akut dapat ditegakkan dengan dua kriteria mayor Jones (seperti poliartritis, karditis, atau korea) disertai bukti infeksi Streptococcus group A sebelumnya.
29

Seorang anak perempuan usia 8 tahun dibawa ke puskesmas dengan keluhan nyeri tenggorokan sejak 2 hari yang lalu, disertai demam tinggi dan nyeri menelan. Pada pemeriksaan fisik didapatkan suhu 38,7°C, tonsil hiperemis dengan eksudat putih di kedua sisi, serta pembesaran kelenjar limfe leher anterior yang nyeri tekan. Tidak ditemukan batuk maupun pilek. Dokter puskesmas mencurigai faringitis akibat Streptococcus grup A dan ingin mencegah terjadinya komplikasi jantung di kemudian hari. Apakah tatalaksana antibiotik yang paling tepat diberikan pada pasien ini?

  1. AAzitromisin oral dosis tunggal
  2. BEritromisin oral selama 3 hari
  3. CCiprofloxacin oral selama 7 hari
  4. DKotrimoksazol oral selama 5 hari
  5. EAmoksisilin oral selama 10 hari
Lihat jawaban
Jawaban: E. Amoksisilin oral selama 10 hari

Faringitis streptokokus grup A merupakan pencetus utama demam rematik akut, dan eradikasi kuman secara adekuat dapat mencegah terjadinya demam rematik. Pilihan lini pertama adalah penisilin, dan untuk pemberian oral digunakan amoksisilin atau penisilin V selama 10 hari penuh agar eradikasi faringeal tercapai sempurna. Durasi yang kurang dari 10 hari meningkatkan risiko kegagalan eradikasi kuman meskipun gejala klinis sudah membaik. Eritromisin atau makrolid lain hanya digunakan sebagai alternatif pada pasien dengan riwayat alergi penisilin.

  • A. Azitromisin dosis tunggal tidak memberikan eradikasi streptokokus yang adekuat untuk pencegahan demam rematik.
  • B. Eritromisin hanya digunakan sebagai alternatif pada alergi penisilin, dan durasi 3 hari tidak adekuat untuk eradikasi faringeal.
  • C. Ciprofloxacin tidak efektif terhadap Streptococcus grup A dan bukan pilihan pada faringitis streptokokus.
  • D. Kotrimoksazol tidak dianjurkan karena tidak mengeradikasi Streptococcus grup A secara efektif dari faring.
Poin penting: Faringitis streptokokus grup A diterapi dengan amoksisilin/penisilin oral selama 10 hari penuh untuk pencegahan primer demam rematik akut.
30

Seorang anak laki-laki usia 12 tahun didiagnosis demam rematik akut dengan karditis 6 bulan yang lalu, ditandai dengan murmur regurgitasi mitral yang menetap hingga saat ini pada pemeriksaan ekokardiografi, namun tanpa pembesaran jantung. Pasien rutin kontrol ke puskesmas dan saat ini dalam kondisi stabil tanpa tanda gagal jantung. Dokter merencanakan pemberian profilaksis sekunder untuk mencegah rekurensi demam rematik. Apakah regimen dan durasi profilaksis yang paling tepat untuk pasien ini?

  1. APenisilin benzatin G 1,2 juta unit intramuskular setiap 4 minggu selama 10 tahun atau hingga usia 21 tahun
  2. BAmoksisilin oral 500 mg dua kali sehari seumur hidup
  3. CPenisilin benzatin G 1,2 juta unit intramuskular setiap 3 bulan selama 10 tahun
  4. DEritromisin oral 250 mg dua kali sehari selama 5 tahun
  5. EPenisilin benzatin G 1,2 juta unit intramuskular setiap 4 minggu selama 5 tahun saja
Lihat jawaban
Jawaban: A. Penisilin benzatin G 1,2 juta unit intramuskular setiap 4 minggu selama 10 tahun atau hingga usia 21 tahun

Profilaksis sekunder demam rematik menggunakan penisilin benzatin G intramuskular setiap 4 minggu untuk mencegah faringitis streptokokus berulang yang dapat memicu rekurensi karditis rematik. Durasi profilaksis ditentukan oleh beratnya keterlibatan jantung; pada pasien dengan karditis dan penyakit jantung rematik yang menetap, profilaksis diberikan selama minimal 10 tahun sejak episode terakhir atau hingga usia 21 tahun (dipilih yang lebih panjang), bahkan dapat seumur hidup pada kasus dengan penyakit katup berat. Interval pemberian setiap 4 minggu dipilih karena kadar penisilin benzatin bertahan efektif sekitar itu sebelum menurun di bawah kadar protektif.

  • B. Amoksisilin oral bukan regimen standar profilaksis sekunder karena kepatuhan oral lebih rendah dan efikasi mencegah rekurensi lebih rendah dibanding injeksi.
  • C. Interval setiap 3 bulan terlalu panjang sehingga kadar penisilin dalam darah dapat jatuh di bawah kadar protektif sebelum injeksi berikutnya.
  • D. Eritromisin hanya digunakan sebagai alternatif pada pasien alergi penisilin, bukan sebagai lini pertama profilaksis sekunder.
  • E. Durasi 5 tahun hanya sesuai untuk demam rematik tanpa karditis, bukan pada pasien dengan keterlibatan jantung yang menetap.
Poin penting: Durasi profilaksis sekunder demam rematik ditentukan oleh beratnya karditis; pada karditis dengan penyakit jantung rematik menetap diberikan penisilin benzatin setiap 4 minggu minimal 10 tahun atau hingga usia 21 tahun.

Penyakit Jantung Bawaan

5 soal
31

Seorang anak perempuan usia 5 tahun dibawa orang tuanya untuk pemeriksaan rutin karena ditemukan bunyi jantung tidak biasa saat imunisasi di puskesmas. Anak tidak memiliki keluhan sesak, mudah lelah, atau sianosis, dan tumbuh kembang sesuai usia. Pada pemeriksaan fisik, frekuensi nadi 92 kali/menit, frekuensi napas 22 kali/menit, tidak ditemukan sianosis maupun clubbing finger. Auskultasi jantung menunjukkan bunyi jantung kedua yang terdengar terpisah menjadi dua komponen secara konstan baik saat inspirasi maupun ekspirasi, disertai murmur ejeksi sistolik lembut di area pulmonal. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?

  1. ADefek septum ventrikel
  2. BDefek septum atrium
  3. CPatent ductus arteriosus
  4. DTetralogi Fallot
  5. EStenosis pulmonal
Lihat jawaban
Jawaban: B. Defek septum atrium

Defek septum atrium (ASD) khas memberikan gambaran klinis asimtomatik pada masa kanak-kanak karena pirau kiri ke kanan bertekanan rendah, dengan temuan auskultasi khas berupa split bunyi jantung kedua yang fixed (menetap, tidak berubah dengan respirasi). Hal ini terjadi karena pirau melalui ASD menyamakan pengisian ventrikel kanan pada inspirasi dan ekspirasi, sehingga penutupan valvula pulmonal tidak lagi bervariasi mengikuti siklus napas. Murmur ejeksi sistolik di area pulmonal timbul akibat peningkatan aliran darah melalui valvula pulmonal, bukan akibat defek itu sendiri. Diagnosis pasti ditegakkan dengan ekokardiografi yang menunjukkan defek pada septum interatrial beserta pirau.

