Definisi dan signifikansi imunitas bawaan
Imunitas bawaan adalah ketidakpekaan genetik yang diturunkan dari individu suatu spesies terhadap antigen tertentu. Hal ini disebabkan oleh karakteristik biologis organisme itu sendiri, sifat antigen, serta ciri-ciri interaksinya.
Pemahaman topik ini sangat krusial: imunologi dibangun atas bagian-bagian yang saling terkait, dan tanpa pemisahan yang jelas antara komponen bawaan dan adaptif, mustahil untuk menguasai topik-topik selanjutnya — presentasi antigen, jenis hipersensitivitas, dan vaksinologi.
Karakteristik imunitas bawaan
- Diaktifkan hampir seketika sebagai respons terhadap invasi mikroba dan kerusakan sel tubuh sendiri; sel-selnya terus-menerus beredar di jaringan.
- Paparan antigen berulang memicu respons dengan kekuatan yang sama — memori imunologis tidak ada.
- Mengenali struktur mikroba yang lestari secara evolusioner (misalnya, lipopolisakarida pada bakteri Gram-negatif) serta struktur tubuh sendiri yang telah berubah.
- Reseptor (PRR, termasuk reseptor seperti-Toll / TLR) memiliki kemampuan terbatas untuk membedakan antara unsur "diri" dan "asing" — imunitas ini bersifat non-spesifik.
- Kumpulan reseptor dan pola yang dikenali terbatas.
Faktor dan fungsi imunitas bawaan
Faktor-faktor ini dibagi menjadi tiga kelompok:
- Penghalang fisikokimia: epitel kulit dan mukosa, serta molekul antimikroba.
- Komponen seluler: fagosit (makrofag, neutrofil), sel dendritik, sel mast, basofil, eosinofil, natural killer (NK), dan sel limfoid bawaan (ILC).
- Komponen humoral: protein sistem komplemen, protein fase akut, defensin, dan lektin.
Tugas utama: menghancurkan patogen; menahan infeksi sementara imunitas adaptif berkembang; serta mengaktivasi respons adaptif melalui presentasi antigen.
Jenis peradangan dan pelaksanaan respons bawaan
Respons imunitas bawaan bergantung pada jenis patogen dan diwujudkan melalui aktivasi ILC yang sesuai serta kaskade sitokin:
- Tipe 1 — patogen intraseluler: ILC1 memproduksi IFN-γ dan TNF-α, mengaktivasi makrofag M1 dan produksi spesies oksigen reaktif.
- Tipe 2 — parasit (cacing/helminth): ILC2 memicu respons eosinofilik serta produksi IL-4, IL-5, dan IL-13.
- Tipe 3 — bakteri ekstraseluler dan jamur: ILC3 mensintesis IL-17 dan IL-22, serta merekrut neutrofil.
Imunitas didapat (adaptif)
Imunitas didapat adalah ketidakpekaan terhadap antigen yang terbentuk selama ontogenesis sebagai hasil interaksi organisme dengan antigen tersebut (melalui infeksi atau vaksinasi).
Karakteristik utama:
- Spesifisitas yang tinggi dan kemampuan mengenali sejumlah besar antigen berkat keragaman reseptor BCR dan TCR.
- Ekspansi klonal: sel dengan spesifisitas unik berproliferasi dan membentuk klon setelah mengenali antigen.
- Terbentuk secara lambat, membutuhkan waktu untuk aktivasi.
- Keberadaan memori imunologis — sel memori berumur panjang yang memastikan respons sekunder yang cepat dan kuat.
- Toleransi terhadap antigen diri sendiri; gangguannya dapat memicu penyakit autoimun.
Sel dan pelaksanaan respons adaptif
Limfosit memegang peran kunci:
- Limfosit B menyediakan imunitas humoral melalui produksi antibodi.
- Limfosit T mewujudkan imunitas seluler: sel T sitotoksik (nama usang — sel T killer) menghancurkan sel yang terinfeksi; sel T helper mengoordinasikan respons; sel T regulator mempertahankan toleransi.
Sel dendritik yang telah menangkap antigen bermigrasi ke kelenjar getah bening dan mempresentasikannya kepada limfosit T naif melalui tiga sinyal. Bergantung pada mikrolingkungan sitokin, sel naif berdiferensiasi menjadi:
- Th1 — melawan patogen intraseluler, mengaktivasi makrofag dan sel NK.
- Th2 — melawan helminth, mengaktivasi eosinofil.
- Th17 — melawan bakteri ekstraseluler dan jamur, merekrut neutrofil.
Perbandingan imunitas bawaan dan adaptif
- Spesifisitas reseptor: bawaan — terhadap pola lestari; adaptif — terhadap hampir semua molekul.
- Keragaman reseptor: terbatas / hampir tidak terbatas.
- Memori: tidak ada / nyata dan kuat.
- Respons terhadap unsur "diri": mungkin terjadi / dicegah oleh toleransi.
- Faktor humoral: komplemen, lektin / antibodi.
- Sel kunci: fagosit, sel dendritik, NK, sel mast / limfosit B dan T.
- Kecepatan: seketika / tertunda.
Imunitas adaptif saja tidak mampu mengeliminasi patogen (kecuali sel T sitotoksik) — imunitas ini mengarahkan dan memperkuat reaksi komponen bawaan, menjadikannya spesifik.
Poin-Poin Utama
- Imunitas bawaan bereaksi secara seketika, non-spesifik, dan tidak membentuk memori.
- Imunitas adaptif memiliki spesifisitas tinggi, memiliki memori, serta toleransi terhadap antigen diri sendiri.
- Pengenalan PAMP dilakukan melalui PRR; sel adaptif menggunakan BCR dan TCR.
- Jenis peradangan (1, 2, 3) ditentukan oleh sifat patogen serta jenis ILC dan sel Th yang diaktivasi.
- Sel dendritik adalah penghubung utama antara imunitas bawaan dan adaptif.
- Th1 melawan patogen intraseluler, Th2 melawan helminth, dan Th17 melawan bakteri ekstraseluler serta jamur.
- Nama yang benar untuk limfosit sitotoksik adalah sel T sitotoksik, bukan "sel T killer".
- Gangguan toleransi imunitas adaptif menyebabkan penyakit autoimun.