  • A. Defek septum ventrikel memberikan murmur pansistolik di left lower sternal border, bukan split S2 fixed.
  • C. Patent ductus arteriosus memberikan murmur kontinu machinery-like, berbeda dengan gambaran split S2 fixed.
  • D. Tetralogi Fallot biasanya bermanifestasi dengan sianosis, tidak sesuai dengan anak asimtomatik tanpa sianosis ini.
  • E. Stenosis pulmonal memberikan murmur ejeksi sistolik keras dengan klik ejeksi, namun tidak menyebabkan split S2 fixed.
Poin penting: Defek septum atrium khas memberikan gambaran asimtomatik dengan split bunyi jantung kedua yang fixed (tidak dipengaruhi siklus respirasi).
32

Seorang bayi laki-laki usia 4 bulan dibawa ke IGD RS dengan keluhan sulit minum ASI karena cepat lelah dan sesak, serta berat badan yang tidak naik dalam 2 bulan terakhir. Pada pemeriksaan didapatkan frekuensi napas 64 kali/menit, frekuensi nadi 160 kali/menit, retraksi subkostal, hepar teraba 3 cm di bawah arkus kosta, dan tidak ditemukan sianosis. Auskultasi jantung menunjukkan murmur holosistolik kasar yang terdengar di sela iga ke-4 linea parasternal sinistra, menjalar secara luas, tanpa penjalaran ke leher. Apakah diagnosis yang paling mungkin menyebabkan gambaran klinis pasien ini?

  1. ADefek septum atrium
  2. BKoarktasio aorta
  3. CTransposisi arteri besar
  4. DTetralogi Fallot
  5. EDefek septum ventrikel
Lihat jawaban
Jawaban: E. Defek septum ventrikel

Defek septum ventrikel (VSD) besar menyebabkan pirau kiri ke kanan yang signifikan, mengakibatkan peningkatan aliran darah ke paru dan volume overload pada jantung sehingga timbul gagal jantung kongestif pada bayi, ditandai dengan takipnea, takikardia, hepatomegali, dan gagal tumbuh. Murmur khas VSD adalah murmur pansistolik (holosistolik) yang kasar, terdengar paling jelas di sela iga ke-3 atau ke-4 linea parasternal sinistra akibat aliran turbulen melalui defek septum. Gejala gagal jantung biasanya muncul setelah usia 4-8 minggu ketika resistensi vaskular paru mulai menurun sehingga pirau kiri ke kanan meningkat. Tatalaksana awal meliputi diuretik dan dukungan nutrisi, dengan evaluasi bedah bila defek besar atau gagal jantung tidak terkontrol.

  • A. Defek septum atrium jarang menyebabkan gagal jantung pada bayi dan memberikan murmur ejeksi sistolik lembut, bukan pansistolik kasar.
  • B. Koarktasio aorta memberikan perbedaan nadi dan tekanan darah antara ekstremitas atas dan bawah, bukan murmur pansistolik di parasternal sinistra.
  • C. Transposisi arteri besar khas memberikan sianosis berat sejak lahir, tidak sesuai dengan pasien yang tidak sianosis.
  • D. Tetralogi Fallot khas memberikan sianosis, bukan gagal jantung kongestif tanpa sianosis seperti pasien ini.
Poin penting: Defek septum ventrikel besar dapat menyebabkan gagal jantung kongestif pada bayi usia beberapa bulan dengan murmur pansistolik kasar di parasternal sinistra.
33

Seorang anak laki-laki usia 18 bulan dengan riwayat diagnosis tetralogi Fallot dibawa ke IGD karena tiba-tiba menjadi sangat biru di sekitar bibir dan ujung jari saat menangis keras setelah dipaksa minum susu. Anak tampak gelisah dan sesak hebat. Pada pemeriksaan didapatkan frekuensi nadi 170 kali/menit, frekuensi napas 50 kali/menit, saturasi oksigen 68% dengan udara ruangan, sianosis sentral jelas, dan murmur ejeksi sistolik di area pulmonal yang terdengar melemah dibandingkan sebelumnya. Apakah tindakan awal yang paling tepat dilakukan segera pada pasien ini?

  1. AMelakukan resusitasi cairan kristaloid secara cepat
  2. BMemberikan furosemide intravena segera
  3. CMelakukan kardioversi elektrik segera
  4. DMemposisikan anak dalam posisi lutut-dada (knee-chest position) sambil memberikan oksigen
  5. EMemberikan digoksin intravena segera
Lihat jawaban
Jawaban: D. Memposisikan anak dalam posisi lutut-dada (knee-chest position) sambil memberikan oksigen

Episode sianotik akut (tet spell) pada tetralogi Fallot terjadi akibat spasme infundibulum ventrikel kanan yang mendadak meningkatkan obstruksi aliran keluar ventrikel kanan, sehingga pirau kanan ke kiri melalui VSD meningkat dan menyebabkan sianosis berat. Posisi knee-chest (lutut ditekuk ke dada) meningkatkan resistensi vaskular sistemik dan aliran balik vena, sehingga mengurangi derajat pirau kanan ke kiri dan memperbaiki saturasi oksigen secara cepat. Tindakan ini harus disertai pemberian oksigen aliran tinggi dan menenangkan anak untuk mengurangi tangisan yang memperberat spasme infundibular. Bila tindakan posisi dan oksigen tidak berhasil, dapat diberikan morfin subkutan atau propranolol serta cairan intravena untuk mengatasi episode yang lebih berat.

  • A. Resusitasi cairan cepat bukan tindakan lini pertama; cairan diberikan bila posisi dan oksigen tidak memperbaiki kondisi.
  • B. Furosemide tidak mengatasi mekanisme spasme infundibular dan justru dapat memperberat kondisi dengan mengurangi preload yang dibutuhkan.
  • C. Kardioversi elektrik digunakan untuk aritmia, bukan untuk episode sianotik akibat obstruksi aliran keluar ventrikel kanan.
  • E. Digoksin tidak diindikasikan pada tet spell dan tidak mengatasi spasme infundibulum ventrikel kanan.
Poin penting: Tet spell pada tetralogi Fallot ditangani awal dengan posisi knee-chest dan pemberian oksigen untuk mengurangi pirau kanan ke kiri.
34

Seorang bayi perempuan lahir prematur usia gestasi 30 minggu dengan berat lahir 1300 gram, saat ini berusia 2 minggu dan dirawat di ruang perinatologi. Bayi mengalami kesulitan lepas dari ventilator dengan tanda takipnea persisten dan episode apnea berulang. Pada pemeriksaan fisik didapatkan frekuensi nadi 168 kali/menit dengan nadi perifer yang teraba kuat (bounding pulse), tekanan darah 70/30 mmHg, dan auskultasi jantung menunjukkan murmur kontinu yang terdengar sepanjang sistol dan diastol di sela iga ke-2 linea parasternal sinistra. Apakah diagnosis yang paling mungkin mendasari gambaran klinis bayi ini?

  1. AStenosis aorta
  2. BDefek septum ventrikel
  3. CPatent ductus arteriosus
  4. DTransposisi arteri besar
  5. EDefek septum atrium
Lihat jawaban
Jawaban: C. Patent ductus arteriosus

Patent ductus arteriosus (PDA) sangat sering terjadi pada bayi prematur karena duktus arteriosus yang imatur gagal menutup setelah lahir, berbeda dengan bayi aterm yang duktusnya menutup fungsional dalam 24-48 jam pertama akibat peningkatan tekanan oksigen dan penurunan prostaglandin. Pirau kiri ke kanan melalui duktus yang persisten menyebabkan aliran darah terus-menerus dari aorta ke arteri pulmonalis selama sistol maupun diastol, menghasilkan murmur kontinu yang khas digambarkan sebagai murmur machinery di sela iga ke-2 parasternal sinistra. Nadi yang teraba kuat (bounding pulse) dan tekanan nadi yang lebar terjadi akibat run-off darah diastolik ke sirkulasi pulmonal. PDA signifikan pada prematur dapat menyebabkan gagal jantung, kesulitan weaning ventilator, dan peningkatan risiko perdarahan intraventrikular serta enterokolitis nekrotikans.

  • A. Stenosis aorta memberikan murmur ejeksi sistolik yang menjalar ke leher, bukan murmur kontinu.
  • B. Defek septum ventrikel memberikan murmur pansistolik, bukan murmur kontinu sepanjang sistol dan diastol.
  • D. Transposisi arteri besar khas memberikan sianosis berat tanpa murmur kontinu yang mencolok.
  • E. Defek septum atrium memberikan murmur ejeksi sistolik lembut dengan split S2 fixed, tidak kontinu.
Poin penting: Patent ductus arteriosus sering terjadi pada bayi prematur dan memberikan murmur kontinu machinery-like di sela iga ke-2 parasternal sinistra akibat pirau kiri ke kanan sepanjang sistol-diastol.
35

Seorang bayi laki-laki lahir cukup bulan di puskesmas dengan proses persalinan normal, skor APGAR 9/10, dan tampak sehat tanpa keluhan sesak atau sianosis yang jelas pada pemeriksaan fisik awal. Bidan ingin melakukan deteksi dini terhadap kemungkinan adanya penyakit jantung bawaan sianotik yang mungkin belum tampak secara klinis pada usia beberapa jam pertama kehidupan. Apakah pemeriksaan penunjang sederhana yang paling tepat dilakukan sebagai skrining pada bayi ini sebelum pulang dari fasilitas kesehatan?

  1. APemeriksaan analisis gas darah arteri
  2. BRontgen toraks AP
  3. CElektrokardiografi 12 lead
  4. DPulse oximetry pada tangan kanan dan salah satu kaki
  5. EEkokardiografi rutin pada semua neonatus
Lihat jawaban
Jawaban: D. Pulse oximetry pada tangan kanan dan salah satu kaki

Skrining pulse oximetry (oksimetri nadi) pada neonatus merupakan metode sederhana, murah, dan non-invasif yang direkomendasikan untuk mendeteksi penyakit jantung bawaan kritis/sianotik yang mungkin belum menunjukkan sianosis klinis jelas pada usia 24-48 jam pertama. Pemeriksaan dilakukan dengan mengukur saturasi oksigen pada tangan kanan (pre-ductal) dan salah satu kaki (post-ductal); hasil abnormal atau perbedaan bermakna antara kedua lokasi menunjukkan kemungkinan pirau kanan ke kiri melalui duktus arteriosus akibat penyakit jantung bawaan sianotik. Bila hasil skrining abnormal, bayi perlu dirujuk untuk evaluasi lebih lanjut termasuk ekokardiografi oleh dokter spesialis. Metode ini jauh lebih praktis untuk skrining massal dibandingkan ekokardiografi rutin yang mahal dan membutuhkan tenaga ahli.

  • A. Analisis gas darah arteri bersifat invasif dan tidak praktis sebagai alat skrining rutin pada seluruh neonatus.
  • B. Rontgen toraks tidak sensitif untuk mendeteksi penyakit jantung bawaan sianotik pada tahap awal dan tidak digunakan sebagai skrining rutin.
  • C. Elektrokardiografi tidak sensitif untuk mendeteksi penyakit jantung bawaan sianotik pada periode neonatal dini.
  • E. Ekokardiografi rutin pada semua neonatus tidak efisien dari segi biaya dan sumber daya untuk skrining massal.
Poin penting: Skrining pulse oximetry pada tangan kanan dan kaki merupakan metode deteksi dini penyakit jantung bawaan sianotik kritis pada neonatus sebelum pulang dari fasilitas kesehatan.

Penyakit Perikardium dan Miokardium

5 soal
36

Seorang laki-laki usia 32 tahun datang ke IGD dengan keluhan nyeri dada tajam di area retrosternal sejak 2 hari yang lalu, yang memberat saat berbaring telentang dan menarik napas dalam, namun terasa membaik saat pasien duduk dan membungkuk ke depan. Pasien memiliki riwayat infeksi saluran napas atas 1 minggu sebelumnya. Pada pemeriksaan didapatkan suhu 37,9°C, frekuensi nadi 98 kali/menit, dan terdengar suara gesekan (friction rub) pada auskultasi jantung. Elektrokardiografi menunjukkan elevasi segmen ST konkaf ke atas yang tersebar luas di hampir seluruh sadapan, disertai depresi segmen PR. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?

  1. AInfark miokard akut dengan elevasi ST
  2. BPerikarditis akut
  3. CEmboli paru akut
  4. DAngina pektoris stabil
  5. EDiseksi aorta
Lihat jawaban
Jawaban: B. Perikarditis akut

Perikarditis akut khas memberikan nyeri dada pleuritik yang memberat dengan inspirasi dalam dan posisi berbaring, serta membaik dengan duduk membungkuk ke depan karena posisi tersebut mengurangi kontak perikardium yang meradang dengan dinding dada. Gambaran EKG klasik berupa elevasi segmen ST yang difus, konkaf ke atas (berbeda dengan elevasi konveks pada infark miokard), disertai depresi segmen PR akibat inflamasi atrium yang menyertai perikardium. Friction rub pada auskultasi merupakan tanda khas akibat gesekan antara lapisan perikardium parietal dan viseral yang meradang. Etiologi tersering adalah idiopatik atau pascainfeksi virus, dan tatalaksana lini pertama adalah NSAID dosis tinggi dikombinasikan dengan kolkisin untuk mengurangi risiko rekurensi.

  • A. Infark miokard akut memberikan elevasi ST konveks ke atas yang terlokalisasi sesuai teritori arteri koroner, bukan difus konkaf, dan tidak membaik dengan posisi membungkuk.
  • C. Emboli paru akut memberikan nyeri pleuritik dengan sesak mendadak, namun tidak memberikan gambaran EKG elevasi ST difus konkaf maupun friction rub.
  • D. Angina pektoris stabil memberikan nyeri dada yang dipicu aktivitas fisik dan membaik dengan istirahat, bukan dipengaruhi posisi tubuh.
  • E. Diseksi aorta khas memberikan nyeri dada mendadak seperti robek yang menjalar ke punggung, bukan nyeri yang dipengaruhi posisi tubuh.
Poin penting: Perikarditis akut ditandai nyeri dada yang membaik dengan posisi duduk membungkuk ke depan, friction rub, dan elevasi ST difus konkaf ke atas disertai depresi segmen PR pada EKG.
37

Seorang perempuan berusia 52 tahun dibawa ke IGD dengan sesak napas berat yang memberat sejak 2 hari terakhir. Pasien memiliki riwayat kanker payudara stadium lanjut dengan kemoterapi. Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran somnolen, tekanan darah 82/68 mmHg, frekuensi nadi 128 kali/menit teraba lemah, frekuensi napas 28 kali/menit, saturasi oksigen 90%. Tampak distensi vena jugularis, suara jantung terdengar jauh dan redup, serta saat inspirasi tekanan darah sistolik turun 18 mmHg dibandingkan ekspirasi. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?

  1. ATamponade jantung
  2. BEmboli paru masif
  3. CGagal jantung kongestif akut
  4. DPneumotoraks tension
  5. ESyok kardiogenik akibat infark miokard
Lihat jawaban
Jawaban: A. Tamponade jantung

Trias Beck (hipotensi, distensi vena jugularis, suara jantung menjauh/muffled) disertai pulsus paradoksus (penurunan tekanan sistolik lebih dari 10 mmHg saat inspirasi) pada pasien dengan riwayat malignansi merupakan tanda klasik tamponade jantung akibat efusi perikardial maligna yang menyebabkan kompresi jantung dan gangguan pengisian diastolik. Mekanisme pulsus paradoksus terjadi karena peningkatan tekanan intraperikardial membuat ventrikel kanan dan kiri saling berkompetisi dalam ruang yang terbatas saat inspirasi. Kondisi ini merupakan kegawatdaruratan kardiovaskular yang memerlukan perikardiosentesis segera.

  • B. Emboli paru masif dapat menyebabkan syok obstruktif namun tidak menimbulkan suara jantung menjauh atau pulsus paradoksus yang jelas.
  • C. Gagal jantung kongestif akut biasanya disertai ronki paru dan edema, bukan trias Beck dan pulsus paradoksus yang khas.
  • D. Pneumotoraks tension menyebabkan deviasi trakea dan suara napas menghilang unilateral, bukan suara jantung yang redup.
  • E. Syok kardiogenik akibat infark biasanya disertai nyeri dada dan tidak menimbulkan trias Beck klasik.
Poin penting: Trias Beck (hipotensi, distensi vena jugularis, suara jantung menjauh) disertai pulsus paradoksus merupakan tanda klinis khas tamponade jantung yang memerlukan penanganan segera.
38

Seorang laki-laki berusia 45 tahun dengan riwayat gagal ginjal kronik yang rutin hemodialisis datang dengan sesak napas progresif dan nyeri dada tumpul. Tekanan darah 88/60 mmHg, frekuensi nadi 118 kali/menit, distensi vena jugularis positif. Pemeriksaan ekokardiografi menunjukkan efusi perikardial sirkumferensial dengan diastolic collapse ventrikel kanan dan variasi respirasi aliran mitral lebih dari 25%. Apakah tatalaksana definitif yang paling tepat dilakukan segera pada pasien ini?

  1. AObservasi ketat dengan pemantauan hemodinamik non-invasif
  2. BPemberian obat antiinflamasi nonsteroid dosis tinggi
  3. CPemberian diuretik furosemid intravena dosis tinggi
  4. DPerikardiosentesis dengan tuntunan ekokardiografi
  5. EPemberian cairan kristaloid intravena secara agresif
Lihat jawaban
Jawaban: D. Perikardiosentesis dengan tuntunan ekokardiografi

Temuan diastolic collapse ventrikel kanan dan variasi respirasi aliran mitral lebih dari 25% pada ekokardiografi mengonfirmasi tamponade jantung yang secara hemodinamik signifikan, sehingga memerlukan drainase cairan perikardial segera. Perikardiosentesis dengan tuntunan ekokardiografi merupakan tindakan definitif yang dapat segera mengurangi tekanan intraperikardial dan memperbaiki pengisian ventrikel. Tindakan ini bersifat life-saving dan harus dilakukan tanpa menunda meski pasien tampak stabil sementara. Cairan yang diaspirasi juga dapat dikirim untuk analisis etiologi efusi.

  • A. Observasi tanpa tindakan berisiko tinggi terhadap perburukan hemodinamik dan kematian pada tamponade signifikan.
  • B. Antiinflamasi nonsteroid digunakan pada perikarditis tanpa tamponade, tidak mengatasi kompresi hemodinamik.
  • C. Diuretik dapat memperburuk hemodinamik karena mengurangi preload yang justru dibutuhkan untuk kompensasi tamponade.
  • E. Cairan intravena hanya bersifat sementara untuk menunjang preload, bukan tatalaksana definitif tamponade.
Poin penting: Tamponade jantung dengan bukti hemodinamik signifikan pada ekokardiografi memerlukan perikardiosentesis segera sebagai tatalaksana definitif.
39

Seorang laki-laki berusia 24 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan sesak napas saat beraktivitas dan nyeri dada yang memberat sejak 4 hari. Dua minggu sebelumnya pasien mengalami demam, nyeri tenggorokan, dan nyeri otot yang sembuh sendiri. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 100/70 mmHg, frekuensi nadi 112 kali/menit, frekuensi napas 24 kali/menit, suhu 37,2°C, ditemukan ronki basah halus di kedua basal paru dan suara jantung S3 gallop. Elektrokardiogram menunjukkan takikardia sinus dengan perubahan gelombang T difus tanpa elevasi ST yang signifikan. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?

  1. AEmboli paru akut
  2. BPerikarditis akut
  3. CKardiomiopati hipertrofik
  4. DInfark miokard akut
  5. EMiokarditis viral
Lihat jawaban
Jawaban: E. Miokarditis viral

Gejala gagal jantung akut (sesak, ronki basal, S3 gallop) yang muncul 1-3 minggu setelah infeksi virus prodromal (demam, nyeri tenggorokan, myalgia) pada dewasa muda sangat mengarah pada miokarditis viral. Mekanismenya melibatkan infeksi langsung miosit jantung atau respons imun pasca infeksi yang menyebabkan inflamasi dan disfungsi kontraktil miokard. Diagnosis pasti memerlukan peningkatan troponin, ekokardiografi yang menunjukkan disfungsi ventrikel, dan idealnya MRI jantung atau biopsi, namun kecurigaan klinis sudah cukup kuat untuk memulai evaluasi dan tatalaksana suportif gagal jantung.

  • A. Emboli paru akut biasanya disertai faktor risiko trombosis dan nyeri pleuritik mendadak, bukan riwayat infeksi virus sistemik.
  • B. Perikarditis akut biasanya menimbulkan nyeri dada pleuritik yang berkurang saat duduk membungkuk, bukan gejala gagal jantung dengan S3 gallop.
  • C. Kardiomiopati hipertrofik bersifat kronik dan tidak berkaitan dengan riwayat infeksi virus akut.
  • D. Infark miokard akut jarang terjadi pada usia 24 tahun tanpa faktor risiko aterosklerosis dan biasanya didahului nyeri dada tipikal, bukan infeksi virus.
Poin penting: Gejala gagal jantung akut yang muncul beberapa minggu setelah infeksi virus pada dewasa muda harus mengarahkan kecurigaan klinis pada miokarditis viral.
40

Seorang perempuan berusia 38 tahun datang dengan keluhan sesak napas yang memberat sejak 3 bulan, mudah lelah, dan bengkak pada kedua tungkai. Pasien memiliki riwayat konsumsi alkohol berat selama lebih dari 10 tahun. Pemeriksaan fisik menunjukkan tekanan darah 110/76 mmHg, frekuensi nadi 96 kali/menit, distensi vena jugularis, dan edema pitting bilateral tungkai bawah. Ekokardiografi menunjukkan dilatasi keempat ruang jantung dengan fraksi ejeksi ventrikel kiri 28% tanpa penebalan dinding ventrikel yang bermakna. Apakah mekanisme utama yang mendasari penurunan fraksi ejeksi pada kondisi pasien ini?

  1. AGangguan relaksasi diastolik akibat kekakuan dinding ventrikel
  2. BObstruksi aliran keluar ventrikel kiri akibat hipertrofi septum
  3. CPenyempitan arteri koroner akibat plak aterosklerosis
  4. DRestriksi pengisian ventrikel akibat infiltrasi fibrosis endomiokard
  5. EDisfungsi kontraktilitas miokard sistolik akibat kerusakan serabut otot jantung
Lihat jawaban
Jawaban: E. Disfungsi kontraktilitas miokard sistolik akibat kerusakan serabut otot jantung

Kardiomiopati dilatasi, yang pada pasien ini kemungkinan besar diinduksi alkohol, ditandai dengan dilatasi ruang ventrikel dan penurunan fraksi ejeksi akibat kerusakan langsung serabut otot jantung oleh efek toksik etanol dan metabolitnya seperti asetaldehid. Kerusakan ini menyebabkan gangguan kontraktilitas sistolik sehingga ventrikel tidak dapat memompa darah secara efektif meski volume ruang jantung membesar. Etiologi lain kardiomiopati dilatasi meliputi idiopatik, genetik, pasca miokarditis viral, peripartum, dan toksik obat kemoterapi. Tatalaksana utama meliputi penghentian konsumsi alkohol total dan terapi gagal jantung standar.

  • A. Gangguan relaksasi diastolik dengan dinding kaku khas pada kardiomiopati restriktif, bukan dilatasi dengan EF rendah seperti pasien ini.
  • B. Obstruksi aliran keluar akibat hipertrofi septum merupakan mekanisme kardiomiopati hipertrofik, bukan dilatasi.
  • C. Penyempitan arteri koroner mendasari kardiomiopati iskemik, namun gambaran dilatasi difus tanpa riwayat penyakit jantung koroner lebih sesuai etiologi toksik alkohol.
  • D. Infiltrasi fibrosis endomiokard menyebabkan kardiomiopati restriktif dengan ventrikel kaku, bukan dilatasi dengan EF menurun.
Poin penting: Kardiomiopati dilatasi akibat alkohol disebabkan oleh kerusakan langsung serabut otot jantung yang menurunkan kontraktilitas sistolik ventrikel.

Penyakit Vaskular Perifer dan Aorta

4 soal
41

Seorang laki-laki berusia 68 tahun, perokok berat selama 40 tahun dengan riwayat hipertensi tidak terkontrol, datang ke puskesmas untuk pemeriksaan rutin tanpa keluhan khusus. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 158/94 mmHg, frekuensi nadi 82 kali/menit. Pada palpasi abdomen bagian tengah atas setinggi umbilikus teraba massa berdenyut dengan diameter sekitar 6 cm, tidak nyeri tekan, dan terdengar bruit sistolik pada auskultasi di area tersebut. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?

  1. AAneurisma aorta abdominalis
  2. BLimfadenopati mesenterika
  3. CTumor retroperitoneal
  4. DKista ovarium besar
  5. EHepatomegali masif
Lihat jawaban
Jawaban: A. Aneurisma aorta abdominalis

Massa abdomen yang berdenyut (pulsatil) setinggi umbilikus dengan bruit sistolik pada laki-laki usia tua dengan faktor risiko merokok berat dan hipertensi sangat khas untuk aneurisma aorta abdominalis. Faktor risiko utama meliputi usia lanjut, jenis kelamin laki-laki, merokok, hipertensi, dan aterosklerosis yang menyebabkan degenerasi dinding aorta dan dilatasi progresif. Diameter aorta abdominalis lebih dari 3 cm dianggap aneurisma, dan ukuran 6 cm pada pasien ini termasuk risiko tinggi ruptur sehingga memerlukan evaluasi USG abdomen atau CT angiografi segera serta rujukan untuk pertimbangan perbaikan elektif.

  • B. Limfadenopati mesenterika umumnya multipel, kecil, dan tidak menimbulkan pulsasi atau bruit.
  • C. Tumor retroperitoneal biasanya tidak berdenyut dan tidak disertai bruit sistolik yang khas pembuluh darah.
  • D. Kista ovarium besar terletak di pelvis bukan setinggi umbilikus dan tidak berdenyut mengikuti nadi.
  • E. Hepatomegali teraba di kuadran kanan atas dengan tepi tajam atau tumpul, tidak berdenyut seperti pembuluh darah.
Poin penting: Massa abdomen pulsatil dengan bruit pada pasien usia tua perokok dengan hipertensi mengarahkan diagnosis aneurisma aorta abdominalis.
42

Seorang laki-laki berusia 58 tahun dengan riwayat hipertensi tidak terkontrol datang ke IGD dengan nyeri dada mendadak yang dirasakan seperti robek, menjalar ke punggung bagian interskapula. Nyeri muncul tiba-tiba 30 menit sebelum masuk rumah sakit saat pasien sedang beristirahat. Pemeriksaan fisik menunjukkan tekanan darah lengan kanan 178/98 mmHg dan lengan kiri 132/82 mmHg, frekuensi nadi 102 kali/menit, terdengar bising diastolik di area parasternal kanan atas. Apakah pemeriksaan penunjang awal yang paling tepat untuk menegakkan diagnosis pada pasien ini?

  1. ARontgen vertebra torakal
  2. BPemeriksaan troponin serial tanpa pencitraan
  3. CEkokardiografi transtorakal saja
  4. DFoto toraks posisi supine tanpa kontras
  5. ECT angiografi toraks dengan kontras
Lihat jawaban
Jawaban: E. CT angiografi toraks dengan kontras

Nyeri dada mendadak seperti robek yang menjalar ke punggung disertai perbedaan tekanan darah bermakna antar lengan dan bising diastolik (menunjukkan kemungkinan regurgitasi aorta) sangat mengarah pada diseksi aorta, sehingga diperlukan konfirmasi segera dengan pencitraan definitif. CT angiografi toraks dengan kontras merupakan modalitas pilihan karena cepat, tersedia luas, dan memiliki sensitivitas serta spesifisitas tinggi untuk mendeteksi flap intima dan menentukan klasifikasi Stanford A atau B yang menentukan tatalaksana bedah atau medikamentosa. Keterlambatan diagnosis meningkatkan mortalitas secara signifikan setiap jamnya terutama pada diseksi tipe A.

  • A. Rontgen vertebra torakal tidak relevan untuk mengevaluasi struktur pembuluh darah aorta.
  • B. Troponin serial tanpa pencitraan tidak dapat mengonfirmasi diseksi aorta dan dapat menunda tatalaksana definitif.
  • C. Ekokardiografi transtorakal memiliki sensitivitas terbatas untuk aorta desendens dibandingkan CT angiografi atau TEE.
  • D. Foto toraks hanya dapat menunjukkan pelebaran mediastinum sebagai tanda tidak spesifik dan tidak dapat memastikan diagnosis diseksi.
Poin penting: Kecurigaan klinis diseksi aorta berdasarkan nyeri robek menjalar ke punggung dan perbedaan tekanan darah antar ekstremitas harus segera dikonfirmasi dengan CT angiografi toraks.
43

Seorang laki-laki berusia 62 tahun dengan riwayat diabetes melitus tipe 2 dan merokok selama 30 tahun datang dengan keluhan nyeri pada betis kiri yang timbul setiap kali berjalan sekitar 100 meter dan menghilang setelah istirahat beberapa menit. Pemeriksaan fisik menunjukkan kulit tungkai kiri lebih pucat dan dingin dibandingkan tungkai kanan, pulsasi arteri dorsalis pedis kiri sulit diraba, serta pertumbuhan rambut yang berkurang. Apakah pemeriksaan penunjang awal yang paling tepat untuk mengonfirmasi diagnosis pada pasien ini?

  1. AVenografi kontras tungkai bawah
  2. BPemeriksaan kadar asam urat serum
  3. CPemeriksaan elektromiografi tungkai
  4. DPemeriksaan D-dimer plasma
  5. EPengukuran ankle-brachial index
Lihat jawaban
Jawaban: E. Pengukuran ankle-brachial index

Keluhan klaudikasio intermiten (nyeri betis saat berjalan jarak tertentu yang mereda dengan istirahat) disertai tanda iskemia kronis seperti pulsasi lemah, kulit dingin pucat, dan berkurangnya rambut tungkai sangat khas penyakit arteri perifer akibat aterosklerosis. Ankle-brachial index (ABI) merupakan pemeriksaan penunjang lini pertama yang non-invasif, murah, dan dapat dilakukan di puskesmas dengan membandingkan tekanan sistolik pergelangan kaki dan lengan; nilai ABI kurang dari 0,90 mengonfirmasi penyakit arteri perifer. Faktor risiko utama meliputi diabetes, merokok, hipertensi, dan dislipidemia yang mempercepat proses aterosklerosis arteri ekstremitas bawah.

  • A. Venografi kontras digunakan untuk evaluasi sistem vena seperti trombosis vena dalam, bukan penyakit arteri.
  • B. Asam urat serum relevan untuk diagnosis gout, tidak berkaitan dengan klaudikasio vaskular.
  • C. Elektromiografi digunakan untuk menilai gangguan neuromuskular, bukan gangguan vaskular perifer.
  • D. D-dimer digunakan untuk skrining trombosis vena, tidak spesifik untuk penyakit arteri perifer.
Poin penting: Ankle-brachial index merupakan pemeriksaan penunjang lini pertama untuk mengonfirmasi penyakit arteri perifer pada pasien dengan klaudikasio intermiten.
44

Perempuan, 58 tahun, datang ke IGD dengan sesak napas mendadak sejak 3 jam yang lalu disertai nyeri dada kanan yang memberat saat menarik napas. Pasien baru menjalani operasi penggantian sendi lutut 10 hari yang lalu dan sejak itu jarang bergerak dari tempat tidur. Pada pemeriksaan fisik didapatkan frekuensi nadi 112 x/menit, frekuensi napas 26 x/menit, tekanan darah 110/70 mmHg, saturasi oksigen 91% tanpa oksigen tambahan. Tungkai kanan bawah tampak bengkak dan nyeri tekan pada betis dibandingkan tungkai kiri. Tidak ada riwayat kanker maupun hemoptisis. Denyut jantung pasien tidak mencapai 100 x/menit pada pemeriksaan sebelumnya saat masuk ruang rawat. Dokter menghitung skor Wells untuk emboli paru dan mendapatkan skor tinggi (>6).

  1. ALakukan EKG 12 sadapan sebagai pemeriksaan penentu diagnosis utama
  2. BObservasi klinis ketat tanpa pencitraan karena skor Wells sudah cukup untuk diagnosis
  3. CLakukan foto toraks untuk menyingkirkan diagnosis banding sebelum terapi
  4. DPeriksa kadar D-dimer terlebih dahulu sebelum pencitraan lanjutan
  5. EBerikan antikoagulan empiris lalu lanjutkan dengan CT pulmonary angiography
Lihat jawaban
Jawaban: E. Berikan antikoagulan empiris lalu lanjutkan dengan CT pulmonary angiography

Pada pasien dengan probabilitas klinis tinggi (skor Wells >6) untuk emboli paru akut, pemeriksaan D-dimer tidak diperlukan karena nilai prediktif negatifnya rendah pada kelompok risiko tinggi. Algoritme menganjurkan langsung melakukan pencitraan definitif berupa CT pulmonary angiography (CTPA), dan pada pasien dengan instabilitas hemodinamik atau risiko tinggi, antikoagulan empiris diberikan segera sambil menunggu konfirmasi pencitraan untuk mencegah perburukan trombus. Keterlambatan terapi dapat meningkatkan mortalitas akibat gagal jantung kanan akut. Hal ini sesuai dengan prinsip penatalaksanaan emboli paru akut berdasarkan pedoman PERKI dan ESC.

  • A. EKG dapat menunjukkan tanda strain ventrikel kanan tetapi tidak spesifik dan bukan penentu diagnosis utama.
  • B. Skor Wells tinggi meningkatkan kecurigaan tetapi tetap memerlukan konfirmasi pencitraan sebelum atau bersamaan dengan terapi definitif.
  • C. Foto toraks berguna menyingkirkan diagnosis banding tetapi tidak boleh menunda terapi antikoagulan pada kecurigaan tinggi emboli paru.
  • D. D-dimer tidak direkomendasikan pada probabilitas klinis tinggi karena nilai prediktif negatif rendah sehingga tidak dapat menyingkirkan diagnosis.
Poin penting: Pada pasien dengan probabilitas klinis tinggi emboli paru akut, antikoagulan empiris diberikan segera sambil menunggu CT pulmonary angiography tanpa perlu D-dimer.

Dislipidemia dan Pencegahan Kardiovaskular

3 soal
45

Laki-laki, 62 tahun, kontrol rutin ke poliklinik dengan riwayat infark miokard 2 tahun yang lalu dan telah terpasang stent koroner. Pasien juga memiliki riwayat diabetes melitus tipe 2 yang terkontrol dengan metformin. Pemeriksaan fisik dalam batas normal, tekanan darah 128/78 mmHg. Hasil profil lipid saat ini menunjukkan kolesterol LDL 95 mg/dL, kolesterol total 170 mg/dL, HDL 42 mg/dL, trigliserida 140 mg/dL. Dokter akan menentukan target LDL yang sesuai untuk kategori risiko kardiovaskular pasien berdasarkan stratifikasi PERKI.

  1. ATarget LDL kurang dari 100 mg/dL karena termasuk kategori risiko tinggi
  2. BTarget LDL kurang dari 116 mg/dL karena termasuk kategori risiko sedang
  3. CTarget LDL kurang dari 130 mg/dL karena termasuk kategori risiko rendah
  4. DTarget LDL tidak perlu ditentukan karena nilai saat ini sudah mendekati normal
  5. ETarget LDL kurang dari 70 mg/dL karena termasuk kategori risiko sangat tinggi
Lihat jawaban
Jawaban: E. Target LDL kurang dari 70 mg/dL karena termasuk kategori risiko sangat tinggi

Pasien dengan riwayat penyakit jantung koroner yang telah terbukti secara klinis (pasca infark miokard dengan pemasangan stent) disertai diabetes melitus tipe 2 termasuk dalam kategori risiko kardiovaskular sangat tinggi menurut stratifikasi PERKI. Pada kategori ini, target LDL yang direkomendasikan adalah kurang dari 70 mg/dL, atau penurunan minimal 50% dari nilai awal bila LDL awal berada pada rentang 70-135 mg/dL. Nilai LDL pasien saat ini sebesar 95 mg/dL masih belum mencapai target sehingga terapi statin intensitas tinggi perlu dioptimalkan. Stratifikasi risiko ini penting untuk menentukan intensitas terapi penurun lipid yang sesuai.

  • A. Target LDL kurang dari 100 mg/dL berlaku untuk kategori risiko tinggi, bukan untuk pasien dengan penyakit jantung koroner yang sudah terbukti secara klinis.
  • B. Target LDL kurang dari 116 mg/dL berlaku untuk kategori risiko sedang, tidak sesuai dengan profil pasien yang memiliki penyakit kardiovaskular aterosklerotik.
  • C. Target LDL kurang dari 130 mg/dL berlaku untuk kategori risiko rendah, jauh di bawah tingkat risiko pasien ini.
  • D. Nilai LDL pasien saat ini belum mencapai target yang seharusnya sehingga tetap perlu ditentukan target dan dioptimalkan terapinya.
Poin penting: Pasien dengan penyakit jantung koroner yang terbukti secara klinis disertai diabetes melitus termasuk kategori risiko kardiovaskular sangat tinggi dengan target LDL kurang dari 70 mg/dL.
46

Perempuan, 55 tahun, telah mengonsumsi simvastatin dosis tinggi selama 6 minggu untuk terapi dislipidemia. Pasien datang mengeluhkan nyeri dan kelemahan pada otot kedua tungkai yang memberat sejak 1 minggu terakhir, disertai urine berwarna seperti teh pekat. Pemeriksaan fisik menunjukkan nyeri tekan pada otot paha bilateral tanpa tanda inflamasi sendi. Hasil laboratorium menunjukkan kadar kreatin kinase (CK) 8500 U/L (normal hingga 170 U/L) dan kreatinin serum meningkat dari nilai awal. Dokter mencurigai efek samping berat dari terapi statin yang diberikan.

  1. AStatin menyebabkan deposisi kristal urat pada jaringan otot yang memicu peradangan
  2. BStatin memicu pelepasan histamin masif yang merusak integritas sel otot
  3. CHambatan enzim HMG-CoA reduktase menyebabkan penurunan sintesis ubikuinon pada otot
  4. DStatin menginduksi reaksi autoimun yang menyerang langsung membran sel otot
  5. EStatin menyebabkan penumpukan asam laktat akibat hambatan glikolisis otot
Lihat jawaban
Jawaban: C. Hambatan enzim HMG-CoA reduktase menyebabkan penurunan sintesis ubikuinon pada otot

Statin bekerja menghambat enzim HMG-CoA reduktase pada jalur biosintesis kolesterol, yang juga menurunkan produksi senyawa intermediet seperti ubikuinon (koenzim Q10) dan isoprenoid yang penting untuk fungsi mitokondria otot. Penurunan ini diduga berkontribusi pada terjadinya miopati, yang pada kasus berat dapat berkembang menjadi rhabdomiolisis dengan peningkatan kreatin kinase yang sangat tinggi, mioglobinuria, dan risiko gagal ginjal akut. Faktor risiko rhabdomiolisis akibat statin meliputi dosis tinggi, interaksi obat, usia lanjut, dan gangguan fungsi ginjal atau hati. Tatalaksana meliputi penghentian statin segera dan hidrasi agresif untuk mencegah kerusakan ginjal lebih lanjut.

  • A. Deposisi kristal urat merupakan mekanisme pada artritis gout, bukan mekanisme toksisitas otot akibat statin.
  • B. Pelepasan histamin masif merupakan mekanisme reaksi anafilaksis, bukan mekanisme miopati statin.
  • D. Statin tidak bekerja melalui mekanisme autoimun langsung terhadap membran sel otot.
  • E. Statin tidak secara langsung menghambat jalur glikolisis otot sebagai mekanisme toksisitasnya.
Poin penting: Statin menghambat HMG-CoA reduktase sehingga menurunkan sintesis ubikuinon pada otot, yang mendasari risiko miopati hingga rhabdomiolisis.
47

Laki-laki, 45 tahun, datang ke puskesmas untuk pemeriksaan kesehatan rutin. Pengukuran menunjukkan lingkar pinggang 102 cm, tekanan darah 136/88 mmHg, dan hasil laboratorium gula darah puasa 108 mg/dL, trigliserida 165 mg/dL, HDL 38 mg/dL. Pasien bekerja sebagai pegawai kantor dengan aktivitas fisik minimal dan sering mengonsumsi makanan cepat saji. Pasien belum pernah mendapatkan terapi obat apa pun dan ingin mengetahui langkah pertama yang paling tepat untuk memperbaiki kondisinya sebelum pertimbangan terapi farmakologis.

  1. AMenurunkan berat badan 5-10% melalui pengaturan diet dan aktivitas fisik aerobik teratur
  2. BMelakukan puasa intermiten lebih dari 16 jam setiap hari tanpa evaluasi lanjutan
  3. CMengurangi konsumsi garam saja tanpa perubahan pola makan lainnya
  4. DMemulai diet sangat rendah karbohidrat secara ketat tanpa pembatasan kalori total
  5. EMengonsumsi suplemen minyak ikan omega-3 dosis tinggi setiap hari
Lihat jawaban
Jawaban: A. Menurunkan berat badan 5-10% melalui pengaturan diet dan aktivitas fisik aerobik teratur

Pasien ini memenuhi kriteria sindrom metabolik berdasarkan kombinasi obesitas abdominal, tekanan darah tinggi, gula darah puasa terganggu, trigliserida tinggi, dan HDL rendah. Intervensi lini pertama yang direkomendasikan adalah modifikasi gaya hidup berupa penurunan berat badan sebesar 5-10% dari berat badan awal melalui kombinasi pengaturan diet seimbang dan peningkatan aktivitas fisik aerobik minimal 150 menit per minggu. Penurunan berat badan terbukti memperbaiki seluruh komponen sindrom metabolik secara simultan, termasuk sensitivitas insulin, profil lipid, dan tekanan darah. Terapi farmakologis baru dipertimbangkan apabila modifikasi gaya hidup tidak mencapai target setelah periode evaluasi tertentu.

  • B. Puasa intermiten dengan durasi panjang tanpa evaluasi lanjutan berisiko dan belum menjadi rekomendasi standar utama.
  • C. Pengurangan garam saja tidak mencakup perbaikan komponen metabolik lain seperti resistensi insulin dan profil lipid.
  • D. Diet sangat rendah karbohidrat tanpa pembatasan kalori total bukan rekomendasi standar dan belum memiliki bukti jangka panjang yang kuat untuk sindrom metabolik.
  • E. Suplemen omega-3 dosis tinggi bukan rekomendasi utama tanpa perubahan gaya hidup menyeluruh dan belum terbukti sebagai intervensi lini pertama.
Poin penting: Intervensi lini pertama sindrom metabolik adalah modifikasi gaya hidup berupa penurunan berat badan 5-10% melalui diet dan aktivitas fisik aerobik teratur.

Kegawatdaruratan dan Syok Kardiovaskular

3 soal
48

Laki-laki, 68 tahun, dibawa ke IGD dengan nyeri dada hebat sejak 4 jam yang lalu, kemudian mengalami sesak napas berat dan penurunan kesadaran. Pemeriksaan fisik menunjukkan tekanan darah 78/50 mmHg, frekuensi nadi 118 x/menit teraba lemah, frekuensi napas 32 x/menit, akral dingin dan basah, serta ronki basah di kedua basal paru. Produksi urine dalam 2 jam terakhir hanya 20 mL. EKG menunjukkan elevasi segmen ST pada sadapan V1-V4. Setelah pemberian cairan secara hati-hati tanpa perbaikan, dokter merencanakan pemberian obat untuk meningkatkan kontraktilitas jantung dan perfusi organ.

  1. ABeta blocker intravena untuk mengurangi kebutuhan oksigen miokard
  2. BNitrogliserin intravena untuk menurunkan preload dan afterload
  3. CVerapamil intravena untuk mengontrol frekuensi jantung yang cepat
  4. DFurosemid intravena dosis tinggi untuk mengatasi kongesti paru
  5. EDobutamin intravena secara titrasi berdasarkan respons hemodinamik
Lihat jawaban
Jawaban: E. Dobutamin intravena secara titrasi berdasarkan respons hemodinamik

Pasien ini mengalami syok kardiogenik akibat infark miokard anterior akut, ditandai dengan hipotensi, tanda hipoperfusi jaringan (akral dingin, oligouria), dan kongesti paru. Setelah optimalisasi cairan tanpa perbaikan, agen inotropik seperti dobutamin diberikan secara titrasi untuk meningkatkan kontraktilitas miokard dan curah jantung, sehingga memperbaiki perfusi organ vital. Dobutamin bekerja sebagai agonis reseptor beta-1 yang meningkatkan kontraktilitas jantung dengan efek kronotropik yang relatif lebih ringan. Pada kondisi ini, obat yang menurunkan kontraktilitas atau tekanan darah seperti beta blocker, penghambat kanal kalsium, atau vasodilator kuat harus dihindari karena dapat memperburuk syok.

  • A. Beta blocker menurunkan kontraktilitas dan curah jantung sehingga kontraindikasi pada fase akut syok kardiogenik.
  • B. Nitrogliserin menurunkan preload dan tekanan darah lebih lanjut sehingga kontraindikasi pada syok kardiogenik dengan hipotensi berat.
  • C. Verapamil bersifat kardiodepresan dan dapat memperburuk fungsi kontraktilitas jantung yang sudah terganggu pada syok kardiogenik.
  • D. Diuretik dosis tinggi dapat memperburuk hipotensi dan hipoperfusi pada pasien syok kardiogenik dengan tekanan darah sangat rendah.
Poin penting: Pada syok kardiogenik yang tidak responsif terhadap resusitasi cairan, dobutamin diberikan secara titrasi untuk meningkatkan kontraktilitas jantung dan perfusi organ.
49

Seorang laki-laki, 50 tahun, tiba-tiba terjatuh dan tidak merespons saat sedang berolahraga di lapangan terbuka. Seorang warga yang kebetulan lewat mendekati korban dan memastikan tidak ada respons saat dipanggil dan ditepuk bahunya. Napas korban tidak teratur dan sangat lambat, dan tidak teraba nadi karotis dalam 10 detik pemeriksaan. Tidak ada alat defibrilator otomatis eksternal (AED) di sekitar lokasi. Warga tersebut telah meminta orang lain menghubungi layanan gawat darurat. Tindakan yang paling tepat dilakukan selanjutnya oleh penolong pertama adalah...

  1. AMelakukan abdominal thrust untuk mengeluarkan kemungkinan sumbatan jalan napas
  2. BMenunggu petugas medis datang sambil memantau tanda vital korban secara berkala
  3. CMemiringkan korban ke posisi mantap dan menunggu tanda-tanda pemulihan spontan
  4. DMemberikan dua kali napas bantuan dari mulut ke mulut sebelum kompresi dada
  5. EMemulai kompresi dada dengan kedalaman 5-6 cm dan kecepatan 100-120 kali per menit
Lihat jawaban
Jawaban: E. Memulai kompresi dada dengan kedalaman 5-6 cm dan kecepatan 100-120 kali per menit

Korban pada skenario ini memenuhi kriteria henti jantung mendadak di luar rumah sakit, yaitu tidak responsif, pola napas abnormal (gasping), dan tidak teraba nadi. Algoritme bantuan hidup dasar terkini menekankan tindakan high-quality CPR dimulai segera dengan kompresi dada sebagai prioritas utama, tanpa menunda untuk pemeriksaan napas buatan terlebih dahulu, dengan kedalaman 5-6 cm dan kecepatan 100-120 kali per menit. Kompresi dada dini meningkatkan aliran darah koroner dan serebral sehingga memperbaiki peluang keberhasilan resusitasi. Penggunaan AED segera dilakukan bila tersedia, namun bila tidak ada, kompresi dada berkualitas tinggi harus tetap dilanjutkan tanpa henti hingga bantuan medis tiba.

  • A. Abdominal thrust digunakan untuk sumbatan jalan napas benda asing, bukan untuk kondisi henti jantung tanpa tanda sumbatan.
  • B. Menunggu tanpa tindakan aktif akan menurunkan peluang keberhasilan resusitasi karena setiap menit tanpa kompresi menurunkan survival secara signifikan.
  • C. Posisi mantap hanya diterapkan pada korban tidak sadar dengan napas dan nadi normal, bukan pada kasus henti jantung.
  • D. Pemberian napas bantuan sebelum kompresi dada menunda tindakan yang paling kritis dan tidak sesuai urutan algoritme bantuan hidup dasar terkini.
Poin penting: Pada kecurigaan henti jantung mendadak di luar rumah sakit tanpa AED tersedia, penolong pertama harus segera memulai kompresi dada berkualitas tinggi tanpa menunda.
50

Laki-laki, 28 tahun, dibawa keluarga ke IGD setelah ditemukan tidak bernapas saat tidur dan dinyatakan meninggal di tempat. Keluarga menyampaikan bahwa kakak kandung pasien meninggal mendadak saat tidur pada usia 30 tahun tanpa penyebab yang jelas. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit jantung sebelumnya dan tidak mengonsumsi obat tertentu. Rekaman EKG yang dilakukan sebelumnya saat pasien berobat untuk keluhan demam ringan 6 bulan lalu menunjukkan elevasi segmen ST berbentuk coved di sadapan V1 dan V2 diikuti gelombang T negatif, tanpa kelainan struktural jantung pada ekokardiografi. Dokter forensik mencurigai suatu kanalopati jantung herediter sebagai penyebab kematian mendadak pada keluarga ini.

  1. ASindrom Brugada
  2. BDisplasia aritmogenik ventrikel kanan
  3. CSindrom QT panjang kongenital
  4. DKardiomiopati hipertrofik
  5. ESindrom Wolff-Parkinson-White
Lihat jawaban
Jawaban: A. Sindrom Brugada

Gambaran EKG berupa elevasi segmen ST tipe coved minimal 2 mm pada sadapan V1-V2 diikuti gelombang T negatif merupakan pola tipe 1 yang khas untuk sindrom Brugada. Kondisi ini merupakan kanalopati jantung herediter akibat mutasi gen SCN5A yang menyebabkan disfungsi kanal natrium jantung, meningkatkan risiko aritmia ventrikel maligna dan kematian mendadak terutama saat tidur atau istirahat, tanpa disertai kelainan struktural jantung pada pencitraan. Riwayat keluarga dengan kematian mendadak pada usia muda memperkuat kecurigaan pola pewarisan autosomal dominan. Diagnosis definitif memerlukan korelasi gambaran EKG khas dengan riwayat klinis dan keluarga, serta dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan genetik bila tersedia.

  • B. Displasia aritmogenik ventrikel kanan biasanya disertai kelainan struktural ventrikel kanan pada pencitraan yang tidak ditemukan pada pasien ini.
  • C. Sindrom QT panjang kongenital ditandai dengan pemanjangan interval QT pada EKG, bukan elevasi segmen ST coved di V1-V2.
  • D. Kardiomiopati hipertrofik menunjukkan penebalan dinding ventrikel pada ekokardiografi, yang tidak ditemukan pada pasien ini.
  • E. Sindrom Wolff-Parkinson-White ditandai dengan interval PR pendek dan gelombang delta, bukan elevasi ST coved di V1-V2.
Poin penting: Elevasi segmen ST tipe coved di sadapan V1-V2 disertai riwayat keluarga kematian mendadak mengarahkan diagnosis sindrom Brugada sebagai kanalopati jantung herediter.

Pertanyaan umum

Apakah ini soal asli UKMPPD?

Bukan. Ini soal latihan orisinal yang ditulis bergaya UKMPPD sesuai blueprint ujian. Setiap soal dikerjakan ulang oleh model kedua yang independen tanpa melihat kunci, dan soal dengan kunci yang diperdebatkan dihapus.

Bagaimana cara memakai soal kardiovaskular ini?

Kerjakan kuis dulu tanpa melihat jawaban, lalu baca pembahasan setiap soal yang salah atau ditebak. Poin penting di bawah setiap jawaban adalah hal yang perlu diingat.

Apakah soalnya gratis?

Ya. Semua soal, jawaban, dan pembahasan di halaman ini gratis tanpa perlu mendaftar.

Topik UKMPPD lainnya

UKMPPD diselenggarakan oleh Panitia Nasional UKMPPD. WhiteCoat Pro tidak berafiliasi dengan maupun didukung oleh lembaga tersebut. Semua soal adalah soal latihan orisinal: ditulis oleh tim editorial WhiteCoat Pro dengan bantuan AI dan diperiksa oleh model AI kedua yang independen, yang mengerjakan setiap soal tanpa melihat kunci; soal dengan kunci yang diperdebatkan dihapus. Ini bukan soal ujian asli. Untuk belajar, bukan saran medis.